Amalan di Bulan Rajab

Segala puji bagi Allah Rabb Semesta Alam, shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat dan para pengikut beliau hingga akhir zaman. Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah Ta’ala karena pada saat ini kita telah memasuki salah satu bulan haram yaitu bulan Rajab. Apa saja yang ada di balik bulan Rajab dan apa saja amalan di dalamnya? Insya Allah dalam artikel yang singkat ini, kita akan membahasnya. Semoga Allah memberi taufik dan kemudahan untuk menyajikan pembahasan ini di tengah-tengah pembaca sekalian. Rajab di Antara Bulan Haram Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, َ ‫ل َرض من‬ َ ‫ر‬ َ َ ‫ن ا ع‬ ّ ‫عد ّةَ ال‬ ‫م‬ َ ‫م‬ ٌ َ‫رب َع‬ ِ ‫ر‬ ِ ‫ن‬ ِ ‫وا‬ ِ ّ ‫ب الل‬ َ ِ ‫ف ي ك‬ ِ ‫را‬ َ ْ ‫ه اث‬ ِ ّ ‫عن ْد َ الل‬ ُ ‫ة‬ ّ ِ‫إ‬ ٌ ‫ر‬ َ ْ‫ه ي َرو‬ ّ ‫ق ال‬ َ ‫س‬ َ َ ‫خل‬ َ ْ ِ َ ْ ْ ‫وا‬ ِ ‫ت ا‬ ُ ‫ش‬ ُ ‫ححح‬ ْ ‫ه ا أ‬ َ ‫ت‬ َ ‫م ا‬ ً ْ‫شه‬ َ ‫ش‬ ِ ‫هرو‬ َ ْ َ ْ ُ َ َ َ ‫م‬ ‫ك‬ ‫س‬ ُ ‫ف‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ‫ن‬ ‫ه‬ ‫في‬ ‫مروا‬ ‫ل‬ ‫ظ‬ ‫ت‬ ‫ل‬ ‫ف‬ ‫م‬ ‫ي‬ َ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ن‬ ‫دي‬ ‫ال‬ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫ذ‬ ِ ِ ْ ِ َ ّ ّ ْ َ ُ ُ ّ ِ ُ “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (Qs. At Taubah: 36) Ibnu Rajab mengatakan, “Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202) Lalu apa saja empat bulan suci tersebut? Dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, َ ‫ من‬، ‫شهرا‬ َ َ َ ‫ن ا ع‬ ‫ة‬ َ ‫م‬ ٌ َ ‫ ث َل َث‬، ‫م‬ ٌ َ‫رب َع‬ ُ َ ‫سن‬ َ ْ ‫ة اث‬ ِ ‫روا‬ ِ ِ ‫ر ك َهَي ْئ َت‬ ُ ‫ة‬ َ َ ‫ست‬ ُ ‫م ا‬ ّ ‫ال‬ ٌ ‫ر‬ َ ْ‫ه ي َرو‬ ّ ‫ ال‬، ‫ض‬ ّ ‫ق ال‬ ْ ‫ن قَدِ ا‬ َ ‫س‬ َ َ ‫خل‬ َ ‫ز‬ َْ ِ َ ‫ر‬ ُ ‫ح‬ ْ ‫ه ا أ‬ ً ْ َ ‫ر‬ َ ‫ش‬ ْ ‫وال‬ َ ‫ت‬ َ ‫م‬ َ ‫دا‬ ّ ْ ْ ْ َ َ‫د ى و‬ ُ ُ ‫ن‬ ‫ج‬ ‫ن‬ ‫ي‬ ‫ب‬ ‫ذ ى‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ر‬ ‫ض‬ ‫م‬ ‫ب‬ ‫ج‬ ‫ر‬ ‫و‬ ، ‫م‬ ‫ر‬ ‫ح‬ ‫م‬ ‫ل‬ ‫وا‬ ‫ة‬ ‫ج‬ ‫ح‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ذو‬ ‫و‬ ‫ة‬ ‫د‬ ‫ع‬ َ ‫ق‬ ‫ل‬ ‫ا‬ ‫ذو‬ ‫ت‬ ‫ي ا‬ ‫ل‬ ‫روا‬ ‫ت‬ ‫م‬ ِ ِ ِ ِ ِ َ َ ‫ب ا‬ َ ْ ‫شع‬ َ ‫م ا‬ ُ ْ َ َ ُ َ َ ّ َ ْ َ ُ َ ٌ َ َ ُ ََ ّ ُ َ َ َ ُ “Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679) Jadi empat bulan suci yang dimaksud adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Di Balik Bulan Haram Lalu kenapa bulan-bulan tersebut disebut bulan haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna. Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orangorang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut.
1

207) Bulan Haram Mana yang Lebih Utama? Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama.” (Lathoif Al Ma’arif. “Pada bulan-bulan haram.Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan. sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. 203). dan dinamakan ‘atiiroh atau Rojabiyyah (karena dilakukan pada bulan Rajab). Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab. Hal ini berdasarkan hadits Bukhari-Muslim. orang-orang biasa melakukan penyembelihan kurban pada tanggal 10 Rajab.” (HR.” (Latho-if Al Ma’arif. Mereka menjadikan penyembelihan pada bulan tersebut sebagai ‘ied (hari besar yang akan kembali berulang) dan juga mereka senang untuk memakan yang manis2 . “Tidak ada lagi ‘atiiroh dalam Islam. lalu dipelihara dan nanti akan disembahkan untuk berhala-berhala mereka. juga dinilai kuat oleh Ibnu Rajab dalam Latho-if Al Ma’arif (hal. Ibnu Rajab mengatakan. Di antaranya adalah haramnya peperangan ketika bulan haram (termasuk bulan Rajab). “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram. َ ‫رة‬ ِ َ ‫رعَ وَل َ ع‬ َ ‫تي‬ َ َ‫ل َ ف‬ “Tidak ada lagi faro’ dan ‘atiiroh. 210) Begitu juga dengan menyembelih (berkurban). sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh An Nawawi. “Tidak diketahui dari satu orang sahabat pun bahwa mereka berhenti berperang pada bulan-bulan haram. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya. ‘Atiiroh hanya ada di zaman Jahiliyah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.” (Lihat Zaadul Maysir. sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Orang-orang Jahiliyah biasanya berpuasa di bulan Rajab dan melakukan penyembelihan ‘atiiroh pada bulan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa mereka sepakat tentang dihapusnya hukum tersebut. 1976).” (Latho-if Al Ma’arif. Faro’ adalah anak pertama dari unta atau kambing. Mayoritas ulama menganggap bahwa hukum tersebut sudah dihapus. dianggap sebagai bulan suci. padahal ada faktor pendorong ketika itu. tafsir surat At Taubah ayat 36) Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan. ada beberapa hukum yang sudah ada sejak masa Jahiliyah. aku sangat senang berpuasa di dalamnya. Al Hasan Al Bashri mengatakan. dari Abu Hurairah. Hukum yang Berkaitan Dengan Bulan Rajab Hukum yang berkaitan dengan bulan Rajab amatlah banyak. Di zaman Jahiliyah dahulu. Sufyan Ats Tsauri mengatakan. 214) Ibnu ‘Abbas mengatakan. dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap diharamkan ataukah sudah dimansukh (dihapus hukumnya). Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ‘atiiroh sudah dibatalkan oleh Islam ataukah tidak. Namun An Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Bukhari no. Para ulama berselisih pendapat apakah hukum ini masih tetap berlaku ketika datang Islam ataukah tidak. Kebanyakan ulama berpendapat bahwa ‘atiiroh sudah dibatalkan hukumnya dalam Islam. 5473 dan Muslim no. melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar.

surat Al Ikhlash 12 kali. Idul Adha dan hari tasyriq. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali. Mengkhususkan Shalat Tertentu dan Shalat Roghoib di bulan Rajab Tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab. “Intinya. ‘Abdur Rozaq. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah.” Ibnu ‘Abbas sendiri tidak senang menjadikan bulan Rajab sebagai ‘ied. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu.manis atau semacamnya ketika itu. “Sungguh. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali. Ada sebuah riwayat. Ibnul Jauziy rahimahullah mengatakan. yaitu sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan. hanya sampai pada Ibnu ‘Abbas (mauquf). Dan kita dilarang membuat ‘ied selain yang telah ditetapkan oleh ajaran Islam. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. ‫دا‬ َ ‫ه ى‬ ِ َ ‫خذ‬ ِ ّ ‫ن ل َ ي َت‬ ِ ،‫ه‬ ِ ّ ‫ب ك ُل‬ ِ ‫عن‬ ِ ْ ‫ه ع َل َي‬ ً ْ ‫عي‬ ْ َ‫ل‬ َ ‫ر‬ َ ‫ص‬ َ ‫ك ا‬ َ ‫و‬ َ ّ ‫سل‬ ُ ‫ل ي الل‬ ٍ ‫ج‬ َ ْ ‫م ي َن‬ َ ‫ ي‬ َ ِ ‫ي ام‬ َ ‫ه‬ ّ ِ ‫ن الن ّب‬ “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada seluruh hari di bulan Rajab agar tidak dijadikan sebagai ‘ied. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). jika dijadikan sebagai ‘ied dan perayaan. maka itu berarti telah berbuat sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam Islam (alias bid’ah). Idul Adha dan hari tasyriq. begitu pula dengan sujudnya. juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut. Dikeluarkan pula oleh Ibnu Majah dan Ath Thobroniy dari Ibnu ‘Abbas secara marfu’.” (HR. kok tidak bersemangat seperti melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan awam begitu urgent. Selain hari-hari tadi. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu untuk makan banyak.” (Latho-if Al Ma’arif. Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. 2/125-126) 3 . orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Roghoib dengan sebelumnya melakukan puasa. ّ ‫ص‬ َ . tidaklah dibolehkan bagi kaum muslimin untuk menjadikan suatu hari sebagai ‘ied selain apa yang telah dikatakan oleh syari’at Islam sebagai ‘ied yaitu Idul Fithri. Padahal dalam shalat Raghaib. padahal ‘ied (perayaan) kaum muslimin hanyalah Idul Fithri. surat Al Qadr 3 kali. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaib. bacaannya tasbih begitu lama.” ( Al Mawdhu’aat li Ibnil Jauziy. 213) Hukum lain yang berkaitan dengan bulan Rajab adalah shalat dan puasa. Sampai-sampai orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya. padahal siang hari pasti terasa begitu panas. Tiga hari ini adalah hari raya dalam setahun. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat tarawih. Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Sedangkan ‘ied setiap pekannya adalah pada hari Jum’at. Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu). ‘Atiiroh sering dilakukan berulang setiap tahunnya sehingga menjadi ‘ied (sebagaimana Idul Fitri dan Idul Adha).

25/291) Imam Ahmad mengatakan. ‘Umar pernah memaksa seseorang untuk makan (tidak berpuasa).” Imam Asy Syafi’i mengatakan. dan Muharram. lalu beliau katakan. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta. َ َ ُ‫ل ت‬ ‫ن‬ َ ‫ض ا‬ َ ‫م‬ َ ‫ر‬ ُ ّ ‫شب‬ َ ِ ‫هروهُ ب‬ “Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan. Begitu pula riwayat ini dikatakan bahwa sanadnya shahih oleh Syaikh Al Albani dalam Irwa’ul Gholil) Adapun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berpuasa di bulanbulan haram yaitu bulan Rajab.” ( Al Hawadits wal Bida’. 25/290-291) Bahkan telah dicontohkan oleh para sahabat bahwa mereka melarang berpuasa pada seluruh hari bulan Rajab karena ditakutkan akan sama dengan puasa di bulan Ramadhan.”(Majmu’ Al Fatawa. maka tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat mengenai hal ini. “Sebaiknya seseorang tidak berpuasa (pada bulan Rajab) satu atau dua hari. Bahkan yang terdapat dalam hadits yang shahih (riwayat Bukhari dan Muslim) dijelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Dan beliau dalam setahun tidaklah pernah banyak berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab. “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat ini. ( Latho-if Ma’arif. “Adapun mengkhususkan bulan Rajab dan Sya’ban untuk berpuasa pada seluruh harinya atau beri’tikaf pada waktu tersebut. Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. “Aku tidak suka jika ada orang yang menjadikan menyempurnakan puasa satu bulan penuh sebagaimana puasa di bulan Ramadhan. 25/290 dan beliau mengatakannya shahih. dan salafush sholeh –semoga rahmat Allah pada mereka-. 242) Mengkhususkan Berpuasa di Bulan Rajab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. berpuasa penuh di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga point berikut: 4 . Dzulqo’dah.Shalat Roghoib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis. 242) Ath Thurthusi mengatakan. para tabi’in. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah. Dzulhijjah. Ketika bulan Rajab.” (Riwayat ini dibawakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al Fatawa. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiyallahu ‘anhum. hal. jika hal ini dibandingkan dengan bulan Ramadhan. (Al Bida’ Al Hawliyah. 122. sebagaimana hal ini pernah dicontohkan oleh ‘Umar bin Khottob. (Lihat Majmu’ Al Fatawa. maka sebenarnya itu semua adalah berdasarkan hadits yang seluruhnya lemah (dho’if) bahkan maudhu’ (palsu).” Beliau berdalil dengan hadits ‘Aisyah yaitu ‘Aisyah tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh pada bulan-bulan lainnya sebagaimana beliau menyempurnakan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. 215) Ringkasnya. maka ini adalah perintah untuk berpuasa pada empat bulan tersebut dan beliau tidak mengkhususkan untuk berpuasa pada bulan Rajab saja. Juga hal ini tidaklah dianjurkan oleh para ulama kaum muslimin. setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan. 274) Setelah kita mengetahui bahwa penetapan Isro’ Mi’roj sendiri diperselisihkan. 1/54) Begitu pula Syaikhul Islam mengatakan.” (Zaadul Ma’ad. tidak ada yang bisa menegaskan waktu pastinya. “Tidak ada dalil yang tegas yang menyatakan terjadinya Isro’ Mi’roj pada bulan tertentu atau sepuluh hari tertentu atau ditegaskan pada tanggal tertentu. perayaan pada sebagian malam Rojab (perayaan Isro’ Mi’roj). pen) seperti perayaan pada sebagian malam dari bulan Rabi’ul Awwal (yang disebut dengan malam Maulid Nabi). hari ke-8 Dzulhijjah. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib). 1/54) Ibnu Rajab mengatakan.” ( Al Bida’ Al Hawliyah. Ada ulama yang mengatakan pada bulan Rajab. 2. apakah Isro’ Mi’roj betul terjadi pada bulan Rajab? Perlu diketahui bahwa para ulama berselisih pendapat kapan terjadinya Isro’ Mi’roj. Ada pula yang mengatakan bahwa itu terjadi pada 25 Rajab. Ada riwayat yang menyebutkan bahwa beliau dilahirkan pada awal malam bulan tersebut. 235-236) Perayaan Isro’ Mi’roj Sebelum kita menilai apakah merayakan Isro’ Mi’roj ada tuntunan dalam agama ini ataukah tidak.” (Zaadul Ma’ad. “Adapun melaksanakan perayaan tertentu selain dari hari raya yang disyari’atkan (yaitu idul fithri dan idul adha. hal. Begitu pula para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak pernah mengkhususkan malam Isro’ untuk perayaan-perayaan tertentu dan mereka pun tidak menyebutkannya.1. awal Jum’at dari bulan Rojab atau perayaan hari ke-8 Syawal -yang dinamakan orang yang sok pintar (alias bodoh) dengan Idul Abror (ketupat lebaran)-. tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan. Bahkan sebenarnya para ulama berselisih pendapat mengenai hal ini. “Telah diriwayatkan bahwa di bulan Rajab ada kejadian-kejadian yang luar biasa.” ( Majmu’ Fatawa. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih dari puasa di bulan-bulan lainnya. lebih-lebih dari malam Lailatul Qadr. Namun para pakar Jarh wa Ta’dil (pengkritik perowi hadits) menyatakan bahwa klaim tersebut adalah suatu kedustaan. “Tidak dikenal dari seorang dari ulama kaum muslimin yang menjadikan malam Isro’ memiliki keutamaan dari malam lainnya. Dinukil dari Al Bida’ Al Hawliyah. Oleh karena itu. perlu kita tinjau terlebih dahulu. (Lihat Al Hawadits wal Bida’. Namun sebenarnya riwayat tentang hal tersebut tidak ada satu pun yang shahih. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut. lalu bagaimanakah hukum merayakannya? masih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan.” Abu Syamah mengatakan. Ada pula yang mengatakan pada bulan Ramadhan. tidak diketahui tanggal pasti dari malam Isro’ tersebut. 3. Ada pula yang menyatakan bahwa beliau diutus pada 27 Rajab. ini semua adalah bid’ah yang tidak dianjurkan oleh para salaf (sahabat yang merupakan generasi terbaik umat ini) dan mereka juga tidak pernah melaksanakannya. Namun itu semua tidaklah shahih. “Sebagian orang menceritakan bahwa Isro’ Mi’roj terjadi di bulan Rajab. 25/298) 5 . 130-131.

“Di antara ajaran yang tidak ada tuntunan yang diadaadakan di bulan Rajab adalah perayaan malam Isro’ Mi’roj pada tanggal 27 Rajab. “Allahumma baarik lanaa fii Rojab wa Sya’ban wa ballignaa Romadhon [Ya Allah.Ibnul Haaj mengatakan. Hadits ini dikatakan dho’if (lemah) oleh Ibnu Rajab dalam Lathoif Ma’arif (218). Selesai disusun di Wisma MTI. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengucapkan. dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam Takhrij Musnad Imam Ahmad. Beliau mengatakan. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya. Namun perlu diketahui bahwa hadits ini adalah hadits yang lemah (hadits dho’if) karena di dalamnya ada perowi yang bernama Zaidah bin Abi Ar Ruqod. Demikian pembahasan kami mengenai amalan-amalan di bulan Rajab dan beberapa amalan yang keliru yang dilakukan di bulan tersebut. Ibnu Suniy dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Zaidah adalah munkarul hadits (banyak keliru dalam meriwayatkan hadits) sehingga hadits ini termasuk hadits dho’if. Semoga Allah senantiasa memberi taufik dan hidayah kepada kaum muslimin. 275) Catatan penting: Banyak tersebar di tengah-tengah kaum muslimin sebuah riwayat dari Anas bin Malik. 5 Rajab 1430 H 6 . Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam. “Ketika tiba bulan Rajab. berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban dan perjumpakanlah kami dengan bulan Ramadhan]“.” (Al Bida’ Al Hawliyah. Semoga Allah menunjuki kita ke jalan kebenaran. Syaikh Al Albani dalam tahqiq Misykatul Mashobih (1369).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful