Fathina Nisa Rabbani 1102008337

Satavaptan sebagai Terapi Asites pada Pasien Sirosis: Efikasi dan Keamanan Penggunaan pada Seluruh Spektrum Keparahan Asites
PERMASALAHAN: - Penatalakasanaan farmakologi untuk asites tidak memuaskan pada beberapa pasien yang responnya kurang terhadap terapi diuretik. - Pasien dengan sirosis dan asites biasanya terjadi peningkatan vasopresin oleh neuro hipofisis yang mana berperan dalam patogenesa retensi cairan. Obat Golongan Vaptan - Bekerja antagonis selektif terhadap reseptor V2 vasopresin di renal yang menyebabkan peningkatan ekskresi air bebas solut dan konsentrasi sodium serum. - Sudah dipakai di beberapa negara untuk terapi hipervolemik hiponatremi yang berhubungan dengan sirosis dan asites, gagal jantung, dan innapropriate antidiuretic hormone secretion. - Pada penelitian jangka pendek sebelumnya, Satavaptan menunjukkan bahwa dapat menurunkan volume asites dan kebutuhan dilakukannya LVP (large volume paracentesis) PENELITIAN: Meneliti dan menilai efikasi dan keamanan penggunaan Satavaptan dalam jangka panjang untuk memperbaiki asites pada sirosis. METODE: - Dibagi menjadi 3 kelompok besar, acak, double blind. - Jumlah peserta: 1200 pasien dengan sirosis dan asites - Waktu: Juli 2006 – Desember 2008 - Dosis satavaptan yang diberikan: 5 mg/hari selama 7 hari awal, kemudian ditingkatkan menjadi 10 mg/hari. - Durasi terapi: 52 minggu - Dilakukan follow up selama 4 minggu berupa pengecekkan asites, pengambilan sampel darah untuk hematologi dan kimia serum, EKG. STUDI 1: Satavaptan vs placebo pada kombinasi dengan diuretik untuk penatalaksanaan asites yang tidak dilakukan LVP. - Objektif: untuk mengevaluasi efikasi dan keamanan Satavaptan sebagai terapi konvensional dalam menangani - Hasil akhir yang dinilai: o Primary efficacy end point: bertambah buruknya asites dalam 12 minggu penelitian, didefinisikan dengan dilakukannya LVP dan/atau peningkatan BB ≥2kg (termasuk berat dari cairan asites yang dibuang lewat LVP) o Ascites end point yang dievaluasi:  Waktu berkurangnya asites: didefinisikan dengan terjadinya penurunan berat badan ≥2 kg tanpa dilakukan LVP atau peningkatan regimen diuretik  Perburukan asites selama 24 minggu pertama: didefinisikan sebagai peningkatan BB 4 kg dari BB awal  Waktu dilakukannya LVP pertama  Jumlah total dilakukannya LVP  Peningkatan kumulatif asites, dinilai dari penambahan BB o Non ascites end point yang dievaluasi:  Resiko terjadinya komplikasi mayor dari sirosis selain asites: ensefalopati hepatik, peritonitis bakterial spontan, perdarahan varises, dan penurunan fungsi renal (peningkatan serum kreatinin ≥50% / ≥133µmol/L atau 1,5 mg/dL)

Waktu dilakukannya koreksi hiponatremi (>135 mmol/L): juga dievaluasi pada pasien dengan sodium serum awal ≥130 mmol/L STUDI 2: Satavaptan vs Plasebo pada terapi kombinasi dengan diuretik untuk mencegah rekurensi asites setelah LVP - Objektif: untuk menilai efikasi dan keamanan penggunaan Satavaptan kombinasi dengan diuretik dalam mencegah rekurensi asites pada pasien dengan riwayat sering dilakukannya LVP. - Hasil akhir yang dinilai: o Primary efficacy end point: Jumlah kumulatif dilakukannya LVP: pembuangan cairan ascites yang dilakukan paling kurang 1 L selama 12 minggu pertama penelitian o Ascites end point yang dievaluasi:  Waktu pertama kalinya dilakukan LVP  Waktu rekurensi ascites, didefinisikan sebagai waktu dilakukannya LVP atau peningkatan BB ≥ 4kg. o Non ascites end point yang dievaluasi:  Resiko terjadinya komplikasi mayor lain dari sirosis  Waktu dilakukannya koreksi hiponatremia STUDI 3: Satavaptan VS Plasebo sebagai terapi tunggal dalam mencegah rekurensi asites setelah dilakukannya LVP - Objektif: untuk mengevaluasi efikasi dan keamanan Satavaptan dalam mencegah rekurensi asites pada pasien dengan riwayat sering dilakukan LVP dan tidak mendapat terapi diuretik karena asites yang sulit ditangani (asites refrakter) - Hasil akhir yang dinilai: o Primary efficay end point: Jumlah dilakukannya LVP (setodaknya 1L ascites) selama 12 minggu pertama penelitian. o Ascites end point yang dievaluasi:  Waktu dilakukannya LVP pertama  Waktu rekurensi terjadinya ascites: saat dilakukannya LVP dan/atau peningkatan BB ≥4 lg  Peningkatan kumulatif ascites, didefinisikan sebagai perubahan BB yang terjadi. o Non ascites end point yang dievaluasi:  Resiko komplikasi mayor lain dari ascites  Waktu dilakukannya koreksi hiponatremi  HASIL STUDI 1: - Tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam terjadinya insidensi perburukan ascites pada kelompok Satavaptan dibanding dengan kelompok plasebo dalam 12 minggu pertama, walaupun terdapat kecenderungan terjadinya kontrol yang lebih baik pada kelompok Satavaptan. Tidak pula terdapat perbedaan yang signifikan pada 2 kelompok selama 52 minggu terapi. - Waktu terjadinya perbaikan asites: lebih pendek pada kelompok yang menerima Satavaptan dibanding kelompok plasebo. - Waktu pertama kalinya dilakukan LVP dan jumlah kumulatif LVP selama 52 minggu: tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok - Rata-rata kumulatif peningkatan cairan ascites: lebih rendah pada kelompok Satavaptan, namun perbedaanya tidak signifikan dibanding kelompok plasebo. - Pada pasien dengan hiponatremi yang signifikan, rata-rata waktu koreksi hiponatremi Satavaptan : Plasebo yaitu 8 hari: 43 hari - Presentasi pasien dengan kadar sodium serum >145 mmol/L dalam setidaknya 1 kali kejadian adalah 15,2% pada pasien penerima Satavaptan dan 9,6% pada kelompok plasebo. - Lain-lain: komplikasi mayor lain dari ascites, fungsi renal, dan EKG: tidak terdapat perbedaan yang signifikan. STUDI 2:

-

Jumlah kumulatif dilakukannya LVP dalam 12 minggu pertama: tidak terdapat perbedaan efek yang signifikan pada kedua kelompok Rata-rata volume ascites yang dibuang tiap LVP: kelompok Satavaptan 6,6L dan kelompok plasebo 6,9L Jumlah dilakukannya LVP selama 52 minggu terapi: tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada 2 kelompok Waktu dilakukannya LVP pertama dan waktu rekurensi ascites pertama: Meningkat pada kedua kelompok (masing-masing 25 hari vs 22 hari, 14 hari vs 11 hari) Rata-rata peningkatan volume ascites: lebih rendah pada kelompok Satavaptan dibanding kelompok plasebo (2,01/minggu vs 2,41/minggu) Pada pasien dengan hiponatremia yang signifikan, rata-rata waktu dilakukannya koreksi hiponatremi: Satavaptan 8 hari banding plasebo 43 hari Presentase pasien dengan kadar sodium serum >145 mmol/L lebih tinggi pada kelompok Satavaptan dibanding kelompok plasebo (9,5% vs 3,6%) Peningkatan sodium serum pada pasien ≥8mmol/L dalam 24 jam: 6 pasien pada kelompok Satavaptan dan 0 pasien pada kelompok plasebo. Insidensi terjadinya komplikasi mayor lain dari sirosis: tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok.

STUDI 3: - Ratio durasi terapi lebih lama pada kelompok Satavaptan dibanding kelompok plasebo (durasi ratarata 152 hari vs 76 hari). Kebanyakan akibat tingginya jumlah drop out akibat rendahnya efikasi dan banyaknya pasien pada kelompok plasebo yang keluar dari penelitian tanpa sebab yang jelas. - Dibandingkan dengan pasien pada studi 1 dan 2, studi 3 lebih banyak memiliki penyakit advance liver dan hampir semuanya asites refrakter. - Jumlah kumulatif dilakukannya LVP pada 12 minggu pertama penelitian: tidak terdapat efek yang signifikan antara kedua kelompok, walaupun terdapat kecenderungan efikasi yang lebih baik pada kelompok Satavaptan. Selama 52 minggu terapi jugatidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedua kelompok. - Waktu pertama kalinya dilakukan LVP dan waktu pertama kali terjadinya rekurensi asites: meningkat pada kedua kelompok - Peningkatan jumlah ascites rata-rata: Satavaptan 3,5L/minggu dan plasebo 3,6L/minggu. - Pada pasien dengan hiponatremi signifikan: kelompok Satavaptan 7 hari dan kelompok plasebo 1 pasien. - Presentase pasien dengan kadar sodium serum >145 mmol/L: lebih tinggi jumlahnya pada kelompok Satavaptan dibanding plasebo (13% vs 5,1%) - Peningkatan sodium serum >8mmol/L dalam 24 jam: Kelompok Satavaptan 3 pasien dan kelompok plasebo 1 pasien. - Insidensi terjadinya komplikasi mayor lain dari sirosis hepatis: tidak terdapat perbedaan yang signifikan. DISKUSI Hasil dari ketiga studi: - Terdapat indikasi bahwa Satavaptan memiliki efikasi yang terbatas dalam mengontrol asites. - Tidak terdapat primary efficacy end point yang secara signifikan menunjukkan perbedaan Satavaptan dengan plasebo. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Satavaptan tidak efektif untuk terapi asites baik penggunaan tunggal maupun kombinasi dengan diuretik. - Terdapat perbedaan yang cukup signifikan pada beberapa secondary end point: o Kegunaan Satavaptan dalam memperlambat akumulasi ascites. o Pada pasien dengan asites yang sulit ditangani riwayat sering dilakukannya LVP (studi 2 dan 3), terdapat perbedaan yang signifikan pada terjadinya penurunan reakumulasi cairan ascites, namun terapi Satavaptan tidak menurunkan jumlah dilakukannya LVP selama 12 minggu pertama dibanding plasebo.

Walaupun dalam penelitian ini terbukti bahwa efikasi dari Satavaptan dalam hal menangani asites pada sirosis rendah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa Vaptan efektif dalam meningkatkan konsentrasi sodium serum pada pasien dengan sirosis dan dilusional (hipervolemi) hiponatremi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful