Metode eksplorasi yang digunakan umumnya dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : a.

Cara tidak langsung : *) Geofisika dan *) Geokimia. b. Cara langsung : *) Pemetaan langsung dan *) Pemboran. c. Gabungan cara langsung dan tak langsung.

Metode Eksplorasi Langsung Berdasarkan pada sifat penyelidikan dan pendekatan teknologi yang digunakan, maka kegiatan eksplorasi secara umum dapat dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu eksplorasi tak langsung dan eksplorasi langsung. Metode eksplorasi langsung mempunyai pengertian bahwa pengamatan dapat dilakukan dengan kontak visual dan fisik dengan kondisi permukaan/bawah permukaan, terhadap endapan yang dicari, serta dapat dilakukan deskripsi megaskopis/mikroskopis, pengukuran, dan sampling terhadap objek yang dianalisis. Begitu juga dengan interpretasi yang dilakukan, dapat berhubungan langsung dengan fakta-fakta dari hasil pengamatan lapangan. Metode eksplorasi langsung ini dapat dilakukan (diterapkan) pada sepanjang kegiatan eksplorasi (tahap awal s/d detail).Beberapa metode (aspek) yang akan dipelajari sehubungan dengan Metode Eksplorasi Langsung ini adalah : 1. 2. 3. 4. 5. Pemetaan geologi/alterasi. Tracing float, paritan, dan sumur uji. Sampling (pengambilan dan preparasi conto). Pemboran eksplorasi dan sampling pemboran. Kali ini senyawa akan membahas tentang Pemetaan Geologi/Alterasi

Pemetaan Geologi/Alterasi Pemetaan geologi merupakan suatu kegiatan pendataan informasi-informasi geologi permukaan dan menghasilkan suatu bentuk laporan berupa peta geologi yang dapat memberikan gambaran mengenai penyebaran dan susunan batuan (lapisan batuan), serta memuat informasi gejala-gejala struktur geologi yang mungkin mempengaruhi pola penyebaran batuan pada daerah tersebut. Selain pemetaan informasi geologi, pada kegiatan ini juga sekaligus memetakan tanda-tanda mineralisasi yang berupa alterasi mineral. Tingkat ketelitian dan nilai dari suatu peta geologi sangat tergantung pada informasi-informasi pengamatan lapangan dan skala pengerjaan peta. Skala peta tersebut mewakili intensitas dan kerapatan data singkapan yang diperoleh yang diperoleh. Tingkat ketelitian peta geologi ini juga dipengaruhi oleh tahapan eksplorasi yang dilakukan. Pada tahap eksplorasi awal, skala peta 1 : 25.000 mungkin sudah cukup memadai, namun pada tahap prospeksi s/d penemuan, skala peta geologi sebaiknya 1 : 10.000 s/d 1 : 2.500. Pada tahapan eksplorasi awal, pengumpulan data (informasi singkapan) dapat dilakukan dengan menggunakan palu dan kompas geologi, serta penentuan posisi melalui orientasi lapangan atau dengan cara tali-kompas. Namun dalam tahapan eksplorasi lanjut s/d detail, pengamatan singkapan dapat diperluas dengan menggunakan metodemetode lain seperti uji sumur, uji parit, maupun bor tangan atau auger, sedangkan penentuan posisi dilakukan dengan menggunakan alat ukur permukaan seperti pemetaan dengan plane table atau dengan teodolit.

lintasan-lintasan yang dibuat pada aliran-aliran sungai atau jalur-jalur kikisan yang memotong arah umum perlapisan. Pada prinsipnya. sifat-sifat fisik. atau mineralisasi dengan detail (rinci). sedangkan lintasan tertutup bersifat loop (titik awal dan titik akhir sama). Sedangkan pengukuran penampang stratigrafi dilakukan untuk mengetahui ketebalan. dimana tanah dapat dikikis oleh air limpasan. Pada dinding lembah. tekstur. Perencanaan lintasan tersebut sebaiknya dilakukan setelah gambaran umum seperti kondisi geologi regional dan geomorfologi daerah diketahui. serta dimensi endapan. sumur penduduk. Selain itu. Pada bukaan-bukaan akibat aktivitas manusia. Pemerian (deskripsi) singkapan. dibutuhkan lintasan-lintasan pengamatan yang dapat mencakup seluruh daerah pemetaan. tambang yang sudah ada. seperti : Pada puncak-puncak bukit. yaitu lintasan terbuka dan lintasan tertutup. variasi satuan litologi. Singkapan dapat didefinisikan sebagai bagian dari tubuh batuan/urat/badan bijih yang tersingkap (muncul) di permukaan akibat adanya erosi (pengikisan) lapisan tanah penutupnya. atau batubara). Umumnya pengukuran penampang stratigrafi dilakukan pada salah satu lintasan kompas yang dianggap paling lengkap memuat informasi litologi keseluruhan wilayah.Singkapan Informasi-informasi geologi permukaan tersebut pada umumnya diperoleh melalui pengamatan (deskripsi) singkapansingkapan batuan. Singkapan-singkapan tersebut dapat ditemukan (dicari) pada bagian-bagian permukaan yang diperkirakan mempunyai tingkat erosi/pengikisan yang tinggi. urat. Lintasan kompas (measured section atau tali kompas) dilakukan dengan tujuan membuat penampang (topografi dan litologi) di sepanjang lintasan. Namun yang perlu (penting) diperhatikan. struktur perlapisan. seperti tebing jalan. Kadang-kadang juga diperlukan lintasan-lintasan yang searah dengan jurus umum perlapisan dengan tujuan dapat mengetahui kemenerusan lapisan. dengan tujuan dapat memperoleh variasi litologi (batuan). ada juga metode pemetaan yang dikenal sebagai lintasan kompas dan pengukuran penampang stratigrafi. . meliputi kenampakan megaskopis. Pengukuran dan pengamatan struktur-struktur geologi (minor atau major) yang ada. fragmen-fragmen. Pengamatan-pengamatan yang dapat dilakukan pada suatu singkapan antara lain : Pengukuran jurus dan kemiringan (strike & dip) lapisan yang tersingkap. Lintasan (traverse) Dalam melakukan pemetaan geologi yang sistematis. mineral-mineral utama/sedikit/aksesoris. Pada aliran sungai. dimana pengikisan berlangsung intensif. Lintasan terbuka mempunyai titik awal dan titik akhir yang tidak sama. atau pada parit-parit jalan. Secara umum lintasan (traverse) pemetaan ada 2 (dua). informasi-informasi yang diperoleh dari lintasan-lintasan yang dibuat dapat digunakan sebagai dasar dalam melakukan korelasi (interpretasi) batas satuan-satuan litologi. agar lintasan yang direncanakan tersebut efektif dan representatif. Interpretasi dan informasi data Informasi-informasi yang dapat dipelajari atau dihasilkan dari kegiatan pemetaan geologi/alterasi antara lain : Posisi atau letak singkapan (batuan. dimana arus sungai mengikis lapisan tanah penutup.

Tracing float Float adalah fragmen-fragmen atau pecahan-pecahan (potongan-potongan) dari badan bijih yang lapuk dan tererosi. Dengan berjalan ke arah hulu. Selain pemetaan geologi melalui pengamatan (pendiskripsian) singkapan. arah. antara lain : Efek fisiografis . patahan. Aspek stratigrafi dan litologi . paritan. Daerah-daerah yang belum dieksplorasi (dipelajari) dapat diketahui dengan pasti. Sketsa proses terbentuknya float Tracing (penjejakan = perunutan) float ini pada dasarnya merupakan kegiatan pengamatan pada pecahan-pecahan (potonganpotongan) batuan seukuran kerakal s/d boulder yang terdapat pada sungai-sungai. kondisi geoteknik dan hidrologi. maka float ini ditransport ke tempat-tempat yang lebih rendah (ke arah hilir). Dapat disusun model geologi endapan yang bersangkutan. Zona-zona mineralogis . kontak. zona kekar. Pekerjaan eksplorasi yang berlebihan (di luar zona bijih/endapan) dapat dihindarkan (efisiensi). dan ketebalan satuan litologi (stratigrafi atau formasi). atau batubara. Aspek struktur . paritan atau sumur uji. maka lokasi endapan dapat diketahui (ditemukan). Struktur geologi yang mempengaruhi kondisi geologi daerah. zona-zona intrusi. penyusuran (pencarian) lokasi endapan bijih dapat juga dilakukan dengan tracing float. berhubungan dengan ketidak selarasan. berhubungan dengan topografi dan morfologi. kedudukan. dll. dan zona (penyebaran) alterasi. maka diharapkan dapat ditemukan asal dari pecahan (float) tersebut. Pada umumnya. dan sumur uji dengan mengumpulkan petunjuk-petunjuk ke arah bijih. . Penyebaran dan pola alterasi yang ada. Sedangkan dalam melakukan interpretasi tersebut. dan bentuk permukaan dari endapan. beberapa kaidah dasar geologi perlu diperhatikan. kelurusan-kelurusan. zona pelapukan. Variasi. dll. Akibat adanya gaya gravitasi dan aliran air. Secara teoritis. float ini banyak terdapat pada aliran sungai-sungai (lihat Gambar). Dari hasil pemetaan geologi/alterasi yang baik. dan proses sedimentasi. maka sumbernya adalah pada suatu tempat di bagian hulu dari sungai tersebut. berhubungan dengan batas zona endapan/bijih. maka dapat memberikan manfaat antara lain : Daerah (zona) pembawa bijih (zona endapan) dapat diketahui (diperkirakan). Informasi-informasi pendukung lainnya seperti geomorfologi. berhubungan dengan perlapisan batuan. tracing float. Bangunan-bangunan. dengan melakukan kombinasi kegiatan antara pemetaan geologi. bijih. lipatan. dengan asumsi bahwa jika terdapat pecahan-pecahan yang mengandung mineralisasi.Penyebaran.

Informasi-informasi yang perlu diperhatikan adalah : Peta jaringan sungai. Selain itu sifat dan karakteristik sungai seperti kuat arus. Pada kondisi lereng (miring) dapat dibuat mulai dari bagian yang rendah. kemiringan lapisan. ketebalan lapisan.Intensitas. Pembuatan trenching (paritan) ini dilakukan dengan kondisi umum sebagai berikut : Terbatas pada overburden yang tipis. dapat juga dilakukan tracing dengan pendulangan (tracing with panning). Selain dengan tracing float. sehingga konsentrasi penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada daerah dimana float tersebut mulai hilang. dan bentuk butiran float yang mengandung mineralisasi (termineralisasi) dapat digunakan sebagai indikator untuk menduga jarak float terhadap sumbernya. banjir. Secara konseptual tracing dengan pendulangan ini mirip dengan tracing float. Dengan mengkorelasikan series paritan uji tersebut diharapkan zona bijih/minerasisasi/badan endapan dapat diketahui. adanya zona alterasi. Kedalaman penggalian umumnya 2–2. Titik-titik informasi dimana float termineralisasi/tidak termineralisasi. serta dapat sebagai lokasi sampling. Secara teoritis. karakteristik perlapisan (ada split atau sisipan). Titik-titik (lokasi) pengambilan float. dapat diinterpretasikan bahwa zona sumber float telah terlewati. Pada tracing float. sehingga dapat terjadi mekanisme self drainage (pengeringan langsung). material yang menjadi panduan berukuran kasar (besar). Sedangkan pada pencarian sumber (badan) bijih. informasi (peta) jaringan sungai menjadi media utama untuk metode ini. Titik-titik informasi kuantitas dan kualitas float. pada daerah dimana float tersebut hilang dapat dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan uji paritan (trenching) dan uji sumuran (test pitting). Informasi yang dapat diperoleh antara lain . Pada Gambar dapat dilihat sketsa pengerjaan metode tracing float atau tracing with panning tersebut. sedangkan dengan menggunakan dulang ditujukan untuk materialmaterial yang berukuran halus (pasir s/d kerikil). Oleh sebab itu. zona mineralisasi. Lokasi dimana float mulai hilang. serta dapat sebagai lokasi sampling. Informasi yang diperoleh antara lain . parit uji dibuat berupa series dengan arah paritan relatif tegak lurus terhadap jurus zona badan bijih. paritan uji dilakukan dengan cara menggali tanah penutup dengan arah relatif tegak lurus bidang perlapisan (terutama pada endapan berlapis). arah relatif (umum) jurus dan kemiringan. jurus bidang perlapisan. Pada lokasi dimana float mulai hilang.5 m (dapat dengan tenaga manusia atau dengan menggunakan eksavator/back hoe). dimana pengecekan dilakukan untuk semua cabang (anak) sungai. atau limpasan juga dapat menjadi faktor pendukung. Trenching (pembuatan paritan) Trenching (pembuatan paritan) merupakan salah satu cara dalam observasi singkapan atau dalam pencarian sumber (badan) bijih/endapan. ukuran. sehingga batas zona bijih tersebut dapat diketahui (lihat Gambar). Pada pengamatan (observasi) singkapan. .

Sumur uji ini umum dilakukan pada eksplorasi endapan-endapan yang berhubungan dengan pelapukan dan endapan-endapan berlapis. Pada umumnya. ketebalan lapisan. Pada endapan yang berhubungan dengan pelapukan (lateritik atau residual). Pada endapan berlapis. variasi litologi atap dan lantai.5 m).Test pit (sumur uji) Test pit (sumur uji) merupakan salah satu cara dalam pencarian endapan atau pemastian kemenerusan lapisan dalam arah vertikal. dan karakteristik variasi endapan secara vertikal. Pada endapan lateritik atau residual. serta pada deretan sumur uji dapat dilakukan pemodelan bentuk endapan. misalnya batubara dan mineralisasi berupa urat (vein). pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan kemenerusan lapisan dalam arah kemiringan.. kedalaman sumur uji dapat mencapai 30 m atau sampai menembus batuan dasar. Sketsa pembuatan sumur uji (Chaussier et al. 1987) Dalam pembuatan sumur uji tersebut perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : ketebalan horizon B (zona laterit/residual). Pembuatan sumur uji ini dilakukan jika dibutuhkan kedalaman yang lebih (> 2. Geolistrik 3. zona residual. kekuatan dinding lubang. variasi vertikal masing-masing zona. Geomagnet 4. sehingga pola endapan dapat dikorelasikan dalam arah vertikal dan horisontal. Biasanya sumur uji dibuat dengan kedalaman sampai menembus keseluruhan lapisan endapan yang dicari. Geografity . serta dapat digunakan sebagai lokasi sampling (lihat Gambar). sumur uji dibuat dengan besar lubang bukaan 3–5 m dengan kedalaman bervariasi sesuai dengan tujuan pembuatan sumur uji. pembuatan sumur uji ditujukan untuk mendapatkan batas-batas zona lapisan (zona tanah. ketebalan masing-masing zona. dan kekerasan batuan dasar. ketinggian muka airtanah. zona lateritik). Seismik 2. H2S). Pada umumnya suatu deretan (series) sumur uji dibuat searah jurus. kemungkinan munculnya gas-gas berbahaya (CO2. Metode Tak Langsung Metode Geofisika pada umumnya terdiri dari: 1.

Untuk Timah. batubara. gas.Namun sekarang. jd harus saling mendukung alias membantu. . seperti magnetolurik (Geomagnet). GPR (Seismik). sedangkan geolistrik banyak digunakan dalam eksplorasi air tanah. banyak sekali pengembangan dari ke 4 metode tersebut. karena kedalamannya tidak begitu dalam biasanya menggunakan paduan antara Geomagnet dengan geografity. Untuk Seismik biasanya digunakan untuk eksplorasi dalam seperti minyak. karena lebih efisien. biasanya metode yang digunakan lebih dari satu karena semua metode ada kekurangan dan kelebihan. Dalam suatu eksplorasi geofisika. dll.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful