P. 1
7084641 Bab 10 Spin Elektron Prinsip Pauli

7084641 Bab 10 Spin Elektron Prinsip Pauli

|Views: 31|Likes:
Prinsip Pauli
Prinsip Pauli

More info:

Published by: Kharisma N. Puspitasari on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/04/2013

pdf

text

original

Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli

/
BAB X
SPIN ELEKTRON DAN PRINSIP PAULI
10.1 Spin Elektron
Setiap orang yang mempelajari ilmu kimia, pasti familiar dengan spektrum warna
kuning yang berasal dari nyala unsur natrium. Pengujian secara cermat terhadap spektrum
natrium menunjukkan bahwa garis kuning tertajam yang biasa disebut garis D
sesungguhnya terdiri atas dua garis yang berjarak sangat rapat. Garis D unsur natrium ini
berasal dari transisi konfigurasi tereksitasi 1s
2
2s
2
2p
6
3s
2
3p
1
ke keadaan dasar (ground
state). Sifat doublet garis kuning serta garis-garis lain dari spektrum natrium ini,
menunjukkan adanya kelipatan dua terhadap ekspektasi banyaknya state dikaitkan
dengan elektron valensi.
Untuk menjelaskan struktur spektra atom natrium ini, Uhlenbeck dan Goudsmit
menyatakan pada tahun 1925, bahwa elektron mempunyai momentum angular intrinksik
selain momentum angular orbital dalam pergerakannya mengelilingi inti atom.
Selanjutnya momentum intrinksik ini disebut momentum angular spin atau
disederhanakan menjadi spin saja, yaitu suatu momentum angular yang muncul dari
gerak rotasi elektron terhadap sumbunya. Perlu diingat bahwa “spin” elektron ini bukan
merupakan efek klasik, dan gambaran mengenai elektron yang berotasi pada sebuah
sumbunya itu, tidak dapat dikonsiderasikan untuk merepresentasikan realitas fisik.
Momentum angular intrinksik ini adalah nyata, tetapi tidak visualisasi model yang dapat
dengan mudah digunakan untuk menjelaskan asal-usulnya secara pantas. Kita tidak dapat
berharap untuk memperoleh pemahaman yang layak terhadap patikel mikroskopik atas
dasar sebuah model yang diambil dari pengalaman di dalam dunia makroskopik. Perlu
pula diketahui bahwa partikel-partikel elementer lain selain elektron, juga mempunyai
momentum angular spin.
Pada tahun 1928, Paul Dirac mengembangkan mekanika kuantum relativistik
untuk gerak sebuah elektron, dan dalam pembahasannya spin elektron muncul secara
natural. Teori Dirac juga mengindikasikan adanya elektron bermuatan positif yang
disebut positron, meskipun Dirac tidak secara penuh merealisasikannya pad tahun 1928.
224
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Positron baru diketemukan pada tahun 1932. Positron ini merupakan sebuah antipartikel
dari elektron.
Dalam pembahasan secara non relativistik yang akan dipergunakan di sini,
elektron harus dikenal sebagai sebuah hipotesis tambahan. Kita telah mempelajari bahwa
setiap properti fisik berhubungan dengan operator Hermitian linear dalam mekanika
kuantum. Untuk properti momentum angular orbital yang mempunyai analogi dengan
mekanika klasik, kita dapat menyusun operator mekanika kuantumnya, dengan
menggunakan ekspresi klasik dan mengganti p
x
, p
y
dan p
z
dengan operator yang sesuai.
Namun, momentum angular spin dari sebuah partikel mikroskopik, tidak mempunyai
analogi dengan mekanika klasik, sehingga kita tidak dapat menggunakan metode seperti
itu untuk membangun sebuah operator bagi momentum angular spin. Untuk tujuan ini,
kita akan secara sederhana menggunakan simbol-simbol untuk operator spin, tanpa
memberikan bentuk eksplisit dari simbol-simbol itu.
Analog dengan operator momentum angular orbital
z y x
L L L L
   
, , ,
2
maka kita
menggunakan simbol
z y x
S S S S
   
, , ,
2
untuk operator momentum angular spin dan
dipostulatkan sebagai operator linear dan Hermitian.
2
S

adalah operator untuk kuadrat
dari besarnya momentum angular spin total dari sebuah partikel.
z
S

adalah operator
momentum angular spin partikel untuk komponen z. Selanjutnya hubungan antara
momentum angular total dengan komponen-komponennya adalah:

2 2 2 2
z y x
S S S S
   
+ + · (10-1)
Dipostulatkan bahwa operator momentum angular spin mengikuti relasi kommutasi yang
sama sebagaimana operator momentum angular orbital. Analog dengan
z y x
L L L
  
i ] , [ ·
,
x z y
L L L
  
i ] , [ ·
,
y x z
L L L
  
i ] , [ ·
( lihat bab 5), kita dapat menyatakan bahwa:
z y x
S S S
  
i ] , [ ·
,
x z y
S S S
  
i ] , [ ·
,
y x z
S S S
  
i ] , [ ·
(10-2)
225
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Selanjutnya sebagaimana untuk operator momentum angular orbital yang sudah dibahas
pada bab 5, kita juga dapat menyatakan bahwa:
] , [
2
x
S S
 
= ] , [
2
y
S S
 
=
] , [
2
z
S S
 
= 0 (10-3)
Selanjutnya karena nilai eigen
2
L

adalah
2
) 1 (  +
kita juga dapat menyatakan bahwa
nilai eigen untuk
2
S

adalah:
2
) 1 ( + s s
s = 0, ½ , 1 . . . . (10-4)
dan nilai eigen untuk
z
S

adalah:
m
s
, ms = −s, −s+1, . . . ., s−1, s (10-5)
Bilangan kuantum s disebut spin partikel. Meskipun pada pembahasan bab 5 tidak
terdapat pembatasan bahwa elektron hanya mempunyai sebuah harga s, namun
eksperimen menunjukkan bahwa semua elektron hanya mempunyai satu macam harga s
yaitu ½ . Dengan s = ½ maka diperoleh:
S = ) 1 ( + s s = ½ 3 (10-6)
Untuk s = ½ , persamaan (10-5) memberikan dua kemungkinan nilai eigen untuk
z
S

,
yaitu ½ dan −½ . Jika fungsi eigen yang berhubungan dengan masing-masing nilai
eigen untuk
z
S

ini kita sebut α dan β, maka persamaan eigennya dapat ditulis:
z
S

α = ½ α (10-7)
z
S

β = −½ β (10-8)
Selanjutnya dengan menggunakan (10-4) dan s = ½ , dapat diketahui bahwa nilai eigen
untuk
2
S

= ¾
2
. Karena operator
2
S

adalah kommute terhadap operator
z
S

, maka α
dan β yang merupakan fungsi eigen terhadap
z
S

merupakan fungsi eigen pula terhadap
operator
2
S

. Dengan demikian persamaan eigen yang menghubungkan operator
2
S


dengan fungsi dan nilai eigennya adalah:
2
S

α = ¾
2
α
2
S

β = ¾
2
β (10-9)
226
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Operator
z
S

tidak kommute terhadap operator
y
S

dan
z
S

, oleh karena itu fungsi α dan
β tidak merupakan fungsi eigen untuk
y
S

dan
z
S

. Istilah spin up diberikan untuk m
s
=
½ sedang spin down untuk m
s
= − ½ . Perhatikan gambar 10.1. Akan kita tunjukkan
bahwa dua kemungkinan untuk bilangan kuantum ms, membuat garis rangkap dua pada
spektra logam alkali.
Fungsi gelombang yang telah kita pelajari sebelumnya adalah fungsi koordinat
ruang dari sebuah partikel ; ψ = ψ(x, y, z). Sekarang kita boleh bertanya. Apakah variabel
untuk fungsi α dan β ? Kadang-kadang orang menggunakan koordinat spin ω, tanpa
membuat spesifikasi buat koordinat tersebut. Yang lebih sering, orang menggunakan m
s
sebagai variabel penentu fungsi α dan β. Jika kita menggunakan m
s
sebagai variabel, kita
mempunyai.
α = α
(m
s
)
β = β
(m
s
)
(10-10)
Sebagaimana biasa, kita menginginkan agar fungsi eigen ternormalisasi. Ketiga variabel
x, y dan z pada fungsi gelombang sebuah partikel mempunyai rentang kontinum dari −


sampai

sehingga bentuk normalisasinya adalah::
∫ ∫ ∫

∞ −

∞ −

∞ −
dz dy
2
z) y, (x,
dx ψ = 1
Variabel ms pada fungsi eigen spin elektron hanya mempunyai dua macam nilai diskrit
yaitu + ½ dan − ½ , sehingga normalisasinya adalah:

− ·
·
1/2
1/2
s

2
) (m
1
s
m
α
; ∑
− ·
·
1/2
1/2
s

2
) (m
1
s
m
β
(10-11)
227
½
−½
½
3

S
S
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Gambar 10.1: Dua kemungkinan arah vektor spin elektron
terhadap sumbu z. Pada masing-masing kasus, S terletak pada
permukaan kerucut yang sumbunya adalah sumbu z.
Karena fungsi eigen α dan β berhubungan dengan nilai eigen yang berbeda dari operator
Hermitian
z
S

, maka keduanya pasti ortogonal, jadi:

− ·
·
1/2
1/2
s s

) (m ) (m
0 . *
s
m
β α
(10-12)
Ketika kita menganggap fungsi gelombang sebuah elektron adalah fungsi yang lengkap,
yang terdiri atas variabel ruang maupun spin, maka normalisasinya adalah:

∫ ∫ ∫
− ·

∞ −

∞ −

∞ −
·
1/2
1/2
s

2
) m z, y, (x,
1 dz dy dx
s
m
ψ
(10-13)
Notasi penjumlahan untuk seluruh variabel spin dan integral untuk seluruh variabel ruang
seperti pada (10-13) tersebut selanjutnya disederhanakan menjadi:

τ ψ d
2
) m z, y, (x,
s
sedang untuk integral seluruh rentang variabel ruang saja digunakan notasi

dv.
10.2 Spin Pada Atom Hidrogen
Fungsi gelombang yang menyatakan kedudukan sebuah elektron, tidak hanya
bergantung pada koordinat x, y, z tetapi juga bergantung pada spin elektron. Apakah
pengaruh masalah ini terhadap fungsi gelombang dan tingkat energi pada atom hidrogen?
Jika fungsi koordinat dinyatakan dengan ψ
(x, y, z)
dan fungsi spin misalnya saja
kita nyatakan dengan g
(m
s
)
, maka fungsi gelombang elektron tunggalnya secara lengkap
dapat ditulis sebagai berikut:
ψ
(x, y, z).
g
(m
s
)
228
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
dengan

g
(m
s
)
adalah fungsi yang mewakili baik fungsi α maupun β, bergantung nilai m
s
-
nya. Jika m
s
= ½ maka g
(m
s
)
mewakili α dan jika m
s
= −½ maka g
(m
s
)
mewakili β.
Tetapi agar pembahasannya lebih umum, g
(m
s
)
dapat dipandang sebagai kombinasi
linear dari α dab β. [Jadi g
(m
s
)
= c
1
α + c
2
β]. Karena operator Hamilton tidak
berpengaruh terhadap fungsi spin, maka:
] . [ E ] [ ] . [
) ( ) , , ( ) , , ( ) ( ) ( ) , , (
s s s
m z y x z y x m m z y x
g H g g H ψ ψ ψ · ·
 
dan tampak bahwa memperhitungkan efek spin, tidak berpengaruh terhadap energi
elektron. Artinya, efek spin tidak mempengaruhi energi elektron. Dengan demikian spin
yang berbeda hanya membuat kemungkinan state elektron menjadi dua kali lipat; untuk ψ
(x, y, z)
misalnya, kita dapat mempunyai dua kemungkinan fungsi state yaitu:
ψ
(x, y, z)
α dan ψ
(x, y, z)
β.
10.3 Prinsip Pauli
Kita misalkan ada sebuah sistem yang terdiri atas beberapa partikel identik. Dalam
mekanika klasik, identitas masing-masing partikel tidak menimbulkan konsekuensi
khusus. Sebagai contoh, beberapa bola identik yang menggelinding di meja billiard.
Adalah sangat mungkin sekali, untuk mengikuti gerak masing-masing bola secara
individual, misal saja dengan menggambarkan bekas lintasan gerak bola itu. Kita dengan
mudah dapat mengatakan bahwa bola satu bergerak pada lintasan tertentu, sedang bola
dua bergerak pada lintasan tertentu yang lain, begitu seterusnya. Jadi, meskipun bola-bola
tersebut identik, kita dapat mengenalinya dengan memperhatikan lintasan yang
ditempuhnya. Jadi identitas bola tidak berpengaruh pada gerak bola-bola ini.
Dalam mekanika kuantum, prinsip ketidakpastian menyatakan bahwa kita tidak
dapat mengikuti lintasan eksak yang ditempuh oleh sebuah partikel mikroskopik. Jika
partikel mikroskopik, semuanya mempunyai perbedaan massa, atau muatan atau spin,
maka kita dapat menggunakan perbedaan itu untuk mengenali satu partikel dari partikel
229
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
yang lain. Tetapi, jika semua partikel tersebut identik, dan satu-satunya cara yang kita
miliki hanyalah mengikuti lintasan sebagaimana dalam mekanika klasik, maka
pengenalan dengan cara ini akan kehilangan kemampuan dalam mekanika kuantum,
karena adanya prinsip ketidakpastian. Oleh karena itu, fungsi gelombang masing-masing
dalam suatu sistem yang terdiri atas interaksi beberapa partikel identik, pasti tidak dapat
dikenali, artinya sangat tidak mungkin untuk menentukan fungsi apa untuk partikel yang
mana. Sebagai contoh, menurut perlakuan perturbasi untuk atom helium tereksitasi dalam
bab 9, terlihat bahwa fungsi 1s(1)2s(2), yang menyatakan elektron kesatu pada orbital 1s
dan elektron kedua pada orbital adalah bukan fungsi gelombang order nol yang benar.
Pernyataan yang lebih baik untuk menyatakan fungsi gelombang helium tereksitasi
adalah:
2
−½
[ 1s(1)2s(2)
t
1s(2)2s(1)]
yang tidak men-spesifikasi elektron yang mana yang berasa pada orbital 1s dan elektron
mana yang berada pada orbital 2s. (Jika dua partikel identik terpisah dengan baik satu
dari yang lain, maka fungsi gelombangnya tidak tumpang tindih, dan keduanya
dipandang sebagai partikel yang dapat dibedakan)
Sekarang akan diturunkan pembatasan terhadap wilayah fungsi gelombang untuk
menentukan índistinguishability (tingkat ketakterbedakan) sebuah partikel dalam
mekanika kuantum. Fungsi gelombang sebuah sistem yang terdiri atas n partikel
bergantung pada variabel ruang dan spin. Untuk partikel 1 variabelnya adalah
x
1
,y
1
,z
1
,m
s
. Sekarang kita gunakan q
1
untuk menyatakan x
1
,y
1
,z
1
,m
s
. Jadi fungsi
gelombang untuk sistem n partikel adalah:
ψ
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.)
Sekarang dibuat sebuah operator permutasi
2 1
P

yang mempertukarkan semua koordinat
dari partikel 1 dan 2:
2 1
P

ƒ( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = ƒ ( q
2
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.) (10-14)
230
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Sebagai contoh, efek
2 1
P

pada fungsi yang mempunyai elektron 1 pada 1s dengan spin
up, dan elektron 2 pada 3s dengan spin down adalah:
2 1
P

[1s(1)α(1)3s(2)β(2)] = [1s(2)α(2)3s(1)β(1)]
Bagaimana nilai eigen
2 1
P

? Jika
2 1
P

diaplikasikan dua kali, maka akan menghasilkan
fungsi asalnya:
2 1
P

2 1
P

ƒ ( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = ƒ ( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.)
Oleh karena itu
2
2 1
P

=
1

. Selanjutnya kita ambil w
i
dan c
i
sebagai fungsi dan nilai eigen
dari operator
2 1
P

, Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa:
2 1
P

w
i
= c
i
w
i

Aplikasi
2 1
P

pada
2 1
P

w
i
= c
i
w
i
menghasilkan
2
2 1
P

w
i
=
2 1
P

c
i
w
i
atau:
2
2 1
P

w
i
= c
i

2 1
P

w
i

Jika
2
2 1
P

diganti
1

dan
2 1
P

w
i
diganti c
i
w
i
maka diperoleh:
w
i
=
2
i
c
w
i

sehingga nilai eigen operator
2 1
P

yaitu
i
c
diperoleh yaitu:
i
c
= t 1
Jika
i
w
adalah fungsi eigen dari operator
2 1
P

yang nilai eigennya +1, maka:
2 1
P

) (+
w
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = (+1)
) (+
w
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.)
) (+
w
( q
2
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.) =
) (+
w
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) (10-15)
Fungsi sebagaimana
+
w , yang memiliki sifat (10-15) yang tidak berubah jika partikel 1
dan 2 dipertukarkan disebut simetrik terhadap pertukaran partikel 1 dan 2. Untuk nilai
eigen −1, diperoleh:
) (−
w
( q
2
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = −
) (−
w
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) (10-16)
231
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Fungsi ) (−
w
pada (10-16) disebut antisimetrik terhadap pertukaran partikel 1 dan 2.
Hendak tidak menjadi rancu antara sifat simetrik dan antisimetrik terhadap
pertukaran partikel dengan sifat genap dan ganjil dalam kaitannya dengan inversi pada
ruangan. Fungsi
2 1
x + x adalah simetrik terhadap pertukaran 1 dan 2 dan merupakan
fungsi ganjil dari x
1
dan x
2
sedang fungsi
2
2
2
1
x + x
adalah simetrik terhadap pertukaran 1
dan 2 dan merupakan fungsi genap dari x
1
dan x
2
.
Selanjutnya bagaimana definisi dari operator
j i
P

? Analog dengan (10-14), maka:
j i
P

ƒ( q
1
, q
i
,.. . . .q
j
,.,q
n
.) = ƒ( q
1
, q
j
,.. . . .q
i
,.,q
n
.) (10-17)
Nilai eigen untuk
j i
P

sama dengan nilai eigen untuk
2 1
P

, yaitu +1 dan −1.
Sekarang kita akan membahas fungsi gelombang sistem yang terdiri atas n
partikel mikroskopik identik. Karena masing-masing partikel tak terbedakan, maka
pemberian label terhadapnya tidak memberikan pengaruh apapun terhadap sistem.
Dengan demikian, dua fungsi gelombang:
ψ( q
1
, q
i
,.. . . .q
j
,.,q
n
.) dan ψ( q
1
, q
j
,.. . . .q
i
,.,q
n
.)
harus berhubungan dengan state sistem yang sama. Dua fungsi yang berhubungan dengan
state yang sama dapat dibedakan oleh bilangan konstan sebagai pengali. Jadi:
ψ( q
1
, q
i
,.. . . .q
j
,.,q
n
.) = cψ( q
1
, q
j
,.. . . .q
i
,.,q
n
.)
j i
P

ψ( q
1
, q
i
,.. . . .q
j
,.,q
n
.) = cψ( q
1
, q
i
,.. . . .q
j
,.,q
n
.) (10-18)
Persamaan (10-18) menyatakan bahwa ψ adalah fungsi eigen dari
j i
P

. Kita tahu, bahwa
hanya ada dua kemungkinan nilai eigen dari
j i
P

yaitu +1 dan −1. Jadi disimpulkan
bahwa fungsi gelombang untuk sistem n partikel identik pasti simetrik atau antisimetrik
terhadap pertukaran i dan j atau secara lebih umum dapat dinyatakan bahwa fungsi
gelombang n partikel identik adalah bersifat simetrik terhadap sembarang pertukaran atau
antisimetrik terhadap sembarang pertukaran dua partikel.
232
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Telah kita ketahui, bahwa ada dua kemungkinan kasus untuk fungsi gelombang
partikel identik, yaitu kasus simetrik dan anti simetrik. Namun fakta-fakta eksperimen
menunjukkan bahwa untuk elektron, hanya kasus antisimetrik yang terjadi. Jadi kita
mempunyai sebuah postulat tambahan dalam mekanika kuantum, yang menyatakan
bahwa fungsi gelombang untuk sistem elektron harus antisimetrik terhadap pertukaran
dua elektron sembarang. Postulat yang penting ini Prinsip Pauli sesuai dengan nama
fisikawan Wolfgang Pauli.
Pauli menunjukkan bahwa teori medan kuantum relativistik meng-indikasikan bahwa
partikel yang spin-nya tengahan ( s =
2
3
,
2
1
dan seterusnya ) mempunyai fungsi gelombang
antisimetrik, sedang partikel dengan spin bilangan bulat ( s = 0, 1, 2 dan seterusnya)
mempunyai fungsi gelombang simetrik, Fakta-fakta eksperimen ternyata menuntun kita
pada kesimpulan yang sama. Partikel yang mempunyai fungsi gelombang antisimetrik
seperti elektron disebut fermion ( sesuai dengan nama Enrico Fermi) sedang partikel yang
mempunyai fungsi gelombang simetrik disebut boson ( sesuai dengan nama S.N. Bose).
Prinsip Pauli mempunyai konsekuensi menarik terhadap sistem fermion identik.
Persyaratan antisimetrik menyatakan bahwa:
ψ
( q
1
, q
2
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = −
ψ
( q
2
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.)
(10-19)
Jika elektron 1 dan 2 mempunyai koordinat dan spin yang sama, maka q
1
= q
2
, sehingga:
ψ
( q
1
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = −
ψ
( q
1
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.)
2 ψ = 0
ψ
( q
1
, q
1
,.q
3
. . . . .,q
n
.) = 0 (10-20)
Jadi dua elektron dengan spin yang sama mempunyai probabilitas nol untuk dijumpai
pada titik yang sama dalam ruang tiga dimensi. (Yang dimaksud dengan spin sama adalah
mempunyai nilai m
s
yang sama). Karena ψ merupakan fungsi kontinum, maka arti dari
(10-20) adalah bahwa probabilitas untuk mendapatkan dua elektron dengan spin sama
berada pada posisi berdekatan adalah sangat kecil. Jadi prinsip Pauli memaksa elektron
233
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
yang spin-nya sama berada pada jarak saling berjauhan satu terhadap yang lain; untuk
mendeskripsi hal ini, orang sering menyebut tolakan Pauli di antara beberapa elektron.
Tolakan ini bukan gaya fisik yang real, tetapi hanya refleksi dari fakta bahwa fungsi
gelombang elektronik harus antisimetrik terhadap pertukaran elektron.
10.4 Atom Helium
Sekarang akan dibahas lagi mengenai atom helium ditinjau dari spin elektron dan
prinsip Pauli. Dalam bab 9 telah kita ketahui bahwa fungsi gelombang helium ground
state order nol pada perlakuan perturbasi adalah 1s(1)1s(2). Untuk melibatkan spin dalam
perhitungan, kita harus fungsi koordinat ruang dengan fungsi eigen spin. Oleh karena itu,
kita harus menentukan fungsi spin untuk dua elektron. Kita akan menggunakan notasi α
(1)α(2) jika elektron 1 spin up, elektron 2 spin up. Jika elektron 1 spin up dan elektron 2
spin down maka notasinya adalah α(1)β(2). Dengan penataan seperti itu kelihatannya
dengan mudah kita akan memperoleh 4 kemungkinan notasi fungsi spin, yaitu:
α(1)α(2) β(1)β(2) α(1)β(2) α(2)β(1)
Tidak ada masalah untuk fungsi pertama dan kedua, tetapi fungsi ketiga dan keempat
melanggar prinsip “tak terbedakan”. Sebagai contoh marilah kita perhatikan fungsi
ketiga. Pada fungsi ketiga itu, elektron 1 spin up sedang elektron kedua spin down.
Lantas, bagaimana cara membedakan elektron 1 dan elektron 2?
Untuk menangani kedua fungsi terakhir ini , marilah kita ingat kembali situasi yang sama
ketika menangani helium tereksitasi pada bab 9. Pada saat itu, dengan bertolak dari:
1s(1)2s(2) dan 2s(1)1s(2)
kita memperoleh dua fungsi order nol yang benar yaitu 2
−½
[1s(1)2s(2)
t
2s(1)1s(2)].
Analog dengan itu, jika bertolak dari dua fungsi α(1)α(2) dan β(1)β(2) maka fungsi order
nol yang kita peroleh adalah:
2
−½
[α(1)β(2)
t
β(1)α(2)]. (10-21)
Kedua fungsi (10-21) tersebut adalah kombinasi linear ternormalisasi yang berasal dari
α(1)β(2) dan β(2)α(1)
234
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
yang merupakan fungsi eigen dari operator
2 1
P

yang bersifat simetrik atau antisimetrik.
Jika elektron 1 dan 2 dipertukarkan maka 2
−½
[α(1)β(2) +β(1)α(2)]. akan menjadi:
2
−½
[α(2)β(1) +β(2)α(1)].
yang persis sama dengan fungsi asalnya. Sementara itu, pertukaran pada fungsi 2
−½
[α(1)
β(2) −β(1)α(2)] akan menghasilkan:
2
−½
[α(2)β(1) − β(2)α(1)]
yang −1 kali fungsi asalnya. Untuk menunjukkan bahwa (10-21) ternormalisasi adalah
sebagai berikut:
( ) [ ] ( ) [ ] ( ) [ ] ( ) [ ]
∑ ∑
t t
1 2
2 ) 1 ( 2 ) 1 (
2
1
. * 2 ) 1 ( 2 ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α α β β α
·
( ) [ ] ( ) [ ] ( ) [ ] ( ) [ ]
∑ ∑
t t
1 2
2 ) 1 ( 2 ) 1 ( . * 2 ) 1 ( * 2 ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α α β β α
·
( ) ( ) [ ] ( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t ·
1 2
2 ) 1 ( * 2 * ) 1 ( 2 ) 1 ( * 2 * ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α β α β α
( ) ( ) [ ] ( ) ( ) [ ] 2 ) 1 ( * 2 * ) 1 ( . 2 ) 1 ( * 2 * ) 1 ( α β α β β α α β + t
·
( ) ( ) [ ]
∑ ∑
1 2
2 ) 1 ( * 2 * ) 1 (
2
1
s s
m m
β α β α ( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 ) 1 ( * 2 * ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α
( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 ) 1 ( * 2 * ) 1 (
2
1
s s
m m
β α α β ( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 ) 1 ( * 2 * ) 1 (
2
1
s s
m m
α β α β
·
( ) [ ] 2 ) 1 (
2
1
1 2
2 2
∑ ∑
s s
m m
α β α ( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 * 2 ) 1 ( * ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α
235
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 * 2 ) 1 ( * ) 1 (
2
1
s s
m m
β α α β ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 2
2 ) 1 (
2
1
s s
m m
α β
Dengan menggunakan sifat (10-11) dan (10-12) diperoleh:

( ) [ ] 2 ) 1 (
2
1
1 2
2
2
∑ ∑
s s
m m
α β α ( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 * 2 ) 1 ( * ) 1 (
2
1
s s
m m
α β β α
( ) ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 * 2 ) 1 ( * ) 1 (
2
1
s s
m m
β α α β ( ) [ ]
∑ ∑
t
1 2
2 2
2 ) 1 (
2
1
s s
m m
α β
· ½ + 0 + 0 + ½ = 1
Dengan demikian kita telah memperoleh empat buah kemungkinan fungsi spin elektron
helium yaitu:
( )
( ) ( )
( ) ( ) ( ) ( ) { }
¹
¹
¹
'
¹
+ (10.24) 2 2 1 2 1
(10.23) 2 1
(10.22) 2 ) 1 (
α β β α
β β
α α
Simetrik
( ) ( ) ( ) ( ) { } (10.25) 2 2 1 2 1 α β β α + ik Antisimetr
Selanjutnya sekarang kita akan menyatakan fungsi gelombang helium grounds state order
nol dengan melibatkan spin. Kita tahu bahwa fungsi spasial (koordinat ruang) 1s(1)2s(2)
adalah fungsi simetrik terhadap pertukaran partikel. Sementara itu, menurut prinsip Pauli,
fungsi gelombang elektron secara keseluruhan harus bersifat antisimetrik terhadap
pertukaran elektron. Oleh karena itu fungsi spasial 1s(1)2s(2) yang simetrik itu harus
dikalikan dengan satu-satunya fungsi spin yang antisimetrik, agar secara keseluruhan
menjadi antisimetrik, sebagaimana disyaratkan oleh prinsip Pauli. Dengan demikian,
fungsi gelombang helium yang melibatkan fungsi spin adalah:
ψ
(0)
= 1s(1)2s(2). 2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)] (10-26)
Fungsi ψ
(0)
adalah fungsi eigen dari operator
2 1
P

dengan nilai eigen −1.
Perlu diingat, bahwa spin tidak berpengaruh terhadap energi, oleh karena itu,
sebagai sebuah pendekatan perhitungan energi, operator Hamilton (Hamiltonian)
236
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
merupakan operator energi yang sudah sangat memadai, meskipun Hamiltonian tidak
melibatkan spin.
Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa spin memang benar-benar tidak berpengaruh
terhadap energi. Untuk ini kita gunakan kalkulasi energi atom helium ground state,
dengan metode variasi. Fungsi variasi yang digunakan adalah:
φ = ƒ
(r
1
, r
2
, r
3
)
. 2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)]
dengan ƒ adalah fungsi spasial ternormalisasi yang bersifat simetrik dari dua elektron
dalam helium. Integral variasionalnya adalah:

τ φ φ d * H

=
∑ ∑
∫ ∫
1 2 s s
m m
ƒ*
(r
1
, r
2
, r
3
)
. 2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)]*
x H

ƒ
(r
1
, r
2
, r
3
)
. 2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)] dv
1
dv
2
.
Karena
H

hanya bekerja pada fungsi koordinat (spasial) dan tidak pada fungsi spin,
integral variasionalnya menjadi:
∫ ∫
ƒ*
(r
1
, r
2
, r
3
)

H

ƒ
(r
1
, r
2
, r
3
)

∑ ∑
1 2 s s
m m
½ [α(1)β(2) − β(1)α(2)]
2
Karena fungsi spin ternormalisasi (10-25), maka integral variasionalnya tereduksi
menjadi:

τ φ φ d * H

=
∫ ∫
ƒ*
(r
1
, r
2
, r
3
)

H

ƒ
(r
1
, r
2
, r
3
)
yang merupakan bentuk yang sudah kita kenal sebelum spin dilibatkan.
Sekarang kita akan membahas helium tereksitasi. Telah kita ketahui bahwa fungsi
spasial untuk helium eksitasi terendah adalah:
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)]
Karena fungsi spasial tersebut sudah antisymetrik, maka harus dikalikan dengan fungsi
spin yang simetrik. Karena ada tiga fungsi spin yang simetrik sudah barang tentu kita
dapat memperoleh tiga fungsi degenarate dari atom helium tereksitasi yang melibatkan
spin, yaitu:
237
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] α(1)α(2) (10-27)
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] β(1)β(2) (10-28)
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] .2
−½
[α(1)β(2) + β(1)α(2)] . (10-29)
Untuk tingkat eksitasi berikutnya, persyaratan antisimetrik untuk fungsi gelombang
secara menyeluruh, akan menggiring kita kepada fungsi gelombang order nol:
2
−½
[1s (1) 2s (2) + 2s (1)1s(2)] .2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)] . (10-30)
Prosedur yang sama dapat digunakan jika kita ingin membahas helium tereksitasi pada
1s
1
2p
1
.
10.5 Prinsip Eksklusi Pauli
Sejauh ini, kita belum melihat konsekuensi yang spektakuler dari spin elektron
dan prinsip Pauli. Dalam atom hidrogen dan helium, faktor spin dalam fungsi gelombang
dan persyaratan antisimetrik hanya berpengaruh terhadap degenerasi terhadap level tetapi
tidak berpengaruh terhadap energi. Untuk litium, ceritanya agak sedikit berbeda.
Pendekatan perturbasi natural terhadap atom litium melibatkan gaya repulsi antar
elektron sebagai perturbasi yang terletak di suku akhir dari Hamiltonian. Melalui langkah
yang sama sebagaimana kita lakukan pada helium, fungsi gelombang tak terperturbasi
pada litium adalah perkalian 3 fungsi gelombang mirip hidrogen. Untuk ground state,
ψ
(0)
= 1s(1)1s(2)1s(3) (10-31)
dan energi order nol tak terperturbasinya adalah.
E
(0)
=

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
+ + −
o
2 2
2 2 2
a 2
' Z

1
1
1
1
1
1 e
= −27
o
2
a 2
' e
= − 27 (13,606) eV = − 367,4 eV
Koreksi energi order pertamanya adalah E
(1)
=
) 0 ( ) 0 (
'ψ ψ H

. Perturbasi
' H

terjadi dari
repulsi antar elektron, sehingga:
E
(1)
=
1
2 . 1
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

+
2
3 . 1
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

238
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
+
3
3 . 2
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

Pemberian label 1, 2 dan 3 pada elektron tidak berpengaruh terhadap nilai integral,
karena ketiga elektron adalah partikel identik, Jadi nilai masing-masing integral tersebut
adalah sama, meskipun terdapat perbedaan label, E
(1)
boleh ditulis:
E
(1)
=
1
2 . 1
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

+
2
2 . 1
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

+
3
2 . 1
2
2 2 2
dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s

atau:
E
(1)
= 3
∫ ∫ ∫
3 2 1
2 . 1
2
2 2 2
dv . dv dv
e'
) 3 ( 1 ) 3 ( 1 ) 1 ( 1
r
s s s
Bentuk di atas dapat ditata ulang menjadi:
E
(1)
= 3
∫ ∫ ∫
3
2
2 1
2 . 1
2
2 2
dv ) 3 ( 1 . dv dv
e'
) 3 ( 1 ) 1 ( 1 s
r
s s
tanpa mengubah nilai. Integral elektron ketiga yaitu

3
2
dv ) 3 ( 1s nilainya 1 Sehingga:
E
(1)
= 3
∫ ∫
. dv dv
e'
) 3 ( 1 ) 1 ( 1
2 1
2 . 1
2
2 2
r
s s
yang dapat dievaluasi sebagaimana perturbasi pada helium (bab 9) dan diperoleh:
E
(1)
= 3

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
o
a
e Z
2
'
4
5
2
= 3
,
_

¸
¸
4
15
13,606 eV = 1 eV
E
(0)
+ E
(1)
= −214,3 eV
Karena kita dapat menggunakan fungsi gelombang perturbasi order nol sebagai fungsi
variasi (ingat diskusi pada awal sub bab 9.4), dengan demikian menurut prinsip variasi,
E
(0)
+ E
(1)
harus sama atau lebih besar dari pada energi ground state yang sesungguhnya.
Nilai eksperimental dari litium ground state, diperoleh dengan cara menjumlah energi
ionisasi pertama, kedua dan ketiga, yaitu sebesar (C.E. Moore, 1970):
239
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
−(5,39 + 75,64 + 122,45) eV = −203,5 eV
Tampak bahwa E
(0)
+ E
(1)
lebih kecil dari pada energi ground state yang sesungguhnya,
sehingga hal ini bertentangan dengan prinsip variasi. Atas dasar ini, maka konfigurasi 1s
3
untuk litium ground state, yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung E
(0)
+ E
(1)
dianggap tidak benar karena nilai energi yang lebih rendah dari pada nilai energi ground
state yang diperoleh melalui fakta eksperimen kimia. Kalau kita tetap menganggap 1s
3
untuk litium ground state tersebut adalah benar, maka kita harus menganggap bahwa
konfigurasi ground state untuk unsur kimia bernomor atom Z adalah 1s
Z
. Hal ini akan
membuat kerancuan terhadap pemahaman sifat-sifat periodik unsur.
Sudah barang itu, kesalahan tersebut menggugurkan prinsip Pauli mengenai spin.
Fungsi gelombang hipotetis 1s(1)1s(2)1s(3) adalah simetrik terhadap pertukaran dua
elektron sembarang. Jika kita mengikuti prinsip Pauli, kita harus mengalikan fungsi
spasial ini dengan fungsi spin yang antisimetrik. Adalah mudah untuk membentuk fungsi
spin 3 elektron yang simetrik yaitu α(1)α(2)α(3), namun adalah tidak mungkin untuk
susunan 3 elektron yang menghasilkan fungsi antisimetrik. Selanjutnya bagaimana
konfigurasinya agar kita peroleh 3 elektron yang secara keseluruhan menjadi
antisimetrik?
Marilah kita mencoba membangun fungsi antisimetrik yang terdiri atas 3 elektron.
Kita gunakan ƒ, g dan h untuk fungsi koordinat ketiga elektron secara berturut-turut. Kita
bertolak dengan fungsi:
ƒ(1)g(2)h(3) (10-32)
yang tentu saja tidak antisimetrik. Fungsi antisimetrik yang kita inginkan harus
terkonversi menjadi minus fungsi itu sendiri jika oleh salah satu operator permutasi
2 1
P


atau
3 1
P

atau
3 2
P

. Aplikasi masing-masing operator ini terhadap fungsi (10-32)
menghasilkan:
(10-33)
240
ƒ(2)g(1)h(3)
ƒ(3)g(2)h(1)
ƒ(1)g(3)h(2)
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Kita dapat saja mencoba memperoleh fungsi antisimetrik dengan cara membuat
kombinasi linear terhadap ke empat fungsi (10-32) dan (10-33), tetapi upaya ini akan
gagal. Aplikasi
2 1
P

terhadap dua fungsi terakhir pada (10-33), menghasilkan:
ƒ(3)g(1)h(2) dan ƒ(2)g(3)h(1) (10-34)
yang tidak termasuk dalam (10-32) maupun (10-33). Oleh karena itu, kita harus
memasukkan ke enam fungsi (10-32), (10-33) dan (10-34) ke dalam kombinasi linear
antisimetrik yang kita inginkan. Ke enam fungsi ini adalah enam (3 . 2 . 1) kemungkinan
permutasi dari 3 elektron dalam 3 fungsi yaitu ƒ, g dan h. Jika ƒ(1)g(2)h(3) adalah solusi
dari persamaan Schrodinger dengan nilai eigen E, maka lantaran identitas partikel,
masing-masing fungsi (10-32) sampai (10-34) harus juga merupakan solusi dengan nilai
eigen yang sama yaitu E, dan sembarang kombinasi linear dari fungsi-fungsi ini adalah
merupakan fungsi eigen dengan nilai eigen E.
Kombinasi linear antisimetriknya mempunyai bentuk sabagai berikut:
c
1
ƒ(1)g(2)h(3) + c
2
ƒ(2)g(1)h(3) + c
3
ƒ(3)g(2)h(1) + c
4
ƒ(1)g(3)h(2)
+ c
5
ƒ(3)g(1)h(2)+ c
6
ƒ(2)g(3)h(1) (10-35)
Karena fungsi ƒ(2)g(1)h(3) =
2 1
P

ƒ(2)g(1)h(3), dalam rangka memperoleh (10-35)
sebagai fungsi eigen dari operator
2 1
P

dengan nilai eigen −1, kita harus membuat c
2
= −
c
1
. Dengan alas yang sama, karena ƒ(3)g(2)h(1) =
3 1
P

ƒ(1)g(2)h(3) dan ƒ(1)g(3)h(2) =
3 2
P

ƒ(1)g(2)h(3), sehingga kita harus membuat c
3
= −c
1
dan c
4
= −c
1
. Karena
ƒ(3)g(1)h(2) =
2 1
P

ƒ(3)g(2)h(1), kita harus membuat c
5
= −c
3
= c
1
. Selanjutnya kita akan
memperoleh c
6
= c
1
. Dengan demikian kombinasi linear (10-35) dapat ditulis:
c
1
[ƒ(1)g(2)h(3) −

ƒ(2)g(1)h(3) − ƒ(3)g(2)h(1) −

ƒ(1)g(3)h(2)
+ ƒ(3)g(1)h(2)+ ƒ(2)g(3)h(1)] (10-36)
yang dengan mudah dapat dibuktikan bahwa fungsi kombinasi linear (10-36) adalah
antisimetrik terhadap pertukaran 1-2, 1-3 dan 2-3. [ jika semua tanda pada (10-36) positif,
maka kita akan memperoleh fungsi simetrik].
241
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Marilah kita asumsikan bahwa fungsi ƒ, g dan h adalah ortonormal dan kita pilih
c
1
sedemikian rupa sehingga (10-36) ternormalisasi. Untuk memperoleh harga c1, kalikan
(10-36) dengan komplek konjugasinya kemudian dintegralkan.. Kita akan memperoleh
integral 36 suku. Tapi dari karena asumsi ortonormal, maka hanya 6 integral yang
nilainya masing-masing 1 (karena ortonomal) sedang 30 fungsi yang lain bernilai nol
(karena ortogonal). Yang bernilai satu adalah yang berasal dari perkalian fungsi yang
sama. Jadi:
( ) ( ) τ d

− − 36 10 * 36 10
= 1
c
1
2
. (1+1+1+1+1+1) = 1
c
1
=
6
1
Kita dapat memperoleh (10-36) dengan cara sebagaimana kita lakukan di atas, tetapi ada
cara yang jauh lebih sederhana, yaitu (lihat bab 8) dengan menggunakan determinan
order 3 berikut:

Sifat antisimetrik melekat pada determinan (10-37), sebab pertukaran label elektron,
berarti terjadi pertukaran baris pada determinan. Kita tahu bahwa salah satu sifat
determinan adalah nilainya lipat −1 dari nilai asalnya jika dilakukan pertukaran baris. Ini
merupakan sifat antisimetrik.
Dengan menggunakan determinan (10-37), sangatlah mungkin untuk membuat
fungsi spin antisimetrik untuk 3 elektron. Jika ƒ diganti α, g diganti β dan h diganti α,
maka (10-37) menjadi:

(3)
(2)
(1)
(3)
(2)
(1)
(3)
(2)
(1)

6
1
α
α
α
β
β
β
α
α
α
(10-38)
242
ƒ(1) g(1) h(1)
ƒ(2) g(2) h(2)
ƒ(3) g(3) h(3)
6
1
) 37 10 ( −
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Meskipun (10-38) antisimetrik, namun kita harus menolaknya, karena nilai (10-38)
adalah nol, sehingga determinan tersebut hilang nilainya. Ini berarti kita tidak mungkin
membuat fungsi spin antisimetrik 3 elektron yang tidak nol.
Selanjutnya kita akan menggunakan (10-37), untuk menyusun sebuah fungsi
gelombang order nol untuk litium ground state dengan melibatkan variabel spasial
maupun spin. Sekarang, fungsi ƒ, g dan h tidak hanya fungsi spasial tetapi juga
mengandung variabel spin. Kita misalkan:
ƒ(1) = 1s(1)α(1) (10-39)
Fungsi (10-39) itu disebut orbital-spin yaitu hasil kali antara fungsi orbital sebuah
elektron dengan fungsi spin elektron tersebut. Jika g(1) pada (10-37) diganti 1(s)α(1), hal
ini akan membuat dua kolom identik pada determinan (10-37) dan fungsi gelombang
akan hilang karena nilai determinannya nol. Hal ini kemudian menimbulkan kasus
penting yang disebut prinsip eksklusi Pauli yang menyatakan: Dua buah elektron tidak
boleh menempati orbital-spin yang sama.. Cara lain untuk menyatakan hal ini adalah
dengan menyatakan bahwa tidak ada dua elektron dalam sebuah atom yang mempunyai
nilai sama untuk semua bilangan kuantumnya. Prinsip eksklusi Pauli adalah konsekuensi
dari prinsip Pauli yang lebih umum, yaitu persyaratan antisimetrik dan bersifat kurang
memuaskan dibandingkan dengan statemen antisimetrik, karena prinsip eksklusi Pauli
hanya dilandasi oleh fungsi gelombang order nol aproksimasi, bukan fungsi gelombang
eksak. Karena penggantian g(1) = 1s(1)α(1) melanggar prinsip eksklusi Pauli, maka
dipilih g(1) = 1s(1)β(1). Selanjutnya bagaimana dengan h(1)? Untuk menghindari
kemungkinan pelanggaran terhadap prinsip eksklusi Pauli, maka kita pilih h(1) = 2s(1)α
(1). Pergantian terhadap ƒ, g dan h yang lain pada (10-37) dilakukan identik dengan
pergantian terhadap ƒ(1), g(1) dan h(1), sehingga fungsi gelombang order nol untuk
litium ground state yang dibangun melalui (10-37) adalah:
ψ
(0)
=

(3) ) 3 ( 2
(2) ) 2 ( 2
(1) ) 1 ( 2
(3) ) 3 ( 1
(2) ) 2 ( 1
(1) ) 1 ( 1
(3) ) 3 ( 1
(2) ) 2 ( 1
(1) ) 1 ( 1

6
1
α
α
α
β
β
β
α
α
α
s
s
s
s
s
s
s
s
s
(10-40)
243
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Perlu dicatat secara khusus bahwa masing-masing elemen pada determinan (10-40) bukan
perkalian sederhana antara fungsi spasial dan fungsi spin sebagaimana dalam atom
hidrogen dan helium, namun masing-masing elemen determinan adalah kombinasi linear
antara fungsi spasial dan fungsi spin.
Karena kita telah memilih h(1) = 2s(1)β(1) untuk litium, tentu saja sebagaimana hidrogen
dan helium, litium ground state juga dobel degenerasi, karena adanya dua kemungkinan arah spin elektron
pada orbital 2s. Kedua kemungkinan diagram untuk litium adalah:
1s 2s dan 1s 2s
Tiap-tiap orbital, misal 1s atau 2p
+1
atau 2p
0
dan seterusnya, dapat berisi dus elektron
dengan spin berlawanan, sedang tiap orbital-spin, misal 1sα atau 1sβ dan seterusnya
hanya dapat berisi satu elektron.
Meskipun konfigurasi 1s
2
2p
1
mempunyai energi tak terpertubasi E
(0)
yang sama besarnya
dengan konfigurasi 1s
2
2s
1
, namun jika kita memperhitungkan efek repulsi antar elektron
pada perhitungan E
(1)
atau koreksi yang lebih tinggi, akan ternyata bahwa konfigurasi
1s
2
2s
1
lebih rendah energinya dari pada 1s
2
2p
1
. Dengan alasan yang sama 1s
2
pada helium
lebih rendah energinya dari pada 1s
1
2s
1
.
Kita akan menutup sub bab ini dengan mendiskusikan masalah prinsip eksklusi
Pauli, yang kita ulangi statemen-nya sebagai berikut: Dalam sistem fermion identik, tidak
ada dua partikel yang dapat menempati state yang sama. Jika kita mempunyai sistem
yang terdiri atas n partikel yang saling berinteraksi (misal sebuah atom), maka ada sebuah
fungsi gelombang (yang melibatkan 4n variabel) untuk sistem yang dimaksud itu.
Lantaran adanya interaksi antar partikel, fungsi gelombang sistem tidak dapat dinyatakan
sebagai hasil kali fungsi gelombang masing-masing partikel; atau secara singkat dapat
dinyatakan bahwa kita hanya dapat membicarakan fungsi sistem secara global dan tidak
dapat membicarakan fungsi partikel secara individual. Namun, jika interaksi antar
partikel tidak terlalu besar, maka sebagai aproksimasi, kita boleh mengabaikan interaksi
itu, dan menyatakan fungsi gelombang order nol dari sistem tersebut sebagai hasil kali
fungsi gelombang partikel-partikel individual. Dalam fungsi gelombang order nol ini,
tidak boleh ada dua fermion yang mempunyai fungsi gelombang (state) yang sama.
244
↑ ↑ ↑ ↓ ↓ ↓
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Lain halnya untuk sistem yang terdiri atas beberapa partikel boson. Karena boson
mensyaratkan fungsi gelombang yang simetrik terhadap pertukaran partikel, maka tidak
ada batasan mengenai banyaknya boson yang dapat berada pada sebuah state.
10.6 Determinan Slater
Slater menyatakan (1929) bahwa determinan (10-40) memenuhi persyaratan
antisimetrik untuk atom berelektron banyak. Determinan seperti (10-40) disebut
determinan Slater. Semua elemen dalam kolom-kolom pada determinan Slater melibatkan
orbital-spin yang sama, sedang elemen dalam sebuah baris melibatkan elektron yang
sama. [Karena pertukaran baris dan kolom tidak mengubah nilai determinan, tentu saja
determinan Slater (10-40) dapat ditulis dalam bentuk yang lain].
Sekarang akan kita coba, bagaimana menyatakan fungsi gelombang order nol
helium yang sudah kita kenal sebelumnya, dalam determinan Slater. Untuk konfigurasi
ground state 1s
2
, kita mempunyai orbital-spin 1sα dan 1sβ, yang menghasilkan
determinan Slater sebagai berikut:
(2) 1s(2) (2) 1s(2)
(1) 1s(1) (1) 1s(1)

2
1
β α
β α
= 1s(1)1s(2)
2
1
[α(1)β(2) − β(1)α(2)] (10-
41)
yang sesuai dengan (10-26). Untuk konfigurasi tereksitasi 1s
1
2s
1
, kita mempunyai 4
macam orbital-spin, sehingga dihasilkan 4 macam determinan Slater, yaitu:
D
1
=
(2) 2s(2) (2) 1s(2)
(1) 2s(1) (1) 1s(1)

2
1
α α
α α
D
2
=
(2) 2s(2) (2) 1s(2)
(1) 2s(1) (1) 1s(1)

2
1
β α
β α
D
3
=
(2) 2s(2) (2) 1s(2)
(1) 2s(1) (1) 1s(1)

2
1
α β
α β
D
4
=
(2) 2s(2) (2) 1s(2)
(1) 2s(1) (1) 1s(1)

2
1
β β
β β
Perbandingan dengan (10-27) sampai (10-30), menunjukkan bahwa fungsi gelombang
order nol 1s
1
2s
1
dihubungkan dengan 4 macam determinan Slater sebagai berikut:
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] α(1)α(2) = D
1
(10-42)
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] β(1)β(2) = D
4
(10-43)
245
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
2
−½
[1s (1) 2s (2) − 2s (1)1s(2)] .2
−½
[α(1)β(2) + β(1)α(2)] = 2
−½
(D
2
+D
3
)
(10-44)
2
−½
[1s (1) 2s (2) + 2s (1)1s(2)] .2
−½
[α(1)β(2) − β(1)α(2)] = 2
−½
(D
2
−D
3
)
(10-45)
(Untuk memperoleh fungsi order nol yang merupakan fungsi eigen dari operator
momentum angular dan spin, seringkali kita menggunakan kombinasi linear determinan
Slater dari suatu konfigurasi; lihat bab XI)
Berikutnya akan kita bahas beberapa notasi determinan Slater. Sebagai pengganti
terhadap α dan β untuk fungsi spin, orang sering menggunakan garis bar di atas fungsi
spasial untuk menunjukkan fungsi β sedang fungsi spasial yang tanpa bar berarti fungsi
spasial dengan fungsi spin α. Misal 1s(1)α(1) cukup ditulis 1s(1) sedang 1s(1)β cukup
ditulis ) 1 ( 1s . Dengan demikian persamaan (10.40) dapat ditulis:
ψ
(0)
=

) 3 ( 2
) 2 ( 2
) 1 ( 2
) 3 ( 1
) 2 ( 1
) 1 ( 1
) 3 ( 1
) 2 ( 1
) 1 ( 1

6
1
s
s
s
s
s
s
s
s
s
(10-46)
Notasi (10-46) sering dipersingkat lagi, tanpa menuliskan faktor normasilasi, dan hanya
dinyatakan dalam satu baris, yaitu:
ψ
(0)
=
2s 1s 1s
(10-47)
Sekarang akan kita balik. Jika determinan Slater ditulis ψ
(0)
=
2s2p 1s 1s
, bagaimana
notasi determinan Slaternya secara lengkap. Dari orbital-spin yang tertulis, dapat
dipastikan bahwa sistem (atom) terdiri atas 4 elektron. Elektron 1 berada di 1s dengan
spin α, elektron 2 pada 1s dengan spin β, elektron 3 pada 2s dengan spin α dan elektron 4
pada 2p dengan spin α. Karena sistemnya 4 partikel maka faktor normalisasinya adalah
! 4
1
=
24
1
. Dengan demikian determinan Slaternya adalah:
246
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
ψ
(0)
=
(4) 2p(4) (4) 2s(4) (1) 1s(4) (4) 1s(4)
(3) 2p(3) (3) 2s(3) (3) 1s(3) (3) 1s(3)
(2) 2p(2) (2) 2s(2) (2) 1s(2) (2) 1s(2)
(1) 2p(1) (1) 2s(1) (1) 1s(1) (1) 1s(1)
24
1
α α β α
α α β α
α α β α
α α β α
atau
ψ
(0)
=
2p(4) 2s(4) (4) 1s 1s(4)
2p(3) 2s(3) (3) 1s 1s(3)
2p(2) 2s(2) (2) 1s 1s(2)
2p(1) 2s(1) (1) 1s 1s(1)
24
1
10.7 Perturbasi terhadap Lithium Ground State
Marilah kita menerapkan perturbasi untuk atom litium ground state. Untuk ini kita
gunakan:

' ' '
2 2 2
3
2
2
2
1
2
2
3
2
2
2
2
2
1
2
r
e Z
r
e Z
r
e Z
m m m
H
e e e
o
− − − ∇ − ∇ − ∇ − ·


e'

e'

e'
'
3 1
2
3 2
2
2 1
2
r r r
H + + ·

Telah kita peroleh sebelumnya bahwa untuk memenuhi prinsip Pauli, konfigurasi litium
ground state harus 1s
2
2s
1
. Fungsi gelombang order nolnya adalah (10-40):
ψ
(0)
=

(3) ) 3 ( 2
(2) ) 2 ( 2
(1) ) 1 ( 2
(3) ) 3 ( 1
(2) ) 2 ( 1
(1) ) 1 ( 1
(3) ) 3 ( 1
(2) ) 2 ( 1
(1) ) 1 ( 1

6
1
α
α
α
β
β
β
α
α
α
s
s
s
s
s
s
s
s
s
=
6
1
[1s(1)1s(2)2s(3)α(1)β(2)α(3) − 1s(1)2s(2)1s(3)α(1)α(2)β(3)
− 1s(1)1s(2)2s(3)β(1)α(2)α(3) + 1s(1)2s(2)1s(3)β(1)α(2)α(3)
+ 2s(1)1s(2)1s(3)α(1)α(2)β(3) − 2s(1)1s(2)1s(3)α(1)β(2)α(3)
Berapakah E
(0)
?. Masing-masing suku pada ψ
(0)
mengandung perkalian dua buah 1s dari
fungsi mirip hidrogen dan sebuah 2s dari fungsi mirip hidrogen yang dikalikan lagi
247
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
dengan faktor spin.
o
H

adalah jumlah dari 3 buah Hamiltonian mirip hidrogen yang
tidak melibatkan spin. Jadi ψ
(0)
adalah kombinasi linear suku-suku, yang masing-masing
adalah fungsi eigen dari
o
H

dengan nilai eigen sebesar
( ) ( ) 0
2
) 0 (
1
0
1 s s s
E E E + + . Jadi:
E
(0)
= −
o
2 2
2 2 2
2a
e'
2
1
1
1
1
1 Z

,
_

¸
¸
+ + = − eV) (13,606
4
81
= − 275,5 eV (10-
48)
Untuk memperoleh E
(1)
, kita harus mengevaluasi
) 0 ( ) 0 (
' ψ ψ H

. Untuk ini kita akan
mengadakan pengelompokan suku-suku pada ψ
(0)
yang faktor spinnya sama.
ψ
(0)
=
6
1
[ 1s(1)2s(2)1s(3) − 1s(1)1s(2)2s(3) ] β(1)α(2)α(3)
+
6
1
[1s(1)1s(2)2s(3) − 2s(1)1s(2)1s(3) ] α(1)β(2)α(3)
+
6
1
[2s(1)1s(2)1s(3) − 1s(1)2s(2)1s(3) ] α(1)α(2)β(3) (10-49)
atau:
ψ
(0)
= a β(1)α(2)α(3) + b α(1)β(2)α(3) + c α(1)α(2)β(3) = A + B + C (10-50)
Selanjutnya kita evaluasi E
(1)
E
(1)
=

τ ψ ψ d ' *
) ( ) ( o o
H

=

+ + + + τ d C) B (A ' H * ) (

C B A
E
(1)
=

τ d '
2
H A

+

τ d '
2
H B

+

τ d '
2
H C

+

τ d ' * H B A

+

τ d ' * H C B

+

τ d ' * H C A

+

τ d ' * H AB

+

τ d ' * C H B

+

τ d ' * C H A

(10-51)
Karena sifat ortogonalitas, enam suku terakhir pada (10-51) adalah nol. Sebagai contoh,
integral

τ d * H B A

melibatkan penjumlahan fungsi spin sebagai berikut:
∑∑∑
1 2 3
)] 3 ( ) 2 ( ) 1 ( [ * )] 3 ( ) 2 ( ) 1 ( [
m m m
α β α α α β
=
∑ ∑ ∑
1 2 3
) 3 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 1 (
m m m
α α β α α β
= 0 . 0 . 1 = 0
Dengan demikian kita peroleh:
248
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
E
(1)
=

τ d '
2
H A

+

τ d '
2
H B

+

τ d '
2
H C

+

τ d ' * H B A

Kini akan kita evaluasi

τ d '
2
H A

. Telah kita ketahui bahwa: A = a β(1)α(2)α(3), jadi:

τ d '
2
H A

=

τ α α β d ' (3) (1) (1) .
2
H a

=

∑∑∑
1 2 3
2
3 2 v1
2
)] 3 ( ) 2 ( ) 1 ( [ . d '
m m m
v v
d d H a α α β

=

∑ ∑ ∑
1 2 3
) 3 ( ) 3 ( ) 2 ( ) 2 ( ) 1 ( ) 1 ( . d '
3 2 v1
2
m m m
v v
d d H a α α α α β β

Karena sifat ortonormal, maka
∑ ∑ ∑
· · ·
1 2 3
1 ) 3 ( ) 3 ( dan 1 ) 2 ( ) 2 ( , 1 ) 1 ( ) 1 (
m m m
α α α α β β

sehingga diperoleh:

τ d '
2
H A

=

3 2 v1
2
d '
v v
d d H a


Analog dengan itu juga kita peroleh:

τ d '
2
H B

=

3 2 v1
2
d '
v v
d d H b

dan

τ d '
2
H C

=

3 2 v1
2
d '
v v
d d H c

sehingga,
E
(1)
=

3 2 v1
2
d '
v v
d d H a

+

3 2 v1
2
d '
v v
d d H b

+

3 2 v1
2
d '
v v
d d H c

(10-
52)
dan tampak bahwa fungsi spin tidak lagi terlibat. Marilah sekarang kita kembalikan a, b c
dan
H

ke bentuk asalnya sehingga (10-52) menjadi:
E
(1)
=
∫∫∫
3 2 v1
2
d '
v v
d d H a

+
∫∫∫
3 2 v1
2
d '
v v
d d H b

+
∫∫∫
3 2 v1
2
d '
v v
d d H c

= { }
∫∫∫

,
_

¸
¸
+ +
1
]
1

¸

(3) (2)2 (1)1 1 −
3 2 1
1.3 2.3 1.2
2
dv
r
e'
r
e'
r
e'
1s(3) 1s(1)2s(2)
6
1
dv dv s s s
+ { }
∫∫∫

,
_

¸
¸
+ +
1
]
1

¸

(3) (2)1 (1)1 2
3 2 1
1.3 2.3 1.2
2
dv
r
e'
r
e'
r
e'
- 2s(3) 1s(1)1s(2)
6
1
dv dv s s s
249
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
+ { }
∫∫∫

,
_

¸
¸
+ +
1
]
1

¸

(3) (2)1 (1)2 1
3 2 1
1.3 2.3 1.2
2
dv
r
e'
r
e'
r
e'
- 1s(3) 2s(1)1s(2)
6
1
dv dv s s s
Dengan menggunakan sifat ortonormal dari fungsi orbital 1s dan 2s, selanjutnya
akan dapat kita peroleh:
E
(1)
=
( ) [ ] ( ) [ ]
2 1
2 . 1
2 2
'
2 2 1 1 2 dv dv
r
e
s s
∫∫
+
( ) [ ] ( ) [ ]
2 1
2 . 1
2 2
'
2 1 1 1 dv dv
r
e
s s
∫∫
+
( ) ( ) ( ) ( )
2 1
2 . 1
'
1 2 2 1 2 2 1 1 dv dv
r
e
s s s s
∫∫
Dan ternyata bentuk tersebut adalah integral Coulomb dan integral Pertukaran (exchange
integral), jadi:
E
(1)
= 2J
1s2s
+ J
1s1s
− K
1s2s
(10-53)
Telah kita ketahui pada bab 9, bahwa
J
1s2s
=
o
a
Ze
2
'
8
5
; J
1s1s
·
o
a
Ze
2
'
81
17
dan K
1s2s
=
o
a
Ze
2
'
729
16
sehingga:
E
(1)
=

,
_

¸
¸
o
a
e
2
'
972
5965
2
= 83,5 eV
Melalui perturbasi order pertama diperoleh energi ground state litium adalah E
(0)
+ E
(1)
yaitu sebesar − 192,0 eV. Jika nilai ini dibandingkan dengan nilai energi ground state
yang diperoleh melalui eksperimen yaitu −203,5 eV, masih ada perbedaan 11,5 eV. Agar
perbedaan semakin kecil, kita harus melakukan perhitungan terhadap fungsi gelombang
dan koreksi energi dengan order yang lebih tinggi.
10.8 Metode Variasi untuk Litium Ground State
Fungsi gelombang perturbasi order nol atom litium (10-40) memperhitungkan
muatan inti penuh (Z = 3) baik untuk 1s maupun 2s. Diperkirakan, orbital 2s yang
letaknya terhadap inti atom cukup terhalang oleh orbital 1s, akan menerima muatan inti
kurang dari 3. Dengan alasan ini, maka diperkenalkan dua parameter variasi yang
berbeda yaitu b
1
untuk muatan yang diterima 1s dan b
2
untuk 2s ke dalam (10-40).
250
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
Telah kita ketahui bahwa fungsi gelombang mirip hidrogen untuk 1s adalah
( ) r a Z
e
a
Z
/
2 / 3
2 / 1
1

,
_

¸
¸
π
. Jika Z untuk 1s diganti b
1
maka fungsi gelombang 1s menjadi:
ƒ =
( ) r a b
o
o
e
a
b
/
2 / 3
1
1
2 / 1
1

,
_

¸
¸
π
(10-54)
Sedang fungsi 2s dengan Z diganti b
2
adalah:
g =
( ) r a b
o
o o
e
a
r b
a
b
/ 2
2 / 3
2
2
2 / 1
2
) 2 ( 4
1

,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
π
(10-55)
Dengan demikian kita dapat mencoba menggunakan fungsi variasi:
(10-56)
Penggunaan muatan berbeda b
1
dan b
2
untuk 1s dan 2s membuat orbital kehilangan
ortogonalitas, dengan demikian (10-56) tak ternormalisasi. Nilai terbaik dari parameter
variasi diperoleh melalui
0
1
·


b
W
dan 0
2
·


b
W
, dengan W adalah energi variasi yang
sering disebut integral variasional . Telah kita pelajari bahwa W =



*
^
*


τ φ φ
τ φ φ
d
d H
(lihat
bab 8). Hasilnya adalah b
1
= 2,686, b
2
= 1,776 dan energi variasi yang dicari adalah W =
−201,2 eV. Harga ini sangat dekat dengan energi litium ground state yang sesungguhnya
yaitu 203,5.
10.9 Momen Magnetik Spin
Ingat bahwa (bab 6) momentum angular orbital L menghasilkan momen magnetik
µ
L
sebesar −(e/2m
e
)L. Atas dasar ini, sangatlah masuk akal jika kita beranggapan bahwa
251
ƒ(1)α(1) ƒ(1)β(1) g(1)α(1)
ƒ(2)α(2) ƒ(2)β(2) g(3)α(3)
ƒ(3)α(3) ƒ(3)β(3) g(3)α(3)

φ =
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
momentum angular spin S dapat menghasilkan momen magnetik µ
s
= −(e/2m
e
)S. Tetapi
perlu juga diketahui, bahwa berbeda dengan momentum angular orbital yang merupakan
fenomena klasik, ternyata momentum angular spin merupakan fenomena relativistik, oleh
karena itu kita tidak boleh begitu saja menganalogikan momen magnetik spin secara
langsung dari momen magnetik orbital. Menurut kalkulasi Dirac dalam quantum
relativistik (yang tidak dibahas disini) nilai momen magnetik spin dalam sistem satuan
internasional adalah:
µ
s
= −g
e

,
_

¸
¸
e
m
e
2
S
Dirac menyatakan bahwa nilai faktor g untuk elektron adalah 2, jadi:
µ
s
= −

,
_

¸
¸
e
m
e
S (10-57)
Karena S = ( ) 1 s s + dan harga bilangan kuantum s = ½ , maka besarnya momen
magnetik spin elektron dalam sistem satuan internasional adalah:
µ
s
= − 3

,
_

¸
¸
e
m
e
2
(10-58)
Dalam kajian yang lebih cermat, ternyata bahwa nilai g
2
tidak tepat = 2, tetapi sedikit
lebih besar (P. Kush, 1966), yaitu:
g
e
= 2 ( 1 +
π
α
2
+
2
2

,
_

¸
¸
π
α
+ . . . . = 2,0023
sedang α didefinisikan sebagai:
α =
c
e
o
πε 4
2
= 0,007297 (10-59)
Sifat feromagnetik pada besi adalah akibat dari momen dipol magnetik elektron.
Dua kemungkinan arah spin elektron dan hubungan momen magnetik spin dengan
sumbunya menghasilkan dua tingkat energi berbeda jika medan magnet eksternal
diaplikasikan. Dalam spektroskopi ESR, orang melakukan pengamatan terhadap transisi
kedua tingkat energi ini. Spektroskopi ESR (Electron Spin Resonance) dikenakan pada
252
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
spesies radikal bebas, atau ion logam transisi yang mempunyai satu atau beberapa
elektron tak berpasangan. Karena adanya elektron tak berpasangan, akibatnya radikal
bebas dan ion logam transisi tertentu mempunyai momen magnetik serta spin elektron
total tidak nol. Itulah sebabnya spektroskopi ESR dapat bekerja atas spesies-spesies
tersebut.
Beberapa inti atom, mempunyai spin dan momen magnetik spin yang tidak nol.
Dalam spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance), pengamatan dilakukan atas
dasar transisi tingkat energi inti untuk sampel yang berada dalam medan magnet
eksternal. Proton dengan spin = ½ adalah kajian utama dalam spektroskopi NMR.
Soal Bab X
1) Hitunglah besarnya sudut yang dibentuk oleh vektor spin S dengan sumbu z untuk
elektron dengan fungsi spin α.
2) (a) Tunjukkan bahwa
2 1
P

kommut dengan Hamiltonian untuk atom litium
253
Bab X Spin Elektron dan prinsip Pauli/
(b) Tunjukkan bahwa
2 1
P

dan
3 2
P

tidak saling kommut.
(c) Tunjukkan bahwa
2 1
P

dan
3 2
P

kommut apabila mereka diaplikasikan pada
fungsi antisimetrik
3) Tunjukkan bahwa
2 1
P

Hermitian
4) Simetrik atau antisimetrik atau buka keduanyakah fungsi berikut:
(a) ƒ(1)g(2)α(1)α(2); (b) ƒ(1)ƒ(2)[α(1)β(2) − β(1)α(2)]
(c) ƒ(1)ƒ(2)ƒ(3)β(1)β(2)β(3) (d) e
−a(r
1
−r
2
)
(e) [ƒ(1)g(2) − g(1)ƒ(2)][α(1)β(2) − α(2)β(1)] (f)
) a(r 2
2 1
2 1
e
r
r
+ −
5) Jelaskan, mengapa fungsi N 1
r a
e

2
r a
e

(r
1
− r
2
) tidak boleh digunakan sebagai
fungsi variasi untuk helium ground state ?
6) Jika elektron mempunyai nilai spin = nol, bagaimana fungsi gelombang order nol
untuk ground state dan first excited state ? (repulsi antar elektron diabaikan)
7. Antisimetrisasi operator
A

didefinisikan sebagai operator yang meng-antisimetriskan
hasil kali fungsi n buah elektron tunggal yang dikalikan dengan
( )
2 / 1
!

n
. Untuk n = 2,
kita akan memperoleh:
) 2 ( ) 1 ( g f A

=

g(2) ) 2 (
g(1) ) 1 (

2
1
f
f
(a) untuk n = 2, nyatakan
A

dalam term
12
P

(b) untuk n = 3, nyatakan
A

dalam term
12
P

,
13
P

dan
23
P

.
8. Turunkan persamaan (10-53) untuk
( ) 1
E
litium dari persamaan (10-52)
===000===
254

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->