You are on page 1of 16

LI. II Memahami dan Menjelaskan Campak LO 2.

1 Definisi campak Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus. Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini. Campak adalah infeksi masa kanak-kanak, penyebab campak adalah virus. Setelah cukup umum, sekarang campak dapat dicegah dengan vaksin. Tanda dan gejala campak antara lain batuk, pilek, radang mata, sakit tenggorokan, demam dan ruam, juga kulit menjadi merah bernoda kotor. Campak bisa serius dan bahkan fatal bagi anak-anak kecil. Sementara tingkat kematian telah menurun di seluruh dunia sebagai anak-anak lebih menerima vaksin campak, penyakit ini masih membunuh beberapa ratus ribu orang setahun, sebagian besar di bawah usia 5 tahun. Campak adalah penyakit virus yang sangat menular. Virus campak yang terkandung dalam jutaan tetesan kecil yang keluar dari hidung dan mulut ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin. Seseorang yang rentan terhadap penyakit campak dapat menangkap virus dengan bernapas dalam tetesan atau jika tetesan telah diselesaikan pada permukaan, dengan menyentuh permukaan dan kemudian meletakkan tangan di dekat hidung atau mulut. LO 2.2 Klasifikasi Campak Klasifikasi campak ada dua rebeola (meassles) dan campak german. LO 2.3 Manifestasi Klinis Campak Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: o Panas badan, nyeri tenggorokan, hidung meler ( Coryza ), batuk ( Cough ), Bercak Koplik, nyeri otot, mata merah ( conjuctivitis ) 2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan kaki, sedangkan ruam di wajah mulai memudar. Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.

Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari. Panas meningkat dan mencapai puncaknya pada hari ke 4-5, pada saat ruam keluar § Coryza yang terjadi sukar dibedakan dengan common cold yang berat. Membaik dengan cepat pada saat pans menurun. § Conjunctivitis ditandai dengan mata merah pada conjunctiva disertai dengan keradangan disertai dengan keluhan fotofobia. § Cough merupakan akibat keradangan pada epitel saluran nafas, mencapai puncak pada saat erupsi dan menghilang setelah beberapa minggu. • Munculnya Koplik’s spot umumnya pada sekitar 2 hari sebelum munculnya ruam (hari ke 3-4) dan cepat menghilang setelah beberapa jam atau hari. Koplik’s spot adalah sekumpulan noktah putih pada daerah epitel bucal yang merah (a grain of salt in the sea of red), yang merupakan tanda klinik yang pathognomonik untuk campak. § Ruam makulopapular semula bewarna kemerahan. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta belakang telinga, menyebar ke arah perifer sampai pada kaki. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada menjadi confluent. Ruam ini membedakan dengan rubella yang ruamnya discrete dan tidak mengalami desquamasi. Telapak tangan dan kaki tidak mengalami desquamasi. LO 2.4 Etiologi Campak Campak, rubeola, atau measles adalah penyakit infeksi yang menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kisaran 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus (virus campak). Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: - bayi berumur lebih dari 1 tahun - bayi yang tidak mendapatkan imunisasi - remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua. LO 2.5 Patofisiologi Campak Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan berbiak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.Virus

dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit. LO 2.6 Diagnosis Campak v Anamnesis Adanya demam tinggi terus menerus 38,50 C atau lebih disertai batuk, pilek, nyeri menelan, mata merah dan silau bila kena cahaya (fotofobia), seringkali diikuti diare. Pada hari ke 4-5 demam, timbul ruam kulit, didahului oleh suhu yang meningkat lebih tinggi dari semula. Pada saat ini anak dapat mengalami kejang demam. Saat ruam timbul, batuk dan diare bertambah parah sehingga anak mengalami sesak nafas atau dehidrasi. v Pemeriksaan fisik Gejala klinis terjadi setelah masa tunas 10-12 hari, terdiri dari tiga stadium : § Stadium prodromal, berlangsung 2-4 hari, ditandai dengan demam yang diikuti dengan batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan konjungtivitis. Tanda patognomonik timbulnya enantema mukosa pipi di depan molar tiga disebut bercak Koplik. § Stadium erupsi, ditandai dengan timbulnya ruam makulo-papular yang bertahan selama 5-6 hari. Timbulnya ruam dimulai dari batas rambut di belakang telinga, kemudian menyebar ke wajah, leher, dan akhirnya ke ekstrimitas. § Stadium penyembuhan (konvalesens), setelah 3 hari ruam berangsur-angsur menghilang sesuai urutan timbulnya. Ruam kulit menjadi kehitaman dan mengelupas yang akan menghilang setelah 1-2 minggu. § Sangat penting untuk menentukan status gizi penderita, untuk mewaspadai timbulnya komplikasi. Gizi buruk merupakan risiko komplikasi berat. v Pemeriksaan penunjang Laboratorium § Darah tepi : jumlah leukosit normal atau meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri § Pemeriksaan antibodi IgM anti campak § Pemeriksaan untuk komplikasi : 1. Ensefalopati/ensefalitis : dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah dan analisis gas darah 2. 3. Enteritis : feses lengkap Bronkopneumonia : dilakukan pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah.

DIAGNOSA BANDING

Diagnosis banding penyakit campak yang perlu dipertimbangkan adalah campak jerman, infeksi enterovirus, eksantema subitum, meningokoksemia, demam skarlantina, penyakit riketsia dan ruam kulit akibat obat, dapat dibedakan dengan ruam kulit pada penyakit campak.  Campak Jerman atau Rubella atau Campak Tiga Hari. Gejala lebih ringan dari campak, terdiri dari gejala infeksi saluran napas bagian atas, demam ringan, tanda yang paling khas adalah adenopati retroaurikuler, servical posterior, dan di belakang oksipital. Ruam lebih halus, yang mula-mula pada wajah lalu menyebar ke batang tubuh dan menghilang dalam waktu 3 hari. Eksantema Subitum. Penyakit ini juga disebabkan oleh virus, biasanya timbul pada bayi berumur 6-36 bulan. Perlangsungan penyakit ini mirip campak, bedanya ruam timbul pada saat panas turun. Ruam kulit akibat obat. Lebih bersifat urtikaria, sehingga ruam lebih besar, luas, menonjol dan umumnya tidak disertai panas dan batuk. Umumnya ruam kulit timbul setelah ada riwayat penyuntikan atau menelan obat. Penyakit Ricketsia. Disertai batuk tetapi ruam kulit yang timbul biasanya tidak mengenai wajah yang secara khas terlihat pada penyakit campak. Infeksi enterovirus. Ruam kulit cenderung kurang jelas dibandingkan dengan campak dan tidak adanya adenopati retroaurikuler. Demam Skarlet. Kelainan kulit biasa timbul dalam 12 jam pertama sesudah demam. Ruam kulit difus dan makulopapuler halus, eritema yang menyatu dengan susunan seperti “daging angsa” diatas dasar eritematosa secara jelas terdapat didaerah abdomen yang relatif mudah dibedakan dengan campak. Penyakit Kawasaki. Demam tidak spesifik disertai nyeri tenggorok mendahului penyakit ini selama 2-5 hari. Biasanya ditemukan adanya eksantem yang bersifat generalisata dan makulopapuler. Telapak tangan dan kaki membengkak merah dan menghilang dalam beberapa hari sampai beberapa minggu. Gejala klinik lain yang dapat ditemukan : adanya bibir, mulut dan lidah mengering dan merah (strawberry tounge) serta adanya konjungtivitis non purulen.

Vericella. Ruam yang dihasilkan adalah ruam vesicular dan gatal. Tidak ada bercak koplik dan periode ruam adalah selama kurang lebih 5 hari. Roseola infantum. Tanda yang paling membedakan kedua penyakit ini adalah masa timbul ruam pada roseola infantum, ruam timbul setelah demam hilang. Meningokoksemia. Disertai ruam kulit yang mirip dengan campak, tetapi biasanya tidak dijumpai batuk dan konjungtivits.

Demam skarlantina. Ruam kulit difus dan makulopapuler halus, eritema yang menyatu dengan tekstur seperti kulit angsa secara jelas terdapat di daerah abdomen yang relatif mudah dibedakan dengan campak.

LO 2.7 Penatalaksanaan Campak

a) Pengobatan bersifat suportif, terdiri dari :  Pemberian cairan yang cukup.  Kalori yang sesuai dan jenis makanan yang disesuaikan dengan tingkat kesadaran dan adanya komplikasi. b) Campak tanpa komplikasi :  Antidemam (seperti parasetamol).  Antibatuk (seperti antitusif, antiekspetoran).  Vitamin A  < 6 bulan : 50.000 IU diberikan satu kali  6-11 bulan : 100.000 IU diberikan satu kali  >11 bulan : 200.000 IU diberikan satu kali  Diet makanan cukup cairan, kalori yang memadai. Jenis makanan disesuaikan dengan tingkat kesadaran pasien dan ada tidaknya komplikasi.

c) Komplikasi  Suplemen nutrisi.  Antibiotik diberikan apabila terjadi infeksi sekunder.  Anti konvulsan apabila terjadi kejang.  Pemberian vitamin A. Dengan Indikasi rawat inap, jika :

-

Campak disertai komplikasi berat Campak dengan kemongkinan terjadinya komplikasi, yaitu bila ditemukan:        Bercak/eksantem merah kehitaman yang menimbulkan deskuamasi dengan skuama yang lebar dan tebal. Suara parau, terutama disertai tanda penyumbatan seperti laryngitis dan pneumonia. Dehidrasi berat. Hiperpireksia (suhu tubuh > 39o C) Asupan oral sulit Kejang dengan kesadaran menurun MEP yang berat

d) Campak dengan komplikasi :  Ensefalopati/ensefalitis  Antibiotika bila diperlukan, antivirus dan lainya sesuai dengan penderita ensefalitis.  Kortikosteroid, bila diperlukan sesuai dengan penderita ensefalitis.  Kebutuhan jumlah cairan disesuaikan dengan kebutuhan serta koreksi terhadap gangguan elektrolit dan gangguan gas darah.  Bronkopneumonia :  Antibiotika sesuai dengan penderita pneumonia Antibiotik ampisilin 100 mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat peroral.  Oksigen nasal atau dengan masker.  Koreksi gangguan keseimbangan asam-basa, gas darah dn elektrolit  Pada kasus campak dengan komplikasi bronkhopneumonia dan gizi kurang perlu dipantau terhadap adanya infeksi spesifik. Pantau gejala klinis serta lakukan uji Tuberkulin setelah 1-3 bulan penyembuhan. Enteritis  Koreksi dehidrasi sesuai derajat dehidrasi. Pemberian cairan intravena dapat dipertimbangkan apabila terdapat enteritis dengan dehidarsi. Otitis media

 Diberikan antibiotik kortimoksazol-sulfametokzasol (TMP 4 mg/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis) Pantau keadaan gizi untuk gizi kurang atau buruk
LO 2.8 Pencegahan Campak

Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention) Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.

Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu :

a) Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi. b) Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.

Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurangkurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu: a) Menentukan diagnosis campak dengan benar baik melalui pemeriksaan fisik atau darah. b) Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasienpasien dengan risiko tinggi lainnya.

Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.

Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu : a) Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak. b) Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

1. Imunisasi aktif. Imunisasi aktif dapat dirangsang dengan memberikan virus campak hidup yang dilemahkan, yang tidak menyebar melalui kontak dengan individu yang divaksin. Imunisasi campak awal dapat diberikan pada usia 12-15 bulan tetapi mungkin diberikan lebih awal pada daerah dimana penyakit lebih sering terjadi. Imunisasi kedua terhadap campak biasanya diberikan sebagai campak-parotitis-rubella terindikasi. Dosis ini dapat diberikan ketika anak masuk sekolah dasar atau nanti pada saat masuk sekolah menengah. Program imunisasi campak secara luas baru dikembangkan pelaksanaannya pada tahun 1982. Pada tahun 1963 telah dibuat dua macam vaksin campak, yaitu : o Vaksin yang berasal dari virus campak yang hidup dan dilemahkan-“Live Attenuated Measles Vaccine” (tipe Edmonstone B). o Vaksin yang berasal dari virus campak yang dimatikan (virus campak yang berada dalam larutan formalin yang dicampur dengan garam aluminium).

Sejak tahun 1967 vaksin yang berasal dari virus campak yang telah dimatikan tidak digunakan lagi oleh karena efek proteksinya hanya bersifat sementara dan dapat menimbulkan gejala atypical measles yang hebat. Sebaliknya, vaksin campak yang berasal dari virus hidup yang dilemahkan, dikembangkan dari Edmonstone strain menjadi strain Schwarz (1965) dan kemudian menjadi strain Moraten (1968).

Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi lagi. Di Indonesia keadaannya berlainan. Kejadian campak masih tinggi dan sering dijumpai bayi menderita penyakit campak ketika ia berumur antara 6-9 bulan, jadi pada saat sebelum ketentuan batas umur 9 bulan untuk mendapat vaksinasi campak seperti yang dianjurkan WHO. Dengan memperhatikan kejadian ini, sebenarnya imunisasi campak dapat diberikan sebelum bayi berumur 9 bulan, misalnya pada umur antara 6-7 bulan ketika kekebalan pasif yang diperoleh dari ibu mulai menghilang. Akan tetapi kemudian ia harus mendapat satu kali suntikan ulang sete lah berumur 15 bulan. Dosis baku minimal untuk pemberian vaksin campak yang dilemahkan adalah 1.000 TCID-50 atau 0,5 ml. Tetapi untuk vaksin hidup, pemberian dengan 20 TCID-50. Cara pemberian yang dianjurkan adalah subkutan. Pemberian vaksin Edmonstone Zagreb mendapatkan respon antibodi yang baik pada anak dibawah usia 9 bulan. Kombinasi vaksin dapat menghemat biaya. Kegagalan vaksinasi dibedakan antara : o Kegagalan primer : Tidak terjadi serokonversi stelah imunisasi o Kegagalan sekunder : Tidak ada proteksi setelah terjadi serokonversi dan vaksin yang kurang kuat sehingga respon imun tidak adekuat. Pada saat ini di negara yang berkembang, angka kejadian campak masih tinggi dan seringkali dijumpai penyulit, maka WHO menganjurkan pemberian imunisasi campak pada bayi berumur 9 bulan. Untuk negara maju imunisasi campak (MMR) dianjurkan pada anak berumur 12-15 bulan dan kemudian imunisasi kedua (booster) juga dengan MMR dilakukan secara rutin pada umur 4-6 tahun, tetapi dapat juga diberikan setiap waktu semasa periode anak dengan tenggang waktu paling sedikit 4 minggu dari imunisasi pertama.

Gambar 7. Vaksin MMR Sumber : http://www.pharmaceutical-technology.com/projects/merck2/merck25.html _

Imunisasi campak tidak dianjurkan pada ibu hamil, anak dengan imnunodefisiensi primer, pasien TB yang tidak diobati, pasien kanker atau transplantasi organ, mereka yang mendapat pengobatan supresif jangka panjang atau anak imunocompromised yang terinfeksi HIV. Anak yang terinfeksi HIV tanpa imunosupresi berat dan tanpa bukti kekebalan terhadap campak, bisa mendapat imunisasi campak. Reaksi Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) campak yang banyak dijumpai pada imunisasi ulang pada seseorang yang telah memiliki imunitas sebagian akibat imunisasi dengan vaksin campak dari virus yang dimatikan. Kejadian KIPI imunisasi campak telah menurun dengan digunakannya vaksin campak yang dilemahkan. Gejala KIPI berupa demam yang lebih dari 39,50C yang terjadi pada 5-15% kasus, dan mulai dijumpai pada hari ke 5-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari. 2. Imunisasi pasif. Imunisasi pasif dengan kumpulan serum orang dewasa, kumpulan serum konvalesens, globulin plasenta atau gamma globulin kumpulan plasma adalah efektif untuk pencegahan dan pelemahan campak. Campak dapat dicegah dengan menggunakan imunoglobulin serum dengan dosis 0,25 mL/kg diberikan secara intramuskuler dalam 5 hari sesudah pemajanan tetapi lebih baik sesegera mungkin. Proteksi sempurna t e r i n d i k a s i u n t u k b a y i , a n a k d e n g a n p e n ya k i t k r o n i s d a n u n t u k k o n t a k d i b a n g s a l rumah sakit anak.

3. Isolasi Penderita rentan menghindari kontak dengan seseorang yang terkena penyakit campak dalam kurun waktu 20-30 hari, demikian pula bagi penderita campak untuk diisolasi selama 20-30 hari guna menghindari penularan lingkungan sekitar.

LO 2.9 Komplikasi campak

Pada penyakit campak terdapat resistensi imun yang menurun sehingga dapat terjadi anergi. Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti: 1. Laringitis akut Laringitis timbul karena adanya edema hebat pada mukosa saluran napas, yang bertambah parah pada saat demam mencapai puncaknya. Ditandai dengan distres pernafasan, sesak, sianosis, dan stridor. Ketika demam turun keadaan akan membaik dan gejala akan menghilang. 2. Pneumonia Dapat disebabkan oleh virus campak maupun akibat invasi bakteri. Ditandai dengan batuk, meningkatnya frekuensi nafas, dan adanya ronki basah halus. Pada saat suhu turun apabila disebabkan oleh virus, gejala pneumonia akan menghilang, kecuali batuk masih dapat berlanjut beberapa hari lagi. Apabila suhu tidak juga turun pada saat yang diharapkan dan gejala saluran nafas masih terus berlangsung, dapat diduga adanya penumonia karena bakteri yang telah mengadakan invasi pada sel epitel yang telah dirusak oleh virus. Gambaran infiltrat pada foto thoraks dan adanya lekositosis dapat mempertegas diagnosis. Di negara yang sedang berkembang dimana malnutrisi masih menjadi masalah, penyulit pneumonia bakteria biasa terjadi dan dapat menjadi fatal bila tidak diberikan antibiotik. 3. Ensefalitis Merupakan komplikasi neurologis yang berat dan lebih sering pada campak daripada eksantem yang lain. Insiden komplikasi ini berkisar antara 0,1-2% dan biasanya timbul pada hari ke2-6 setelah timbulnya ruam. Patogenesis komplikasi ini belum diketahui secara pasti, beberapa dugaan seperti melalui mekanisme imunologik maupun melalui invasi langsung virus campak ke dalam otak. Gejala ensefalitis dapat berupa panas, sakit kepala, muntah, lemah, kejang, koma atau kelemahan umum. Perjalanan penyakit ini bervariasi dari yang ringan sampai berat dan berakhir dengan kematian dalam waktu 24 jam. Pemeriksaan cairan cerebrospinal menunjukkan pleositosis ringan, dengan predominan sel mononuklear, peningkatan protein ringan, sedangkan kadar glukosa dalam batas normal. 4. Otitis Media Invasi virus ke dalam telinga tengah umumnya terjadi pada campak. Gendang telinga biasanya hiperemis pada fase prodromal dan stadium erupsi. Jika terjadi invasi bakteri pada lapisan sel mukosa yang rusak karena invasi virus akan terjadi otitis media purulenta. Dapat pula terjadi mastoiditis. 5. Konjungtivitis

Pada hampir semua kasus campak terjadi konjungtivitis yang ditandai dengan mata merah, pembengkakan kelopak mata, lakrimasi dan fotofobia. Kadang-kadang terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Virus campak atau antigennya dapat terdeteksi pada lesi konjungtiva pada hari pertama sakit. Konjungtivitis dapat memburuk dengan terjadinya hipopion dan pan-oftalmitis sehingga menyebabkan kebutaan. Dapat pula timbul ulkus kornea 6. Enteritis Beberapa anak yang menderita campak mengalami muntah dan mencret pada fase prodromal. Keadaan ini akibat invasi virus ke dalam sel mukosa usus. 7. Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) Subacute sclerosing panencephalitis merupakan kelainan degeneratif susunan saraf pusat yang jarang disebabkan oleh infeksi virus campak yang persisten. Kemungkinan untuk menderita SSPE pada anak sebelumnya pernah menderita campak adalah 0,6-2,2 per 100.000 infeksi campak. Resiko terjadi SSPE lebih besar pada usia yang lebih muda, dengan masa inkubasi rata-rata 7 tahun. Gejala SSPE didahului dengan gangguan tingkah laku dan intelektual yang progresif, diikuti oleh inkoordinasi motorik, kejang. Umumnya bersifat mioklonik. Laboratorium menunjukkan peningkatan globulin dalam cairan cerebrospinal, antibodi terhadap campak dalam serum (CF dan HAI) menigkat 1 : 1280). Tidak ada terapi untuk SSPE. Rata-rata jangka panjang waktu timbulnya gejala sampai meninggal antara 6 – 9 bulan.

LI. 1 Mempelajari dan Memahami Virus Campak (Rubela dan Rubeola) LO 1.1 Menjelaskan Definisi Rubela dan Rubeola (Paramyxovirus) Virus campak adalah virus rubeola yang berasal dari famili Paramyxovirus dan genus Morbilivirus. Virus rubeola adalah virus yang menyebabkan penyakit campak yang menular. Istilah virus rubeola digunakan di Prancis dan Spanyol yang berarti kemerahan. Virus ini memulai infeksi melalui saluran pernapasan. Paramyxovirus tergolong dalam virus yang mengandung RNA. Manusia adalah host normal dari virus rubeola. Pada genus Morbilivirus, hanya virus campak yang menginfeksi manusia. Sedangkan virus rubela adalah anggota famili Togaviridae dan anggota satu-satunya genus Rubivirus. Rubela tidak ditularkan melalui artropoda meskipun termasuk dalam famili Togaviridae. Rubela menyebabkan penyakit campak jerman (campak 3 hari), penyakit demam akut yang ditandai dengan ruam dan limfadenopati yang mengenai anak dan dewasa muda. Meskipun diklasifikasikan sebagai Togavirus, rubela dapat dianggap sebagai Paramyxovirus berdasarkan epidemiologinya LO 1.2 Menjelaskan Morfologi Rubela dan Rubeola Virus rubeola

Gambar 1. Morfologi Rubeolla Virus Sumber: http://pathmicro.med.sc.edu/mhunt/MMR1.jpg

Gambar 2. Morfologi Rubeolla Virus Sumber: http://viralzone.expasy.org/all_by_species/84.html

Morfologi Paramyxoviridae adalah pleomorfik, diameter partikel 50 nm atau lebih, kadang-kadang berkisar hingga 700 nm. Selubung Paramyxovirus tampak terlihat rentan, sehingga partikel virus labil pada kondisi penyimpanan dan rentan terhadap distorsi dalam mikograf elektron. Genom virus adalah RNA untai tunggal sense negatif berbentuk linear yang tidak bersegmen, tidak ada kemungkinan penyusunan ulang genetik yang sering terjadi menyebabkan fakta bahwa semua anggota kelompok Paramyxovirus stabil secara antigen.

Sebagian besar Paramyxovirus mengandung 6 protein struktural: a. 3 protein membentuk kompleks dengan RNA virus  berfungsi untuk transkripsi dan replikasi RNA b. 3 protein berpartisipasi dalam pembentukan selubung virus. Protein matriks (M) mendasari selubung virus, protein tersebut memiliki afinitas terhadap NP dan glikoprotein permukaan virus dan penting dalam perakitan virion. Nukleokapsid dikelilingin oleh selubung lipid yang tertancap dengan duri dua glikoprotein transmembran yang berbeda ukuran (8 - 12 mm). Aktivitas glikoprotein permukaan ini yang membantu membedakan genus famili Paramyxoviridae. Glikoprotein dapat atau tidak dapat mengalami aktivitas hemaglutinasi dan neuraminidase serta berperan untuk perlekatan pada sel penjamu. Glikoprotein ini dirakit sebagai tentramer di dalam virion yang matang. Virus rubella

Gambar 3. Morfologi Rubella Virus Sumebr: http://pathmicro.med.sc.edu/mhunt/rub1.jpg

Rubella virus memiliki selubung (cloak, toga), tidak bersegmen, memiliki RNA strand tunggal sense positif, dan bereplikasi di sitoplasma. Nukleokapsid memiliki simetri ikosahedral. Hanya terdapat satu tipe antigenik. Virus ini mengandung lipid dan bersifat sensitif eter, beruntai tunggal, dengan ukuran 9,7-11,8 kb. RNA sense positif adalah RNA virus yang memiliki urutan basa yang sama terhadap urutan basa mRNA. Selama replikasi RNA sense positif bertindak sebagai mRNA virus dan akan bertindak sebagai cetakan sintesis protein. Virion mempunyai selubung dan berukuran 50-70 nm. Pematangan virus melalui budding dari membran sel pejamu.

LO 1.3 Menjelaskan Klasifikasi Rubela dan Rubeola

Rubeola Family Subfamily Genus Spesies Rubela Family Genus Spesies

: Paramyxoviridae : Paramyxovirinae : Morbillivirus : Measles virus (MeV)

: Togaviridae : Rubivirus : Rubella virus