You are on page 1of 8

JURNAL HASIL DISKUSI

Materi Kelompok Penyaji

: Pendidikan dan Landasan Psikologi : II (Dua) : Dewi Satria Ahmar, Nurfatima Sugrah, Syamsu Rijal

A. Ringkasan Teori 1. Landasan Psikologi Pendidikan . Landasan Psikologi pendidikan dapat didefenisikan sebagai suatu landasan yang dijadikan sebagai titik tolak dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang jiwa atau psikis manusia yang selalu mengalami perkembangan dari bayi hingga usia lanjut sehingga dapat memudahkan pelaksanaan proses pendidikan. Ada dua tujuan utama menjadikan psikologi sebagai salah satu landasan dalam pendidikan. Pertama, agar para pendidik, atau para calon pendidik memahami pemahaman yang baik tentang situasi pendidikan. Kedua, agar para pendidik, dan para calon pendidik mampu menyiapkan dan melaksanakan pengajarandan bimbingan terhadap siswa dengan lebih baik. 2. Psikologi Perkembangan Psikologi perkembangan adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang menelaah berbagai perubahan individu. Perubahan individual tersebut tidak hanya mendeskripsikan tetapi juga mengeksplisikasikan perubahan-perubahan perilaku menurut tingkat usia (Hurlock, 1980:2). Psikologi perkembangan terbagi menjadi dua yaitu secara umum dan secara khusus. Secara umum menjelaskan perkembangan anak dari bayi hingga dewasa secara umu. Sedangkan secara khusus lebih menekankan pada perkembangan kognitif dan afektif. 3. Psikologi Belajar Psikologi belajar dapat didefenisikan sebagai salah satu cabang ilmu psikologi yang membahas pelaksanaan tentang proses belajar mengajar yang lebih menekankan pada hal-hal yang berhubungan dengan penerimaan (transfer) bahan ajar atau materi dari pendidik ke peserta didik melalui proses pendidikan. Teori belajar terbagi menjadi dua bagian yaitu teori belajar klasik, dan teori belajar modern. Teori belajar klasik terdiri dari disiplin mental Theistik, displin mental Humanistik, Naturalis atau Aktualisasi Diri. Apersepsi. Teori belajar modern terbagi atas teori belajar behavioris dan Kognisi. Teori belajar behavioris mencakup teori R-S Bond atau asosiasi, Pengkondisian (kondisioning) Instrumental, Pengkondisian (kondisioning) Operan, dan Penguatan. Sementara itu teori belajar Kognisi meliputi: Kognisi, Belajar Bermakna, Insight atau Gestalt, Lapangan, Tanda (sign) dan Fenomenologi.

4. Psikologi Sosial Psikologi sosial adalah cabang psikologi yang mempelajari psikologi seseorang dimasyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antarindividu. Mempelajari psikologi sosial ini adalah hal yang penting bagi seorang pendidik. Karena dengan psikologi sosial ini, maka seorang pendidik akan mengerti mengenai teori-teori yang berhubungan dengan cara peserta didiknya bersosialisasi dengan teman-temannya dan dengan seorang pendidik. Berikut ini adalah beberapa penjelasan dari psikologi sosial yang berhubungan dengan proses belajar mengajar yang dilaksanakan oleh seorang peserta didik. Berkaitan dengan psikologi sosial, hal-hal yang harus diperhatikan oleh guru meliputi: pembentukan kesan pertama, persepsi diri sendiri, motivasi B. Diskusi Nama Maryone Saija, S.Pd. (pertanyaan 1) Pertanyaan/Jawaban/Tanggapan Apa yang menjadikan dasar sehingga tahapan perkembangan itu dibedakan atas secara umum dan secara khusus? Kemudian apa yang menjadi tujuan sehingga muncul psikologi pendidikan? Pembagian psikologi pendidikan didasarkan pada bahasan mengenai kajiannya. Secara umum berarti bahsa kajiannya mencakup perkembangan psikologi secara umur dari bayi hingga dewasa tidak memperhatikan aspek kognitif dan afeksinya. Secara Khusus lebih menekankan pada kajian atau bahasa pada pada perkembangan kognitif dan afektifnya. Ada dua tujuan utama menjadikan psikologi sebagai salah satu landasan dalam pendidikan. Pertama, agar para pendidik, atau para calon pendidik memahami pemahaman yang baik tentang situasi pendidikan. Kedua, agar para pendidik, dan para calon pendidik mampu menyiapkan dan melaksanakan pengajarandan bimbingan terhadap siswa dengan lebih baik. Dengan kedua bekal tersebut diharapkan para pendidik dan calon pendidik dapat membantu siswa dalam mencapai perkembangan yang setinggi-tingginya sesuai dengan potensi yang dimilikinya Ada 3 pendekatan dalam tahap perkembangan. Yang lebih ditekankan adalah pendekatan pentahapan. Berdasarkan tahapan pendekatan terbagi menjadi dua yaitu secara umum dan khusus. secara umum : dibahas mengenai usia dari 0 sampai tua. Secara khusus : dibagi menjadi tahapan kignitif dan afektif. Tujuan psikolgi adalah sebagai bahan pijakan bagi

Dewi Satria Ahmar, S.Pd. (Jawaban pemateri)

Nurfatima Sugrah, S.Pd. (pemateri)

Jesi Jecsen Pongkendek, S.Pd. (tambahan)

St. Humaerah Syarif, S.Pd. (tanggapan)

Dewi Satria Ahmar, S.Pd. (Pemateri)

Nurasia, S.Pd. (tanggapan)

Anwar Said, S.Si.

St. Humaerah Syarif, S.Pd. (pertanyaan 2)

Dewi Satria Ahmar, S.Pd. (pemateri)

seorang guru dalam mengambil keputusan mengenai proses pembelajaran yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswanya. Sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh pemateri bahwa tujuan dari psikologi adalah hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan karena dengan memahami seperti apa itu psikologi perkembangan, pikologi belajar, dan psikologi sosial maka seorang guru dapat memanage proses pembelajaran di dala kelas sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam tahapan perkembangan secara khusus terbagi menjadi kognitif dan afeksi. Sementara kita ketahui dalam dunia pendidikan menurut Bloom ada 3 ranah yaitu kognitif, psikomotorik, dan afeksi. Bagaimana dengan psikomotorik? Kenapa tidak ada batasan secara khusus? Secara khusus memang tidak ada yang membahas mengenai perkembangan psikomotorik. Tapi jika ditinjau dari bahasan yang ada, perkembangan psikomotorik digabung dengan perkembangan kognitif. Jadi dibahas pada perkembangan secara kognitif. Bagaimana jika ditinjau dari tahapan perkembangan pada kasus berikut: Ada seorang wali murid yang menanyakan bahwa mengapa anak pada jenjang TK waktu belajarnya sampai siang hari? Anak pada usia TK waktu belajarnya adalah bermain sambil belajar. Kegiatan yang mereka lakukan adalah sekedar bersosialisasi dengan lingkungan masyarakat. Di beberapa daerah terkadang waktu belajar anak sekolah lebih banyak di sekolah karena melihat situasi kedua orang tuanya yang cenderung sibuk dengan pekerjaannya sehingga mereka lebih memberikan kepercayaan kepada pihak sekolah untuk mengajar dan mendidik anaknya. Ada banyak hal lain yang menjadi bahan pertimbangan sehingga anak pada usia TK cenderung memiliki waktu belajar yang lebih. Namun yang terpenting adalah proses belajar yang mereka lalui disesuaikan dengan tingkat perkembangannya. Kapan seorang anak mulai belajar untuk berbudaya jika dihubungkan dengan tahapan perkembangannya? Jika dihubungkan dengan tingkat perkembangan anak, maka lebih ke umur 2-4 tahun. Hal ini disebabkan karena anak sudah mulai berinteraksi dengan lingkungan sosial meskipun interaksinya masih sangat sederhana akan tetapi anak pada usia ini sudah mulai meniru. Yang menjadi pemegang utama terhadap tanggung jawab untuk mengenalkan budaya adalah orang tua karena lingkungan belajar pertama yang dijumpai oleh anak adalah lingkungan keluarga.

Nurfatima Sugrah, S.Pd. (pemateri) St. Humaerah Syarif, S.Pd. (tanggapan)

Dewi Satria Ahmar, S.Pd. (pemateri)

Maryone Saija, S.Pd. (tambahan)

Anwar said, S.Si. (tambahan)

Musdalifah, S.Pd. (tambahan) Syamsu Rijal, S.Pd. (pemateri) Risky Trisnawaty, S.Pd. (Pertanyaan 3)

Dewi Satria Ahmar, S.Pd. (pemateri)

Nurfatima Sugrah, S.Pd. (pemateri)

Riski Trisnawaty (tanggapan) Dewi Satria Ahmar, S.Pd.

Anak mulai belajar berbudaya ketika anak sudah memiliki kemampuan untuk meniru, berbicara, dan berjalan. Bagaimana dengan yang dikemukakan di buku yang menyatakan bahwa pada tahap perkembangan yang dikemukakan oleh Ericson, anak mulai mengenal budaya pada umur 15 tahun ke atas? Jika kita lihat dari baimana seorang anak belajar untuk berbudaya, maka ketika masih umur 2 tahunpun anak sudah mulai belajar berbicara. Misalnya ketika sudah mampu mengucapkan salam, dsb. Yang dijelaskan di buku adalah anak sudah mulai belajar berbudaya dalam artian bahwa anak sudah mampu untuk memfilter budaya yang baik untuk dijadikan pedoman dan budaya yang tidak baik untuk perkembangannya. Yang terpenting dalam mengenalkan budaya bagi anak adalah peran serta orang tua karena lingkungan awal yang ditemui oleh anak adalah lingkungan belajar. Dan pada saat itulah perkembangan anak dimulai. Sebagai orang tua yang bijak, maka orang tua hendaknya memiliki pengetahuan mengenai perkembangan anaknya sehingga orang tua mampu menyikapi anaknya sesuai dengan thapan perkembangannya. Yang perlu ditanamkan kepada anak adalah pengetahuan agama karena pengetahuan agama adalah filter bagi anak dalam menjalani hidupnya. Agama adalah benteng dalam bersikap. Intinya adalah perilaku anak yang baik bersumber dari perilaku orang tua yang baik juga. Bagaimanakah pengaruh landasan psikologi terhadap pengembangan kurikulum dalam pendidikan? Landasan pendidikan sangat berpengaruh karena dengan landasan mendidikan maka tim pengembang kurikulum memiliki patokan dalam menentukan materi-materi yang harus diberikan oleh guru. Landasan psikologi juga memberikan gambaran mengenai bagaimana proses pembelajaran yang seharusnya dilaksanakan pada tingkat TK, SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Kurikulum sebagai salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Terkait dengan hal itu landasan psikologi menjadi landasan dalam pengembangan kurikulum karena terkait dengan perkembagan psikologi siswa. Bagaimana dengan satuan pendidikan yang jumlah jam belajarnya lebih banyak dibandingkan dengan satuan pendidikan yang lain, sementara berada pada jenjang pendidikan yang sama? Ada banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan. Jika ditinjau dari aspek psikologi, maka kemampuan anak

Jesi Jecsen Pongkendek (pertanyaan 4)

Dewi Satria Ahmar (pemateri)

Dra. Musdalifah (tambahan)

Syamsu Rijal, S.Pd. (pemateri)

Dosen (Dra. Hj. Sumiati Side, M.Si.)

dalam hal IQ juga merupakan bagian dari psikologi pendidikan. Salah satu hal yang menjadikan beberapa satuan pendidikan memberikan waktu tambahan karena melihat bahwa kemapuan siswa mereka dengan IQ yang rata-rata ke atas membutuhkan lebih banyak waktu untuk mengeksplorasi pengetahuannya jadi sekolah sebagai wadah yang membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuannya. Bagaimana menurut pemateri dengan adanya kelas akselerasi jika dihubungkan dengan psikologi perkembangan anak. Dilain pihak akselerasi meransang anak untuk belajar dan di pihak lain tenaga dan pikiran anak terkuras karena banyaknya tugas yang diberikan sementara waktu untuk beristirahat terbatas? Kelas akselerasi kita ketahui bersama adalah kelas yang diperuntukkan bagi anak-anak yang memiliki tingkat IQ tinggi. Jika ditinjau dari nilai plus dan negatifnya, maka keduanya dimiliki oleh kelas akselerasi. Nilai positifnya karena dengan adanya kelas akselerasi maka anak memiliki wadah untuk meningkatkan kemampuan yang dimilikinya karena biasanya anak dengan IQ tinggi suka dengan tantangan dan melalui kelas akselerasi itulah anak memiliki tantangan. Namun dari sisi negatifnya anak kurang waktu untuk istirahat karena begitu banyak tugas yang dibebankan. Jadi sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan harusnya ada kesimbangan antara waktu istirahat anak denga tugas. Mungki tugasnya sedikit diperbanyak namun bukan berarti terlalu membuat anak kurang istirahat. Sejauh ini kelas akselerasi adalah kelas yang terkenal dengan anak yang superior. Padahal tidak semua anak dalam kelas tersebut superior semuanya. Hanya beberapa diantaranya. Sementara tugas yang dibebankan kepada anak sama semuanya jadi yang menjadi korban adalah anak yang kemampuannya tidak superior. Jadi akan jauh lebih baik jika kelas akselerasi ditiadakan. Untuk mengontrol perkembangan psikologi dari anak pada kelas akselerasi maka itu adalah tanggung jawab dari guru bimbingan dan konseling karena mereka yang bertugas akan hal itu. - Terkait dengan kelas akselerasi, maka kelas akselerasi adalah hal yang positif dilakukan dengan catatan bahwa pelaksanaann dan pengeleolaannya dilakukan dengan baik. Kelas akselerasi seharusnya dilakukan tes psikologi untuk mengetahui kemapuan anak tersebbut bisa masuk dalam kelas akselerasi atau tidak. Setelah tes psikologipun dilanjutkan dengan tes wawancara untuk mengetahui kesiapan anak itu. Dan jika kelasnya sudah berjalan maka dilaksanakan kontrol secara berkala terhadap

-

-

-

-

kemampuan siswa. Jauh lebih baik juga jika kelas akselerasi diadakan pada tingkat SMA karena pada tingkat SMP siswa masih berusaha untuk mengenali lingkungannya dan masih bersifat kekanak-kanakan. Sementara pada tahap SMA siswa sudah mampu untuk berpikir abstrak dan lebih dewasa. Untuk penambahan jam belajar yang dilakukan oleh beberapa satuan pendidikan, hal itu disesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan anak. Jadi ada banyak hal yang menjadi bahan pertimbangan dalam pelaksanaannya. Budaya sejak lahir bisa diperkenalkan pada bayi karena bayi pada umur 40 hari juga sudah mampu mendengar. Jadi akan jauh lebih baik jika apa yang didengar oleh bayi adalah hal-hal yang baik. Selain itu, yang paling penting dalam tahapan perkembangan anak adalah peran serta orang tua. Karena yang menjadi utama bagi seorang anak adalah perhatian orang tua. Psikologi penting dalam pendidikan termasuk dalam pengembangan kurikulum karena melalui psikologi kita belajar mengenai tahapan perkembangan anak sehingga bahasan kurikulum untuk setiap jenjang pendidikan disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. Psikologi mengenai psikomotorik masuk dalam bahasan psikologi kognitif.

C. Kesimpulan

1. Landasan Psikologi pendidikan dapat didefenisikan sebagai suatu landasan yang
dijadikan sebagai titik tolak dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang jiwa atau psikis manusia yang selalu mengalami perkembangan dari bayi hingga usia lanjut sehingga dapat memudahkan pelaksanaan proses pendidikan. 2. Psikologi perkembangan adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang menelaah berbagai perubahan individu. Perubahan individual tersebut tidak hanya

mendeskripsikan tetapi juga mengeksplisikasikan perubahan-perubahan perilaku menurut tingkat usia. 3. Psikologi belajar adalah salah satu cabang ilmu psikologi yang membahas pelaksanaan tentang proses belajar mengajar yang lebih menekankan pada hal-hal yang berhubungan dengan penerimaan (transfer) bahan ajar atau materi dari pendidik ke peserta didik melalui proses pendidikan.

4. Psikologi sosial adalah psikologi yang mempelajari psikologi seseorang dimasyarakat, yang mengkombinasikan ciri-ciri psikologi dengan ilmu sosial untuk mempelajari pengaruh masyarakat terhadap individu dan antarindividu. Dalam dunia pendidikan, psikologi sosial ini menekankan kepada interaksi antara para masyarakat pebelajar dengan pendidik sehingga tercipta suasana yang menyenangkan satu sama lain.

Analisis Komparasional
Disusun Oleh:

DEWI SATRIA AHMAR EZZAR FITRIYANI MARYONE SAIJA ASLIN JUPRI
PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR 2012