POKOK BAHASAN 4 : MUSYAWARAH MASYARAKAT DESA (MMD) MMD adalah pertemuan seluruh warga desa/kelurahan atau warga

masyarakat yang mewakili semua komponen masyarakat di desa/kelurahan untuk membahas hasil survei mawas diri dan merencanakan upaya penanggulangan masalah kesehatan, lingkungan dan perilaku yang diperoleh dari hasil survei mawas diri. 1. Tujuan MMD : a. Masyarakat mengenal masalah kesehatan di wilayahnya. b. Masyarakat bersepakat untuk menanggulangi masalah kesehatan melalui penggerakan dan pemberdayaan masyarakat di Desa Siaga. c. Masyarakat membentuk forum Desa/Kelurahan Siaga dan menetapkan Poskesdes sebagai koordinator pelaksanaan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat. d. Masyarakat menyusun rencana kerja untuk menanggulangi masalah kesehatan di wilayahnya. e. Mempersiapkan pelatihan kader dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengembangkan Desa Siaga dan operasional Poskesdes. 2. Tempat pertemuan Tempat pertemuan sebaiknya di desa, dengan memilih balai desa atau tempat lain yang bisa menampung kurang lebih 20 - 30 orang peserta. 3. Peserta pertemuan a. Peserta tingkat kecamatan • Camat • TP-PKK kecamatan • Kepala Puskesmas • Staf Puskesmas • Diknas • Departemen Agama Lintas sektor terkait b. Peserta tingkat desa • Kepala Desa • TP-PKK Desa • Sekdes • BPD • Tokoh Agama • Tokoh masyarakat/Guru 4. Waktu Waktu pertemuan segera setelah SMD atau disesuaikan dengan kesediaan dan kondisi desa/kelurahan yang bersangkutan, agar memungkinkan semua yang diundang dapat hadir serta cukup memberikan ksesempatan untuk tercapainya tujuan musyawarah masyarakat desa. 5. Pelaksanaan a. Kepala Desa/Kelurahan yang mengundang para peserta MMD. b. MMD dibuka oleh kepala Desa/Kelurahan dengan menguraikan maksud dan tujuan musyawarah. c. Pengenalan masalah kesehatan oleh masyarakat sendiri melalui curah pendapat dengan menggunakan alat peraga, poster dan lain-lain dipimpin oleh petugas Puskesmas atau bidan di desa. d. Penyajian hasil SMD oleh tokoh masyarakat/kader/kelompok SMD. e. Perumusan dan penentuan perioritas masalah kesehatan atas dasar pengenalan masalah (butir c) dan hasil SMD dilanjutkan dengan rekomendasi tehnis dari petugas Puskesmas/bidan di Desa. f. Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) dalam rangka penanggulangan masalah kesehatan, dipimpin oleh kepala Desa/Kelurahan, dilanjutkan dengan pembentukan forum Desa Siaga dan penetapan Poskesdes sebagai koordinator UKBM. g. Penutup. Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) 1. Pengertian MMD

 

Musyawarah Masyarakat Desa (MMD)adalah musyawah yang dihadiri oleh perwakilan masyarakat (FMD) untuk membahas masalah-masalah (terutama yang erat kaitannya dengan kemungkinan KLB, Kegawatdaruratan & Bencana) yang ada di desa serta merencanakan penanggulanggannya. Topik yang dibahas fokus kepada hasil SMDyang telah diperoleh.

2. Tujuan MMD :  Agar masyarakat mengenal masalah kesehatan yang dihadapi dan dirasakan diwilayahnya  Agar masyarakat sepakat untuk bersama-sama menanggulanginya  Tersusunnya rencana kerja untuk Penanggulangan yang disepakati bersama 3. Peserta MMD :  Para kader pelaksana SMD  Kepala Desa & perangkat Desa  Tokoh Masyarakat setempat (formal & non-Formal)  PKK  LPM / KPM  Karang Taruna, Saka bakti Husadha  PMR  Beberapa KK yg di SMD  Pimpinan Puskesmas & staf

 Kader memotivasi/mengajak para TOMA. tidak ada peserta membelakangi peserta yang lainnya.  Setiap pendapat harus dihargai. ekspresi. tidak memisah atau duduk dikursi istemewa  Duduk tidak harus selalu dikursi. b. dapat meminta kejelasan / penjelasan dari dokter Puskesmas / stafnya 7. Memotivasi warga agar kegiatan dibidang kes dapat dikembangkan baik lokasinya maupun jenis kegiatannya Matrik Rencana Kegiatan . Latihan Kader 2. Langkah-langkah Penyelenggaraan MMD a. 7.  Menjadi penengah jika terjadi perselisihan pendapat dalam pembicaraan. terutama tentang masalah/info yang berkaitan dengan kesehatan.  Ketua harus selalu memantau kepada bahasa tubuh. tata ruangan & perlengkapan.  Ketua harus jeli.  Semua keputusan harus berdasarkan musyawarah. jangan sampai peserta menunggu  Yang mengundang hadir terlebih dahulu. Melaksanakan kegiatan masyarakat dibidang kesehatan 3. sesuai dengan rencana & jadwal . mencari calon kader baru. bukan paksaan. dll) Ketua Organisasi Masyarakat (NU.  Selanjutnya. Waktu MMD :  Mulailah tepat waktu.  Mengatur lalu-lintas pembicaraan diantara sesama peserta  Ketua harus selalu berusaha memotivasi setiap peserta  Ketua jangan terlalu banyak berbicara. pelatihan kader & pelaksanaan kegiatan Tindak lanjut Rencana Kerja hasil MMD 1. boleh juga dilantai diatas tikar/permadani/matras 6. komposisi jangan seperti diruangan kelas  Pimpinan pertemuan duduk sederetan. TOGA. BKKBN. Memantau/memonitor hasil kegiatan 4. apakah mereka kelihatan bosan/jengkel mendengarkan . jangan memaksakan kehendak untuk disetujui. Perempuan. Peran Ketua MMD :  Mengarahkan pembicaraan agar jangan menyimpang dari arah yang ditetapkan. cerdik dan segera bisa menangkap apa yang dimaksud oleh peserta.  Ketua harus sabar. Partai) 4. Persiapan :  Kader menyiapkan hasil analisis yang ditulis dalam lembar balik  Kader membantu Kepala Desa menyimpulkan acara. Pemuda. Suasana MMD :  Ciptakan suasana kekeluargaan yang akrab  Jangan cipatakan suasana formal dengan meja yang ditata seperti dimeja persidangan.  Sektor Kecamatan(Sosial. gerak-gerik peserta. ketua sebaiknya lebih banyak memandu. Tindak lanjut :  Kader membantu kades menyebarkan hasil Musyawarah tentang Rencana Kerja Penanggulangan masalah dan membantu menindak-lanjuti untuk kegiatan-kegiatan. pimpinan Ormas yang ada didesa itu untuk hadir dalam MMD. Muhammadiyah. Tempat MMD : Balai Desa 5. tidak emosional bila ada hal-hal yang menjengkelkan. jangan terlambat! 8. Pola penyelenggaraan MMD  Susunan tempat duduk sebaiknya berbentuk lingkaran (round table). KUA. Proses :  Pembukaan dengan menguraikan maksud & tujuan MMD  Dipimpin oleh Kades  Pengenalan masalah kesehatan dipimpin bidan  Penyajian hasil SMD oleh kelompok SMD  Perumusan & penentuan prioritas masalah kesehatan atas dasar pengenalan masalah & hasil SMD  Rekomendasi teknis dari bidan  Penyusunan rencana pelaksana kegiatan dipimpin Kades  Penutup c. setara dan berada diantara para peserta. bila perlu diselingi dengan gurauan untuk mencairkan (Ice Breaker)  Bila ada hal-hal tekhnis yang kurang jelas. agar dapat membantu memecahkan masalah bersama-sama  Mengajak kader-kader di desa tersebut yang lainnya untuk ikut hadir.

sebagai bahan pembahasan pada pertemuan Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K). Disepakatinya rencana kegiatan Survei Mawas Diri (SMD) khusus gizi/pengamatan sederhana untuk mengetahui besaran masalah gizi. permasalahan gizi. Data penimbangan balita. anak balita. Moderator : 3. Seksi anakisa SWOT : 7. Pertemuan tersebut sebagai upaya pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dibidang gizi/kesehatan. Terbentuknya kelompok kerja untuk melaksanakan SMD yang dapat terdiri dari perangkat desa. MMD/K sebaiknya dilaksanakan sebelum Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) desa agar kegiatan yang telah disusun penganggarannya dapat diusulkan melalui mekanisme yang ada. tokoh masyarakat. tokoh masyarakat dan kader Poskedes. Melakukan Pertemuan Tingkat Desa/Kelurahan Pertemuan Tingkat Desa/Kelurahan merupakan forum pertemuan yang dihadiri oleh para tokoh masyarakat. 2). cakupan Posyandu. PMT Penyuluhan. meliputi: jumlah keluarga dengan bayi. dan ibu menyusui. pemuka adat. b. Melaksanakan kegiatan di desa/kelurahan . Bila diperlukan petugas puskesmas dapat memberikan penjelasan lebih lanjut tentang masalah-masalah yang ditemukan didalam SMD. 4). Melaksanakan Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K) Musyawarah Masyarakat Desa/Kelurahan (MMD/K) adalah forum pertemuan yang dihadiri oleh perangkat desa/kelurahan. Diskusi penyusunan alternatif pemecahan masalah yang terdiri antara lain: a). Penanggung jawab 2. penyebab dan sumber daya yang dimiliki. 4). Notulis : 5. 1). Kepala desa/Lurah membuka pertemuan dan menyampaikan maksud dan tujuan pertemuan. Tingkat desa/kelurahan a. 3). Pelaksanaan SMD dapat diintegrasikan dengan pelaksanaan SMD lain dalam pengembangan desa siaga. 2). tokoh agama. 7). Di dalam pertemuan dibahas masalah-masalah gizi/kesehatan yang ada di desa/kelurahan dan langkah-langkah tindak lanjut yang diperlukan. Tujuan SMD adalah untuk identifikasi masalah-masalah gizi serta daftar potensi di desa/kelurahan yang dapat didayagunakan untuk memecahkan masalah tersebut. ibu hamil. 3). Data keluarga yang belum menggunakan garam beryodium 5). untuk mengetahui balita yang tidak pernah/tidak rutin ditimbang di posyandu dan status pertumbuhannya (SKDN) yaitu: berat badan tidak naik dua kali (2 T). dll) b). Kepala desa/Lurah membuka tanya jawab berkaitan dengan hasil SMD. Data balita 6-59 bulan yang belum mendapat kapsul vitamin A selama 6 bulan terakhir. 4). gizi buruk kasus baru dan gizi buruk pasca perawatan. Hasil yang diharapkan dalam pertemuan ini adalah: 1). Seksi Perumusan. Seksi Perencanaan . pemilihan kader. dll. Tujuan penyelenggaraan MMD/K adalah mencari alternatif pemecahan masalah gizi di desa/kelurahan tersebut. Melaksanakan Survei Mawas Diri (SMD) Survei Mawas Diri (SMD) merupakan kegiatan pengkajian masalah gizi oleh kelompok kerja yang sudah terbentuk dengan bimbingan petugas puskesmas. 2). Keluarga yang belum makan beraneka ragam. Data ibu hamil anemia dan ibu hamil sangat kurus (KEK) 3). pertemuan penyuluhan rutin. c. pendampingan keluarga/kunjungan rumah. Diperolehnya dukungan pamong dan pemuka masyarakat guna memecahkan masalah gizi dan kesehatan tersebut. tokoh adat. kader Poskesdes. masyarakat umum dan dihadiri oleh petugas puskesmas/kecamatan. Kader penyelenggara SMD (didampingi petugas puskesmas) menyampaikan hasil SMD. BGM. Seksi Tabulasi 6. Data SMD diolah dan dianalisis secara sederhana. Beberapa informasi gizi yang penting untuk dikumpulkan pada saat SMD antara lain: 1). Prioritas masalah dan Diagnosa 8. kader.Pengorganisasian1. Menentukan penanggung jawab kegiatan dan sumber dana/sarana yang diperlukan d. Penyaji : 4. Data ibu hamil yang belum mengkonsumsi tablet tambah darah. Menyusun rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam 1 (satu) tahun. dilanjutkan dengan tanya jawab. perangkat desa/kelurahan dan dihadiri oleh petugas puskesmas dan lintas sektor tingkat kecamatan. Proses MMD/K dapat diatur sebagai berikut. misalnya peningkatan atau penambahan jumlah posyandu. 6). Dipahaminya masalah gizi dan hubungannya dengan kesehatan. Data ibu yang mempunyai bayi 0-6 bulan.

menyemangati. remaja tentang gizi terkait 5 perilaku sadar gizi c). Melengkapi sarana/prasarana Posyandu b). Keluarga dengan balita BGM. Kunjungan rumah kepada keluarga yang balitanya tidak dibawa ke Posyandu e). dll. keluarga berencana dan penanggulangan diare. Anak yang berat badannya tidak naik 2 kali. Prioritas keluarga yang perlu didampingi adalah: a). tempat-tempat umum. b). Peningkatan cakupan posyandu: Kegiatan Posyandu terdiri dari pemantauan pertumbuhan balita konseling gizi. Untuk meningkatkan cakupan posyandu contoh kegiatan yang dilakukan dapat meliputi: a). Penyuluhan gizi di posyandu f). Penyuluhan gizi a). Demo memasak makanan bergizi b). Puskesmas) 5). dan pelayanan kesehatan dasar yang terdiri dari imunisasi. Orientasi/pelatihan kader yang dikoordinir oleh petugas puskesmas. Pendampingan Keluarga Pendampingan keluarga adalah proses mendorong. bidan di desa (Poskesdes) dan Puskesmas. Membentuk Posyandu baru di wilayah yang belum terjangkau. c). Keluarga dengan anak gizi buruk yang dinyatakan sembuh oleh petugas kesehatan tetapi perlu perawatan di rumah perlu didampingi. Suplementasi gizi (kapsul vitamin A dan tablet tambah darah). . 2). Penyebarluasan informasi melalui institusi keagamaan. membimbing dan memberikan kemudahan keluarga oleh kader pendamping guna mengatasi masalah gizi yang dialami. Tindak lanjut pemantauan pertumbuhan a). 4). Anak yang berat badan tidak naik 1 kali perlu di berikan penyuluhan yang intensif. BGM atau sakit perlu dirujuk ke petugas kesehatan (Poskesdes. pemeriksaan kesehatan ibu dan anak.Kegiatan perbaikan gizi di tingkat desa/kelurahan dilaksanakan secara berkesinambungan melibatkan masyarakat. Penyebarluasan kegiatan Posyandu sebelum hari H d). PMT-penyuluhan g). ayah. Keluarga dengan ibu hamil sangat kurus dan pucat setelah dikonfirmasi oleh petugas kesehatan. Pendataan sasaran Posyandu c). kader. Diskusi Kelompok Terarah bagi kelompok ibu-ibu. warung. sekolah. berat badannya 2 kali tidak naik setelah dikonfirmasi oleh petugas kesehatan (poskesdes/puskesmas) b). Langkah-langkah kegiatan di tingkat desa/kelurahan adalah sebagai berikut: 1). Keluarga dengan bayi usia 0-6 bulan d).

HASIL DISKUSI LAPANGAN TINGKAT DESA/KELURAHAN Masalah Utama : .

....................................................... Metode untuk menetapkan prioritas secara adil..... Metode ini memiliki tiga tujuan utama: * Memungkinkan para pengambil keputusan untuk mengidentifikasi faktor-faktor eksplisit yang harus diperhatikan dalam menentukan prioritas * Untuk mengorganisasi faktor-faktor ke dalam kelompok yang memiliki bobot relatif satu sama lain * Memungkinkan faktor-faktor agar dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan dinilai secara individual............... 4 .................... dan objektif........... karena dengan berbagai proses seperti itu................................... dan sesuai dengan data statistik dan akurat........... Komponen B – Tingkat Keseriusan Masalah Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin dan menentukan tingkat keseriusan dari masalah. kelayakan ekonomi............. Lebih jauh lagi.............. yakni insiden... 5 ..... Namun demikian................ maka kanker paru-paru............. Manager kesehatan masyarakat sering dihadapkan pada masalah yang semakin menekan dengan sumber daya yang semakin terbatas... dan legalitas) Semua komponen tersebut diterjemahkan ke dalam dua rumus yang merupakan nilai numerik yang memberikan prioritas utama kepada mereka penyakit / kondisi dengan skor tertinggi................................... pola kriteria yang konsisten menjadi kelihatan jelas....... 3 ........................... penyakit cardiovascular mungkin juga dapat dipertimbangkan. Formula Dasar Penilaian Prioritas Berdasarkan tinjauan atas percobaan berulang yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan....................... Keputusan untuk menentukan berapa ukuran/besarnya masalah biasanya merupakan konsensus kelompok............ Jika akan dibuat lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan. Komponen A = Ukuran/Besarnya masalah Komponen B = Tingkat keseriusan masalah Komponen C = Perkiraan efektivitas solusi Komponen D = PEARL faktor ((propriety. sebisa mungkin sama/sederajat............................... dapat diterima.................................................. Selain itu............... ............ tidak absolut/mutlak................. memiliki kerangka.... resource availability....... nilai tersebut merupakan penetapan dari masing-masing individu pemberi nilai.. Metode ini...................................... 4............ Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yang berpotensi/berisiko dapat menjadi pertimbangan........ jika kanker yang berhubungan dengan tembakau dijadikan pertimbangan.........................Ukuran/Besarnya Masalah Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yang kecil.............. Sekalipun demikian... .... atau tingkat kematian dan angka............... Misalnya.... Komponen Komponen A .............................................................. Pola tersebut tercermin pada komponen-komponen dalam sistem ini. Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secara langsung terkena dampak dari masalah tersebut....... Kelompok harus berhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat dicegahnya suatu masalah ke dalam diskusi.... dan kanker mulut dapat dianggap sebagai satu...... Alternatif Pemecahan : 1 ...... yang mengarah pada solusi bersama/yang sama dapat dipertimbangkan secara bersama-sama................. ................................1..... 2 ... beberapa kontrol ilmiah dapat dicapai dengan menggunakan definisi istilah secara tepat....... acceptability........ ...... dan mudah dihitung merupakan perangkat manajemen yang penting... masuk akal.......... 3.... 2............ legality--Kepatutan...................................... kerongkongan... penyakit –penyakit dengan faktor risiko pada umumnya................................. yang disebut dengan Metode Hanlon maupun Sistem Dasar Penilaian Prioritas (BPRS)........................................ 5.. definisi.......... angka dari faktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas.................. dijelaskan dalam buku Public Health: Administration and Practice (Hanlon and Pickett........................ ketersediaan sumber daya...... Aspen Publishers)....... Panduan Penetapan Prioritas Masalah Kesehatan Masyarakat (Dimodifikasi dari Studi Kasus CDC: Menerjemahkan Sains ke dalam Praktek) Menetapkan prioritas dari sekian banyak masalah kesehatan di masyarakat saat ini merupakan tugas yang penting dan semakin sulit.... Penting untuk mengenal dan menerima hal-hal tersebut..................... Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih dari satu cara.................... Times Mirror/Mosby College Publishing) dan Basic Health Planning (Spiegel and Hyman..... Nilai maksimal dari komponen ini adalah 10.. economic feasibility........... akan terdapat sejumlah besar subyektivitas.. karena kedua hal tersebut sesuai untuk dipersamakan di tempat yang lain. dan bobot relatif yang ditetapkan pada komponen merupakan keputusan kelompok dan bersifat fleksibel.......................... Pilihan................................................... prevalensi.................... ... Metode yang dijelaskan di sini memberikan cara untuk membandingkan berbagai masalah kesehatan dengan cara yang relatif. . Nilai Dasar Prioritas/Basic Priority Rating (BPR)> BPR = (A + B) C / 3 Nilai Prioritas Keseluruhan/Basic Priority Rating (OPR)> OPR = [(A + B) C / 3] x D Perbedaan dalam dua rumus akan menjadi semakin nyata ketika Komponen D (PEARL) dijelaskan.

angka kematian prematur relatif.30 x 0.000 Persen dari total 97% atau 0.91 atau 9. Dengan menggunakan nomor ini (20). dll) 3 = paling Misalnya.32 Target populasi x efektivitas 0. jika kematian prematur sedang digunakan untuk menentukan keparahan. bila menggunakan empat faktor.97 x 0. bagian dari upaya perencanaan total mungkin termasuk melakukan langkahlangkah lanjut yang diperlukan untuk mengatasi PEARL secara positif di masa mendatang. jika intervensi tersebut hanya tidak dapat diterima penduduk.1 Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target dan jumlah yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yang realistis mengenai sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang diharapkan untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan." Bila penilaian skor telah lengkap/selesai. akses terkini kepada pelayanan yang diperlukan. Apakah dengan menangani masalah tersebut akan bermakna dan memberi arti secara ekonomis? Apakah ada konsekuensi ekonomi jika masalah tersebut tidak diatasi? A – Acceptability. Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan / atau target populasi? R – Resources/Sumber Daya.096 atau 0. tren insidensi. walaupun tidak secara langsung berkaitan dengan masalah kesehatan. 2004 (epowell) . tingkat kematian. * Tingkat keparahan: tingkat daya tahan hidup. Komponen C . dikalikan dengan persen dari target populasi yang diharapkan dapat tercapai. Karena bersamasama. semua angka-angka dikalikan untuk mendapatkan jawaban akhir terbaik. Singkatnya.PEARL PEARL yang merupakan kelompok faktor itu. Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama ini. Faktor-faktor harus dipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati. Hal ini akan membantu untuk menentukan batas-batas untuk menjaga beberapa perspektif dalam menetapkan sebuah nilai numerik. atau faktor risiko. Karena D adalah pengali akhir dalam rumus . kemudian kematian bayi mungkin akan menjadi 5 dan gonorea akan menjadi 0.94 Populasi yang tercapai x efektivitas 0. dan angka untuk setiap faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan 0 jika jawabannya adalah "tidak. jika salah satu dari lima faktor yang "tidak". dan untuk masing-masing individu.000 Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193. maka D akan sama dengan 0. Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan menggunakannya sebagai skala seperti: 0 = tidak ada 1 = beberapa 2 = lebih (lebih parah. Apakah hukum yang ada sekarang memungkinkan masalah untuk diatasi? Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan. Contoh: Berhenti Merokok Target populasi 45. faktor-faktor ini merupakan suatu produk dan bukan merupakan jumlah. Menentukan apa yang akan dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalam setiap faktor biasanya akan menjadi sangat membantu. keseriusan dianggap dua kali lebih pentingnya dengan ukuran/besarnya masalah. dapat diambil langkah-langkah bertahap untuk mendidik masyarakat mengenai manfaat potensial dari intervensi. Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif. Sekalipun demikian. yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilan yang diketahui dari literatur. Misalnya.Efektivitas dari Intervensi Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan masalah ini dapat diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angka dari 0 10.000 perokok Total yang mencoba untuk berhenti 13.1 atau 1 Contoh: Imunisasi Target populasi 200. masalah kesehatan tidak akan diatasi dibenahi dalam OPR. bobot yang mungkin adalah 0-5 atau kombinasi manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20.97 Efektivitas 94% atau 0. memiliki pengaruh yang tinggi dalam menentukan apakah suatu masalah dapat diatasi. kepentingan relatif terhadap masayarakat. P – Propierity/Kewajaran. sehingga dapat dipertimbangkan di masa mendatang. kecacatan/disabilitas. Faktor yang dapat digunakan adalah: * Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah. Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Apakah masalah tersebut berada pada lingkup keseluruhan misi kita? E – Economic Feasibility/Kelayakan Ekonomis.94 = 0. maka jika D = 0. Apakah tersedia sumber daya untuk mengatasi masalah? L – Legalitas. terlepas dari seberapa tingginya peringkat masalah di BPR. Sebagai contoh.32 = 0.500 Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0. rata-rata usia kematian. lebih banyak. Komponen D . Efektivitas penilaian. * Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara). Basic Priority System last revised April 19. lebih gawat.Maksimum skor pada komponen ini adalah 20.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful