PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN

PENDAHULUAN Kehamilan menyebabkan terjadinya sejumlah perubahan fisiologis dari sistem kardiovaskuler yang akan dapat ditolerir dengan baik oleh wanita yang sehat, namun akan menjadi ancaman yang berbahaya bagi ibu hamil yang mempunyai kelainan jantung sebelumnya. Tanpa diagnosis yang akurat dan penanganan yang baik maka penyakit jantung dalam kehamilan dapat menimbulkan mortalitas ibu yang signifikan. 1 Banyaknya perubahan fisiologis yang terjadi pada wanita hamil nampaknya mempersulit diagnosis kelainan jantung, misalnya bising jantung fisiologis sering ditemukan pada wanita hamil normal, demikian pula dengan dyspnea dan edem. Cunningham dkk menyatakan bahwa diagnosis penyakit jantung pada kehamilan jangan ditegakkan bila tidak ada kelainan yang ditemukan sebaliknya jangan gagal dan terlambat menegakkan diagnosis bila memang ada kelainan. Martin dkk (1999) melaporkan bahwa kelainan jantung merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak pada wanita usia 25 – 44 tahun.2 Koonin dkk (1997) melaporkan penyakit jantung menjadi penyebab dari 5,6% kematian maternal di Amerika Serikat antara tahun 1987 – 1990. Di RS. Hasan Sadikin angka kematian ibu karena kelainan jantung pada tahun 1994 – 1998 sebesar 5,4 % ( 2 dari 37 kasus), sedang di RSCM pada tahun 2001 penyakit jantung menyebabkan 10,3% kematian ibu dan merupakan penyebab kematian terbanyak setelah preeklamsi/eklamsi dan perdarahan postpartum. 2-4 Risiko kematian maternal akan meningkat sampai 25 – 50% pada kasuskasus dengan hipertensi pulmonal, coartasio aorta, sindroma Marfan yang mengalami komplikasi. Namun penanganan prenatal, intrapartum dan post partum yang baik dapat memberikan hasil yang memuaskan. Silversides dkk

Curah jantung biasanya akan kembali normal setelah 2 minggu post partum. Denyut jantung dan stroke volume meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Setelah 32 minggu. Resistensi vaskuler menurun pada trimester pertama dan awal trimester kedua. 2 Segera setelah persalinan darah dari uterus akan kembali ke sirkulasi sentral. Dalam dua minggu pertama post partum terjadi mobilisasi cairan ekstra vaskuler dan diuresis. ekokardiografi dua dimensi atau dengan impedansi elektrik. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan secara tidak langsung dengan auskultasi atau secara langsung dengan kateter intra-arterial. Denyut jantung. Resistensi perifer diukur dengan memakai hukum Ohm yaitu : 1 RPT = TAR x 80 CO RPT = resistensi perifer total (dyne*sec*cm-5) TAR = tekanan arteri rata-rata (mmHg) CO = curah jantung (L/menit) Curah jantung merupakan hasil perkalian stroke volume dan denyut jantung. Jadi tiga perubahan hemodinamik utama yang terjadi dalam masa kehamilan adalah : peningkatan curah jantung. tekanan darah dan curah jantung akan meningkat pada saat ada kontraksi uterus. Curah jantung dapat diukur dengan teknik pengenceran melalui vena sentral. teknik doppler. peningkatan denyut jantung dan penurunan resistensi perifer.1. stroke volume menurun dan curah jantung sangat tergantung pada denyut jantung.(2002) di Kanada tidak menemukan satupun kasus kematian maternal dari 74 ibu hamil dengan stenosis mitral rematik. Pada kehamilan normal.4. mekanisme kompensasi ini akan melindungi ibu dari efek hemodinamik yang terjadi akibat perdarahan post partum. Pada wanita dengan stenosis katup mitral dan kardiomiopati sering terjadi dekompensasi jantung pada masa mobilisasi cairan post partum. 5 PERUBAHAN HEMODINAMIK DALAM KEHAMILAN Hemodinamik menggambarkan hubungan antara tekanan darah. 2 2 . curah jantung dan resistensi vaskuler.1. namun bila ada kelainan jantung maka sentralisasi darah yang akut ini akan meningkatkan tekanan pulmoner dan terjadi kongesti paru.

2 Pada awal kehamilan terjadi ekspansi aliran darah ginjal dan peningkatan laju filtrasi glomerulus. Keadaan ini membutuhkan suplai besi dan asam folat.Takikardia akan mengurangi pengisian ventrikel kiri.1. Natrium yang difiltrasi meningkat hampir 50%. 5 Kadar albumin serum akan menurun 22 % meskipun massa albumin intravaskuler bertambah 20% akibatnya terjadi penurunan tekanan onkotik serum dari 20 mmHg menjadi 19 mmHg. Massa sel-sel darah merah akan bertambah dari 18 % menjadi 25% tergantung pada cadangan besi tiap individu. Sistem renin angiotensin akan diaktifkan dan konsentrasi aldosteron dalam plasma akan meningkat. Meskipun perubahan-perubahan fisiologis ini akan meningkatkan pengeluaran natrium dan air terjadi pula peningkatan volume darah sebesar 40-50%. 1 3 . Tiga perubahan hemodinamik yang berhubungan dengan penanganan penyakit jantung adalah : peningkatan curah jantung. Mikrositosis akibat defisiensi besi dapat memperburuk perfusi pada sistem mikrosirkulasi penderita polisitemia yang berhubungan dengan penyakit jantung sianotik sebab sel-sel darah merah yang mikrositik sedikit yang dirubah. 1. Ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akan memicu terjadinya iskemia miokard. mengurangi perfusi pembuluh darah koroner pada saat diastol dan secara simultan kemudian meningkatkan kebutuhan oksigen pada miokardium.1. 2 Penambahan volume plasma akan menyebabkan penurunan hematokrit dan merangsang hematopoesis. namun bila terjadi peningkatan tekanan pengisian ventrikel kiri atau bila terjadi gangguan pada pembuluh darah paru maka akan terjadi edem paru yang dini. Keadaan “anemia fisiologis” ini biasanya tidak menyebabkan komplikasi pada jantung ibu. namun anemia yang lebih berat akan meningkatkan kerja jantung dan menyebabkan terjadinya takikardia. Pada kehamilan normal balans cairan intravaskuler dipertahankan oleh penurunan tekanan onkotik intertitial. peningkatan denyut jantung dan penurunan resistensi vaskuler.

Setiap bising diastolik dan bising sistolik yang lebih keras dari derajat 3/6 atau menjalar ke daerah karotis harus dianggap sebagai patologis. dan nyeri dada. Pemeriksaan yang paling tepat untuk menilai wanita hamil dengan dugaan kelainan jantung adalah ekokardiografi transtorasik. midsistolik. Kateterisasi jantung jarang diperlukan untuk membuat diagnosis penyakit jantung kongenital atau kelainan katup jantung. umumnya berhubungan dengan peningkatan volume aorta dan arteri pulmonalis. Pemeriksaan radiografi paru hanya bermanfaat pada dugaan adanya kegagalan jantung. Bising sistolik dapat ditemukan pada 80% wanita hamil. Berhubung karena gejala ini juga berhubungan dengan kehamilan normal maka perlu melakukan anamnesis yang cermat untuk menentukan apakah gejala ini sudah tidak berhubungan dengan kehamilan normal. Tipe bising ini adalah derajat 1 atau 2. gejala yang melebihi kehamilan normal. bising patologi. paling keras pada basal jantung. sesak nafas. clubbing dan ronki paru. tanda kegagalan jantung pemeriksaan fisik atau desaturasi oksigen arteri tanpa kelainan paru. Pemeriksaan elektokardiografi (EKG) nampaknya tidak spesifik. namun pemeriksaan ini 4 . Pada wanita yang diduga mengalami kelainan jantung maka perlu dilakukan evaluasi yang cermat terhadap denyut vena jugularis. Sebaliknya penyakit jantung pertama kali didiagnosis saat kehamilan bila ada gejala yang dipicu oleh peningkatan kebutuhan jantung. tidak berhubungan dengan kelainan fisik yang lain. misalnya pada mereka yang pernah menjalani operasi karena kelainan jantung kongenital maka akan mudah untuk mendapat informasi yang rinci. 1 Gejala klasik penyakit jantung adalah : palpitasi. Bila ada gejala aritmia jantung yang menetap maka perlu dilakukan monitor EKG selama 24 jam. 6 Pemeriksaan diagnostik lanjut perlu dilakukan pada wanita hamil yang mempunyai : riwayat kelainan jantung.DIAGNOSIS Kebanyakan wanita dengan kelainan jantung telah terdiagnosis sebelum kehamilan. 1. sianosis pada daerah perifer. Pada pasien dengan bising sistolik akan terdengar pemisahan bunyi jantung dua yang keras.

1. Klas / derajat II : Aktivitas fisik terbatas.bermanfaat bila ada gejala penyakit jantung koroner akut selama kehamilan sebab mempunyai paparan radiasi yang kecil sehingga diagnosis dapat ditegakkan lebih dini dan dapat dilakukan revaskularisasi untuk mencegah infark miokard. Klas / derajat IV : Gejala timbul pada waktu istirahat. timbul sesak atau nyeri. dan terdapat gejala gagal jantung. namun tidak ada gejala saat istirahat. Beberapa indikator klinik dari penyakit jantung dalam kehamilan (dikutip dari kepustakaan 2) Gejala Dyspnea yang progresif atau orthopnea Batuk pada malam hari Hemoptisis Sinkop Nyeri dada Tanda-tanda klinik Sianosis Clubbing pada jari-jari Distensi vena di daerah leher yang menetap Bising sistolik derajat 3/6 atau lebih Bising diastolik Kardiomegali Aritmia persisten Terpisahnya bunyi jantung dua yang persisten Adanya kriteria hipertensi pulmonal 5 . Klas / derajat III :Aktivitas ringan sehari-hari terbatas. 7 Klasifikasi penyakit jantung (status fungsional) berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan oleh New York Heart Association pada tahun 1979. sebagai berikut :2 Klas / derajat I : Aktivitas biasa tidak terganggu. palpitasi pada aktifitas yang ringan. Tabel 1.

1 Salah satu prosedur penatalaksanaan selama kehamilan adalah membatasi aktifitas fisik sehingga mengurangi beban sistem kardiovaskuler. 1 Penanganan penyakit jantung pada kehamilan ditentukan oleh kapasitas fungsional jantung. Pertambahan berat badan yang berlebihan menandakan perlunya penanganan yang agresif. Pada semua wanita hamil. Pada kunjungan rutin harus dilakukan pemeriksaan denyut jantung. hipertensi pulmonal dengan disfungsi ventrikel kanan dan sindroma Marfan dengan dilatasi aorta yang signifikan. dan retensi cairan yang abnormal harus dicegah.PENANGANAN ANTEPARTUM Penderita penyakit jantung harusnya dikonsulkan sebelum kehamilan karena mempertimbangkan risiko dari kehamilan. 6 Beberapa kelainan jantung dengan risiko kematian ibu yang tinggi antara lain : sindroma Eisenmenger. pertambahan berat badan dan saturasi oksigen. 1 6 .1 Memburuknya kondisi jantung dalam kehamilan sering terjadi secara samar namun membahayakan. Namun ada pula penderita yang tidak terkoreksi terus hamil. tetapi khususnya pada penderita penyakit jantung. pada keadaan ini keuntungan dan kerugian terminasi kehamilan atau melanjutkan kehamilan perlu dipertimbangkan dengan cermat. intervensi yang diperlukan dan potensi risiko terhadap janin. Dianjurkan tidak melakukan aktivitas fisik yang berat untuk mempertahankan aliran darah uterus dan menjaga kesehatan janin. Penurunan saturasi oksigen biasanya akan mendahului gambaran radiologi (foto toraks) yang abnormal. Keputusan untuk melanjutkan kehamilan harus mempertimbangkan dua hal penting yaitu : risiko medis dan nilai seorang bayi bagi ibu tersebut dan pasangannya. 7 Daftar pertanyaan yang terstruktur (tentang gejala) di bawah ini membantu dokter untuk waspada terhadap perubahan kondisi. pertambahan berat badan yang berlebihan.

yaitu : 2 1. Kadang kala penderita penyakit jantung yang berat memerlukan pemantauan hemodinamik yang invasif dengan pemasangan kateter arteri dan arteri pulmonalis. 3. khususnya bila ada demam.“Berapa bantal yang diperlukan untuk menyanggah?” Apakah jantung Anda berdegup kencang ? Apakah Anda merasakan nyeri dada ? Pada saat latihan fisik ? Kapan jantung Anda berdegup kencang ? Pasien diharuskan melaporkan gejala infeksi saluran pernafasan bagian atas. American College of Obstetricians and Gynecologists (1992) menekankan empat konsep yang mempengaruhi penanganan. Fluktuasi volume plasma dan curah jantung terjadi pada masa peripartum. 1. Pemantauan EKG berkelanjutan selama persalinan sangat dianjurkan. Induksi persalinan dilakukan bila serviks sudah matang. dua? atau tidak ada? Dapatkah Anda berjalan satu blok ? Dapatkah Anda tidur terlentang ? . 6 Pemantauan ibu dan janin sebaiknya dikerjakan selama persalinan. Penurunan tahanan vaskuler sistemik mencapai titik terendah pada trimester kedua dan meningkat lagi sampai 20% di bawah normal pada akhir kehamilan. Kebanyakan penderita kelainan jantung juga berisiko untuk defisiensi besi sehingga diperlukan profilaksis dengan pemberian suplementasi besi dan asam folat yang dapat menurunkan kerja jantung. Peningkatan curah jantung dan volume plasma sebesar 50% terjadi pada awal trimester ketiga. Bila memerlukan terapi antikoagulan digunakan derivat kumarin. Seksio sesaria dilakukan hanya atas indikasi medis. INTRAPARTUM Persalinan untuk penderita kelainan jantung idealnya adalah singkat dan bebas nyeri. Kateter 7 .- Berapa anak tangga yang dapat Anda daki dengan mudah ? – satu?. 4. 2.

pasien harus dipantau untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda gagal jantung. Selama periode ini. Kateter Swan-Ganz memungkinkan pengukuran tekanan kapiler paru yang merupakan gambaran paling akurat dari hubungan antara volume darah dengan kapasitas vaskuler. Diagnosis yang akurat 2. Penanganan medis dimulai pada awal persalinan a. 9. Cegah nyeri dan respons hemodinamik dengan pemberian analgesia epidural dengan narkotik dan teknik dosis rendah lokal. Persalinan dengan vakum atau forcep rendah. Perdarahan postpartum. PUERPERALIS Persalinan dan masa puerperium merupakan periode dengan risiko maksimum untuk pasien dengan kelainan jantung. Pertahankan stabilitas hemodinamik a. 6. Hindari partus lama b. Pemantauan hemodinamik invasif bila diperlukan b. Antibiotik profilaksis diberikan bila ada risiko endokarditis. 1. 8 . infeksi dan tromboemboli merupakan komplikasi yang menjadi lebih serius bila ada kelainan jantung. 6 Standar penanganan penderita kelainan jantung dalam masa persalinan adalah :1 1. 5. anemia. hipotensi dan aritmia. Hindari perdarahan dengan melakukan managemen aktif kala III dan penggantian cairan yang dini dan sesuai. 7. Managemen cairan pada postpartum dini : sering diperlukan pemberian diuresis yang agresif namun pelu hati-hati. Induksi dilakukan bila serviks sudah matang 4. Mulai dengan keadaan hemodinamik yang sudah terkompensasi c. serta hubungan antara tekanana vena sentral dengan output jantung. Jenis persalinan berdasarkan pada indikasi obstetri 3. 8. Penanganan yang spesifik tergantung pada kondisi jantung. Ibu tidak boleh mengedan.Swan-Ganz sangat bermanfaat karena dapat memberikan informasi akurat mengenai status cairan tubuh dan fungsi jantung kiri.

sianosis. memakai antikoagulan karena operasi penggantian katup. Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) tidak diindikasikan bagi pasien yang berisiko untuk endokarditis misalnya yang menjalani transplantasi jantung dan memerlukan terapi immunosupresi. ada 9 . 7 Ambulasi dini sebaiknya dianjurkan pada periode post partum untuk mencegah terjadinya stasis dan pooling vena. Pada keadaan ini. bila ada penurunan saturasi oksigen yang dipantau dengan pulse oxymetri. Alkaloid ergot seperti metil ergometrin tidak boleh dipakai karena obat ini dapat mengakibatkan peningkatan tekanan vena sentral dan hipertensi sementara. 7 Dalam masa post partum diperlukan pengawasan yang cermat terhadap keseimbangan cairan. Dalam 24-72 jam terjadi perpindahan cairan ke sirkulasi sentral dan dapat menyebabkan kegagalan jantung. 1. Dianjurkan pemakaian stocking elastic karena dapat mengurangi risiko tromboemboli. 6 Anjurkan pemakaian kontrasepsi dan metode kontrasepsi yang dipakai sebelum hamil perlu ditinjau kembali. kegagalan jantung atau transplantasi jantung harus mendapat perhatian yang cermat. biasanya menandakan adanya edema paru. 6 Walaupun beberapa klinikus tidak menganjurkan pasien penderita kelainan jantung untuk menyusui bayinya namun tidak ada kontraindikasi spesifik untuk memberi ASI (air susu ibu) selama hidrasi yang adekuat dapat dipertahankan. Kebanyakan penderita dapat memakai kontrasepsi seperti wanita postpartum normal. namun sebagian yang dengan hipertensi pulmonal. Perhatian harus diberikan kepada penderita yang tidak mengalami diuresis spontan. 1. Namun demikian ibu dianjurkan untuk tidak sepenuhnya tergantung pada ASI eksklusif tetapi juga memberikan susu formula kepada bayinya. Pemakaian kontrasepsi yang tepat dapat merupakan terapi adjuvant bagi penderita kelainan jantung sebaliknya kontrasepsi yang tidak sesuai dapat mengancam jiwanya. Oksitosin sebaiknya diberikan secara infus kontinu untuk menghindari penurunan tekanan darah yang mendadak.Sangat penting untuk mencegah kehilangan darah yang berlebihan pada kala III. Harus diperhatikan bahwa sebagian dari obat-obat yang diberikan kepada ibu dalam masa peripartum dapat melewati ASI.

Keadaan ini dapat membahayakan jiwa penderita sehingga perlu penanganan yang hatihati dan serius. Sebagian kecil penderita ASD kemudian mengalami hipertensi pulmonal dan sindroma Eisenmenger ( shunt balik dari kanan ke kiri karena tekanan arteri pulmonalis suprasistemik). Pada pemeriksaan tampak tanda yang khas berupa dorongan ventrikel kanan dan bising sistolik yang keras pada tepi sternum kiri.5 VENTRICULAR SEPTAL DEFECT (VSD) 10 . Pada pemeriksaan elektrokardiografi (EKG) tampak hipertrofi ventrikel kanan dan right bundle branch block dengan aksis jantung normal. Setelah keluar dari rumah sakit penderita perlu memeriksakan diri pada dokter obgin dan kardiolog. dan bunyi jantung kedua yang terpisah. Bila akan dilakukan sterilisasi tuba postpartum setelah persalinan pervaginam maka sebaiknya prosedur ini ditunda sampai jelas bahwa ibu dalam keadaan tidak demam.riwayat endokarditis. 7 Respons kardiovaskuler baru akan kembali normal setelah 7 bulan postpartum. Kegagalan jantung kongestif merupakan indikasi untuk melakukan operasi untuk mengoreksi defek. Pada pemeriksaan foto toraks tampak 1. Biasanya perubahan pada kehamilan dapat ditolerir oleh penderita ASD kecuali peningkatan volume darah yang terjadi pada trimester kedua. 2.6. KELAINAN JANTUNG BERISIKO RENDAH TERHADAP IBU HAMIL ATRIAL SEPTAL DEFECT (ASD) Atrial septal defect (ASD) merupakan kelainan jantung kongenital yang paling sering ditemukan dalam kehamilan dan umumnya asimptomatik. 5 peningkatan vaskularisasi paru dan pembesaran ruang jantung kanan. Penderita disfungsi ventrikel kiri karena kardiomiopati peripartum memerlukan pemeriksaaan ekokardiografi tiap 3 bulan. tidak anemia dan terbukti bahwa dia dapat bergerak tanpa ada tanda-tanda distres. memakai katup protese atau mendapat terapi antikoagulan jangka panjang. Ada beberapa laporan mengenai terjadinya kegagalan jantung kongestif dan aritmia pada pasien-pasien ini.

5 REGURGITASI MITRAL 11 . Seperti pada kelainan shunt yang lain maka pemeriksaan doppler dan ekokardiografi kontras bermanfaat untuk menentukan dimensi ruang dan mendeteksi shunt. 2. dan pada pemeriksaan foto toraks tampak hipervaskularisasi paru serta pembesaran ventrikel kiri dan atrium kiri. 2. Kebanyakan penderita asimptomatik kecuali bila terjadi komplikasi hipertensi pulmonal. Morbiditas dan mortalitas meningkat bila terjadi hipertensi pulmoner dan sindroma Eisenmenger. 5 Umumnya kehamilan dapat ditolerir oleh penderita VSD karena kehamilan menyebabkan penurunan resistensi vaskuler yang mengurangi terjadinya shunt kiri – kanan. Pada pemeriksaan fisik terdengar bising pada interkosta II. 5 Umumnya penderita dapat mentolerir perubahan pada kehamilan. Pada defek yang kecil pemeriksaan EKG umumnya nampak normal namun dapat pula tampak tanda hipertrofi ventrikel kiri dan kanan. Namun seperti lesi shunt kiri-kanan yang lain harus dilakukan penanganan yang baik untuk mencegah shunt balik yang terjadi karena hipotensi dan kehilangan darah postpartum. Morbiditas dan mortalitas akan meningkat bila terjadi hipertensi pulmonal.2. bunyi jantung pertama yang keras dan bunyi gemuruh diastol.5 PATENT DUCTUS ARTERIOSUS Dengan makin majunya teknik operasi jantung anak maka kasus ini sudah jarang ditemukan pada orang dewasa.Pasien penderita VSD yang mencapai usia reproduksi umumnya mempunyai defek yang kecil sebab defek yang besar memerlukan koreksi pada masa kanak-kanak. Pada foto toraks pembesaran ventrikel kanan dan atrium kiri. Pada masa postpartum penderita VSD dengan hipertensi pulmonal berisiko untuk mengalami kegagalan jantung ketika terjadi penurunan tekanan darah dan volume darah yang sesaat sehingga menyebabkan shunt terbalik. Hipertrofi ventrikel kanan dan kiri dapat terlihat pada pemeriksaan EKG. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan getaran dan bising pada tepi sternum kiri.

namun pada wanita muda penyebab tersering adalah rematik (selalu berhubungan dengan stenosis mitral). 5 LESI KATUP TRIKUSPIDAL DAN PULMONAL. Penanganannya sama dengan regurgitasi mitral. Stenosis trikuspidal dan insufisiensi pulmonal jarang ditemukan dalam kehamilan dan hanya ada beberapa laporan saja mengenai kasus ini. 5 INSUFISIENSI AORTA Seperti pada regurgitasi mitral. insufisiensi aorta jarang ditemukan pada wanita usia reproduksi dan biasanya disebabkan oleh rematik.5 Umumnya kehamilan dapat ditolerir dengan baik sebab pada kehamilan normal terjadi penurunan resistensi vaskuler yang tidak membebani ventrikel. Bila terjadi regurgitasi mitral yang berat akibat kongesti paru maka harus diberikan diuresis dan digoxin profilaksis.5 Tanda khas pada pemeriksaan fisik adalah bising diastolik pada tepi atas sternum yang paling kuat terdengar pada posisi duduk dan saat akhir ekspirasi.5 12 . Regurgitasi trikuspidal merupakan hal yang sangat umum ditemukan pada kehamilan normal dan jarang menimbulkan dampak klinis kecuali bila regurgitasi trikuspidal yang berhubungan dengan anomali Ebstein yang akan meningkatkan morbiditas dalam kehamilan.Regurgitasi mitral mempunyai banyak penyebab. Fibrilasi atrium jarang ditemukan kecuali bila atrium kiri sangat membesar. Pada insufisiensi yang lama akan tampak gambaran pembesaran ventrikel kiri pada pemeriksaan EKG dan foto toraks. hampir selalu berhubungan dengan penyakit katup mitral. Penyebab insufisiensi yang jarang adalah sindroma Marfan dan pada pasien yang hamil perlu dilakukan evaluasi untuk menentukan apakah insufisiensi aorta yang tejadi disebabkan oleh sindroma Marfan.1. Tanda yang khas pada pemeriksaan fisik adalah bising holosistolik pada apeks jantung yang menjalar ke aksila dan pada pemeriksaan EKG tampak tanda pembesaran atrium kiri.

Stenosis pulmonal merupakan gambaran kelainan jantung kongenital yang berdiri sendiri atau merupakan bagian dari tetralogi Fallot. Stenosis katup mitral menghalangi aliran darah dari atrium kiri ke ventrikel kiri pada saat diastol. namun bila kemudian menjadi simtomatik akan berkurang menjadi 15%.5 cm2.5 cm 2. 13 .2. Pada pemeriksaan fisik gelombang “A” yang menonjol pada tekanan vena jugularis. Gambaran EKG terlihat normal kecuali bila stenosis yang berat sehingga terjadi hipertrofi ventrikel kanan dan deviasi aksis kanan. Bila ada hipertensi pulmonal maka rata-rata harapan hidup kurang dari 3 tahun. Curah jantung terbatas karena aliran darah yang relatif pasif selama diastol . Luas permukaan katup mitral yang normal sekitrar 4 – 5 cm2. Walaupun pemasangan balon valvuloplasty perkutaneus merupakan pengobatan terpilih namun bila terjadi kegagalan jantung yang refrakter selama kehamilan maka operasi merupakan tindakan yang lebih baik sebab pemasangan balon memberikan efek radiasi pada janin. 1 Pasien dengan stenosis mitral asimptomatik mempunyai umur harapan hidup 10 tahun sekitar 80%. Demam rheumatik sendiri merupakan respon imunologik terhadap infeksi streptococcus β hemolitik grup-A. Gejala pada saat istirahat dipastikan akan timbul bila luas permukaan < 1. Disfungsi katup akan terjadi seumur hidup. emboli sistemik atau emboli paru. Bising kresendo dan dekresendo biasa terdengar sepanjang daerah parasternal kiri atas. kegagalan jantung kanan. Gejala pada saat aktifitas akan nampak bila luas permukaan ini < 2. 5 Kehamilan umumnya dapat ditolerir bahkan pada stenosis pulmonal yang tidak dikoreksi. Pada pemeriksaan foto toraks tampak pembesaran ventrikel kanan dan tonjolan arteri pulmonalis. 5 KELAINAN JANTUNG YANG BERISIKO SEDANG TERHADAP IBU HAMIL STENOSIS MITRAL Stenosis katup mitral hampir selalu berhubungan dengan penyakit jantung reumatik. Insiden penyakit ini dalam populasi dipengaruhi oleh kondisi kemiskinan. Kematian terjadi karena edem paru yang progresif. Kerusakan katup ini dipicu oleh episode demam rheuma yang berulang.

Pemeriksaan ekokardiografi diperlukan untuk menyingkirkan adanya stenosis mitral khususnya pada pasien dari kelompok yang berisiko. 1. Pasien yang mengalami fibrilasi atrium dan riwayat emboli harus diterapi dengan antikoagulan. Hipertensi pulmonal yang merupakan komplikasi yang memperburuk stenosis mitral dapat didiagnosis dengan pemeriksaan ekokardiografi. Kontraksi uterus meningkatkan aliran balik vena dan kemudian terjadi kongesti paru.peningkatan arus balik dari vena akan menyebabkan kongesti paru. Pemberian β-blocker akan menurunkan denyut jantung. 5 Wanita dengan riwayat penyakit katup rheuma yang berisiko untuk kontak dengan populasi yang mempunyai prevalensi tinggi untuk infeksi streptococcus harus mendapat profilaksis penicilllin G peros setiap hari atau benzathine penicillin setiap bulan. Diagnosis ekokardiografi stenosis mitral didasarkan pada gambaran khas stenosis berupa katup yang mengalami kalsifikasi. 2 Penanganan antepartum pada penderita stenosis mitral bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara upaya untuk meningkatkan curah jantung dan keterbatasan aliran darah yang melewati katup stenosis. Takikardia relatif dalam masa kehamilan mengurangi pengisian ventrikel kiri dan selanjutnya mempengaruhi curah jantung dan meningkatkan kongesti paru. Kebanyakan ibu hamil memerlukan diuresis berupa pemberian furosemid. Gejala lain berupa bising diastolik dan distensi vena jugularis sering luput dari perhatian. 1 Kelelahan dan sesak pada saat aktifitas merupakan gejala khas untuk stenosis mitral namun juga sering ditemukan pada kehamilan normal. Seksio sesaria 14 .1. meningkatkan aliran darah yang melewati katup dan menghilangkan kongesti paru.0 cm2 biasanya diperlukan penanganan farmakologi dalam kehamilan dan pemantauan hemodinamik yang invasif pada saat persalinan. Bila luas penampang katup kurang atau sama dengan 1. Denyut jantung dipertahankan dengan mengontrol nyeri dan pemberian β-blocker. 1 Pada saat persalinan sering terjadi dekompensasi karena nyeri akan menginduksi takikardia. Kala II diperpendek dengan persalinan forcep atau vakum rendah. Hemodinamik penderita dengan luas katup < 1 cm2 harus ditangani dengan bantuan kateter arteri pulmonalis.

pada tipe yang berat bunyi jantung kedua tidak terdengar. skelet. namun juga telah dilaporkan penggantian katup aorta pada saat kehamilan yang memberikan hasil memuaskan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan bising sistolik kresendo dan dekresendo pada tepi atas sternum. dan kardiovaskuler dengan derajat yang bervariasi. Valvuloplasty balon pada katup aorta telah berhasil dilakukan pada saat kehamilan dengan luaran maternal dan perinatal yang memuaskan. namun penderita stenosis aorta yang mempuyai katup aorta bikuspidal dapat menjadi simptomatik pada usia 20an dan 30-an. dilatasi aneurisma aorta yang berhubungan dengan regurgitasi aorta. Pada saat persalinan dilakukan pemantauan sentral dengan kateter Swan-Ganz dan cegah terjadinya hipotensi. Manifestasi kardiovaskuler berupa prolaps katup mitral dengan regurgitasi mitral.26%. sehingga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan ekokardiografi terhadap janin pada trimester kedua. Pada EKG tampak tanda hipertrofi ventrikel kiri dan pada foto toraks gambaran jantung membesar. Bila memungkinkan sebaiknya dilakukan koreksi stenosis sebelum kehamilan. 1.dilakukan hanya atas indikasi obstetri. Pemberian diuresis yang progresif akan menurunkan kongesti paru dan desaturasi oksigen. 5 Pada kasus yang berat mortalitas ibu dilaporkan sekitar 17%. 1. Penanganan pada pasien terutama adalah tirah baring dan mempertahankan volume darah yang adekuat. Gen yang terkena berlokasi di kromosom 15. 5 SINDROMA MARFAN Merupakan kelainan autosom dominan dengan defek sintesis kolagen yang mengenai mata. risiko untuk mendapat bayi dengan kelainan jantung kongenital berkisar 17% . Stenosis aorta menandakan adanya obstruksi aliran darah yang keluar dari ventrikel kiri. Anestesi spinal dan epidural harus dilakukan dengan hati-hati pada pasien stenosis berat karena bahaya hipotensi. 5 15 . 5 STENOSIS AORTA Stenosis aorta jarang ditemukan pada kehamilan karena kelainan ini sering ditemukan pada populasi yang lebih tua.

2. Pemeriksaan ekokardiogram serial dilakukan selama kehamilan untuk menilai keadaan jantung khususnya pangkal aorta dan ada tidaknya regurgitasi. percepat kala II dengan persalinan forsep rendah. Pasien akan mengalami sianosis perifer. Obat beta-blocker secara selektif dapat menurunkan risiko dilatasi aorta yang progressif dengan menurunkan tekanan pulsatil pada dinding aorta. 5 16 . kegagalan jantung kongestif dan hemoptisis. 5 Keadaan ini akan menyebabkan mortalitas ibu yang sangat tinggi (23 – 50%) yang dapat terjadi pada masa kehamilan atau periode postpartum. Bila penderita memilih untuk melanjutkan kehamilan maka penanganannya meliputi tirah baring secara ketat. PaO 2 ibu dipertahankan di atas 70% untuk menjamin oksigenasi janin yang adekuat. Penderita harus diberitahu mengenai bahaya ini dan mendapat pengawasan ketat terhadap gejala dan tanda diseksi aorta. pemberian oksigen kontinu. Penderita harus dirawat di rumah sakit. Penderita harus diberitahu mengenai risiko ini dan ditawari untuk memilih terminasi kehamilan atau melanjutkan kehamilannya.Kehamilan akan meningkatkan risiko ruptur aorta pada penderita sindroma Marfan. Kelainan kongenital yang berupa shunt kiri – kanan seperti ASD. sebaliknya bila aorta tidak membesar dan katup tidak terkena maka kehamilan dapat mencapai aterm dengan morbiditas dan mortalitas maternal yang rendah. Bila diameter pangkal aorta lebih dari 40 mm maka kematian dapat mencapai 50%.2.5 KELAINAN JANTUNG YANG BERISIKO TINGGI TERHADAP IBU HAMIL SINDROMA EISENMENGER Pada sindroma ini terjadi hipertensi pulmonal yang mendekati tekanan sistemik menyebabkan aliran balik dari shunt kiri – kanan menjadi shunt kanan – kiri menyebabkan hipoksemia dan kematian. digoksin. pemantauan hemodinamik infasif pada periode peripartum. Morbiditas dan mortalitas tergantung pada apakah kelainan berupa dilatasi pangkal aorta atau kelainan katup. VSD atau PDA dengan hipertensi pulmonal progresif dapat menyebabkan terjadinya sindroma Eisenmenger.

Penderita harus diawasi di rumah sakit selama seminggu sesudah persalinan sebab risiko kematian ibu meningkat pada periode ini. 5 Angka kematian maternal pada keadaan ini dapat melebihi 40%. pengobatan dini terhadap gejala kegagalan jantung kongestif 17 .5 Pada pemeriksaan fisik tampak penonjolan gelombang “A” pada vena jugularis. Gejalanya berupa sesak. bahkan kematian tetap tinggi pada pasien yang asimptomatik atau dengan gejala yang ringan pada saat sebelum hamil. ditemukan pada wanita muda dan menyebabkan peningkatan tekanan arteri pulmonalis yang progresif. Penyebabnya tidak diketahui. desakan ventrikel kanan dan biasanya bunyi jantung kedua yang dapat dipalpasi. Berhubung karena tingginya angka kematian maternal maka penderita dianjurkan untuk tidak hamil. palpitasi dan kadangkala sinkop. hepatomegali dan edem.Berhubung karena tingginya kejadian pertumbuhan janin terhambat dan kematian janin maka direkomendasikan untuk melakukan pemantauan janin secara ketat dengan pemeriksaan USG serial dan NST dan atau pemeriksaan profil biofisik. fatique. 5 HIPERTENSI PULMONAL PRIMER Hipertensi pulmonal primer merupakan keadaan dimana terjadi penebalan abnormal dan konstriksi tunika media arteri pulmonalis yang menyebabkan fibrosis tunika intima dan pembentukan trombus. Angka kematian janin dan neonatal pada kasus ini juga tinggi. Periode peripartum merupakan periode yang genting berhubung karena terjadi perubahan volume darah yang cepat dan kemungkinan perdarahan. rawat inap pada trimester ketiga. Penderita sering datang pada trimester kedua saat perubahan hemodinamik yang maksimal dan sering dengan gejala kegagalan jantung kanan. Pada tahap akhir akan tampak tanda-tanda kegagalan jantung kanan berupa peningkatan tekanan vena jugularis. Namun bila penderita memilih untuk tetap melanjutkan kehamilannya maka harus dilakukan tirah baring. Pada pemeriksaan EKG dan foto toraks tampak pembesaran ventrikel kanan dan deviasi aksis jantung ke kanan. dan bila hamil ditawarkan untuk menjalani terminasi kehamilan pada trimester pertama.

Di Amerika Serikat insidennya bervariasi dari 1 per 4000 kelahiran sampai 1 per 1500 kelahiran.dengan digoksin dan diuretik dan lakukan pemantauan hemodinamik invasif selama persalinan. dyspnea. multipara dan kulit hitam. Pemberian antikoagulan dapat memperbaiki prognosis penyakit ini. Bila kardiomegali menetap maka prognosisnya jelek. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kardiomegali. Nifedipin dosis tinggi peros dan pemberian adenosin intravena bermanfaat untuk menurunkan resistensi pembuluh darah pulmoner. Pemeriksaan ekokardiografi bermanfaat untuk menyingkirkan adanya kelainan katup. 5 Walaupun penyebabnya belum diketahui namun diduga karena hipertensi. meningkat pada ibu yang berusia tua. 1. Pemeriksaan EKG tampak gambaran segmen ST yang abnormal dan perubahan gelombang T. Berhubung karena meningkatnya risiko tromboembolik pada pasien ini maka perlu dipertimbangkan pemberian heparin. Penderita yang refrakter dianjurkan untuk menjalani transplantasi jantung dan sudah ada laporan mengenai keberhasilan persalinan sesudah transplantasi.5 Prognosis tergantung pada perjalanan penyakit saat postpartum. distensi vena-vena di daerah leher. Angka kematian ibu bervariasi dari 25% – 50%. 6 KARDIOMIOPATI PERIPARTUM Kardiomiopati peripartum menyebabkan kegagalan jantung pada bulan terakhir kehamilan atau pada 6 bulan pertama postpartum tanpa penyebab yang jelas. 5 18 .5 Gejala klinis yang timbul berupa orthopnea.1. edem perifer dan kadang hemoptisis. pengobatan kegagalan jantung kongestif dengan digoksin dan diuretik. Puncaknya terjadi pada bulan kedua postpartum. reaksi imunologik dan defisiensi vitamin. sebaliknya bila ukuran jantung kembali normal dalam 6-12 bulan menandakan prognsosis yang lebih baik. palpitasi. kelemahan. 5 Pengobatan berupa tirah baring. Di Nigeria dilaporkan insiden yang lebih tinggi karena ibu postpartum mengkonsumsi garam dalam jumlah yang besar. hindari aktifitas fisik. 5. Kardiomegali dan kongesti vena pulmonal merupakan tanda khas pada pemeriksaan foto toraks. infeksi virus. irama gallop.

Kelainan jantung pada kehamilan dan persalinan tahun 2001 di RSCM. Leveno K. Artoni F. In: Pertemuan Ilmiah Tahunan XIII POGI. Maj Obstet Ginekol Indones 2000. 2002. 369 . Heart disease. Semarang. 1181-203. London: Churchill Livingstone Inc. Sedyawan J.84. In: Winn H. editors. Medical complications of pregnancy cardiac disease and pregnancy. Cunningham F. 2001. Ratnadewi N. 1 st ed. Clinical maternalfetal medicine. Suardi A. p. 4. Gant N. 2. Malang. Gei A.24 (1):37 . 1999. 2002. 19 . In: Williams obstetrics.28 (3):1-42. 1005-30. Hankins Gea. editor. 2000. Cardiac disease. 4 th ed. 1999. Cole P. New York: The Parthenon Publishing Group. Easterling TR. 6. Obstetrics-normal and problem pregnancies. Hobbins J.42. p. 3. Wiratama K. Tinjauan kasus penyakit jantung dalam kehamilan di RSU Dr. Obstet and gynecol clin 2001. MacDonald P. Cardiovascular diseases. p. Gilstrap L. In: Pertemuan Ilmiah Tahunan POGI XI. 21 st ed. Otto C.Hasan Sadikin selama 5 tahun (1994-1998). In: Gabbe. 7. Kehamilan dengan penyakit jantung rematik (pjr) serta komplikasi stroke hemoragik. Hankins G.DAFTAR PUSTAKA 1. 5. Suwardewa T. New York: McGraw Hill. 2002.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful