You are on page 1of 23

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan, meliputi : Pengkajian, Pohon Masalah Halusinasi, Diagnosa Keperawatan, Rencana Tindakan Keperawatan dan

Evaluasi BAB III : Gambaran Kasus BAB IV : Asuhan keperawatan BAB V : Penutup Daftar Pustaka

BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Pengertian Halusinasi Halusinasi adalah satu persepsi yang salah oleh panca indera tanpa adanya rangsang (stimulus) eksternal (Cook & Fontain, Essentials of Mental Health Nursing, 1987). Halusinasi merupakan salah satu gejala yang sering ditemukan pada klien dengan gangguan jiwa, Halusinasi sering diidentikkan dengan Schizofrenia. Dari seluruh klien Schizofrenia 70% diantaranya mengalami halusinasi. Gangguan jiwa lain yang juga disertai dengan gejala halusinasi adalah gangguan manik depresif dan delerium. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren :Persepsi palsu. Berbeda dengan ilusi dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya timulus eksternal yang terjadi. Stimulus internal dipersepsikan sebagai sesutu yang nyata ada oleh klien. B. Klasifikasi Halusinasi Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan karakteristik tertentu, diantaranya : a. Halusinasi pendengaran : karakteristik ditandai dengan mendengar suara, teruatama suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu. b. Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan atau menakutkan. c. Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang – kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor, kejang dan dementia.

Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik datang dari tanah, benda mati atau orang lain. e. Halusinasi pengecap : karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan. f. Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna atau pembentukan urine. C. Etiologi a. Faktor predisposisi 1. Biologis Gangguan perkembangan dan fungsi otak, susunan syaraf – syaraf pusat dapat menimbulkan gangguan realita. Gejala yang mungkin timbul adalah : hambatan dalam belajar, berbicara, daya ingat dan muncul perilaku menarik diri. 2. Psikologis Keluarga pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respons psikologis klien, sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah : penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien. 3. Sosiol Budaya Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti : kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress. b. Faktor Presipitasi Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan (Keliat, 2006). Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi adalah: a) Biologis Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan. b) Stress lingkungan Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

d.

c) Sumber koping Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor. Pada halusinasi terdapat 3 mekanisme koping yaitu :

3. Bicara sendiri. Pada klien dengan halusinasi. 21. 8. 18. 20. Perhatian dengan lingkungan yang kurang atau hanya beberapa detik. tempat dan orang. 22. 16. Tidak mampu mengikuti perintah dari perawat. Respon verbal yang lambat 7. 12. 24. 3. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai. Pergerakan mata yang cepat 6. Curiga dan bermusuhan. Terjadi peningkatan denyut jantung. Mudah tersinggung. Menarik diri dari orang lain. 2) Proyeksi : Menggambarkan dan menjelaskan persepsi yang membingungkan ( alam mengalihkan respon kepada sesuatu atau seseorang ). 23. jengkel dan marah. 14. Senyum sendiri. pernapasan dan tekanan darah. Berkonsentrasi dengan pengalaman sensori. Sulit berhubungan dengan orang lain. Berusaha untuk menghindari orang lain. Menggerakkan bibir tanpa suara. Ketakutan. Tampak tremor dan berkeringat. 1) . perilaku klien yang terkait dengan halusinasi adalah sebagai berikut: 1. 15. Tidak dapat membedakan yang nyata dan tidak nyata. 17. Tidak dapat mengurus diri.With Drawal : Menarik diri dan klien sudah asyik dengan pengalaman internalnya. 2. 2. 19. 13. orang lain dan lingkungan. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara. Gerakan mata abnormal. 11. D. biasanya menggunakan pertahanan diri dengan menggunakan pertahanan diri dengan cara proyeksi yaitu untuk mengurangi perasaan emasnya klien menyalahkan orang lain dengan tujuan menutupi kekurangan yang ada pada dirinya. Agitasi dan kataton. 5. seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala yang khas yaitu: 1. Ketawa sendiri. Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution (2003). 3) Regresi : Terjadi dalam hubungan sehari-hari untuk memproses masalah dan mengeluarkan sejumlah energi dalam mengatasi cemas. 4. Bertindak merusak diri. Perilaku panik. Biasa terdapat disorientasi waktu. Ekspresi muka tegang. Manifestasi Klinis Menurut Hamid (2000). 10. 9.

18. Mendekati orang lain dengan ancaman 3. Dipenuhi dengan pengalaman sensori. 12. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi. Tremor. Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk. yaitu: Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas. 9. orang lain dan lingkungan. Tanda dan Gejala : 1. Memperlihatkan permusuhan 2. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri. 20. pernafasan dan tekanan darah. 8. 16. 10. 17. Diam. Respon verbal yang lambat. Mempunyai rencana untuk melukai F. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. 19. 15. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang E. 6. Perilaku menyerang teror seperti panik. 14. Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks. Memberikan kata-kata ancaman dengan rencana melukai 4. kesepian. 7. Menyentuh orang lain dengan cara yang menakutkan 5. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain. . Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi. 5.4. orang lain dan lingkungannya. Akibat Dari Halusinasi Pasien yang mengalami perubahan persepsi sensori: halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri. rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan. 13. Tahapan halusinasi Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan Laraia (2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda. Menarik diri atau katatonik. 11. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya daripada menolaknya. Berkeringat banyak. 22. Penyempitan kemampuan konsenstrasi. 21.

Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital (denyut jantung. menarik diri. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara c. tidak mampu mematuhi perintah dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan terutama jika akan berhubungan dengan orang lain. Fase III a.Di sini klien tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya peningkatan nadi. tremor. Di sini terjadi perilaku kekerasan. Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain c. menggerakkan lidah tanpa suara. Respon verbal yang lambat e. berkeringat. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. diam dan asyik sendiri. pernapasan dan tekanan darah). agitasi. Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realitas. Di sini klien sukar berhubungan dengan orang lain. Manifestasi Klinis Fase I a. pernafasan dan tekanan darah b. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolaknya b. Kondisi klien sangat membahayakan. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Diam dan dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan Fase II a. asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan realita. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak mampu berespon lebih dari 1 orang. Gerakan mata yang cepat d. pergerakan mata yang cepat. Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik . Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai b. Penyempitan kemampuan konsenstrasi c.

ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk Fase IV a. Prilaku menyerang teror seperti panic b. Permiti Mesoridazin (Serentil) Perfenazin (Trilafon) Proklorperazin (Compazine) Promazin (Sparine) Tioridazin (Mellaril) Trifluoperazin (Stelazine) Trifluopromazin (Vesprin) Klorprotiksen (Taractan Tiotiksen (Navane) Haloperidol (Haldol) Klozapin (Clorazil) Loksapin (Loxitane) Dosis Harian 60-120 mg 30-800 mg 1-40 mg 30-400 mg 12-64 mg 15-150 mg 40-1200 mg 150-800mg 2-40 mg 60-150 mg Tioksanten Butirofenon Dibenzodiazepin Dibenzokasazepin 75-600 mg 8-30 mg 1-100 mg 300-900 mg 20-150 mg . Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks e. Adapun kelompok yang umum digunakan adalah : Kelas Kimia Fenotiazin Nama Generik (Dagang) Asetofenazin (Tindal) Klorpromazin (Thorazine) Flufenazine (Prolixine. Penatalaksanaan Medis Penatalaksanaan klien skizoprenia adalah dengan pemberian obat – obatan dan tindakan lain. agitasi. tremor.d. menarik diri atau katatonik d. Psikofarmakologis Obat – obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran yang merupakan gejala psikosis pada klien skizoprenia adalah obat – obatan anti psikosis. Gejala fisik dari ansietas berat seperti berkeringat. Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang G. Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain c. yaitu : a. Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk.

pendidikan terakhir SMP kelas III. laki-laki. kulit agak kotor. tetapi sampai di rumah kambuh lagi.Jawa Tengah dan dilakukan operasi pada lengan bawah karena patah. dan kadang-kadang tersenyum sendiri. klien sering menyendiri. rambut kotor. klien mandi satu kali sehari. .Dihidroindolon b. suku jawa. Penampilan diri klien : rambut tidak disisir rapih. Klien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Jakarta pada bulan Pebruari 1994 dengan keluhan klien sering menyendiri. mulut komat-kamit. Molindone (Moban) 15-225 Terapi kejang listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT) Terapi aktivitas kelompok (TAK) BAB III GAMBARAN KASUS Tn. dan gangguan kebersihan diri. kemudian bekerja di bengkel bubut selama 1 tahun. lalu keluarga membawanya ke RSJ Jakarta. Dari hasil observasi tanggal 10 April 1997 sampai dengan 24 April 1997. . klien malas mandi. 10 tahun yang lalu klien mengalami kecelakaan ketika mengendarai sepeda motor. gosok gigi jarang. pakaian kusut. yaitu dengan membanting gelas. kemudian keluar karena klien merasa capek. piring karena disuruh roh halus yang membisiki ditelinganya. meskipun jawabannya singkat. pernah bekerja di Koperasi Simpan Pinjam selama 3 tahun. S. dengan marah. dengan menarik diri. Klien beragama Islam. Jarang melakukan aktifitas. gigi kotor. Klien cenderung diam. Klien dirawat di RSJ Jakarta untuk keempat kalinya dengan masalah atau keluhan utama yang sama. melamun. klien tampak putus asa. Klien memberikan jawaban bila ditanya oleh perawat. usia 40 tahun. Pada saat tiduran kadang sepertinya klien mendengar sesuatu. Menurut klien waktu itu ada yang mendorong dari belakang sehingga klien terjatuh. mencuci rambut seminggu sekali. kemudian keluar karena merasa jenuh / bosan. mendengarkan pembicaraan orang lain dalam berinteraksi. Jakarta. Klien merupakan anak ke 4 dari 8 bersaudara. tidur di tempat tidur. Pada pengkajian keluarga: keluarga mengatakan belum bisa merawat klien dengan halusinasi. Dari RSJ Jakarta klien dinyatakan sembuh. kuku panjang dan hitam. jarang berinteraksi dengan klien lainnya. status menikah tidak mempunyai anak. jarang membicarakan masalahnya dengan orang lain. Setelah itu klien tidak bekerja. marah-marah. ganti pakaian dua hari sekali. c. Sebelum dirawat di RSJP. Kemudian klien dirawat di RSU Pekalongan .

ganti pakaian dua hari sekali. gigi kotor. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu ? Pasien mengatakan tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya. mendengarkan pembicaraan orang lain dalam berinteraksi. Pengkajian I. klien mandi satu kali sehari. meskipun jawabannya singkat. kuku panjang dan hitam. Faktor Predisposisi 1. III. IV. pakaian kusut. S Usia : 40 tahun Jenis kelamin : Laki-laki Pendidikan : SMP kelas III Pekerjaan : Pernah bekerja di Koperasi simpan Pinjam Status Pernikahan : Menikah Agama : Islam Suku : Jawa II. dan kadang-kadang tersenyum sendiri. Apakah px pernah mengalami trauma pada dirinya ? Pasien mengatakan pernah kecelakaan. Klien memberikan jawaban bila ditanya oleh perawat. mulut komat-kamit. Identitas Pasien Nama : Tn. V. gosok gigi jarang. jarang membicarakan masalahnya dengan orang lain. Alasan Masuk Dari hasil observasi tanggal 10 April 1997 sampai dengan 24 April 1997. Klien cenderung diam.A. Adakah anggota keluarga yang mengalami sakit jiwa? Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. rambut kotor. Penampilan diri klien : rambut tidak disisir rapih. klien malas mandi. klien sering menyendiri.80C Ukur : TB:155 cm BB:50 kg Keluhan fisik : Klien cenderung diam R :50x/m . 3. tidur di tempat tidur. mencuci rambut seminggu sekali. kulit agak kotor. Jarang melakukan aktifitas. klien tampak putus asa. Pemeriksaan Fisik Tanda-tanda vital : TD:110/80 mmHg N:100x/m S:36. jarang berinteraksi dengan klien lainnya. Keluhan Utama Pada saat tiduran kadang sepertinya klien mendengar sesuatu. 2.

Konsep diri a. Identitas Diri . b. Psikososial 1.VI. Gambaran diri Pasien mengatakan menyukai seluruh bagian tubuhnya dan tampak bingung menentukan bagian mana yang paling ia sukai. Genogram : Keterangan : : Laki – laki meninggal : perempuan meninggal : pasien : Perempuan : tinggal serumah 2.

Peran serta dalam kegiatan Kelompok/masyarakat : Selama pasien dirumah. a. pasien mengatakan jarang beribadah. a. IX. e. Hubungan sosial Orang yang berarti Pasien mengatakan ia sangat menyayangi istrinya. pasien lebih senang menyendiri.Pasien mengatakan ia anak ke 4 dari 8 bersaudara. Ideal diri Pasien masih ingin berada di rumah sakit jiwa. Kegiatan beribadah Sebelum masuk rumah sakit jiwa. b. kurang bergaul deengan orang lain dan pasien terkadang sibuk dengan dirinya sendiri. jarang berkomunikasi dengan pasien lain. Setelah masuk rumah sakit. Penampilan Pasien terlihat kurang rapi. VIII. MK : Defisit Perawatan Diri : Berpakaian . Status pasien sudah menikah dan pasien merasa puas sebagai laki-laki. c. Spiritual Nilai dan keyakinan Pasien beragama islam b. banyak diam. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : Pasien suka menyendiri. MK : Harga diri rendah VII. Harga diri Hubungan pasien dengan perawat / dokter maupun pasien lainnya kurang baik. pasien tidak pernah aktif dalam kegiatan bermasyarakat. Peran Sebelum masuk RSJ pasien bekerja sebagai di Koperasi simpan Pinjam d. pasien tidak pernah beribadah. Status Mental 1. MK : gangguan konsep diri : menarik diri c. pakaian tampak kotor.

terkadang hanya dapat menjawab seadanya dan kurang mampu untuk memulai pembicaraan. 12. Suara tersebut datang tiba-tiba. Memori Pasien hanya mampu mengingat kejadian jangka pendek. suka melamun dan suka menyendiri. 7. Kadang kurang jelas. Tingkat konsentrasi dan berhitung Pasien mampu berhitung sederhana. Masalah Keperawatan : Halusinasi Pendengaran 8. 5.2. Alam Perasaan Pasien tampak diam. Pembicaraan Pembicaraan pasien lambat. 11. Afek Datar yaitu pasien tampak biasa-biasa saja saat berkomunikasi tanpa ada perubahan tinggi rendahnya suara dan roman muka. Persepsi Pasien mengatakan ia mendengar suara-suara orang yang berbicara dengannya. 9. ADL : mandiri 4. Tingkat kesadaran Pasien bingung dengan lingkungan sekitarnya. . saat ditanya masih terlihat bingung menjawabnya. Interaksi selama wawancara Selama wawancara pasien cukup kooperatif dan menjawab dengan singkat dan lambat setiap pertanyaan yang ditanyakan perawat. misalnya tambahan dan pengurangan. Masalah Keperawatan : Gangguan Interaksi Sosial 6. Terdapat kontak mata. namun kadang pasien sadar bahwa dia sedang di RSJ. Isi pikir Pasien tidak mengalami gangguan isi pikir. Arus pikir Pasien tidak mengalami gangguan arus pikir. Masalah Keperawatan : Gangguan Komunikasi verbal 3. suara datang kira-kira 2-3 menit pada malam hari. Aktivitas Motorik Aktivitas motorik pasien : baik. 10.

Masalah Keperawatan Dari data diatas dapat dirumuskan masalah keperawatan sebagai berikut: Halusinasi dengar Data Subyektif: Klien mengatakan : a. Bila berinteraksi klien lebih suka diam dan mendengarkan pembicaraan. terutama kalau sedang melamun.13. c. b. Klien tampak sedang mendengar sesuatu. Data Obyektif: a. mulut komat-kamit Gangguan hubungan sosial : Isolasi sosial Data Subyektif : Klien mengatakan: a. mencuci rambut seminggu sekali. Saya dibawa ke rumahh sakit karena membanting gelas dan piring karena disuruh oleh roh halus. melamun b. mengganti pakaian dua hari sekali. Klien tampak putus asa Gangguan kebersihan diri Data Subyektif : Klien mengatakan: a. b. kadang-kadang dua hari sekali. gigi kotor. Sering mendengar suara-suara. ditandai dengan perawat member kesempatan pasien untuk memilih mandi dahulu sebelum makan atau makan dahulu sebelum mandi. bengong di tempat tidur. Sering tiduran di tempat tidur dan jarang berbicara dengan klien lain atau perawat. Data Obyektif : a. Klien sering tiduran. pakaian kusut. menjelang tidur. c. Kulit agak kotor. B. Mandi sehari sekali. b. Kemampuan penilaian Pasien dapat mengambil keputusan secara mandiri tanpa bantuan orang lain. Dan pasien langsung memilih mandi dulu sebelum makan. ―Bolehkah saya berteman dengan roh halus karena ia yang sering mengajak saya berbicara ?‖ Data Obyektif : a. . rambut kotor tidak disisir. Klien sering senyum sendiri. kuku panjang dan hitam. Jarang membicarakan masalahnya dengan orang lain.

Bila klien disuruh mandi. Kalau di rumah pernah mengamuk b. memotong kuku. Klien tidak tahu cara mengatasi marah yang baik.Kurangnya minat Data Subyektif : Klien mangatakan: a. klien menunda-nunda untuk mandi. Malas untuk mandi. Jika kesal berdiam diri dan masuk ke kamar c. . Klian banyak tiduran di tempat tidur b. Klien mendengar suara-suara yang mengancam. yaitu: ―saya tidak takut sama kamu !‖ Klien juga menjawab: ―Saya juga tidak takut pada kamu !‖ Potensial amuk Data Subyektif : Klien mengatakan : a. b. mencuci rambut. Data Subyektif : Klien mengatakan: a. Data Obyektif: a. Saya di bawa ke rumah sakit karena membanting gelas dan piring karena disuruh oleh roh halus. Potensial melukai diri sendiri dan orang lain. menggosok gigi.

Pohon Masalah (Problem Tree) .C.

Halusinasi klien timbul karena perubahan hubungan sosial. maka klien S. Sesuai dengan tahapan halusinasi. merasa sangat kecewa. Pada saat di rumah. Hal ini sesuai dengan proses terjadinya halusinasi pada fase pertama yang diungkapkan oleh Haber. terjadi halusinasi dengar. klien masih dapat mengontrol kesadarannya dan mengenal pikirannya namun intensitas persepsi meningkat. menguasai. halusinasi memberikan kesenangan tersendiri dan rasa aman yang sementara. Proses Terjadinya Halusinasi Halusinasi dapat terjadi oleh karena berbagai faktor diantaranya gangguan mental organik. hanya terlibat dalam pikirannya sendiri. beberapa hari kemudian klien mulai melamun dan mendengar suara-suara yang mengatakan atau menyuruh dia melemparkan gelas dan piring. klien mangalami kecelakaan saat mengendarai sepeda motor kemudian dirawat di rumah sakit. gangguan afektif dan gangguan tidur. Akibatnya klien cenderung memisahkan diri dan hanya terlibat dengan pikirannya sendiri yang tidak memerlukan kontrol orang lain. pemikiran internal lebih menonjol seperti gambaran suara dan sensasi. kebersihan diri. sidrome putus obat. yaitu dimana klien berada pada tingkat listening. hubungan yang dangkal dan tergantung (Haber. Cara ini menolong sementara. harga diri rendah. tak mau makan kemudian klien dirawat di rumah sakit jiwa Jakarta selama 8 bulan. isteri meninggalkannya dan klien S. menarik diri. sehingga klien malas atau kurang berminat dalam melaksanakan aktifitas sehari-hari seperti. kemudian oleh keluarga klien dinikahkan. perasaan yang terpisah. Sehingga timbulnya kesepian. Perkembangan sosial yang tidak adekuat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar dan mempertahankan komunikasi dengan orang lain.BAB IV TINJAUAN TEORI A. hal ini disebabkan oleh karena klien mempunyai riwayat putus cinta dengan kekasihnya satu kali. Pada fase ini klien mengalami kecemasan. Setelah delapan bulan dirawat. Satu bulan yang lalu klien mendengar suara-suara tersebut dan klien menanyakan kepada perawat apakah boleh berteman dengan roh halus. isolasi sosial. stress. yaitu halusinasi lebih menonjol. makan. Setelah menikah selama tiga bulan. karena dia yang sering mengajaknya berbicara. ini menunjukan bahwa klien mengalami gejala halusinasi fase ke dua. klien berada pada fase ketiga. klien dinyatakan sembuh dan boleh pulang. sering menyendiri. dan lain-lain. keracunan obat. Pada klien S. Klien mungkin melamun atau memfokuskan pikiran pada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan kecemasan dan stres . Setelah keluar dari rumah sakit. melamun. Akibat dari menikmati suara-suara yang didengar. 1987). 1982. kesepian. Gejala-gejala pada klien S. Dkk. .

Potensial kambuh Pada klien S. menjawab ― Saya juga tidak takut sama kamu !‖ Dengan adanya halusinasi ini. Akibatnya ia tidak dapat memberi respon emosional yang adekuat. Koping keluarga tidak efektif 8. potensial melukai diri sendiri dan orang lain. Klien cenderung menarik diri. karena klien S. Hater. Potensial melukai diri sendiri dan orang lain 2. tidak sesuai (Fortinash. Potensial gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh 11. Masalah Keperawatan Dari masalah-masalah itu ditemukan masalah keperawatan sejumlah sebelas buah. Adakan kontak yang sering dan singkat . mengejek. maka masalah yang timbul pada klien S. Potensial kambuh. Tindakan Keperawatan untuk semua masalah kepada klien Adapun tindakan keperawatan pada klien S adalah sebagai berikut : Masalah Keperawatan 1 Halusinasi dengar. mendengar suara-suara yang bersifat mengancam. Gangguan orientasi realitas 2. klien tampak bisar. Potensial melukai diri sendiri dan orang lain 9. Menarik diri 3. Rencana tindakannya : a. Gangguan komunikasi verbal dan nonverbal 4. Potensial melukai diri sendiri dan orang lain. C. klien S disuruh oleh roh halus untuk membanting piring dan gelas. Koping individu tidak efektif 5. gangguan ADL. Potensial amuk 10. tersenyum dan berbicara sendiri. adalah potensial amuk. Tujuan jangka panjang : Klien dapat mengontrol halusinasinya dan tidak melukai diri sendiri atau orang lain. B. Gangguan persepsi: Halusinasi dengar 6.1987). potensial amuk dapat terjadi pada klien S. 1991. Lalu klien S. Gangguan perawatan mandiri 7. gangguan kebersihan diri.Dan selanjutnya klien memasuki fase keempat yaitu dengan gejala halusinasi bersifat mengancam yaitu klien mendengar suara-suara ― Saya tidak takut sama kamu !‖. Kurangnya minat terhadap kebersihan diri 5. 1989. yaitu : 1. Benner. ini timbul masalah keperawatan sebagai berikut: 1. Potensial amuk 4. Gangguan hubungan interpersonal : Menarik diri 3.

d. Ajukan pertanyaan terbuka yang membutuhkan jawaban luas. Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan marah. Support secara terus menerus agar mempertahankan dan meningkatkan kebersihan dirinya. Kaji perasaan klien dan pengetahuan tentang kebersihan diri b. Terima halusinasi sebagai hal yang nyata bagi klien dan berikan pendapat bahwa halusinasi tidak nyata pada perawat. Dengarkan apa yang diungkapkan oleh klien c. Lakukan kontak yang sering dan singkat d. Tujuan jangka panjang : Klien tidak amuk dan dapat mengungkapkan marah yang konstruktif Rencana tindakannya: a. Masalah keperawatan 2: Isolasi sosial sehubungan dengan menarik diri Tujuan jangka panjang : Klien tidak menarik diri dan berinteraksi dengan orang lain Rencana tindakannya: a.b. Berikan reinforcement positif f. Anjurkan klien untuk mengungkapkan cara-cara mengekspresikan marah yang dilakukan selama ini. Berikan dukungan yang posisif terhadap hal-hal yang dicapai oleh klien c. Masalah Kepererawatan 3 Ketidakmampuan mengungkapkan cara marah yang konstruktif. e. Berespons terhadap respons verbal dan nonverbal klien dengan sikap yang tenang dan tidak mengancam b. Masalah Keperawatan 4 Kurangnya minat terhadap kebersihan diri Tujuan Jangka Panjang: Klien berminat dan mampu memelihara kebersihan dirnya Rencana tindakan a. Support dan anjurkan klien untuk berkomunikasi dengan perawat bila ada sesuatu yang dipikirkan. Berikan kesempatan kepada klien mengungkapkan apa yang dirasakan klien sesuai dengan respon verbal dan nonverbal klien. e. d. c. Dorong klien untuk melihat hal-hal yang positif tentang dirinya. Bina hubungan saling percaya b. Beri reinforcement positif terhadap hal-hal yang telah dilakukan klien Masalah Keperawatan 5 Ketidakmampuan keluarga merawat klien di rumah . Observasi tingkah laku verbal dan nonverbal yang berhubungan dengan halusinasi c.

senang dipanggil dengan nama apa‖ b. Nama bapak siapa. Evaluasi/ validasi B. Libatkan klien dalam aktifitas kegiatan di rumah sesuai dengan kemampuan klien g. f. Tujuan TUK 1: Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat TUK 2: Klien dapat mengenal halusinasi yang dialami Strategi Pelaksanaan 1. Diagnosa Keperawatan Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi 3. Kondisi : · Klien tampak bicara sendiri · Klien terlihat mondar-mandir · Klien mengatakan mendengar suara seperti roh halus 2. Bina hubungan saling percaya dengan keluarga b. . nama saya Hendra. Libatkan klien dalam pertemuan keluarga.Tujuan Jangka Panjang : Klien tidak kambuh Recana tindakannya : a. Orientasi a. Proses Keperawatan 1. Salam terapeutik ―Selamat pagi mas. Buat jadwal bersama klien (kegiatan yang dapat dilakukan klien) STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP) ¡ Masalah : Perubahan persepsi sensori : Halusinasi ¡ Pertemuan ke 1 ( satu ) A. Kaji persepsi keluarga tentang perilaku maldaptif klien c. Libatkan seluruh anggota keluarga untuk menerima klien apa adanya e. Ajak klien untuk mengunjungi sanak keluarga lainnya. d.

―Bagaimana perasaan bapak hari ini ?‖ ―Kok saya melihat bapak sering berbicara sendiri. dengan siapa bapak berbicara tadi ?‖ c. jika suara itu muncul ?‖ 3. Evaluasi Subyektif ―Bagaimana perasaan bapak sekarang. dimana kita akan bercerita? disini lagi ?‖ — Waktu : ―Berapa lama besok kita akan bercerita? 10 menit atau 15 menit? Baiklah sampai ketemu besok ya ……‖ STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP) .‖ — Tempat : ―Baiklah kalau begitu. setelah bercerita tentang suara yang bapak dengar?‖ b. Evaluasi Obyektif ―Jadi suara yang bapak dengar adalah seperti suara roh halus munculnya saat bapak sendirian. Terminasi a. Kontrak — Topik : ―Bagaimana kalau kita bercerita tentang cara mengendalikan suara-suara tersebut.o … disini saja baiklah‖ ¡ Waktu : ―Kita akan berbicara berapa menit ?‖ ―15 menit ? Baiklah. Kontrak ¡ Topik : ―Bagaimana kalau kita berbicara tentang suara-suara dan bayangan-bayangan yang bapak dengar?‖ ¡ Tempat : ―Dimana kita akan bercerita. Kerja — ―Sekarang kita sudah duduk santai disini‖ — ―Tolong bapak ceritakan tentang suara-suara yang bapak dengar‖ — ―Kapan suara itu sering muncul pak ?‖ — ―Situasi bagaimana yang dapat menyebabkan suara tersebut muncul?‖ — ―Berapa sering dan berapa lama suara itu muncul ?‖ — ―Apa yang bapak lakukan. dan yang bapak lakukan saat suara-suara dan bayangan itu muncul adalah dengan marah-marah‖ c. kita berbicara ± 15 menit ya pak?‖ 2. pak? ‖ ―O.

Strategi Pelaksanaan 1. betul saya perawat Hendra‖. apakah bapak mau ?‖ c.‖ f. ―Jangan lupa berdoa sesuai dengan kepercayaan bapak‖. Kerja a. Orientasi a.‖. b. ―Jangan melamun. mudahkan … ? h. lakukan kegiatan yang dapat bapak kerjakan. Evaluasi/ validasi ―Bagaimana perasaan bapak hari ini ? Sudah lebih baik daripada kemarin ?‖ ― Masih ingat dengan kontrak kemarin. ―Kalau bapak saya beritahu cara-cara lain yang harus dilakukan ketika suara-suara muncul. Terminasi a. Ya bagus…. Diagnosa Keperawatan Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi 3. c. Evaluasi Obyektif . ya pak?‖ g. Evaluasi Subyektif ―Bagaimana perasaannya setelah kita berbincang-bincang ?‖ b. ―Bagaimana pak. Salam terapeutik ―Selamat pagi pak― Masih ingat dengan saya kan ?‖ ―Ya. ― Jangan lupa bapak juga harus taat minum obat dan kontrol.‖ 3. ―Kemarin bapak sudah bercerita tentang suara-suara yang muncul dan apa saja yang bapak lakukan saat suara itu muncul?‖ ― Bagus sekali…‖. ―bapak bisa memilih cara-cara tersebut yang kira-kira bisa bapak lakukan. ―Oke pertama kalau suara itu datang kita harus menghardik suara itu dengan mengatakan : ―Saya benci kamu pergi … pergi …!!‖ lalu tarik nafas panjang dan keluarkan lewat mulut‖ d. B. Kondisi : · Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat · Klien dapat mengenal: halusinasinya 2. Proses Keperawatan 1. bahwa hari ini kita akan berbincang-bincang tentang bagaimana cara mengendalikan halusinasi?. b. Kontrak: ―bapak mau berapa lama kita mengobrol ?‖ ― Bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang selama ± 15 menit? setuju ya pak? 2.¡ Masalah : Perubahan persepsi sensori : Halusinasi ¡ Pertemuan ke 2 (dua) A. e. Tujuan TUK 3 : Klien dapat mengontrol halusinasinya.

Salam terapeutik ―Selamat pagi pak…‖ ― Masih ingat dengan saya kan ?‖ ― Ya. Besok kita berbincang-bincang lagi ya pak. STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN (SP) ¡ Masalah : Perubahan persepsi sensori : Halusinasi ¡ Pertemuan ke 3 (Tiga) A.‖ c. Ingin berapa lama besok kita ngobrol lagi dengan topik yang sama kira-kira 10 menit ? Baiklah. Waktu ―Baiklah pak karena kita sudah berbincang-bincang selama ± 15 menit. betul saya perawat Hendra‖. nanti bila bapak ingin berbincang-bincang lagi dengan saya. bapak bias temui saya.‖ ―Wah … pandai sekali. Proses Keperawatan 1. Tujuan TUK 3 : Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik B. Selamat siang‖. Diagnosa Keperawatan Resiko perilaku kekerasan pada diri sendiri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi 3.‖. bahwa hari ini kita akan berbincang-bincang lagi tentang bagaimana cara memanfaatkan obat dengan baik. masih ingat kan? Ya bagus…. Sampai ketemu besok ya ‖ ― Terima kasih pak. Strategi Pelaksanaan 1. c. Kontrak: ―bapak mau berapa lama kita mengobrol ?‖ ―Bagaimana kalau hari ini kita ngobrol selama ± 10 menit? setuju ya pak ? Bagus sekali‖ . bincangbincang kita cukup sekian dulu. b. Evaluasi/ validasi ―Bagaimana perasaan bapak hari ini ? Sudah lebih baik daripada kemarin ?‖ ― Masih ingat dengan kontrak kemarin.―Coba sebutkan kembali cara-cara yang dapat bapak lakukan untuk menghindari atau memutus halusinasi tersebut. Kondisi : · Klien sudah dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat · Klien dapat mengenal: halusinasinya 1. Orientasi a.

waktu pemberian obat serta ciri-ciri obat yang diminum bapak?‖ e. bagus sekali‖. manfaat serta warna obatnya‖. Waktu ―Baiklah pak karena kita sudah berbincang-bincang selama ± 10 menit. Evaluasi Subyektif ―Bagaimana perasaannya setelah kita berbincang-bincang ?‖ b. ―Wah … pandai sekali. Terminasi a. kita bisa lanjutkan nanti. bapak mau tidak diberitahu tentang manfaat. nanti bila bapak ingin berbincang-bincang lagi dengan saya. Efek obat ini akan membuat bapak lebih baik dan efek sampingnya akan membuat bapak mengantukan. Kerja a. jumlah obat. . Evaluasi Obyektif ―Coba sebutkan kembali jumlah obat yang diminum pak. b. ―Kalau bapak minum obat 3 kali sehari warnanya putih dan biru. bincangbincang kita cukup sekian dulu.‖ c.2.‖ f. Selamat siang‖. Warna apa saja obat yang diminum pak?‖ c. siang dan malam. Menurut bapak manfaat dari obat itu apa?‖Ya bagus sekali. Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang?‖ g. ― Terima kasih pak. Dan obat yang berwarna kuning diminum sekali setelah makan malam. Ya bagus. d. ―Kemarin bapak sudah bercerita tentang suara-suara yang didengar dan apa saja yang bapak lakukan saat suara itu muncul?‖ ― Bagus sekali‖ Setiap hari berapa obat yang bapak minum? Ya. Bagus sekali…‖ 3. diminum setelah makan pagi.

SARAN 1. Dalam hal ini penulis dapat menyimpulkan bahwa peran serta keluarga merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan klien. Dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya perawat mengikuti langkah-langkah proses keperawatan dan melaksanakannya secara sistematis dan tertulis agar tindakan berhasil dengan optimal 2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien khususnya dengan halusinasi. B.BAB V PENUTUP A. Dalam menangani kasus halusinasi hendaknya perawat melakukan pendekatan secara bertahap dan terus menerus untuk membina hubungan saling percaya antara perawat klien sehingga tercipta suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan . membina hubungan saling percaya yang dapat menciptakan suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang diberikan. 2. Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu dilakukan pendekatan secara terus menerus. maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Disamping itu perawat / petugas kesehatan juga membutuhkan kehadiran keluarga dalam memberikan data yang diperlukan dan membina kerjasama dalam memberi perawatan pada pasien. KESIMPULAN Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi dan pelaksanaan asuhan keperawatan terhadap pasien. pasien sangat membutuhkan kehadiran keluarga sebagai sistem pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan dirinya.