You are on page 1of 14

PENYELESAIAN WARIS

Oleh: Syakir Jamaluddin, MA.∗ A. Pendahuluan Waris dalam istilah fiqh dikenal dengan farâ’idl ( ‫ض‬ َ ْ ‫ ) ئال‬atau mawârîts ( ُ ِ ‫رئائ‬ َ ‫ف‬ kepada ahli warisnya yang masih hidup secara Syar`i.

‫ث‬ ُ ْ ‫وئارِي‬ َ ْ ‫ )ئال‬yaitu berpindahnya hak pemilikan dari orang yang meninggal َ ‫م‬

Membagi Waris secara Syar`i Hukumnya Wajib Setelah menjelaskan bagian dan cara pembagian harta waris, Allah SWT menegaskan:

َ ْ ‫ت ِل‬ ‫ر ي‬ ِ ْ ‫ه ي ُد‬ ٍ ‫نٍتا‬ ّ ‫ج‬ ِ ّ ‫ددود ُ ئالل‬ ْ َ‫ت ت‬ َ ‫ه‬ ُ ‫ح‬ ُ ‫ك‬ ُ ‫ر‬ ُ ْ ‫خل‬ ُ َ ‫سول‬ َ ّ ‫ع ئالل‬ َ َ‫ه دو‬ َ َ‫ه دو‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ج‬ ِ ِ ‫ن ي ُط‬ َ ْ ‫حت ِهٍتا ئا‬ َ ِ ‫هٍتا دوَذ َل‬ ‫ن‬ َ ْ ‫ك ئال‬ َ ‫ر‬ ِ َ‫ز ئال ْع‬ ِ ‫ن‬ ِ ِ ‫خٍتال‬ ِ ُ ْ ‫ف فو‬ َ َ‫ دو‬، ‫م‬ ُ ‫ظهيف‬ َ ‫فهي‬ َ ْ ‫لن‬ َ ْ َ‫ن ت‬ ْ ‫مف‬ َ ‫دي‬ ُ ‫هٍتا‬ ْ ‫م‬ ‫فٍتا‬ ‫فهيهَف‬ َ ‫رئا‬ ِ ْ ‫ددود َهُ ي ُفد‬ ِ ‫دئا‬ َ ‫ه‬ ً ‫خٍتال ِف‬ ُ ‫حف‬ ُ ّ ‫ه دوَي َت َعَد‬ ُ ‫ر‬ ُ ْ ‫خل‬ ُ َ ‫سول‬ َ ّ ‫ص ئالل‬ ً ‫نفٍتا‬ َ َ‫ه دو‬ ِ ْ‫ي َع‬ َ َ‫ه ع‬ ‫ن‬ ٌ ‫ذئا‬ ُ ‫ب‬ ُ َ ‫دوَل‬ ٌ ‫ههي‬ ِ ‫م‬
"(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa ta`at kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Namun barangsiapa yang melanggar Allah dan Rasul-Nya serta melampaui batas pada ketentuannya maka Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, ia kekal di dalamnya, dan iapun mendapatkan siksa yang menghinakan." (QS. Al-Nisâ’/4: 14) Berdasarkan hal tersebut maka Nabi saw memerintahkan:

‫…)ردوئاه‬

َ ‫ل بهين أ‬ َ َ‫رئائ ِض ع‬ ْ ‫ل ئال‬ ‫ه‬ ‫ف‬ َ ‫ه‬ ْ ِ ّ ‫ب ئالل‬ َ ِ ‫ل ى ك‬ ِ ْ‫ئاق‬ َ ْ ‫موئا ئال‬ ُ ‫س‬ ِ ‫تٍتا‬ َ ِ َ ْ َ َ ‫مٍتا‬ ِ
(‫مسلم دوأبو دئادود‬

"Bagilah harta peninggalan di antara para ahli waris menurut Kitabullah." (HR. Muslim, Abu Daud, dan lain-lain) Hal krusial dan sering dipersoalkan dalam pembagian waris adalah bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua perempuan:

memahami konsep Islam secara keseluruhan, khususnya tentang hakikat penciptaan laki-laki dan perempuan yang disesuaikan dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing. Allah SWT memang memberikan lebih banyak kelebihan kepada laki-laki dari pada kepada perempuan pada umumnya. Kelebihan itu

ُ‫ل‬ ْ ‫( ئا‬QS. Al-Nisâ’/4: 11). Untuk memahami ayat ini, harus lebih dulu َ ‫ن‬ ‫هي‬ ‫هي‬ ‫ث‬ ‫ن‬ ْ ْ َ ِ

ّ ‫ح‬ ُ ْ ‫مث‬ ‫ظ‬ ِ ِ ‫ر‬ َ ‫ل‬ ِ َ ‫للذ ّك‬

Sekretaris Lembaga Pengkajian & Pengamalan Islam (LPPI) dan Dosen Tetap FAI UMY.

dengan cara: a) Memandikannya b) Mengkafaninya c) Menyalatkannya d) Memakamkannya Seluruh biaya penyelenggaraan pemakaman jenazah diambilkan dari harta peninggalan.”(HR. Melunasi hutang-hutangnya. Ketentuan ini harus ditaati bagi yang menginginkan sorga dan tidak boleh dilanggar (QS. Hutang termasuk sesuatu yang dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. 2. Membagikan harta peninggalan kepada ahli warisnya sesuai dengan AlQur’an dan sunnah Rasulullah saw. dan tidak ada wasiat bagi ahli waris. Jika masih ada sisa maka barulah untuk pelaksanaan wasiat dan kemudian pembagian harta waris. bersabda: ‫)ردوئاه‬ َ ْ‫ه أ َع‬ ّ ُ ‫ط ى ك‬ ‫ث‬ ّ ‫ح‬ َ ّ ‫ص فهي‬ ٍ ِ‫وئار‬ ِ َ‫ه دوَل َ دو‬ ِ ‫ل‬ َ ‫ق‬ َ ‫ذ ي‬ ّ ِ‫إ‬ ُ ‫قف‬ ّ ‫حف‬ َ ّ ‫ن ئالل‬ َ ‫ة ل ِف‬ (‫ئالترمذى دوأحمد‬ “Sesungguhnya Allah memberikan haknya kepada setiap yang berhak. Inilah sebabnya Allah menetapkan kepemimpinan laki-laki terhadap kaum perempuan (QS. Bukhari-Muslim. kalaupun terpaksa berutang. psikis. Hak Yang Wajib Ditunaikan Sebelum Membagi Harta Peninggalan 1. Untuk menghindari pertanggungjawaban yang berat di akhirat. dari Ibnu Abbas). karena Nabi saw. Melaksanakan wasiat-wasiatnya. dan kelebihan tanggung jawab seperti mahar (pada wanita yang akan dijadikan istri. Sebab-sebab adanya hak waris 2 . Tirmidzi. maka jumlah harta peninggalan kita nantinya diperkirakan masih cukup untuk melunasi hutang kita dan masih menyisakan secukupnya untuk ahli waris yang menjadi tanggungan kita. akal. 4: 11). Wasiat dalam bentuk harta maksimal 1/3 dari seluruh harta warisan (HR.antara lain: kekuatan fisik. al-Nisâ’/4: 34) dan menetapkan kelebihan harta waris bagi anak laki-laki sama dengan dua bagian anak perempuan (QS. Nasa’i. Oleh karena itu “Janganlah iri (karena benci/dengki) terhadap apa saja yang dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain…” (QS. QS. Menyelenggarakan pemakaman jenazah sebaik-baiknya. C. Dari sini bisa disimpulkan bahwa harta untuk pelunasan hutang diambil dari harta peninggalan. 4. dan Ahmad) Ditiadakannya wasiat untuk ahli waris dimaksudkan supaya pembagian harta waris di antara para ahli waris bisa berjalan secara adil. 3. 4: 4) dan nafkah pada keluarganya. B. 4: 13-14) karena sudah dibuat secara adil proporsional sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan. 4: 32). Wasiat seperti ini tidak boleh diberikan kepada ahli waris.

Harta yang diwariskan atau harta peninggalan (‫ة‬ ُ َ ‫رك‬ ُ ْ‫ردو‬ َ ْ ‫) ئا َل‬. Menurut mazhab Hanafi dan Al-Syafi`i batas waktu orang mafqûd dianggap sudah meninggal. Orang yang mewarisi atau ahli waris ( ‫ث‬ ُ ِ‫وئار‬ َ ْ ‫ ئا َل‬/ al-wârits). kedua orang tua dan seterusnya. yaitu ْ ّ ‫ئالت‬ ُ ْ ‫مو‬ harta yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia. baik itu laki-laki ataupun perempuan. yaitu orang yang ّ َ ‫مو‬ meninggal dunia.” (HR. yaitu orang yang menerima harta peninggalan. Karena pembebasan budak saw: “Wala’ itu hanya bagi orang yang memerdekakan budak. yaitu: a. berhak mendapatkan warisan dari mantan budaknya tersebut. b. Ahli warisnya disebut ashhâbul-furûdlis-sababiyah yang berarti ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu karena adanya hubungan sebab. BukhariMuslim) Bila budak yang sudah dimerdekakan (‫ق‬ ُ ْ ‫ول ى ئال‬ َ ) ini meninggal ْ ‫م‬ ِ ِ ‫معْت‬ dunia maka mantan majikannya. Karena hubungan sebab. Orang yang mewariskan ( ‫ث‬ ُ ‫ر‬ ُ ْ ‫ ئا َل‬/ al-muwarrits). yaitu suami atau istri. Jika hilangnya orang ini dalam situasi yang mengancam hidupnya maka harus dicari kejelasannya selama 4 tahun (Hal ini didasarkan pada 3 . yaitu: 1.1. Ahli warisnya disebut ashhâbulfurûdlin-nasabiyah yang berarti ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu karena adanya hubungan nasab. Karena hubungan pernikahan yang sah. Contoh: meninggalnya seseorang dengan vonis hakim yakni pada kasus orang hilang (mafqûd) yang tidak ada kabar berita atau kepastian. yaitu: 1. baik secara medis maupun secara hukum (vonis hakim). Karena hubungan nasab (kerabat hakiki). Meninggalnya seseorang. tetapi tidak berlaku sebaliknya. yakni apakah saat kepergian orang ini dalam situasi mengancam hidupnya (seperti: perang atau kecelakaan di hutan belantara) atau tidak (seperti: berniaga atau menuntut ilmu di wilayah yang aman). 2. ْ ُ َ ‫)دوَل‬. Adapun syarat waris dalam hal ini juga ada tiga. Sedangkan mazhab Hambali lebih berhatihati dalam melihat kasus ini. Dalam hal ini ada tiga rukun yang terdapat dalam waris. maka para Ulama berbeda pendapat. seperti: anak. Dasarnya adalah hadis Nabi (‫ق‬ ِ ْ ‫ء ئالعِت‬ َ ‫ء ل ِم‬ َ َ‫ئال ْو‬ (‫ه‬ َ ّ ‫مت‬ ِ ْ ‫ق عَل َهي‬ ٌ ‫ف‬ ُ )‫ق‬ َ َ ‫ن أعْت‬ ْ َ ُ ‫ل‬ D. َ / ‫ث‬ 3. bila orang yang sebaya dengannya di wilayahnya sudah tidak ada lagi yang hidup. 2. apakah masih hidup atau sudah meninggal. Rukun dan Syarat Waris Yang dimaksud dengan rukun di sini adalah unsur yang harus ada dalam pembagian waris.

Suami (dalam hal ini berstatus duda) bila muwarrits tidak mempunyai keturunan (QS. Hal ini didasarkan pada hadis Nabi: َ ‫ل‬ ‫ه‬ ٌ ‫ي‬ َ ْ ‫س ل ِل‬ ٌ ِ‫دوئار‬ ْ ِ ‫ء دوَإ‬ ُ ُ ‫وئارِث‬ ُ ‫ن ل َف‬ ْ ‫ن ل َف‬ َ ْ ‫ل َهي‬ َ ‫ث فَ ف‬ َ ‫ه‬ ْ ‫م ي َك ُف‬ ْ ‫شف‬ ِ ‫قٍتات ِف‬ َ ً ْ ‫شهي‬ ُ ِ ‫قٍتات‬ َ ‫ل‬ (‫ئٍتا )ردوئاه أبو دئادود‬ َ ْ ‫ث ئال‬ ُ ِ‫ه دوَل َ ي َر‬ ِ ْ ‫س إ ِل َهي‬ ّ ‫ب ئال‬ ُ ‫ر‬ َ ْ‫أق‬ ِ ‫نٍتا‬ َ ْ ‫ث ئال‬ َ ْ ‫ن ئال‬ ‫ن )ردوئاه‬ ُ ِ‫ر دوَل َ ي َر‬ ُ ِ‫ل َ ي َر‬ ِ ْ ‫مؤ‬ ِ ْ ‫مؤ‬ ُ ْ ‫ر ئال‬ ُ ْ ‫ث ئال‬ َ ‫م‬ ُ ِ‫كٍتاف‬ َ ِ‫كٍتاف‬ ُ ‫م‬ (‫ئالجمٍتاعة إلئالنسٍتائ ى‬ “Seorang mu’min tidak mewarisi seorang kafir. Pada saat itu juga harta warisan dapat dibagikan kepada masing-masing ahli waris yang berhak. Ahli waris yang mendapatkan bagian tertentu dari harta peninggalan disebut ashhâbul-furûdl. 1/3 dan 1/6. 4 . 2. 1/4. maka dia masih berhak atas harta peninggalan. ada 6 macam bagian yang sudah ditentukan besar-kecilnya (furûdlul-muqaddarah) yang akan diterima ahli waris. Jika yang mewariskan tidak mempunyai ahli waris maka ahli warisnya adalah orang yang paling dekat dengannya. Bagian Ahli Waris Di dalam Al-Qur’an. b. Tetapi jika ahli warisnya itu mafqud (hilang/tak diketahui rimbanya) maka berdasarkan Undang-undang di Indonesia.” E. 2/3. Sementara itu menurut Undang-undang yang berlaku di Indonesia. Adanya ahli waris yang masih hidup pada saat muwarrits meninggal dunia. Tidak adanya penggugur hak waris ( ‫ث‬ ِ ‫ر‬ ُ ِ ‫وئان‬ َ ). Anak perempuan kandung bila sendirian (anak tunggal). Jika antara yang mewariskan dan ahli warisnya meninggal dalam waktu bersamaan. bila sampai 2 tahun tetap tidak ada kabar berita.riwayat Imam Bukhari dan Syafi`i yang disandarkan pada perkataan khalifah Umar bin al-Khaththab tentang istri yang ditinggal pergi suaminya tanpa diketahui rimbanya. An-Nisa’(4):12). maka akan diputus secara hukum oleh hakim pengadilan dengan keputusan sudah meninggal. dan seorang kafir tidak akan mewarisi seorang mu’min. maka dia harus menunggu selama 4 tahun ditambah masa`iddah kematian). maka antara mereka tidak saling mewarisi. Tetapi bila kepergiannya ke wilayah yang tidak mengancam hidupnya maka keputusan diserahkan kepada ijtihad hakim (Undang-undang inilah yang berlaku di Mesir). Ashhâbul-furûdl atau Ahli waris yang mendapat 1/2 a. yaitu : ْ ِ ‫ع ئال‬ َ ‫م‬ a. Pada hakikatnya budak tidak memiliki apa-apa sehingga dia tidak berkuasa sedikitpun dari harta majikannya. Nabi saw bersabda: “Tidak ada bagian si pembunuh sedikitpun. b. Budak.” c. Karena pembunuhan. yaitu: 1/2. selama belum sampai 2 tahun. 1/8. Karena beda agama atau murtad. dan si pembunuh tetap tidak mewarisi sedikitpun. 3. 1. Setelah empat tahun ternyata tetap tidak ada berita maka dia dinyatakan secara hukum sudah meninggal.

e. b. ayah/kakek. ataupun keturunan (QS. dan dua saudara tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki seayah. 4:12). seayah atau seibu (QS. Dua saudara perempuan kandung atau lebih bila muwarrits tidak punya keturunan atau ayah/kakek. (Penyelesaian secara gharrawain). Dua saudara seibu atau lebih (laki-laki/perempuan sama saja) bila muwarrits tidak punya anak. 5. Bila ayah bersama anak perempuan atau cucu perempuan garis laki-laki maka ayah mendapat 1/6 + sisa. d. Ashhâbul-furûdl atau ahli waris yang mendapat 2/3 a. Khusus bila ibu bersama dengan ahli waris lainnya seperti suami atau istri dan bapak. sedangkan muwarrits sudah tidak punya anak. 4: 11). muwarrits tidak punya saudara kandung perempuan. 4: 11). d. Ashhâbul-furûdl atau ahli waris yang mendapat 1/4 a. (QS. Saudara perempuan seayah bila sendirian. c. Saudara kandung perempuan bila sendirian dan muwarrits tidak punya ayah/kakek. 4:12) b. Ibu bila muwarrits tidak punya anak/cucu dari anak laki-laki. Ashhâbul-furûdl atau ahli waris yang mendapat 1/6 a. Suami bila muwarrits mempunyai keturunan (anak/cucu). dan tidak punya ayah/kakek ataupun keturunan (QS. Dua anak perempuan atau lebih bila mereka tidak mempunyai saudara laki-laki (QS. 6. b. 4: 176). baik itu sekandung. Ashhâbul-furûdl atau ahli waris yang mendapat 1/8 Ahli waris yang mendapat 1/8 hanyalah istri bila muwarrits mempunyai anak/cucu (QS. Dua saudara perempuan seayah atau lebih bila muwarrits tidak mempunyai keturunan. 3. 2. Cucu perempuan dari anak laki-laki bila sendirian (merupakan cucu tunggal). 4: 176). ayah ataupun kakek (QS. 4: 176). 4. Istri (dalam hal ini berstatus janda) bila muwarrits tidak mempunyai anak/cucu (QS. 5 . adalah 1/3 dari sisa (1/3 x sisa) setelah diambil suami/istri. 4: 12). tidak punya dua anak perempuan. Ashhâbul-furûdl atau ahli waris yang mendapat 1/3 a. Dua cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki bila muwarrits sudah tidak punya anak. Ayah bila muwarrits punya anak/cucu. dan dua cucu tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki. ataupun saudara kandung.c. dan dua saudara tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki (QS. Bila dua saudara seibu ini bersama dengan dua saudara sekandung ketika ahli waris lainnya hanya suami dan ibu maka mereka bergabung dalam bagian 1/3 ini (Penyelesaian secara musyarakah). 4:12). dan tidak punya dua saudara atau lebih (laki-laki atau perempuan).

ada juga ahli waris yang berposisi sebagai ashabah. Saudara laki-laki/perempuan seibu bila sendirian Nenek asli (ibu dari ibu) bila muwarrits tidak punya ibu. kedua orang tua masing-masing mendapatkan 1/6 bila muwarrits (yang mewariskan) mempunyai anak. `Ashâbah bin-nafs yaitu ahli waris laki-laki yang nasabnya tidak tercampur kaum wanita. dan apa yang tersisa menjadi hak laki-laki yang paling utama.. Demikian pula. atau `ashâbah adalah orang yang menguasai sisa harta peninggalan. Anak laki-laki selalu berposisi sebagai `ashâbah. Bukhari) Saudara perempuan seayah (satu atau lebih) bila muwarrits mempunyai seorang saudara kandung perempuan. f. seperti anak laki-laki. Juga pada ayat 176 surat An-Nisa’. bagian saudara kandung tidak disebutkan.” (HR. Berarti anak laki-laki berposisi sebagai `ashâbah. Ibu bila muwarrits punya anak/cucu dari anak laki-laki dan dua saudara atau lebih Cucu perempuan dari anak laki-laki (seorang atau lebih) bila muwarrits hanya mempunyai seorang anak perempuan. d.b. al-Bukhari-Muslim) (‫ه‬ َ ّ ‫مت‬ ِ ْ ‫ق عَل َهي‬ ٌ ‫ف‬ ُ ) Pada ayat 11 surat An-Nisa’ dijelaskan bahwa Allah mensyariatkan pembagian warisan untuk anak-anak yakni seorang anak laki-laki bagiannya sama dengan dua bagian anak perempuan. (HR. g. 6 . Berarti posisi ayah dalam hal ini adalah ahli waris yang menguasai sisa harta atau disebut `ashâbah. mahjûb dan kerabat lain (dzawul-arhâm). dengan syarat tidak punya ayah. Setelah itu ayat ini hanya menyebutkan bagian anak perempuan saja (1/2 atau 2/3). Dari sini kemudian dipahami bahwa ada ahli waris yang berstatus sebagai `ashâbah. tanpa menyebutkan bagian anak lakilaki. Dasar hukum `ashâbah adalah Al-Qur’an surat Al-Nisa’/4 ayat 11 dan ayat 176 juga hadis Rasulullah saw yang berbunyi: َ ‫فرئائض بأ‬ َ‫ل‬ َ َ َ َ َ ‫ر‬ ‫ف‬ ‫ك‬ ‫ذ‬ ‫ل‬ ‫ف‬ ‫ج‬ ‫ر‬ ‫ف ى‬ ‫ف‬ ‫ل‬ ‫دو‬ ‫و‬ ‫ف‬ ‫ه‬ ‫ف‬ ‫ي‬ ‫ق‬ ‫ب‬ ‫مٍتا‬ ‫ف‬ ‫هٍتا‬ ‫ل‬ ‫ه‬ ُ ‫ح‬ ِ ِ ْ ِ ْ ‫أ َل‬ ِ ُ َ َ ِ َ ِ َ َ ْ ‫قوئا ئال‬ ُ َ ٍ َ ْ َ َ ٍ “Sampaikanlah harta peninggalan kepada yang berhak. c. `Ashâbah adalah ahli waris yang menguasai seluruh harta peninggalan setelah seluruh ashhâbul-furûdl mendapatkan bagiannya masing-masing. e. Karena `ashâbah adalah orang yang menguasai sisa harta peninggalan maka ia selalu dihitung terakhir setelah ashhabul-furûdl mendapatkan bagiannya masing-masing. yaitu: 1. saudara laki-laki dan seterusnya. Kakek dari ayah mendapat 1/6 bila muwarrits punya anak/cucu. Namun bila muwarrits tidak mempunyai anak maka ibu mendapat 1/3 dan bagian ayah tidak disebutkan. bapak. sementara ayah baru menjadi `ashâbah jika muwarrits tidak meninggalkan anak / cucu laki-laki garis laki-laki. Namun bila muwarrits tidak mempunyai keturunan justru disebutkan bahwa saudara kandung menguasai sisa harta peninggalan (baca: `ashâbah) yang dipahami dari makna wa huwa yaritsuha. `Ashâbah dibagi menjadi tiga macam. Selain ahli waris yang bagiannya telah ditentukan besar-kecilnya dalam AlQur’an dan hadis Nabi di atas.

keponakan dari saudara perempuan. Saudara seayah mahjûb karena adanya saudara sekandung. dan bukan pula termasuk `ashâbah. saudara perempuan bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya. Di antara ahli waris yang mahjûb atau terhalang hak warisnya adalah: 1. maka sebagian harta warisnya (yakni: minimal 1/6) dibagikan ke kakek (ayahnya ayah). Ahli waris yang menghalangi hak kewarisan ahli waris jauh disebut hâjib (yang menghalangi). Konsekwensi hukum bagi yang berpendapat bahwa cucu mahjûb oleh paman yang berarti paman sebagai hâjib (penghalang) terhadap cucu yang lebih dulu ditinggal mati oleh ayahnya adalah cucu tidak bisa menggantikan posisi waris ayahnya bila ayahnya sudah meninggal. Pendapat seperti ini dianggap kurang adil karena ketika ayahnya si cucu meninggal. Sedangkan ada empat orang yang tidak pernah bisa mahjûb oleh siapapun. cucu laki-laki dari anak perempuan. Cucu mahjûb apabila masih ada anak dari muwarrits. para ulama sepakat bahwa cucu si muwarrits akan mahjub oleh ayahnya yang masih hidup yang merupakan anak si muwarrits. 7 . demikian seterusnya. namun ketika si kakek meninggal. Adapun dzawul-arhâm (secara bahasa: yang mempunyai hubungan rahim) menurut para fuqaha adalah kerabat muwarrits yang tidak mempunyai bagian tertentu (ashhabul-furûdl). `Ashâbah ma`al-ghayr ini khusus bagi saudara perempuan sekandung atau seayah bila bersamaan dengan anak perempuan yang tidak mempunyai saudara laki-laki. dan sebagainya. dan suami atau istri. namun tidak boleh lebih dari 1/3 harta waris. ibu. Istilah lain yang juga akan ditemui dalam waris adalah mahjûb (secara bahasa berarti: yang dihalangi/yang terhalang) yaitu terhalangnya hak waris ahli waris karena adanya ahli waris yang lebih dekat kekerabatannya dengan muwarrits (yakni : yang mewariskan).2. kenapa posisi cucu tidak dapat menggantikan posisi ayahnya yang sudah wafat lebih dahulu? Menurut pendapat kedua ini –untuk menjunjung nilai keadilan-. 3. Dalam konteks hujub (penghalangan). yaitu: anak. `Ashâbah bil-ghayr yaitu ahli waris perempuan yang baru akan menjadi `ashâbah bila bersamaan dengan saudara laki-lakinya (dari `ashâbah bin-nafs) yang sederajat. Saudara mahjûb karena adanya anak laki-laki (cucu dan seterusnya) atau ayah. Mereka terdiri dari paman (yakni saudara laki-laki ibu). Kakek dan nenek mahjûb apabila ada ayah karena ayah lebih dekat kekerabatannya dengan muwarrits yang telah meninggal. 4. Tetapi ulama berbeda pendapat tentang cucu yang mahjûb karena adanya anak si muwarrits (baca : paman) yang bukan merupakan ayah dari cucu si muwarrits. bibi (saudari ayah atau ibu). Pendapat inilah yang dipilih dan diterapkan di Mesir dalam Undang-undang Wasiat Nomor 71 tahun 1946. seperti: anak perempuan bila bersamaan dengan saudara lakilakinya. 2. 2 : 180) yang besarnya sama dengan perolehan jika ayah atau ibunya masih hidup.seharusnya cucu bisa menggantikan posisi waris ayahnya yang sudah wafat mendahului kakeknya dengan dasar sebagai wasiat wâjibah (QS.1 3. ayah. karena pamannya masih hidup.

Contoh: jika muwarrits tidak mempunyai keturunan (anak/cucu). Berapa bagian masing-masing ahli waris? Jawab: Ahli Waris Bagian AM(6) HP. kemudian menghilangkan ahli waris yang mahjûb. Jika ahli warisnya laki-laki maka bagiannya adalah dua kali dari bagian perempuan. ibu dan ayah masingmasing mendapat 1/6. 2 anak perempuan. Tahap III : Menentukan Asal Masalah (AM) yakni dengan mencari angka Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK) yang dapat dibagi habis oleh masing-masing angka penyebut dari bagian ahli waris. 30 juta.1 anak laki . Memperhatikan. Seorang meninggal dengan harta peninggalan Rp. Cara Praktis Membagi Harta Peninggalan Tahap I : Menghitung jumlah Harta Peninggalan (disingkat HP) secara keseluruhan dalam nilai dan mata uang yang berlaku di saat dan di tempat itu.. Ahli waris yang masih hidup adalah ayah. Namun bila muwarrits mempunyai keturunan.Cara mudah untuk mengingat bagian ahli waris. maka suami mendapat 1/4. Misal: I.” 2. Setelah itu menentukan bagian masing-masing ahli waris sesuai dengan bagian mereka. termasuk siapa ahli waris yang menjadi `ashâbah.Ibu 1/6 1 1/6 x 30 juta = Rp 5 juta . Jika ia punya saudara yang lain berarti warisan harus dibagi sama rata kecuali bila saudaranya itu berbeda jenis kelamin. Ada atau tidaknya keturunan muwarrits sangat berpengaruh pada sedikit atau banyaknya perolehan bagian ahli waris lainnya. 4 4/6 x 30 juta = Rp 20 juta .. dan ayah mendapat sisa. 3. Tahap II : Mendata ahli waris secara keseluruhan. ibu mendapat 1/3. sementara ahli warisnya adalah suami. Jenis kelamin ahli waris.Ayah 1/6 1 1/6 x 30 juta = Rp 5 juta . dan ayah menjadi ashabah atau secara gharrawain ibu mendapat 1/3 x sisa. Allah SWT berfirman dalam QS. bahkan bisa menghijab sebagian ahli waris yang jauh hubungan kekerabatannya. apakah laki-laki atau perempuan. Al-Nisa’/4: 11: “…bagian laki-laki adalah sama dengan bagian dua anak perempuan. Jumlah ahli warisnya.Saudara laki Mahjûb ____________________________ ُْ ‫ن‬ ِ ْ ‫… ئالن ْث َهي َهي‬ … ّ ‫ح‬ ُ ْ ‫مث‬ ‫ظ‬ ِ ِ ‫ر‬ َ ‫ل‬ ِ َ ‫للذ ّك‬ 8 . F. seorang anak laki-laki dan seorang saudara laki-laki. cukup dengan memperhatikan beberapa hal penting berikut ini. dan anak laki-laki menjadi `ashâbah.2 anak prm }Asbh. apakah hanya sendirian atau punya saudara yang lain. misalnya seorang anak laki-laki. apakah muwarrits mempunyai anak/cucu atau tidak. ibu. . yaitu: 1. ibu dan ayah maka suami mendapat 1/2.

5 juta x 2 = Rp. . sedang bagian 1 anak laki-laki adalah Rp. Untuk menyelesaikan masalah ini secara adil (proporsional) maka ulama fiqh umumnya menempuh cara `aul dan radd. 2.Saudara lk2.28 juta.Jumlah 6 Rp 30 juta Di sini anak perempuan menjadi `ashâbah karena bersama anak laki-laki.14 juta. Dengan demikian bagian masing-masing anak perempuan Rp. II. Penyelesaian masalah waris secara `Aul dan Radd Dalam pembagian harta waris. 5 juta. 30 juta : 14 = Rp. Jadi 10 bagian anak laki-laki + 4 bagian anak perempuan = 14 bagian. Ahli waris yang masih hidup adalah suami.Istri 1/4 3 3/12 x 24 juta = Rp 6 juta . 5 5/12 x 24 juta = Rp 10 juta Jumlah 12 Rp 24 juta III. . 10 juta. 20 juta : 4 = Rp.4 anak prm }Asbh. 4. Berapa bagian masing-masing ahli waris? Jawab: Ahli Waris Bagian AM(12) HP. 2. Dengan demikian bagian masing-masing anak perempuan Rp. 40 juta. Berapa bagian masing-masing ahli waris? Jawab: Ahli Waris Bagian AM(4) HP.Ibu 1/3 4 4/12 x 24 juta = Rp 8 juta . 3 3/4 x 40 juta = Rp 30 juta . dan saudara laki-laki. kadangkala terjadi kelebihan harta. Oleh karena bagian anak laki-laki sama dengan bagian 2 anak perempuan maka bagian 1 anak laki-laki dikalikan 2 bagian anak perempuan = 2. yakni terjadi kekurangan harta. sedang bagian 1 anak laki-laki adalah Rp. Seorang meninggal dengan harta peninggalan Rp.14 juta x 2 = Rp. 9 . Kedua langkah ini ditempuh karena bila diselesaikan menurut ketentuan baku maka akan mempersulit dalam pembagian sisa harta.Suami 1/4 1 1/4 x 40 juta = Rp 10 juta . `Aul adalah menambah angka asal masalah sebesar jumlah bagian ahli waris. Asb. Hal ini biasanya terjadi bila tidak ada ahli waris ashabah.5 anak laki . atau sebaliknya. Jadi 2 bagian anak laki-laki + 2 bagian anak perempuan = 4 bagian. Seorang meninggal dengan harta peninggalan Rp. 4 anak perempuan. 5 anak laki-laki dan 20 cucu laki-laki dan perempuan.Cucu laki & prm Mahjûb ____________________________ Jumlah 4 Rp 40 juta Oleh karena bagian anak laki-laki sama dengan bagian 2 anak perempuan maka bagian 5 anak laki-laki dikalikan 2 bagian anak perempuan = 10. Ahli waris yang ditinggalkan adalah seorang istri. ibu. 24 juta.

1/2 12 12/24 => 12/19 x jumlah HP= … .Ibu 1/3 2 2/6 x Rp.000. Masalah gharrawain ini terjadi bila ahli warisnya terdiri dari suami atau istri..Ibu 1/3 4 4/12 => 4/7 x jumlah HP = … 7 7/12 7/7 Atau: Ahli Waris Bagian AM(24) diraddkan menjadi 19 Penerimaan .000.Suami 1/2 3 3/6 => 3/7 x jumlah HP = … .Istri 1/4 3 3/12 => 3/7 x jumlah HP = … .-.2 Saudara prm.. Misal: Ahli Waris Bagian AM(12) diraddkan menjadi 7 Penerimaan .= Rp.000. 10. 2/3 4 4/6 => 4/7 x jumlah HP = … 7 7/6 7/7 Atau: Ahli Waris Bagian AM(24) diaulkan menjadi 27 Penerimaan .000.Kakek 1/6+Asb 4 4/24 => 4/27 x jumlah HP = … 27 27/24 27/27 Kebalikan dari `Aul adalah Radd.Suami 1/2 3 3/6 x Rp.000.000. ayah.000. 30. ibu dan ayah.Istri 1/8 3 3/24 => 3/27 x jumlah HP = … . Misal: Seorang meninggal dunia dengan meninggalkan ahli waris suami atau istri. 30. ibu. Misal: Ahli Waris Bagian AM(6) diaulkan menjadi 7 Penerimaan .Ibu 1/6 4 4/24 => 4/27 x jumlah HP = … . Apabila diselesaikan dengan penghitungan biasa. dan harta peninggalan Rp.Ibu 1/6 4 4/24 => 4/19 x jumlah HP = … 19 19/24 19/19 x jumlah HP = … Penyelesaian Masalah Waris Dengan Cara Gharrawain atau Umariyatain Gharrawain secara bahasa berasal dari kata ‫ر‬ ّ َ‫ غ‬berarti tipuan atau bintang cemerlang. dan karena cara penghitungan ini solusi cemerlang karena lebih adil (sesuai prinsip Al-Qur’an) dari pada cara penghitungan biasa..= Rp. Disebut demikian karena adanya semacam tipuan penghitungan kepada ahli waris ibu (1/3 x sisa). 15.000.000. Radd dilakukan untuk mengembalikan sisa harta pada ahli waris juga secara proporsional.Istri 1/8 3 3/24 => 3/19 x jumlah HP = … . maka akan ditemukan hasil seperti di bawah ini.4 anak prm.000. Penerimaan .1 anak prm. Ahli Waris Bagian AM(6) HP. 30.Langkah `aul ini diambil karena bila diselesaikan menurut ketentuan baku maka akan terjadi kekurangan harta.- 10 . 2/3 16 16/24 => 16/27 x jumlah HP = … . Cara penyelesaian secara gharrawain ini biasa juga disebut Umariyatain yang dikaitkan dengan penemunya Umar bin Khaththab yang punya pikiran bak bintang cemerlang.

500.000. tidak akan mendapatkan sisa dari harta peninggalan.000.000.000. Penerimaan .= Rp.Ibu 1/3 4 4/12 x Rp.000.Jumlah = Rp. Ahli Waris .000..= Rp.000.. 10.Ayah sisa 2/3 x Rp..500.Jumlah 12 = Rp.Ayah Asb 5 5/12 x Rp.-**= Rp.000. Penerimaan .500.2/3 x Rp. Ahli Waris Bagian AM(12) HP.000..000.= Rp.000.000.000.000. 15.1/3 x Rp.000.000.000. maka dua saudara seibu dan sekandung tersebut bergabung dalam 1/3 bagian itu.Suami 1/2 x Rp.-* = Rp. 30.000.000.Jumlah = Rp.Istri 1/4 3 3/12 x Rp. 30. 30 juta) Di sini ayah menerima dua kali bagian dari yang diterima ibu.000.= Rp. 15.ini adalah sisa dari penerimaan suami (1/2 x Rp..Ibu .000. 15. 7. 15.000.500. 30 juta) Di sini pun ayah menerima dua kali bagian dari yang diterima ibu sehingga sudah sesuai prinsip pembagian waris dalam Al-Qur’an.000. seibu 1/3 2 2/6 Bagian 1/4 1/3 x sisa sisa 11 .000.-**= Rp. Contoh penyelesaian biasa: Ahli Waris Bagian AM(6) Suami 1/2 3 3/6 Ibu 1/6 1 1/6 2 sdr.000.500. musyarakah berarti bersekutu atau bergabung. musyarakah adalah apabila ahli waris terdiri dari dua saudara seibu bersama dengan dua saudara sekandung (laki-laki/perempuan sama saja).500. Ahli Waris Bagian HP.000. 30. 30.000.000.000.= Rp.000..000.000.000... 30. yang dalam hal ini bertindak sebagai ‘ashâbah. 15. 10.Ibu 1/3 x sisa 1/3 x Rp. Penerimaan x Rp. suami dan ibu.000.000. sedangkan dari segi istilah. 30. 22. tapi tetap tidak sampai dua kali bagian dari ibu seperti prinsip pembagian waris dalam Al-Qur’an. 22.000.000.** Rp.000..000.Di sini ayah menerima separuh bagian yang diterima ibu sehingga tidak sesuai dengan prinsip pembagian waris dalam Al-Qur’an yang mengatur bagian laki-laki sama dengan bagian dua perempuan. 22. 12.. Sekarang masalah ini akan diselesaikan berdasarkan penghitungan gharrawain.* Rp.000. 5. 7. 30.ini adalah sisa dari penerimaan istri (1/4 x Rp. 30.Di sini ayah menerima lebih besar sedikit dari bagian ibu.000.-* = Rp. 5. 7.Jumlah 6 Rp.000..500.000.Ayah Asb 1 1/6 x Rp.= Rp. Penyelesaian Masalah Waris Dengan Cara Musyarakah Dari segi bahasa. 30. 30.Istri . Cara ini ditempuh karena bila diselesaikan dengan penghitungan biasa maka dua saudara sekandung.Bapak HP...000.000.

dan mazhab Syafi`iyyah. sekdg. Pendapat ini dipegangi antara lain oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Khalifah Umar bin Al-Khaththab pernah diprotes oleh dua orang saudara kandung. sekdg. MASALAH-MASALAH DALAM WARIS 1. sedang saudara dapat dihijab oleh ayah dan anak atau cucu laki-laki garis laki-laki. kakek hanya dapat dihijab oleh ayah. yakni dengan memberikan pilihan pada kakek 1/3 dari harta peninggalan jika saudara muwarrits hanya seorang. Akhirnya setelah mempertimbangkan secara seksama dan secara lebih adil. Asb --6 Akibat dari pembagian seperti ini. seayah dan seibu). Ibnu Umar. kelompok ushul harus lebih didahulukan dari kelompok cabang. maka dia menggantikan posisi ayah sehingga bisa menghijab saudara sekandung dan saudara seayah. Dalam penerimaan `ashâbah. Zaid Bin Tsabit. tapi tidak dapat menghijab saudara sekandung dan seayah. Dalam hal ini ada dua sistem pembagian waris. Kakek hanya dapat menghijab saudara seibu. namun jika saudara muwarrits lebih dari seorang maka penghitungan secara muqasamah (berbagi sama dengan saudara-saudara). 1. Hak Waris Janin 12 . Imam Malik. 1 1/6 6 Masalah Kakek Bersama Saudara Para ulama berbeda pendapat dalam masalah bagian waris kakek (ayah dari ayah) bila tidak ada hajib (yang menghalangi yakni ayah atau anak) dan ia bersama dengan saudara (sekandung. Alasan mereka karena hubungan kakek lebih dekat dari pada saudara yaitu pertama. seibu 1 1/6 >1/3 < 2 sdr. 2. dan Ahmad bin Hanbal. dan karenanya saudara dapat mewarisi bersama kakek. Ibnu Abbas. Ibnu Mas`ud. Kedua. H. Abu Hanifah. Imam Syafi`i. Kedudukan kakek bila tidak ada ayah. Jumhur Ulama memilih pendapat kedua. Alasan mereka bahwa kedekatan hubungan keduanya adalah sama. Khalifah Umar memutuskan bahwa dua saudara sekandung bersekutu bersama dua saudara seibu dalam 1/3 bagian. kakek adalah kelompok ushul (pokok) sedang saudara adalah kelompok cabang (samping). Contoh penyelesaian secara musyarakah: Ahli Waris Bagian AM(6) Suami 1/2 3 3/6 Ibu 1/6 1 1/6 2 sdr. namun mereka menghendaki kakek tetap harus lebih diutamakan dan diuntungkan dari pada saudara. Pendapat ini dipegangi antara lain oleh Ali bin Abi Thalib.2 sdr.

2. maka ahli waris banci (khuntsa) diberikan warisan sesuai dengan jenis kelamin sebenarnya. Cara penghitungannya yakni dengan memberikan bagian yang paling menguntungkan pada janin dari dua perkiraan. Hak Waris Banci Dalam kasus seperti ini. 13 .Janin tetap dapat menjadi ahli waris bila telah lahir.

230-233. Idris Ramulyo..M. 1994. 99100 dan hlm. Jakarta: Sinar Garafika. 1 . Perbandingan Pelaksanaan Hukum Kewarisan Islam. hlm.