28 April 2013, 15:57:37

Depan

Majalah

Jurnal

Nusantara

Pamong

Motivasi

Pamong Institute

Selasa, 09 April 2013 - 14:25:22 WIB

Nasionalisme dan Penjajahan
Diposting oleh : Adm inistrator Kategori: Politik - Dibaca: 83 kali

Pencarian...

Pamong, Nasionalisme sejauh ini dianggap sebagai paham yang harus terus ditanamkan dan dipelihara di tengah-tengah warga negara. Nasionalisme (paham kebangsaan) diyakini sebagai faktor yang bisa memperkuat negara sekaligus dapat mempersatukan seluruh elemen warga negara yang terdiri dari banyak suku bangsa seperti Indonesia. Tentu, klaim atau asumsi di atas selayaknya dipertanyakan. Pasalnya, nasionalisme sering justru berperan sebaliknya. Indonesia sering berkonflik dengan Malaysia, misalnya—dari mulai rebutan wilayah perbatasan hingga klaim budaya—justru karena nasionalisme masing-masing. Timor Timur lepas dari Indonesia juga menjadi bukti bahwa nasionalisme gagal menjaga kesatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Munculnya gerakan separatis di Papua atau di Aceh adalah bukti lain kegagalan nasionalisme sebagai faktor perekat antar warga negara. Belum lagi konflik sosial bahkan tawuran antarwarga di tengah masyarakat dari mulai akibat urusan Pilkada hingga urusan sepakbola. Semua itu sejatinya menunjukkan betapa rapuh dan lemahnya nasionalisme menjadi faktor pemersatu dan perekat antarwarga Negara Nasionalisme didefinisikan sebagai kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan serta mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan suatu bangsa, yakni semangat kebangsaan (Kamus Besar Bahasa Indonesia,1997:648). Menurut Wik ipedia, nasionalisme adalah suatu paham untuk menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan suatu konsep identitas bersama. Identitas tersebut dapat berupa kesamaan darah atau keturunan, suku bangsa, daerah tempat tinggal, bahasa, kebudayaan dan sejenisnya. Nasionalisme dalam entitas sebuah negara sekular dipandang menjadi maskot berharga atas identitas bersama (common identity) masyarakat. Berakar dari paham nasionalisme inilah kemudian lahir konsepsi turunan yakni bangsa (nation), negara (state) dan gabungan keduanya menjadi konsep negara bangsa (nation state). Nation-state mencandra sebagai bangunan politik (political building), seperti ketentuan ketentuan perbatasan teritorial, pemerintahan yang sah, pengakuan luar negeri, maupun bentuk negara sipil. Inilah implementasi dari dari gerakan nasionalisme. Banyak literatur menerangkan bahwa nasionalisme lahir di Eropa sekitar abad 18 saat munculnya Revolusi Prancis dan penaklukan beberapa daerah selama era Napoleon Bonaparte. Spirit nasionalisme kemudian menyebar ke penjuru dunia dengan berbagai coraknya. Sejarah nasionalisme bermula dari benua Eropa sekitar Abad Pertengahan. Gerakan Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther di Jerman disinyalir sebagai pemicu gerakan kebangsaan tersebut dalam pengertian nation-state di Eropa. Saat itu, Luther yang menentang Gereja Katolik Roma menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman dengan menggunakan gaya bahasa yang dapat menumbuhkan rasa kebanggaan sebagai bangsa Jerman. Penerjemahan ini tidak hanya mendobrak hak eksklusif bagi mereka yang menguasai bahasa Latin—seperti para pastor, uskup, dan kardinal sebagai penafsir Injil—namun juga secara bertahap menghilangkan pengaruh bahasa Latin dari masyarakat Jerman. Nasionalisme yang tumbuh di Jerman kemudian menjalar dengan cepat di daratan Eropa. Hal itu kemudian menyulut persaingan fanatisme antarbangsa di Eropa yang masing-masing berusaha mendominasi lainnya. Pada akhirnya persaingan tersebut melahirkan penjajahan negara-negara Eropa terhadap negeri-negeri di benua Asia, Afrika dan Amerika Latin. Karena sejalan dengan terjadinya pertumbuhan ekonomi Eropa pada masa itu, mereka bersaing untuk mendapatkan bahan baku produksi dari negeri-negeri lain di luar Eropa. Pandangan pemikir Italia, Nicolo Machiaveli, yang menganjurkan seorang penguasa untuk melakukan apapun demi menjaga eksistensi kekuasaannya, juga turut ‘menyemangati’ Eropa untuk menggencarkan penjajahannya. Nasionalisme yang tumbuh di Eropa telah melahirkan penjajahan yang menindas bangsa lain, khususnya Asia dan Afrika. Adapun negeri-negeri jajahannya mereka menghembuskan ide nasionalisme untuk memecah-belah negeri-negeri tersebut, karena keterpecahbelahan memudahkan bagi penjajahan mereka (devide et impera). Dengan demikian dari fakta sejarah di atas, nasionalisme bukan berasal dari Indonesia, malah nasionalisme merupakan alat yang digunakan bangsa maju (Barat) untuk memperlemah bangsa berkembang. Akhirnya sumber dayanya dikeruk habis oleh Barat. Ibarat kue yang dikerat-kerat agar mudah untuk menyantapnya. [Jay dari berbagai sumber]

Tajuk

Manusia Butuh Pemerintah Senin, 09 April 2013 Oleh: Wahyudi alMaroky (Direktur Eksekutif Pamong Institute) Misi sebuah ... Selengkapnya » » » » Obligasi Daerah Gadaikan ... Awas Ancaman Rawan ... Wakil Kepala Daerah ... Saatnya Menata Pilkada ...

Majalah

Pamong Reader s Desember ... Senin, 09 Apr il 2013 Open publication - Fr ee publishing Mor e ... Selengkapnya » Majalah Edisi Mei 2012 ...

";

www.pamongreaders.com/berita-319-nasionalisme-dan-penjajahan.html

1/2

Reformasi Birokrasi Mulai dari Rekrutmen Manusia Butuh Pemerintah Ketika Segelas Susu Tak Berbalas Tuba Mana UangKu? Harga Mati Loyalitas pada Tugas
Add a comment...
kegiatan Pamong Bimbingan Teknis bersama Yusuf mansur PKK Bangka Barat 2

Post to Facebook
F acebook social plugin

Posting as Jual Kerajinan Tangan (Not you?)

Comment

kegiatan Pamong BIncang Bup Babar dg Dirjen PUM & Direk Pamong

Bimbingan Teknis kegiatan Pamong PKK Bangka Barat bersama gub babel 5

Bimbingan Teknis Bimbingan Teknis PKK Bangka Barat PKK Bangka Barat 3 4

2012 by Pamong Institute. All rights reserved.

www.pamongreaders.com/berita-319-nasionalisme-dan-penjajahan.html

2/2

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful