You are on page 1of 4

Keperawatan Gerontik 1

Pengkajian Umum Sistem Kardiovaskular Oleh Tania Khaerunnisa, 1006673033 Perawat dalam memberikan asuhan keperawatan harus melakukan lima tahapan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi. Hasil pengkajian berupa data objektif dan subjektif serta data penunjang didapat dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan diagnostik. Tulisan ini akan menjelaskan mengenai pengkajian system kardiovaskular khususnya pada klien lansia. Anamnesis keperawatan yang dilakukan mengkaji klien mengenai keluhan utama dan riwayat penyakit. 1) Keluhan utama pada klien gangguan system kardiovaskular secara umum meliputi sesak napas, batuk, nyeri dada, pingsan, berdebar-debar, cepat lelah, edema ekstremitas, disritmia dan sakit atau nyeri di betis kaki (Tyson, 1999). Nyeri dada dikaji mengenai karakteristik nyeri dan sifat nyeri dengan parameter sifat nyeri PQRST (Provoking Incident, Quality of Pain, Region: radiation; relief, Severity/Scale of Pain, Time). Sesak napas dapat berupa dyspnea kardiak, ortopnea dan dyspnea nocturnal paroksismal (Muttaqin, 2009). Riwayat penyakit yang dikaji terdiri dari riwayat penyakit saat ini, riwayat penyakit terdahulu, pengobatan yang lalu dan riwayat alergi, riwayat keluarga, riwayat pekerjaan&pola hidup serta pengkajian psiko-sosio-kultural. Riwayat penyakit saat ini bisa didapat dengan menanyakan perjalanan penyakit sejak timbul keluhan hingga klien meminta pertolongan (menjawab 5W+1 H mengenai keluhan, obat yang telah dikonsumsi). Riwayat penyakit terdahulu meliputi penyakit yang pernah diderita dan pengalaman perawatan. Pengobatan yang lalu dan riwayat alergi meliputi obat-obatan yang relevan dengan keadaan saat ini seperti kortikosteroid dan antihipertensi, efek samping & alergi. Riwayat keluarga dikaji mengenai penyakit yang pernah dialami keluarga terkait keadaan sekarang, penyakit menurun (e.g penyakit jantung iskemik, hemophilia). Riwayat hidup seperti konsumsi alcohol, makanan tinggi lemak, kebiasaan merokok,dll. Medikasi yang telah diperoleh harus pula dikaji oleh perawat melkiputi lama pemakaian dan resep tertulis untuk menghindari informasi yang salah dari klien lansia yang mudah lupa (Tyson, 1999). Kedua adalah pengkajian fisik yang terdiri dari pemeriksaan kesehatan head to toe per system yang berkaitan dengan tanda gangguan kardiovaskular meliputi B1 (Breathing), B2 (Blood), B3 (Brain), B4 (Bladder), B5 (Bowel) dan B6 (Bone). Swartz (1995) mengatakan bahwa hal penting pada pemeriksaan fisik system kardiovaskular meliputi inspeksi pasien, tekanan darah, denyut arteri dan vena, perkusi-palpasi-auskultasi jantung dan pemeriksaan edema dependen. Pertama adalah keadaan umum yang biasa dikaji pada klien gangguan system kardiovaskular meliputi sianosis, pucat, fatigue, hidrasi. 1) Sianosis terdiri dari dua yaitu sianosis sentral (SaO2 ↓, polisitemia, kelainan Hb, Biru metilen) dan perifer (penyebab sianosis sentral, suhu dingin, curah jantung ↓, gagal ventrikel kiri/syok, obstruksi arteri/vena). 2) Kulit pucat (lembab dan kulit dingin) dapat disebabkan defisiensi hemoglobin (anemia), curah jantung ↓/syok, hipotensi. 3) Fatigue dapat disebabkan karena curah jantung ↓ karena penyakit sekunder jantung. Klien juga dapat mengalami kaheksia (pada gagal jantung dapat mengalami kaheksia kardiak) yang disebabkan oleh peningkatan metabolisme karena peningkatan kebutuhan oksigen meningkat karena jantung yang hipertrofi. 4) Hidrasi berhubungan dengan masalah cairan yang disebabkan oleh gangguan kardiovaskuler. Lihat mata cekung, membrane mukosa kering, turgor kulit menurun, ukur tekanan darah (rendah jika hipotensi). Biasanya klien dengan keadaan seperti ini dikarenakan syok seperti pada pasien gagal jantung tingkat lanjut. 5) Posisi klien dalam pemeriksaan dengan posisi berbaring 45 derajat. 6). Ada tidaknya vena yang berliku di kaki. Kedua adalah pemeriksaan tanda vital. Tanda vital terdiri dari nadi, frekuensi pernapasan, tekanan darah dan suhu tubuh (Mutaqqin, 2009). Pemeriksaan nadi (arteri perifer) meliputi palpasi meliputi frekuensi, irama, ciri denyutan, isi nadi dan keadaan pembuluh darah. Nadi bradikardi atau takikardi, regular atau irregular merepresentasikan gangguan kardiovaskular. Setelah tanda vital, lakukanlah pengkajian tangan. Hal yang dikaji meliputi sianosis, perifer, pucat, capillary refill time (CRT), kelembapan, edema dan clubbing finger. Sianosis menunjukan berkurangnya aliran darah ke perifer, biasanya terjadi pada pasien syok kardiogenik. Pucat terjadi jika ada tahanan vascular sistemik

Elektrolit serum dapat mempengaruhi prognosis klien IM dan kondisi gangguan jantung seperti hipokalsemia dan hiperkalsemia. Enzim jantung digunakan untuk mendiagnosis infark miokard. jumlah darah dan kemampuan jantung. snap & click dan murmur. arteri sistemik dan curah jantung. kapiler arteri pulmonalis. bentuk. kontur. Pemeriksaan glukosa ditujukan untuk melihat ada tidaknya kemungkinan DM pada pasien gangguan kardiovaskular. Perkusi jarang dilakukan. Foto rontgen toraks dapat melihat pembesaran ukuran jantung dan kalsifikasi katup. hal ini penting untuk melihat fungsi jantung. Pengkajian B6 (Bone) biasa didapatkan keluhan lemah. Palpasi dilakukan di daerah precordium untuk melihat denyut apeks. Sistem B2 (Blood) dimulai dengan inspeksi bentuk precordium dan denyut pada apeks jantung. Denyut apeks dapat teraba lebih kencang jika curah jantung meningkat. Bunyi jantung gallop disebabkan oleh aliran darah ke ventrikel terhambat saat diastole. Pemeriksaan kardiografik ditujukan untuk menentukan ukuran. Ekokardiografi berfungsi diagnosis kelainan structural jantung dan pembuluh darah. Murmur disebabkan oleh penyempitan patologis. pada klien infark miokard biasanya sulit tidur karena nyeri dan sesak napas. Kreatinin kinase digunakan untuk mengevaluasi infark miokard. berat atau ringan. Palpasi vena jugularis akan memberikan informasi mengenai fungsi atrium dan ventrikel kanan. Pemeriksaan grafik terdiri dari elektrokardiogram. sulit tidur. Pengkajian fisik selanjutnya adalah per system B1-B6 (Mutaqqin. Tolak ukur pemeriksaan ini didasarkan pada tekanan vena sentral. B1 (breathing) dengan IPPA dimulai dari inspeksi bentuk dada dan gerakan pernapasan. en bateau. Pemeriksaan hemodinamika ditujukan untuk melihat keadaan pembuluh darah. mitral. ekokardiografi dan uji pembebanan jantung. Pemriksaan mata konjungtiva pucat tanda anemic. posisi jantung. Pemeriksaan laboratorium profil lemak (kolesterol total. Kateterisasi jantung digunakan untuk pengukuran tekanan di atrium dan sampel darah. Bisa juga dilakukan pemeriksaan neurosensory. hemodinamika. bunyi gallop. Terakhir adalah perkusi untuk menentukan pelebaran jantung jika bunyi dullness melebihi posisi jantung. aorta. Angiografi digunakan untuk perjalanan media kontras pembuluh darah (aorta. trigliserida. Reperfusi pada CRT yang melambat menandakan kecepatan aliran darah melambat. begitupun tujuan pemeriksaan laktat dehydrogenase. . emfisematous dan pektus eksavatus. 1995). normalnya denyut apeks terletak pada ICS 5 paru.atau anemic. B4 (bladder) memeriksakan haluaran urin. arteri. gerakan inspirasi ekspirasi dan fremitus local. Palpasi juga dapat menentukan ada tidaknya thrill yang disebabkan aliran darah yang turbulen. lipoprotein) digunakan untuk mengevaluasi risiko aterosklerotik. Jari tangan splinter hemorrhage didapat dari pasien endocarditis (Swartz. Palpasi arteri karotis dapat memberikan informasi bentuk gelombang denyut aorta yang dipengaruhi oleh berbagai kelainan jantung. kesakitan dan tes saraf menyeringai. Kornea arkus senilis biasa ditemukan pada PJK. 1 cm medial dari garis midklavikula. Snap & klik terjadi karena stenosis katup mitral. Selanjutnya adalah pemeriksaan diagnostic yang terdiri dari pemeriksaan laboratorium. volume. rasa berdebar. miokarditis dan trauma. 2009). Positron Emission Tomografi untuk diagnosis disfungsi jantung. perubahan fisiologis sirkulasi pulmonal dan menguatkan diagnosis atau komplikasi tertentu. splitting. Auskultasi untuk mendengarkan bunyi napas dan denyut jantung Palpasi rongga dada dilakukan untuk melihat kelainan toraks.. atrium kiri. sisi kiri kanan jantung). B5 (bowel) mengkaji ada tidaknya refluks hepatojuguler yang disebabkan karena pembengkakan hepar akibat penurunan aliran balik vena karena gagal ventrikel kanan. Sclera icterus biasa terjadi pada kasus gagal jantung kanan. trikuspidalis dan juga untuk mendengarkan bunyi jantung I dan II. Tangan yang dingin dan basah biasanya terjadi pada syok kardiogenik akibat dari stimulasi saraf simpatis sehingga mengakibatkan vasokontriksi. Inspeksi bentuk dada pada gangguan kardiovaskular biasanya ditemukan bentuk dada toraks phtisis. ventrikel kanan. Pemeriksaan yang terakhir adalah analisa gas darah untuk melihat kelainan alkalosis dan asidosis. Pemeriksaan Blood Urea Nitrogen digunakan untuk melihat adanya penurunan perfusi ginjal akibat penurunan curah jantung atau kekurangan volume cairan akibat terapi diuretic. radiografi dan proses dengan grafik. Yang diukur adalah amplitude. penurunan aliran darah miokard dan evaluasi fungsi ventrikel. kalsifikasi. Auskultasi untuk mendengar bunyi katup pulmonal. pericarditis. Arteriografi coroner berfungsi mengevaluasi derajat arteriosclerosis. derajat kelainan. arteri pulmonalis. B3 (brain) pemeriksaan raut muka untuk melihat klien gelisah. Magnetic Resonance Imaging (MRI) digunakan untuk mendeteksi IM.

Swartz. Jakarta: Salemba Medika. Philadelphia: W. Referensi: Muttaqin.Petrus Lukmanto]. dr. (1995).fungsi kardiovaskular.(2009). hasil pembedahan jantung. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular.R. Uji pembebanan jantung ditujukan untuk mengkaji aspek fungsi jantung.H. EGC: Jakarta. Tyson. S.B Saunders Company. A. Gerontological Nursing Care. Buku Ajar Diagnostik Fisik [Terj. .M. hasil terapi medis.(1999).

co.co.id/books?id=w5eVlI0_bdEC&printsec=frontcover&hl=id#v=onepage&q&f=fals e http://books.google.co.co.id/books?id=w5eVlI0_bdEC&pg=PA192&dq=pemeriksaan+fisik+kardiovaskula r&hl=id&sa=X&ei=Ih0wUa2EIMeHrAfc4IDoCg&redir_esc=y#v=onepage&q=pemeriksaan%20fisik% 20kardiovaskular&f=false http://books.co.google.http://books.co.id/books?id=pxqFWlhKQMC&pg=PA356&dq=physical+examination+for+cardiovascular+in+gerontic&hl=id&sa= X&ei=fEQ0UfrMEYLprQfsvIGwDw&redir_esc=y#v=onepage&q=physical%20examination%20for%2 0cardiovascular%20in%20gerontic&f=false http://books.google.google.id/books?id=noWFt_QVOUMC&pg=PA58&dq=pemeriksaan+diagnostik+siste m+kardiovaskuler&hl=id&sa=X&ei=oy8wUbHlLMvwrQe63oCQBw&redir_esc=y#v=onepage&q=pe meriksaan%20diagnostik%20sistem%20kardiovaskuler&f=false http://books.google.google.id/books?id=IJ3P1qiHKMYC&pg=PA61&dq=pemeriksaan+diagnostik+sistem+ kardiovaskuler&hl=id&sa=X&ei=oy8wUbHlLMvwrQe63oCQBw&redir_esc=y#v=onepage&q=pemeri ksaan%20diagnostik%20sistem%20kardiovaskuler&f=false http://books.id/books?id=bPjMmePxYAkC&pg=PT259&dq=examination+for+cardiovascular +system+in+gerontic&hl=id&sa=X&ei=YkU0UY6WNs77rAe1vIGYCw&redir_esc=y .