USULAN METODA PERHITUNGAN INTERAKTIF STRUKTUR PONDASI DI ATAS TANAH LUNAK DENGAN MENYERTAKAN PENGARUH PENURUNAN KONSOLIDASI JANGKA

PANJANG.

Oleh Yudhi Lastiasih * Indrasurya B. Mochtar ** ABSTRAK Perhitungan pondasi dangkal seperti pondasi pelat penuh ( mat foundation), pondasi sarang laba-laba dan pondasi cakar ayam di atas tanah lunak belum ada yang memasukkan unsur penurunan konsolidasi tanah dasar dalam perhitungan. Umumnya dalam perhitungan yang ada, struktur atas dan bawah dianggap terpisah. Untuk memasukkan konsolidasi jangka panjang, masalahnya adalah gedung kaku menyebabkan penurunan yang relatif merata, padahal untuk penurunan konsolidasi yang merata dibutuhkan reaksi tanah yang tidak merata. Hal ini tidak dapat dipenuhi dalam sistem perhitungan terpisah seperti yang ada selama ini. Pada uraian ini diupayakan suatu metoda perhitungan struktur yang dapat mengalami penurunan secara merata selama konsolidasi tanah berlangsung, tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada strukturnya. Perhitungan dilakukan dengan program khusus dengan asumsi reaksi tanah selalu menghasilkan penurunan yang merata. Dari metode ini diusulkan cara perhitungan interaksi tanah – gedung yang menyebabkan gedung dapat mengalami settlement tanpa rusak. 1. Latar Belakang Gedung berlantai > 2 dibangun di atas tanah yang lunak jarang yang menggunakan pondasi dangkal, umumnya dengan pondasi tiang pancang. Kalau tanah lunak > 15 m , maka penggunaan tiang pancang akan menjadi mahal. Akan tetapi banyak perencanaan tetap enggan menggunakan jenis pondasi langsung yang lebih murah, karena dibanyak kasus telah terjadi banyak masalah kerusakan pada gedungnya akibat penurunan konsolidasi tanah dasar. Jadi meskipun mahal, pondasi tiang pancang tetap menjadi alternatif utama. Pada perencanaan dengan pondasi langsung maupun tiang pancang, umumnya struktur yang direncanakan oleh para perencana dianggap ditumpu secara sempurna baik terjepit maupun tersendi. Anggapan ini menunjukkan bahwa struktur dianggap terpisah dengan pondasi (tanah), meskipun kenyataannya struktur dan pondasi (tanah) merupakan sebuah sistem struktur pondasi yang utuh yang tidak

penurunan merata akibat beban tak merata 3. Gedung harus cukup kaku untuk melawan perbedaan penurunan (differential settlement) sehingga hampir tidak ada differential settlement pada tanah akibat konsolidasi tanah dasar. Bila diharapkan suatu gedung berpondasi dangkal berdiri di a tas tanah lunak tanpa mengalami kerusakan yang berarti. 4. akibat penurunan tanah harus di-inputkan kembali dalam perhitungan gedungnya. Bentuk penurunan δ diatas media elastis . Memenuhi toleransi differential settlement untuk bangunan beton yaitu 0. Jadi ∫ σ .002 s/d 0.terpisah. Selain itu akibat beban struktur akan terjadi deformasi berupa penurunan pada tanah.. .006 s/d 0. Jadi konsolidasi tanah yang diakibatkan oleh berat gedung adalah praktis merata (uniform). gedung tersebut haruslah memenuhi beberapa persyaratan berikut : 1. Gedung tersebut haruslah mengakibatkan reaksi perlawanan tanah yang tidak merata sedemikian rupa sehingga dihasilkan penurunan konsolidasi yang merata seperti pada Gambar 1. dan penurunan ini akan mempengaruhi/mengubah gaya-gaya dalam pada struktur. Jadi.dA = W = berat gedung.003.008. 2. Jumlah reaksi total tanah dasar haruslah sama dengan berat gedung. σ δ1 δ2 δ1 = δ2 Gambar 1. untuk bangunan baja yaitu 0.

Sampai saat ini belum pernah dicoba pendekatan di atas karena antara lain kesulitan dalam mendapatkan konfigurasi tegangan reaksi tanah yang menghasilkan penurunan konsolidasi yang merata. Hal ini karena konfigurasi tegangan yang menyebabkan penurunan konsolidasi yang merata tersebut juga sangat tergantung dari antara lain : tebal lapisan tanah yang memampat. Perhitungan penurunan konsolidasi secara umum melibatkan tiga persamaan utama yaitu : . jenis lapisan dan parameter pemampatannya dan dimensi gedungnya.Dari penelitian tersebut diusulkan suatu metoda interaktif struktur – tanah sedemikian rupa sehingga gedung bertingkat dengan pondasi dangkal dapat dibuat mengalami penurunan yang relative merata sehingga tidak rusak selama terjadinya peristiwa konsolidasi tanah. Kejadian ini disebut sebagai penurunan konsolidasi (consolidation settlement) dari tanah tersebut. Telah dilakukan penelitian lanjutan dengan menggunakan alat bantu program komputer untuk melihat bagaimana sistem struktur gedung yang berpondai dangkal ditinjau terhadap penurunan konsolidasi merata (Lastiasih dan Mochtar. 2. dan kemudian peristiwa ini secara lambat laun disertai dengan pemampatan lapisan tanah yang terbebani.2004). Usulan metoda inilah yang diulas dalam makalah ini. Kondisi tersebut menyebabkan air pori berusaha untuk mengalir keluar. Dasar perhitungan penurunan konsolidasi Bilamana suatu lapisan tanah yang “compressible” dan jenuh air diberi penambahan beban. jumlah lapisan. penambahan beban pada awalnya akan diterima oleh air didalam pori tanah sehingga tekanan air pori akan naik secara mendadak.

Kondisi tanah terkonsolidasi lebih (σ0’ < σc’) Bila σ0’+∆σ < σc’ maka : ' ⎛σ0 + ∆σ Cs × H log⎜ ' ⎜ 1 + e0 ⎝ σ0 Sc = ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Bila σ0’+∆σ > σc’ maka : ' ⎛ σ c' ⎞ Cc × H ⎛σ0 + ∆σ Cs × H ⎟ ⎜ + log⎜ log ' ⎟ ' ⎜ ⎜ 1 + e0 ⎝ σ o ⎠ 1 + e0 ⎝ σc Sc = ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ . . berdasarkan distribusi tegangan yang didapat dari persamaan pertama untuk waktu tak hingga. 2π L2 + z 2 ( ) 5 2 L = x2 + z2 Dimana : P Z X = beban titik = kedalaman dari muka tanah ke titik yang ditinjau = jarak horisontal dari beban titik ke titik yang ditinjau 2.1. Persamaan untuk menghitung distribusi tegangan akibat beban di permukaan tanah pada suatu lokasi tertentu di bawah muka tanah. ∆p z = 3P z3 . Persamaan perhitungan konsolidasi pada tiap lapisan tanah.Kondisi tanah terkonsolidasi normal (σ0’ = σc’) ' ⎛σ0 + ∆σ Cc × H log⎜ ' ⎜ 1 + e0 ⎝ σ0 Sc = ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ .

Dimana : H E0 Cc Cs ∆σ σ0’ σc’ = tebal lapisan lempung = angka pori awal ( initial void ratio) = indeks kompresi ( compression index) = indeks mengembang (swelling index) = besarnya tegangan akibat pembebanan di muka tanah (surcharge) = tegangan overburden efektif ( effective overburden pressure) = tegangan prakonsolidasi efektif ( effective praconsolidation pressure) 3.H dr cv 2 : waktu untuk menyelesaikan konsolidasi : panjang aliran rata-rata yang harus ditempuh oleh air pori selama proses konsolidasi Tv cv : Faktor waktu : koefisien konsolidasi 3. Persamaan untuk perhitungan kecepatan penurunan konsolidasi. t= Dimana : t Hdr Tv . Asumsi dasar yang digunakan dalam usulan metoda perhitungan interaktif struktur pondasi .

Gedung kaku tahan diferential settlement.1. Sebaliknya beban merata menghasilkan penurunan yang tidak merata.dA . W O PB = pusat berat gedung O = pusat bidang kontak pondasi . Supaya penurunan merata dan tidak miring gedung dibuat simetris PB . 3. jadi settlement dianggap merata jadi gedung mengalami penurunan sebagai berikut : Penurunan (settlement) σ f(σ) w = ∫ σ . Diatas media elastis. penurunan yang merata tidaklah dihasilkan oleh beban yang merata. σ δ1 δ2 δ1 = δ2 2.

Bisa dicari reaksi tanah sedemikain rupa dengan distribusi tegangan (σ) sehingga didapatkan w = ∫ σ . Tidak jadi membangun di atas tanah tersebut dengan pondasi dangkal. per. Kombinasi dari Alternatif 1 dan 2 d. apakah tanah tersebut mampu bila di atasnya dibangun gedung dengan 1 atau 2 ataupun 3 tingkat. pegas Fi = S ct S ct t = waktu tertentu misal 20 tahun 6. Apabila ternyata tanah tersebut tidak mampu ditinjau dari daya dukungnya. Dengan memperlebar pondasi dari gedung tersebut c.dA . ada beberapa alternatif yang bisa dipergunakan yaitu : a. Kaku = ∆x spring k spring bervariasi Sehingga reaksi menjadi : Pondasi pegas ekivalen k si = Gaya. .4. Reaksi ini adalah reaksi yang menghasilkan penurunan (settlement) konsolidasi merata untuk jangka waktu tertentu. Terlebih dahulu dicari daya dukung tanah yang di atas tanah tersebut akan dibangun suatu gedung. 5. Dengan memperbaiki tanah tersebut terlebih dahulu b. Bila gedung tahan berdiri diatas pondasi pegas ekivalen berarti gedung tersebut OK.

8. Toleransi untuk beda penurunan yang masih dianggap sama sebesar 0. Terlebih dahulu diasumsikan bahwa beban yang berada di atas titik berat gedung ≈ titik pusat bidang kontak pondasi dengan tanah. pegas-pegas tersebut harus dibuat memiliki konstanta pegas yang tidak sama sehingga dengan penurunan yang merata ( sama). . maka dapat diketahui reaksi yang terjadi pada tanah.7. mulai dicari konfigurasi pembebanan.5 mm 9. maka proses iterasi untuk mencari pembebanan mulai dilakukan. Setelah mendapatkan konfigurasi pembebanan yang dimaksud. Setelah diketahui daya dukung tanah mampu. Penurunan yang disebabkan oleh konsolidasi tanah dasar ini pada tiap lapisan di sembarang titik besarnya berlainan. tetapi bila ditotal dari semua lapisan itu hasilnya sama di sembarang titik. Reaksi tanah yang menghasilkan penurunan konsolidasi tanah yang merata di atas dapat dianggap sama dengan reaksi tanah yang melawan beban pondasi gedung. Iterasi baru berhenti jika penurunan total yang dihasilkan pada sembarang titik besarnya sama. setelah itu dihitung besarnya tegangan yang terjadi pada lapisan dan titik yang ditinjau. Dengan diketahui besarnya tegangan akibat pembebanan pada permukaan tanah maka dapat dihitung besarnya penurunan konsolidasi tiap lapisan . 10. Proses iterasinya dilakukan dengan menambah nilai P (beban di permukaan tanah) yang berada diujung-ujung dan mengurangi nilai P yang berada ditengah-tengahnya. reaksi pegas (= reaksi tanah) tidaklah merata. Bila penurunan ini tidak sama di sembarang titik.1 inchi atau 2. yaitu yang bisa menyebabkan terjadinya penurunan yang merata di sembarang titik. Jadi bila misalnya tanah diasumsikan sebagai media elastis berupa sekumplan pegas. dan dari sinilah didapatkan total penurunan yang terjadi.

k si i =1 n Karena δ1 = δ2 = δ3 =…δn = δ.k si = Fi δi ….dA = W … (2) W = ∑ Fi i =1 n W = ∑ δ i . Setelah diketahui reaksi-reaksi dari gedung . maka didapat W = δ i ∑ k si =δ i =1 n ∑k i =1 n si …(3) Bila dikaitkan dengan umur rencana dari struktur maka δ yang dipakai sebagai acuan bukanlah δtotal yang dihasilkan dari perumusan Sctotal untuk waktu tak terhingga.. Dengan meletakkan gedung pada tanah yang dianggap terdiri dari sekumpulan pegas yang mempunyai konstanta pegas berlainan maka dihasilkan gaya-gaya dalam dari gedung tersebut. 12. atau δ = U % × Sctotal …… (4) dimana U = derajat konsolidasi berdasarkan umur rencana gedung. 11. melainkan δ = U × δ total .(1) Jumlah total reaksi pegas inI harus sama dengan jumlah total berat gedungnya. Kemudian harus dicek terlebih dahulu apakah daya dukung tanah mampu memenuhi atau tidak. Apabila telah memenuhi persyaratan daya dukung tanah maka gedung tersebut akan diuji kekuatannya bila diletakkan pada tanah yang dianggap sebagai media elastis yang terdiri dari sekumpulan pegas yang mempunyai konstanta pegas berlainan. ∫ F .

maka dapat kita ketahui besarnya settlement dan momen yang terjadi pada struktur tersebut. Diharapkan dengan membandingkan kedua metode ini.006 s/d 0.(5) Dengan menggunakan metoda perhitungan interaktif struktur pondasi di atas tanah lunak yang menyertakan pengaruh penurunan konsolidasi jangka panjang dicoba diterapkan pada struktur dengan lebar bangunan 12 m.003 setengah bentang bangunan dan untuk bangunan baja yaitu 0.4 MN/m) untuk konstruksi yang dihujan-anginkan. jarak kolom 3 m dan jumlah tingkat 1 seperti terlihat pada Gambar 2. Apabila penurunannya merata maka sampai umur rencana gedung tersebut tidak akan mengalami retak dan apabila penurunannya tidak merata maka gedung tersebut akan mengalami retak sehingga perlu diubah dimensi dari bagian struktur gedung tersebut hingga mampu menerima reaksi tersebut hingga umur yang direncanakan. Dimana z dapat dicari dari persamaan z = fs × 3 dc × A = 4. Sehingga bisa direncanakan gedung yang memperhatikan settlement yang terjadi.008 13. Kontrol retak yang dilakukan berdasarkan Pedoman ACI yang menentukan bahwa z tidak melampaui 175 kip/inchi (30. Struktur ini dicoba dengan metode yang diusulkan pada penulisan kali ini dan juga dengan metode konvensional.002 s/d 0. .6 MN/m) untuk konstruksi yang terlindung dan z tidak melampaui batas 145 kip/inchi (25.tersebut maka reaksi tersebut diterapkan pada tanah dibawahnya apakah penurunan yang terjadi masih merata atau tidak ataukah terjadi differential settlement yang masih memenuhi batasan differential settlement untuk bangunan beton yaitu 0. Analisa w Cβ h ….

Mtump. Mtump.Elastis adalah metoda yang memasukkan penurunan ( settlement) pada perhitungan strukturnya.0209 2.9515 0. .352 0. Pemodelan struktur (b) Elastis Setelah diadakan perhitungan dengan kedua metoda maka didapatkan hasil sbb : Momen yang terjadi pada balok dapat dilihat pada Tabel 1.5458 Mtump.7093 1.3804 1.1902 0.1975 0.2651 2. balok dan kolom. Tabel 1 No 1 2 3 4 5 6 Konvensional Mtump.ki Mlap.0637 0.3164 0.3826 1.044 2.3808 0.0681 2.3152 6.9665 0.ka 0.6247 1.1656 1.5074 0.1441 0.ka 5.926 1.1844 1.4409 1.1899 2. Dengan melihat bahwa momen yang sesungguhnya terjadi jauh lebih besar apabila kita memperhitungkan settlement yang .Konvesional adalah metoda yang tidak memasukkan penurunan pada perhitungan strukturnya.9235 0.855 3.2894 2.6771 Hasil perhitungan menunjukkan bahwa perhitungan konvensional menghasilkan momen yang lebih kecil daripada perhitungan dengan metode yang diusulkan ini.2917 8.5 6 5 6 3 4 3 4 1 2 1 2 (a) Konvensional Gambar 2.3946 0. Dari hasil tersebut dapat ditarik benang merah kenapa terjadi kerusakan dalam bentuk retak-retak pada dinding.4687 1.4315 0.4297 Elastis Mlap.5017 6.ki 1.7593 1. .

2396 0.26054 6.38713 6.2270 0.2383 0.38713 Sc (m) pada Metoda Elastis 0.51625 7. Kalau gedungnya kaku sehingga penurunan relative merata maka reaksi media elastis yang terjadi tidak merata. maka dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1.29995 6. inilah yang membedakan dengan perhitungan metode konvensional dimana reaksi pada tanah merata sehingga menghasilkan penurunan yang tidak merata. Kesimpulan Dari uraian-uraian yang telah dikemukakan.2382 0.29995 6.2407 0.26055 6.ada daripada momen yang dihasilkan dari metoda tanpa memperhitungkan settlement. Hal ini dapat dilihat pada tabel 2.51625 6.26056 6.2390 0. Pada perhitungan konvensional dihasilkan penurunan yang tidak merata pada tiap – tiap titik yang ditinjau melainkan semakin besar penurunan yang terjadi pada setengah bentang bangunan.2366 0.26056 6. Tabel 2. Oleh karena itulah mengapa sering terjadi kerusakan berupa retak-retak pada bangunan yang dibangun di atas tanah lempung lunak.26055 6.2323 0. Penurunan pada struktur dengan metode elastis No Titik 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Reaksi pada tanah 7. Sedangkan pada metode elastis penurunan yang dihasilkan cenderung merata karena reaksi yang terjadi pada tanah tidak merata .2287 0.2287 0.26054 6.2323 0.2366 0. .26053 6.2270 5.

B. and Al-Mashary. 1. B. No.Musta’in. “Aplikasi Sains dan Teknik dengan Visual Basic 6.E. A. Wiryanto. Vol. DAFTAR PUSTAKA ACI Committee 336 (1988). Detroit. B. . A. F.A.. 495-546. American Concrete Institute.” Studi Pengaruh Penurunan Konsolidasi Tanah Dasar terhadap Gedung Berpondasi Dangkal”.”Foundation Analysis and Design”. pp. "Suggested analysis and design procedures for combined footings and mats". (1978).Vol. pp. American Concrete Institute. F. Mich. Gedung bertingkat berpondasi dangkal yang dibangun diatas tanah yang compressible tidak boleh dihitung dengan metode konvensional. Mich.5thÉdition.A. U. 304-324. “Soil-Foundation-Structure Interaction. 2003. “Structural Rigidity in Calculating Settlements. 2. J. 113-116. (1999).” Final Report for Project No. Riyadh Saudi Arabia.” Journal of the Structure Division. Vol.. pp. (1996) .“ Proceedings. K. B. 3.. pp.S. Arif. ACI Structural Journal. ASCE. College of Engineering. ACI Committee 336 (1989). Goschy. ASCE. No. (1956). SM 1. Penerbit PT. Closure to "Suggested analysis and design procedures for combined footings and mats". 103-106. 1. Vol. (1936). “Results of Long Duration Settlement Tests.S.. karena momen yang terjadi sesungguhnya jauh lebih besar. 749-761. 1175 p.2003.No. Burland. 1-19. Thesis Pasca Sarjana Jurusan Teknik Sipil FTSP-ITS. "Behaviour of foundations and structures". 85. 86. “Development of A Computer Program for Study of Soil-Structure Interaction. Buisman. U. de Mello (1977). Japanese Society of Soil Mechanics and Foundation Engineering. Al-Shamrani. Research Center. 1st International Conference on Soil Mechanics and Foundation engineering. Proceedings of the Ninth International Conference on Soil Mechanics and Foundation Engineering.” Journal of Soil Mechanics and Foundation Division. A. Broms and V. S. Japan. Vol. Tokyo. J. S. B. ST5. Bowles. Dewobroto. Vol.2. Chamecki. Detroit. ACI Structural Journal. Elex Media Komputindo. McGraw-Hill. M. pp. pp. King Saud University. 82. R-7416.0”. perhitungan struktur harus memperhitungkan interaksi tanah struktur . 104.

(1947).a soil-structure interaction problem". New York. 255 pp. State-of-the-Art Review... Lee. and Brown. Lysmer. American Concrete Institute. The University of Michigan Press. G. (1972).Inc..A. Tavio.” The Structural Engineer. ASCE. E. S.2001. Mich. (1946). 98 No. (1974). Report EERC 75-30. Cambridge. 177-197.S. pp. Miyahara. Mich. Meyerhof. Tsai. H.) (2000).I. T. 369-409. Patel (1995). Vol. “FLUSH: A Computer Program for Approximate 2-D Analysis of Soil-Structure Interaction Problems”. 151-167. Jurusan Teknik Sipil ITS. ASCE. Thomas Telford Ltd. Meyerhof. J. J. "Beams on elastic foundation". “Structure-Foundation Interaction Analysis. G.” Proceedings... B. “The Settlement Analysis of Building Frames.W and Whitman R. (1970). and F. pp.” Tinjauan Beberapa Kasus Masalah Pondasi di Lapangan (Belajar dari Pengalaman)”. ST2. 51-94. ST11. I.London. and Ergatoudis. 626 pp. “Structure and Foundation Interaction Theory. K. K. pp. Lee. U. J. I. and H.. “Some Recent Foundation Research and its Application to Design. Design and Performance of Mat Foundations. T. pp. “Metode Perhitungan Penurunan Konsolidasi pada Segala Titik di Permukaan Tanah Dengan Menggunakan Program Komputer”. Conference on Settlement of Structures. U..” Journal of Structure Division. Tabatabai-Rassi.K.” TheStructural Engineer. “Analisa Pengaruh Konfigurasi Struktur dan Ketebalan Pondasi Terhadap Gaya Dalam Struktur Berdasarkan Peninjauan Interaksi Struktur-Tanah pada Gedung . M..” Journal of Structure Division. A.G. 31.Doddy E. No.1998.25.V: Soil Mechanics. S. Vol.G. and Harrison. Hetényi. V. Lambe T. U. "Mat foundation design . J. Wiley & Sons. 251-265.Hemsley. (1953). F.A.. “An Assessment of the Effects of Interaction Between a Structure and its Foundation. Vol.368-383. (ed. “SASSI C A System for Analysis of Soil-Structure Interaction”. Horvilleur. 2413-2431. (1976). “Matrix Analysis of StructureFoundation. Report UCB/GT/8102. 1981. G. 1975. J. Detroit. Vol. P. Berkeley: University of California. Lukito. Lysmer. F. and Chandrasekaran.B. Seed. G. J. pp. Mochtar. Vahdani. Vol. Ann Arbor. pp. 553 pp.)... King.Nopember 2001. F. Majalah TORSI. and V. C. B.1998.” Journal of Structure Division. Udka. P. Tugas Akhir Jurusan Teknik Sipil FTSP-ITS. J. "Design applications of raft foundations". J.S. pp.Penteck Press. W. Ulrich (ed. Jajirian. 102. 96 No. Ostadan. London. M. 1969. ST1. Berkeley: University of California. ASCE.

“The Interactive Behavior of a Soil-Structure System and its Effect on Settlements. Gholamreza (1996). Wiley-Interscience Publication Wood. A.” Soil Mechanics in Engineering Practice”. Thesis Pasca Sarjana Jurusan Teknik Sipil FTS-ITS. pp.” Proceedings of the Technical Session of a Symposium held at University of New South Wales. Karl. Mesri. Terzaghi. W. Australia. L. (1975). 3rd Edition. and Larnach. . Peck. Ralph B. 75-88.Berpondasi Dangkal di Atas Tanah Sebagai Media Elastis”.. J.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful