P. 1
495_81-PariwisataBudayadanPeranSertaMasyarakat

495_81-PariwisataBudayadanPeranSertaMasyarakat

|Views: 0|Likes:
Published by Nadia Manuputty

More info:

Published by: Nadia Manuputty on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2015

pdf

text

original

Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________

PARIWISATA BUDAYA DAN PERAN SERTA MASYARAKAT
Oleh: Ratna Suranti

I.

PENDAHULUAN: Pariwisata, Budaya, Wisata Budaya dan Pariwisata Budaya

Dari sejumlah definisi “Cultural Tourism” atau Pariwisata Budaya atau “Wisata Budaya”yang ada, tidaklah terlalu mudah untuk menentukan definisi mana yang paling tepat untuk digunakan terutama bila dikaitkan dengan kepariwisataan Indonesia. Sebelum menilik pada keterkaitan antara kata “pariwisata” dan “budaya”, ada baiknya kita telaah terlebih dahulu masing-masing kata tersebut. Kata pariwisata atau dalam bahasa Inggris diistilahkan dengan tourism sering sekali diasosiasikan sebagai rangkaian perjalanan (wisata, tours/traveling) seseorang atau sekelompok orang (wisatawan, tourist/s) ke suatu tempat untuk berlibur, menikmati keindahan alam dan budaya (sightseeing), bisnis, mengunjungi kawan atau kerabat dan berbagai tujuan lainnya. Organisasi pariwisata sedunia, World Tourism Organization (WTO), mendefinisikan pariwisata (tourism) sebagai “activities of

person traveling to and staying in places outside their usual environment for not more than one consecutive year for leisure, business and other purposes”. Sedangkan Jafar Jafari mengartikan sebagai: “is a composite of activities, services,

atau wisata-wisata lain 2 . nilai-nilai dan norma-norma. upacara-upacara keagamaan atau kematian. Dalam wujud ide mencakup antara lain sistem keyakinan. seni pertunjukan. activity facilities. Dari beberapa definisi tersebut diperoleh gambaran bahwa pariwisata merupakan suatu bidang yang bersifat multidimensi. Secara sepintas. Selanjutnya secara definitif Mcintosh mengungkapkan pariwisata sebagai “the sum of the phenomenon and relationships arising from the interaction of tourists. pakaian. It encompasses all providers of visitor and visitor-related services”. eating and drinking establishment. pengetahuan. peralatan hidup. arsitektur. namely. perilaku dan ide. Kata budaya dan kebudayaan pada dasarnya memiliki makna yang sama yakni simbol-simbol yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dipelajarinya dalam kehidupannya sebagai warga suatu masyarakat. tetapi jika ditinjau lebih rinci tampak ada makna yang lebih luas pada kata pariwisata dibandingkan dengan wisata. keterampilan membuat barang-barang kerajinan dan lain-lain. sedangkan sebagian lagi menganggap kebudayaan sebagai adat istiadat dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tradisi atau kebiasaan lama. sementara itu ada juga yang menganggap kebudayaan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan kesenian. services. kunjungan terhadap obyek atau peristiwa budaya tampaknya sudah selalu menjadi bagian dari sebuah perjalanan wisata. tetapi makna yang diberikan pada kata tersebut tidak selalu jelas dan sama. business. melibatkan dan bersinggungan dengan banyak sektor dan pelaku. hasil-hasil teknologi dan lain-lain. untuk berbagai tujuan selain untuk mencari nafkah. shop. bersifat sementara. Dalam wujud perilaku mancakup kegiatan ritual perkawinan. and other hospitality services available for individual or groups that are traveling away from home. kebudayaan ini mempunyai wujud yang kongkrit. Sebagian orang mendefinisikan kebudayaan sebagai segala sesuatu yang merupakan hasil cipta. and industries that deliver travel experiences” Sumber lainnya menyebut bahwa pada dasarnya wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang di luar tempat tinggalnya. makanan olahan. Dalam bentuk material mencakup antara lain. host government and host communities in the process of attracting and hosting this tourist and other visitor. yaitu aspek material. transportation. setengah kongkrit dan abstrak. rasa dan karsa manusia. kata wisata dan pariwisata tampak mempunyai makana yang sama. Kata budaya atau kebudayaan adalah kata yang sudah sangat sering digunakan atau didengar dalam berbagai kesempatan. accommodation. … Tourist is a composite of activities. atau dapat dikatakan bahwa menurut perwujudannya kebudayaan dapat dipahami dalam tiga aspek. sehingga sulit untuk membedakan wisata budaya dengan wisata alam misalnya. Sebagai simbol-simbol. entertainment. Pada kenyataannya.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ and industries that delivers a travel experience. sementara pariwisata disebut sebagai fenomena perjalanan manusia secara perorangan atau kelompok dengan berbagai macam tujuan asalkan bukan untuk mencari nafkah atau menetap.

biasa dan banyak dilakukan orang.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ yang umum. upacara keagamaan. dengan manusia dan obyek budaya yang dikunjungi. Jika wisata budaya adalah aktivitas perjalanan temporal yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dari tempat dimana dia atau mereka tinggal ke suatu tempat lain dengan tujuan untuk menyaksikan atau menikmati situs purbakala. serta hubungan antar manusia. pertunjukan kesenian.itu sendiri sebenarnya sudah merupakan peristiwa budaya. maka pembahasan makalah ini tidak hanya terbatas pada wisata budaya tapi sudah mencakup pariwisata budaya. setidaknya bagi orang atau kelompok yang bersangkutan? Bukankah interaksi yang terjadi antara manusia pengunjung (guest) dan yang dikunjungi (host) juga sudah merupakan bagian dari peristiwa budaya? Salah satu sumber dari sejumlah tulisan mengenai pariwisata budaya menyebutkan bahwa pada akhir tahun 1970-an. karena umumnya merupakan bagian dari wisata alam. padahal sudah diketahui bersama bahwa hakekat pariwisata Indonesia bertumpu pada keunikan dan kekhasan budaya dan alam. manusia yang dikunjungi yang terkait erat bahkan merupakan bagian dari obyek budaya yang dikunjungi. tempat bersejarah. dan pada sekitar tahun 1990-an pariwisata budaya tersebut sudah dikenal sebagai aktivitas pasar masal dengan nilai jual yang tinggi. maka pariwisata budaya mencakup bukan hanya perjalanan dan aktivitas menikmati saja. Wisata semacam ini juga belum ditelaah secara mendalam baik oleh kalangan kepariwisataan maupun kebudayaan di Indonesia. Sementara manusia yang berinteraksi di sini dapat mencakup kalangan yang sangat luas yaitu manusia sebagai pengunjung. Bukankah aktivitas perjalanan --yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang-. Uraian tersebut memberikan kejelasan bagi kita bahwa wisata budaya sebenarnya bukanlah merupakan hal yang baru sama sekali walaupun pada kenyataannya wisata semacam ini tidak atau belum selalu dinyatakan secara eksplisit. barulah dikenali adanya pariwisata budaya yang secara jelas dapat dikategorikan sebagai salah satu produk kepariwisataan (Tighe. Selain itu. tetapi juga aktivitas lain yang dilakukan oleh pihak lain yang terkait dengan para wisatawan tersebut. baik tangible maupun 3 . 1986 dalam McKercher. ketika para pakar pemasaran dan peneliti kepariwisataan mendapati adanya orang atau sekelompok orang yang melakukan perjalananan semata-mata hanya untuk pemahaman mendalam terhadap obyek atau peristiwa budaya di suatu tempat tertentu. terbatas dan tidak terbarukan. Adakah perjalanan wisata yang dilakukan orang atau sekelompok orang tanpa bersentuhan dengan berbagai aspek yang terkait dengan kebudayaan?. upacara adat tradisional. Termasuk didalamnya berbagai uapaya yang perlu dilakukan demi tetap berlangsungnya atraksi budaya sebagai sumber daya yang bersifat unik. sebagai bentuk wisata umum yang paling banyak ditemui. tampaknya wisata budaya perlu dibedakan dengan pariwisata budaya. 2002). Adanya interaksi yang terjadi baik antara manusia sebagai pengunjung. Disebutkan juga bahwa pada awalnya produk tersebut dipandang sebagai suatu kegiatan khusus yang diminati oleh sejumlah kecil pelaku perjalanana berpengalaman untuk mendapatkan sesuatu yang berbeda dari sekedar pengalaman berlibur yang biasa mereka dapatkan. museum. festival dan lain sebagainya.

Adapun faktor-faktor yang turut mempengaruhi keberhasilan suatu program pelibatan masyarakat dalam pengembangan DTW adalah: dialog dengan umpan balik dari masyarakat. 4 . pertunjukan kesenian. Dalam pengertian inilah pariwisata memperoleh arti yang paling umum dipahami oleh masyarakat. yaitu sebagai suatu aktifitas yang diarahkan untuk mendapatkan keuntungan atau meningkatkan pendapatan. ritual keagamaan. pelibatan dari awal. kurangnya keahlian di bidang kepariwisataan. tata cara dan tahaptahap pelaksanaannya. juga memberikan sumbangan bagi tumbuhnya ide-ide kreatif. Hal ini antara lain disebabkan karena tidak adanya ketentuan yang jelas dan rinci tentang pelibatan masyarakat dalam pengembangan DTW. khususnya jenis wisata yang memuat informasi atau mengandung pesan-pesan yang bersifat budaya. PERAN SERTA MASYARAKAT II. kejujuran dan keterbukaan. termasuk juga manusia yang berperan sebagai pendukung prasarana dan sarana pariwisata tersebut. mengesankan dan berbagai sensasi yang dibutuhkan untuk memperkaya kebutuhan spiritualnya. Melalui kemasan tersebut diharapkan wisatawan dapat memperoleh pengalaman kebudayaan dengan cara melihat sesuatu yang dirasa unik. kebijakan tentang peran serta masyarakat dalam pengembangan pariwisata. perlu disadari bahwa makna istilah ini dapat dipandang baik sebagai proses maupun sebagai produk. yaitu atraksiatraksi wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. pertunjukan keterampilan dan lainlain. hanya berisi himbauan agar masyarakat diikutsertakan dalam upaya pengembangan tersebut tanpa adanya penjelasan persyaratan. Berdasarkan studi yang pernah dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2003. khususnya proses pertukaran ide. yang sedikit banyak telah dikemas untuk dapat dinikmati oleh wisatawan. kurangnya saling pengertian antara pihak-pihak yang terlibat. Dalam arti kedua. kondisi perekonomian yang kurang baik. dan keterbatasan modal masyarakat. Daya tarik inilah yang menyebabkan wisatawan bersedia untuk mengeluarkan biaya sebagai kompensasinya. Sebagai proses pariwisata budaya merupakan aktifitas pertukaran informasi dan simbol-simbol budaya antara wisatawan sebagai tamu dengan masyarakat yang didatangi sebagai tuan rumah. diperoleh kesimpulan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengembangan daearh tujuan wisata (DTW) di Indonesia masih rendah. kualitas sumber daya manusia yang rendah. Selanjutnya disebutkan juga bahwa hambatan dan keterbatasan utama yang dihadapi untuk mewujudkan partisipasi masyarakat dalam pengembangan daerah tujuan wisata adalah tradisi politik dan budaya Indonesia yang kurang mendukung. dan komitmen terhadap masyarakat. berbeda. Dalam pengertian inilah pariwisata memberikan sumbangan bagi dialog antar budaya dan sekaligus sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan saling pengertian dan perdamaian. atraksi-atraksi wisata ini dapat berupa peninggalan-peninggalan sejarah. Pariwisata budaya sebagai proses. Seperti sudah dikemukakan. pariwisata budaya dapat dipandang sebagai produk. Sejauh ini. termasuk pariwisata budaya. Hal ini mudah dipahami karena kreatifitas biasanya tumbuh karena munculnya pikiran-pikiran alternatif yang umumnya datang dari luar. Selain itu dalam konteks pariwisata budaya.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ intangible.

III. Dampak positif yang biasanya langsung dan segera dapat dirasakan adalah dalam segi keuntungan ekonomi. nilai-nilai dan norma-norma menjadi semakin terkikis. maka mereka akan lebih bersemangat dalam mendukung upaya pengembangan pariwisata. dan pada akhirnya mereka akan dengan sukarela mendukung kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pariwisata seperti membagi informasi tentang pariwisata di daerahnya. tetapi sesungguhnya keuntungan tersebut hanya merupakan keuntungan jangka pendek. jika masyarakat lokal dilibatkan sejak awal dan diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. ternyata membawa dampak yang tidak selalu positif. Lebih jauh. sebagai upaya untuk menggeser konsep pembangunan yang lebih banyak berorientasi pada pembangunan di bidang ekonomi. Sebagai akibatnya adat-istiadat. PARIWISATA BUDAYA BERKELANJUTAN (Sustainable Cultural Tourism) Telah disadari bahwa praktek-praktek pariwisata.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ Dalam studi tersebut dikemukakan juga bahwa pariwisata merupakan sektor yang paling menyentuh seluruh aspek masyarakat baik bisnis. Pariwisata yang menekankan pendekatan ekonomi cenderung memberikan peranan utama pada pemerintah atau pemilik modal dan tujuannya juga ditentukan dan terutama untuk kepentingan mereka. terutama sebagai sumber komoditi. sektor swasta maupun masyarakat harus lebih memikirkan pembangunan berkelanjutan dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Dengan demikian diharapkan akan muncul rasa memiliki dan tanggung jawab dalam diri masyarakat terhadap pengembangan pariwisata termasuk pariwisata budaya di daerahnya. Lebih lanjut diharapkan agar semua pihak baik pemerintah. Sebagai masukan. hasil studi tersebut mendapati bahwa. Brazil pada tanggal 3 sampai 14 Juni 1992. Indonesia telah menandatangani kesepakatan Agenda 21 Global dalam Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. Sebenarnya ha-hal demikian tidak perlu terjadi khususnya di Indonesia. pelayanan pemerintah. Bersama dengan 179 negara lainnya. Masyarakat menjadi apatis dan kesejahteraan mereka pun tidak mengalami perbaikan. yaitu terhadap ekspresi dan eksistensi budaya yang dijadikan sumber komoditi itu. melakukan pembangunan yang seimbang antara pembangunan ekonomi. Agenda 21 merupakan program aksi dalam mengantisipasi perkembangan abad 21. studi tersebut juga merincikan tahapan persiapan dan perencanaan yang perlu dilakukan untuk meningkatkan peran serta dan motivasi keterlibatan masyarakat dalam pengembangan DTW. kondisi 5 . Rirual-ritual suci menjadi semakin dangkal dan pertunjukan-pertunjukan seni semakin tidak berjiwa. pengambilan keputusan dan pemantauan/pengendalian. sehingga diperoleh kejelasan keterlibatan mereka baik pada tahap pelaksanaan. menuangkan konsep-konsep pembangunan berkelanjutan. Yang dirasakan kemudian adalah dampak buruknya. lingkungan alam (dan budaya) serta masyarakat lokal. Peranan masyarakat sangat rendah sehingga mereka cenderung tampak patuh dan tidak punya inisiatif karena lebih ditempatkan sebagai obyek daripada sebagai subyek. yang melihat kebudayaan (juga alam).

Usaha untuk melakukan rekonsiliasi telah dilakukan tetapi belum sepenuhnya memuaskan. Usaha pariwisata harus mengedepankan kepentingan masyarakat sehingga masyarakat dapat mengambil bagian dalam pengelolaan sumber daya dan obyek wisata atau DTW. Dalam situasi transisi ini muncul persoalan-persoalan yang berkaitan dengan klaim atas sumber-sumber pariwisata yang mempunyai potensi menguntungkan. Dilakukannya penerjemahan tersebut antara lain dimaksudkan agar pemanfaatan pusaka budaya untuk pariwisata dapat dibatasi dan diberi rambu-rambu agar upaya untuk menjaga kelestarian pusaka budaya yang ada di seluruh dunia dapat juga dilaksanakan di Indonesia. Hal tersebut sudah sejalan dengan kode etik pariwisata dunia yang pada dasarnya memiliki 6 . khususnya menyangkut upaya pemanfaatan aset-aset pariwisata untuk meningatkan pendapatan asli daerah. Dii daerah-daerah tertentu yang memiliki pengalaman dalam pengelolaan obyek wisata budaya yang melibatkan peranan masyarakat lokal (di Bali misalnya). karena pembangunan kepariwisataan Indonesia sudah mengarah pada pembangunan berbasis masyarakat. Dengan model yang baru ini peranan utama dikembalikan kepada masyarakat lokal dan lembaga-lembaga non-pemerintah yang memiliki perhatian terhadap kelestarian warisan budaya. seperti adanya klaim dari masyarakat setempat terhadap sejumlah warisan budaya yang semula dikuasai sepenuhnya oleh negara. Committee on Monuments and Sites (ICOMOS) telah menerbitkan the International Cultural Tourism Charter di Meksiko pada tahun 1999. Hal ini dapat dipahami sebagai akibat dari adanya perubahan sikap yang datang secara tiba-tiba. pemanfaatan obyek budaya untuk tujuan wisata tampak menjadi arena konflik kepentingan. Pembangunan pariwisata harus mampu memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dengan memberikan kesempatan agar masyarakat mampu berperan serta secara aktif untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. pembangunan masyarakat dan pelestarian warisan alam dan budaya. pemerintah daerah juga ikut ambil bagian. Kondisi demikian juga tidak semestinya terjadi. Charter yang sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa itu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Deklarasi Pariwisata Alam dan Budaya Indonesia. Pihak pemerintah sendiri tampak belum siap untuk mengantisipasi tuntutan yang datang secara tiba-tiba dan tidak diduga sebelumnya. Lebih khusus lagi. kemudian dianggap sebagai “warisan” milik mereka juga. Tetapi di beberapa daerah lain (di Jawa misalnya).Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ sosial dengan memperhatikan faktor lingkungan. yang berisi seruan dan himbauan untuk menyelamatkan pusaka budaya yang berbentuk bangunan atau situs. Di luar mereka ini. Oleh karena itu diasumsikan bahwa masyarakat pemilik adalah pihak yang seharusnya lebih berperan dalam pelestarian tersebut. Tumbuhnya model pariwisata budaya yang berkesinambungan atau sustainable cultural-tourism (SCT) tampak sebagai reaksi terhadap dampak negatif dari pariwisata yang terlalu menekankan tujuan ekonomi. persoalan pemanfaatan obyek budaya untuk tujuan wisata dapat dikelola dengan cukup baik. Kepariwisataan yang berbasis masyarakat hendaknya terkait dengan usaha bisnis lokal. Gagasan tentang SCT ini pada dasarnya bertujuan agar eksistensi kebudayaan yang ada selalu diupayakan untuk tetap lestari.

tetapi juga keanekaragaman sumberdaya alam. tetapi upaya tersebut hendaknya diarahkan untuk menjamin kelestarian yang lebih lama. pemberdayaan masyarakat setempat. Selain itu. Pengembangan produk pariwisata yang berwawasan lingkungan. Pemberdayaan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam pengembangan kebudayaan dan paiwisata nasional. juga merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah sepenuhnya. hak dan kewajiban para pelaku pariwisata. Jika menilik pada kenyataan. Keunggulan itu terdapat pada keanekaragaman yang tidak hanya dimiliki dari segi kebudayaan. hak asasi manusia. 7 . IV. hayati dan kombinasi dari semua itu. ada harapan bahwa pariwisata Indonesia dapat mempertahankan keunggulannya untuk bersaing dengan pariwisata negeri lain. Jika model SCT ini dapat diterapkan dengan baik di Indonesia. Apa yang menjadi substansi dari model pariwisata budaya berkelanjutan bukanlah berarti bahwa usaha pariwisata harus menjamin kelestarian budaya sepanjang masa. peninggalan budaya dan pesona alam lokal yang bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ keterkaitan dengan pengaturan pelestarian lingkungan hidup. Dua sasaran tersebut mengesankan adanya kontradiksi antara satu dengan lainnya karena di satu pihak diarahkan untuk menjaga kelestarian sementara di pihak lain diarahkan untuk tujuan eksploitasi. perencanaan yang berorientasi pada perlindungan sumber daya alam dan budaya. kekayaan budaya hanya akan memberi arti penting bila dapat dirasakan kemanfaatannya bagi masyarakat banyak. usaha-usaha yang hanya menekankan pada satu sasaran saja seringkali menjadi tidak realistis. sasaran SCT diharapkan dapat tercapai. tetapi arah pariwisata Indonesia sudah jelas. Perlindungan kebudayaan sebagai upaya melestarikan warisan budaya bangsa. PENUTUP Pengelolaan SCT di Indonesia tampaknya diarahkan pada dua sasaran utama yaitu (1) menjaga keanekaragaman budaya melalui usaha pelestarian sumberdaya budaya. c. pelestarian warisan budaya dan globalisasi. b. Untuk itu diperlukan adanya keseimbangan antara kedua sasaran tersebut. Kelestarian adalah sesuatu yang relatif. tetapi perubahan yang diakibatkan oleh faktor alam dan tuntutan jaman. Kelestarian warisan budaya memang merupakan aspirasi ideal yang harus diakomodasikan. Arah itu disebutkan dalam pernyataan misi tentang pengembangan kebudayaan dan pariwisata yang antara lain dirumuskan sebagai berikut: a. Memang belum semua masalah dapat diatasi. dan (2) mengembangkan sumberdaya budaya tertentu untuk dimanfaatkan bagi tujuan wisata. Dengan memberi peran utama kepada masyarakat setempat. bertumpu pada kebudayaan.

2004. Pengembangan Pariwisata bekerjasama dengan Kelompok Penelitian dan Pengembangan Kepariwisataan. Heddy Shri. Jakarta.kompas. Sekretariat Negara. _________________. Jakarta. 2003 Kajian Peningkatan Peran Serat Masyarakat Dalam Daerah Tujuan Wisata. 2004 Rahardjo.. Supratikno dan Ratna Suranti. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Kebudayaan. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. 1990 _________________. Peran Lembaga-Lembaga Yang Menangani Obyek Budaya Sebagai Aset Pariwisata. 2002 Rahardjo. Ahimsa-Putra. B. Kementerian Kebudayaan dan _________________. ParadigmaWisata Budaya Yang Lestari. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya.com 8 . The Management of Huge Space of Cultural Tourism. Website http://www. Deklarasi Pariwisata Alam Dan Budaya Indonesia. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan. Jakarta. 2004. Jakarta. Jakarta. Cultural Tourism: The Partnership Between Tourism and Cultural heritage Management. 1992. LPPM ITB. Laretna T. Jakarta. 2003 _________________. Jakarta. Naskah Akademik Rancangan Undang-Undang Tentang Kepariwisataan. Jakarta. McKercher. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Jakarta. Buku dan Publikasi Terbatas _________________. 1985 _________________. Jakarta. 2004 Adhisakti. New York. Departemen Pendidikan dan kebudayaan. Menelusuri Budaya Pariwisata di Indonesia. 2000 Kebudayaan _________________. 2004. Supratikno. Naskah Akademik Bahan Rancangan Undang-Undang Tentang Kebudayaan Indonesia.Workshop Wisata Budaya Bagi Kelompok Masyarakat Propinsi DKI Jakarta 12 Juli 2005__________________________________________________________________________________________________________________ DAFTAR PUSTAKA A. Jakarta. Bob and Hilary du Cros. Strategi Pembinaan dan Pengembangan Indonesia. The Haworth Hospitality Press.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->