BAB I PENDAHULUAN

Kehamilan lewat waktu juga biasa disebut serotinus atau postterm pregnancy, yaitu bayi. kehamilan yang berlangsung selama lebih dari 42 minggu atau 294 hari.1 Kehamilan ini merupakan permasalahan dalam dunia obstetrik modern karena terjadi peningkatan akan kesakitan dan kematian Insiden kehamilan postterm antara 4-19 % tergantung pada definisi yang dianut dan kriteria yang dipergunakan dalam menentukan usia kehamilan.2 Sampai saat ini, masih belum ada ketentuan dan kesepakatan yang pasti mengenai penatalaksanaan kehamilan postterm. Masalah yang sering dihadapi pada pengelolaan kehamilan postterm adalah perkiraan usia kehamilan yang tidak selalu dapat ditentukan dengan tepat sehingga janin bisa saja belum matur sebagaimana yang diperkirakan. Ketidakakuratan penentuan usia kehamilan akan menyulitkan kita untuk menentukan apakah janin akan terus hidup atau sebaliknya mengalami morbiditas bahkan mortalitas bila tetap berada dalam rahim.3 Masalah lain dalam penatalaksanaan kasus kehamilan postterm adalah karena pada sebagian besar pasien (± 70 %), saat kehamilan mencapai 42 minggu, didapatkan serviks belum matang/unfavourable dengan nilai bishop yang rendah sehingga tingkat keberhasilan induksi menjadi rendah. Sementara itu, persalinan yang berlarut-larut akan sangat merugikan bayi postterm. Oleh sebab itu, masih menjadi kontroversi sampai saat ini apakah pada kehamilan postterm langsung dilakukan tereminasi/induksi atau dilakukan penanganan ekspektatif sambil dilakukan pemantauan kesejahteraan janin.3

1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Menurut definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetrican and Gynecologist (2004), kehamilan postterm adalah kehamilan berlangsung lebih dari 42 minggu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). Yang dimaksud lengkap 42 minggu ialah 41 minggu 7 hari, jika 41 minggu 6 hari belum bisa dikatakan lengkap 42 minggu. Kehamilan yang terjadi dalam jangka waktu > 40 minggu sampai dengan 42 minggu disebut kehamilan lewat tanggal atau postdate pregnancy.2 2.2 Insidensi Angka kejadian kehamilan lewat waktu (kehamilan postterm) waktu kirakira 10%, bervariasi antara 3,5-14%.1 Data statistik menunjukkan, angka kematian dalam kehamilan lewat waktu lebih tinggi ketimbang dalam kehamilan cukup bulan, dimana angka kematian kehamilan lewat waktu mencapai 5 - 7%. Variasi insiden postterm berkisar antara 2-31,37%.4 2.3 Etiologi Penyebab pasti kehamilan lewat waktu (kehamilan postterm) sampai saat ini belum kita ketahui. Diduga penyebabnya adalah siklus haid yang tidak diketahui pasti, kelainan pada janin (anensefal, kelenjar adrenal janin yang fungsinya kurang baik, kelainan pertumbuhan tulang janin/osteogenesis imperfecta; atau kekurangan enzim sulfatase plasenta). Menurut dr. Bambang Fadjar, SpOG dari Rumah Sakit Asih, Jakarta Selatan, penyebab kehamilan lewat waktu adalah kelainan pada janin sehingga tidak ada kontraksi dari janin untuk memulai proses persalinan. Kelainan janin tersebut antara lain anensephalus, hipoplasia, kelenjar supra renal janin, dan janin

2

2. Teori progesterone. tidak adanya kelenjar hipofisis janin akan menyebabkan kortisol janin tidak diproduksi dengan baik sehingga kehamilan berlangsung lewat bulan. kelainan pada plasenta yang berupa tali pusar pendek dan kelainan letak kehamilan.tidak memiliki kelenjar hipofisa. · Primigravida dan riwayat kehamilan lewat bulan. · Faktor genetik juga dapat memainkan peran. merupakan penyebab yang paling sering. Teori kortisol/ACTH janin. Proses ini selanjutnya berpengaruh terhadap meningkatnya produksi prostaglandin. Pada kasus-kasus kehamilan dengan cacat bawaan janin seperti anensefalus atau hipoplasia adrenal. · Jenis kelamin janin laki-laki juga merupakan predisposisi.4 Patogenesis Penyebab pasti dari kehamilan postterm sampai saat ini masih belum diketahui dengan pasti. · Tidak diketahui.3 2. Rendahnya pelepasan oksitosin dari neurohipofisis wanita hamil pada usia kehamilan lanjut diduga sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya kehamilan postterm.5 Beberapa faktor penyebab kehamilan lewat waktu adalah sebagai berikut: · Kesalahan dalam penanggalan.3 3 . Teori-teori yang pernah diajukan untuk menerangkan penyebab terjadinya kehamilan postterm antara lain: 1. diduga bahwa terjadinya kehamilan postterm adalah karena masih berlangsungya pengaruh progesterone melewati waktu yang semestinya. Teori oksitosin. · Defisiensi sulfatase plasenta atau anensefalus. Berdasarkan teori ini. merupakan penyebab yangjarang terjadi. Peningkatan jumlah kortisol janin akan mempengaruhi plasenta sehingga produksi progesteron berkurang dan memperbesar sekresi estrogen.3 3.

Teori syaraf uterus. lemak di bawah kulit menipis bahkan sampai hilang. gawat janin.3 Kehamilan lewat bulan dapat juga menyebabkan resiko pada ibu.3 4 . dan kelainan neurologik. 3 5. Hasil penelitian ini memunculkan kemungkinan bahwa kehamilan postterm juga dipengaruhi oleh faktor genetik. Rambut dan kuku memanjang dan cairan ketuban berkurang sampai habis. Risiko gawat janin dapat terjadi 3 kali dari pada kehamilan aterm. inersia uteri. Teori herediter. dan masih tingginya bagian terbawah janin. Berdasarkan teori ini.5 Risiko Kehamilan Postterm Risiko kehamilan lewat waktu antara lain adalah gangguan pertumbuhanjanin. Pengaruh herediter terhadap insidensi kehamilan postterm telah dibuktikan pada beberapa penelitian sebelumnya. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian janin. diduga kehamilan postterm terjadi pada keadaan tidak terdapatnya tekanan pada ganglion servikalis. lama-lama kulit janin dapat mengelupas dan mengering seperti kertas perkamen. kesalahan letak. sampai kematian janin dalam rahim. hipoglikemia. dan moulding (moulage) kepala kurang. Akibat kekurangan oksigen akan terjadi gawat janin yang menyebabkan janin buang air besar dalam rahim yang akan mewarnai cairan ketuban menjadi hijau pekat. 6 2. Komplikasi yang dapat mungkin terjadi pada bayi ialah suhu yang tidak stabil. Sehingga sering dijumpai partus lama. tali pusat pendek. Kitska dkk (2007) menyatakan dalam hasil penelitiannya bahwa seorang ibu yang pernah mengalami kehamilan postterm akan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kehamilan postterm pada kehamilan berikutnya. dan perdarahan postpartum.1 Kulit janin akan menjadi keriput. seperti pada kelainan letak. distosia bahu. janin besar.4. polisitemia. antara lain distosia karena aksi uterus tidak terkoordinir. Pada saat janin lahir dapat terjadi aspirasi (cairan terisap ke dalam saluran napas) air ketuban yang dapat menimbulkan kumpulan gejala MAS ( Meconeum Aspiration Syndrome).

Riwayat Haid Pada dasarnya.2. Ibu harus yakin betul dengan HPHT-nya. informasi yang tepat mengenai lamanya kehamilan menjadi sangat penting. jika berdasarkan riwayat haid.6 Diagnosis Meskipun diagnosis kehamilan postterm berhasil ditegakkan pada 4-19% dari seluruh kehamilan. Menurut Mochtar dkk (2004). Tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir. Riwayat haid dapat dipercaya jika telah memenuhi beberapa kriteria. 5 . Namun sebaliknya. diagnosis kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan hanya ± 30 persen. pemberian intervensi/terminasi secara terburu-buru juga bisa memberikan dampak yang merugikan bagi ibu maupun janin. pada penegakan diagnosis kehamilan postterm. Diagnosis kehamilan postterm berdasarkan HPHT dapat ditegakkan sesuai dengan definisi yang dirumuskan oleh American College of Obstetricans and Gynecologist (2004). Hal ini disebabkan karena semakin lama janin berada di dalam uterus maka semakin besar pula risiko bagi janin dan neonatus untuk mengalami morbiditas maupun mortalitas. sebagian diantaranya kenyataannya tidak terbukti oleh karena kekeliruan dalam menentukan usia kehamilan.2 Permasalahan sering timbul apabila ternyata HPHT ibu tidak akurat atau tdak bisa dipercaya. Siklus 28 hari dan teratur.2 1. diagnosis kehamilan postterm tdaklah sulit untuk ditegakkan apabila keakuratan HPHT ibu bisa dipercaya. yaitu 3: a.2 Oleh sebab itu. yaitu kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minngu (294 hari) yang terhitung sejak hari pertama siklus haid terakhir (HPHT). c. b.

ukuran diameter biparietal (biparietal diameter) dan panjang femur (femur length) memberikan ketepatan ± 7 hari dari taksiran persalinan. Telah lewat 22 minggu sejak terdengarnya DJJ pertama dengan stetoskop Laennec. Telah lewat 32 minggu sejak DJJ pertama terdengar dengan Doppler d. Ukuranukuran biometri janin pada trimester III memiliki tingkat variabilitas yang tinggi shingga tingkat kesalahan estimasi usia kehamilan pada trimester ini juga menjadi tinggi. 3.2. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa penentuan usia kehamilan melalui pemeriksaan USG memiliki tingkat keakuratan yang lebih tinggi disbanding dengan metode HPHT. maka usia kehamilan yang didapatkan akan semakin meningkat akurat sehingga kesalahan dalam mediagnosa kehamilan postterm akan semakin rendah. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan 6 . Telah lewat 24 minggu sejak dirasakan gerak janin pertama kali c. Pada usia kehamilan antara 16-26 minggu.67 minggu. Tingkat kesalahan estimasi tanggal perkiraan persalinan jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester 1 (crown-rump length) adalah ± 0. Riwayat Pemeriksaan Antenatal Pernol dkk (2007) menyatakan bahwa kehamilan dapat dinyatakan sebagai kehamilan postterm bila didapat 3 atau lebih dari 4 kriteria hasil pemeriksaan sebagai berikut:7 a.7 Semakin awal pemeriksaan USG dilakukan. Telah lewat 36 minggu sejak tes kehamilan positif b. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG) Penggunaan pemeriksaan USG untuk menentukan usia kehamilan telah banyak menggantikan metode HPHT dalam mempertajam diagnose kehamilan postterm. 7 Pemeriksaan usia kehamilan berdasarkan USG pada trimester III menurut hasil penelitian Cohn dkk (2010) memiliki tingkat keakuratan yang lebih rendah dibanding metode HPHT maupun USG trimester I dan II.

ini menunjukkan bahwa kehamilan sudah postterm.7 4. Pengecatan nile blue sulphate dapat melihat sel lemak dalam cairan amnion. Tes Kesejahteraan janin Kejadian kehamilan postterm tidak dapat diprediksi. perbandingannya menjadi 1. Pada usia kehamilan 41-42 minggu.3 b. 3 5. Pemeriksaan ini tidak dapat dipakai untuk menentukan kehamilan postterm tetapi hanya digunakan untuk menentukan apakah janin cukup usia/matang untuk dilahirkan. Keakuratan penghitungan usia kehamilan pada trimester III saat ini sebenarnya dapat ditingkatkan dengan melakukan pemeriksaan MRI terhadap profil air ketuban. Perbandingan kadar lesitin-spingomielin (L/S). Aktivitas tromboplastin cairan amnion (ACTA). Bila didapatkan ACTA antara 42-46 detik. didapatkan ACTA < 45 detik.6 minggu. Hasil penelitian terdahulu berhasil membuktikan bahwa cairan amnion mempercepat waktu pembekuan darah. Pemeriksaan cairan amnion a. Sitologi cairan amnion. Pada usia kehamilan ± 32 minggu. Sekali terdiagnosa. ACTA berkisar antara 45 – 65 detik sedangkan pada usia kehamilan > 42 minggu.jika berdasarkan pemeriksaan USG trimester III bahkan bisa mencapai ± 3.2:1 dan pada kehamilan genap bulan menjadi 2:1. Apabila jumlah sel yang mengandung lemak melebihi 10 %. Perbandingan kadar L/S pada usia kehamilan sekitar 22-28 minggu adalah sama (1:1). 3 d. maka usia kehamilan 39 minggu atau lebih. Aktivitas ini meningkat dengan bertambahnya usia. 3 c.kehamilan dapat diterminasi dengan induksi persalinan atau 7 . Amnioskopi. Melalui amnioskopi yang dimasukkan ke kanalis yang sudah membuka dapat dinilai keadaan air ketuban didalamnya. maka kehamilan diperkirakan sudah berusia 36 minggu dan apabila jumlahnya mencapai 50 % atau lebih.

2 b. kecuali secara sangat tidak langsung. Hasil biasanya belum tersedia sampai beberapa jam setelah pengiriman sampel tes. kadang-kadang tidak menaruh perhatian atau datang terlambat saat tidak ada gerakan janin. periode kehamilan harus diketahui. 2 8 . Jika dipilih untuk menunggu sampai terjadinya persalinan. Nilai estriol rendah dalam hal kesehatan janin harus dipikirkan keadaan defisiensi sulfatase plasenta. karena rentang nilai normal yang luas. pemeriksaan serial dibutuhkan untuk menggambarkan kesimpulan bermakna. telah ditemukan berhubungan dengan kesejahteraan janin. Sementara ibu hamil lainnya tidak dapat merasakan gerakan janin sama sekali dan untuk mereka metode ini sangat tidak cocok. a. Lebih jauh. Hal tersebut mengindikasikan SSP dan jalur sensori somatomotorik yang intak. Persepsi ibu terhadap gerakan janin yang diprovokasi suara (mp. Kurva pergerakan janin Aktivitas janin dinilai sebagai pergerakan janin.SPFM) Janin normal menunjukkan fleksi-ekstensi gerakan extremitas atau refleks positif terhadap respon stimulus vibroakustik. Tehnik monitoring yang telah diperkenalkan secara luas bahwa hitung 10 gerakan janin dimana 10 episode aktivitas janin diperkirakan dalam periode 12 jam. Persepsi ibu tersebut berhubungan dengan NST (non stress test) reaktif dan mungkin lebih berarti dirumah sakit-rumah sakit dimana fasilitas untuk menampilkan NST terbatas. kesejahteraan janin harus dimonitor dengan pemeriksaan yang tersedia. 2 c. Hasil meliputi status janin terkini dari beberapa hari sebelumnya dan tidak prognostik untuk kesehatan janin. Metode biokimia Untuk mendapatkan interpretasi hasil yang tepat.demikian mencegah tindakan apapun yang mungkin diambil untuk menurunkan resiko hasil akhir janin yang jelek. Wanita ini mungkin membawa janin dengan gangguan autosomal resesif pada ichtiosis kongenital.manajemen konservatif sampai dimulainya persalinan normal. Ibu-ibu hamil yang sibuk atau kurang pengetahuan.

suspisius dan abnormal telah dideskripsikan oleh FIGO (Federation International of Obstetricians). Kalau janin tidak reaktif. 2 e. deselerasi terisolasi yang <15 bpm dari BSL dan berakhir <15 detik atau <30 detik mengikuti akselerasi.d. merupakan indikasi kemungkinan compromise dan ini merupakan indikasi untuk mengakhiri kehamilan. Oligohidramnion berat sering ditemukan pada agenesis renal bilateral. Dengan menurunnya fungsi plasenta. variabilitas 1025 bpm. tidak ada deselerasi dan 2 akselerasi ≥15 bpm diatas BSL selama 15 detik. tidak signifikan terhadap fetal compromise. Normal reaktif DJJ yaitu dalam 10 menit. suatu jalan yang berguna untuk menurunkan jumlah kurva non-reaktif dan untuk memperpendek waktu test. Pada kurva reaktif dengan variabilitas BSL yang bagus. FAST tidak menampilkan tekanan kontraksi uterus dan begitu juga tidak memperlihatkan situasi yang potensial compromise dalam persalinan tetapi menghasilkan kurva reaktif yang dapat dibandingkan dengan NST dan hasil akhir perinatal yang mirip antara kurva yang reaktif secara spontan atau hasil akhir FAST. Definisi DJJ yang normal. 2 f. BSL antara 110 dan 180 bpm. Pemeriksaan ini bersifat invasif. kurva harus dilanjutkan minimal ≤ 40 menit sejak konfirmasi kurva tersebut adalah nonreaktif. Jika akselerasi tidak terjadi dalam 10 menit pertama. walaupun dengan stimulasi janin atau jika menunjukkan deselerasi >15 bpm. mengharuskan pemeriksaan terbatas di tempat tidur dan membutuhkan waktu sebentar untuk opname. Pemeriksaan volume cairan amnion Urin janin memberi pengaruh signifikan terhadap cairan amnion. NST NST adalah rekaman DJJ (denyut jantung janin) antepartum secara kontinyu pada KTG (kardiotokografi) selama 20-40 menit untuk mengevaluasi kesejahteraan janin. perfusi ke otak dan jantung dihubungkan dengan 9 . Contraction Stress Test (CST) atau FAST FAST (Fetal Acoustic Stimulation Test) adalah stimulasi vibroakuistik yang digunakan untuk merangsang akselerasi DJJ.

Fetal compromise karena penurunan fungsi plasenta secara gradual dapat dimonitor dengan penilaian volume cairan amnion. maka perlu dilakukan pemeriksaan ulang 4-6 jam kemudian dan keputusan berdasarkan skor terakhir. Ini mengarah pada reduksi pembentukan urin janin dan demikianlah oligohidramnion menimbulkan komplikasi retardasi pertumbuhan intrauterin yang berat. Skor biofisik menurut Manning Variabel Biofisik Gerak Nafas Gerak Janin Tonus Janin Skor 2 Dalam 30 menit sedikitnya ada gerak napas yang berlangsung 30 menit Dalam 30 menit sedikitnya 3 gerak janin yang terpisah Sedikitnya ada gerak ekstensi disusul oleh fleksi sempurna atau gerak membuka dan menutup Skor 0 Tidak ada gerak nafas yang lebih dari 30 detik/lebih Gerak kurang dari 3 kali Tidak ada gerak/ekstensi lambat disusul fleksi partial 10 . tidak ada nilai tengah. deselerasi >15 bpm yang berakhir >15 detik atau >30 detik jika diikuti dengan akselerasi. NST non-reaktif walaupun dengan pemeriksaan FAST dan test ulang. 2 g. Indikasi untuk terminasi adalah AFI< 6. mekanisme umum terjadinya fetal compromise tampak pada penekanan tali pusat. tonus janin. Evaluasi volume dengan palpasi tidak dapat dipercaya sepenuhnya sehingga pemeriksaan dengan ultrasound menjadi lebih objektif. Biophysical profile (BPP) BPP terdiri dari pemeriksaan ultrasound untuk mengevaluasi gerakan janin. Jika skor 6.penurunan perfusi ke sistem organ lain meliputi ginjal. Skor 8 atau 10 merupakan indikasi kondisi janin yang baik. gerakan nafas janin dan kedalaman kantong vertical cairan amnion terbesar. Masing-masing variable diberi nilai 0 atau 2. Skor 4 atau kurang adalah indikasi untuk persalinan. digabungkan dengan NST. Pada kehamilan postterm. 2 Tabel 1. Modified BPP (mBPP) dimana hanya parameter ultrasound yang dievaluasi (tanpa NST) sama-sama dapat dipercaya. Tes ulang pada kehamilan postterm sebaiknya 2 kali per minggu.

11 . pasien harus memenuhi beberapa syarat. 2. Perpanjang pemeriksaan selama 120 menit. Dalam mengakhiri kehamilan dengan induksi oksitosin. dilakukan terminasi kehamilan. -Pada kehamilan 36 minggu atau lebih dilakukan terminasi. risiko rendah untuk terjadi asfiksia kronis 8 Janin normal. Induksi dengan oksitosin. Bila ada hidramnion dilakukan terminasi kehamilan Pemeriksaan diulang tiap 4-6 jam. Induksi partus dengan pemasangan balon kateter Foley. -Pada kehamilan 36 minggu dengan L/S rasio < 2. risiko rendah untuk terjadi asfiksia kronis 6 4 Kecurigaan adanya asfiksia kronis Kemungkinan adanya asfiksia kronis Penatalaksanaan Tes diulang setiap minggu. 0-2 Kemungkinan pasti adanya asfiksia kronis 2. ada kemunduran his. ulangi 24 jam. Pada DM dan postterm tes diulang 2 kali seminggu Bila tidak ada oligohidramnion. Cara pengakhiran kehamilan tergantung dari hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dan penilaian skor pelvik (pelvic score=PS).8 Ada beberapa cara untuk pengakhiran kehamilan. pemeriksaan diulang seperti diatas. Bila tetap atau menurun. antara lain: 1. antara lain kehamilan aterm. 3. Bedah seksio sesaria.NST reaktif Cairan ketuban tangan Dalam 30 menit sedikitnya ada 2 akselerasi selama 15 detik dengan amplitudo 15 kali/menit Sedikitnya terdapat 1 kantung amnion dengan ukuran vertikal > 1cm Kurang dari 2 akselerasi atau ada akselerasi tetapi kurang dari 15 kali/menit Kantung amnion < 1 cm Tabel 2.7 Penatalaksanaan Prinsip dari tata laksana kehamilan lewat waktu ialah merencanakan pengakhiran kehamilan. Bila ada oligohidramnion. Interpretasi skor Profil Biofisik dan Penatalaksanaannya Skor Interpretasi 10 Janin normal. terminasi. Bila menurun terminasi.

kemudian lakukan pengukuran PS lagi. dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam 500 cc Dextrose 5%. Bila PS > 5. Tetesan infus dimulai dengan 8 tetes/menit. mulai mendatar. Namun. dapat dilakukan drip oksitosin Bila PS ≤ 5. maka induksi persalinan kemungkinan besar akan berhasil. janin presentasi kepala. dan mulai membuka).8 BAB III 12 . Selama pemberian infus. dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria. Tabel 3. kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Selain itu. tetesan infus dipertahankan hingga persalinan.ukuran panggul normal. Pelvic score Skor Pendataran serviks Pembukaan serviks Penurunan kepala dari Hodge III Konsistensi serviks Posisi serviks • • • 0 0-30% 0 -3 Keras Posterior 1 40-50% 1-2 -2 Sedang Searah sumbu 2 60-70% 3-4 -1. Setelah timbul his adekuat. tidak ada disproporsi sefalopelvik. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul. serviks sudah matang (porsio teraba lunak.0 Lunak anterior 3 80% 5-6 +1 +2 jalan lahir Bila nilai pelvis >8. jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul. lalu dinaikkan tiap 15 menit sebanyak 4 tetes/menit sampai 40 tetes/menit.dapat dilakukan pematangan servik terlebih dahulu. pengukuran pelvik juga harus dilakukan sebelumnya.

gerakan anak masih dirasakan. DM. TP (14 – 11 – 2012) : Ny.59. dan hipertensi. hati. Os mengaku hamil anak pertama dan tidak pernah mengalami keguguran.ginjal. paru. Keluhan Utama Os mengaku kehamilannya telah lewat bulan Riwayat Penyakit Sekarang Nyeri perut menjalar ke pinggang (+) Keluar lendir bercampur darah dari kemaluan (+) Keluar air-air dari kemaluan (-) HPHT (07 – 02 – 2012). M : 27 tahun : Islam : SMA : Ibu Rumah Tangga : Komp.30 melalui IGD RS Muhammadiyah Palembang dengan keluhan kehamilan telah lewat bulan.LAPORAN KASUS Identitas Pasien Nama Pasien Umur Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Nomor Rekam Medik Anamnesis Os masuk kamar bersalin Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang pukul 09.22 : 10.Perum Mentai Rt.82 Riwayat Penyakit Dahulu Os mengaku tidak pernah mengalami penyakit jantung. 13 .

Riwayat Penyakit Keluarga Os mengaku tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular.6 tahun 14 . paru dalam batas normal : status obstetrikus : status obstetrikus : 1. keturunan dan kejiwaan. Riwayat Haid Usia menars Siklus haid Lama haid Nyeri haid : 12 tahun : 28 hari : 3-4 hari : (-) Riwayat Perkawinan Lama Pernikahan Usia waktu nikah Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Pernafasan Suhu Tinggi badan Berat badan Mata Leher Thorak Abdomen Genitalia : Baik : Compos Mentis : 100/70 : 84 x/menit : 18 x/menit : 36 0C : 161 cm : 55 kg : konjunctiva tidak anemis.6 tahun : 25. sclera tidak ikterik : pembesaran tiroid (-) : jantung dalam batas normal.

lunak. His : Ada. L3 : Teraba massa besar. . Rencana .Ekstremitas Status Obstetrikus Abdomen : edema (-). 15 . TFU 1 jari dibawh processus xiphoideus (34 cm). L4 : Bagian terbawah janin sudah masuk PAP. Frekuensinya 2x tiap 10 menit selama 30 detik. keras. H II. bulat. Sikatrik (-). Linea Mediana hiperpigmentasi. H : II TBJ : 3565 gr.Periksa laboratorium : darah lengkap. Teraba tonjolan ireguler di sebelah kiri.Observasi kesejahteraan ibu dan janin .Observasi kemajuan persalinan .Induksi dengan oksitosin 1 ampul gtt XV x/menit. DJJ : 141 x/menit Genitalia VT : Ø 2 cm. ketuban (+). Diagnosa G1P0A0 hamil 42-43 minggu dengan oligohidramnion. Bila his adekuat naikkan gtt XX x/menit. L2 : Teraba daerah yang keras dan rata di sebelah kanan. janin tunggal hidup. Palpasi : L1 : Teraba massa bulat lebar. peresentasi kepala. inpartu kala 1 fase laten dengan DKP. portio tebal. reflex patella (+/+) Inspeksi : Perut membuncit sesuai dengan keadaan wanita hamil. teraba kepala.

O : Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu His DJJ PD : Baik : Compos Mentis : 110/70 mmHg : 80 x/menit : 22 x/menit : 36.200/cmm. LED : 81 mm/jam.30 WIB Anamnesis S : Os mengeluh nyeri perut menjalar ke pinggang hilang timbul.Hasil Lab HB : 11. Bt : 2’/menit. janin tunggal hidup.Observasi kesejahteraan ibu dan janin .1 g/dl. BSS : 94 mg/dl. portio tebal. ketuban (+). A : G1P0A0 hamil 42-43 minggu.2 0C : 3 x tiap 10 menit selama 25 detik : 132 x/menit : Ø 2 cm. inpartu kala 1 fase laten dengan oligohidramnion dan DKP. O : Keadaan umum Kesadaran Tekanan Darah : Baik : Compos mentis : 110/80 mmHg 16 . Ct : 8’/menit. Ht : 33%. Trombosit : 18.00 WIB S : Os mengeluh nyeri perut menjalar ke pinggang hilang timbul. 24 – 11 – 2012 09.700/ uL. P : . Leukosit 17. Kepala H II. peresentasi kepala. Diff : 1/0/0/77/16/6.11 – 2012 13.Lapor dokter dan beliau menginstruksikan apabila his adekuat diberikan IVFD RL + 1 ampul induxin gtt XX x/menit 24 .

35 WIB. kental dan bau. Ketuban (+).8 37.15 WIB. PB 52 cm. -Rencana operasi SC jam 14.8 Kontraksi Uterus + + Perdarahan aktif Aktif Tifut 3 jari atas pusat 3 jari atas pusat 17 . A : G1P0A0 hamil 42-43 minggu. janin tunggal hidup. -Persiapan operasi 24 – 11 – 2012 14. 24 – 11 – 2012 15. LK 36 cm.3 0 TD 110/70 110/70 N 97 96 RR 21 21 T 37. portio tebal. Laporan Pasca Operasi Jam 15. ketuban hijau (+). P : -Observasi kesejahteraan ibu dan anak -Lapor dokter dan beliau menginstruksikan untuk menghentikan induksi oksitosin dan diganti dengan IVFD RL gtt XX x/menit.3 0C : 2 x tiap 10 menit selama 20 detik : 149 x/menit : 2 cm. A/S 6/8.05 WIB Operasi selesai dan os diantar ke bangsal pukul 15.1 5 15.50 WIB Lahir bayi laki-laki dengan BB 3900 gr. peresentasi kepala. kepala H II. inpartu kala 1 fase laten memeanjang gagal drip dengan oligohidramnion dan DKP.Nadi Pernafasan Suhu His DJJ PD : 82 x/menit : 24 x/menit : 36.

Evaluasi keadaan umum dan tanda vital ibu .3 0 17.IVFD RL + 2 amp oksitosin selama 12 jam gtt XX/mnt selanjutnya beri RL kosong 18 .2 0C Tifut : 1 jari atas pusat Lochia rubra (+) A : P1A0 post SC a/i oligohidramnion + DKP P : .2 37 36.0 0 110/60 110/70 110/70 110/70 110/60 110/60 100 98 96 88 83 84 22 22 21 21 21 21 37.4 5 16.0 0 17.Cek Hb post operasi .Diet bebas (anestesi spinal) .5 37.3 36.3 0 18.00 WIB S : os mengeluh nyeri bekas operasi O : KU : Baik Kesadaran : Compos Mentis TD : 100/70 mmHg Nadi : 82 x/menit Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36.Kateter menetap 24 jam .5 37.0 0 16.4 + + + + + + Aktif aktif aktif Aktif aktif aktif 2 jari atas pusat 2 jari atas pusat Sejari diatas pusat Sejari diatas pusat Sejari diatas pusat Sejari diatas pusat 24 – 11 – 2012 18.15.Imobilisasi 24 jam (anestesi spinal) .

Metronidazole 3x1/IV (skin test) .Tramal supp 4x1 .Ceftriaxone 2x1/IV .Lactamam tab 3x1 19 . 3x1 .Alinamin inj.Evaluasi keadaan umum dan tanda vital ibu .Alinamin inj.2 0C Tifut : 1 jari atas pusat Lochia rubra (+) Hasil Lab : Hb : 11 g/dl A : P1A0 post SC a/i oligohidramnion + DKP P : .Metronidazole 3x1/IV .00 WIB S : os mengeluh nyeri bekas operasi O : KU : Baik Kesadaran : Compos Mentis TD : 110/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36.Lactamam tab 3x1 25 .IVFD RL + 2 amp oksitosin selama 12 jam gtt XX/mnt selanjutnya beri RL kosong .11 – 2012 06. 3x1 .Ceftriaxone 2x1/IV (skin test) .Diet bebas (anestesi spinal) .Imobilisasi 24 jam (anestesi spinal) ..Kateter menetap 24 jam (up) .Pronalges supp 3x1 (anal) .

Tramal supp 4x1 .Rencana pulang besok 20 .Ciprofloxacin tab 2x1 .Ganti obat oral : .Asam Mefenamat tab 3x1 .1 0C Tifut : 1 jari bawah pusat Lochia rubra (+) A : P1A0 post SC a/i oligohidramnion + DKP P : .IVFD RL + 2 amp oksitosin selama 12 jam gtt XX/mnt selanjutnya beri RL kosong (habis up) .26 – 11 – 2012 07.Be comp C 1x1 .Diet bebas (anestesi spinal) .00 WIB S : os mengeluh nyeri bekas operasi O : KU : Baik Kesadaran : Compos Mentis TD : 110/60 mmHg Nadi : 82 x/menit Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36.Imobilisasi 24 jam (anestesi spinal) .Alinamin 3x1 .Lactamam 3x1 .Evaluasi keadaan umum dan tanda vital ibu .

00 WIB S : os mengeluh nyeri bekas operasi O : KU : Baik Kesadaran : Compos Mentis TD : 110/80 mmHg Nadi : 80 x/menit Pernafasan : 22 x/menit Suhu : 36.Tramal supp 4x1 21 .Boleh pulang .Asam Mefenamat tab 3x1 .Alinamin 3x1 .Kontrol ulang 1 minggu setelah pulang .Lactamam 3x1 .Ganti Perban Opsite .Diet bebas (anestesi spinal) .Ciprofloxacin tab 2x1 .Be comp C 1x1 .Ganti obat oral : .2 0C Tifut : 2 jari bawah pusat Lochia rubra (+) A : P1A0 post SC a/i oligohidramnion + DKP P : .27 – 04 – 2012 06.

Berdasarkan HPHT pada pasien ini usia kehamilannya lebih dari 42 minggu yang berarti kehamilan lewat waktu (postterm pregnancy). yaitu tanggal 07 – 02 – 2012. 4. yaitu : a. Riwayat haid dapat dipercaya jika telah memenuhi beberapa kriteria. peresentasi kepala. peresentasi kepala. Menurut Mochtar dkk (2004).30 WIB kiriman IGD RS Muhammadiyah Palembang dengan diagnosa masuk G1P0A0 hamil 42-43 minggu.1 Penegakan Diagnosis Pasien ini didiagnosa dengan G1P0A0 hamil 42-43 minggu. janin tunggal hidup.BAB IV PEMBAHASAN Telah dilaporkan sebuah kasus dari seorang pasien usia 27 tahun yang masuk ke KB RS Muhammadiyah Palembang Bari pada tanggal 24 November 2012 pukul 09. inpartu kala 1 fase laten dengan oligohidramnion dan DKP. Ibu harus yakin betul dengan HPHT-nya b. Tidak minum pil anti hamil setidaknya 3 bulan terakhir. Taksiran persalinannya adalah tanggal 14 – 11 – 2012. diagnosis kehamilan postterm memiliki tingkat keakuratan hanya ± 30 persen.Tinggi fundus uteri 3 jari bawah processus xiphoideus (34 cm) dengan taksiran berat janin 3565 gram. inpartu kala 1 fase laten dengan oligohidramnion dan DKP. jika berdasarkan riwayat haid. Siklus 28 hari dan teratur c. 22 . janin tunggal hidup. Diagnosis terhadap pasien ini diperkuat dari HPHT.

yaitu sekitar 1000 ml dan menurun menjadi sekitar 800 ml pada usia kehamilan 40 minggu. Terjadinya kehamilan postterm juga dihubungkan dengan perubahan mekanisme fisiologik yang mengontrol onset persalinan. Penurunan jumlah cairan amnion berlangsung terus menerus menjadi sekitar 480 ml. maka merupakan indikasi adanya oligohidramnion. pada kehamilan postterm terjadi peningkatan hambatan 23 . Pada manusia. dan 44 minggu. yang masing masing menunjukkan jalur akhir yang umum yang dapat memicu kontraksi miometrium. Dari hasil pemeriksaan USG oleh dokter di Poli KIA didapatkan bahwa pada pasien ini sudah terjadi oligohidramnion. Penurunan jumlah cairan amnion pada kehamilan postterm berhubungan dengan penurunan produksi urin janin. 250 ml. Bila nilai AFI turun hingga 5 cm atau kurang. hipoplasia primer adrenal janin dan defisiensi sulfatase pada plasenta juga dapat menyebabkan penurunan produksi estrogen yang nantinya akan memperlambat persalinan dan kegagalan pematangan serviks yang normal. Inisiasi simetris PG dihasilkan dari rantai kompleks kejadian yang terjadi pada janin. Jumlah cairan amnion mencapai puncaknya pada usia kehamilan 38 minggu. Pada kehamilan postterm terjadi perubahan kuantitas cairan amnion. pituitari dan kelenjar adrenalin serta plasenta. Dilaporkan berdasarkan pemeriksaan Doppler velosimetri. Salah satu metode yang cukup popular adalah pengukuran diameter vertical dari kantong amnion terbesar pada setiap kuadran dari 4 kuadran uterus.Pada kasus ini penegakan diagnosis dengan menggunakan HPHT sudah tepat dikarenakan pada pasien ini yakin terhadap HPHT-nya yaitu pada tanggal 07 – 02 – 2012 dan siklus haidnya teratur yaitu 28 hari selama 3-4 hari. 43. Hasil penjumlahan keempat kuadran tersebut dikenal dengan sebutan indeks cairan amnion (Amnionic Fluid Index/AFI). hingga 160 ml pada usia kehamilan 42. Pasien mengaku ini kehamilan pertama dan tidak pernah menggunakan pil kontrasepsi. dimana membutuhkan keadaan normal dan pelepasan hormon yang sesuai di otak janin. Etiologi terjadinya kehamilan postterm diperkirakan karena menurunnya produksi prostaglandin E2 (PGE2) dan PGF2α di amnion dan desidua. Estimasi jumlah cairan amnion dapat diukur dengan pemeriksaan USG.

aliran darah arteri renalis janin sehingga dapat menyebabkan penurunan jumlah urin janin dan pada akhirnya menimbulkan oligohidramnion. lalu dinaikkan tiap 15 menit sebanyak 4 tetes/menit sampai 40 tetes/menit. tetesan infus dipertahankan hingga persalinan. dan didapatkan pembukaan 1 cm. dapat diberikan infus drip oksitosin 5 IU ulangan. pituitari dan kelenjar adrenalin serta plasenta. dimana membutuhkan keadaan normal dan pelepasan hormon yang sesuai di otak janin. Pada pukul 14. Jika his adekuat yang diharapkan tidak muncul. Pada pukul 13. Terjadinya kehamilan postterm juga dihubungkan dengan perubahan mekanisme fisiologik yang mengontrol onset persalinan.00 WIB dilakukan pemeriksaan dalam kembali untuk menilai kemajuan persalinan. Pada kasus ini induksi persalinan gagal dikarenakan pada kehamilan postterm diperkirakan terjadi penurunan produksi prostaglandin E2 (PGE2) dan PGF2α di amnion dan desidua. Pasien datang ke kamar bersalin pada pukul 09. Namun.2 Penatalaksanaan Pada kasus ini dilakukan induksi persalinan Induksi persalinan dilakukan dengan oksitosin 5 IU dalam 500 cc D5%. 24 . Inisiasi simetris PG dihasilkan dari rantai kompleks kejadian yang terjadi pada janin.35 WIB dilakukan pemeriksaan dalam kembali. dan didapatkan pembukaan tetap yaitu 1 cm. Tidak didapatkan kemajuan persalinan dengan kata lain induksi persalinan gagal. kesejahteraan janin tetap diperhatikan karena dikhawatirkan dapat timbul gawat janin. Tetesan infus dimulai dengan 15 tetes/menit. 4. yang masing masing menunjukkan jalur akhir yang umum yang dapat memicu kontraksi miometrium.30 WIB dengan pembukaan 1 cm dan direncanakan untuk persalinan pervaginam dengan cara induksi terlebih dahulu. Setelah timbul his adekuat. Induksi persalinan dengan menggunakan oksitosin dilanjutkan (2 kolf RL + 1 ampul oksitosin gtt XX x/m). jika infus pertama habis dan his adekuat belum muncul. dapat dipertimbangkan terminasi dengan seksio sesaria. Selama pemberian infus.

Pada kasus ini didapatkan keadaan yang mendukung untuk dilaksanakan terminasi dengan cara operasi sesar dikarenakan setelah dilakukan induksi persalinan tidak didapatkan kemajuan persalinan selain itu usia kehamilan yang telah lewat waktu ditambah dengan oligohidramnion memperkuat untuk dilaksanakan operasi pada kasus ini dengan mempertimbangkan keadaan janin. Pada kehamilan dan persalinan normal. faktor serviks. atau karena gangguan pada keduanya yang akan mengarah tidak hanya pada persalinan dan pematangan serviks yang lama tapi juga efisiensi persalinan yang terganggu. karena kehamilan itu sendiri.Persalinan terdiri dari: kontraksi miometrium yang menyebabkan pendataran (effesment) dan dilatasi serviks sehingga memungkinkan terjadinya ekspulsi janin. Jadi kehamilan bisa lebih lama/memanjang. terjadi transisi pada struktur serviks. 25 . Lebih dulu dalam persalinan. dimana serviks mengalami perubahan yang signifikan dalam bentuk dan konsistensi. miometrium dan serviks harus bekerja secara selaras.

Selain itu pemeriksaan untuk memantau kesejahteraan janin belum dilaksanakan.BAB V KESIMPULAN 1. Pelaksanaan terminasi kehamilan dengan cara operasi sesar pada kasus ini sudah tepat karena pada kasus ini tidak terjadi kemajuan persalinan setalah dilakukan induksi. 26 . 2. dan oligohidramnion. Penegakan diagnosa possterm pada kasus ini memiliki kelamahan karena ditegakkan hanya berdasarkan HPHT dan pemeriksaan USG. kehamilan postterm. 3. yaitu kehamilan postterm dan oligohidramnion. Induksi persalinan pada kasus ini secara teoritis merupakan tindakan yang telah sesuai dengan indikasi.

2. Mochtar. Am J Obsetet Gynecol. New York. hal. KEHAMILAN LEWAT BULAN (Serotinus). Bambang. 2005. Wiknjosastro H.I. 2010.N. Vol.A.Daftar Pustaka 1. Postmatur. 2008. 317. Presentasi kasus kehamilan postterm. Department of Obstetrics & Gynaecology. Jakarta 2005. Dalam: Sinopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi. 3. The Bulletin of Hongkong Chinese Medical Association. 4. FK. Z.Universitas Mataram. University of Hongkong. 196. Williams Obstetric. 7. 8. Fadjar.D. 22st ed. Cunningham FG et al. 241-246. Bayi Berukuran Besar dan Tali Pusar Pendek Bisa Sebabkan Kehamilan Lewat Waktu. dkk. FK. Postterm Pregnancy. Obstetri Patologi ed. 2007. Lubis. Dalam Ilmu Kebidanan hal. Abidin. edisi 09/th II/7-30 desember 2007. Rustam. Post-Maturity. Tabloid Mom&Kiddie.G. Mc. Kelainan Dalam Lamanya Kehamilan. Chan.Graw Hill Publishing Division.Mulawarman.2.(Laporan Kasus) Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Faoziawati. 2010. 6. March 2007. L. 9. 1998. Referat Kehamilan Postterm. 27 . Kitska. Risk for postterm delivery after previous postterm delivery. 5. T. EGC:Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful