Bab I Pendahuluan

Istilah gawat abdomen atau gawat perut menggambarkan keadaan klinis akibat kegawatan di rongga perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan utama. Keadaan ini memerlukan penanggulangan segera yang sering berupa tindakan bedah, misalnya pada obstruksi, perforasi, atau perdarahan masif di rongga perut maupun saluran cerna. Infeksi, obstruksi atau strangulasi saluran cerna dapat menyebabkan perforasi yang mengakibatkan kontaminasi rongga perut oleh isi saluran cerna sehingga terjadilah peritonitis. Ileus adalah gangguan pasase isi usus yang merupakan tanda adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan pertolongan dokter. Di Indonesia ileus obstruksi paling sering disebabkan oleh hernia inkarserata, sedangkan ileus paralitik sering disebabkan oleh peritonitis. Keduanya membutuhkan tindakan operatif. Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Keduanya memiliki cara penanganan yang agak berbeda dengan tujuan yang berbeda pula. Obstruksi usus halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia, nekrosis, perforasi dan kematian, sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan pada dekompresi dan menghilangkan penyebab untuk mencegah kematian. Obstruksi kolon sering disebabkan oleh neoplasma atau kelainan anatomic seperti volvulus, hernia inkarserata, striktur atau obstipasi. Penanganan obstruksi kolon lebih kompleks karena masalahnya tidak bisa hilang dengan sekali operasi saja. Terkadang cukup sulit untuk menentukan jenis operasi kolon karena diperlukan diagnosis yang tepat tentang penyebab dan letak anatominya. Pada kasus keganasan kolon, penanganan pasien tidak hanya berhenti setelah operasi kolostomi, tetapi membutuhkan radiasi dan sitostatika lebih lanjut. Hal ini yang menyebabkan manajemen obstruksi kolon begitu rumit dan kompleks daripada obstruksi usus halus. Mengingat penanganan ileus dibedakan menjadi operatif dan konservatif, maka hal ini sangat berpengaruh pada mortalitas ileus. Operasi juga sangat ditentukan oleh ketersediaan sarana dan prasarana yang sesuai, skills, dan kemampuan ekonomi pasien. Hal-hal yang dapat berpengaruh pada faktor-faktor tersebut juga akan mempengaruhi pola manajemen pasien ileus yang akhirnya berpengaruh pada mortalitas ileus. Faktor-faktor tersebut juga berpengaruh

dengan sangat berbeda dari satu daerah terhadap daerah lainnya sehingga menarik untuk diteliti mortalitas ileus pada pasien yang mengalami operasi dengan pasien yang ditangani secara konservatif

1 Anatomi dan Fisiologi Saluran Pencernaan Bagian Bawah Pada dasarnya sistem pencernaan makanan dalam tubuh manusia dibagi menjadi 3 bagian. Sistem pencernaan bagian bawah terdiri dari : 1.Intestinum mayor (Usus besar) • Sekum (usus buntu) • Appendix (umbai cacing) Kolon Kolon asendens (kanan) Kolon transversum Kolon desendens (kiri) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) • Rektum .sisa makanan melalui anus.Bab II Pembahasan II. Selanjutnya adalah proses penyerapan sari . yaitu proses penghancuran makanan yang terjadi dalam mulut hingga lambung. Kemudian proses pengeluaran sisa . Intestinum minor (Usus halus) Duodenum (usus 12 jari) Jejunum Ileum (usus penyerapan) 2.sari makanan yang terjadi di dalam usus.

 Tela Submucosa. kekecualian pada sebagian kecil. Ia paling tebal di dalam duodenum dan berkurang tebalnya ke arah distal. Masingmasing lipatan ini ditutup dengan tonjolan.5 sampai 1 mm (dapat dilihat dengan mata telanjang) dan menyebabkan gambaran mukosa menyerupai beludru. tempat lembaran visera dan mesenterica peritoneum bersatu pada tepi usus. villi.  Tunica Muscularis. Plexus myentericus saraf (Auerbach) dan saluran limfe terletak diantara kedua lapisan otot.. Adanya lipatan-lipatan ini menyerupai bulu pada radiogram.  Vili merupakan tonjolan-tonjolan seperti jari-jari dari mukosa yang jumlahnya sekitar 4 atau 5 juta dan terdapat di sepanjang usus halus. Dua selubung otot polos tak bergaris membentuk tunica muscularis usus halus. tak lengkap di atas duodenum. di sini ditemukan neuroplexus meissner. tersusun dalam lipatan sirkular tumpang tindih yang berinterdigitasi secara transversa. Di samping itu. Lipatan-lipatan ini nyata pada duodenum dan jejenum dan menghilang dekat pertengahan ileum.• Anus Lapisan usus halus dibagi kedalam empat lapisan:  Tunica Serosa. yang terletak di bawah mukosa. Tunica mucosa usus halus. kecuali pars superior duodenum. Villi panjangnya 0. Yang terakhir membentuk massa dinding usus. Usus halus ditandai oleh adanya tiga struktur yang sangat menambah luas permukaan dan membantu fungsi absorpsi yang merupakan fungsi utamanya:  Lapisan mukosa dan submukosa membentuk lipatan-lipatan sirkular yang dinamakan valvula koniventes (lipatan kerckringi) yang menonjol ke dalam lumen sekitar 3 ampai 10 mm. .  Tunica Mucosa. hampir lengkap di dalam usus halus mesenterica. Lapisan luarnya stratum longitudinale dan lapisan dalamnya stratum circulare. Tunica serosa atau lapisan peritoneum. Dalam ruangan ini berjalan jalinan pembuluh darah halus dan pembuluh limfe. Tela submucosa terdiri dari jaringan ikat longgar yang terletak diantara tunica muskularis dan lapisan tipis lamina muskularis mukosa.

dan dua pertiga proksimal kolon transversum) : (1) ileokolika. kolon descendens dan sigmoid. Lapisan otot longitudinal usus besar tidak sempurna. suatu cabang arteri gastroduoodenalis. Bagian ileum yang terbawah juga diperdarahi oleh arteri ileocolica. dengan demikian rektum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap. hal ini menyebabkan usus tertarik dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil peritoneum yang berisi lemak dan melekat di sepanjang taenia. vili dan mikrovili bersama-sama menambah luas permukaan absorpsi sampai 2 juta cm². (3) kolika media. ada beberapa gambaran yang khas pada usus besar saja. tetapi terkumpul dalam tiga pita yang dinamakan taenia koli. maka luas permukaannya hanyalah sekitar 2. Pembuluh-pembuluh darah yang memperdarahi jejenum dan ileum ini beranastomosis satu sama lain untuk membentuk serangkaian arkade. Pada usus besar. kolon ascendens. . Panjang taenia lebih pendek daripada usus. Sedangkan separoh bawah duodenum diperdarahi oleh arteri pancreoticoduodenalis inferior. (3) rektalis superior. suatu cabang arteri mesenterica superior. Mikrovilli terlihat dengan mikroskop elektron dan tampak sebagai brush border pada mikroskop cahaya. Usus besar memiliki empat lapisan morfologik seperti juga bagian usus lainnya.00 cm². arteri mesentericus superior dicabangkan dari aorta tepat di bawah arteri seliaka. Arteri ini mendarahi seluruh usus halus kecuali duodenum yang sebagian atas duodenum adalah arteri pancreotico duodenalis superior. Bila lapisan permukaan usus halus ini rata. (2) kolika dekstra. Lapisan mukosa usus besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak mengandung villi atau rugae. Taenia bersatu pada sigmoid distal. yaitu menigkat seribu kali lipat. Valvula koniventes. (2) sigmoidalis. Kriptus lieberkūn (kelenjar intestinal) terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet daripada usus halus. Darah dikembalikan lewat vena messentericus superior yang menyatu dengan vena lienalis membentuk vena porta. Mikrovili merupakan tonjolan menyerupai jari-jari dengan panjang sekitar 1 μ pada permukaan luar setiap villus. arteri mesenterika superior memperdarahi belahan bagian kanan (sekum. dan bagian proksimal rektum) : (1) kolika sinistra. Akan tetapi. dan arteria mesenterika inferior memperdarahi bagian kiri (sepertiga distal kolon transversum. Vaskularisasi Pada usus halus.

sedangkan serabut-serabut parasimpatis mengatur refleks usus. Serabut-serabut sensorik sistem simpatis menghantarkan nyeri. serta perangsangan sfingter rektum. yang menimbulkan fungsi motorik. Serabut-serabut nervus vagus hanya mempersarafi dua pertiga proksimal kolon transversum. sedangkan rangsangan simpatis menghambat pergerakan usus. Sedangkan saraf untuk jejenum dan ileum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (nervus vagus) dari pleksus mesentericus superior.1 Intestinum minor (Usus Halus) Usus halus adalah tabung yang kira-kira sekitar dua setengah meter panjang dalam keadaan hidup. berjalan melalui pleksus Auerbach yang terletak dalam lapisan muskularis. Suplai saraf intrinsik. Sekum. Fungsi utama intestinum minor adalah sebagai tempat utama digesti dan absorpsi yang dimulai dari spincter pilory sampai katup ileocecal dengan pembagian sebagai berikut : – Duodenum . II. appendiks dan kolon ascendens dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan parasimpatis nervus vagus dari pleksus saraf mesentericus superior. Serabut simpatis berjalan dari pleksus mesentericus superior dan inferior. Pada kolon transversum dipersarafi oleh saraf simpatis nervus vagus dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. sepertiga distal dipersarafi oleh saraf parasimpatis nervus pelvikus.tempat bersambung dengan usus besar terletak diantara daerah umbilikus dan dikelilingi oleh usus besar. Perangsangan simpatis menyebabkan penghambatan sekresi dan kontraksi. Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan perkecualian sfingter eksterna yang berada dibawah kontrol voluntar. Sedangkan pada kolon descendens dipersarafi serabut-serabut simpatis dari pleksus saraf mesentericus inferior dan saraf parasimpatis nervus pelvikus. Usus halus memanjang dari lambung sampai katup ileo-kolika.Persarafan Saraf-saraf duodenum berasal dari saraf simpatis dan parasimpatis (vagus) dari pleksus mesentericus superior dan pleksus coeliacus. dan pleksus Meissner di lapisan submukosa.1. sedangkan perangsangan parasimpatis mempunyai efek berlawanan. Rangsangan parasimpatis merangasang aktivitas sekresi dan pergerakan.

Erepsin yaitu berfungsi untuk mengubah pepton menjadi asam amino. Adapun fungsi usus halus yang lain adalah mencerna dan mengabsorpsi chyime dari lambung.isinya yang cair dijalankan oleh serangkaian peristaltik yang cepat. Disakarase yaitu berfungsi untuk mengubah disakarida menjadi monosakarida. Fungsi dari usus 12 jari adalah menyalurkan makanan ke usus halus.1.setiap gerakan lamanya satu second dan antara dua gerakan ada istirahat beberapa detik. Terdapat juga jenis gerakan lain seperti berikut: Gerakan segmental adalah gerakan yang memisahkan beberapa segmen usus satu dari yang lain karena diikat oleh gerakan konstriksi serabut sirkuler Gerakan pendulum atau ayunan menyebabkan isi usus bercampur. Maltase berfungsi mengubah maltosa menjadi glukosa dan glukosa.– Jejunum – Ileum: Plaque‟s Peyer/ limponodi di lapisan mukosa dan submukosa dimana terjadi absorpsi sari-sari makanan – Spincter Illeocecal – sambungan antara ileum dan usus besar/ intestinum crassum Dinding usus halus menghasilkan getah usus halus (enzim) yang bersifat basa. Lactase berfungsi untuk mengubah laktosa menjadi galaktosa dan glukosa.menghubungkan ke jejunum dan merupakan tempat bermuara saluran getah pankreas dan saluran empedu. Macamnya sukrase berfungsi untuk mengubah sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa. yaitu : Enterokinase yaitu berfungsi untuk mengubah enzim tripsonogen menjadi tripsin dan erepsinogen menjadi erepsin.1 Usus dua belas jari (duodenum) Secara anatomis letak usus dua belas jari setelah lambung. Lipase usus berfungsi untuk memecahkan lemak menjadi asam lemak dan gliserin/gliserol. II.1. Panjang usus halus kurang lebih 25 .

3 Usus Penyerapan (Ileum) Merupakan bagian terakhir dari usus halus dengan panjang sekitar 2-4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum. Pada bagian kanan duodenum ini terdapat selaput lendir.1.cm. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. protein menjadi asam amino. Pada papila vateri bermuara saluran empedu(duktus koledokus) .1. II.berbentuk sepatu kuda melengkung kekiri.pada lengkungan ini terdapat pankreas.dan saluran pankreas(duktus pankreatikus).1.yang membukit disebut papila vateri.2 Intestimum Mayor (Usus besar) Secara anatomi usus besar atau kolon terletak antara usus buntu dan rektum. Panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter dan 1-2 meter adalah bagian jejunum. sedangkan vitamin dan mineral tidak mengalami pencernaan melainkan langsung diserap. II. Fungsi utamanya adalalah sebgai tempat penyerapanzat-zat makanan yang sudah dipecah. Usus penyerapan emiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.Jejunum merupakan tempat pencernaan terakhir Hasil pencernaan berupa pemecahan karbohidrat menjadi monosakarida & disakarida.1. dan dilanjutkan oleh usus buntu. II.1.2 Jejunum Jejunum terletak diantara usus dua belas jari(duodenum) dan usus penyerapan (ileum). lemak menjadi asam lemak & gliserol. Usus besar terdiri dari : Kolon asendens (kanan) Kolon transversum Kolon desendens (kiri) Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum) .

1 Sekum (usus buntu) Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus. “buta”) dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus penyerapan serta bagian kolon menanjak dari usus besar. – Lamina muskularis mucosa.2. II. Dinding usus besar terdiri dari beberapa lapisan. yang sebagian atau seluruhnya digantikan oleh umbai. Sebagian besar herbivora memiliki sekum yang besar. Umbai cacing berukuran sekitar 10 cm tetapi . tempat mengubah sisa hasil pencernaan makanan dari usus halus menjadi kotoran padat dengan peran sellulosa.1. Pada orang dewasa.berbentuk silindris selapis dengan sel piala. sedangkan karnivora eksklusif memiliki sekum yang kecil.2 Apendix (ubai cacing) Umbai cacing atau apendiks adalah organ tambahan pada usus buntu yang terbentuk dari caecum pada tahap embrio. burung.Fungsi utama usus besar adalah tempat air diserap kembali.2. yaitu : – Tunica mucosa. tidak memiliki vili intestinalis dan terdiri dari: – Epitel . Organ ini ditemukan pada mamalia. serta terdapat bakteri yang bekerja pada sisa makanan yang tidak diserap.1. – Lamina propria. dan beberapa jenis reptil.sangat tipis dan terdesak oleh jaringan limfoid dan kadangkadang terputus-putus. – Tunica sub mucosa – Tunica muscularis – Tunica serosa II. hampir seluruhnya berisi dangan limphaticus yang tersusun berderetderet sekeliling lumen.

dimana bahan limbah keluar dari tubuh.1. gangguan pernafasan yang memerlukan intubasi.bisa bervariasi dari 2 sampai 20 cm.2 Ileus Paralitik Etiologi Ileus pada pasien rawat inap ditemukan pada: (1) proses intraabdominal seperti pembedahan perut dan saluran cerna atau iritasi dari peritoneal (peritonitis. Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan.3 Rektum dan Anus Rektum (Bahasa Latin: regere. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphincter. dan ketidakseimbangan elektrolit (hipokalemia. pankreatitis. yaitu pada kolon desendens.Fungsi lain juga menghasilkan vitamin K. sepsis atau infeksi berat. yaitu menghasilkan Immunoglobulin A (IgA). Otot sphincter terdiri dari : – Sphincter ani interus – Sphincter levator ani – Sphincter ani eksternus II.2. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses. dibetes ketoasidosis. uremia. antikolinergik. IgA merupakan salah satu immunoglobulin (antibodi) yang sangat efektif melindungi tubuh dari infeksi kuman penyakit. perdarahan). Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. (2) sakit berat seperti pneumonia. fenotiazine). dan (3) obat-obatan yang mempengaruhi motilitas usus (opioid. hipofosfatemia). usus . Setelah pembedahan. hiperkalsemia. Fungsi appendiks berkaitan dengan sisitem kekebalan tubuh. mengatur”) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. II. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi. “meluruskan. hipomagnesemia.

halus biasanya pertama kali yang kembali normal (beberapa jam). Laparoskopi reseksi usus dikaitkan dengan jangka waktu yang lebih singkat daripada reseksi kolon ileus terbuka. Fisiologisnya ileus kembali normal spontan dalam 2-3 hari. ileus merupakan konsekuensi yang diharapkan dari pembedahan perut. Ileus juga meningkatkan katabolisme karena gizi buruk. Pasien dengan ileus merasa tidak nyaman dan sakit. Secara keseluruhan. Memang. otot dinding usus terganggu dan gagal untuk mengangkut isi usus. keadaan pascaoperasi adalah keadaan yang paling umum untuk terjadinya ileus. Durasi terpanjang dari ileus tercatat terjadi setelah pembedahan kolon. Meskipun ileus disebabkan banyak faktor. Hiponatremia 3. Hipermagensemia si. diikuti lambung (24-48 jam) dan kolon (48-72 jam). inflamasi atau iritasi (empedu.(2) Ileus terjadi karena hipomotilitas dari saluran pencernaan tanpa adanya obstruksi usus mekanik. Sering. Hipomagnesemia 4. Ileus yang berlangsung selama lebih dari 3 hari setelah operasi dapat disebut ileus adynamic atau ileus paralitik pascaoperasi. Hipokalemia 2. dan akan meningkatkan risiko komplikasi paru. Diduga. setelah motilitas sigmoid kembali normal. ileus meningkatkan biaya perawatan medis karena memperpanjang rawat inap di rumah sakit. ileus terjadi setelah operasi intraperitoneal. tetapi mungkin juga terjadi setelah pembedahan retroperitoneal dan extraabdominal.(2) Beberapa penyebab terjadinya ileus: Pembedahan perut (laparatomy) 1. darah) . Konsekuensi klinis ileus pasca operasi dapat mendalam. Kurangnya tindakan pendorong terkoordinasi menyebabkan akumulasi gas dan cairan dalam usus.

Fenotiazin 3. Vertebral Retak (misalnya kompresi lumbalis Retak ) 1. Divertikulitis 3. Lower lobus tulang rusuk patah 3. Obat Anticholinergic Patofisiologi Patofisiologi dari ileus paralitik merupakan manifestasi dari terangsangnya sistem saraf simpatis dimana dapat menghambat aktivitas dalam traktus gastrointestinal. Diltiazem atau verapamil 4. Intrathorak 1. Perforasi ulkus duodenum Iskemia usus 1.1. Clozapine 5. Rongga perut 1. Radang usus buntu 2. Nefrolisiasis 4. Patah tulang rusuk 2. Sistem simpatis menghasilkan pengaruhnya melalui dua cara: (1) pada tahap yang kecil melalui . Infark miokard 2. Kolesistitis 5. Pankreatitis 6. Intrapelvic (misalnya penyakit radang panggul ) 3. Narkotika 2. Pneumonia 2. Mesenterika emboli. menimbulkan banyak efek yang berlawanan dengan yang ditimbulkan oleh sistem parasimpatis. trombosis iskemia 1.

empiema. Menurut beberapa hipotesis. Narkotik. sklerosis multiple Obat-obatan. Refleks panjang yang paling signifikan. perangsangan yang kuat pada sistem simpatis dapat menghambat pergerakan makanan melalui traktus gastrointestinal. antikolinergik. Jadi. beberapa neuron bersifat inhibitorik. namun tidak semua pleksus mienterikus yang dipersarafi serat saraf parasimpatis bersifat eksitatorik. Secara anatomis. ileus pasca operasi dimediasi melalui aktivasi hambat busur refleks tulang belakang. iritasi persarafan splanknikus. 3 refleks berbeda yang terlibat: ultrashort refleks terbatas pada dinding usus. antihistamin. . infeksi sistemik berat lainnya. Penyakit/ keadaan yang menimbulkan ileus paralitik dapat diklasifikasikan seperti yang tercantum dibawah ini: Kausa Ileus Paralitik Neurogenik. kerusakan medulla spinalis. dan refleks panjang melibatkan sumsum tulang belakang. katekolamin. dan (2) pada tahap yang besar melalui pengaruh inhibitorik dari noreepineprin pada neuron-neuron sistem saraf enterik. Infeksi/ inflamasi. Hambatan pada sistem saraf parasimpatis di dalam sistem saraf enterik akan menyebabkan terhambatnya pergerakan makanan pada traktus gastrointestinal. fenotiazin. kemungkinan peptide intestinal vasoaktif dan beberapa peptide lainnya. keracunan timbal. uremia. pankreatitis. dimana ia merangsangnya). komplikasi DM. Gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia). Pneumonia. ujung seratnya mensekresikan suatu transmitter inhibitor. penyakit sistemik seperti SLE. Respon stres bedah mengarah ke generasi sistemik endokrin dan mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus. refleks pendek yang melibatkan ganglia prevertebral. Iskemia Usus. Pasca operasi.pengaruh langsung norepineprin pada otot polos (kecuali muskularis mukosa. peritonitis. Metabolik. kolik ureter.

Selain itu. blockade excitatory neurons yang mempersarafi otot polos usus. disekresi oleh sel I dalam mukosa duodenum dan jejunum terutama sebagai respons terhadap adanya pemecahan produk lemak. jadi mengeluarkan empedu kedalam usus halus dimana empedu kemudian memainkan peranan penting dalam mengemulsikan substansi lemak sehingga mudah dicerna dan diabsorpsi. Oleh karena itu disaat bersamaan dimana hormon ini menyebabkan pengosongan kandung empedu.  Farmakologi Opioid menurunkan aktivitas dari neuron eksitatorik dan inhibisi dari pleksus mienterikus. Kolesistokinin juga menghambat motilitas lambung secara sedang. hormon ini juga menghambat pengosongan makanan dari lambung untuk memberi waktu yang adekuat supaya terjadi pencernaan lemak di traktus gastrointestinal bagian atas. Hormon lainnya seperti sekretin dan peptide penghambat asam lambung juga memiliki fungsi yang sama seperti kolesistokinin namun sekretin berperan sebagai respons dari getah asam lambung dan petida penghambat asam lambung sebagai respons terhadap asam lemak dan asam amino. opioid juga meningkatkan tonus otot polos usus dan menghambat gerak peristaltik terkoordianasi yang diperlukan untuk gerakan propulsi. Refleks inhibisi dari saraf efferent: menghambat pelepasan neurotransmitter asetilkolin. Opioid: efek inhibitor. Neurogenik Refleks inhibisi dari saraf afferent: incisi pada kulit dan usus pada operasi abdominal. . prostaglandin inhibisi kontraksi otot polos usus. asam lemak dan monogliserida di dalam usus.  Inflamasi Makrofag: melepaskan proinflammatory cytokines (NO). Kolesistokinin mempunyai efek yang kuat dalam meningkatkan kontraktilitas kandung empedu.  Hormonal Kolesistokinin.

Pasien ileus paralitik akan mengeluh perutnya kembung ( abdominal distention). Pada abdomen harus dilihat adanya . yang mencakup kehilangan turgor kulit maupun mulut dan lidah kering. terjadi setelah semua prosedur abdomen. perkusi timpani dengan bising usus yang lemah dan jarang bahkan dapat tidak terdengar sama sekali.Manifestasi Klinik Ileus adinamik (ileus inhibisi) ditandai oleh tidak adanya gerakan usus yang disebabkan oleh penghambatan neuromuscular dengan aktifitas simpatik yang berlebihan. Sangat umum. gerakan usus akan kembali normal pada: usus kecil 24 jam. lambung 48 jam. Anamnesa Pada anamnesa ileus paralitik sering ditemukan keluhan distensi dari usus. tidak disertai nyeri kolik abdomen yang paroksismal. rasa tidak nyaman diperut tanpa disertai nyeri. anoreksia. pasien hanya menyatakan perasaan tidak enak pada perutnya. kolon 3-5 hari. manifestasi klinis yang ditemukan adalah gambaran peritonitis. Pasien kadang juga mengeluhkan tidak bisa BAB ataupun flatus. Pada gambaran foto polos abdomen didapatkan pelebaran udara usus halus atau besar. Keluhan perut kembung pada ileus paralitik ini perlu dibedakan dengan keluhan perut kembung pada ileus obstruksi. Pemeriksaan fisik Inspeksi Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata dehidrasi. Diagnosa Pada ileus paralitik ditegakkan dengan auskultasi abdomen berupa silent abdomen yaitu bising usus menghilang. Tidak ditemukan adanya reaksi peritoneal (nyeri tekan dan nyeri lepas negatif). mual dan obstipasi. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya distensi abdomen. Apabila penyakit primernya peritonitis. Muntah mungkin ada. mungkin pula tidak ada. Pasien ileus paralitik mempunyai keluhan perut kembung. rasa mual dan dapat disertai muntah. Pada palpasi.

Palpasi Pada palpasi bertujuan mencari adanya tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri tekan. Apabila dengan pemeriksaan foto polos abdomen masih meragukan. Penatalaksanaan Pengelolaan ileus paralitik bersifat konservatif dan suportif. Pemeriksaan yang penting untuk dimintakan adalah leukosit darah. koreksi gangguan elektrolit dan nutrisi parenteral hendaknya diberikan sesuai dengan kebutuhan dan prinsip-prinsip pemberian nutrisi parenteral. Beberapa obat yang dapat dicoba yaitu metoklopramid bermanfaat untuk gastroparesis. mengobati kausa dan penyakit primer dan pemberiaan nutrisi yang adekuat. menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit. kadar elektrolit.(1) Prognosis biasanya baik. Untuk dekompresi dilakukan pemasangan pipa nasogastrik (bila perlu dipasang juga rectal tube). ternyata hasilnya tidak konsisten. Perkusi Hipertimpani Auskultasi Bising usus lemah atau tidak ada sama sekali (silent abdomen) dan borborigmi Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan laboratorium mungkin dapat membantu mencari kausa penyakit.distensi.(3) Beberapa obat-obatan jenis penyekat simpatik (simpatolitik) atau parasimpatomimetik pernah dicoba. ureum. Pemberian cairan. yang mencakup „defence muscular‟ involunter atau rebound dan pembengkakan atau massa yang abnormal untuk mengetahui penyebab ileus. keberhasilan dekompresi kolon dari ileus telah dicapai oleh kolonoskopi berulang. sisaprid bermanfaat . glukosa darah dan amylase. Foto polos abdomen sangat membantu untuk menegakkan diagnosis. hernia dan massa abdomen. Tindakannya berupa dekompresi. Pada ileus paralitik akan ditemukan distensi lambung. parut abdomen. Hal ini berbeda dengan air fluid level pada ileus obstruktif yang memberikan gambaran stepladder (seperti anak tangga). dapat dilakukan foto abdomen dengan mempergunakan kontras. Air fluid level ditemukan berupa suatu gambaran line up (segaris). usus halus dan usus besar. Pada pasien yang kurus tidak terlihat gerakan peristaltik.

Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi melalui laparotomi. dan klonidin dilaporkan bermanfaat untuk mengatasi ileus paralitik karena obat-obatan. kolostomi. 2. cisapride Parasimpatis stimulasi: bethanecol. Dekompresi dengan nasogastric tube. Konservatif       Penderita dirawat di rumah sakit.untuk ileus paralitik pascaoperasi. Farmakologis      Antibiotik broadspectrum untuk bakteri anaerob dan aerob. . breathing and circulation. Prokinetik: Metaklopromide. Penderita dipuasakan Kontrol status airway. Analgesik apabila nyeri. o Reseksi usus dengan anastomosis o Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder atau rupture usus. Operatif Ileus paralitik tidak dilakukan intervensi bedah kecuali disertai dengan peritonitis. Intravenous fluids and electrolyte Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan. o Pintas usus : ileostomi.(3) 1. neostigmin Simpatis blokade: alpha 2 adrenergik antagonis 3.(1) Neostigmin juga efektif dalam kasus ileus kolon yang tidak berespon setelah pengobatan konservatif.

Pseudo-obstruction Pseudo-obstruksi Pseudo-obstruksi didefinisikan sebagai penyakit akut. dan perbedaan elektrolit juga dapat berkontribusi untuk kondisi ini. yang biasanya terjadi pada pasien yang terbaring lama di tempat tidur dengan gambaran penyakit ekstraintestinal serius atau pada pasien trauma. Usus besar kanan terlibat dalam klasik pseudo-obstruksi. Pemeriksaan fisik biasanya menunjukkan tanda perut kembung tanpa rasa sakit. Agen farmakologis.Kondisi kronis pada pseudo-obstruksi usus juga diamati pada pasien dengan penyakit kolagen-vaskular. itu terjadi didefinisikan karena tidak adanya gangguan mekanik. . semua hal ini bermanifestai klinik sebagai obstruksi usus kecil. seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah. Radiografi dari foto polos abdomen mengungkapkan adanya keadaan yang terisolasi. juga disebut sebagai sindrom Ogilvie. Bentuk kronis dari pseudo-obstruksi melibatkan dismotilitas baik dari usus besar dan kecil. namun pasien bisa juga mempunyai gejala mirip obstruksi. dan pencitraan kontras membedakan ini dari obstruksi mekanik. sepsis. ditanda dengan distensii dari usus besar.Diagnosis banding Masalah lain yang perlu dipertimbangkan Masalah umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi. miopati viseral. Beberapa teks dan artikel cenderung menggunakan ileus sinonim dengan pseudo-obstruksi. atau neuropati. Pseudo-obstruksi ini jelas terbatas pada usus besar saja. aerophagia. Dismotilitas ini disebabkan hilangnya kompleks motorik yang berpindah dan bakteri berlebih. Seperti ileus. Namun. sedangkan ileus melibatkan baik usus kecil dan usus besar. kedua kondisi itu adalah hal yang berbeda. dan obstruksi usus mekanik. dilatasi usus proksimal yang membesar.

Jika obstruksi total. Dekompresi melalui kolonoskopi cukup efektif dalam mengurangi pseudo-obstruksi. benda asing. Tingkat kematian untuk pseudo-obstruksi adalah 50% jika pasien berkembang menjadi nekrosis iskemik dan perforasi. Pasien datang dengan nyeri kram perut berat yang paroksismal. hernia. Dosis 2. Dengan auskultasi dapat terdengar suara bernada tinggi. atropin harus diberikan.5 mg dari neostigmine diinfuskan perlahan-lahan selama 3 menit dengan pengawasan jantung untuk mengamati efek bradikardi. Pada pasien yang kurus. atau neoplasma. gelombang peristaltik dapat divisualisasikan. Obstruksi Mekanik Obstruksi mekanik usus dapat disebabkan oleh adhesi. pasien mengeluhkan tidak bisa BAB. denting suara bersamaan dengan aliran peristaltic. dan penghentian obat yang menghambat motilitas usus. volvulus . koreksi ketidakseimbangan elektrolit. menghasilkan perbaikan pseudo-obstruksi dalam waktu 10-30 menit. terutama kolon kanan dan sekum. Neostigmine intravena mungkin juga efektif.Ogilvie pseudo-obstruksi pada pasien dengan infeksi . Pemeriksaan fisik ditemukan borborygmi bertepatan dengan kram perut. pemasangan NGT dan rectal tube. Perhatikan besar dilatasi kolon. Distensi kolon dapat mengakibatkan perforasi caecum. Perawatan awal meliputi hidrasi. Muntah mungkin terjadi tapi bisa juga tidak jika katup ileocecal . intususepsi . Jika terjadi bradikardia. Laparotomi dan reseksi usus untuk peritonitis dan iskemia merupakan jalan terakhir. terutama jika diameter caecum melebihi 12 cm.

Pseudo-obstruksi. konstipasi muntah. Perhatikan tidak adanya gas usus sepanjang usus besar. mual. obstipasi. konstipasi. Tanda peritoneal terlihat nyata jika pasien mengalami strangulasi dan perforasi.kompeten dalam mencegah refluks. pseudo-obstruksi. mual. obstipasi. dan obstruksi mekanis. anoreksia . nyeri kram perut. perut. Menegakkan diagnosis dari obstruksi usus mekanik dapat dibantu dengan pencitraan endoskopi menggunakan kontras. Tabel berikut menyajikan perbedaan antara ileus. Tabel. muntah. mual. Karakteristik ileus. anoreksia muntah. nyeri kram perut. konstipasi. Obstruksi mekanik usus disebabkan oleh karsinoma kolon kiri. dan Mekanik Sumbatan. Ileus Pseudo-obstruksi Mekanikal Obstruksi Gejala sakit kembung.

terlokalisasi distensi. terlokalisasi distensi. Perbandingan Klinis bermacam-macam ileus.Temuan Pemeriksaan Fisik Silent abdomen. timpani. air fluid level. Borborygmi. kembung. Borborygmi. Macam ileus Obstruksi simple tinggi Obstruksi simple rendah Obstruksi strangulasi (terusmenerus. gelombang timpani. terlokalisir) Paralitik Oklusi vaskuler + +++++ ++++ +++ + +++ Menurun Menurun + biasanya meningkat (Kolik) Lambat. fekal ++++ ++ +++ Tak tentu + (kolik) +++ +++ + Meningkat ++ + Nyeri Usus Distensi Muntah borborigmi +++ Meningkat Bising usus Ketegangan abdomen - . timpani gelombang bising usus hiperaktif atau bising usus hiperaktif ayau hipoaktif. terlokalisir. peristaltik. diafragma agak tinggi. Tabel. peristaltik. meninggi diafragma pattern. nyeri hipoaktif. nyeri Gambaran Radiografi dilatasi usus kecil dilatasi usus besar yang Bow-shaped loops in ladder dan diafragma meninggi besar. berkurangnya gas kolon di distal.

Prognosis memburuk pada kasus-kasus tetentu dimana kematian jaringan usus terjadi. dan memiliki angka kejadian tersering. Klasifikasi Lokasi Obstruksi    Letak Tinggi : Duodenum-Jejunum Letak Tengah : Ileum Terminal Letak Rendah : Colon-Sigmoid-rectum Stadium    Parsial : menyumbat lumen sebagian Simple/Komplit: menyumbat lumen total Strangulasi: Simple dengan jepitan vasa . Ileus yang disebabkan oleh obstruksi disebut juga ileus mekanik. Bila ileus hasil dari operasi perut. II. Secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu Ileus Obstruktif dan Ileus Paralitik.Prognosis Prognosis dari ileus bervariasi tergantung pada penyebab ileus itu sendiri. kondisi ini biasanya bersifat sementara dan berlangsung sekitar 24-72 jam. Bila penyebab primer dari ileus cepat tertangani maka prognosis menjadi lebih baik.3 Ileus Mekanik Ileus Mekanik (Ileus Obstruktif) Definisi Ileus adalah hambatan pasase usus yang dapat disebabkan oleh obstruksi lumen usus atau gangguan peristalsis usus. operasi menjadi perlu untuk menghapus jaringan nekrotik.

Adhesi iii. skibala. ii.Etiologi i. ascariasis. Penyempitan lumen usus    Isi Lumen : Benda asing. Invaginasi iv. Ekstra lumen : Tumor intraabdomen. . Volvulus v. Bermacam penyebab ileus obstruktif. Dinding Usus : stenosis (radang kronik). keganasan. Malformasi Usus Gambar 1.

invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Strangulasi biasanya berawal dari obstruksi vena. nekrosis. dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus . Bagian usus proksimal distensi. dan dinding usus menjadi udema dan kongesti. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun. yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri. dan kematian. kematian jaringan usus umumnya dihubungkan dengan hernia inkarserata.Patofisiologi Pada ileus obstruksi. Selain itu. intussusepsi. sekresi usus. Makanan dan cairan yang ditelan. memacu usus menjadi gangrene dan perforasi. Diagnosis Pada anamnesis dapat ditemukan pada pasien :  Nyeri (Kolik) Obstruksi usus halus : nyeri dirasakan disekitar umbilikus Obstruksi kolon : nyeri dirasakan disekitar suprapubik. dan bagian distal kolaps. menyebabkan iskemia yang cepat pada dinding usus. dan oklusi vaskuler.  Muntah Stenosis Pilorus : Encer dan asam Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan Obstruksi kolon : onset muntah lama. Usus menjadi udema dan nekrosis.  Perut Kembung (distensi)  Konstipasi Tidak ada defekasi Tidak ada flatus Adanya benjolan di perut. hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik. dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi. Distensi intestinal yang berat. inguinal. peritonitis. volvulus. perforasi. Pada obstruksi strangulata. iskemia.

Feses yang mengeras : skibala .  Adanya obstruksi ditandai dengan :  Inspeksi Perut distensi. hernia.Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease . Rebound tenderness. Pada Intussusepsi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. bising usus bernada tinggi.serta onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah. borborhygmi. nyeri lokal. neoplasma . Pada pemeriksaan fisik dapat pula ditemukan :  Adanya strangulasi ditandai dengan adanya lokal peritonitis seperti : Takikardia.  Perkusi Hipertimpani  Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor.  Rectal Toucher . invaginasi.Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi. Untuk mengetahui secara pasti hanya dengan laparotomi.  Auskultasi Hiperperistaltik.Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi . Benjolan pada regio inguinal. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi . femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata.Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis Pemeriksaan penunjang Foto Polos Abdomen: . hilangnya suara usus local. dapat ditemukan kontur dan steifung. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. pireksia (demam).

Tindak bedah dilakukan apabila terdapat strangulasi. hernia inkarserata dan tidak ada perbaikan pada pengobatan konservatif. . dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus. Tindakan umum sebelum dan sewaktu pembedahan meliputi tatalaksana dehidrasi.Pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga dan air-fluid level. Komplikasi         Nekrosis usus Perforasi usus Sepsis Syok-dehidrasi Abses Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi Pneumonia aspirasi dari proses muntah Gangguan elektrolit II.4 Ileus Vaskuler Etiologi Terjadi akibat adanya sumbatan pada cabang-cabang arteri vena mesentrika superior. Terjadinya ileus vaskuler juga dihubungkan dengan penderita infark miokard dan atrium fibrilasi. Penatalaksanaan Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau lilitan harus dihilangkan segera setelah keadaan umum diperbaiki. obstruksi lengkap. Penggunaan kontras dikontraindikasikan jika adanya perforasi-peritonitis. perbaikan keseimbangan elektrolit dan dekompresi pipa lambung. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi. arteri vena mesentrika inferior oleh thrombus dan embolus sehingga terjadi : gangren  hekrose  nekroseis  perforasi  cepat terjadi toksemia.

. Tindakan operatif : Dilakukan laparotomi. Keluarnya lendir.Komplikasi 1. darah per anus Penanganan 1. Tidak ada tindakan konservatif (karena terjadinya lambat maka diagnose ditegakkan setelah muncul gejala hebat) 2. Trombus yang hebat vasa yang tersumbat pecah  perdarahan 2. bila ada perdarahan diatasi dengan reseksi segmen usus dengan mesentriumnya lalu dilakukan end to end anastomose.

Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. .. Editor: Sabiston. McCarty. Murnizat. Jakarta: EGC. AH. Levine... Hal: 181-192.A.K. Editor: Sjamsuhidajat. M. Edisi 2. Jakarta: EGC.. I. Pieter. Hal: 615-681. Timan. 2003. J. Windle. D. Edisi 2. 4. Editor: Price. Wim. B. B. Editor: Ochoa..B.J. http://www. S. Sjamsuhidajat. S. 6. dan De Jong. dan I.D. Basson. 1994. M. Price. Wilson. R.. 2004.. and Aust. Schwarz.. Fiedberg. J. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit.A. Michelle.DAFTAR PUSTAKA 1.. Editor: Vargas. Talavera.. Riwanto. S. Mechaber. 2003. and Antillon.emedicine.. Tjambolang.L. apendiks. Jakarta: EGC. Kelainan Bedah Usus Halus.com. Non-mechanical Bowel Obstruction)..: Small-Bowel Obstruction. Wim. 3. 2004. R. Badash.. June 14. Gawat Abdomen. 2.com. June 29. Li. Jusi. dan Ahmadsyah.C. L. EBSCO Publishing. I. J. J.. S. B. kolon. Paralytic Ileus (Adynamic Ileus. Editor: Sjamsuhidajat. Dalam Buku Ajar Ilmu Bedah. Usus Halus. Dahlan. Caroline. 1992. R. F. Dalam Buku Ajar Bedah Sabiston’s essentials surgery. Alih bahasa: Andrianto. Jakarta: EGC. and Katz. Djang.S. T.A. Hamami. Last Updated. W.B. dan De Jong. Editor terjemahan: Wijaya.U.emedicine. P. http://www.: Colonic Obstruction. Last Updated. A. 2005. 7. Editor bahasa: Oswari... dan anorektum.. 5. and Altschuler. J. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful