You are on page 1of 23

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN SIFILIS

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN WIRA MEDIKA PPNI BALI

T.A 2008/2009

KELOMPOK III

Gst Ayu Putu Nia Restika Dewi I Gde Pardiantha Pradana I Gst Ayu Purwati I Gst Ayu Sri Gauri Bhavani Visweswari I Gst Ayu Wisudarsani Ni Nyoman Triyoga Nugata Ni Made Dewi Purnamasari Ni Made Neti Ardiantini Ni Pt Devi Yanthi Kusuma Dewi Putu Agus Suryana

(08.321.0176) (08.321.0178) (08.321.0180) (08.321.0181) (08.321.0182) (08.321.0187) (08.321.0203) (08.321.0205) (08.321.0208) (08.321.0213)

SIFILIS
A. Konsep dasar penyakit
1. Pengertian

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual. Penyakit tersebut ditularkan melalui hubungan seksual, penyakit ini bersifat Laten atau dapat kambuh lagi sewaktu-waktu selain itu bisa bersifat akut dan kronis. Penyakit ini dapat cepat diobati bila sudah dapat dideteksi sejak dini. Kuman yang dapat menyebabkan penyakit sifilis dapat memasuki tubuh dengan menembus selaput lendir yang normal dan mampu menembus plasenta sehingga dapat menginfeksi janin. ( Soedarto, 1990 ). Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Penyakit menular seksual adalah penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini sangat kronik, bersifat sistemik dan menyerang hampir semua alat tubuh dapat menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.

2.

Epidemiologi/insiden kasus

Asal penyakit sifilis ini tidak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis melelui hubungan seksual. Pada abad ke-15 terjadi wabah di Eropa. Sesudah tahun 1860, morbilitas sifilis menurun cepat. Selama perang dunia II, kejadian sifilis meningkat dan puncaknya pada tahun 1946, kemudian menurun setelah tahun 1946.Kasus sifilis di Indonesia adalah 0,61%. Penderita yang terbanyak adalah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.

3.
-

Faktor predisposisi
Hubungan seksual yang bebas (Genitogenital, Orogenital maupun Anogenital). Sering berganti pasangan. Melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan alat kontrasepsi yang aman. Melakukan hubungan seksual dengan orang yang mengidap sifilis. Janin yang orang tuanya menderita sifilis. Kurangnya kebersihan diri .

Menggunakan alat-alat yang telah di pakai penderita tanpa di desinfektan atau di sterilisasi terlebih dahulu, misalnya jarum suntik. Virulensi kuman yang tinggi. Kontak langsung dengan lesi yang mengandung Bakteri Treponema Pallidum.

4.

Penyebab/etiologi

Etiologi dari Penyakit Sifilis, antara lain: Penyebab sifilis ditemukan oleh SCHAUDINN dan HOFMAN ialah Treponema palidum yang termasuk ordo Spirochaetaceae dan genus Treponema bentuknya spiral panjang antara 6-15 um dan lebar 0,15 um terdiri atas 8-24 lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap 30 jam. Pembiakan pada umumnya tidak dapat dilakukan diluar badan. Diluar badan kuman tersebut mudah mati sedangkan dalam darah untuk transfusi dapat hidup sampai 72 jam.

5.

Patofisiologi

Bakteri Treponema masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Umumnya 10 - 90 hari atau 3 - 4 minggu setelah terjadi infeksi ditempat Bakteri Trepoma Pallidum timbul lesi primer yang bertahan 1 - 5 minggu dan kemudian hilang sendiri. Kurang lebih 6 minggu (2 - 6 minggu) setelah lesi primer terdapat kelainan kulit dan selaput lendir.

6.

Klasifikasi

Klasifikasi dari Penyakit Sifilis secara khusus, antara lain: a. Sifilis Stadium I Terjadi efek primer berupa papul, tidak nyeri (indolen). Sekitar 3 minggu kemudian terjadi penjalaran ke kelenjar inguinal medial.Timbul lesi pada alat kelamin, ekstragenital

seperti bibir, lidah, tonsil, puting susu, jari dan anus, misalnya pada penularan ekstrakoital. b. Sifilis Stadium II Gejala konstitusi seperti nyeri kepala, subfebris, anoreksia, nyeri pada tulang, leher, timbul macula, papula, pustul, dan rupia. Kelainan selaput lendir, dan limfadenitis yang generalisata. c. Sifilis Stadium III Terjadi guma setelah 3 7 tahun setelah infeksi.Guma dapat timbul pada semua jaringan dan organ, membentuk nekrosis sentral juga ditemukan di organ dalam, yaitu lambung, paru-paru, dll. Nodus di bawah kulit (dapat berskuma), tidak nyeri. d. Sifilis Kongenital Sifilis Kongenital Dini Dapat muncul beberapa minggu (3 minggu) setelah bayi dilahirkan. Kelainan berupa vesikel, bula, pemfigus sifilitika, papul, skuma, secret hidung yang sering bercampur darah, adanya osteokondritis pada foto roentgen. Sifilis Kongenital Lanjut Terjadi pada usia 2 tahun lebih. Pada usia 7 9 tahun dengan adanya keratitis intersial (menyebabkan kebutaan), ketulian, gigi Hutchinson, paresis, perforasi palatum durum, serta kelainan tulang tibia dan frontalis. Sifilis Stigmata Terdapat garis-garis pada sudut mulut yang jalannya radier, gigi Hutchinson, gigi molar pertama berbentuk murbai dan penonjolan tulang frontal kepala (frontal bossing). e. Sifilis Kardiovaskular

Umumnya bermanifestasi selama 10 20 tahun setelah infeksi. Biasanya disebabkan oleh nekrosis aorta yang berlanjut ke arah katup dan ditandai oleh insufisiensi aorta atau aneureksma, berbentuk kantong pada aorta torakal. f. Neurosifilis Neurosifilis asimtomatik. Pada sifilis ini tidak ada tanda dan gejala kerusakan susunan saraf pusat. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukan kenaikan sel, protein total dan tes serologis reaktif. Neurosifilis meningovaskuler. Adanya tanda kerusakan susunan saraf pusat yakni kerusakan pembuluh darah serebru, infark dan ensefalomalasia. Pemeriksaan sumsum tulang belakang menunjukan kenaikan sel, protein total dan tes serologis reaktif. Neurosifilis parekimatosa yang terdiri dari paresis dan tabes dorsalis. Gejala dan tanda paresis sangatlah banyak dan menunjukan penyebaran kerusakan parenkimatosa. Gejala tabes dorsalis, yaitu parestesia, ataksia, arefleksia, gangguan kandungan kemih, impotensi dan perasaan nyeri.

7.

Gejala klinis

Secara umum gejala klinis dari Penyakit Sifilis, yaitu: - Keluarnya cairan dari vagina, penis, atau dubur yang berbeda dari biasanya. Dapat berwana putih susu, kekuningan, kehijauan, atau disertai berak darah dan bau yang tidak enak. - Perih, nyeri, atau panas saat BAK atau setelah BAK atau menjadi sering BAK. - Adanya luka terbuka (luka basah disekitar alat kemaluan atau mulut). Dapat terasa nyeri atau tidak. - Tumbuh sesuatu seperti jengger ayam atau kutil di sekitar kemaluan.

- Pada pria, skrotum menjadi bengkak dan nyeri. - Sakit perut bagian bawah, terkadang timbul, terkadang hilang. - Secara umum merasa enak badan atau demam. Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; rata-rara 3-4 minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan jantung, kerusakan otak maupun kematian.

Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang melalui 4 tahapan: 1. Fase primer Terbentuk luka atau ulkus yang tidak nyeri (cangker) pada tempat yang terinfeksi; yang tersering adalah pada penis, vulva atau vagina. Cangker juga bisa ditemukan di anus, rektum, bibir, lidah, tenggorokan, leher rahim, jari-jari tangan atau bagian tubuh lainnya. Biasanya penderita hanya memiliki1 ulkus, tetapi kadang-kadang terbentuk beberapa ulkus. Cangker berawal sebagai suatu daerah penonjolan kecil yang dengan segera akan berubah menjadi suatu ulkus (luka terbuka), tanpa disertai nyeri. Luka tersebut tidak mengeluarkan darah, tetapi jika digaruk akan mengeluarkan cairan jernih yang sangat menular. Kelenjar getah bening terdekat biasanya akan membesar, juga tanpa disertai nyeri. Luka tersebut hanya menyebabkan sedikit gejala sehingga seringkali tidak dihiraukan. Luka biasanya membaik dalam waktu 3-12 minggu dan sesudahnya penderita tampak sehat secara keseluruhan. 2. Fase sekunder

Fase sekunder biasanya dimulai dengan suatu ruam kulit, yang muncul dalam waktu 6-12 minggu setelah terinfeksi. Ruam ini bisa berlangsung hanya sebentar atau selama beberapa bulan. Meskipun tidak diobati, ruam ini akan menghilang. Tetapi beberapa minggu atau bulan kemudian akan muncul ruam yang baru. Pada fase sekunder sering ditemukan luka di mulut. Sekitar 50% penderita memiliki pembesaran kelenjar getah bening di seluruh tubuhnya dan sekitar 10% menderita peradangan mata. Peradangan mata biasanya tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang terjadi pembengkakan saraf mata sehingga penglihatan menjadi kabur. Sekitar 10% penderita mengalami peradangan pada tulang dan sendi yang disertai nyeri. Peradangan ginjal bisa menyebabkan bocornya

protein ke dalam air kemih. Peradangan hati bisa menyebabkan sakit kuning ( jaundice). Sejumlah kecil penderita mengalami peradangan pada selaput otak ( meningitis sifilitik akut), yang menyebabkan sakit kepala, kaku kuduk dan ketulian. Di daerah perbatasan kulit dan selaput lendir serta di daerah kulit yang lembab, bisa terbentuk daerah yang menonjol (kondiloma lata). Daerah ini sangat infeksius (menular) dan bisa kembalimendatar serta berubah menjadi pink kusam atau abu-abu. Rambut mengalami kerontokan dengan pola tertentu, sehingga pada kulit kepala tampak gambaran seperti digigit ngengat. Gejala lainnya adalah merasa tidak enak badan (malaise), kehilangan nafsu makan, mual, lelah, demam dan anemia. 3. Fase laten

Setelah penderita sembuh dari fase sekunder, penyakit akan memasuki fase laten dimana tidak nampak gejala sama sekali. Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluhpuluh tahun atau bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksius kembali muncul . 4. Fase tersier

Pada fase tersier penderita tidak lagi menularkan penyakitnya. Gejala bervariasi mulai ringan sampai sangat parah. Gejala ini terbagi menjadi 3 kelompok utama : - Sifilis tersier jinak. Pada saat ini jarang ditemukan. Benjolan yang disebut gumma muncul di berbagai organ; tumbuhnya perlahan, menyembuh secara bertahap dan meninggalkan jaringan parut. Benjolan ini bisa ditemukan di hampir semua bagian tubuh, tetapi yang paling sering adalah pada kaki dibawah lutut, batang tubuh bagian atas, wajah dan kulit kepala. Tulang juga bisa terkena, menyebabkan nyeri menusuk yang sangat dalam yang biasanya semakin memburuk di malam hari. - Sifilis kardiovaskuler. Biasanya muncul 10-25 tahun setelah infeksi awal. Bisa terjadi aneurisma aorta atau kebocoran katup aorta. Hal ini bisa menyebabkan nyeri dada, gagal jantung atau kematian. - Neurosifilis. Sifilis pada sistem saraf terjadi pada sekitar 5% penderita yang tidak diobati. 3 jenis utama dari neurosifilis adalah neurosifilis meningovaskuler, neurosifilis paretik dan neurosifilis tabetik.

8.

Pemeriksaaan fisik

a. Pemeriksaan fisik Keadaan umum Kesadaran, status gizi, TB, BB, suhu, TD, nadi, respirasi b. Pemeriksaan sistemik Kepala (mata, hidung, telinga, gigi&mulut), leher (terdapat perbesaran tyroid atau tidak), tengkuk, dada (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi), genitalia, ekstremitas atas dan bawah.

9.
a.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium (kimia darah, ureum, kreatinin, GDS, analisa urin,

darah rutin) - pemeriksaan T Palidum, cara pemeriksaannya adalah : mengambil serum dari lesi kulit dan dilihat bentuk dan pergerakannya dengan microskop lapangan gelap. Pemeriksaan dilakukan 3 hari berturut-turut jika pada hasil pada hari 1 dan 2 negatif sementara itu lesi dikompres dengan larutan garam saal bila negative bukan selalu berarti diagnosisnya bukan sifilis , mungkin kumannya terlalu sedikit. - pemeriksaan TSS TSS atau serologic test for sifilis . TSS dibagi menjadi 2 : 1. Test non treponemal : pada test ini digunakan antigen tidak spesifik yaitu

kardiolopin yang dikombinasikan dengan lesitin dan kolesterol, karena itu test ini dapat memberi Reaksi Biologik Semu (RBS) atau Biologic Fase Positif (BFP).

Contoh test non treponemal :

a. Test fiksasi komplemen : Wasseman (WR) kolmer b. Test flokulasi : VDRL (Venereal Disease Research Laboratories). Kahn, RPR (Rapid Plasma Reagin), ART (Automated Reagin Test), dan RST (Reagin Screen Test). 2. tes treponemal Test ini bersifat spesifik karena antigennya ialah treponema atau ekstratnya dan dapat digolongkan menjadi 4 kelompok : a. b. c. Tes immobilisasi : TPI (Treponemal Pallidium Immbolization Test) Test Fiksasi Komplemen : RPCF (Reiter Protein Complement Fixation Test) Tes Imunofluoresen : FTA-Abs (Fluorecent treponemal Antibody Absorption

Test), ada dua : IgM, IgG; FTA-Abs DS (Fluorecent treponemal Antibody Absorption Double Staining) d. Tes hemoglutisasi : TPHA (Treponemal pallidum Haemoglutination Assay),19S

IgM SPHA (Solid-phase Hemabsorption Assay), HATTS (Hemagglutination Treponemal Test for Syphilis), MHA-TP (Microhemagglutination Assay for Antibodies to Treponema pallidum).

b.

Pemeriksaan Yang Lain

Sinar Rontgen dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang, yang dapat terjadi pada sifilis kongenital. Juga pada sifilis kardiovaskuler, misalnya untuk melihat aneurisma aorta. Pada neurosifilis,test koloidal emas sudah tidak dipakai lagi karena tidak khas. Pemeriksaan jumlah sel dan protein total pada likuor serebrospinalis hanya menunjukan adanya tanda inflamasi pada susunan saraf pusat dan tidak selalu berarti terdapat neurosifilis. Harga normal iyalah 0-3 sel/mm3, Jika limfosit melebihi 5/mm3 berarti ada peradangan. Harga normal protein total ialah 20-40 mg/100 mm3, jika melebihi 40 mg/mm3 berarti terdapat peradangan.

Histopatologi Kelainan yang utama pada sifilis ialah proliferasi sel-sel endotel terutama terdiri atas infiltrate perivaskular tersusun oleh sel-sel limpoid dan sel-sel plasma. Imunologi Pada percobaan kelinci yang disuntik dengan T.Pallidium secara intradermal, yang sebelumnya telah diberi serum penderita sifilis menunjukan adanya antibody. Terdapat dua antibody yang khas yaitu terhadap T. Pallidum dan yang tidak khas yaitu yang ditujukan pada golongan antigen protein Spirochaetales yang pathogen. 10. Prognosis

Prognosis sifilis menjadi lebih baik setelah ditemukannya penisilin. Jika penisilin tidak diobati, maka hampir seperempatnya akan kambuh, 5% akan mendapat S III, 10% mengalami sifilis kardiovaskuler, neurosifilis, dan 23% akan meninggal. Pada sifilis dini yang diobati, angka penyembuhan mencapai 95%. Kelainan kulit akan sembuh dalam 7-14 hari. Pembesaran kelenjar getah bening akan menetap bermingguminggu. Kegagalan terapi sebanyak 5% pada S I dan S II. Kambuh klinis umumnya terjadi setahun setelah terapi berupa lesi menular pada mulut, tenggorokan, dan regio perianal. Selain itu, terdapat kambuh serologik. Pada sifilis laten lanjut, prognosis baik. Pada sifilis kardiovaskuler, prognosis sukar ditentukan. Prognosis pada neurosifilis bergantung pada tempat dan derajat kerusakan. Sel saraf yang sudah rusak bersifat irreversible. Prognosis neurosifilis pada sifilis dini baik, angka penyembuhan dapat mencapai 100%. Neurosifilis asimtomatik pada stadium lanjut juga baik, kurang dari 1% memerlukan terapi ulang Prognosis sifilis kongenital dini baik. Pada yang lanjut, prognosis tergantung pada kerusakan yang sudah ada.

11.

Pengobatan

Penderita sifilis fase primer atau sekunder bisa menularkan penyakitnya, karena itu penderita sebaiknya menghindari hubungan seksual sampai penderita dan mitra seksualnya telah selesai menjalani pengobatan. Pada sifilis fase primer, semua mitra seksualnya dalam 3 bulan terakhir terancam tertular. Pada sifilis fase sekunder, semua mitra seksualnya dalam 1 tahun terakhir terancam tertular. Mereka harus menjalani tes penyaringan antibodi dan jika hasilnya positif, mereka perlu menjalani pengobatan. Antibiotik terbaik untuk semua fase sifilis biasanya adalah suntikan penisilin: - Untuk sifilis fase primer, suntikan diberikan melalui kedua bokong, masing-masing 1 kali. - Untuk sifilis fase sekunder, biasanya diberikan suntikan tambahan dengan selang waktu 1 minggu. Penisilin juga diberikan kepada penderita sifilis fase laten dan semua bentuk sifilis fase tersier, meskipun mungkin perlu diberikan lebih sering dan lebih lama. Jika penderita alergi terhadap penisilin, bisa diberikan doksisiklin atau tetrasiklin peroral selama 2-4 minggu. Lebih dari 50% penderita sifilis stadium dini, terutama sifilis fase skunder, mengalami reaksi Jarisch-Herxheimer dalam waktu 2-12 jam setelah pengobatan pertama. Reaksi ini diyakini merupakan akibat dari matinya jutaan bakteri. Gejalanya adalah merasa tidak enak badan, demam, sakit kepala, berkeringat, menggigil dan semakin memburuknya luka sifilis yang bersifat sementara atau waktu. Penderita neurosifilis kadang mengalami kejang kelumpuhan.

Setelah menjalani pengobatan, penderita sifilis fase laten atau fase tersier diperiksa secara teratur. Hasil positif dari pemeriksaan antibodi biasanya menetap selama beberapa tahun, kadang seumur hidup penderita. Hal ini tidak menunjukkan adanya suatu infeksi baru. Untuk mengetahui adanya infeksi baru dilakukan pemeriksaan darah yang lain.

12.

Penatalaksanaan

Penderita sifilis diberi antibiotik penisilin (paling efektif). Bagi yang alergi penisillin diberikan tetrasiklin 4500 mg/hr, atau eritromisin 4500 mg/hr, atau doksisiklin 2100 mg/hr. Lama pengobatan 15 hari bagi S I & S II dan 30 hari untuk stadium laten. Eritromisin diberikan bagi ibu hamil, efektifitas meragukan. Doksisiklin memiliki tingkat absorbsi lebih baik dari tetrasiklin yaitu 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%. Obat lain adalah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4500 mg/hr selama 15 hari, Sefaloridin memberi hasil baik pada sifilis dini, Azitromisin dapat digunakan untuk S I dan S II. 1. Medikamentosa

Sifilis primer dan sekunder : penisilin benzanit 6 dosis 4,8 juta unit secara IM, diberikan 1 X seminggu. penisilin prokain dosis 600.000 unit secara IM, diberikan 1 x sehari selama 10 hari. Sifilis tersier : Penisilin benzait 6 dosis 49,6 juta unit secara IM, diberikan 1 x seminggu

Jika ps sifilis yang alergi terhadap penisilin dan diberikan : 2. Tetrasiklin 500mg/oral 4x sehari selama 15 hari. Erotromisin 500mg/oral 4x sehari selama 15 hari. non medikamentosa Berikan penkes mengenai : Bahaya PMS dan komplikasinya Mematuhi pengobatan yang diberikan.

Menghidari hubungan seksual sebelum sembuh atau memakai kondom. Cara menghindari PMS.

13.
-

Program diet
Kebutuhan zat gizi ditambah 10-25% dari kebutuhan minimum. Ps diberikan porsi makanan kecil tetapi sering. Konsumsi protein berkualitas tinggi dan mudah dicerna. Sayuran dan buah-buah untuk jus. Susu rendah lemak dan sudah dipasteurisasi setiap hari (susu sapi atau kedelai). Hindari makanan di awetkan atau beragi. Makanan bebas dari pestisida atau zat kimia. Rendah serat, makanan lunak atau cair, jika ada gangguan saluran pencernaan. Rendah laktosa dan lemak jika ps diare. Hindari rokok, kafein dan alcohol.

B.
A.

Konsep dasar asuhan keperawatan


Pengkajian

Perawat menghubungkan riwayat sifilis dengan kategori berikut : 1. Data subjektif Ps mengeluh nyeri pada tulang. Ps mengeluh tidak nafsu makan. Ps mengeluh nyeri pada kepala.

2. B. 1.

Ps mengeluh kesemutan. Data objektif Anoreksia dan BB menurun. Demam subfebris. Ulkus merah pada penis dan anus. Arthritis dan paresis.

Diagnosa Keperawatan
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia dan nausea. Ditandai dengan ps mengatakan tidak nafsu makan dan BB menurun.

2.

Resiko tinggi terhadap penyebaran infeksi berhubungan dengan ulkus merah pada penis dan anus serta demam subfebris.

3.

Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan ps mengeluh kesemutan dan paresis

4.

Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ulkus merah pada penis dan anus.

5.

Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan adanya penumpukan secret ditandai dengan adanya sumbatan hidung dan sukar bernafas.

6. 7. 8.

Resiko perubahan pola seksualitas berhubungan dengan lesi. Kurang pengetahuan berhubungan dengan cara penularan penyakit. Nyeri berhubungan dengan adanya proses inflamasi ditandai dengan ps mengeluh nyeri pada tulang, ps mengeluh nyeri pada kepala dan arthritis.

C.

Intervensi keperawatan

1. Tujuan

Resiko tinggi terhadap penularan infeksi : infeksi berkurang atau hilang

Kriteria hasil : Infeksi tidak terjadi Suhu tubuh normal

Intervensi R Kaji TTV terutama suhu. : Suhu meningkat menunjukkan terjadinya infeksi Berikan perawatan dengan teknik antiseptic dan aseptic, Pertahankan teknik cuci tangan yang efektif. R : Cuci tangan merupakan cara pertama untuk menghindari infeksi nosokomial Observasi daerah kulit yang mengalami kerusakan, cacat karakteristik drainase dan R adanya inflamasi.

: Deteksi dini pengembangan infeksi memungkinkan melakukan tindakan pencegahan komplikasi.

R 2. Tujuan

Delegatif dalam pemberian antibiotic. : Antibiotic dapat mencegah penyebaran/melindungi ps dari proses infeksi lain. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas : pola nafas efektif.

Kriteria hasil : Frekuensi nafas normal Secret berkurang

Intervensi : R R R R R R 3. Tujuan Kaji frekuensi pernafasan. : Frekuensi nafas yang meningkat dapat menunjukkan menurunya kondisi ps. Berikan posisi semi fowler. : Posisi semi fowler dapat memudahkan pernafasan ps. Anjurkan ps untuk batuk efektif. : Batuk efektif dapat membantu ps mengeluarkan dahak. Beri minum air hangat. : Pemberian minum air hangat dapat membantu mengencerkan dahak. Kolaborasi dalam pemberian oksigen. : Memaksimalkan dalam bernafas dan menurunkan kerja nafas. Kolaborasi dalam pemberian ekspetoran. : pemberian ekspetoran dapat membantu mengencerkan dahak. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : kebutuhan nutrisi tubuh terpenuhi.

Kriteria hasil : Nafsu makan meningkat BB meningkat

Intervensi Timbang berat badan dengan baju, jam dan timbangan yang sama.

R R R

: Mengevaluasi keefektifan atau kebutuhan mengubah pemberian nutrsi. Kaji nafsu makan ps. : Mengevaluasi peningkatan nafsu makan ps. Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan. : Perawatan mulut sebelum dan sesudah makan dapat mengurangi ketidaknyamanan dan dapat meningkatkan nafsu makan.

Berikan makan sedikit tapi sering. : Pemberian makanan sedikit tetapi sering dapat mengurangi mual dan meningkatkan nafsu makan ps.

R 4. Tujuan

Konsultasi dengan tim pendukung ahli gizi/diet. : Menyediakan diet berdasarkan kebutuhan individu dengan rute tepat. Nyeri kronis berhubungan dengan adanya lesi pada jaringan : nyeri klien hilang dan kenyamanan terpenuhi

Kriteria hasil : Nyeri klien berkurang Ekspresi wajah klien tidak kesakitan Keluhan klien berkurang Ps rileks

Intervensi: R Kaji TTV (TD, N, RR) : TTV dapat menunjukan tingkat perkembangan ps.

Kaji keluhan, lokasi, intensitas, frekuensi dan waktu terjadinya nyeri. : Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan tanda-tanda perkembangan/resolusi komplikasi.

Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi. : Tehnik relaksasi dengan nafas dalam dapat mengurang nyeri dan tehnik distraksi (membaca, menonton tv, mengobrol,dll) dapat mengalihkan pemusatan pikiran ps terhadap nyeri.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgetik : Analgetik dapat mengurangi rasa nyeri ps.

5. Kerusakan mobilitas fisik Tujuan : kerusakan mobilitas fisik teratasi.

Kriteria hasil : Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin. ADL ps secara mandiri. :

Intervensi R R

Tinggikan ekstremitas ps yang mengalami kesemutan : Peninggian ekstremitas dapat menghilangkan kesemutan. Bantu ps dalam melakukan rentang gerak ps atau aktif. : Mempertahankan atau meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum.

Konsultasi dengan ahli fisik atau okupasi

: membantu program latihan atau aktifitas berdasarkan kebutuhan individu dan mengidentifikasi alat bantu.

6. Kerusakan integritas kulit Tujuan : integritas kulit kembali normal.

Kriteria hasil : Kerusakan integritas kulit tidak terjadi. :

Intervensi R

Kaji warna, turgor, sirkulasi dan sensasi kulit. : Menentukan garis dasar perubahan yang terjadi untuk menentukan intervensi yang tepat.

R -

Bersihkan area perianal dengan membersihkan feses menggunakan air. : Mencegah meserasi dan menjaga perianal tetap kering. Kolaborasi dalam melindungi ulkus dengen balutan basah atau salep antibiotic dan balutan non stik.

: lindungi area ulkus dari kontaminasi dan mempercepat penyembuhan.

7. Resiko terhadap perubahan pola seksualitas Tujuan : ps dapat memahami perubahan pola seksualitas.

Kriteria hasil : Ps dapat menyebutkan tentang keterbatasan seksual, kesulitan atau perubahan yang telah Intervensi : terjadi.

Diskusikan dengan ps sifat seksualitas dan reaksi bila ini berubah, berikan informasi tentang normalitas masalah-masalah ini dan bahkan banya orang menemukan bantuan untu proses adaptasi.

: pengakuan legtimasi tentang masalah seksualitas cara pria dan wanita memandang mereka dan setiap area kehidupan.

Ajarkan ps tentang efek dari pengobatan yang diketahui dapat mempengaruhi seksualitas.

: Pedoman antisipasi dapat membantu ps, orang terdekat mulai proses adaptasi pada keadaan baru.

Berikan waktu tersendiri untuk ps yang dirawat, ketuk pintu dan dapatkan ijin sebelum masuk.

: kebutuhan seksualitas tidak berakhir karena ps dirawat. Kebutuhan keintiman berlanjut dan sikap terbuka juga saling menerima.

8. Kurang pengetahuan Tujuan : ps memahami tentang penyakitnya.

Kriteria hasil : ps mengetahui tentang cara penularan, bahaya, dan mampu mencegah cara penularan. Intervensi R :

Beri HE tentang cara penularan penyakit : Agar ps dapat mengetahui cara penularan beri HE tentang bahaya penyakit. Beri HE tentang komplikasi penyakit yang dapat timbul

: Dengan mengetahui komplikasi penyakit diharapkan ps lebih baik mencegah penularan penyakit.

Evaluasi hasil HE yang telah diberikan : Untuk mengetahui sejauh mana pemahaman ps akan penjelasan yang telah diberikan.

D.

Evaluasi

Disesuaikan dengan kriteria hasil pada rencana keperawatan.

Daftar pustaka
Djuanda,Adhi.2007.Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.Jakarta:FKUI Doenges,Marilyin E.1999. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC Mansjoer,Arif.2001.Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta:Medis Aesculapius Price,Sylvia Anderson.2005.Patofisiologi.Jakarta:EGC Smeltzer,Suzzanne C 2001.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC www.asuhankeperawatandengansifilis.com