You are on page 1of 88

PENDAHULUAN

Pengetahuan kestabilan lereng atau disebut juga kemantapan lereng perlu diketahui oleh para pekerja lapangan dalam kegiatan penambangan. Pengetahuan kestabilan lereng ini diperlukan untuk menjaga supaya kegiatan penambangan berlangsung sesuai dengan yang diharapkan. Hal ini sangat penting karena kestabilan lereng akan mempengaruhi kegiatan penambangan, baik secara keseluruhan maupun pada sebagian kegiatan penambangan, misalnya; kelongsoran sebagian atau seluruh lereng akan mengakibatkan kerugian langsung berupa tertimbunnya pekerja atau peralatan. Kerugian tak langsung berupa tertundanya penambangan dan ongkos pembersihan timbunan batuan Seringkali kelongsoran ini menyebabkan cadangan yang sedang

dikerjakan secara tiba-tiba menjadi tidak ekonomis karena harus menanggung kecelakaan diatas. Untuk mencegah kecelakaan diatas maka para pekerja lapangan perlu memahami dan mempunyai keterampilan dalam hal: identifikasi bidang lemah pengaruh penambangan terhadap kestabilan lereng factor-faktor pengganggu kestabilan lereng dasar-dasar analisa kestabilan lereng pengelolaan sumberdaya kestabilan lereng perawatan lereng K3 kestabilan lereng pemantauan lereng

PEMBELAJARAN 1

PENGARUH PENGGALIAN TERHADAP KESTABILAN MASSA BATUAN


Tujuan khusus
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat: 1. Menjelaskan pengaruh pemotongan/penggalian atau penambangn terhadap kestabilan massa batuan yang membentuk lereng 2. Menjelaskan metode tambang yang berhubungan dengan kestabilan lereng

1.1 Metoda Penambangan Tambang Terbuka


Tambang terbuka adalah kegiatan penambangan yang aktifitasnya berhubungan langsung dengan udara luar. Kegiatan tambang terbuka yang dikenal adalah; tambang open pit , tambang quarry, strip mine dan auger. Yang akan dibahas pada bab ini adalah mengenai tambang open pit, tambang quarry dan strip mine.

1.1.1 Tambang open pit


Sebagian besar penambangan saat ini dilakukan secara open pit, sehingga permasalahan kestabilan lereng sering dikaitkan dengan metoda hasil penambangan ini. Karena kegiatan utama penambangan tambang terbuka adalah penggalian dengan cara memotong massa batuan yang mana lubang tambang. penggalian ini adalah terbentuknya lereng yang merupakan sisi-sisi dari sebuah

Gambar 1-1 Tambang Open Pit

Pada beberapa tambang skala kecil - sedang lereng tunggal yang terbentuk hanya mempunyai dimensi tinggi 5 meter hingga 10 meter dengan tinggi lereng keseluruhan sekitar 100 meter, sedangkan pada tambang besar, lereng tunggal yang terbentuk dapat mencapai 10 meter hingga 20 meter dengan tinggi lereng keseluruhan lebih tinggi dari 200 meter.

Akibat

penggalian

pada

massa

batuan

ini

maka

akan

terjadi

ketidakseimbangan pada lereng yang terbentuk. Ketidakseimbangan tersebut dapat disebabkan akibat; perubahan tegangan Kondisi pada ini sisi lereng yang terbentuk, yang disebabkan hilangnya beban pada sisi lain massa batuan akibat pemotongan. akan menyebabkan terkonsentrasinya tegangan pada suatu daerah sempit sehingga akan menyebabkan terlampauinya kekuatan massa batuan oleh tegangan yang terjadi, yang pada akhirnya batuan yang bersangkutan akan pecah/ failure

Konsentrasi tegangan

Gambar 1-2 Ketidakseimbangan akibat perubahan tegangan

hilangnya penyanggaan pada suatu blok batuan yang disebabkan terpotongnya massa batuan yang sebelumnya menyangga blok batuan tersebut. Dengan adanya penggalian, maka ketersingkapan bidang lemah akan makin besar yang menyebabkan makin besarnya kemungkinan suatu blok batuan kehilangan penyanggaan.

bidang lemah 1

arah longsoran blok batuan

blok penyangga yang lepas bidang lemah 2

Gambar 1-3 Makin besar geometri lereng, ketersingkapan bidang lemah akan makin besar

Kedua ketidakseimbangan ini dapat saling sinergi sehingga menyebabkan makin berisikonya kegiatan pemotongan/penggalian massa batuan ini, hal ini terjadi karena massa batuan bukanlah suatu massa yang solid tetapi merupakan massa yang terpotongpotong oleh bidangbidang lemah (bidang diskontinyu). Akibat penggalian akan menyebabkan perubahan tegangan dan hilangnya penyanggaan pada blok batuan akan terjadi bersamaan, bahkan perubahan tegangan tersebut dapat menyebabkan makin melemahnya kuat geser bidang diskontinyu. Pada kegiatan tambang dimana semakin tinggi lereng tunggal ( individual slope) dan terutama makin tingginya lereng keseluruhan ( overall slope), maka risiko kelongsoran akan semakin tinggi. Hal ini terjadi karena makin tinggi lereng, maka perubahan tegangan akan semakin besar dan bidang lemah yang tersingkap/terpotong akan makin banyak.

Pada lereng tanah, ketidakstabilan lereng lebih banyak disebabkan oleh perubahan tegangan akibat penghilangan beban pada sisi lereng yang lain. Perubahan tegangan ini menyebabkan bergesernya suatu blok tanah dimana kuat gesernya akan dilampaui yang pada akhirnya akan longsor.

1.1.2 Tambang Quarry


Metoda Penambangan ini diterapkan untuk mmenggali batuan ornamen atau konstruksi; misalnya batu belah/split, batu marmer, batu granit dll. Untuk batuan konstruksi persyaratan bentuk tidak menjadi masalah oleh sebab itu pembongkaran batuan tidak perlu mengikuti dimensi bongkahan tertentu, tetapi untuk batuan ornamen maka perlu dilakukan pemotongan yang lebih teratur dan berdimensi tertentu. Penambangan biasanya dilakukan pada bentuk cadangan yang membukit dan permulaan penambangan dilakukan secara side hill type, yaitu dilakukan dari sisi bukit setelah itu memotong secara keseluruhan bukit. Permasalahan kestabilan lereng yang sering ditemukan adalah kelongsoran batuan akibat terlampauinya kekuatan geser (shear strength) bidang lemah batuan akibat beban blok batuan atau hilangnya efek penyanggaan akibat pemotongan (Gambar 1-3) Sedangkan pengaruh perubahan tegangan akibat perubahan beban tidak terlalu berpengaruh. Kecilnya pengaruh pembebanan dikarenakan penambangan dilakukan pada lereng bukit/diatas bukit sehingga perubahan beban tidak terlalu besar. Ditinjau dari masalah kestabilan lereng, tambang open cut yang dilakukan dengan cara memotong bukit dari arah permasalahannya sama dengan quarry

Gambar 1-4 Penambangan Quarry untuk batu marmer

1.1.3 Tambang Batubara (Strip Mine)


Strip mine dilakukan untuk penambangan batubara yang mempunyai kemiringan yang rendah (kurang dari 30 0). Awal penambangan dilakukan dengan mengupas/stripping batuan penutup yang kemiringannya sejajar dengan batubara. Kemungkinan keelongsoran akan timbul jika penambangan sudah cukup dalam. Kelongsoran dapat terjadi pada high wall atau low wall. Pada high wall kelongsoran lebih didominasi karena perubahan tegangan pada high wall akibat perubahan beban dan kondisi bidang lemah, sedangkan pada low wall lebih disebabkan terlampauinya kekuatan geser ( shear strength) bidang lemah oleh tegangan geser (shear stress) karena perubahan pembebanan.

Gambar 1-5 Penambangan Stripe Mine

RANGKUMAN PEMBELAJARAN 1
Metoda penambangan tambang terbuka yang erat berhubungan dengan masalah kestabilan lereng adalah; open pit, pada penambangan ini akan terbentuk lubang tambang yang sisisisinya dibatasi oleh lereng-lereng yang cukup terjal quarry, penambangan ini dilakukan khusus untuk batuan kontruksi atau batuan ornamen open cut, penambangan dilakukan mulai dari atas bukit dan mengarah ke kaki bukit strip mine, penambangan dilakukan pada tambang batubara yang sedikit mendatar Dengan adanya penggalian, maka akan terjadi ketidakseimbangan baik berupa perubahan arah dan besarnya stress serta kehilangan penyanggaan dari suatu blok batuan.

EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 1


EVALUASI 1. Pada kegiatan penambangan sering terjadi kelongsoran batuan, hal ini terjadi karena adanya kegiatan penggalian. Sebutkan 2 akibat penggalian yang sering mempengaruhi kestabilan lereng. A. Perubahan bidang lemah B. C. D. Perubahan tegangan dan adanya bidang lemah sehingga menyebabkan batuan longsor. Konsentrasi tegangan pada kaki lereng akan menyebabkan batuan longsor melalui kaki lereng. Konsentrasi tegangan dan kehadiran bidang lemah akan menyebabkan lereng longsor melalui kaki lereng. 2. Ketidakstabilan lereng yang terjadi saat penggalian bukan diakibatkan oleh; A. B. C. D. Perubahan tegangan Kehilangan penyanggaan blok batuan. Getaran akibat penggalian. Metode penambangan arah tegangan yang menyebabkan terjadinya konsentrasi tegangan dan besarnya ketersingkapan terhadap

3. Keuntungan metoda penambangan terbuka adalah; A. B. C. D. Dapat menggunakan alat besar Suasana kerja lebih baik dibandingkan tambang bawah tanah. Recovery besar. Semuanya benar.

10

4. Penyebab utama ketidakstabilan lereng pada penambangan quarry adalah;. A. B. C. D. Stress Bidang lemah. Air. Getaran.

5. Pada material tanah, penyebab utama kelongsoran secara umum adalah. A. B. C. D. Stress Bidang lemah. Air. Getaran.

KUNCI JAWABAN
1. A 2. D 3. D 4. B 5. C

11

PEMBELAJARAN 2 FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESTABILAN LERENG


Tujuan khusus
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat: 1. Menjelaskan penyebab atau faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng 2. Menjelaskan jenis kelongsoran pada tambang terbuka 3. Mengidentifikasi Potensi Kelongsoran dalam Perencanaan Tambang 4. Mengidentifikasi potensi kelongsoran dalam pelaksanaan pekerjaan Pada pembelajaran 1 telah dibahas secara sepintas bahwa tegangan dan bidang lemah merupakan beberapa penyebab kelongsoran. Tegangan yang merupakan akibat dari geometri lereng dan bidang lemah akan dibahas kembali secara lengkap sehingga dapat dimengerti mengapa kedua factor tersebut sangat mempengaruhi kestabilan lereng. Faktor-faktor yang mengganggu kestabilan lereng adalah; geometri lereng, air tanah, bidang lemah, kekuatan batuan utuh dan faktor luar;

2.1 Geometri lereng,


Makin tinggi lereng, makin besar risiko yang akan dihadapi. Hal ini disebabkan karena makin tinggi lereng, maka makin besar perubahan tegangan (stress) yang dapat menyebabkan konsentrasi tegangan pada kaki lereng serta dengan makin besarnya geometri, maka ketersingkapan struktur pun akan makin besar (Gambar 2.1) yang menyebabkan terjadinya kelongsoran blok batuan.

12

Tegangan (stress) yang terkonsentrasi pada suatu area yang sempit akan melampaui kekuatan batuan, sehingga batuan akan pecah dan memprovokasi kelongsoran. Tegangan yang hadir pada lereng ini disebabkkan karena adanya perubahan beban (hilangnya beban) diatas dan disamping bidang lereng. Pada beberapa daerah dimana tektonik stress hadir atau adanya stress residu horisontal, maka pengaruh geometri ini akan makin besar.

2.2 Bidang lemah


Kekuatan massa batuan merupakan gabungan dari kekuatan batuan utuh, kondisi air tanah dan kondisi/posisi/geometri serta frekwensi bidang diskontinyu. Jika batuan utuh makin kuat serta bidang lemah makin sedikit dan makin kuat, maka massa batuan akan makin kuat. Selain itu pula adanya kehadiran bidang lemah yang cukup lebar/panjang harus diperhitungkan secara tersendiri karena akan menjadi faktor penentu kelongsoran. Kondisi bidang lemah yang harus diperhitungkan adalah lebar bidang lemah; makin lebar jarak antar sisi-sisi bidang lemah, maka batuan akan makin lemah kondisi pelapukan sisi-sisi batuan bidang lemah; makin lapuk sisi-sisi batuan bidang lemah maka bidang lemah tersebut akan makin lemah jenis pengisi bidang lemah; jika pengisi kuarsa maka bidang lemah akan makin kuat, sebaliknya jika pengisi adalah lempung maka bidang lemah akan makin lemah orientasi bidang lemah; bidang lemah yang berisiko longsor adalah bidang lemah yang searah dan lebih landai dari kemiringan lereng kekasaran bidang lemah, makin kasar maka bidang lemah akan makin kuat

13

muka lereng

Bidang lemah

Gambar 2-1 Sketsa mengenai pengaruh geometri lereng dan kehadiran bidang lemah terhadap kestabilan lereng

Kondisi bidang lemah yang harus diperhitungkan adalah lebar bidang lemah; makin lebar jarak antar sisi-sisi bidang lemah, maka batuan akan makin lemah kondisi pelapukan sisi-sisi batuan bidang lemah; makinlapuk sisi-sisi batuan bidang lemah maka bidang lemah tersebut akan makin lemah jenis pengisi bidang lemah; jika pengisi kuarsa maka bidang lemah akan makin kuat, sebaliknya jika pengisi adalah lempung maka bidang lemah akan makin lemah orientasi bidang lemah; bidang lemah yang berisiko longsor adalah bidang lemah yang searah dan lebih landai dari kemiringan lereng kekasaran bidang lemah, makion kasar maka bidang lemah akan makin kuat

14

2.3 Air tanah.


Pada batuan sangat berpengaruh jika ada bidang lemah yang terisi oleh air karena akan menyebabkan meningkatkan tegangan terhadap bidang lemah tersebut. Selain itu air dapat mengikis pengisi ruang antar bidang lemah, melapukan sisi bidang lemah dan melarutkan mineral - mineral sulfida. Pada beberapa kasus, air dapat menjadi faktor utama ketidakstabilan lereng terutama pada lereng tanah.

Arah tegangan air tanah

Gambar 2-2 Kehadiran air tanah akan mengurangi kekuatan geser bidang lemah 2.4 Getaran
Getaran dapat diakibatkan oleh gempa bumi, getaran alat berat ataupun peledakan. Getaran menyebabkan berpindahnya suatu massa dalam frekwensi tertentu yang mengakibatkan timbulnya gaya dorong pada suatu blok batuan,

15

2.5 Beberapa Jenis Kelongsoran Pada Tambang Terbuka


Pada penggalian awal, umumnya material yang digali adalah tanah. Karakteristik mekanis tanah yang lemah menyebabkan tanah mudah longsor. Tapi karena tanah ini merupakan massa yang kontinyu, maka mudah untuk menganalisa keruntuhan/kelongsorannya. Tetapi jika penggalian dilakukan lebih dalam, maka akan ditemukan suatu zona campuran antara tanah dengan boulder batuan. Pada zona ini seringkali terjadi kelongsoran yang tidak terduga, karena selain karakteristik mekanis material pada zona ini sangat beragam, juga reaksi terhadap penggalian beragam. Kondisi ketidakseragaman ini sering terjadi jika zona batuan solid cukup keras. Pada zona tanah kelongsoran yang terjadi dapat berupa; jatuhan/fall kelongsoran sirkuler kelongsoran translasi kombinasi

Berikut adalah beberapa contoh sederhana kelongsoran

Fall

circuller

Gambar 2-3 Jenis Kelongsoran Tanah

16

Sedangkan pada zona batuan kelongsoran yang terjadi dapat berupa 2 jenis; Kelongsoran pada batuan utuh yaitu kelongsoran geser/shear failure kelongsoran lendutan/bending failure

Shear failure

Bending failure

undercut

Gambar 2-4 Jenis Kelongsoran Pada Batuan Utuh

Kelongsoran pada bidang lemah; plane sliding wedge sliding bucling failure toppling

plane sliding

wedge sliding

arah longsoran arah longsoran

17

Buckling topling

Gambar 2-5 Jenis Kelongsoran Pada Bidang Lemah

2.6

Identifikasi Tambang
Untuk supaya

Potensi

Kelongsoran
dapat

dalam

Perencanaan
aman dan

penggalian

dilakukan

secara

mengantisipasi adanya kelongsoran, maka dalam perencanaan tambang perlu diidentifikasi jenis kelongsoran yang akan terjadi serta lokasinya. Data untuk mengidentifikasi jenis dan lokasi kelongsoran didapat setelah tambang dibuka dan lereng dibuat. Identifikasi jenis dan lokasi kelongsoran ini dibuat berdasarkan pemetaan bidang lemah, dimana hasilnya dianalisa secara stereografis. Selain itu tanda-tanda gangguan alam yang dapat mempengaruhi ketidakstabilan harus diidentifikasi. Identifikasi kemungkinan kelongsoran ini akan membantu perencana dan operasional tambang untuk menghindari pemotongan/penggalian yang dapat menyebabkan kelongsoran, ataupun jika harus dilakukan maka antisipasi yang tepat dapat dilakukan. Identifikasi dalam memperhitungkan kemungkinan kelongsoran, biasanya dilakukan jika penambangan sudah mencapai material batuan. Hal ini dilakukan

18

karena penambangan sudah dalam sehingga jika terjadi kelongsoran, maka kerugian lebih lanjut dapat dicegah. Identifikasi kemungkinan kelongsoran ini dapat berupa perhitungan yang sudah cukup detail, jika ditemukan adanya bidang diskontinyu yang dominan, atau merupakan perhitungan awal melalui analisa stereografis jika tidak ditemukan bidang diskontinyu yang dominan.

2.7 Mengidentifikasi potensi kelongsoran dalam pelaksanaan pekerjaan


Dalam Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.

555.K/26/M.PE/1995 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pertambangan Umum, masalah dimensi lereng dibahas pada Pasal 241. Pada ayat 2 beberapa persyaratan harus dipenuhi jika pekerjaan dilakukan pada batuan/material lepas. Selain itu pula pada pasal tersebut di ayat 5 mensyaratkan adanya studi kemantapan lereng. Dasar pemikiran yang memunculkan peraturan tersebut adalah karena banyaknya kecelakaan yang timbul karena cara penggalian yang tidak sesuai dengan kondisi batuan/material penggalian. Faktor-faktor kecelakaan pada pekerjaan tambang terbuka dimana front kerja berada pada daerah sekitar lereng meliputi : tertimpa batuan, terguling pada sisi crest (untuk peralatan) tertimpa atau berada pada daerah longsoran individual slope dan/atau overall slope Faktor-faktor diatas diperberat oleh tatacara penambangan yang tidak mengindahkan kondisi lapangan/batuan serta peraturan yang ada.

2.8 Fenomena Kecelakaan A. Batuan Jatuh


Dimensi dari batuan yang jatuh dapat berukuran kecil hingga besar dan dapat berasal dari timbunan berm, bagian dari lereng (baik dari crest maupun

19

face).

Batuan yang jatuh dapat berupa komponen batuan dari berm, batu

menggantung, potongan batuan hasil kelongsoran buckling dan batuan yang lepas dari crest Beberapa fenomena jatuhnya batuan dari lereng adalah dapat dilihat pada Gambar 2.6.

Gambar 2-6 Fenomena Jatuhnya Batuan


Makin terjal lereng dan makin tinggi lereng maka kecepatan batuan jatuh pada toe akan semakin besar sehingga akan meningkatkan risiko kecelakaan. Beberapa jenis batuan jatuh adalah; free falling/bouncing rolling/toppling sliding

20

Gambar 2-7 Gerakan Batuan Jatuh


Untuk menghindari batuan jatuh maka dibuat berm sehingga batuan dapat tertahan oleh adanya berm.

Gambar 2-8 Batuan Jatuh Tertahan Oleh Berm

21

Pada penambangan dimana pembongkaran batuan menggunakan peledakan, seringkali terjadi back break atau terjadi retakan/hancuran pada crest lereng baru. Kondisi ini merupakan kondisi berbahaya yang dapat menyebabkan tergulingnya kendaraan. Oleh sebab itu dibuat berm yang akan berguna bagi menghindarkan tergulingnya kendaraan karena melewati crest. Fenomena jatuhnya batuan dapat mengindikasikan bahwa kondisi lereng tidak stabil atau sedang dalam kondisi untuk mencapai kestabilan.

B. Kendaraan Terguling
Kegunaan lain dari berm pada jalan angkut atau cut bench adalah untuk menghindari jatuhnya kendaraan melewati crest.

C Longsornya Lereng
Kelongsoran individual slope hanya akan mengganggu produksi seharihari, tetapi jika kelongsoran menyangkut sebagian atau seluruh dari overall slope maka akan mengganggu produksi secara keseluruhan

2.9 Pemeriksaan Lereng


Untuk menghindari kecelakaan karena tidak amannya sebuah lereng perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala kondisi lereng. Pada perusahaan tambang tersebut. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah; a. pada setiap potongan baru harus dipetakan dan diidentifikasi bidangbidang lemah yang ada b. curigai jika ada tumpukan batu disekitar toe, hal ini mengindikasikan adanya jatuhan dari atas c. potong setiap batu menggantung d. tangani setiap adanya rekahan tarik pada crest e. tangani jika ada batuan yang akan jatuh dari berm f. drain setiap adanya rembesan air g. pelihara drainase supaya tidak ada air yang tergenang

22

h. curigai setiap retakan mendatar pada muka lereng, hal ini dapat mengindikasikan adanya buckling i. identifikasi adanya retakan tarik diluar batas pit limit j. inspeksi khusus setiap setelah hujan

23

RANGKUMAN PEMBELAJARAN 2

Faktor-faktor yang mengganggu kestabilan lereng adalah; - Geometri lereng, Makin tinggi lereng, makin besar risiko yang akan dihadapi. Hal ini disebabkan karena makin tinggi lereng, maka makin besar perubahan tegangan (stress) yang dapat menyebabkan konsentrasi tegangan pada kaki lereng serta dengan makin besarnya geometri, maka ketersingkapan struktur pun akan makin besar kelongsoran blok batuan. - Bidang lemah Kekuatan massa batuan merupakan gabungan dari kekuatan batuan utuh, kondisi air tanah dan kondisi/posisi/geometri serta frekwensi bidang diskontinyu. - Air tanah. Pada batuan sangat berpengaruh jika ada bidang lemah yang terisi oleh air karena akan menyebabkan meningkatkan tegangan terhadap bidang lemah tersebut. Selain itu air dapat mengikis pengisi ruang antar bidang lemah, melapukan sisi bidang lemah dan melarutkan mineral - mineral sulfida. Pada beberapa kasus, air dapat menjadi faktor utama ketidakstabilan lereng terutama pada lereng tanah. - Getaran Getaran dapat diakibatkan oleh gempa bumi, getaran alat berat ataupun peledakan. Getaran menyebabkan berpindahnya suatu massa dalam yang menyebabkan terjadinya

24

frekwensi tertentu yang mengakibatkan timbulnya gaya dorong pada suatu blok batuan,

Beberapa Jenis Kelongsoran Pada Tambang Terbuka Pada zona tanah kelongsoran yang terjadi dapat berupa; jatuhan/fall kelongsoran sirkuler kelongsoran translasi kombinasi

Sedangkan pada zona batuan kelongsoran yang terjadi dapat berupa 2 jenis; Kelongsoran pada batuan utuh yaitu kelongsoran geser/shear failure kelongsoran lendutan/bending failure plane sliding wedge sliding buckling failure toppling

Kelongsoran pada bidang lemah;

Pemeriksaan Lereng Untuk menghindari kecelakaan karena tidak amannya sebuah lereng perlu dilakukan pemeriksaan secara berkala kondisi lereng. Pada perusahaan tambang tersebut. Beberapa hal yang perlu dilakukan adalah; 1. pada setiap potongan baru harus dipetakan dan diidentifikasi bidangbidang lemah yang ada 2. curigai jika ada tumpukan batu disekitar toe, hal ini mengindikasikan adanya jatuhan dari atas 3. potong setiap batu menggantung 4. tangani setiap adanya rekahan tarik pada crest 5. tangani jika ada batuan yang akan jatuh dari berm
25

6. drain setiap adanya rembesan air 7. pelihara drainase supaya tidak ada air yang tergenang 8. curigai setiap retakan mendatar pada muka lereng, hal ini dapat mengindikasikan adanya buckling 9. identifikasi adanya retakan tarik diluar batas pit limit 10. inspeksi khusus setiap setelah hujan

26

EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 2

EVALUASI 1. Sebutkan 2 geometri lereng yang menjadi penyebab utama ketidakstabilan lereng? A. Lebar dan tinggi B. Tinggi dan Kemiringan. C. Kemiringan dan topografi. D. Topografi dan lebar. 2. Kondisi bidang lemah yang bagaimana yang dapat menyebabkan

ketidakstabilan lereng; A. Bidang lemah yang terbuka B. Bidang lemah menerus. C. Bidang lemah terisi kwarsa. D. Semuanya benar 3. Jenis kelongsoran utama pada massa batuan berlapis adalah; A. Sliding B. Shear. C. Topling. D. Fall 4. Mengapa kelongsoran tanah sering terjadi setelah hujan lebat? A. Tanah menjadi licin C. Tanah menjadi lumpur. C. Tegangan air pori meningkat. D. Semuanya salah

27

5. Pada material tanah, penyebab utama kelongsoran secara umum adalah. a. Stress b. Bidang lemah. c. Air. d. Getaran.

KUNCI JAWABAN
1. B 2. D 3. A 4. C 5. C

28

PEMBELAJARAN 3

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MATERIAL PEMBENTUK LERENG


Tujuan khusus
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat: 1. Menjelaskan perbedaan lapisan tanah dan batuan 2. Menjelaskan parameter penyebab kelongsoran 3. Menjelaskan karakteristik massa batuan 4. Menjelaskan tegangan geser tanah dan batuan

3.1 Tanah
Di alam tanah dibagi dalam beberapa lapisan, yaitu; a. top soil, merupakan lapisan tanah yang paling subur dimana ketebalannya antara 10 cm hingga 25 cm, tergantung kondisi lingkungan. Lapisan ini harus diselamatkan waktu pertama kali penggalian, ditempatkan secara khusus dan dilindungi sebelum digunakan kembali b. sub soil, terletak dibawah top soil. Istilah tanah dimulai dari sub soil kebawah. Dilihat dari genesanya ada empat jenis tanah yaitu; a. transported soil, adalah tanah yang terbentuk karena dipindahkan dan diendapkan dari daerah lain b. residual soil, adalah tanah yang belum mengalami transportasi dan terbentuk pada tempatnya semula

29

c. laterit, adalah tanah yang banyak mengandung oksida besi dan alumina d. organic soil sering pula disebut gambut

3.1.1 Sifat Fisik dan Klasifikasi Tanah


Tanah merupakan suatu material campuran antara butir tanah, udara dan air. Karena komposisi tersebut, tanah mempunyai sifat fisik yang berbeda-beda untuk tempat dan lingkungan yang berbeda. Sifat fisik tersebut adalah; Berat = Wt = Ww Udara Air Volume = Vv =Vw =Vt

Butir Tanah =Ws = Vs

Gambar 3-1 Illustrasi Komposisi Berat dan Isi Tanah


Klasifikasi dan sifat tanah akan sangat tergantung pada ukuran butirnya (kecuali lempung dan lanau). Berikut adalah jenis tanah beserta ukuran butirnya.

Tabel 3-1 Ukuran Butir Tanah


Jenis Tanah Berangkal/Boulder) Kerakal/Cobble Kerikil/Gravel Pasir Kasar/Coarse Sand Pasir Sedang/Med.Sand Pasir Halus/Fine Sand Ukuran > 20 cm 8 20 cm 2 mm 8 cm 0,6 mm 2 mm 0,2 0,6 mm 0,06 0,2 mm

30

Lanau/Silt Lempung/Clay

0,002 - 0,06 mm < 0,002 mm

Dari segi keteknikan yang disebut tanah berada pada ukuran mulai dari kerikil kebawah. Pada tanah yang berbutir kasar (pasir halus hingga kerikil/Tabel 2-1), sifat-sifat tanah tersebut akan tergantung pada ukuran butirnya. Sedangkan tanah yang berbutir halus (lempung dan lanau), sifat tanah tergantung pada komposisi kimianya. Pada kondisi nyata dilapangan, tanah merupakan campuran beberapa ukuran butir tanah. Istilah pasir lempungan atau lempung pasiran akan sangat umum ditemukan dilapangan. Seringkali istilah pasir kelempungan ditambah dengan bergradasi baik/buruk, dimana fraksi halus akan dinilai sifat plastisitasnya.

3.1.2 Kuat Geser Tanah


Salah satu parameter tanah yang penting adalah kuat geser tanah, dimana parameter ini diperlukan untuk menghitung daya dukung tanah, tegangan tanah pada dinding penahan serta kestabilan lereng Tanah yang terdiri dari butir kasar dan halus yang bergerak relatif antar butirnya akan mengalami keruntuhan geser ( sher failure) jika tanah tersebut tidak dapat memelihara kekuatannya. Kekuatan geser tanah didapatkan dari kohesi (C) antar butir dan gesekan antar butir ( ) Sehingga Kuat Geser tanah ( ) adalah;

=C + =C+

. tan

Berikut adalah illustrasi pengukuran Kuat Geser

31

Gambar 3-2
Illustrasi Gaya-Gaya Pada Benda Yang Digeser Pada kondisi jenuh (kondisi alam yang paling rentan terhadap kelongsoran) tegangan air dalam pori-pori tanah akan mengurangi tegangan normal antar butir, dan jika tegangan air pori = u, maka akan menjadi;

dimana;

= C + ( - u) . tan

= tegangan normal = sudut geser dalam/sudut friksi = kohesi

( - u) = tegangan efektif =

3.2

Batuan
Seorang geologis mendefinisikan batuan adalah semua material kerak

bumi. Mereka membagi batuan menjadi batuan consolidated (batuan) dan batuan unconsolidate (Tanah). Tetapi seorang yang berhubungan dengan masalah civil engineering mendefinisikan batuan adalah merupakan formasi keras dari kulit bumi. Dalam hal ini seorang tehnik sipil lebih memperhatikan mengenai sifat fisik dan mekanik dari batuan. Sedangkan menurut ASTM, batuan adalah suatu bahan yang terdiri dari mineral padat (solid) berupa massa yang
32

berukuran besar ataupun berupa fragmen-fragmen. ISRM dan Bieniewasky membatasi definisi batuan secara lebih kwantitatif, yaitu bahwa batuan adalah material bumi dengan kuat tekan diatas 1 MPa.

3.2.1 Klasifikasi Jenis/Massa Batuan


Menurut engineering batuan dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa cara yaitu;

A.
-

Secara Genesa
Batuan Beku (Andesit, Granit, Gabro dll) Batuan Sedimen (batu Pasir, batu Lempung, Gamping dll) Batuan Metamorf (Quartzite, Marmer, Slate dll)

A.

Secara Lithologi
Klasifikasi ini berdasarkan kandungan mineralnya baik secara kimia maupun bentuk fisik butiran. Klasifikasi ini bermanfaat secara engineering terutama untuk membedakan beberapa jenis batuan sedimen yang mempunyai sifat kimia/fisik yang rentan terhadap perubahan cuaca, pelarutan air serta abrasivitas. Berikut adalah klasifikasi secara litologi berdasarkan beberapa perbedaan komposisi; Perbedaan besar butir (batu Lempung, Lanau, batu Pasir) Perbedaan komposisi Silika (Granit, Granodiorit, Andesit) Perbedaan bentuk bitir (Konglomerat, Breksi, Aglomerat)

B.

Klasifikasi Kekuatan Batuan Utuh


Klasifikasi ini berdasarkan kekuatan (kuat tekan) batuan utuh

33

Tabel 3-2 Klasifikasi Kuat Tekan Batuan Utuh


Class
A

Deskripsi
Very High Strength High Strength Medium Strength Low Strength Very Low Strength

Kuat Tekan (MPa) 220 110 220 55 110 28 55 < 28

Contoh Nama Batuan Quartzite, Diabase, Basalt Marble, Dolomite Limestone Sandstone Tufa

B C D E

C.

Klasifikasi Massa Batuan


RQD merupakan cara yang biasa digunakan untuk mengklasifikasikan secara

engineering suatu kondisi batuan. Sedangkan untuk mengklasifikasikan massa batuan, beberapa cara digunakan. Dimana pengklasifikasian ini sangat berguna secara engineering karena dapat mengkuantifikasi massa batuan dan mengklasifikasikannya. Beberapa cara yang digunakan yaitu; Rock Mass rating Q System Rock Mass Index

3.2.2 Sifat Massa Batuan Secara Umum


Harus dibedakan secara jelas antara batuan utuh dengan massa batuan. Batuan utuh (intack rock) mempunyai sifat relatif lebih homogen dan lebih continue. Sedangkan massa batuan (rock mass) mempunyai sifat sbb;

A. Heterogen.

34

Massa batuan dialam mempunyai sifat/besar butir yang berbeda, jenis semen yang berbeda serta komposisi mineral pembentuk yang berbeda, bahkan untuk batuan yang sama, bisa berbeda besar butir dan porositasnya.

B. Diskontinue
Massa batuan di alam tidak pernah berbentuk utuh. Selalu ada retakan/fisure/bidang pelapisan/kekar. Bahkan seringkali bidang diskontinyu ini sangat intensif sehingga batuan dapat dianggap seperti tanah.

Batuan Utuh

Discontinue

Gambar 3-3 Kondisi Massa Batuan Di Alam

C. Anisotroph
Karena heterogen dan diskontinue menyebabkan batuan dialam akan mempunyai variasi sifat fisik dan mekaniknya, sehingga akan berbeda perilaku saat menerima stress (tegangan) dan menjadi anisotroph.

3.2.3 Eksplorasi Batuan Untuk Analisa Kestabilan Lereng

35

Dalam bidang keteknikan batuan, terutama dalam perancangan pekerjaan pembuatan lereng mengetahui sifat-sifat batuan ataupun massa batuan adalah hal yang sangat penting. Sifat-sifat itu dapat berupa sifat fisik batuan, sifat mekanis/kekuatan batuan, dan karakteristik mekanik massa batuan. Tentu saja sifat-sifat ini sangat dipengaruhi oleh kondisi alamiah massa batuan baik berupa kondisi geologi, kondisi hidrologi ataupun kondisi pelapukan. Kondisi yang berpengaruh ini sangat penting untuk diketahui sehingga kita mengetahui kondisi batuan/massa batuan mendekati kondisi sebenarnya. Beberapa penyelidikan perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi batuan/massa batuan tersebut yaitu dengan cara; Eksplorasi geoteknik bagi perancangan lereng merupakan penelitian batuan yang khusus ditujukan untuk maksud-maksud perancangan lereng. Pada tulisan ini perancangan lereng yang digunakan adalah perancangan lereng dengan menggunakan analisa kesetimbangan batas/ limit equilibrium. Sehingga parameter yang digunakan harus sesuai dengan maksud analisa dimana parameter-parameter yang harus diketahui melalui eksplorasi geoteknik adalah; 1. Sifat fisik; yang paling diperlukan adalah parameter Berat Jenis 2. Sifat Mekanik Batuan/Bidang Lemah; Jika bidang lemah merupakan bidang longsor, maka perlu diketahui beberapa parameter mekanis bidang lemah tersebut. - Sudut Friksi Parameter ini didapat dari uji laboratorium dengan cara menggeser dua blok batuan (lihat Gambar 3-2) - Kohesi Kedua parameter ini akan menentukan Kuat Geser bidang lemah. Sehingga Kuat Geser batuan ( ) adalah;

=C + =C+

. tan

36

dimana;

= tegangan normal = sudut geser dalam/sudut friksi = kohesi

3. Tegangan Air Tanah; parameter ini didapat dari survey hidrologi, terutama sifat hidrologi pada rongga-rongga batuan dan pengaruhnya terhadap kekuatan massa batuan. Salah satunya adalah dengan cara mengukur tinggi muka air pada titik dimaksud. 4. Geometri lereng, tinggi, lebar dan sudut kemiringan lereng

RANGKUMAN PEMBELAJARAN 3

37

- Tanah
1. Dilihat dari genesanya ada empat jenis tanah yaitu; a. transported soil, adalah tanah yang terbentuk karena dipindahkan dan diendapkan dari daerah lain b. residual soil, adalah tanah yang belum mengalami transportasi dan terbentuk pada tempatnya semula c. laterit, adalah tanah yang banyak mengandung oksida besi dan alumina d. organic soil sering pula disebut gambut - 2. Klasifikasi Tanah Klasifikasi dan sifat tanah akan sangat tergantung pada ukuran butirnya (kecuali lempung dan lanau).

Ukuran Butir Tanah


Jenis Tanah Berangkal/Boulder Kerakal/Cobble Kerikil/Gravel Pasir Kasar/Coarse Sand Pasir Sedang/Med.Sand Pasir Halus/Fine Sand Lanau/Silt Lempung/Clay Ukuran > 20 cm 8 20 cm 2 mm 8 cm 0,6 mm 2 mm 0,2 0,6 mm 0,06 0,2 mm 0,002 - 0,06 mm < 0,002 mm

3. Kuat Geser Tanah Kuat Geser tanah ( ) adalah;

=C + =C+

. tan
38

Pada kondisi jenuh (kondisi alam yang paling rentan terhadap kelongsoran) tegangan air dalam pori-pori tanah akan mengurangi tegangan normal antar butir, dan jika tegangan air pori = u, maka akan menjadi;

dimana;

= C + ( - u) . tan

= tegangan normal = sudut geser dalam/sudut friksi = kohesi

( - u) = tegangan efektif =

Batuan
1. Klasifikasi Jenis/Massa Batuan Secara Genesa - Batuan Beku (Andesit, Granit, Gabro dll) - Batuan Sedimen (batu Pasir, batu Lempung, Gamping dll) - Batuan Metamorf (Quartzite, Marmer, Slate dll)

Secara Lithologi Berikut adalah klasifikasi secara litologi berdasarkan beberapa perbedaan komposisi; Perbedaan besar butir (batu Lempung, Lanau, batu Pasir) Perbedaan komposisi Silika (Granit, Granodiorit, Andesit) Perbedaan bentuk bitir (Konglomerat, Breksi, Aglomerat)

Klasifikasi Kekuatan Batuan Utuh Klasifikasi ini berdasarkan kekuatan (kuat tekan) batuan utuh

39

Klasifikasi Kuat Tekan Batuan Utuh


Class
A

Deskripsi
Very High Strength High Strength Medium Strength Low Strength Very Low Strength

Kuat Tekan (MPa) 220 110 220 55 110 28 55 < 28

Contoh Nama Batuan Quartzite, Diabase, Basalt Marble, Dolomite Limestone Sandstone Tufa

B C D E

Klasifikasi Massa Batuan Beberapa cara yang digunakan yaitu; Rock Mass rating Q System Rock Mass Index

2. Sifat Massa Batuan Secara Umum Heterogen. Diskontinue Anisotroph 3. Eksplorasi Batuan Untuk Analisa Kestabilan Lereng 1. Sifat fisik;

40

2. Sifat Mekanik Batuan/Bidang Lemah; - Sudut Friksi - Kohesi - Kuat Geser 3. Tegangan Air Tanah; 4. Geometri lereng, tinggi, lebar dan sudut kemiringan lereng

EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 3

EVALUASI

41

1.

Parameter apa yang sangat mempengaruhi sifat tanah pada tanah berbutir halus? A. Kandungan air B. C. D. Besar butir. Kandungan bahan organik/komposisi kimia. Semua salah.

2. Berapa harga kohesi tanah pasir yang mempunyai Kuat Geser 10 MPa dan sudut geser dalam 300; A. B. C. D. 20 MPa 5 MPa. 0. Semua salah.

3. Sifat massa batuan secara umum dialam dalam menyebarkan stress adalah; A. B. C. D. Heterogen Diskontinyu. Lemah. Isotroph.

4. Parameter yang utama dari kekar yang digunakan untuk analisa kestabilan lereng adalah: A. B. C. D. Bukaan kekar Pengisi kekar. Kekasaran kekar. Kuat Geser kekar.

5. Kekuatan massa batuan tergantung dari beberapa parameter, yaitu. A. B. Kuat tekan batuan utuh, bidang lemah dan tekanan air Bidang lemah, tekanan air dan getaran.

42

C. D.

Kekuatan batuan utuh, bahan organic dan bidang lemah. Semua salah.

KUNCI JAWABAN
1. C 2. C 3. D 4. D 5. A

PEMBELAJARAN 4 KONSEP DASAR ANALISIS

43

Tujuan khusus
Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat: 1. Menerapkan Hoek Chart dalam perhitungan kestabilan lereng tanah 2. Menerapkan metode Bishop dalam perhitungan kestabilan lereng tanah 3. Menganalisis kestabilan lereng dengan metode analisa stereografis

4.1 Material Tanah


Untuk menganalisis atau menilai kestabilan lereng dipakai dua metoda yaitu Metoda Numeric dan Metoda Kesetimbangan Batas. Metoda Numeric menggunakan Program Finite Element, Boundary Element Methode atau yang lainnya, Sedangkan Metoda Kesetimbangan Batas sering dipakai karena lebih praktis pengerjaannya. Untuk perhitungan dan analisa kestabilan lereng tambang pada material tanah yang sering digunakan adalah ; A. Hoek Chart B. Cara Bishop Pada lereng tanah atau pada batuan yang lapuk/sangat terkekarkan, bidang gelincir dianggap/menyerupai lingkaran (circular). Kriteria kestabilan suatu lereng dihitung berdasarkan Faktor Keamanan (FK) yaitu;

FK

Gaya-gaya penahan Gaya-gaya penggerak

4.1.1 Hoek Chart.


Metoda ini merupakan metoda grafis atau dapat dianggap sebagai metoda empiris, karena menggunakan perbandingan kondisi lereng baku dengan kondisi lereng yang akan dihitung. Metode ini (Chart dari Prof Hoek dan Bray,

44

1981) bisa dipakai untuk desain permulaan dari suatu lereng, terutama untuk mengetahui Faktor Keamanan secara cepat. Cara ini juga dapat digunakan oleh para inspektur tambang atau pengawas keselamatan kerja dimana perkiraan stabilitas lereng secara cepat dapat dihitung walaupun relatif tidak terlalu teliti. Persyaratan atau asumsi penggunaan chart ini adalah; Material pembentuk lereng dianggap homogen, jadi parameter kohesi, sudut geser dalam dan bobot isi cukup diwakili oleh satu harga. Bidang longsoran dianggap berbentuk circular. Kondisi air tanah pada lereng diwakili oelh lima model seperti digambarkan dalam

Cara Menggunakan Hoeks Charts Hoeks Charts ini yang dibuat oleh E. Hoek dan Bray dalam Rock Slope Engineering, second edition. The Institute of Mining and Metallurgy, London 1977. Cara memakai chart ini sangat sederhana dan cukup memberikan hasil yang dapat dipercaya. Langkah-langkahnya adalah : a. Buatlah gambar lereng yang akan dianalisa sesuai dengan kondisi sebenarnya. Pada gambar itu dibuat perkiraan garis lengkungan level air tanahnya. Dari gambar ini pilih salah satu chart dengan kondisi air tanah yang paling sesuai diantara lima kondisi air yang digambarkan oleh Hoek (Lihat Gambar 4-2).

b. Hitung harga

.H. tan

45

Dimana :

C = kohesi
= sudut gesr dalam efektife

= Bobot isi rata-rata material.

H = tinggi lereng total.

C =0 Catatan : bila C = 0 maka harga . H. tan C =0 JH tan

C c. Kemudian dari titik luar chart (Gambar 4.1) yang dipilih pada b . H. tan

tarik garis radial kedalam sampai memotong sudut yang sama dengan sudut lereng yang dianalisis

46

.
tan FK

H. tan

Sudut lereng d d C C H.FK

Gambar 4-1 Langkah-Langkah Penggunaan Hoek Chart

d. Dari titik potong pada C, tarik garis vertikal ke bawah dan horizontal ke kiri untuk mendapatkan harga-harga :

tan FK

dan

.H.FK

Dari salah satu harga (pilih yang paling suka )

tan FK

atau

.H.FK

Harga Faktor Keamanan (FK) dapat dihitung.

47

Gambar 4-2 Lima Kondisi Permukaan Air Tanah Yang Diguinakan Untuk Analisa Grafis Hoek Charts

48

Gambar 4-3 Charts No.1 Digunakan Untuk Kondisi Pertama (Kondisi Air Kering)

49

Gambar 4-4 Charts No.2 Digunakan Untuk Kondisi Kedua

50

Gambar 4-5 Charts No.3 Digunakan Untuk Kondisi Ketiga

51

Gambar 4-6 Charts No.4 Digunakan Untuk Kondisi Keempat

52

Gambar 4-7 Charts No.5 Digunakan Untuk Kondisi Kelima

4.1.2 Metode Bishop.


53

Selain metoda Hoek Chart yang simple, untuk analisis stabilitas lereng pada material yang lemah seperti tanah/batuan lapuk digunakan metoda lain yang lebih teliti, beberapa metoda tersebut adalah Metoda Janbu, Metoda Bishop, Metoda Culmann dan Metoda Morgensten. Tetapi metoda yang paling umum digunakan adalah Metoda Bishop. Metode Bishop dianggap metode anilisis stabilitas lereng yang relatif paling teliti dari metode analitik yang berdasarkan prinsip keseimbangan batas. Untuk perencanaan/desain lereng dengan resiko tinggi dimana diperlukan perhitungan yang teliti metode ini cukup memadai. Yang penting dalam menggunakan metode ini untuk mencapai ketelitian dan kehandalan perhitungan adalah data-data yang di inputkan harus cukup mewakili kondisi sebenarnya. Parameter strenght dan data air tanah harus merupakan hasil penyelidikan yang teliti. Analisis Metode Bishop Perhitungan stabilitas cara Bishop juga berdasarkan prinsip keseimbangan batas, yaitu menghitungkan besarnya kekuatan geser yang akan mempertahankan stabilitas, dibandingkan dengan besarnya tegangan geser yang bekerja. Harga perbandingan ini disebut faktor stabilitas atau Faktor Keamanan (FK). Seperti pada Gambar berikut;

Dari Gambar 4.8 didapat FK sebagai berikut

FK =

W Cos . Tan W Sin

54

W Cos . Tan

W Sin W

W Cos

Gambar 4-8 Illustrasi Sederhana Kelongsoran

Dari prinsip diatas dapat dianalisa kelongsoran Metoda Bishop melalui gambaran sebgai berikut; Jika kita mempunyai sebuah lereng ( Lihat Gambar 4.10), kita ambil parameter segmen yaitu; lebar segmen = b, berat segmen = W panjang dasar segmen = L, jarak titik pusat dasar segmen dengan pusat rotasi = R jarak pusat rotasi dengan titik berat segmen = x tinggi air tanah = u

55

R b

W S

Gambar 4-9 Analisis Lereng Cara Bishop

Maka didapat;

1 F = [ Cb + (W u. b )Tan

Sec ] 1 +
Tan . Tan

W. Sin Rumus ini dikenal dengan rumus

Bishop.

Contoh Perhitungan

56

Sebuah lereng dengan tinggi 10 meter dan lebar muka lereng 20 meter, mempunyai sifat fisik/mekanik sebagai berikut;

= 1,7 ton/m3
C= 1,5 ton/m2

= 360
Hitung Faktor Keamanan? Langkah Pekerjaan; 1. buat segmen/irisan pada lereng, lebar irisan adalah b, tinggi irisan adalah h (gunanya untuk menghitung W dalam ton). 2. buat garis singgung pada pertengahan dasar segmen, sudut antara garis singgung dengan horizontal disebut , hitung Sin . Sin akan negatif jika irisan segmen menahan kelongsoran.. 3. hitung tegangan air pori, masukan besaran pada rumus di atas. Kita lihat bahwa sebelah kiri maupun sebelah kanan dari persamaan di atas mengandung F. Untuk menghitung harga F kita harus melakukan pengulangan (iterative), yaitu kita pertama ambil suatu harga F sebagai percobaan dan dimasukan pada ruas sebelah kanan. Lalu dihitung harga F sebelah kiri. Hasil perhitungan ini dimaksukan lagi disebelah kanan dan seterusnya sampai mendapatkan nilai F yang sama.

57

Tabel 4-1 Perhitungan Slope Stability Cara Bishop


u ( kg/cm2 ) u . b ( ton ) Segmen W u . b (W u b) tan W sin (ton) (5) Sec oC 1 + Tan tan F F = 1,6 1,49 b ( meter) H (meter) Sin o C b (ton) W (ton)

8 + 12

13 x 14

ton

12

F = 1,6

1,49

1 1 2 3 4 5 6

2 10 20 20 20 20 20

3 15,5 33 37 33,7 24,5 10

4 264 1122 1258 1146 834 340

5 66 45,5 26,5 10 -5 20,5

6 0,914 0,714 0,446 0,174 0,087 0,351

7 241 801 572 199 -73 -119

8 15 30 30 30 30 30

9 0 1,45 2,5 2,65 2,08 0,85 0

10

11 192 605 551 448 304 131

12 264 832 758 616 418 180

13 207 635 581 478 334 161

14 1,230 0,978 0,915 0,912 1,045 1,280 1,175 0,958 0,900 0,935 1,048 1,305 2413 255 620 532 451 349 206

15 243 608 523 456 350 210 2390 1,47

290 500 530 416 160

Jumlah : 1621 F = 1,49

61

Gambar 4-10 Illustrasi Kondisi Lereng Untuk Perhitungan Tabel 4-1

62

4.2 Material Batuan


Dalam menganalisa atau menghitung kestabilan lereng batuan dapat digunakan beberapa metoda yaitu; a. Metoda Analitis, yaitu menganalisa kestabilan berdasarkan sifat fisik dan mekanik batuan ataupun tanah secara matematis/numerik yaitu dengan cara; - matematis - numeric (finite element, distinct element) b. Metoda Empiris, metoda ini digunakan untuk memperkirakan sudut lereng batuan berdasarkan klasifikasi massa batuan RMR ( Rock Mass Rating). c. Metoda Analisa Balik, metoda ini digunakan untuk menghitung kestabilan lereng batuan ataupun tanah berdasarkan hasil-hasil pemantauan. Selain beberapa metoda diatas, analisa strerografik seringkali dilakukan, untuk menganalisa potensi kelongsoran lereng batuan. Metoda ini tidak kwantitatif tetapi cukup dipercaya untuk mengetahui potensi kelongsoran bidang. Analisa stereografik ini dapat digabungkan dengan Metoda Analitis matematis sehingga hasilnya kwantitatif.

4.2.1 Analisa Stereografik


Metoda ini digunakan untuk penilaian awal kemungkinan adanya potensi kelongsoran pada suatu daerah. Data diambil dengan menggunakan pemetaan geologi serta identifikasi struktur. Parameter yang penting adalah; a. Orientasi dari bidang diskontinyu (jurus dan kemiringan) b. Bidang diskontinyu dianggap menerus a. Harga sudut geser dalam bidang diskontinyu lebih kecil dari sudut bidang diskontinyu b. Orientasi lereng

63

750 N 750 E/500 N 600 E/700 600

bidang lemah lereng 700

Gambar 4-11 Illustrasi Kondisi Lereng Untuk Stereografis


Pada analisa ini semua bidang digambarkan dalam equatorial equal angle net

64

Lereng N 600/700 E Bidang Lemah N 750/500 E

Arah longsoran Gambar 4-12 Proyeksi Stereografis Bidang Lemah Penggambaran dalam stereografis akan memberikan suatu wawasan untuk mengevaluasi secara awal potensi kelongsoran pada suatu lereng. Potensi-potensi kelongsoran tersebut dapat digambarkan pada peta perencanaan tambang pada setiap seksi.

4.2.2 Metoda Analitis 4.2.2.1 Metode Analitis Grafis Dari Hoek & Bray
Metoda ini digunakan untuk jenis material batuan dimana longsoran dianalisa menurut bidang lemah.

65

A. Longsoran Bidang
Dalam menganisis longsoran bidang dengan metode Hoek dan Bray; anggapan untuk proyeksi stereografis termasuk dalam asumsi termasuk asumsi berikut: bidang dimana terjadinya longsoran harus mempunyai strike yang sejajar atau tidak melebihi 200 dengan strike muka lereng bidang gelincir harus daylight atau sudut lereng lebih besar dari sudut bidang gelincir sudut bidang gelincir (bidang diskontinyu) harus lebih besar dari sudut friksi (sudut geser dalam) bidang gelincir (bidang diskontinyu).

< 200

Gambar 4-13 Illustrasi Lereng Dengan Bidang Luncur

Pada kondisi lapangan, diatas atau dimuka lereng sering dijumpai adanya tension crack yang terisi air.

66

V a U H

Z Zw

Gambar 4-15 Longsoran Bidang

Keterangan, H = tinggi lereng W = berat blok U = tekanan air dari bidang longsor V = tekanan air dari tension crack

f = sudut lereng p = sudut bidang longsor


Z = kedalaman tension crack Zw =panjang kolom air pada tension crack

Faktor Keamanan F = Gaya-gaya penahan Gaya-gaya penggerak F = C . A + (W Cos p U V Sin p ) Tan W Sin p + V Cos p

67

dimana : F C A U V W = faktor kemantapan lereng = kohesi pada bidang luncur = panjang bidang luncur (m) = sudut geser dalam batuan (o) = w. Zw .A = w . Z2w = . H2 [ ( 1 (Z/H)2 ) Cot p Cot f ] jika tension crack diatas lereng W = . H2 [ ( 1 (Z/H)2 ) Cot p (Cot p. Tan f 1) ], jika tension crack dimuka lereng Z = H ( 1 Cot f . Tan p ) = (H Z). Cosec p

Jika terjadi getaran yang diakibatkan oleh adanya gempa, peledakan maupun aktivitas manusia lainnya, maka persamaan menjadi : F = C . A + [ W ( Cos p a Sin p ) - U V Sin p ) Tan W ( Sin p + a Cos p ) + V Cos p

dimana : a = percepatan getaran pada arah mendatar akibat gerakan gempa atau kendaraan

B. Longsoran Baji.
Longsoran jenis ini lebih sering ditemukan di lapangan dibandingkan dengan longsoran bidang. Sebagai contoh analisis hanya akan dibahas tentang longsoran baji yang dibentuk oleh dua bidang lemah. Dalam analisis dengan

68

menggunakan metode Hoek dan Bray, longsoran baji dianggap hanya akan terjadi pada garis perpotongan kedua bidang lemah tersebut.

Bidang B

Bidang A

(a) Garis perpotongan

69

(b)

4 3 5

bidang B 2

bidang A 1

(c)

Gambar 4-16 Model Longsoran Baji

70

RANGKUMAN PEMBELAJARAN 4

1. Material Tanah Untuk menganalisis atau menilai kestabilan lereng dipakai dua metoda yaitu Metoda Numerik dan Metoda Kesetimbangan Batas. Metoda Numeric menggunakan Program Finite Elemen, Boundari Element Methode atau yang lainnya, Sedangkan Metoda Kesetimbangan Batas Sering dipakai karena lebih praktis pengerjaannya. Untuk perhitungan dan analisa kestabilan lereng tambang pada material tanah yang sering digunakan adalah ; C. Hoek Chart D. Cara Bishop

Pada lereng tanah atau pada batuan yang lapuk/sangat terkekarkan, bidang gelincir dianggap/menyerupai lingkaran (circular). Kriteria kestabilan suatu lereng dihitung berdasarkan Faktor Keamanan (FK) yaitu;

FK

Gaya-gaya penahan Gaya-gaya penggerak

2 Material Batuan Dalam menganalisa atau menghitung kestabilan lereng batuan dapat digunakan beberapa metoda yaitu; A. Metoda Analitis, yaitu menganalisa kestabilan berdasarkan sifat fisik dan mekanik batuan ataupun tanah secara matematis/numerik yaitu dengan cara; - matematis - numeric (finite element, distinct element)
71

B. Metoda Empiris, metoda ini digunakan untuk memperkirakan sudut lereng batuan berdasarkan klasifikasi massa batuan RMR ( Rock Mass Rating). C. Metoda Analisa Balik, metoda ini digunakan untuk menghitung kestabilan lereng batuan ataupun tanah berdasarkan hasil-hasil pemantauan. Selain beberapa metoda diatas, analisa stereografik seringkali dilakukan, untuk menganalisa potensi kelongsoran lereng batuan. Metoda ini tidak kwantitatif tetapi cukup dipercaya untuk mengetahui potensi kelongsoran bidang. Analisa stereografik ini dapat digabungkan dengan Metoda Analitis matematis sehingga hasilnya kwantitatif. a. Metoda Analitis 1. Analisa Stereografik Metoda ini digunakan untuk penilaian awal kemungkinan adanya potensi kelongsoran pada suatu daerah. Data diambil dengan menggunakan pemetaan geologi serta identifikasi struktur. Parameter yang penting adalah; a. Orientasi dari bidang diskontinyu (jurus dan kemiringan) b. Bidang diskontinyu dianggap menerus c. Harga sudut geser dalam bidang diskontinyu lebih kecil dari sudut bidang diskontinyu d. Orientasi lereng

2. Metode Analitis Grafis Dari Hoek & Bray Metoda ini digunakan untuk jenis material batuan dimana longsoran dianalisa menurut bidang lemah. A. Longsoran Bidang Dalam menganalisis longsoran bidang dengan metode Hoek dan Bray; anggapan untuk proyeksi stereografis termasuk dalam asumsi, asumsi berikut: bidang dimana terjadinya longsoran harus mempunyai strike yang sejajar atau tidak melebihi 200 dengan strike muka lereng termasuk

72

bidang gelincir harus daylight atau sudut lereng lebih besar dari sudut bidang gelincir sudut bidang gelincir (bidang diskontinyu) harus lebih besar dari sudut friksi (sudut geser dalam) bidang gelincir (bidang diskontinyu).

B. Longsoran Baji. Longsoran jenis ini lebih sering ditemukan dilapangan dibandingkan dengan longsoran bidang. Sebagai contoh analisis hanya akan dibahas tentang longsoran baji yang dibentuk oleh dua bidang lemah. Dalam analisis dengan menggunakan metode Hoek dan Bray, longsoran baji dianggap hanya akan terjadi pada garis perpotongan kedua bidang lemah tersebut.

73

EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 4

EVALUASI 1. Analisa kestabilan lereng yang bagaimana yang paling simple dalam nenilai kestabilan timbunan batuan penutup? . A. B. C. D. Analisa kesetimbangan batas Analisa Hoek Chart. Analisa Bishop. Analisa Hoek & Bray.

2. Untuk menganalisa kestabilan batuan, digunakan analisa empiris. Analisa ini memerlukan parameter batuan dari mana ?; A. B. C. D. Besarnya perpindahan dari hasil pemantauan Uji kekuatan massa batuan di lapangan. Hasil kuat tekan mencerminkan kekuatan massa batuan Semua salah.

3. Pada analisa Hoek & Bray, tegangan air pada tension cracks akan memperbesar gaya penggerak, besarnya harga tegangan air tersebut adalah; A. B. C. D. V Sin V Cos V Tan Salah semua.

4. Jurus sebuah kekar utama memotong jurus sebuah lereng dengan perbedaan jurus sebesar 300, menurut Hoek & Bray lereng tersebut apakah akan: A. B. Longsor Belum tentu longsor.

74

C. D.

Stabil. Semua salah.

5. Pada analisa Hoek & Bray, harga z/H = 1, maka lereng dalam keadaan.. A. B. C. D. Stabil Labil. Akan longsor. Semua salah.

KUNCI JAWABAN
1. B 2. D 3. B 4. C 5. A

75

PEMBELAJARAN 5

PEMANTAUAN, PERKUATAN, DAN PERAWATAN LERENG Tujuan khusus


Setelah mempelajari modul ini peserta diharapkan dapat: 1. Menyebutkan prinsip pemantauan lereng tanah/batuan 2. Menjelaskan prinsip perkuatan lereng tanah/batuan 3. Menjelaskan prinsip perawatan lereng tanah/batuan

5.1 Pemantauan
Pelaksanaan pemantauan dilakukan untuk mengetahui tingkat dan kuantitas kelongsoran secara nyata dan cepat melalui angka-angka numerik. Hal ini perlu dilakukan sebagai peringatan dini adanya bahaya sehingga dapat diambil tindakan secepatnya yang cocok. Beberapa alat diciptakan untuk memantau pergerakan tanah misalnya; a. Electronic Distance Measurement (EDM)/Surface Stick Alat ini digunakan untuk mengukur perbedaan posisi suatu titik ( surface stick) pada muka lereng yang tidak terlalu curam atau pada bench. Monitoring dilakukan dari suatu tempat yang relatif tidak bergerak dengan jarak antara 25 m hingga 2000 m. Ketepatan pengukuran dapat mencapai +/- 0,3 mm.

76

EDM Surface Stick

Gambar 5-1 Pengukuran Posisi Surface Stick Dengan Alat EDM

b. Inclinometer Alat Inclinometer digunakan untuk memantau pergerakan bagian atas dari suatu lereng, dimana titik acu ada dibagian bawah lereng yang bergerak.

Inclinometer

Penyimpangan lubang karena gerakan tanah Arah gerakan longsor erkiraan batas gerakan

acuan tak bergerak

Gambar 5-2 Pemantauan Menggunakan Inclinometer

77

Alat ini digunakan untuk lereng yang cukup besar dan luas, sedangkan In-Place Inclinometer digunakan untuk lereng yang relatif kecil. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur penyimpangan lubang bor c. Slope Monitoring System Digunakan untuk mengukur kelongsoran pada muka lereng timbunan tanah

Antenna untuk mengirim data

kawat

Probe

Gambar 5-3 Peantauan Menggunakan Slope Monitoring System

d. Magnetic Slope Extensometer Alat ini digunakan untuk memantau pergerakan lereng tanah. Pengukuran dilakukan berdasarkan perpindahan magnit dalam lubang bor.

78

II I A B C D=titik tdk bergerak Batas longsor yang mungkin

Gambar 5-4 Pemantauan Menggunakan Slope Extensometer


Titik D di angkerkan pada tanah yang tak bergerak, titik B dan C merupakan magnit yang diangkerkan pada tanah yang mungkin akan bergerak. Jika hanya blok I bergerak maka magnit B akan bergerak menjauhi angker D, tetapi jika blok I dan II bersamaan bergerak, maka magnit pada B dan C yang akan bergerak menjauhi D.

5.2 Perkuatan
Pada situasi dimana geometri lereng harus dipertahankan, atau pemotongan lereng tidak menguntungkan, tetapi di lain pihak terjadi ketidakstabilan lereng. Maka perlu dilakukan stabilisasi lereng. A. Stabilisasi Longsoran Pada Bench Jika kelongsoran terjadi pada individual slope, baik berupa kelongsoran baji atau kelongsoran bidang, maka penggunaan split set atau rockbolt lebih menguntungkan.

79

Strap

Rockbolt

Split Set

Gambar 5-5 Perkuatan Batuan Dengan Split Set/Rockbolt

Jumlah perkuatan yang digunakan tergantung dari beban yang harus ditahan, kedalaman perkuatan serta parameter kekuatan perkuatan. Pelaksanaan dari perkuatan tersebut dapat dilakukan saat pemotongan lereng, atau beberapa saat setelah pemotongan lereng supaya mudah pelaksanaannya dan kondisi bidang longsor masih rapat. Tetapi jika kelongsoran menyangkut beberapa individual slope, maka

perlu dilakukan stabilisasi dengan perkuatan yang lebih kuat.

80

Bidang lemah

Tarikan

grout

Gambar 5-6 Perkuatan Dengan Prestressed Cable Bolt


Beberapa perkuatan yang biasa dilakukan adalah menggunakan cable bolt atau thread bar. Pada beberapa kasus sering ditemukan adanya lempung yang mudah lapuk/pecah jika terkena udara, maka perkuatan melalui penyemprotan semen perlu dilakukan jika dinilai perlu.

5.3 Perawatan Lereng


Kelongsoran pada lereng tambang adalah hal yang harus dihindari, oleh sebab itu disain lereng serta pencegahan haruslah tindakan yang diutamakan. Seringkali tindakan pemotongan lereng bagian atas atau penimbunan toe harus dilakukan.

81

Bagian y Bagian yang dipotong

Bagian yang ditimbun

Gambar 5-7 Tindakan Pemotongan Atas Atau Penimbunan Kaki Lereng

Selain itu lereng tanah sangat rentan terhadap kondisi perubahan muka air tanah serta erosi permukaan. Beberapa tindakan pencegahan kelongsoran akibat kondisi hidrologi, adalah: a. drainase sekeliling pit dengan maksud untuk menghindari mengalirnya air permukaan kedalam pit. Mengalirnya air permukaan kedalam pit selain akan membuat masalah pada penambangan, juga akan menimbulkan erosi dan merembes masuk ke dalam lereng yang dapat memicu terjadinya kelongsoran.

air dialirkan keluar

82

paritan pemotong aliran

Gambar 5-8 Saluran Air Permukaan Disekitar Pit

b. pemompaan diluar batas pit dengan maksud untuk menurunkan permukaan air tanah

m.a.t seb. pemompaan

m.a.t set.pemompaan

Gambar 5-9 Pemompaan Untuk Menurunkan Muka Air Tanah

c. pembuatan drainase dari muka lereng dengan cara membuat lubang (pipe drain) menembus muka lereng

83

Tindakan ini dilakukan untuk menurunkan tekanan air disekitar dinding/lereng pit

m.a.t seb.drainase m.a.t set. drainase pipa

Gambar 5-10 Pengendalian Air Sekitar Muka Lereng

Walau bagaimanapun pengelolaan air pada pit ( bench) sangat penting dilakukan, karena air yang mengalir di bench dapat meresap kedalam tanah dan memicu kelongsoran. Pada beberapa kasus, untuk mencegah kelongsoran, dilakukan perkuatan pada muka lereng dengan cara soil nailing, grouting atau shotcrete dengan wire mesh pada muka lereng

RANGKUMAN PEMBELAJARAN 5

84

1. Pemantauan a. Surface Stick Alat ini digunakan untuk mengukur perbedaan posisi suatu titik ( surface stick) pada muka lereng yang tidak terlalu curam atau pada bench. Monitoring dilakukan dari suatu tempat yang relatif tidak bergerak dengan jarak antara 25 m hingga 2000 m. Ketepatan pengukuran dapat mencapai +/- 0,3 mm. b. Inclinometer Alat Inclinometer digunakan untuk memantau pergerakan bagian atas dari suatu lereng, dimana titik acu ada dibagian bawah lereng yang bergerak. Alat ini digunakan untuk lereng yang cukup besar dan luas, sedangkan InPlace Inclinometer digunakan untuk lereng yang relatif kecil. Pengukuran dilakukan dengan cara mengukur penyimpangan lubang bor c. Slope Monitoring System Digunakan untuk mengukur kelongsoran pada muka lereng timbunan tanah d. Magnetic Slope Extensometer Alat ini digunakan untuk memantau pergerakan lereng tanah. Pengukuran dilakukan berdasarkan perpindahan magnit dalam lubang bor.

2. Perkuatan Jika kelongsoran terjadi pada individual slope, baik berupa kelongsoran baji atau kelongsoran bidang, maka penggunaan split set atau rockbolt lebih menguntungkan. Jumlah perkuatan yang digunakan tergantung dari beban yang harus ditahan, kedalaman perkuatan serta parameter kekuatan perkuatan. Pelaksanaan dari perkuatan tersebut dapat dilakukan saat pemotongan lereng, atau beberapa saat setelah pemotongan lereng supaya mudah pelaksanaannya dan kondisi bidang longsor masih rapat. 3. Perawatan Lereng

85

Kelongsoran pada lereng tambang adalah hal yang harus dihindari, oleh sebab itu disain lereng serta pencegahan haruslah tindakan yang diutamakan. Seringkali tindakan pemotongan lereng bagian atas atau penimbunan toe harus dilakukan. Selain itu lereng tanah sangat rentan terhadap kondisi perubahan muka air tanah serta erosi permukaan. Beberapa tindakan pencegahan kelongsoran akibat kondisi hidrologi, adalah: a. drainase sekeliling air pit dengan maksud untuk menghindari air mengalirnya permukaan kedalam pit. Mengalirnya

permukaan kedalam pit selain akan membuat masalah pada penambangan, juga akan menimbulkan erosi dan merembes masuk ke dalam lereng yang dapat memicu terjadinya kelongsoran. B. pemompaan diluar batas pit dengan maksud untuk menurunkan permukaan air tanah C. pembuatan drainase dari muka lereng dengan cara membuat lubang ( pipe drain) menembus muka lereng Walau bagaimanapun pengelolaan air pada pit ( bench) sangat penting dilakukan, karena air yang mengalir di bench dapat meresap kedalam tanah dan memicu kelongsoran. Pada beberapa kasus, untuk mencegah kelongsoran, dilakukan perkuatan pada muka lereng dengan cara soil nailing, grouting atau shotcrete dengan wire mesh pada muka lereng

EVALUASI DAN KUNCI JAWABAN PEMBELAJARAN 5


86

EVALUASI 1. Untuk memantau gerakan permukaan lereng, maka yang paling simple digunakan adalah ? A. B. C. D. Surface Stick Ekstensometer. Inclinometer. EDM.

2. Alat pantau yang paling teliti untuk memantau pergerakan lereng adalah ? A. B. C. D. Surface Stick Multipoint Magnetic Ekstensometer Inclinometer EDM

3. Pada tambang batubara dimana overburden didominasi lempung, maka digunakan perkuatan splitset; A. B. C. D. Cara perkuatan ini salah Cara perkuatan ini benar asal splitset cukup rapat Gunakan splitset yang panjang Salah semua.

4. Pada pemantauan lereng batuan digunakan Inclinometer: A. B. C. Supaya supervisor mengetahui kondisi pergerakan massa batuan dibelakang muka lereng Supaya supervisor mengetahui kondisi perkembangan kekar pada permukaan lereng Supaya supervisor mengetahui kondisi pergerakan massa batuan dipermukaan lereng D. Supaya supervisor mengetahui arah gerakan lereng

87

5. Cara yang umum untuk mengurangi pengaruh air tanah pada kestabilan lereng tambang adalah: A. Membuat sumuran pada sisi terluar pit B. Melakukan pemompaan air pada dinding pit C. Membuat saluran disekitar pit D. Benar semua

KUNCI JAWABAN
1. A 2. B 3. A 4. D 5. D

6. Rangkuman Akhir
88

a. Penggalian massa batuan menyebabkan berubahnya arah tegangan (stress) sehingga terjadi konsentrasi tegangan pada kaki lereng. Konsentrasi tegangan pada kaki lereng akan menyebabkan ketidakseimbangan. b. Penggalian pun akan menyebabkan tersingkapnya bidang lemah batuan sehingga akan menyebabkan terjadinya kelongsoran pada blok batuan. c. Faktor-faktor yang mempengaruhi kestabilan lereng baik untuk material tanah ataupun batuan adalah ; Geometri lereng Kekuatan tanah/batuan atau massa batuan Bidang lemah (kekar, sesar, bidang pelapisan dll) Air (air tanah atau air yang masuk kedalam bidang lemah) Pengaruh luar (getaran)

d. Material pembentuk lereng tambang terdiri dari tanah dan batuan, dimana lereng dari tanah mempunyai karakteristik mekanis yang lebih rendah dibandingkan dengan lereng dari batuan. e. Parameter mekanis material tanah yang paling menentukan kestabilan lereng adalah; f. kohesi sudut geser dalam kuat geser. air tanah mempunyai tegangan pori yang akan

Kehadiran air tanah akan mengurangi kuat geser material tanah hal ini disebabkan mengurangi tegangan normal antar butir tanah.

g. Salah satu cara mengklasifikasikan batuan secara engineering adalah menggolongkan batuan secara ; Klasifikasi berdasarkan Genesa Klasifikasi berdasarkan Lithologi

89

Klasifikasi berdasarkan Kekuatan batuan utuh. Klasifikasi berdasarkan Rating kekuatan massa batuan Heterogen Diskontinue Anisotroph

h. Sifat massa batuan secara umum adalah;

i. Cara sederhana untuk menganalisa kestabilan lereng tanah adalah dengan cara ; cara Bishop, dimana parameter yang diperlukan adalah; * tegangan air tanah * sudut geser dalam tanah * kohesi * berat jenis * geometri lereng cara grafis dengan Hoek Charts, dimana parameter dan alat bantu yang diperlukan adalah ; * kesesuaian kondisi air tanah dengan salah satu charts * sudut geser dalam tanah * kohesi * berat jenis k. Cara sederhana untuk menganalisa kestabilan lereng batuan adalah dengan cara Stereografis l. Pemantauan lereng dilakukan dengan menggunakan alat ; inclinometer extensometer surface stick

Daftar Pustaka

90

1. Bieniawski,ZT. Engineering Rock Mass Classifications. John Wiley & Sons. 1989 2. Braja M. Das. Principles of Geotechnical Engineering. PWS Publishers.1985. 3. Dunnicliff, John. Geotechnical Instrumentation For Monitoring Field Performance. John Wiley & Sons. 1988 4. Gian Paolo Giani. Rock Slope stability Analysis. Balkema. 1992 5. Hoek & Bray. Rock Slope Engineering. Third Edition. The Institution of Mining & Metallurgy, London. 1981 6. Jumikis, Alfred. Rock Mechanics. Trans Tech Publications. 1983 7. Pande, Beer, Williams. Numerical Methods in Rock Mechanics. John Wiley & Sons. 1990 8. Vutukury. Introduction to Rock Mechanics. Industrial Publishing & Consulting, Inc. 1994 9. Wesley. Mekanika Tanah. Badan Penerbit Pekerjaan Umum. 1977 10. William Lambe. Soil Mechanics..Massachusets Institute Technology. John Willey & Sons.1969

91