REFERAT MANAJEMEN KEGAWATDARURATAN OBSTETRI

Oleh PEMBIMBING: dr. Sutiyono, Sp.OG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2013

PENDAHULUAN

Perawatan selama persalinan dan kehamilan yang telah diperbaiki dapat mengurangi kematian maternal dan kematian perinatal. Perbaikan aspek sosial, budaya, ekonomi, dan pendidikan, dapat membantu mengatasi 64% penyebab kematian ibu. Perbaikan penanganan klinis, dapat mengatasi 36% kematian ibu. Kesadaran masyarakat akan tanda-tanda bahaya pada kehamilan dan pengetahuan mengenai kehamilan akan meminimalkan kegawatdaruratan obstetri, namun banyak kepercayaan tradisional dan praktek penundaan pengambilan keputusan untuk mencari perawatan pada fasilitas kesehatan, masih dilakukan masyarakat. Faktor medis adalah kenyataan bahwa suami dan anggota senior keluarga tidak mengenal adanya tanda bahaya selama kehamilan dan terjadinya keterlambatan menggunakan fasilitas medis. Fasilitas medis seperti persediaan darah di rumah sakit yang minim, akan mempengaruhi proses selanjutnya pada kasus-kasus tersebut. Faktor kepercayaan dan tradisi disamping keadaan sosio-ekonomi juga memberi sumbangan kepada terjadinya keadaan fatal bagi ibu. Faktor medis dan non-medis mungkin juga mempengaruhi proses pengambilan keputusan pada kedaruratan medis yang menyebabkan kematian.(1) Kematian pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar di negara berkembang. Di negara berkembang sekitar 25 – 50% kematian terjadi pada wanita usia subur. Kematian saat melahirkan biasanya menjadi faktor utama kematian wanita muda pada masa puncak produktivitasnya. Angka kematian ibu merupakan tolok ukur untuk menilai keadaan pelayanan obstetri disuatu negara. Bila AKI masih tinggi berarti sistim pelayanan obstetri masih buruk, sehingga memerlukan perbaikan. Sistem rujukan di Indonesia menjadikan rumah sakit (RS) kabupaten sebagai RS rujukan sekunder, yang memiliki berbagai fungsi pelayanan obstetri.(2) Untuk menurunkan AKI, intervensi pra-persalinan merupakan strategi umum yang diterapkan di Indonesia, seperti halnya di negara lain, sebagai alat pemeriksaan persalinan resiko tinggi, strategi ini belum mampu menurunkan AKI terutama oleh karena faktor sistem rujukan, serta ketersediaan, dan efektivitas intervensi. Oleh karena itu salah satu prioritas utama kebijakan “Safe motherhood” adalah

2

meningkatkan atau menjamin akses pelayanan kesehatan bagi kegawatdaruratan obstetri.(2) FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGGINYA AKI Penyebab utama tingginya AKI adalah adanya tiga terlambat (3T) yaitu (2) : 1. Terlambat untuk mencari pertolongan bagi kasus kegawatdaruratan obstetri yang disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tradisi, budaya ataupun faktor ekonomi. 2. Terlambat mencapai tempat rujukan yang disebabkan oleh keadaan geografi atau masalah tranportasi. 3. Terlambat memperoleh penanganan yang adekuat setelah tiba ditempat rujukan akibat kurangnya tenaga sumber daya yang terampil, sarana dan fasilitas kesehatan untuk pelayanan kesehatan dasar maupun kasus kegawatdaruratan.

3

Kegawatdaruratan obstetri pada persalinan dan postpartum : retensio plasenta cedera jalan lahir dan ruptur uteri atonia uteri eklampsia infeksi/sepsis Abortus Abortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di dunia luar. 1. saat persalinan dan pasca persalinan. Dengan kata lain Abortus artinya berakhirnya kehamilan sebelum janin viabel (bisa hidup) yaitu kurang dari 20 minggu atau berat kurang dari 500 mg. dan mendekati persalinan.BAB II TINJAUAN PUSTAKA KEGAWATDARURATAN OBSTETRI Kegawatdaruratan obstetri adalah keadaan pada kehamilan yang membutuhkan penanganan segera atau keadaan pada kehamilan yang mengancam jiwa ibu. kehamilan lanjut. 4 . Kegawatdaruratan obstetri a. tanpa mempersoalkan penyebabnya. perdarahan antepartum lebih dari 20 minggu : Plasenta previa Solusio plasenta Rupture uteri Eklampsia Sepsis 2. Dapat terjadi pada awal kehamilan. Perdarahan antepartum kurang dari 20 minggu : • • • • • • • • • • • • 1. abortus kehamilan ektra uterin (ektopik) b.

2. faktor imunologis. lalu terjadi perubahan nekrotik pada daerah implantasi. Etiologi: Faktor yang menyebabkan terjadinya abortus. kelainan endokrin. kerusakan embrio. abortus provokatus. Pada abortus spontan. embrio dengan kelainan lokal. antikoagulan. abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis. yaitu gangguan pertumbuhan zigot. 3. embrio. terutama pada akhir trimester pertama atau awal trimester kedua. Buah kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian. Antara minggu ke 10-12 korion tumbuh dengan cepat dan hubungan villi korialis dengan desidua makin erat mulai saat tersebut sering sisa-sisa korion (plasenta) tertinggal kalau 5 . b. yaitu : 1. telur kosong (blighted ovum). abortus buatan. kematian embrio biasanya terjadi paling lama 2 minggu sebelum perdarahan. caffeine dan lain-lain. c. Klasifikasi abortus : 1. atau kelainan kromosom. Biasanya yang menyebabkan abortus pada trimester pertama yaitu : kelainan telur. penyakit vaskular seperti hipertensi vaskular. Patogenesis Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti dengan perdarahan ke dalam desidua basalis. 2. obat-obatan antagonis asam folat. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai dan segera itu setelah terjadi pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim. faktor eksterna seperti radiasi. Sebelum minggu ke 10 hasil konsepsi biasanya dikeluarkan dengan lengkap. janin dan plasenta. alkohol. dan faktor psikosomatik. faktor maternal yaitu infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang. faktor janin. infiltrasi sel-sel peradangan akut dan akhirnya perdarahan pervaginam. Karena villi korialis belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah terlepas seluruhnya. kelainan uterus.a. yaitu abortus buatan menurut kaidah ilmu dan abortus buatan kriminal. trauma. merokok. abnormalitas pembetukan plasenta.

tokolitik (hystolan). kadangkadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi rahim yang kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba. asam folat (folaplus). Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan merupakan kontra indikasi. Jika kehamilan lebih dari 12 minggu. janin dilahirkan terlebih dulu dengan menginduksi kehamilan/abortus. pemeriksaan dalam yaitu fluksus ada (sedikit) 3. pemeriksaan penunjangnya hasil USG menunjukkan : buah kehamilan masih utuh. ada tanda kehidupan. Bila hasil USG meragukan.terjadi abortus. Dasar diagnosis : 1. ada tanda kehidupan janin : bed rest selama 3x24 jam. ditemukan perdarahan banyak. apabila kadar progesteron <5-10 nanogram. kolik rahim. meragukan atau buah kehamilan mati Pengobatan: Bila kehamilan utuh. kemudian bila hasil USG tidak baik. pembukaan leher rahim dan ukuran rahim. Pedarahan dapat belanjut beberapa hari atau dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau punggung bawah. no sexual intercourse. Untuk kehamilan kurang 12 minggu dilakukan kuret dengan vakum maupun kuret biasa. penenang jika pasien gelisah. Setengah dari abortus akan menjadi abortus komplit atau inkomplit. 6 . ostium terbuka. berikan preparat progesteron. pemeriksaan dalam. Gambaran klinis Abortus iminens Didiagnosis apabila seseorang wanita hamil <20 minggu mengeluarkan darah sedikit pervagina. anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri/ kontraksi rahim 2. Empat komponen pembeda masing2 abortus adalah : jumlah perdarahan. buah kehamilan masih dalam rahim dan ketuban utuh. evakuasi. Dasar diagnosis: 1. ulangi pemeriksaan USG 1-2 minggu. antiprostaglandin (aspirin/aspilet). Abortus Insipiens Abortus yang sedang berlangsung. anamnesis yaitu perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau ringan 2. d.

perbaiki keadaan umum. uterotonik 4. evakuasi 2. abortus disebut komplit. nyeri/kontraksi rahim ada. apabila Hb < 8 gr% transfusi 2. Kuret tidak perlu dilakukan. uterotonik pascaevakuasi 3. Bila masih ada perdarahan. teraba sisa jaringan buah kehamilan. antibiotik selama 3 hari Abortus Komplit Apabila telur lahir lengkap. Pengobatan : 1. antibiotik selama 3 hari Abortus inkomplit Didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba pada vagina. pemeriksaan dalam ostium terbuka. atasi syok.Pengobatan : 1. evakuasi : digital. Abortus tertunda (missed abortion) Apabila buah kehamilan telah mati tertahan dalam rahim selama 8 minggu atau lebih. pikirkan abortus inkomplit atau endometritis . anamnesis yaitu perdarahan bisa ada atau tidak 7 . Dengan pemeriksaan USG tampak janin tidak utuh dan membentuk gambaran kompleks. apabila ada syok. dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok. anamnesis yaitu perdarahan dari jalan lahir. Pada beberapa kasus perdarahan tidak banyak dan biasanya serviks akan menutup kembali. tetapi sebagian tertinggal. Perdarahan akan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Dasar diagnosis : 1. Dasar diagnosis : 1. diagnosis USG tidak selalu harus tertahan > 8 minggu . 2. kuret 3.

bila umur kehamilan >12 minggu didahului dengan pemasangan laminaria stift Abortus habitualis Bila abortus spontan terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih.7) a. Pengobatan : 1. darah segar 3. serviks. bahkan rongga abdomen. (6. pemeriksaan penunjang USG. laboratorium. salpingitis. pemeriksaan obstetri yaitu fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi jantung janin tidak ada 3. tuba. Etiologi abortus ini adalah kelainan genetik (kromosom). Kejadiannya jauh lebih sedikit daripada abortus spontan dan lebih sering pada primitua. seperti di ovarium. Gambar : pelaksanaan Kuretase(5) 2. Suatu kehamilan disebut kehamilan ektopik bila zigot terimplantasi di lokasi-lokasi selain cavum uteri. Faktor-faktor mekanis yang menyebabkan kehamilan ektopik antara lain : riwayat operasi tuba. kelainan hormonal dan kelainan anatomis.Kehamilan Ektopik Kehamilan secara normal akan berada pada kavum uteri. Fibrinogen 4.2. perlekatan tuba 8 . Perbaikan keadaan umum 2. Etiologi Kehamilan ektopik pada dasarnya disebabkan segala hal yang menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Evakuasi dengan kuret.

akibat operasi non-ginekologis seperti apendektomi. selanjutnya dikeluarkan dalam bentuk perdarahan) 4. sehingga implantasi zigot terjadi sebelum zigot mencapai kavum uteri. dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Selain itu ada pula faktor-faktor fungsional. sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. perubahan darah. 9 . Gejala-gejala(6) : 1. tumor dalam rongga panggul 7. syok karena hipovolemia 5. pajanan terhadap diethylstilbestrol. salpingitis isthmica nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang menyerupai divertikula). kornu uteri. tetapi sedikit lebih kecil dibandingkan uterus pada kehamilan intrauterin yang sama umurnya) 6. perdarahan pervaginam (dengan matinya telur desidua yg mengalami degenerasi dan nekrosis. Dalam hal ini gerakan peristalsis tuba menjadi lamban.(7) b. yaitu perubahan motilitas tuba yang berhubungan dengan faktor hormonal dan defek fase luteal. pembesaran uterus (karena pengaruh hormon kehamilan. pars interstitialis. isthmus. Patofisiologi Kehamilan Tuba Tempat-tempat implantasi kehamilan ektopik antara lain ampulla tuba (lokasi tersering). amenorea 3. ovarium. Dikatakan juga bahwa meningkatnya usia ibu akan diiringi dengan penurunan aktivitas mioelektrik tuba. Hal-hal tersebut secara umum menyebabkan perlengketan intra maupun ekstraluminal pada tuba. fimbriae. c. nyeri perut dapat unilateral atau bilateral di abdomen bagian bawah 2.

(7) Abortus ke dalam lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris. zigot menempel di antara dua jonjot. Pada kehamilan di pars interstitialis 10 . Tuba akan membesar dan kebiruan (hematosalping). hasil konsepsi berkembang. Seperti kehamilan normal. dan perkembangannya tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor. zigot melekat pada ujung atau sisi jonjot endosalping yang relatif sedikit mendapat suplai darah. Zigot yang telah bernidasi kemudian tertutup oleh jaringan endosalping yang menyerupai desidua. Pada implantasi interkolumnar. hiperkromatik. dan darah akan mengalir melalui ostium tuba ke dalam rongga abdomen hingga berkumpul di kavum Douglas dan membentuk hematokel retrouterina. umumnya ruptur tuba terjadi lebih awal. sehingga tanda-tanda kehamilan seperti tanda Hegar dan Chadwick pun ditemukan. sedangkan ruptur lebih sering terjadi pada kehamilan pars isthmica. uterus pada kehamilan ektopik pun mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormon estrogen dan progesteron. Karena tempat implantasi pada kehamilan ektopik tidak ideal untuk berlangsungnya kehamilan. sehingga zigot mati dan kemudian diresorbsi. terbentuklah mola kruenta. bila pelepasan hasil konsepsi tidak sempurna atau tuntas. dan 3) ruptur dinding tuba. yang disebut pseudokapsul. 2) abortus ke dalam lumen tuba. yaitu tempat implantasi. Zigot dapat berimplantasi tepat pada sel kolumnar tuba maupun secara interkolumnar. Sel-sel epitel endometrium menjadi hipertrofik. intinya menjadi lobular dan sitoplasmanya bervakuol. serviks dan ligamentum kardinal. Perubahan selular demikian disebut sebagai reaksi Arias-Stella. Pada kehamilan di pars isthmica. Villi korialis dengan mudah menembus endosalping dan mencapai lapisan miosalping dengan merusak integritas pembuluh darah di tempat tersebut. Pada abortus tuba. meskipun tanpa trofoblas. Pada keadaan yang pertama. karena pars isthmica adalah bagian tuba yang paling sempit. Bila perdarahan terjadi sedikit demi sedikit. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehamilan ektopik adalah: 1) hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi. suatu saat kehamilan ektopik tersebut akan terkompromi.rongga abdomen. maka perdarahan akan terus berlangsung. Endometrium pun berubah menjadi desidua. ketebalan tempat implantasi dan banyaknya perdarahan akibat invasi trofoblas. Selanjutnya.

ruptur terjadi lebih lambat (8-16 minggu) karena lokasi tersebut berada di dalam kavum uteri yang lebih akomodatif. 3. Oleh sebab itu kehamilan pars interstitialis adalah kehamilan ektopik dengan angka mortalitas tertinggi. douglas punksi (kuldosentesis) jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan ke dalam kavum douglas di tempat kavum douglas menonjol ke forniks posterior. laparoskopi 11 .(7) Membantu diagnosis. ampulla. seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. sehingga sering kali kehamilan pars interstitialis disangka sebagai kehamilan intrauterin biasa. isthmus maupun pars interstitialis. masih terbungkus selaput amnion dan dengan plasenta yang masih utuh. Perdarahan yang terjadi pada kehamilan pars interstitialis cepat berakibat fatal karena suplai darah berasal dari arteri uterina dan ovarika. tes kehamilan kalau positif maka ada kehamilan 2. maka kehamilan dapat berlanjut di rongga abdomen. Kerusakan yang melibatkan kavum uteri cukup besar sehingga histerektomi pun diindikasikan. dapat dilakukan(6): 1. Ruptur. Bila setelah ruptur janin terekspulsi ke luar lumen tuba. USG 4. baik pada kehamilan fimbriae. dapat terjadi secara spontan maupun akibat trauma ringan.

(7) Methotrexate dapat diberikan dalam dosis tunggal maupun dosis multipel. methotrexate akan merusak sel-sel trofoblas. Pada terapi dengan dosis multipel leukovorin ditambahkan ke dalam regimen pengobatan dengan dosis 0. Penatalaksanaan Kehamilan Tuba Penatalaksanaan Medis 1. Pada penyakit trofoblastik. methotrexate diharapkan dapat merusak sel-sel trofoblas sehingga menyebabkan terminasi kehamilan tersebut.1 mg/kg (intramuskular). ke-3. termasuk penyakit trofoblastik ganas. Methotrexate dapat pula diberikan melalui injeksi per laparoskopi tepat ke dalam massa 12 . 5. Terapi methotrexate dosis multipel tampaknya memberikan efek negatif pada patensi tuba dibandingkan dengan terapi methotrexate dosis tunggal 9. Dosis tunggal yang diberikan adalah 50 mg/m2 (intramuskular).d. dan diberikan pada hari ke-2. 6 dan 8. dan bila diberikan pada pasien dengan kehamilan ektopik. dan hari ke-7. 4. Methotrexate Methotrexate adalah obat sitotoksik yang sering digunakan untuk terapi keganasan. sedangkan dosis multipel yang diberikan adalah sebesar 1 mg/kg (intramuskular) pada hari pertama.

Setelah insisi hasil konsepsi segera terekspos dan kemudian dikeluarkan dengan hati-hati. Salpingostomi Salpingostomi adalah suatu prosedur untuk mengangkat hasil konsepsi yang berdiameter kurang dari 2 cm dan berlokasi di sepertiga distal tuba fallopii. Metode ini lebih dipilih daripada salpingostomi. sebab salpingostomi dapat menyebabkan jaringan parut dan penyempitan lumen 13 . Salpingektomi Salpingektomi diindikasikan pada keadaan-keadaan berikut ini: 1) kehamilan ektopik mengalami ruptur (terganggu). 8) kehamilan heterotopik. (7) 2. 2) pasien tidak menginginkan fertilitas pascaoperatif. (7) Penatalaksanaan Bedah Pada dasarnya ada 2 macam pembedahan untuk menterminasi kehamilan tuba. 4) telah dilakukan rekonstruksi atau manipulasi tuba sebelumnya. kecuali bahwa pada salpingotomi insisi dijahit kembali. Terapi methotrexate dosis tunggal adalah modalitas terapeutik paling ekonomis untuk kehamilan ektopik yang belum terganggu. Prosedur ini dapat dilakukan dengan laparotomi maupun laparoskopi. Pada prosedur ini dibuat insisi linear sepanjang 10-15 mm pada tuba tepat di atas hasil konsepsi. yaitu pembedahan konservatif. Perdarahan yang terjadi umumnya sedikit dan dapat dikendalikan dengan elektrokauter. 3) terjadi kegagalan sterilisasi. Insisi kemudian dibiarkan terbuka (tidak dijahit kembali) untuk sembuh per sekundam. patensi dan perlekatan tuba pascaoperatif antara salpingostomi dan salpingotomi. 5) pasien meminta dilakukan sterilisasi. Metode per laparoskopi saat ini menjadi gold standard untuk kehamilan tuba yang belum terganggu. Reseksi massa hasil konsepsi dan anastomosis tuba kadang-kadang dilakukan pada kehamilan pars ismika yang belum terganggu. Pembedahan konservatif mencakup 2 teknik yang kita kenal sebagai salpingostomi dan salpingotomi. di mana integritas tuba dipertahankan. Salpingotomi Pada dasarnya prosedur ini sama dengan salpingostomi. (7) 3. 6) perdarahan berlanjut pascasalpingotomi.hasil konsepsi. di mana salpingektomi dilakukan. (7) 4. di perbatasan antimesenterik. 7) kehamilan tuba berulang. dan pembedahan radikal. dan 9) massa gestasi berdiameter lebih dari 5 cm. Beberapa literatur menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna dalam hal prognosis.

tuba pada sisi kehamilan harus normal b. bagian tuba antara uterus dan massa hasil konsepsi diklem. zigot berimplantasi di dalam kavum abdominal. kantung janin harus dihubungkan dengan uteru oleh ligamentum ovarii propium d. (7) d. Adanya kontraksi uters menunjukkan adanya kehamilan intrauterine. (7) 5. digunting. 1. Klasifikasi Kehamilan Ektopik Selain Kehamilan Tuba. Kehamilan abdominal biasanya disertai dengan gejala iritasi peritoneum antara lain: nyeri perut bagian bawah. b. Tuba yang direseksi dipisahkan dari mesosalping. kantung janin harus terletak di dalam ovarium c. Caranya dengan menyuntikkan oksitosin intravena. Arteria tuboovarika diligasi. Evakuasi Fimbrae dan Fimbraektomi Bila terjadi kehamilan di fimbrae. Kehamilan abdominal primer : yaitu setelah terjadi fertilisasi. mual dan muntah. jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding kantung janin Kehamilan ini biasanya rupture pada umur kehamilan awal yang kemudian menyebabkan perdarahan intraabdomen 14 .pars ismika yang sebenarnya sudah sempit. Kehamilan abdominal Dibedakan menjadi(8): a. Fimbraektomi dikerjakan bila massa hasil konsepsi berdiameter cukup besar sehingga tidak dapat diekspulsi dengan cairan bertekanan. Diagnosis ditegakkan dengan palpasi. (8) 2. kadang teraba uterus terpisah dengan janin. dan kemudian sisanya (stump) diikat dengan jahitan ligasi. Kehamilan abdominal sekunder : yaitu zigot berimplantasi di dalam tuba atau ditempat lain terlebih dulu lalu zigot berimplantasi di kavum abdominal setelah terjadi rupture tuba. Pada salpingektomi. sedangkan bila tidak terjadi kontraksi berarti terjadi kehamilan intrabdominal. massa hasil konsepsi dapat dievakuasi dari fimbrae tanpa melakukan fimbraektomi. Kehamilan ovarial Diagnosis kehamilan ovarial ditegakkan atas dasar criteria Spielberg(8): a. Dapat pula dilakukan tes oksitosin. sedangkan arteria uteroovarika dipertahankan.

(8) Diagnosis kehamilan servikal ditegakkan dengan criteria Rubin : a. Jika kehamilan terus berlanjut.3. Sehingga klasifikasinya akan berubah setiap waktu. Klasifikasi plasenta previa tidak didasarkan pada keadaan anatomik melainkan fisiologik. d. Kelenjar serviks harus ditemukan ditempat yang berseberangan dengan tempat implantasi zigot b. Kehamilan servikal jarang berlanjut sampai umur kehamilan 12 minggu dan biasanya diakhiri secara operatif karena perdarahan. sehingga kadang diperlukan tindakan histerektomi total. Karena itu digunakan criteria klinis dari Paalman & McElin (1959) (8): a. Plasenta Previa a.(9) b. Ostium uteri eksternum sebagian membuka c. dapat lebih besar daripada fundus sehingga membentuk hour-glass uterus. Kehamilan servikal Implantasi zigot dalam kanalis servikalis biasanya menyebbabkan perdarahan tanpa rasa nyeri pada umur kehamilan awal. Plasenta berimplantasi kuat di serviks Namun criteria Rubin ini menyulitkan tim medis karena harus dilakukan histerektomi atau biopsy jaringan yang adekuat. Serviks lunak. Perdarahan uterus setelah fase amenorrhea. Ostium uteri internum tertutup b. Seluruh hasil konsepsi terletak didalam endoserviks d. c. Definisi Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi rendah sehingga menutupi sebagian/seluruh ostium uteri internum. serviks membesar dengan OUE sedikit tebuka.Klasifikasi (10). 3. Implantasi yang normal ialah pada dinding depan. Plasenta berimplantasi dibawah dibawah arteri uterine atau dibawah peritoneum viscerale uterus. tanpa disertai nyeri e. membesar. 15 . Pengeluaran hasil konsepsi pervaginam dapat menyebabkan perdarahan hebat. Janin tidak boleh terdapat di daerah korpus uterus. dinding belakang rahim atau daerah fundus uteri.

plasenta previa total pada pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi plasenta previa pada pembukaan 8 cm. bila sebagian menutupi ostea bagian belakang. 3. c) Menurut Browne: 1. bila pembukaan 4-5 cm sebagian pembukaan ditutupi oleh plasenta.3 plasenta previa marginalis. Lateral plasenta previa : Pinggir bawah plasenta berinsersi sampai ke segmen bawah rahim. plasenta letak rendah. namun tidak sampai ke pinggir pembukaan. 2. Tingkat I. dibagi 2 : 2. 2. berdasarkan pembukaan 4 -5 cm 1. 16 . pinggir plasenta berada 3-4 cm diatas pinggir pembukaan Pada periksa dalam tak teraba. plasenta previa lateralis. 2. plasenta previa sentralis (totalis). Tingkat II.1 plasenta previa lateralis posterior. plasenta previa totalis : seluruh ostea ditutupi uri.2 plasenta previa lateralis anterior. 2. plasenta previa partialis : sebagian ditutupi uri. Beberapa klasifikasi plasenta previa(10): a) Menurut de Snoo. bila sebagian kecil atau hanya pinggir ostea yang ditutupi plasenta. 2. Marginal plasenta previa : plasenta mencapai pinggir pembukaan (Ostea). b) Menurut penulis buku-buku Amerika Serikat(10) : 1. bila sebagian menutupi ostea bagian depan.Umpamanya. bila pada pembukaan 4-5 cm teraba plasenta menutupi seluruh ostea.

11): 17 . mioma uteri 3. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak akan berakibat fatal. Keadaan ini disebabkan(9. Perdarahan dapat terjadi saat penderita tidur. Etiologi Plasenta previa meningkatkan keadaan yang endometrium kurang baik. Cacat atau jaringan parut pada endometrium oleh bekas pembedahan (SC. Hipoksemia yang terjadi akibat monoksida akan dikompensasi dengan hipertrofi plasenta. Kuret. Perdarahan berikut biasanya lebih banyak apalagi kalau dilakukan pemeriksaan dalam. umur lanjut ( ≥35 tahun) 5. Perdarahan ini disebabkan(9. multipara.Stage 1 : Plasenta letak rendah. dll) 6. misalnya karena atrofi endometrium atau kurang baiknya vaskularisasi desidua. kuretasi yang berulang 4. Hal ini terjadi terutama pada perokok berat. Stage 4 : Plasenta previa totalis c. perubahan inflamasi atau atrofi misalnya wanita perokok atau pemakai kokain. Stage 2 : Plasenta previa Marginalis Stage 3 : Plasenta previa parsialis.10): 1. Gambaran Klinik Gejala utamanya adalah perdarahan tanpa alasan tanpa nyeri. d. terutama jika jarak antara kehamilan yang pendek 2.

berlainan dengan solusio berwarna kehitam- hitaman. padat bila tidak terdapat plasenta dan pemeriksaan melalui canalis servikalis teraba kotiledon. Diagnosis Setiap perdarahan antepartum curigai plasenta previa sampai terbukti bukan plasenta previa. Peradarahan berikutnya akan selalu lebih banyak 18 . asal sebelumnya tidak diperiksa dalam. USG. Penentuan letak plasenta langsung dengan perabaan fornik didapatkan lunak bila antara kepala janin terdapat plasenta.a. Pemeriksaan luar didapatkan bagian terbawah janin belum masuk PAP dan sukar didorong kedalam. Makin rendah letak plasenta makin dini perdarahan. Darah berwarna merah segar. Sumber perdarahan adalah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. ukuran panjang rahim berkurang maka sering disertai kelainan letak jika perdarahan disebabkan oleh plasenta lateral dan marginal. f. Pada anamnesis didapatkan perdarahan setelah 22 minggu tanpa nyeri. robekannya beberapa sentimeter dari tepi plasenta(9). Perdarahan yang terjadi pertama sekali jarang sekali menyebabkan kematian.11). Hal ini harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat menyebabkan perdarahan banyak(11). perdarahan sebelum bulan ke tujuh memberi gambaran yang tidak berbeda dengan abortus perdarahan plasenta previa disebabkan pergerakan antara plasenta dan dinding rahim. Apabila kotiledon plasenta teraba segera jari telunjuk dikeluarkan dari kanalis servikalis. tanpa sebab. b. Kemudian pada plasenta previa.(11) Penentuan letak plasenta tidak langsung dengan cara radiografi. sedangkan pada plasenta letak rendah. Penanganan Prinsip penaganan adalah setiap ibu perdarahan harus segera dikirim ke rumah sakit yang memiliki fasilitas transfusi dan operasi. Inspekulo dapat melihat asal darah dari OUE. radioisotop. Perdarahan tidak dapat dihindarkan karena serabut otot SBR tidak mampu berkontraksi untuk menghentikan darah. Gejala lain adalah bagian terendah anak sangat tinggi karena plasenta terletak pada kutub bawah rahim sehingga bagian terendah tidak dapat mendekati pintu atas panggul(9. e.

daripada perdarahan sebelumnya.Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. 2. plasentotrofik.Belum ada tanda-tanda persalinan . perdarahan banyak. kehamilan belum cukup 36 minggu atau taksiran berat janin kurang dari 2500 gram dan persalinan belum mulai dapat dibenarkan untuk menunda persalinan sampai janin dapat hidup di luar kandungan(11). Pemeriksaan USG. Infus D 5% dan elektrolit 3. Pengobatan plasenta dapat dibagi dalam dua golongan(9): 1. 7. Penanganan Ekspektif (10) Kriteria : . 4. . tekanan darah. 19 . terminasi kehamilan segera diakhiri sebelum terjadi perdarahan yang membawa maut. dilakukan bila janin masih kecil sehingga kemungkinan hidup di dunia luar kecil sekali. dan anak mati. ekspektatif. Misalnya pada kehamilan cukup bulan. COT. 2. Spasmolitik. Apabila dengan penilaian ternyata perdarahan yang telah berlangsung atau yang akan berlangsung tidak akan membahayakan ibu dan anak. • Perdarahan banyak 500 cc atau lebih. Penanganan aktif (10) Kriteria • umur kehamilan >/ = 37 minggu. Rencana Penanganan : 1. 6. parturien. Apabila ada tanda-tanda plasenta previa tergantung keadaan pasien ditunggu sampai kehamilan 37 minggu selanjutnya penanganan secara aktif. Keadaan ini dilakukan bila ibu dalam kondisi baik dan perdarah sedikt atau sudah berhenti.Perdarahan sedikit . Istirahat baring mutlak. roboransia.Keadaan umum baik. kadar Hb 8 gr% atau lebih. BB janin >/ = 2500 gram. tokolitik. HCT. nadi dan denyut jantung janin. 5. Periksa Hb. golongan darah. Awasi perdarahan terus-menerus. • Ada tanda-tanda persalinan.

• plasenta terletak di sebelah belakang (posterior). Partus per vaginam(10) Dilakukan pada plasenta previa marginalis atau lateralis pada multipara dan anak sudah meninggal atau prematur. perdarahan sangat banyak dan mengalir dengan cepat. Bila perdarahan masih terus berlangsung. dilakukan pemeriksaan dalam kamar operasi. anak masih kecil atau sudah mati. 7. Indikasi Seksio Sesarea : 1. Tindakan versi Braxton-Hicks dengan pemberat untuk menghentikan perdarahan (kompresi atau tamponade bokong dan kepala janin terhadap plasenta previa) hanya dilakukan pada keadaan darurat. hipertensi esensialis atau preeklamsia 2. tali pusat yang pendek 20 . ketuban dipecah (amniotomi) jika hid lemah. plasenta previa janin letak lintang atau letak sungsang 4. Jika pembukaan serviks sudah agak besar (4-5 cm). Solusio Plasenta a. • Sebagian besar OUI ditutupi plasenta. 3. dilakukan SC. Anak berharga dan fetal distres 5. 4. 3. plasenta previa lateralis jika : • Pembukaan masih kecil dan perdarahan banyak.• Keadaan umum pasien tidak baik ibu anemis Hb < 8 gr%. Untuk menentukan tindakan selanjutnya SC atau partus pervaginum. 1. Etiologi Etiologi solusio plasenta hingga saat ini belum dietahui dengan jelas. dan tidak ada fasilitas untuk melakukan operasi. plasenta previa pada primigravida. 2. plasenta previa totalis. Meskipun demikian. 2. Profause bleeding. infusi transfusi darah terpasang. diberikan oksitosin drips. beberapa hal yang tersebut di bawah ini diduga merupakan faktor yang mempengaruhi kejadiannya(9): 1.(9) b. Definisi Solusio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh plasenta normal implantasinya diatas 22 minggu dan sebelum lahirnya anak.

merokok. ketuban pecah sebelum waktunya 9. Apabila terjadi perdarahan 21 gangguan . atau masuk ke dalam kantong ketuban. tekanan rahim yang membesar pada vena cava inferior 5. (11) d. uterus yang mengecil (hidramnion pada waktu ketuban pecah. Kejadian ini baru diketahui setelah lahir pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dan bekuandarah lama yang berwarna kehitam-hitaman. defisiensi asam folat 10. sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu maupun janin.(11) Biasanya perdarahan akan berlangsung terus karena otot uterus yang merenggang oleh kehamilan tidak mampu berkontraksi untuk menghentikan perdarahan. kokain 11. 6. mioma uteri c. Patologi Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematoma desidua sehingga plasenta terdesak dan kemudian terlepas. Darah dapat menyeludup kedibawah selaput ketutuban keluar melalui vagina. umur lanjur 7.3. Akibatnya hematom retroplasenter akan bertambah besar sehingga sebagian dan akhirnya seluruhnya akan terlepas. perdarahan antara uterus dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanyapun tidak jelas. atau ekstravasasi ke serabut otot bila banyak warna uterus berbercak biru atau ungu disebut uterus Couvelaire. kehamilan ganda pada waktu anak pertama lahir). multiparitas 8. Apabila perdarahan yang kecil hanya akan mendesak jaringan plasenta.(11) Kerusakan jaringan miometrium dan pembekuan retroplasenter menyebabkan banyak tromboplastin masuk ke peredaran darah ibu sehingga terjadi pembekuan intra vaskuler dimana-mana yang menghabiskan sebagian fibrinogen akibatnya hipofibrinogenemi yang menyebabkan pembekuan darah pada uterus dan alat-alat tubuh lain. Gambaran klinik Solusio plasenta ringan terjadi ruptur sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak. trauma 4. alkohol.

darah masuk ke rongga amnion setelah merusak selaput ketuban 4. Ibu mungkin jatuh kedalam syok. e.(11) Solusio plasenta sedang bila plasenta terlepas lebih dari 1/4 tapi belum sampai 2/3.(11) Perdarahan tersembunyi yaitu perdarahan yang tertahan atau tersembunyi yang besar kemungkinannya terjadi bila (19): 1. janin kalau masih hidup dalam keadaan gawat. terus tegang. perdarahan yang disertai nyeri (juga diluar his) sehingga anemia dan syok 22 . Walaupun perdarahan pervaginam sedikit.pervaginam warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sekali. Gejala-gejala(9): 1. seluruh perdarahan mungkin telah mencapai 1000 ml. nyeri tekan. plasenta seluruhnya terlepas tetapi selaput ketuban masih melekat ke dinding uterus 3. bagian bagian janin mudah diraba. kepala janin menekat erat segmen bawah uterus sehingga darah tidak dapat melewatinya. terdapat efusi darah belakang plasenta tetapi tepi-tepinya masih melekat 2. bagian janin sukar diraba. Perut terasa agak sakit. Tanda dan gejalanya dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan atau mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus. dinding uterus tegang terus menerus. perdarahan pervaginam. kelainan pembekuan dan ginjal mungkin telah terjadi.

bunyi jantung janin tidak terdengar lagi. jika perlu seksio cesarea. menyebabkan palpasi sukar karena rahim keras 3.. pemecahan ketuban. infus oksitosin. sering ada proteinuri karena disertai preeklamsia. perdarahan pervaginam. nyeri tekan. menyelesaikan mengatasi pembekuan. juga pada solusio plasenta ringan. Diagnosis Tanda-tanda solusio plasenta berat ialah sakit perut terus menerus.(11) Pencegahan payah ginjal meliputi pergantian darah yang hilang secukupnya. air ketuban berwarna kemerah-merahan bercampur darah.(11) g. rahim keras seperti papan dan nyeri dipegang karena isi rahim bertambah dengan darah yang berkumpul di belakang plasenta hingga rahim teregang (uterus en bois). pada toucher teraba ketuban yang tegang terus menerus (karena isi rahim bertambah) 5. fundus uteri makin lama makin naik dan bunyi jantung biasanya tidak ada 4. Kadar kritis fibrinogen 150 mg% Apabila persalinan tidak selesai dalam 6 jam setelah terjadi solusio harus dilakukan seksio cesarea. 1 gram fibrinogen menaikkan fibrinogen darah 40%. Penatalaksanaan Pada sulusio plasenta ringan bila kehamilan <36 minggu kemudian perdarahan berhenti. Apabila perlu persalinan dengan pemberian oksitosin. Ketuban harus segera dipecahkan dan persalinan akan diselesaikan pervaginam atau perabdominam. Pemecahan ketuban ini merangsang dimulainya persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin yang dapat menyebabkan komplikasi nekrosis ginjal mungkin melalui apa yang disebut reflek uterorenal.Solusio plasenta sedang tidak semua tanda dan gejala nyata seperti sakit perut terus menerus. f. Apabila perdarahan berlangsung terus dan gejala solusio plasenta itu bertambah jelas atau dalam pemantauan dengan USG solusio plasenta bertambah maka kehamilan harus diakhiri. Untuk hipofibrinogen maka diberikan fibrinogen.2. syok.(11) Pada solusio plasenta sedang dan berat penanganan di rumah sakit meliputi trasfusi darah. kelainan atasi hipovolemi. uterus tegang terus menerus selalu ada.(11) 23 . persalinan pemberantasan dan mengatasi infeksi. uterus tidak menjadi tegang maka rawat konservatif dengan observasi yang ketat.

dan ini membutuhkan perbaikan dengan operasi caesar untuk memperbaiki kondisi uterus atau histerektomi. Penyebab yang penting ialah panggul sempit. bagian anak mudah diraba jika anak masuk dalam rongga perut 6. Lingkaran retraksi patologis/ lingkaran Bandl yang tinggi mendekati pusat dan naik terus. terjadi pada segmen bawah rahim. 2. Jika ruptur terjadi dalam masa kehamilan biasanya terjadi pada korpus uteri. juga diluar his 4. letak lintang hiddrosefal.gejala ruptur uteri(12): 1. sedangkan jik aterjadi dalam persalinan. Uterus yang ruptur dapat langsung terhubung dengan rongga peritoneum (komplet) atau mungkin dipisahkan darinya oleh peritoneum viseralis yang menutupi uterus atau oleh ligamentum latum (inkomplet). palpasi segmen bawah rahim terasa nyeri (diatas simpisis) 5. Secara teori robekan rahim dapat dibagi(12.5.13. segmen bawah rahim nyeri sekali pada saat dilakukan palpasi 3. nyeri perut bagian bawah. Ruptur uteri ada 2 macam: yaitu ruptur uteri completa (jika semua lapisan dinding rahim sobek) dan ruptur uteri incompleta (jika perimetrium masih utuh) Gejalanya ancaman robekan rahim: 1. fetal distress. kadang disamping anak teraba tumor yaitu rahim yang telah mengecil 24 . ada perdarahan pervaginam 5. dan presentasi muka atau dahi. Robekan Rahim (Ruptur Uteri) : Kematian anak mendekati 100% dan kematian ibu sekitar 30 %. BJA biasanya tidak ada atau tidak baik karena anak mengalami asfiksia 7. kontraksi rahim kuat dan terus menerus 3. sewaktu kontraksi kuat pasien tiba-tiba merasa nyeri yang menyayat diperut bagian bawah 2. air kencing mengandung darah Gejala. Bisa dikarenakan dinding rahim sudah lemah. ligamnetum rotundum tegang 6. his berhenti/ hilang 4.14): 1. penderita gelisah. tumor yang menghalangi jalan lahir. Ruptur uteri jarang terjadi dalam kehamilan ibu dan persalinan. Ruptur uteri menyebabkan perdarahan uterus. robekan spontan pada rahim yang utuh Lebih sering terjadi pada multipara dari pada primipara.

Transfusi darah merupakan syarat mutlak pengobatan ruptur uteri. pada saat periksa dalam ternyata bagian depan mudah ditolak ke atas bahkan sudah tidak teraba lagi 8.13). Pasca operasi posisi pasien dalam fowler supaya infeksi terbatas pada pevis dan beri antibiotik(12. robekan violent terjadi karena kecelakaan. sedangkan luka bekas sectio cesaria profunda biasanya baru terjadi dalam persalinan. adanya kencing berdarah Pengobatan: Gejala ancaman robekan rahim merupakan indikasi untuk segera menyelesaikan persalinan.(12) 25 .7. yaitu lakukan laparotomi. tetapi lebih sering karena versi.(12) 3. BJA tidak ada atau tidak terdengar 9. robekan bekas luka sectio ruptur luka bekas sectio cesaria klasik sudah dapat terjadi pada akhir kehamilan. sebainya dengan melakukan operasi buka pervaginam. Tipe operasi yang dilakukan tergantung dari : • tipe ruptur uterinya • berapa luas ruptur yang terjadi • derajat perdarahannya • kondisi ibu • keinginan ibu terhadap masa depan anaknya 2. jika sudah lama terjadi perut terjadi nyeri dan kembung 10.

2. edema timbul didahului berat badan yang bertambah berlebihan. diukur 2 kali dengan jarak waktu sekurang-kurangnya 6 jam dan pasien dalam keadaan istirahat 2. Proterinuri biasanya timbul lebih lambat dari hipertensi dan edema.6. Tekanan darah sistolik 140 mmHg dan diastoliknya 90 mmHg. edema paru atau sianosis a. gangguan serebral atau gangguna penglihatan 5. Disertai proteinuri. hiperplasentosis 3. sakit ulu hati. tekanan darah sistolik 160 mmHg atau lebih dan atau diastolik 110 mmHg atau lebih. 3. Edem ini tidak hilang dengan istirahat. oliguri (400 cc atau kurang dalam 24 jam) 4. hipertensi yang terjadi tiba-tiba. primigravida 2. Penambahan berat dikarenakan retensi air dalam jaringan dan kemudian baru edema tampak. 4. proteinuri 5 gram atau lebih dalam 24 jam 3. karena adanya vasospasme pembuluh-pembuluh darah ginjal. mempunyai riwayat preeklampsia atau eklampsia di keluarga b. Patogenesis : 26 . Preeklamsia berat jika(15): 1. tetapi juga kenaikan sistolik 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg diatas tekanan darah biasanya. mempunyai dasar penyakit vaskular 4. proteinuri. Gejala-gejalanya(15) : 1. Preeklamsia Yaitu penyakit hipertensi yang khas dalam kehamilan dengan gejala utama hipertensi yang akut pada wanita hamil dan wanita dalam nifas. dan penglihatan kabur. Etiologi(15): Belum diketahui tetapi lebih sering ditemukan pada : 1. gejala subjectif seperti sakit kepala.

eklampsia intrapartum 3. dan paru. eklamspsia pascapartum Eklampsia pascapersalinan dapat terjadi segera yaitu setelah 24 jam sampai 7 hari pasca persalinan atau lambat yaitu setelah 7 hari pasca persalinan selama masa nifas. Terapi istirahat. proteinuri dan atau edem. pernatal care tiap minggu. Sebagian besar kasus eklampsia hadir pada trimester ketiga kehamilan. edem dan proteinuri). Rawat inap : tidak ada perbaikan dari rawat jalan. reaksi imunologis maupun radikal bebas. mata. diet sedatif.(15) 7. berat badan meningkat > 2 kg/ minggu(15) Preeklampsia berat: Mencegah terjadi eklampsia. dengan sekitar 80% dari serangan eklampsia terjadi intrapartum atau yang pertama dalam 48 jam setelah pengiriman.(15) c.Vasokokstriksi ini meluas ke kardiovaskular. Diagnosis : Umur kehamilan 20 minggu atau lebih ditemukan gejala hipertensi. Pengobatan: preeklampsia ringan: rawat jalan : banyak istirahat. plasenta. hati.(15) d. Langka kasus telah dilaporkan sebelum 20 minggu kehamilan atau sebagai terlambat sebagai 23 hari postpartum. ginjal. Eklampsia Adalah kejang pada wanita hamil. obat-obatan antihipertensi dan induksi persalinan. Tingkat kejang dibagi menjadi(15): 27 . dalam persalinan.16) Eklampsia dibedakan menjadi: 1. atau masa nifas yang disertai gejala preeklampsia (hipertensi. roboransia.otak. eklampsia antepartum 2. diet cukup. Sedatif ringan berupa fenobarbital (3x30 mg peroral).Vasospasme merupakan akibat kegagalan invasi tropoblas kedalam lapisan otot polos pembuluh darah. (15.

tekanan darah tidak boleh kurang dari 140/90. Kadang-kadang terjadi eklapmsia tanpa kejang yang disebut eclampsi sine eclampsi. dan mengatasi hemokonsentrasi dan memperbaiki diuresi pemberian cairan. Menurunkan atau mengontrol tekanan darah. sedangkan tekanan darah akan normal kembali dalam waktu 2 minggu. Kejang ini sangat kuat. Lamanya koma bervariasi dari beberapa menit sampai berjam-jam. pasien jatuh dalam koma. histeri. Etiologi: Belum diketahui. tumor ota. Pengobatan : penderita harus dirawat di ICU.1. tingkat invasi (tingkat permulaan) mata terpaku. meningitis. Lamanya 1 menit. Terapi(15): 1. ensefalitis. Harus dikesampingkan keadaan seperti uremia. masukkan 4 gr MgSO4 20 % dalam larutan 20 cc IV selama 4 menit 28 . kira-kira dalam 12-24 jam. tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis) sseluruh badan berlangsung selama 15 sampai 20 detik. tingkat koma.(15) c. Diagnosis: Semua ibu dalam kehamilan dan masa nifas yang mengalami kejangkejang dan hipertensi harus dianggap sebagai penderita eklampsia sampai terbukti bukan eklampsia. kepala dipalingkan ke satu pihak dan kejang halus terlihat pada wajah. rahang membuka menutup. Mengatasi hipoksia dan asidosis dengan mengusahakan agar penderita memperoleh Oksigen dan mengakhiri kehamilan tanpa memandang umur kehamilan setelah kejang dapat teratasi Pengobatan medisinalis(15): Dosis awal MgSO4: a. pecahnya aneurisma otak. setelah kejang klonis ini. Pengobatan bertujuan mencegah timbulnya kejang selanjutnya. epilepsi. tetanus. Setelah persalinan. keadaan pasien berangsur baik.(15) b. 4. 3. Proteinuri akan menghilang 4-5 hari. otot-otot badan berkontraksi dan bereklasasi berulang. Profilaksis : pencegahan eklampsia dengan menemukan kasus preeklampsia sedini mungkin 2. keracunan. Berlangsung beberapa detik 2. merupakan kelanjutan preeklampsia. tingkat konvulsi (tingkat kejang klonis) hilang timbul.(15) a.

uterus gagal berkontraksi dengan baik setelah persalinan. Atonia uteri yang menyebabkan perdarahan dapat diperkirakan karena penggunaan zat anestetik berhalogen.(18) 29 . Pada atonia uteri. 8. bila masih tetap kejang.18) Perdarahan post partum sebelum plasenta lahir disebut perdarahan kala tiga. berikan amobarbital 3-5 mg/kgBB/ IV secara pelanpelan. Atonia Uteri Atonia uteri merupakan penyebab utama terjadinya Perdarahan pascapersalinan. bisa juga karena persalinan yang dipicu oleh penggunaan oksitosin. sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir b. bila timbul kejang lagi dapat diberikan 2 gr MgSO 4 20 % IV selama 2 menit.b. susul dengan pemberian 8 gr MgSO 4 40 % IM dalam larutan 20 cc diberikan pada bokong kiri dan kanan masing-masing 4 gr Dosis pemeliharaan: tiap 6 jam berikan lagi 4 gr MgSO4 40 % IM Dosis tambahan: a. Pemantauan tanda-tanda keracunan MgSO4 Pengobatan obstetri(15): Semua kehamilan dengan eklampsi harus diakhiri tanpa memandang umur kehamilan dna keadaan janin.(17. Pemijatan dan penekanan secara terus menerus terhadap uterus yang sudah berkontraksi dapat mengganggu mekanisme fisiologis pelepasan plasenta sehingga pemisahan plasenta tidak sempurna dan peneluaran darah meningkat.

Gejala klinis(17) Gejala dan tanda yang selalu ada : a. mioma uteri.Predisposisi atonia uteri(17) : • • Grandemultipara Uterus yang terlalu regang (hidramnion. Uterus tidak berkontraksi dan lembek b. Perdarahan segera setelah anak lahir (perdarahan pascapersalinan primer) 30 . • • • • • • • • • • • • a. penyakit hati. anak besar (BB >4000 gr) Kelainan uterus (uterus bicornis. hamil ganda. dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus sebelum plasenta terlepas IUFD yang sudah lama. bekas operasi) Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan anteparturn) Partus lama (exhausted mother) Partus precipitatus Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis) Infeksi uterus Anemi berat Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus) Riwayat perdarahan pascapersalinan sebelumnya atau riwayat plasenta manual Pimpinan kala III yang salah. emboli air ketuban (koagulopati) Tindakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam.

mual. Pada persalinan di rumah sakit.denyut nadi cepat dan kecil. Syok mengakibatkan gangguan aliran darah dan perfusi jaringan akibat kegagalan sistem sirkulasi. 31 . Dalam hal uterus berkontaraksi dengan baik. Syok Syok adalah suatu kondisi gawat darurat yang memerlukan penanganan segera dan intensif untuk menyelamatkan jiwa pasien. perlu diperiksa lebih lanjut tentang adanya dan dimana letaknya perlukaan jalan lahir. ekstremitas dingin. umumnya disebabkan oleh perdarahan. Diagnosis perdarahan pascapersalinan dipermudah apabila pada tiap-tiap persalinan setelah anak lahir secara rutin diukur pengeluaran darah dalam kala III dan satu jam sesudahnya. uterus berkontraksi dengan baik.(17) Pada perdarahan karena atonia uteri. infeksi/sepsis atau trauma. b. Gejala-gejala baru tampak pada kehilangan darah 20%. sedangkan pada perdarahan karena perlukaan jalan lahir.(19) Dalam kehamilan fisiologik terjadi perubahan-perubahan hemodinamik yang memberi perlindungan atau justru memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok.Gejala dan tanda yang kadang-kadang ada: a. perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir. uterus membesar dan lembek pada palpasi. seperti anemia. Apabila terjadi perdarahan pascapersalinan dan plasenta belum lahir.dan lain-lain). Syok (tekanan darah rendah. Jika perdarahan berlangsung terus. Ada keadaan-keadaan patologik waktu kehamilan atau persalinan yang memberi pradisposisi terhadap timbulnya syok. dapat timbul syok.(17) 9. Diagnosis perdarahan pascapersalinan Nadi serta pernafasan menjadi lebih cepat dan tekanan darah menurun. seperti antara lain peningkatan curah jantung dan perubahan mekanisme pembekuan darah. Terdapat berbagai penyebab syok. dengan fasilitas yang baik untuk melakukan transfusi darah. Seorang wanita hamil yang sehat dapat kehilangan darah sebanyak 10% dari volume total tanpa mengalami gejala-gejala klinik. gelisah. seharusnya kematian akibat perdarahan pascapersalinan dapat dicegah. Jika plasenta sudah lahir. perlu diusahakan untuk melahirkan plasenta segera.

Pada ujung kapilar di metarteriol didapat otot polos yang melingkari kapilar (precapillary sphincter).gangguan gizi. kapiler dan venula. menurunnya tekanan darah ( diastolik < 60 mmHg ) 3. bibir) 5. Darah dari kapilar kemudian memasuki venula. Suatu kesatuan sirkulasi mikro terdiri dari arteriol. Patofisiologi sindroma syok Semua macam syok. gelisah. Syok pada waktu kehamilan mengakibatkan syok pula pada janin yang berada dalam kandungan. Tanda-tanda syok(19): 1. apatis/ bingung atau pingsan/tidak sadar b. metarteriol. Darah dari arteriol memasuki metarteriol. bersumber pada berkurangnya perfusi jaringan dengan darah sebagai akibat gangguan sirkulasi mikro. apa pun sebabnya. pernafasan cepat (respirasi > 32 x/menit) 4. dari metarteriol darah memasuki kapilar. berkeringat. Metarteriol mempunyai struktur antara arteriol dan kapilar.(20) 32 . nadi cepat dan halus ( > 100 x/menit) 2.(20) a. telapak tangan. pucat (terutama pada konjungtiva palpepra. partus lama disertai dehidrasi dan asidosis dan sebagainya.

terjadilah peningkatan tumpukan sampah metabolisme. Sebaliknya. Dengan demikian timbul vasodilatasi. Dengan demikian. sebaliknya. terjadilah vasokonstriksi pembuluh-pembuluh darah prakapilar. Gerak pembuluh darah dalam sirkulasi mikro dikendalikan oleh unsur-unsur lokal kimiawi dalam jaringan dan unsur yang datang dari saraf. kapasitasnva berkurang. sebaliknya. bila gerak pembuluh darah berkurang. maka fase dilatasi yang menonjol dan aliran darah dalam kapilar akan bertambah. sedangkan distribusi dan kecepatan aliran darah dalam kapilar-kapilar diatur oleh otot lingkar prakapilar (Precapillary sphincters) yang menentukan jumlah kapilar yang membuka.(20) Bilamana metabolisme dalam jaringan meningkat. terutama berada di bawah pengaruh susunan saraf. sehingga aliran darah di dalamnya menurun. rnetabolit terdapat dalam konsentrasi yang lebih rendah. Bahan-bahan ini mempunyai pengaruh berkurangi tonus otot pembuluh darah prakapilar dan sfingter prakapilar. Besar kecilnya tahanan dalam pembuluh-pembuluh darah pascakapilar ditentukan oleh keadaan venula dan vena-vena kecil. maka konstriksi akan menonjol dan aliran darah dalam kapilar akan berkurang. Dalam keadaan normal aliran darah dalam suatu kapilar adalah intermiten. penurunan tonus pembuluh-pembuluh darah pascakapilar akan sangat berkurangi pengisian jantung dan dapat mengakibatkan hipotensi yang berat. Rangsangan simpatikus yang meningkat akan menimbulkan kontraksi otot polos dari vena-vena kecil dan venula dari sirkulasi mikro.(20) 33 . pembuluh-pembuluh darah prakapilar dan otot lingkar prakapilar terutama dipengaruhi oleh keadaan lokal kimlawl dalam jaringan. Pembuluh darah arteriole terutama dipengaruhi oleh unsur yang datang dari saraf melalui susunan saraf simpatikus. sehingga aliran darah kapilar meningkat. Bila gerak pembuluh darah meningkat. bila aktivitas metabolik dalam jaringan berkurang. seperti venula dan vena-vena kecil. Sebaliknya. Pembuluh-pembuluh darah pascakapilar.Jumlah darah yang mengalir ke jaringan ditentukan oleh besar kecilnya tahanan (resistance) dari arteriola-arteriola sirkulasi mikro. sehingga meningkatkan pengaliran darah ke jantung. dan timbul suatu metabolisme yang anaerob seperti dalam syok. hal ini disebabkan karena metarteriol dan sfingter prakapilar mengadakan gerakan konstriksi dan dilatasi secara berganti-ganti (vasomotion).

trombosit. • Transfusi darah bila Hb < 6 g% atau Ht < 20. Infeksi tersebut umumnya terjadi akibat prosedur pencegahan infeksi tidak dilakukan secara benar. posisi dimiringkan agar tidak aspirasi. darah bercampur sekret berbau) Infeksi/sepsis Infeksi merupakan komplikasi yang sering terjadi pada kasus-kasus perdarahan pada kehamilan muda ata persalinan traumatik. menggigil atau berkeringat 2.c. maka ubah menjadi posisi fowler untuk mengurangi tekanan hidrostatik di paru-paru. pasien dalam kondisi yang tidak hipotermi. d. golongan darah. bila ada O2 berikan melalui selang atau masker dengan kecepatan 6-8 liter/menit Posisi trendelenburg untuk membantu beban kerja jantung. Stabilitas dan pengobatan sumber infeksi. keadaan ini menunjukkan kondisi yang kritis (kehilangan sangat banyak butir-butir darah merah) sehingga mutlak diberi transfusi darah agar perfusi oksigen ke jaringan cukup. tegang/kaku dinding perut bawah (dengan atau tanpa nyeri tekan-lepas) 4. Bila setelah posisi seperti itu pasien menjadi sesak. • Perbaiki cairan isotonik (RL atau NaCl) 1 liter dalam 15 – 20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3 jam. jumlah eritrosit. Tanda-tanda(19): 1. Sisa konsepsi atau debris merupakan media yang baik bagi pertumbuhan mikroorganisme. menggigil. leukosit. nyeri goyang serviks (pada pemeriksaan bimanual) 34 . • Berikan antibiotika berspektrum luas bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam. demam (temperatur > 38o C). bila produksi urin dibawah 50 ml/jam menunjukkan hipovolemia. penanganan awal(19) • • • periksa tanda-tanda vital. Jangan berikan cairan peroral. sekret pervaginam yang berbau/ keluar cairan mukopurulen melalui ostium servik 3. yaitu Hb. Bebaskan jalan napas. sangat diperlukan untuk menyelamatkan jiwa pasien. mungkin terjadi kegagalan jantung dan edema paru. Ukur jumlah urin. crossmatch. • Pemeriksaan laboratorium. Ht.

nilai kemungkinan sepsis/syok septik dengan melihat(19): • • • • • f. gejala(19): 1. kelemahan umum (gejala seperti flu) pada kasus infeksi. golongan darah. • • • usia kehamilan penyebab perdarahan adanya trauma atau manipulasi yang berlebihan demam tinggi ( > 40o C) atau dibawah normal ( < 36. nyeri perut bawah 3. • Pemeriksaan Rontgen (foto radiologi abdomen) dalam posisi Anteroposterior abdomen dapat menunjukkan adanya udara atau bayangan cairan dalam usus. Penanganan lanjutan : 35 . Ukur jumlah urin. riwayat pengakhiran kehamilan secara terpaksa atau persalinan traumatik 2.5o C) adanya trauma intra abdomen atau syok penanganan awal(19) periksa tekanan darah. berikan serum anti tetanus. Bila terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia/abortus buatan. Jangan berikan cairan peroral. pernapasan dan temperatur. • Bila terdapat tanda-tanda infeksi (demam. crossmatch. tanyakan saat terakhir mendapat tetanus toksoid. nadi. yaitu Hb. bila produksi urin dibawah 50 ml/jam menunjukkan hipovolemia. hasil apusan dan biakan darah) segera berikan antibiotika spektrum luas. Bebaskan jalan napas.e. dapat terlihat udara di bawah diafragma apabila terjadi perforasi uterus atau usus. perdarahan pervaginam yang lama ( > 8 hari) 4. leukosit. bila ada O2 berikan melali selang atau masker dengan kecepatan 6-8 liter/menit Perbaiki cairan isotonik (RL atau NaCl) 1 liter dalam 15 – 20 menit kemudian lanjutkan hingga mencapai 3 liter (lihat kondisi pasien) dalam 2-3 jam. Bila hasil anamnesa tidak dapat memastikan perlindungan terhadap tetanus. Tinggikan tungkai. menggigil. trombosit. • Pemeriksaan laboratorium. jumlah eritrosit. Pada posisi duduk. Ht. darah bercampur sekret berbau.

(20) Peristiwa-peristiwa infeksi yang dapat menimbulkan syok septik adalah(20) : 1.Setelah penyebab infeksi ditangani dan antibiotik diberikan. Klebsielia dan lain-lain.(19) Syok septik Infeksi berat sebagai penyebab syok masih banyak dijumpai dalam praktek kebidanan. perdarahan yang lama ( lebih dari 7 hari) 2. tekanan darah turun ( < 90/60 mmHg. Pseudomonas. nyeri perut bawah 36 . Diperkirakan bahwa endotoksin yang menimbulkan syok adalah suatu kompleks lipopolysaccharide. < 60 mmHg atau tidak terdeksi) 4. gelisah. bibir) 2. Sesuaikan pengobatan yang diberikan dengan perubahan kondisi pasien. telapak tangan. dalam atau dangkal.20): 1. Febris puerperalis yang berat Riwayat(19): 1. produksi urin < 30 ml/jam tanda-tanda fisik(19): 1. setengah sadar atau tidak sadar 8. Abortus infeksiosus. Syok endotoksik terutama dijumpai pada infeksi berat dengan kuman gram negatif. dada) 3. Perhatikan keseimbangan cairan dan produksi urin. muka. suhu badan tinggi atau rendah sekali 7. pucat (konjuntiva palpebra. nyeri perut bawah. spasme periksa tanda vital(19. protein berasal dari desintegrasi dinding bakteri-bakteri gram negatif yang berada dalam peredaran darah dalam jumlah yang besar. lanjutkan pengamatan tanda vital dan keseluruhan kondisi pasien. pernapasan cepat ( > 40 x/menit). sekret atau lochia berbau 2. riwayat trauma atau manipulasi berlebihan pada organ genitalia atau jalan lahir 4. seperti Escherichia coli. Proteus. terutama abortus kriminalis 2. upaya pengakhiran kehamilan atau persalinan secara paksa 3. Syok karena infeksi berat dinamakan syok septik (septicaemic shock) atau syok endotoksik (endotoxic shock). sianosis (ekstremitas. nadi cepat dan halus ( > 120 x/menit) 5. tidak teratur 6. demam atau gejala seperti influenza 5.

(20) Larutan garam 0.9 % ringer laktat. kemungkinan terjadinya kegagalan fungsi ginial harus dipertimbangkan.3. diberi antibiotika dengan spektrum yang luas dan dosis yang tinggi secara intravena. (20) Setelah diketahui jenis kuman penyebab dari hasil pembiakan darah. mukopus dari servik atau kavum uteri 4. Dikemukakan bahwa glukokortikoid mengandung khasiat anti endotoksin. Pengukuran pengeluaran air kencing sangat berguna unruk menilai keadaan penderita dan hasil pengobatan. air kencing atau lendir serviks. Apabila diuresis ditemukan kurang dari 30 ml/jam dan penambahan cairan tidak memperbaiki keadaan dapat diberi Manitol 10 gram sebagai cairan 20% dalam 500 ml cairan garam fisiologik melalui infus. serta oksigenasi dengan oksigen 100%. Untuk menghindarkan asidosis metabolik penderita dapat diberi bikarbonat natrikus. Suntikan. perlu diberi 25 mg Furosemid secara intravena dan dosis dapat diulangi setiap jam. dekstran dan sebagainya melalui infus intravena. Tujuan utama pemberian obat vasoaktif adalah untuk memperbaiki perfusi jaringan. nyeri adneksa atau adanya fluktuasi jaringan Penanganan syok septik Kelancaran ventilasi harus diperhatikan lebih dahulu (02 diberikan dengan masker. maka dipilihkan jenis antibiotika yang tepat dan yang tidak bersifat nefrotoksik. nyeri goyang porsio atau nyerik tekan abdomen 5. Pemberian glukokortikoid ternyata besar manfaatnya dalam mengatasi syok septik. Glukokortikoid diberikan intravena melalui infus atau melalui suntikan intravena yang diulang setelah beberapa jam tertentu. Penderita diberi antibiotika sebelum jenis kuman penyebab infeksi diketahui. Pada perawatan penderita dengan syok septik pengawasan diuresis sangatlah penting. (20) Obat-obat vasoaktif dapat dipergunakan dalam merawat syok septik. inotropik terhadap jantung dan memperbaiki perfusi ginjal. Jika belum ada perbaikan. (20) 37 . (20) Dapat diberikan misalnya Dexamethasone 3 mg/kg berat badan atau Metilprednison 30 mg/kg berat badan. bukan untuk mengembalikan tekanan darah menjadi normal. jika perlu diulangi 4 jam kemudian. Apabila dengan demikian masih belum juga ada perbaikan. jika perlu mempergunakan pipa endotrakeal atau melakukan trakeotomi).

ac.org /wiki/Kehamilan_EktopikKehamilan Ektopik (diakses tanggal 18 mei 2009) 8. Nasution.com/2008/08/perdarahan-di-trimester-i-kehamilan. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Sastrawinata.235. no 2. Syamsul arifin. Penelusuran Kasus-kasus kegawatdaruratan obstetri yang berakibat kematian maternal. Tersedia di http://www. 2003. Didi. Agus. tersedia di http://id. 2008. Kelainan Letak Kehamilan. (20) DAFTAR PUSTAKA 1. Perdarahan Anterpartum. EGC: Jakarta.drdidispog. 5. EGC: Jakarta.net/?p=152 (diakses tanggal 18 mei 2009) 9. dalam Makara Kesehatan.id/download/fk/obstetri-tmha nafiah2.pdf+plasenta+letak+rendah&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id (diakses tanggal 18 mei 2009) 38 . sulaiman dkk.usu. tersedia dalam http://72. 7. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. Sastrawinata. 2. Saputra. Perdarahan di trimester 1 Kehamilan. penyingkiran sarang infeksi sangatlah penting.wikipedia. Kehamilan Ektopik.html (diakses tanggal 18 mei 2009) 6. Sunarto. Tersedia dalam http://medicalanswer. Kusmarjadi. indra.id/download/fk/obstetri =id (diakses tanggal 27 april 2009) 3. Gambar Penanganan Kasus Kedaruratan Obstetri di RSU Tanjung Pura Kabupaten Lankat dan RSU. Wikipedia.235.132/ search? q=cache:O0QFTMKfzFUJ:library. Sastrawinata. 2007. 2008 (diakses tanggal 29 April 2009) 4. EGC: Jakarta. Kelainan Lama Kehamilan.Dalam mengatasi syok septik. Tersedia dalam http://72. Plasenta Previa . hal 83-95.com/journal/item/2. 2003. hal 1. hal 2-9. kegawatdaruratan Obstetri FKUMJ. histerektomi dan sebagainya. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. 2003. 2005. Hanafiah. sulaiman dkk. hal 16-23.ac. Kehamilan Ektopik Terganggu.usu.multiply. 2008. tindakan operatif sering perlu dilakukan. 2005. vol 7. sulaiman dkk. Kisaran Kabupaten Asahan Bagian Obstetri Dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.14.132/search?q=cache:O0QF TMKfzFUJ:library. 2005. seperti tindakan kuret. 10.14. Hasnah dan Atik Triratnawati. Sehubungan itu. tersedia dalam http://doctorology.

volume 1. Ross. EGC: Jakarta. dalam Emedicine.html (diakses tanggal 27 april 2009) 12.com/2008/06/syok-dalam-obstetri. Gestosis. Haina Syafitri. 2009.11. Cunningham. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran.com/article/253960-treatment (Diakses tanggal 18 mei 2009) 17. perdarahan Pasca persalinan.html tanggal 27 april 2009) dalam (diakses 39 . hal 716-717. EGC: Jakarta. Jakarta. blogspot.com/2008/06/perdarahan-antepartum.com/2007/07/25/pendarahan-pasca-persalinan-part-1/ (diakses tanggal 18 mei 2009) 18. Eclampsia. Nahum. 2007.wordpress. 16. 2008 Tersedia dalam http://emedicine.blogspot. Michael G. Suheimi. sulaiman dkk. edisi 21. tersedia dalam http:// emedicine. edisi 21. 2005. EGC: Jakarta. 2005.medscape. GF dkk. volume 1. 2006. 13. tersedia dalam http://ksuheimi. EGC: Jakarta. 2006. hal 69-81. 2006. Uterine Rupture in Pregnancy dalam Emedicine. 2008. 19. hal 705-706. hal 181-185. tersedia di http://fkunsri. Perdarahan Obstetri dalam Obstetri Williams. 15. PONEK.medscape. Sastrawinata. 20. Cunningham. Syok dalam Obstetri. 2006. hal 63-72. Gerard.com/article/35954219-treatment 14. Komplikasi yang umum pada kehamilan dalam Obstetri Williams. Kerusakan Jalan Lahir Karena Persalinan. dalam Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. tersedia http://ksuheimi. Suheimi. Perdarahan Antepatum. GF dkk. Penatalaksanaan Kegawatdaruratan medik dalam Paket Pelatihan Pelayanan Obstetri dan Neonatal Emergensi Komperenhensif (PONEK). Sastrawinata. sulaiman dkk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful