You are on page 1of 30

Bab I PENDAHULUAN

Ular adalah reptil yang tak berkaki dan bertubuh panjang. Ular memiliki sisik seperti kadal dan sama-sama digolongkan ke dalam reptil bersisik (Squamata). Kasus gigitan ular di Amerika Serikat dilaporkan setiap tahun sekitar 45.000 kasus, namun yang disebabkan oleh ular berbisa hanya 8000 kasus. Selama 3 tahun terakhir , the American Association of Poison Control Centers melaporkan bahwa dari 6000 kasus gigitan ular, 2000 diantaranya merupakan gigitan ular berbisa. Kematian diperkirakan terjadi pada 5 sampai 15 kasus dan biasanya terjadi pada anak-anak, orang yang lanjut usia, dan pada kasus yang tidak atau terlambat mendapatkan anti bisa ular. Pasien korban gigitan ular berbisa 15% sampai 40% akan meninggalkan gejala sisa. Menurut catatan medik RSCM, kejadian kasus gigitan ular berbisa selama 5 tahun terakhir (1998 – 2002) sebanyak 37 pasien. Pada umumnya korban gigitan ular adalah laki-laki dengan usia antara 17 sampai tahun, seringkali dalam kondisi mabuk, sedang melakukan aktifitas berkebun, atau sedang menangkap bahkan bermain dengan ular. Waktu gigitan biasanya terjadi pada malam hari dan gigitan lebih sering terjadi pada ekstremitas. Malik dkk, pada tahun 1992 melakukan penelitian terhadap korban gigitan ular, mendapatkan tempat gigitan pada tungkai atau kaki (83,3%) dan lengan atau tangan (17,7%). Terdapat 3000 spesies ular, 200 spesies diantaranya termasuk ular berbisa. Ular berbisa sebagian besar berasal dari 3 famili yaitu, Hydrophidae (ular laut), Elapidae (contohnya cobra) dan Viperidae (Crotalidae). Kasus gigitan ular berbisa 95% disebabkan oleh gigitan ular dari famili Crotalidae. Ular jenis Crotalidae disebut juga Viperidae atau pit vipers karena kepala berbentuk triangular, pupil matanya elips, serta terdapat lubang antara hidung dan mata. Bisa ular diproduksi dan disimpan pada sepasang kelenjar di bawah mata. Bisa ular dikeluarkan dari lubang pada gigi-gigi taring yang terdapat di rahang atas. Sebagian besar bisa terdiri dari air. Protein enzimatik pada bisa menginformasikan kekuatan destruktifnya. Bisa ular terdiri dari bermacam polipeptida yaitu fosfolipase A, hialuronidase, ATP-ase, 5 nukleotidase, kolin esterase, protease, fosfomonoesterase, RNA-ase, DNA-ase. Efek toksik bisa ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi. Ular berbisa kebanyakan termasuk dalam famili Colubridae, tetapi pada umumnya bisa yang dihasilkannya bersifat lemah. Contoh ular yang

termasuk famili ini adalah ular sapi (Zaocys carinatus), ular tali (Dendrelaphis pictus), ular tikus atau ular jali (Ptyas korros), dan ular serasah (Sibynophis geminatus). Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili Elapidae, Hydropiidae, atau 2Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae memiliki taring panjang yang secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata. Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah (Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).

BAB II Tinjauan Pustaka

A. Biologi Ular a. Penampang melintang tubuh membulat dan memanjang b. Tubuhnya tertutup oleh sisik c. Ukuran panjang tubuhnya dari 10 mm – 9000 mm d. Memiliki tulang belakang dan sepasang tulang rusuk pada setiap ruas tulang belakang (sampai cloaca) e. Suhu tubuhnya poikilotermik, suhu ideal 23,9 – 29,4°C. Namun ular masih dapat bertahan pada suhu yang ekstrem 7.2°C atau 37.8°C, bila lebih dari suhu ini akan berakibat fatal bagi ular.

f. Ular melata dengan menggunakan otot pada bagian perutnya secara bergantian sehingga dapat bergerak menuju ke tempat lain. g. Mata pada ular tidak memiliki kelopak mata, tapi dilindungi oleh selaput transparan. Penglihatan ular tidak sejelas penglihatan manusia. Sensor yang ditangkap adalah bayangan dan sensitif terhadap cahaya. h. Tidak seperti manusia, hidung pada ular hanya berfungsi sebagai alat untuk bernafas, sedangkan alat penciumannya adalah lidahnya dengan dibantu organ Jacobson. i. Indera panas, terletak diantara mata dan hidung, berfungsi untuk mendeteksi panas yang dikeluarkan oleh makhluk lain yang berdarah panas (endotermik), Namun tidak semua ular memiliki organ ini

menyesuaikan dengan lingkungan dimana dia tinggal. l. ular dibedakan menjadi : 1. Berdasarkan tipe giginya. (ular cincin emas). Ular tidak memiliki lubang telinga . Ophiophagus hannah(ular king kobra) Ular ini berbisa tinggi . Contoh : Naja naja sputatrix (ular kobra). Cara mendapatkan makanan a) memburu mangsanya b) menghadang mangsanya c) memancing mangsanya m. Gigi ular berjumlah banyak dan condong ke dalam sehingga ular tidak mengunyah mangsanya melainkan menelan mangsanya. tapi memiliki membran tympani yang dapat mendeteksi getaran. 3. Aglypha : Tidak memiliki taring bisa. Python reticulatus (Ular sanca batik). Pewarnaan tubuh ular sangat beragam.j. k. Ular ini berbisa menengah. Ular ini tidak berbisa 2. Ophistoglypha : Memiliki taring bisa pendek dan terletak agak ke belakang pada rahang atas. Contoh : Boiga dendrophila. Tidak semua warna menyala menandakan tingkat bisa ular. Proteroglypha : Memiliki taring bisa panjang dan terletak di bagian depan. Contoh : Ptyas korros (Ular kayu). Ular yang “menari” mengikuti irama suling sebenarnya bergerak bukan karena suaranya. namun karena mengkuti gerakan sulingnya. Pewarnaan berfungsi sebagai penyamaran ular dalam mencari mangsa dan menghindari musuh.

Ular dapat memangsa mangsanya yang berukuran 10 kali lipat besar kepalanya. . Menelan langsung b.4. n. amphibi. Semua jenis ular adalah binatang Karnivora. sehingga mulut ular dapat menganga 180º dan didukung oleh rahang bawah yang hanya dihubungkan oleh ligamen (otot) yang sangat elastis. Membelit c. karena pada rahang bagian belakang dari mulutnya dihubungkan oleh sendi yang berbentuk segiempat. Menyuntikkan bisa o. Solenoglypha : Memiliki taring bisa sangat panjang di bagian depan dan dapat dilipat. unggas. ikan. Contoh : Agkistrodon rhodhostoma (Ular tanah) Ular ini berbisa tinggi. mamalia kecil sampai mamalia besar. Jenis makanan yang mereka makan antara lain : insekta. Berikut ini beberapa cara ular memangsa : a.

Contoh : Ptyas mucosus (Ular bandotan macan)dan Elaphe flavolineata (Ular Kopi) d) Ular Pohon (Arboreal) Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di pohon (arboreal). . namun ada pula yang di simpan didalam tubuhnya selama 2-3 bulan dan melahirkan (ovovivipar). Ular gurun biasanya menyembunyikan diri di bawah pasir untuk menghindari sengatan matahari. Contoh : Ular laut (Laticauda laticauda). Organ reproduksi pada ular jantan adalah hemipenis yang terletak pada cloaca dan yang betina dengan cloaca. Pada kelenjar bisa terdapat saluran yang menghubungkan ke taring bisa yang memiliki lubang pada ujung bawahnya. b) Ular Setengah Perairan (Semi Aquatik) Ular ini terkadang melakukan aktifitasnya di darat dan di air. Bisa sebenarnya merupakan protein yang di produksi oleh kelenjar bisa yang berada di dalam kepala. rattle r. q. Jenis makanan ini tergantung dari jenis ular dan habitatnya. karena pada musim dingin mereka akan hibernasi (tidur panjang). Khusus pada jenis Naja naja (ular Kobra) lubang saluran bisanya berada di ujung bagian depan gigi taring. Biasanya ular pohon ekornya prehensil (dapat untuk berpegangan / bergelantungan) Contoh : Boiga dendrophila (cincin emas) dan Dryophis prasinus (Ular pucuk) e) Ular Gurun Ular jenis ini melakukan seluruh aktifitasnya di gurun. Ular luar negeri biasanya kawin pada bulan-bulan yang bersuhu hangat. p. yaitu : a) Ular Air (Aquatik) Ular air adalah ular yang seluruh hidupnya (melakukan segala aktifitasnya) di dalam air. dan melakukan seluruh aktifitasnya di darat. Contohnya : Homalopsis buccata (ular Kadut) c) Ular Darat (Terresterial) Ular ini hidup di darat. Ular air yang sesungguhnya hanyalah ular laut. ular dapat dibagi menjadi 5. Menurut habitatnya. ular derik. Ular ada yang bertelur (ovipar) dan mengerami telurnya yang diletakkan diantara tumpukan daun daun kering selama 2-3 bulan dan menetas. Contoh : Crotalus artox.bahkan ada beberapa jenis ular yang memakan ular juga (kanibal). sehingga ular-ular jenis ini dapat menyemburkan/menyemprotkan bisanya.

ketakutan dan rasa panik yang sangat besar karena bertemu dengan ular. Haemotoxin a) Menyerang darah dan sistem sirkulasinya b) Terjadi haemolysis c) Transport O2 ke tubuh terganggu. Bahasa Psikis Bahaya psikis disebabkan oleh karena factor paradigm/ pandanga/ anggapan Mitos yang telah tertanam negatif tentang ular di benak masyarakat kita. Bahaya psikis ini dapat berakibat fatal karena bisa saja manusia melakukan hal – hal diluar dugaan dan perhitungan saat ertemu dengan ular.Kelenjar bisa ini sama dengan kelenjar ludah pada manusia. otot. . Bisa pada ular berfungsi selain sebagai senjata untuk membunuh musuhnya.. terutama metabolisme sel Organ organ lain yang akan terganggu sistem kerjanya oleh bisa ular antara lain: jantung. Jenis Bisa dibagi berdasarkan lokasi organ tubuh yang menjadi sasaran racun ular : a. Neurotoxin a) Menyerang dan mematikan jaringan syaraf b) Terjadi kelumpuhan pada alat pernafasan c) Kerusakan pada pusat otak d) Efek gigitan yang langsung terasa adalah korban merasa ngantuk b. Bahaya Ular 1. s. juga membantu sistem pencernaan. sel-sel darah dan jaringan-jaringan yang lain. B. ginjal. Efek bahaya ini semakin berresiko ditambah pula akibat keterkejutan.

Berdasarkan tingkatan bisanya dan efek gigitan terhadap manusia. akan mempercepat proses dalam usaha menghilangkan bahaya psikis ular pada manusia. hambat laju racun ke jantung serta harus secepat mungkin mendapatkan pertolongan pertama yang tepat dan benar. prinsipnya adalah segera keluarkan bisa keluar dari tubuh. yaitu : a. Caranya dengan berusaha untuk lebih banyak mengenal ular dan mengetahui karakter berbagai jenis ular. 2. semburan dan belitan. Berbisa Tinggi Ular ini memiliki tipe gigi Proteroglypha dan Solenoglypha. b. tidak ada penanganan khusus. Berbisa Menengah Kebanyakan ular kelompok ini memiliki tipe gigi Ophistoglypha. Beberapa hal tentang bahaya biologis akan dijabarkan sebagai berikut. biasanya akan meninggalkan cacat atau bekas pada gigitan. korban hanya perlu diberi suplai makanan dan minuman bergizi. Penanganannya. Tidak berbahaya dan jumlah serta jenis nya sangat banyak. kecuali semua jenis ular laut yang berbisa tinggi dan sangat mematikan. c. Hanya perlu obat antiseptik. Labih baik lagi jika lebih banyak tahu teknik penanganan ular untuk maksud yang positif. berpikiran positif. Jika tertolong. Bahaya Biologis Berupa bahaya fisik yaitu gigitan.Bahaya psikis dapat diobati. membaca buku. Jika tergigit ular jenis ini hanya akan luka. Jika manusia tergigit kelompok ini. demam. . Melihat TV. istirahat untuk meningkatkan stamina tubuh. Bila tidak tertolong dan salah penanganan akan berakibat cukup fatal yaitu kematian. Jumlah dan jenis ular berbisa tinggi lebih sedikit dibanding kelompok yang lain. Bahaya ini muncul karena manusia cenderung mengganggu si ular atau kebetulan berada di lokasi dimana si ular sedang mengerami telurnya atau terinjak. Efek bisanya pada manusia adalah pendarahan. SIOUX membagi ular menjadi tiga kelompok. dan telah memiliki kelenjar bisa. perubahan suhu tubuh yang drastis dan cenderung menyebabkan rasa sakit serta pembengkakan di sekitar luka gigitan. Tidak Berbisa Ular ini memiliki tipe gigi Aglypha (tidak bertaring) dan tidak memiliki kelenjar bisa.

agresif. sehingga perlu pengamatan dan penelitian lebih lanjut.Bungarus fasciatus 3. Pengecualian Berikut ini yang tidak sesuai dengan ketentuan berbisa tinggi. Ular welang . gerakan tenang 1. Semua jenis ular laut . Ular weling . tetapi kepalanya oval (bulat telur). malam : 1. Ular berbisa tinggi 1) Gerakannya lambat. tenang. a.3. Ular Kobra Naja naja sputratix berbisa tinggi. Ular King Kobra . Perbedaan Ular Berbisa Tinggi Dan Rendah Jika kita mengamati dengan teliti. masih tinggal ditempat c.Bungarus candidus 2. agresif 2) Beraktifitas pada siang hari (diurnal) 3) Membunuh mangsanya dengan membelit 4) Bentuk kepalanya bulat telur (oval) 5) Tidak memiliki taring bisa 6) Gigitannya tidak mematikan 7) Setelah menggigit langsung lari b. Ular berbisa rendah 1) Gerakannya cepat. takut pada musuh. tetapi kepala oval. Ular picung/pudak seruni 4.Ophiophagus hannah 2. keluar siang. ada beberapa hal yang dapat membedakan ular yang berbisa tinggi dan berbisa rendah. racun mematikan 6) Kanibal 7) Setelah menggigit. Namun beberapa ciri berikut masih belum secara tepat menunjukkan tingkatan bisa ular. penuh percaya diri 2) Beraktifitas pada malam hari (nocturnal) 3) Membunuh mangsanya dengan menyuntikkan bisa 4) Bentuk kepalanya cenderung segitiga sempurna 5) Memiliki taring bisa.

: Copperhead Racer. siang hari d. lading c. Tubuh bagian depan belakang berwarna kuning iii.I. Striped Racer. Ciri-ciri : .tidak berbisa. lalu membuka mulutnya untuk menyerang b. : Common Racer. Terdapat garis hitam dari mata dan melintang pada bagian belakang kepala v. Ular Tidak Berbisa A. Ular Trawang.Xenopeltis unicolor C. Ular Lanang Sapi (Jawa). Tipe gigi : Aglypha e.I. 1837 N. a. Jenis Ular Indonesia 1. gerakan lamban 1. Populasi : Sumatera. a. Tubuh bagian dorsal berwarna kekuningan. Panjangnya ± 2000 mm vi. 1837 N. keluar malam hari. Elaphe radiata Species : Elaphe radiata Schlegel. Makanan : Burung dan Tikus f. Ular Pelangi . Tubuh bagian ventral berwarna kuning iv. dengan empat garis longitudinal berwaran hitam pada bagian tubuh depan ii. Ular Kopi (Jawa). Ular puspo brele (Jawa). Ciri-ciri : i. Elaphe flavolineata Species : Elaphe flavolineata Schlegel. Habitat : Darat. Ular Tikus. Jawa. Aktivitas : Diurnal. Kalimantan B. Pada saat marah atau merasa terancam akan melipat bagian depan tubuhnya yang memipih seperti huruf S. Semua jenis ular phyton dan ular boa 2.

Kalimantan. Penang C. Habitat : Darat -lading c. Pada  yang muda terdapat garis-garis putuh pada bagian tubuh atas (dorsal). iv. katak dan burung h. ular koros. Sulawesi. Tubuh  bagian bawah (ventral) berwarna kuning. Makanan : Kadal.I. Aktivitas : Diurnal . ii. Ciri-ciri : Tubuh  bagian atas (dorsal) berwarna coklat atau coklat kehijauan Sisik  tubuh bagian belakang kuning dengan garis hitam disekeliling tiap sisiknya. Kalimantan . vi. lalu membuka mulutnya untuk menyerang b. ular sayur a. Tipe gigi : Aghlypa e. Ular kayu (Jawa). Aktivitas : Diurnal f. Jawa. Ptyas korros Species : Ptyas korros Schlegel. Tubuh bagian dorsal berwarna coklat atau keabu-abuan dengan tanda hitam persegi panjang yang belang dengan putih bagian depan Terdapat garis hitam longitudinal pada bagian vertebral (tulang belakang) Tubuh bagian belakang berwarna coklat gelap atau hitam Tubuh bagian ventral berwarna kuning. Populasi : Sumatera. 1837 N. Habitatnya : Semak-semak. kadang berjemur di atas pohon c. kodok. Makanan : Tikus. katak dan burung e. Mata  bulat.i. coklat atau kehitaman panjangnya ± 2400 mm Pada saat marah atau merasa terancam akan melipat bagian depan tubuhnya yang memipih seperti huruf S. iii. v. besar dan hitam.siang hari d. Jawa. Panjangnya  300 mm – 1700 mm b. Populasi : Sumatera. : Indian Rat snake.

Populasi : Sumatera. Jawa. kodok. Ptyas mucosus Species : Ptyas mucosus N.I. Ciri-ciri: Tubuh  bagian dorsal berwarna coklat kekuningan atau kehijauan (olive) Terdapat  garis-garis vertical hitam pada begian kepala (bibir) dan belakan Tubuh  bagian ventral berwarna putih Mata  bulat. China Selatan. besar. : Common House Snake. Lycodon aulicus Species : Lycodon aulicus Linne. ular dumung macan (Jawa) a.I. ular rumah a.D. Wolf Snake. Singapore.hitam Pada  yang muda terdapat garis-garis terang pada bagian depan Panjang  ± 50 mm – 2500 mm b. Habitat : Darat (semak-semak). Ciri-ciri : Tubuh  berwarna abu abu degan banyak titik – tiktik putih diseluruh tubuh . Sowo Emprit (Jawa). Siam. persawahan/lading c. Aktivitas : Diurnal d. : Banded Rat Snake. E. Makanan : Tikus. Bandotan Macan. 1754 N. Malaysia. Tipe gigi : Aghlypa e.Burma. katak dan burung f.

katak f. Makanan : Cicak f. Sunbeam Snake. Penang. Sulawesi. Populasi : Hampir ada di seluruh kepulauan F. malam hari d. malam hari d. : Iridescent Earth Snake.I. Ular Pelangi. Sumatera. Habitat : Darat. Kalimantan. Tipe gigi : Aglypha e. peliang (di dalam tanah) c. Jawa. Populasi : Nias. Ular wlingi (jawa) a. Ciri-ciri : Tubuh  bagian dorsal berwarna coklat atau kehitaman jika tubuhnya terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi Tubuh  bagian ventral berwarna putih Kepalanya  pipih Mata  bulat besar Panjangnya  ± 700 mm – 1000 mm b. Makanan : Ular. . Habitat : Darat. Aktivitas : Noctural. 1827 N. Aktivitas : Noctural. Xenopeltis unicolor Species : Xenopeltis unicolor Reimwald. Tipe gigi : Aglypha e. suka menempel di dinding rumah c.Tubuh  bagian ventral berwarna putih Kepalanya  oval dengan leher bergaris putih Mata  bulat besar Panjangnya  ± 500 mm – 750mm b. cacing.

Ada juga yang berwarna hitam putih. untuk yang perak dari leher hingga ujung ekor berwarna perak abu – abu Ekor  berwarna abu . Ular Berbisa sedang A. Gonyosoma oxycephala Species : Gonyosoma oxycephala Boie. a. tikus. : Mangrove Snake. Habitat : Pepohonan. Gadung Luwuk/Gadung Perak. telur e. panjangnya ± 2500 mm b. burung.F.I. Populasi : Sumatera.I. Ciri-ciri : Tubuh  berwarna hijau dari kepala batas ekor. Aktivitas : Diurnal. Dak Awu. Boiga dendrophila Species : Boiga dendrophila Boie. Jawa. siang hari d. Ular Cincin Emas.abu Kepala  oval Mata  horizontal. Ciri-ciri : Tubuh  bagian dorsal berwarna hitam dengan garis-garis kuning atau putih disisi lateral dengan jarak satu garis dengan yang lain agak teratur. : Red-tailed Racer. Makanan : Katak. Ular Taliwongso a. Kalimantan 2. arboreal c. . 1827 N.1827 N.

Kalimantan. Dryophis prasinus Species : Dryophis prasinus Boie. a. Malaysia.Tubuh  bagian ventral berwarna hitam atau kebiru-biruan Labial  bawah berwarna kuning dengan garis-garis hitam kecil Mata  bulat dengan pupil mata elips vertikal Panjangnya  ± 2500 mm b. Siam.I. Jawa. tikus f. Kalimantan. Penang. Makanan : Burung. Populasi : Sumatera. Ciri-ciri : Tubuh  bagian dorsal berwarna hijau. Aktivitas : Noctural. . malam hari d. Makanan : Kadal. : Green Whip Snake. Philippine. Sulawesi. hutan bakau c. siang hari d. Oriental Whip Snake.1827 N. Gadung Pari (Jawa). katak e. Jawa. Sulawesi. Habitat : Pepohonan. panjangnya ± 2000 mm b. Penang. arboreal c. telur. Singapore. Habitat : Pohon. Aktivitas : Diurnal. Ular Pucuk (Jawa Barat). bagian leher mengembang akan terlihat warna hitam putih dan biru Tubuh  bagian lateral terdapat garis kuning atau putih Tubuh  bagian ventral berwarna hijau Kepala  panjang dengan dengan moncong meruncing Mata  horizontal. Tipe gigi : Ophiestoglypha e. Populasi : Sumatera. hijau kecoklatan atau keabuabuan-coklat Saat  ketakutan atau marah. Ular Daun. Nias B.

Habitat : setengah perairan. sungai. Kalimantan . Ular Kadut a.C. Elephant Snake. Aktivitas : Noctural d.I. jika menggigit. giginya cenderung tertinggal e. Populasi : Sumatera. Makanan : Ikan f. : Puff-faced Water Snake. Corak belang dengan bentuk yang tak beraturan Tubuh  bagian lateral terdapat bintik-bintik putih Tubuh  bagian ventral berwarna putih atau kuning dengan titik-titik hitam Terdapat  garis hitam mata dan tanda hitam berbentuk V pada moncongnya Terdapat  tiga bintik hitam pada kepalanya Panjangnya  ± 1000 mm Jika  marah memipihkan tubuhnya b. kelabu kehijauan atau kelabu tua gelap sampai hitam. 1766 N. kolam c. Homalopsis bucatta Species : Homalopsis buccata Linne. Tipe gigi : Ophistoglypha. Jawa. Ular Buhu (Jawa). Ciri-ciri : Tubuh  bagian dorsal berwarna coklat kemerahan.

Sumatra. Kalimantan f. Makanan : ular e.3. dengan sisik yang besar Pada  leher bawah berwarna kuning dan kadang ada gambar matanya (tergantung habitat) Panjangnya  hingga mancapai 6000 mm Jika  marah akan menegakkan tubuhnya hingga 1/3 panjang tubuhnya mengembangkan lehernya. : King Cobra. Ciri-ciri : Badan  coklat dengan corak gambar seperti diamond. berani pada musuh. Jenis racun : Neurotoxin dan haemotoxin. 1827 N. Ular Tedung. Ciri-ciri : Hitam  pekat atau abu – abu.I. Bali. Ular anang (Java). Agkistrodon rhodostoma Species : Agkistrodon rhodostoma Boie. Ular tedong selor (Kalimantan) a. b. Populasi : Nias. dan coklat dengan garis – garis melintang ditubuhnya. Hamadryad. Ular Tanah. Ophiophagus Hannah Species : Ophiophagus Hannah Cantor. Gerakannya  sangat agresif. Habitat : didarat khususnya daerah berkapur. Aktivitas : siang dan malam hari d. Java. Oraj totok (Java). putih. Gerakannya  agresif .I. 1836 N. Bandotan Bedor (Jawa). membunuh manusia sekitar 3 menit B. kering c. membesar diperut dan mengecil ke ekor serta leher. : Malayan Pit Viper. Ular Berbisa Tinggi A. tergantung habitat. mengejar Kepala  oval. Ular Gibuk (Jabar) a. Bangka. Malaysian Moccasin. Riau Islands. Belitung.

Vietnam dan Jawa D. rumput c. Gerakannya  agresif Kepala  segitiga. Ular biludah (Padang) a. dengan sisik yang besar Panjangnya  hingga mancapai 1000 mm Jika  marah akan membentuk k huruf S b.Kepala  segitiga. Vipera russelii Species : Vipera russelii siamensis N. Populasi : Myanmar. Makanan : Tikus e.I. Bungarus candidus Species : Bungarus candidus Linne. Sumatra C. Ciri-ciri : Warna  belang putih hitam – putih hitam dengan ukuran yang tidak seragam Ekor  runcing. membesar diperut dan mengecil ke ekor serta leher. Aktivitas : siang dan malam hari d. Oraj weling (Java). : Malayan Krait. rumput c. badan cenderung berpenampang bulat Gerakannya  lambat. a. Habitat : didarat khususnya bersemak.I. Ciri-ciri : Badan  coklat dengan corak gambar membentuk oval tak beraturan. Aktivitas : siang dan malam hari d. : Bandotan Puspo (Jawa). tenang . Cambodia. Thailand. Ular Weling (Jawa). Populasi : Jawa. dengan sisik yang besar Panjangnya  hingga mancapai 1000 mm Jika  marah akan membentuk huruf S dan menyerang dengan gigitan b. Makanan : Tikus e. 1758 N. Habitat : didarat khususnya bersemak.

I. Bali and N Sulawesi. Ekor  tumpul. Populasi : Vietnam. f. Ciri-ciri : Warna  belang putih hitam – putih hitam dengan ukuran yang seragam dan melingkar penuh. Aktivitas : malam hari d. Habitat : setengah perairan. Kalimantan? f. Thailand. Habitat : setengah perairan. Singapore. Makanan : ular. sawah. Bungarus fasciatus Species : Bungarus fasciatus Scheider. Ular Belang. Jenis racun : Neurotoxin E. Java. daerah berair c. Sumatra. Jawa. 1803 N. Bawean. Peninsular Malaysia. sungai. daerah berair c. sungai.Kepala  oval Bagian  bawah berwarna putih polos Panjangnya  hingga 2500 mm Sensitive  pada cahaya dan berusaha mendekati Tubuh  jika terkena sinar akan menyala b. Cambodia. sawah. belut e. Ular Welang (Jawa). Makanan : ular. Karimunjawa Islands. Kalimantan. : Banded Krait. Oraj welang (Java) a. badan cenderung berpenampang segitiga Gerakannya  lambat. Aktivitas : malam hari d. belut e. Populasi : Sumatra. Jenis racun : Neurotoxin . tenang Kepala  oval Panjangnya  hingga 2500 mm Sensitive  pada cahaya dan berusaha mendekati Tubuh  jika terkena sinar akan menyala Jika  marah akan melakukan gerakan patah – patah dan menyembunyikan kepala b.

F.I. Ciri-ciri : Warna  hitam/putih/coklat/merah tergantung asal habitatnya Tubuh  bulat dengan kepala oval Gerakannya  gesit dan cepat tidak takut pada musuh. Bali. Ular sendok. merah menyala dan hijau Badan  berbintik putih . Ular Sendok. sawah.I. Satu  – satunya jenis ular yang bisa menyemburkan bisa nya hingga 3 m. Puput (Maumere. Flores). Flores) a. 1836 N. Flores. : Red-necked Keelback. Ular Dumung. Alor and Lomblen. Populasi : Java. Aktivitas : siang dan malam hari d. Ular Kobra. Ular Pudak Seruni (Jakarta) a. Ular Picung (Jawa Barat). daerah rimbun lembab dan banyak lubang ditanah. Jenis racun : Neurotoxin dan haemotoxin G. : Black Spitting Cobra. Rinca. Ular cabe. Sumbawa. Oraj bedul (Java). Panjangnya  hingga 2500 mm Jika  marah akan mengembangkan lehernya dan berdiri hingga kira – kira ¼ panjang tubuhnya. b. Habitat : daratan. Naja naja sputatrix Species : Naja naja Sub Species : Naja naja sputatrix Cantor. Rhabdophis subminiatus Species : Rhabdophis subminiatus N. Pudak Bromo (Jawa). Makanan : tikus dan katak e. Pupurupi (Ende. Ciri-ciri : Tubuh  berwarna dominant coklat dari kepala hingga ekor Leher  berwarna jingga. Komodo. Sulawesi? f. c. Lombok.

Ciri-ciri : Tubuh  berwarna hijau dari kepala hingga ujung badan kepala  segitiga penuh. Bangka. Makanan : Tikus. Makanan : Cicak. bunglon. bersisik keras Bagian  punggung ekor berwarna merah. burung. Aktivitas : Diurnal. Ular gadung. Bali and Sulawesi . : Truno Bamban (Jawa). Tipe gigi : solenoglypha e. diameter 10 mm b. Jika  marah membentuk spiral atau letter S untuk siap menyerang b.Bagian  bawah berwarna putih Ekor  seperti terpacung atau perpotong Ukuran  maksimal sepanjang 750 mm. Populasi : Semua pulau di Indonesia H. Aktivitas : noctural d.I. Habitat : pohon. Distribusi : Sumatra. di daerah dengan ketinggian hingga 3000 dpl c. Madura. Oraj bungka (Java) a. Java. Habitat : Darat c. kadal. siag hari d. dan katak f. Ular hijau. telur f. katak. Tipe gigi : Ophistoglypha e. Trimeresurus albolabris Species : Trimeresurus albolabris N.

hipotensi. serotonin dan histamin adalah sebagian hasil reaksi yang terjadi akibat bisa ular. Infark serebri sering terjadi karena gigitan ular dari family Crotalidae/ Viperidae. sehingga menyebabkan kerusakan membran plasma. E. Amino acid esterase menyebabkan terjadi DIC. dan mempunyai dampak seperti kurare yang memblok neurotransmiter pada neuromuscular junction. efek letal dan komposisinya bervariasi tergantung dari spesies dan usia ular. .D. derajat 3 (severe) = gejala berkembang ke daerah regional. pada tahun 1992 melaporkan bahwa gejala klinis timbul mulai 15 menit sampai 6 jam (dengan median 1 jam) setelah gigitan. Komponen peptida bisa ular dapat berikatan dengan reseptor-reseptor yang ada pada tubuh korban. Jumlah bisa. terjadi dalam waktu 7 jam sampai 1 minggu setelah gigitan. Pada kasus yang berat bisa ular dapat menyebabkan kerusakan permanen. Bradikinin. enzim dan protein. Phospholipase A menyebabkan terjadi hidrolisis dari membran sel darah merah. derajat 4 (major) = gejala sistemik. Bisa ular dari famili Crotalidae/Viperidae bersifat sitolitik yang menyebabkan nekrosis jaringan. Bisa ular dari famili Elapidae dan Hydrophidae terutama bersifat sangat neurotoksik. derajat 2 (moderate) = gejala lokal. Pada umumnya gejala yang ditimbulkan oleh bisa ular terjadi dalam 2-6 jam setelah gigitan. Aliran dari bisa ular di dalam tubuh. Patofisiologi Gigitan Ular Bisa ular terdiri dari campuran beberapa polipeptida. Enzim yang terdapat pada bisa ular misalnya Larginine esterase menyebabkan pelepasan bradikinin sehingga menimbulkan rasa nyeri. yaitu derajat 1 (minor) = tidak ada gejala. Secara mikroskop electron dapat terlihat bahwa bisa ular merupakan protein yang dapat menimbulkan kerusakan pada sel-sel endotel dinding pembuluh darah. kebocoran vaskular dan terjadi koagulopati. tergantung dari dalamnya taring ular tersebut masuk ke dalam jaringan tubuh. gangguan fungsi bahkan dapat terjadi amputasi pada ekstremitas. Klasifikasi Derajat Gigitan Ular Derajat berat kasus gigitan ular berbisa umumnya dibagi dalam 4 skala. Hyaluronidase dapat menyebabkan kerusakan dari jaringan ikat. Komponen dari bisa ular jenis ini mempunyai dampak hampir pada semua sistem organ. Enzim protease akan menimbulkan berbagai variasi nekrosis jaringan. mual dan muntah serta seringkali menimbulkan keluarnya keringat yang banyak setelah terjadi gigitan. Lalloo DG dkk. Bisa ular bersifat stabil dan resisten terhadap perubahan temperatur.

29 (76%) mengalami koagulopati. edem generalisata atau aritmia jantung. dengan 20 (53%) terdapat beberapa kelainan komponen koagulopati (misalnya hipofibrinogenemia dan trombositopenia). Bisa yang bersifat neurotoksik. Namun demikian tidak adanya gejala lokal atau minimal. kelemahan otot. gatal sekitar wajah dan kejang. mempunyai dapat sangat cepat dalam beberapa jam. tidak berarti gejala yang lebih serius tidak akan terjadi. selanjutnya terjadi edem dan ekimosis. bisa akan menjalar ke proksimal. mulai dari perasaan mengantuk sampai kelumpuhan . Pada kasus berat dapat timbul bula dan jaringan nekrotik. muntah.F. tetapi perdarahan sering terjadi. Boyer LV dkk. serta gejala sistemik berupa mual. Pasien jarang mengalami syok. Gejala yang serius lebih jarang terjadi dan biasanya gejala berkembang dalam 12 jam. Manifestasi klinis Gigitan oleh Viperidae/ Crotalidae seringkali menimbulkan gejala pada tempat gigitan berupa nyeri dan bengkak yang dapat terjadi dalam beberapa menit. Gigitan akibat Elapidae biasanya tidak menimbulkan nyeri hebat. melaporkan bahwa dari 38 korban gigitan ular Viperidae.

Diagnosis Diagnosis definitif gigitan ular berbisa ditegakkan berdasarkan identifikasi ular yang menggigit dan adanya manifestasi klinis.nervus kranialis.000/mL). Hemoglobinuria dan mioglobinuria umumnya dapat dideteksi dan dapat terjadi leukosituria (56. calsium. 3% terjadi trombositopenia (< 75. klorida. Hasil EKG yang abnormal termasuk tanda-tanda utama gejala gigitan ular berbisa. tetapi tidak berhubungan dengan derajat beratnya penyakit di lokasi gigitan. Bila tidak dapat mengidentifikasi ular yang menggigit. serta penurunan jumlah fibrinogen. kalium. serta glukosa darah masih dalam batas normal pada semua pasien. Pada pemeriksaan urinalisis dapat terjadi proteinuria (83%). Pada pemeriksaan EKG. koagulopati dengan PT dan PTT memanjang. pada tahun 1995 mendapatkan kadar Hb dan leukosit normal pada semua pasien. Mioglobin plasma dan kadar kreatinin mempunyai korelasi yang kuat. limfopenia. . Perubahan EEG segera terjadi setelah gigitan dan akan kembali normal dalam 1-2 minggu. Pemeriksaan laboratorium biasanya menunjukkan peningkatan jumlah neutrofil. G. koagulopati dan paralisis. baik sebagian atau seluruh tubuh ular. kelemahan otot dan kematian karena gagal napas.4%). Kadar kreatinin kinase serum normal pada hari pertama dan kedua setelah perawatan. dari pemeriksaan fisik pada luka gigitan yang ditinggalkan. Kadar ureum darah meningkat pada pasien dengan gejala gagal ginjal. serta hematuria mikroskopik (50. adanya manifestasi neurologis atau keadaan gagal ginjal. Ular yang menggigit sebaiknya dibawa dalam keadaan hidup atau mati. Perlu juga dibedakan apakah gigitan berasal dari ular yang tidak berbisa atau binatang lain. Penelitian Ramachandram S dkk. Hasil EEG abnormal ditemukan pada 96% dan berhubungan dengan ukuran ular. selain perdarahan. manifetasi klinis menjadi hal yang utama dalam menegakkan diagnosis.9%). umumnya terjadi kelainan seperti bradikardia dan inversi septal gelombang T. Natrium.

Metode penggunaan torniket (diikat dengan keras sehingga menghambat peredaran darah). 3. 2. . 4. Pertolongan pertama. pemberian antihistamin dan kortikosteroid harus dihindari karena tidak terbukti manfaatnya. Korban harus segera dibawa ke rumah sakit secepatnya. Imobilisasi bagian tubuh menggunakan perban. Hindari pergerakan atau kontraksi otot untuk mencegah peningkatan penyerapan bisa. pengisapan tempat gigitan. pertimbangkan pressure-immobilisation pada gigitan Elapidae. Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa. Terapi yang dianjurkan meliputi: a. Metode pertolongan yang dilakukan adalah menenangkan korban yang cemas. hindari gangguan terhadap luka gigitan karena dapat meningkatkan penyerapan bisa dan menimbulkan pendarahan lokal. Penatalaksanaan Keracunan Akibat Gigitan Ular Langkah-langkah yang harus diikuti pada penatalaksanaan gigitan ular adalah: 1. mempertahankan hidup korban dan menghindari komplikasi sebelum mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang membahayakan. Hal ini dapat dilakukan oleh korban sendiri atau orang lain yang ada di tempat kejadian. imobilisasi (membuat tidak bergerak) bagian tubuh yang tergigit dengan cara mengikat atau menyangga dengan kayu agar tidak terjadi kontraksi otot. harus dilaksanakan secepatnya setelah terjadi gigitan ular sebelum korban dibawa ke rumah sakit. insisi (pengirisan dengan alat tajam). dengan cara yang aman dan senyaman mungkin. Pengobatan gigitan ular Pada umumnya terjadi salah pengertian mengenai pengelolaan gigitan ular.H. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis. Bersihkan bagian yang terluka dengan cairan faal atau air steril. pendinginan daerah yang digigit. karena pergerakan atau kontraksi otot dapat meningkatkan penyerapan bisa ke dalam aliran darah dan getah bening.

Pasien diberikan suntikan toksoid tetanus dan dipertimbangkan pemberian serum anti bisa ular. Bungkus rapat dengan perban seperti membungkus kaki yang terkilir. penatalaksanaan sirkulasi. elektrolit. Pengukuran pada tempat gigitan perlu dinilai untuk mengetahui progresivitasnya. c. serta kerusakan ginjal dan komplikasi nekrosis lokal. disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan keadaan hiperemia). fibrinogen. hiperkalaemia akibat rusaknya otot rangka. meskipun pemberian kortikosteroid masih diperdebatkan. Untuk efek lokal dianjurkan imobilisasi menggunakan perban katun elastis dengan lebar + 10 cm. mulai dari ujung jari kaki sampai bagian yang terdekat dengan gigitan. Segera dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti darah perifer lengkap.b. yang dibalutkan kuat di sekeliling bagian tubuh yang tergigit. Penggunaan torniket tidak dianjurkan karena dapat mengganggu aliran darah dan pelepasan torniket dapat menyebabkan efek sistemik yang lebih berat. Kadang perlu dilakukan eksisi dan penghisapan bisa pada saat luka dibersihkan. kondisi yang tiba-tiba memburuk akibat terlepasnya penekanan perban. shock perdarahan. perlu diberikan antibiotic spectrum luas dan kortikosteroid. Pemberian tindakan pendukung berupa stabilisasi yang meliputi penatalaksanaan jalan nafas. Di rumah sakit diagnosis harus ditegakkan dan segera pasien dipasang dua jalur intravena untuk memasukkan cairan infus dan jalur yang lain disiapkan untuk keadaan darurat. Saat ini masih diperdebatkan tentang tindakan operasi (fasciotomy) pada pasien gigitan ular berbisa. tetapi ikatan jangan terlalu kencang agar aliran darah tidak terganggu. kelumpuhan saraf pernafasan. . PT. penatalaksanaan fungsi pernafasan. Pada semua kasus gigitan ular. APTT. penatalaksanaan resusitasi perlu dilaksanakan bila kondisi klinis korban berupa hipotensi berat dan shock. panjang 45 m. Fasciotomy dilakukan bila ada edem yang makin luas dan terjadi compartment syndrome (keadaan iskemik berat pada tungkai yang mengalami revaskularisasi dan menimbulkan edem. urinalisis dan kadar ureum serta kreatinin darah.

Jumlah penggunaan anti bisa ular tergantung derajat beratnya kasus. ruam yang difus. Pemberian antibiotik masih kontroversi. volume cairan dapat disesuaikan. Kasus dengan derajat none tidak diberikan anti bisa. Serum Fab ini ternyata lima kali lebih poten dan efektif sebagai anti bisa dan jarang terdapat komplikasi akibat pemberiannya.5-30%. namun efek samping yang serius jarang terjadi. Produk hewan ini bila terpapar pada pasien dalam jumlah besar dapat menyebabkan reaksi hipersensitifitas tipe cepat dan tipe III. Penggunaan adrenalin. bahkan dapat terjadi kematian karena hipotensi dan bronkospasme. Reaksi akut berupa reaksi anafilaktik dapat terjadi pada 20-25% pasien. Reaksi yang paling sering terjadi adalah urtikaria. . karena dapat terjadi infeksi pada tempat gigitan. artralgia. steroid dan antihistamin dapat mengurangi reaksi yang terjadi akibat anti bisa antara 12. berupa imunoglobulin yang mengikat secara langsung dan menetralkan protein dari bisa. Profilaksis yang hanya menggunakan promethazine tidak dapat mencegah reaksi yang cepat. Pada tahun 2000 bulan Desember terdapat produk baru yaitu Crotalinae Polyvalent Immune Fab (ovine) antivenon yang berasal dari serum domba. Anak-anak lebih sering memerlukan jumlah data anti bisa yang banyak oleh karena kecilnya rasio antara volume tubuh dan bisa ular yang terdistribusi. Reaksi tipe lambat dapat terjadi pada 50-75% pasien dengan gejala serum sickness seperti demam.Di Amerika hanya terdapat 3 anti bisa yang diproduksi dan disetujui oleh FDA. namun Blaylock tahun 1999 dari penelitiannya mendapatkan 18 diantara 20 pasien mempunyai biakan darah positif bakteria gram negatif aerob. Untuk pasien yang masih sangat kecil (berat badan kurang dari 10 kg). Semua anti bisa ular adalah derivat serum binatang.9% dan pemberiannya lebih dari satu jam melalui intravena. hematuria dan dapat bertahan dalam beberapa hari. antivenon untuk coral snake(Elapidae) dan antivenon untuk black widow spider. yaitu antivenim polyvalen crotalidae. Antibiotik diberikan secara rutin. tersering berasal dari serum kuda. Pemberian anti bisa ular harus dilakukan di rumah sakit yang tersedia alat-alat resusitasi. untuk kasus dengan derajat minimal diberikan 1-5 vial sedangkan moderate dan severe lebih dari 15 vial. Penggunaan serum Fab dianjurkan diencerkan dalam 250 ml NaCl 0. urtikaria.

Jika luka gigitan membentuk huruf U dengan jumlah luka nayak berarti tidak berbisa. Terutama dari bahaya lain seperti gigitan ular itu “lagi”. usahakan untuk menghafalkan ciri – ciri ular itu dan jika perlu. perubahan warna. 7 hari. berarti berbisa tinggi. 3) Imobilisasi pasien dan Lakukan pembalutan elastic di atas luka gigitan untuk menghentikan dan memperlambat laju bisa menuju ke jantung 4) Tenangkan korban. Selanjutnya. jangan banyak melakukan aktifitas/gerakan yang menguras tenaga dan mempercepat detak jantung 5) Kenali ular yang menggigit (langkah vital dan penting) Jika dapat mengenali ular. a) Lepaskan pembalut b) Cuci luka dengan pembersih luka yang ada (revanol) c) Beri antiseptik . Hanya akan menimbulkan luka sobek atau luka lecet dan gatal. Jika luka gigitan terdapat dua titik yang nyata. Jika diri sendiri yang tergigit. sesuaikan tindakan pertolongan sesuai dengan karakter efek bisa nya terhadap manusia. dll. Penanganan gigitan ular berbisa menengah Akan mengakibatkan pembengkakan pada daerah sekitar luka. ambil posisi yan aman. lokasi yang curam. Ingat perbedaan berbisa rendah dan berbisa tinggi dan yang utama. dan jika kondisi tubuh tidak fit. d) Jika perlu. akan terasa demam panas – dingin sekitar 2 s. 6) Lakukan tindakan pertolongan pertama Penanganan gigitan ular tidak berbisa. bunuh ular tersebut untuk di bawa ke bagian medis . a) Lepaskan pembalut elastis b) Cuci luka dengan air dan sabun atau pembersih luka (Revanol) c) Beri obat antiseptik. Jika tidak dapat mengenali jenis ular.Berikut Tindakan pertolongan pertama jika tergigit ular 1) Jangan Panik 2) Amankan posisi penolong dan korban.d. anggap bahwa itu ular yang berbisa tinggi dan mematikan. jauhi ular. tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat kering e) ular tidak perlu dibunuh.

Rasa sakit di seluruh persendian tubuh c. Pusing. Mulut terasa kering d. ular pyhton Mengakibatkan pendarahan terbuka dan luka sobek. mata berkunang .kunang e. menggigil f. Bila tergigit ular yang berbisa tinggi Efeknya berbeda beda sesuai jenis racun yang terkandung di dalam bisa ular. saat melepas gigitan dari korban. Bila tergigit ular jenis raksasa.d) Jika perlu. c) Istirahatkan dan tenangkan korban d) Upayakan untuk evakuasi ke rumah sakit dengan tetap memperhatikan pendarahan agar tidak terbuka lagi. kendorkan 1 menit . diikuti perubahan warna b. Pembengkakan pada luka. Efek lanjutan akan muntah. a) Posisikan bagian luka di atas dari posisi jantung untuk mencegah pendarahan. Perhatikan juga belitan ular. lebih baik dalam posisi berbaring b) Hentikan Pendarahan dengan melakukan prosedur penanganan pendarahan terbuka. Penanganan jika tergigit dengan efek di atas: a) Posisikan bagian yang terluka lebih rendah dari posisi jantung b) Ikat diatas luka sampai berkerut. Demam. lambung dan liver (hati) terasa sakit. Efek gigitan pada umumnya : a. e) Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi f) Beri vitamin tambahan ular ini tidak beracun tetapi akan tetap berbahaya jika korban kehilangan banyak darah. jangan paksakan dengan menarik kepala ular. akibat dari usaha ginjal membersihkan darah. pinggang terasa pegal. tapi mulut harus dibuka. tidak perlu membunuh ular jenis ini. tutup luka dengan kain kassa atau biarkan tetap terbuka agar cepat kering e) Usahakan korban beristirahat sebentar f) Beri makanan atau minuman berkalori dan berprotein tinggi g) Beri vitamin tambahan h) ular tidak perlu dibunuh. Setiap 10 menit.

gigi.. gusi bahkan tertelan hingga lambung dan usus.c) Buat luka baru deagn kedalam sekitar 1 cm dengan pisau. Usahakan mendapatkan antivenom monovalen sesuai karakter bisa ular yang menggigit (haemotoxin atau neurotoxin). e) tidak dianjurkan melakukan proses pengeluaran darah dan racun dengan menyedot melalui mulut. alat suntik (tanpa jarum). Buat luka pada mulai dari bagian atas. melalui lubang luka akibat taring. Saat mengurut. silet (yang disterilkan atau tidak. Karena itu sangat beresiko pada si penolong karena racun dapat mengkontaminasi mulut.. f) Proses itu dilakukan berulang –ulang hingga darah berwarna merah kehitaman dan berbuih keluar semua dan berganti dengan darah berwarna merah segar. irisan luka baru jangan horisontal tetapi vertikal. Bawa ke ahli ular untuk penanganan pengeluaran bisa ular lebih lanjut atau dapat pula dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan suntikan antivenom yang tepat.. tergantung situasi). korban akan terasa sangat kesakitan. g) Evakuai korban. batang muda pohon pisang. teknik menggunakan tali senar. ikatan dapat dikendorkan. Informasikan pada dokter bila korban elergi terhadap obat tertentu. dll. d) Keluarkan darah sebanyak mungkin dengan cara mengurut kearah luka baru. sehingga perlu dilakukan dengan hati – hati tetapi tetap berlanjut. . cutter. Upaya pengeluaran dapat dibantu dengan alat khusus “snake bite”.