Tafsir Mawdhu’i-Ijtima’i1

Muhammad Raa - 1110034000015

Penggunaan metode tafsir tematik/mawdhu’i pada tafsir bercorak sosial/ijtima’i dianggap sebagai dua paduan yang amat tepat dalam paradigma „Al-Qur‟an sebagai Kitab Hidayah‟. Kemudahan masyarakat dalam memahami al-Qur‟an adalah alasan mengapa dua hal ini (tafsir mawdhu’i-ijtima’i) amat dibutuhkan dan perlu dikembangkan oleh para penafsir modern. Adapun penafsiran yang biasa dibuat adalah tafsir juz’i. Metode ini dianggap kurang sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern. Kehausan masyarakat modern akan jawabanjawaban atas permasalahan sosial, namun tetap bersifat religius dianggap telah terpenuhi melalui tafsir mawdhu’i-ijtima’i. Penafsir mengawali penafsirannya dengan pengumpulan data-data sosial, fakta-faktanya, juga pengalaman kemanusiaan yang berkembang di masanya atau lingkungannya, dengan tujuan mengetahui kebutuhan dan/atau akar permasalahan yang berkembang di masyarakat. Melalui metode ini, penafsir diharapkan mampu memahami dan peka terhadap realitas atau permasalahan sosial yang berkembang di masyarakat. Kemudian, penafsir mengaji ayat-ayat al-Qur‟an yang sesuai dengan kajian yang diangkat. Pengetahuan yang dimiliki oleh penafsir adalah seputar kebahasaan, teologis, fiqh, filosofis; hadis-hadis yang mendukung kajian tersebut; dan, penafsiran ulama-ulama terdahulu sebagai alat perbandingan. Penafsir mencoba untuk mencari jawaban atau pernyataan atas masalah atau realitas sosial yang ada. Menurut Muhammad Baqir Shadr, “Dalam tafsir tafsir mawdhu’i-ijtima’i, keakuratan data yang disediakan oleh pengalaman manusia dikonfirmasikan kepada al-Qur‟an. Inilah satusatunya cara yang memungkinkan kita menemukan pandangan-pandangan dasar al-Qur‟an dan Islam berkenaan dengan berbagai masalah kehidupan.”2 Salah satu buku tafsir mawdhu’i-ijtima’i yang sesuai dengan paradigma ke-Indonesia-an adalah Wawasan Al-Qur‟an, yang dikarang oleh Prof. Quraish Shihab. Salah satu tema yang diangkat ialah kemiskinan. Disini penulis menggunakan kaidah yang sering digunakan oleh ulama klasik, seperti kebahasaan, sebagai proposisi awal yang kemudian dikonfirmasi oleh al-Qur‟an. Setelah menjabarkan akar permasalahan, dengan mengutip hasil kajiannya dan ayat yang berkaitan, penulis kemudian menjelaskan pernyataan al-Qur‟an mengenai kemiskinan. Baru akhirnya penulis mencoba memaparkan jawaban al-Qur‟an dalam mengentas kemiskinan. 3

1

Makalah ini ditulis oleh Muhammad Raa untuk menjawab pertanyaan “ Bagaimana metode tafsir al-Qur’an tematik dapat dimanfaatkan dalam aplikasi penafsiran ijtima‛i? Jelaskan dengan melalui contoh?” yang diajukan oleh Bapak Kusmana 2 Muhammad Baqir Shadr, Paradigma dan Kecenderungan Sejarah dalam Al-Qur’an, (Jakarta: Shadra Press, 2010), 81 3 M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran: Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat, (Bandung: Penerbit Mizan, tt)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful