Asuhan Keperawatan pada Klien Asma

April 26th, 2009

Pengertian
Asma adalah suatu gangguan yang komplek dari bronkial yang dikarakteristikan oleh periode bronkospasme (kontraksi spasme yang lama pada jalan nafas). (Polaski : 1996). Asma adalah gangguan pada jalan nafas bronkial yang dikateristikan dengan bronkospasme yang reversibel. (Joyce M. Black : 1996). Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronkhi berespon secara hiperaktif terhadap stimulasi tertentu. (Smelzer Suzanne : 2001). Dari ketiga pendapat tersebut dapat diketahui bahwa asma adalah suatu penyakit gangguan jalan nafas obstruktif intermiten yang bersifat reversibel, ditandai dengan adanya periode bronkospasme, peningkatan respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang menyebabkan penyempitan jalan nafas.

Etiologi
Asma adalah suatu obstruktif jalan nafas yang reversibel yang disebabkan oleh : 1) Kontraksi otot di sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan jalan nafas. 2) Pembengkakan membran bronkus. 3) Terisinya bronkus oleh mukus yang kental.

Patofisiologi
Proses perjalanan penyakit asma dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu alergi dan psikologis, kedua faktor tersebut dapat meningkatkan terjadinya kontraksi otot-otot polos, meningkatnya sekret abnormal mukus pada bronkiolus dan adanya kontraksi pada trakea serta meningkatnya

Pada sebagian penderita disertai dengan rasa nyeri dada. pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. selain itu terdapat pula adanya riwayat penyakit atopik seperti eksim. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru didapat tanda-tanda obstruksi jalan nafas. 4) Tingkat IV : a) Klien mengeluh batuk. latihan fisik. dan wheezing. c) Penderita sudah sembuh dan bila obat tidak diteruskan mudah diserang kembali. b) Pemeriksaan fisik dan fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. dermatitis. Manifestasi Klinik Manifestasi klinik pada pasien asma adalah batuk. dan emosi (stress) dapat memacu serangan asma. gangguan difusi gas di tingkat alveoli. . Sebaliknya pada klien dengan asma intrinsik (idiopatik) sering ditemukan adanya faktor-faktor pencetus yang tidak jelas. dalam. faktor yang spesifik seperti flu. Tiga kategori asma alergi (asma ekstrinsik) ditemukan pada klien dewasa yaitu yang disebabkan alergi tertentu. 3) Tingkat III : a) Tanpa keluhan. duduk dengan tangan menyanggah ke depan serta tampak otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras. sedangkan waktu serangan tampak penderita bernafas cepat. distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru. gelisah. sesak nafas dan nafas berbunyi wheezing. 2) Tingkat II : a) Tanpa keluhan dan kelainan pemeriksaan fisik tapi fungsi paru menunjukkan adanya tanda-tanda obstruksi jalan nafas. b) Timbul bila ada faktor pencetus baik didapat alamiah maupun dengan test provokasi bronkial di laboratorium. dyspnoe. b) Banyak dijumpai pada klien setelah sembuh serangan. demam tinggi dan klien dengan riwayat asma. sehingga terjadi penyempitan pada jalan nafas dan penumpukan udara di terminal oleh berbagai macam sebab maka akan menimbulkan gangguan seperti gangguan ventilasi (hipoventilasi). Ada beberapa tingkatan penderita asma yaitu : 1) Tingkat I : a) Secara klinis normal tanpa kelainan pemeriksaan fisik dan fungsi paru.produksi mukus jalan nafas.

latihan fisik. b) Asma pada dasarnya merupakan penyakit obstruksi jalan nafas yang reversibel. Menghilangkan obstruksi jalan nafas b. selain alergi juga dapat terjadi asma campuran yaitu alergi dan non alergi. Penatalaksanaan Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronhiale : a. Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma. infeksi saluran pernafasan. Faktor-faktor seperti udara dingin.5) Tingkat V : a) Status asmatikus yaitu suatu keadaan darurat medis berupa serangan asma akut yang berat bersifat refrator sementara terhadap pengobatan yang lazim dipakai. penderita tampak letih. Pengobatan dengan obat-obatan Seperti : 1) Beta agonist (beta adrenergik agent) 2) Methylxanlines (enphy bronkodilator) 3) Anti kolinergik (bronkodilator) 4) Kortikosteroid . Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas : a. asap (rokok) dan obat-obatan. Jika serangan non alergi asma menjadi lebih berat dan sering dapat menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Klasifikasi Asma Asma dibagi atas dua kategori. gangguan kesadaran. c. emosi dan lingkungan dengan polusi dapat menyebabkan atau sebagai pencetus terjadinya serangan asma. takikardi. sianosis. sedangkan non alergi tidak berhubungan secara spesifik dengan alergen. binatang. Pada asma yang berat dapat timbul gejala seperti : Kontraksi otot-otot pernafasan. yaitu ekstrinsik atau alergi yang disebabkan oleh alergi seperti debu. Klien dengan asma alergi biasanya mempunyai riwayat keluarga dengan alergi dan riwayat alergi rhinitis. makanan. Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan maupun penjelasan penyakit.

Pemeriksaan sputum. kegiatan jasmani. 2) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri.25 mg dalam larutan dextrose 5% diberikan perlahan. 2) Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2. . misalnya : 1) Oksigen 4-6 liter/menit.5 mg atau terbutalin 10 mg) inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata. c. gagal nafas. f. bronkhitis dan fraktur iga. Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0. d. b. Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. metakolin. g. 4) Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. 3) Tes provokasi bronkial seperti : Tes provokasi histamin.Pemeriksaan Penunjang : Beberapa pemeriksaan penunjang seperti : a. atelektasis. alergen. 4) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh. Pemeriksaan eosinofil total dalam darah. Tes provokasi : 1) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus. Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas.5) Mast cell inhibitor (lewat inhalasi) b. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada klien dengan asma adalah pneumotoraks. jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya. Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. 3) Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB. e. c.

Asuhan Keperawatan pada Klien Asma Pengkajian a. muntah. distribusi warna merata 6) RR dan ritme selama satu menit. kering. Pemeriksaan fisik Dada 1) Contour. Palpasi : 1) Temperatur kulit 2) Premitus : fibrasi dada 3) Pengembangan dada 4) Krepitasi 5) Massa 6) Edema Auskultasi . Hangat. 5) Gastro intestinal : adanya mual. alergi debu. keringat dingin. udara dingin 2) riwayat kesehatan sekarang : keluhan sesak napas. 6) Pola aktivitas : kelemahan tubuh. cepat lelah b. tidak ada defresi sternum 2) Diameter antero posterior lebih besar dari diameter transversal 3) Keabnormalan struktur Thorax 4) Contour dada simetris 5) Kulit Thorax . takut. kedalaman pernafasan. pucat atau tidak. Confek. 3) Status mental : lemas. gelisah 4) Pernapasan : perubahan frekuensi. Identitas klien 1) Riwayat kesehatan masa lalu : riwayat keturunan.

Tujuan : . 3) Tes kulit : Untuk menunjukkan adanya anti bodi Ig E yang spesifik dalam tubuh. metakolin. 6) Analisa gas darah dilakukan pada asma berat. c. Diagnosa Keperawatan Diagnosa 1 : Tidak efektifnya bersihan jalan nafas berhubungan dengan akumulasi mukus. test provokasi dilakukan bila tidak dilakukan test spirometri.1) Vesikuler 2) Broncho vesikuler 3) Hyper ventilasi 4) Rochi 5) Wheezing 6) Lokasi dan perubahan suara napas serta kapan saat terjadinya. 5) Pemeriksaan radiologi umumnya rontgen foto dada normal. hiperventilasi dengan udara dingin dan inhalasi dengan aqua destilata. c) Tes provokasi bronkial Untuk menunjang adanya hiperaktivitas bronkus . 4) Pemeriksaan kadar Ig E total dengan Ig E spesifik dalam serum. kegiatan jasmani. Test provokasi bronchial seperti : Test provokasi histamin. Pemeriksaan penunjang 1) Spirometri : Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas. alergen. 8) Pemeriksaan sputum. 7) Pemeriksaan eosinofil total dalam darah. b) Tes provokasi dilakukan bila tidak dilakukan lewat tes spirometri. 2) Tes provokasi : a) Untuk menunjang adanya hiperaktifitas bronkus.

e. misalnya : peninggian kepala tidak duduk pada sandaran. . sakit akut/kelemahan. Diagnosa 2 : Tidak efektifnya pola nafas berhubungan dengan penurunan ekspansi paru. Rasional : Takipnea biasanya ada pada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan selama strest/adanya proses infeksi akut. Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan nafas. Kriteria hasil : Sesak berkurang.Jalan nafas kembali efektif. Kaji / pantau frekuensi pernafasan catat rasio inspirasi dan ekspirasi. Rasional : Peninggian kepala tidak mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi. Observasi karakteristik batuk. Bantu tindakan untuk keefektipan memperbaiki upaya batuk. Rasional : Membebaskan spasme jalan nafas. vital dalam batas normal keadaan umum baik. Tujuan : Pola nafas kembali efektif. mengi dan produksi mukosa. misalnya : wheezing. Auskultasi bunyi nafas. catat adanya bunyi nafas. tak ada fungsi nafas (asma berat). Berikan air hangat. c. Pernafasan dapat melambat dan frekuensi ekspirasi memanjang dibanding inspirasi. khususnya pada klien lansia. ronkhi. b. Intervensi : a. Bronkodilator spiriva 1×1 (inhalasi). batuk berkurang. Kaji pasien untuk posisi yang aman. klien dapat mengeluarkan sputum. Rasional : batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. Rasional : penggunaan cairan hangat dapat menurunkan spasme bronkus. batuk pendek. d. wheezing berkurang/hilang. Kolaborasi obat sesuai indikasi. Bunyi nafas redup dengan ekspirasi mengi (empysema). basah. f. menetap.

wheezing. Kriteria hasil : . 4. Catat upaya pernafasan termasuk penggunaan otot bantu pernafasan / pelebaran nasal. 3. Dorong/bantu pasien dalam nafas dan latihan batuk. 5.Kriteria hasil : Pola nafas efektif. Rasional : Kongesti alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi. bunyi nafas normal atau bersih. Diagnosa 3 : Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat. Rasional : ronki dan wheezing menyertai obstruksi jalan nafas / kegagalan pernafasan.Berikan humidifikasi tambahan misalnya : nebulizer Rasional : memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas.Berikan oksigen tambahan . Tujuan : Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. Auskultasi bunyi nafas dan catat adanya bunyi nafas seperti krekels. Kolaborasi . Kaji frekuensi kedalaman pernafasan dan ekspansi dada. Rasional : dapat meningkatkan/banyaknya sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidak nyaman upaya bernafas. Observasi pola batuk dan karakter sekret. TTV dalam batas normal. Expansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada 2. memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret. 6. Rasional : duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. ekspansi paru mengembang. batuk berkurang. Rasional : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas. Intervensi : 1. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.

4. nafsu makan baik. 2. Intervensi : 1. rambut. 5. Diagnosa 4 : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik. Kolaborasi .Vitamin B squrb 2×1. bising usus 6-12 kali/menit. Rasional : peningkatan pengetahuan klien dapat menaikan partisipasi bagi klien dalam asuhan keperawatan. . Rasional : menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan. 6. . berat badan dalam batas normal. Tujuan : Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Kaji status nutrisi klien (tekstur kulit.Antiemetik rantis 2×1 Rasional : untuk menghilangkan mual / muntah. Timbang berat badan dan tinggi badan. Rasional : defisiensi vitamin dapat terjadi bila protein dibatasi. mukosa bibir lembab. Rasional : menentukan dan membantu dalam intervensi selanjutnya. Anjurkan klien minum air hangat saat makan. Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. tekstur kulit baik.Keadaan umum baik. konjungtiva). . . 3. Rasional : Penurunan berat badan yang signifikan merupakan indikator kurangnya nutrisi.Berikan obat sesuai indikasi. Anjurkan klien makan sedikit-sedikit tapi sering Rasional : memenuhi kebutuhan nutrisi klien. Rasional : air hangat dapat mengurangi mual. klien menghabiskan porsi makan yang disediakan.Konsul dengan tim gizi/tim mendukung nutrisi.

Rasional :meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen. Jelaskan pentingnya istirahat dalam rencana pengobatan dan perlunya keseimbangan aktivitas dan istirahat. badan tidak lemas. Rasional : pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi atau menunduk kedepan meja atau bantal. Rasional : Tirah baring dipertahankan selama fase akut untuk menurunkan kebutuhan metabolik. 2. Diagnosa 5 : Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya berhubungan dengan kurangnya informasi Tujuan : Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. klien dapat beraktivitas secara mandiri. Catat laporan dyspnea peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas. Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas. Bantu aktivitas keperawatan diri yang diperlukan. Berikan kemajuan peningkatan aktivitas selama fase penyembuhan. menghemat energi untuk penyembuhan. Rasional : menurunkan stress dan rangsangan berlebihan meningkatkan istirahat.Kriteria hasil : KU klien baik. Kriteria hasil : Mencari tentang proses penyakit : . Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi. Rasional : menetapkan kebutuhan/kemampuan pasien dan memudahkan pilihan intervensi. 3. 4.Klien mengerti tentang definisi asma . Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat dan atau tidur.Klien mengerti tentang penyebab dan pencegahan dari asma . kekuatan otot terasa pada skala sedang Intervensi : 1. 5.

b. 5.Klien mengerti komplikasi dari asma Intervensi : 1. Tekankan pentingnya melanjutkan batuk efektif atau latihan pernafasan. c. Rasional : kelemahan dan depresi dapat mempengaruhi kemampuan untuk mangasimilasi informasi atau mengikuti program medik. Buat langkah untuk meningkatkan kesehatan umum dan kesejahteraan. Identifikasi tanda atau gejala yang memerlukan pelaporan pemberi perawatan kesehatan. Pengetahuan klien tentang proses penyakit menjadi bertambah. Rasional : upaya evaluasi dan intervensi tepat waktu dapat mencegah meminimalkan komplikasi.. Diskusikan aspek ketidak nyamanan dari penyakit. d. Pola nafas kembali efektif. Jalan nafas kembali efektif. pasien beresiko besar untuk kambuh dari penyakitnya. misalnya : istirahat dan aktivitas seimbang. . Rasional : informasi dapat manaikkan koping dan membantu menurunkan ansietas dan masalah berlebihan. Rasional : selama awal 6-8 minggu setelah pulang. e. dan harapan kesembuhan. Klien dapat melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Rasional : menaikan pertahanan alamiah atau imunitas. Evaluasi a. 4. membatasi terpajan pada patogen. diet baik. lamanya penyembuhan. Kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi. 2. 3. Berikan informasi dalam bentuk tertulis dan verbal.