You are on page 1of 27

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN EKLAMSI

Disusun oleh : S1 tingkat 3B Dwi Firnanda Dwi Prasetyo Eni Pujiati Etik Sukmawati Fitri Aprilina Hadi Susanto Hadiyatulloh Heni Sulfiana Ike Nurjanah Indah Farida Indri Tri Astuti NIM (2008.02.061) NIM (2008.02.062) NIM (2008.02.064) NIM (2008.02.065) NIM (2008.02.066) NIM (2008.02.067) NIM (2008.02.068) NIM (2008.02.069) NIM (2008.02.071) NIM (2008.02.071) NIM (2008.02.072)

Elok Faiqotus Hima NIM (2008.02.063)

S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BANYUWANGI 2010

KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas “Keperawatan Maternitas” dengan baik. Adapun tujuan penyusunan karya tulis ini adalah untuk melengkapi tugas pertama dalam mata kuliah Keperawatan Maternitas. Dalam penyusunan karya tulis ini tak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dalam pembuatan tugas ini, terutama yang terhormat kepada: 1. Bapak Drs. H. Soekardjo MBA.MM . selaku Direktur STIKES Banyuwangi. 2. Ibu Ukhtul Izzah, S. Kep. Ners selaku Dosen mata kuliah Keperawatan Meternitas 3. Teman-teman kami dan semua pihak yang mendukung terselesaikannya karya tulis ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan. Karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kesempurnaan makalah ini.Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca pada umumnya.

Banyuwangi, September 2010

Penulis

PENUTUP 3.7. Manifestasi Klinis 2.1. Diagnosa Keperawatan 2.4.2. Latar belakang 1.6.1. Pemeriksaan peunjang 2. Tujuan Penelitian BAB II.DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I. Komplikasi 2.5. PENDAHULUAN 1.3. Intervensi Keperawatan BAB III.1 Kesimpulan 3. Penatalaksanaan 2.9.2. PEMBAHASAN 2. Patofisiologi 2.2 Saran BAB IV TINJAUAN KASUS 1 1 i ii iii . Etiologi 2. Pengertian 2.8.

1998 ). Perawatan pada bulin dengan eklamsia merupakan salah satu usaha nyata yamg dapat dilakukan untuk mencegah timbulnya komplikasi-komplikasi sebagai akibat lanjut dari eklampsia tersebut.1 Latar belakang Eklampsia merupakan penyulit dalam proses persalinan yang kejadiannya senantiasa tetap tinggi. 1. Dapat menetapkan perencanaan pada ibu bersalin dengan eklampsia Dapat menerapkan rencana perawatan pada ibu bersalin dengan eklampsia . Tingginya angka kejadian eklampsia dapat mengancam hidp eklampsi yang tidak terkontrol memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap tingginya angka kematian.3 Tujuan Tujuan Instruksional Umum Untuk memberikan Asuhan Keperawatan kepada ibu bersalin dengan eklampsia Tujuan Instruksional Khusus a. Dengan besarnya pengaruh eklampsia terhadap tingginya tingkat kematian bulin.BAB I PENDAHULUAN 1. Masih tingginya angka kejadian ini dapat dijadikan sebagai gambaran umum tingkat kesehatan ibu bersalin dan tingkat kesehatan masyarakat secara umum.2 Batasan Masalah Batasan makalah yang kami pakai dalam makalah ini adalah tentang ” Eklamsia ” 1. maka sudah selayaknya dilakukan upaya untuk mencegah dan menanganikasus-kasus eklampsia. Dapat melakukan pengkajian pada ibu bersalin dengan eklampsia Dapat menentukan masalah keperawatan pada ibu bersalin dengan eklampsia c. d. b. 12 % terjadi pada primi gravida. Dari kasus tersebut 6 % terjadi pada semua persalinan. Dari kasus persalinan yang dirawat di rumah sakit 3-5 % merupakan kasus eklampsia ( Manuaba.

Eklamsia gravidarum (50 %) Eklamsi (kejanag) yang terjadi pada usia kehamilan 28 minggu. Dan terjadi saat inpartu dimana batas dengan eklamsi gravidarum sukar dibedakan terutama saat inpartu.7 %. Sebab bertambahnya frekuensi pada primigraviditas. dan mola hidatidosa. 1.1 Pengertian Eklamsia adalah preeklamsia berat yang dilanjutkan dengan keadaan kejang dan/atau sampai koma. hidramnion. Eklamsia puerperium (10 %) Eklamsi (kejang) yang terjadi pada masa nifas 40 hari setelah melahirkan. Sebelum kejang. oedema dan proteinuria (Obtetri Patologi.e. kondisi ini didahului dengan gejala subjektif. 1981 ). Sulaeman Sastrowinata. kehamilan ganda. Eklamsi lebih sering terjadi pada primigravidarum dari pada multipara (Obtetri Patologi.0. 2. yaitu nyeri kepala di daerah frontal. penglihatan semakin kabur. 3. Eklamsia parturien (40 %) Eklamsi (kejang) yang terjadi ketika proses persalinan.2 Etiologi Penyebab eklampsi dan pre eklampsi sampai sekarang belum diketahui. Insiden eklamsia di negara berkembang berkisar antara 0. nyeri episgastrium.R. Tetapi ada teori yang dapat menjelaskan tentang penyebab eklampsi dan pre eklampsi yaitu : a. 1981 ). Sulaeman Sastrowinata. Eklamsi adalah Penyakit akut dengan kejang dan coma pada wanita hamil dan dalam nifas dengan hipertensi.R. Dapat melakukan evaluasi pada ibu bersalin dengan eklampsia BAB II TINJAUAN TEORI 2. 2. dan terdapat mual muntah dan hasil pemeriksaan menunjukkan hiper-refleksia atau mudah terangsang. .3 % .

BBLR . proteinuria.3 Patofisiologi Hipertensi Pe perfusi placenta Protein uria Spasme ginjal aliran darah filtrasi glomelurus protein urin Otak aliran darah ke otak Paru aliran pembuluh darah Hati fungsi jar. Sebab timbulnya hipertensi. Sebab bertambahnya frekuensi yang makin tuanya kehamilan c. kejang dan koma 2.4 Manifestasi Klinis . Sebab dapat terjadinya perbaikan keadaan penderita dengan kematian janin dalam uterus d.b. edema. Hati odema uri/placenta PD pe aliran darah perfusi jaringan (G3 placenta) G3 pada janin ( pertumbuhan ) rahim pe reflek penyempitan bayi prematur (BBLR) odema cerebri tekanan intrakranial Kejang (eklamsi) O2 me decom cordis nyeri uluh hati G3 nyaman nyeri b/d kerusakan kortekx otak sesak hipoxia hipoxia b/d menurunnya O2 ke otak Gawat janin kematian janin . Sebab jarangnya terjadi eklampsi pada kehamilan – kehamilan berikutnya e.Prematur Hipoksia Hipotermi Asphiksia (asma) 2.

Komplikasi ibu  Sianosis  Aspirasi air ludah menambah gangguan fungsi paru  Perdarahan otak dan kegagalan jantung mendadak  Lidah tergigit  Jatuh dan terjadi perlukaan dan fraktur  Gangguan fungsi ginjal  Perdarahan atau abrasio retina  Gangguan fungsi hati dan menimbulkan ikterus 2.1. Tensi diatas 160 mmHg 5. Proteinuria 10 gram sehari atau lebih 7.  Jika deuresi lebih dari 800 cc dalam 24 jam atau 200 cc tiap 6 jam maka prognosa agak membaik.  Multipara usia diatas 35 keadaan waktu MRS mempengaruhi prognosa lebih buruk 2. Nadi diatas 120 3. Koma lama 2.5 Komplikasi 1. Komplikasi janin dalam janin  Asfiksia mendadak .  Sebaliknya oliguri dan uri merupakan gejala yang buruk. Suhu diatas 39°c 4. Lebih dari 10 serangan 6. Tidak adanya edema (Gejala-gejala yang memberatkan Prognosa Oleh Eden)  Oedema paru dan apopleksi merupakan keadaan yang biasanya mendahului kematian.

Rasa sakit yang disebut after pains ( meriang atau mulesmules) disebabkan koktraksi rahim biasanya berlangsung 3 – 4 hari pasca . Perubahan pada cervix dan vagina Beberapa hari setelah persalinan ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari. Penghancuran jaringan tersebut akan diserap oleh darah kemudian dikeluarkan oleh ginjal yang menyebabkan ibu mengalami beser kencing setelah melahirkan. Pada minggu ke 3 post partum ruggae mulai nampak kembali. Karena hiperplasi ini dan karena karena retraksi dari cervix. Vagina yang 1 jari saja. dan jaringan otot yang membesar menjadi lebih panjang sepuluh kali dan menjadi lima kali lebih tebal dari sewaktu masa hamil akan susut kembali mencapai keadaan semula. pada akhir minggu pertama dapat dilalui oleh sembuh. Proses involusi terjadi karena adanya: a.6 Pemeriksaan Penunjang 1. 2. c. robekan cervix jadi sangat diregang waktu persalinan. Karena kontraksi dan retraksi menyebabkan terganggunya peredaran darah uterus yang mengakibatkan jaringan otot kurang zat yang diperlukan sehingga ukuran jaringan otot menjadi lebih kecil. Autolysis yaitu penghancuran jaringan otot-otot uterus yang tumbuh karena adanya hiperplasi. Aktifitas otot-otot yaitu adanya kontrasi dan retraksi dari otot-otot setelah anak lahir yang diperlukan untuk menjepit pembuluh darah yang pecah karena adanya pelepasan plasenta dan berguna untuk mengeluarkan isi uterus yang tidak berguna. b. lambat laun mencapai ukuran yang normal. Solusio placenta  Persalinan prematur 2. Involusi adalah perubahan yang merupakan proses kembalinya alat kandungan atau uterus dan jalan lahir setelah bayi dilahirkan hingga mencapai keadaan seperti sebelum hamil. Ischemia yaitu kekurangan darah pada uterus yang menyebabkan atropi pada jaringan otot uterus.

1998: 193) 4. Untuk memulihkan kembali sebaiknya dengan latihan-latihan pasca persalinan. Lochia Lochia adalah cairan yang dikeluarkan dari uterus melalui vagina dalam masa nifas. Lochia serosa berwarna kekuningan dari hari ketujuh sampai hari keempat belas. Lochia bersifat alkalis. Sistim Kardiovasculer Selama kehamilan secara normal volume darah untuk mengakomodasi penambahan aliran darah yang diperlukan oleh placenta dan pembuluh darah uterus. Lochia alba berwarna putih setelah hari keempat belas. Lochia ini berbau anyir dalam keadaan normal. sisa darah dan keluar mulai hari pertama sampai hari ketiga. sisa mekonium. biasanya akan pulih dalam 6 minggu. mulai hari ketiga sampai hari ketujuh. Selama ini klien mengalami sering kencing. Penurunan dari estrogen mengakibatkan diuresis yang menyebabkan volume plasma menurun secara cepat pada kondisi normal. Dinding perut dan peritonium Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama.Tidak jarang uterus jatuh ke belakang menjadi retrofleksi karena ligamentum rotundum jadi kendor. Perlu diberikan pengertian pada ibu mengenai hal ini dan bila terlalu mengganggu analgesik. jumlahnya lebih banyak dari darah menstruasi. tetapi tidak busuk. Ligamen fascia dan diafragma pelvis yang meregang pada waktu partus setelah bayi lahir berangsur angsur mengecil dan pulih kembali.( Cunningham. Pengeluaran lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya yaitu lokia rubra berwarna merah dan hitam terdiri dari sel desidua. 1998: 130) 5.( Rustam M. Penurunan progesteron membantu mengurangi .persalinan. 430) 3. Lochia sanginolenta berwarna putih bercampur merah . Keadaan ini terjadi pada 24 sampai 48 jam pertama setelah kelahiran.(Manuaba. verniks kaseosa. rambut lanugo.

( V Ruth B. Diagnosa Banding 1.8 Prognosis Eklamsi adalah suatu keadaan yang sangat berbahaya. 8.( V Ruth B. reduksi. 1996: 230) 7. sedimen urin USG Darah: trombosit. Puncak dari aktifitas ini terjadi pada hari pertama post partum. kreatinin. Ginjal Aktifitas ginjal bertambah pada masa nifas karena reduksi dari volume darah dan ekskresi produk sampah dari autolysis.9 Diagnosa Keperawatan 1. Epilepsi 3. maka prognosa kurang baik untuk ibu maupun anak. ureum. Meningitis atau encefalitis ( pungsi lumbal) 2. LDH dan bilirubin 2. 1996: 230) 6. 9. 2. Tetanus ( anamnesa epilepsi + ) ( kejang tonik atau kaku kuduk) 4. Urin: protein. Kejang b/d peningkatan tekanan darah .7. usia dan keadaan saat masuk rumah sakit. bilirubin.retensi cairan sehubungan dengan penambahan vaskularisasi jaringan selama kehamilan. SGOT. Febrile convulsion ( panas +) 2. Prognosa dipengaruhi oleh paritas.

Gangguan kejang b/d perubahan perfusi jaringan • Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak kejang lagi • Kriteria hasil : a. Hipoksia b/d penurunan oksigen ke otak atau odem paru • Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan oksigen klien dapat dipenuhi . Nyeri uluh hati b/d penurunan jaringan hati 2. Observasi TTV R: Memantau keadaan kondisi klien 2. TTV dalam batas normal Keluarga klien mengatakan klien sdah tidak kejang lagi • Intervensi : a. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian MGSO4 (obat anti kejang) R: Kejang dapat berkurang atau berhenti d. Jelaskan keadaan klien pada keluarga R: Keluarga tahu mengenai keadaan klien c. G3 hipoxia b/d penurunan O2 ke otak 3.2.10 Intervensi Keperawatan 1. b. Membina hubungan saling percaya antara pasien dan perawat R: Mempermudah tindakan keperawatan b.

TTV dalam batas normal • Intervensi : a. Melakukan pendidikan distraksi dan relaksasi kepada klien. c.sisa kejang 3. Nyeri uluh hati b/d penurunan jaringan hati • Tujuan : Setelah tindakan keperawatan dilakukan nyeri dapat berkurang • Kriteria hasil : a. Atur posisi klien R : Mempermudah proses pernafasan dan aliran oksigen ke otak b. Pemberian saction R : Membersihkan jalan nafas dari secret sisa. Observasi TTV R : Memantau keadaan atau kondisi kalien Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik R : Dengan pemberian analgetika oral atau sistemik nyeri akan semakin cepat teratasi d.• Kriteria hasil : a. Keluarga mengatakan klien sudah mulai sadar b. TTV dalam batas normal • Intervensi : a. . Terangka nyeri yang diderita klien dengan penyebabnya R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri b. Klien mengatakan nyeri sudah berkurang b. Pemberian oksigen R : Memenuhi kebutuhan oksigen c.

R : klien dapat sedikit melupakan akan nyeri yang diderita .

1. Agama e. blok E8 : IRT ( ibu rumah tangga ) : 10101011 : 10 Oktober 2010 : 10:10 WIB : 10 Oktober 2010 : Eklamsia . Nama b. Umur c. Suku bangsa f. Alamat g. Nama b. Agama : Tn. A : 27 th : Perempuan : Islam : Jawa Indonesia : Perum Gentengan Asri. Diagnosa medis Identitas Penanggung Jawab a. Tanggal pengkajian l. Pekerjaan h.ASUHAN KEPERAWATAN TINJAUAN KASUS A. Pukul k. Nomor register i. Umur c. PENGKAJIAN Biodata Identitas Pasien a. B : 30 tahun : Islam : Ny. Tanggal MRS j. Jenis kelamin d.

Kawin ke Lama kawin c. Keluhan utama 1) Keluhan saat MRS Keluarga Klien datang ke klinik karena klien mengalami nyeri hebat bagian epigastrium terasa seperti ditusuk. blok E8 i. Alamat : Wiraswasta : SLTA : Kawin : Jawa Indonesia : Perum Gentengan Asri.d. Pekerjaan e. Status perkawinan g. Hubungan dengan pasien : Suami Pasien B. Suku bangsa h. hari 3-7 ganti 2x pembalut : coklat tua : anyir : tidak : tidak : 14 maret 2010 Status perkawinan Umur kawin : 24 tahun . Menarce Siklus Lamanya Banyaknya Warnanya Baunya Disminore Flour albus HPHT b. Riwayat kebidanan Sekarang a. Pendidikan f. 2) Keluhan saat pengkajian Keluarga Klien mengatakan nyeri pada perut bagian kanan atas/ epigastrium C.tusuk dan kejang. Hamil ke Usia Kehamilan ANC TM1 + keluhan TM II+ keluhan :1 : 1 bulan Riwayat kehamilan sekarang :1 : 30 minggu : 1-2x mual+muntah dalam 1 hari :Riwayat menstruasi : 13 tahun : teratur 28 hari : 7 hari : hari 1-2 ganti 3x pembalut.

klien tidak berpantang makan. kencing manis. nyeri akan terasa lebih sakit saat dibuat berjalan dan beraktivitas lainnya. gondok. Pola kebiasaan sehari. Nyeri terasa seperti ditusuk-tusuk dan diremas-remas pada perut bagian bawah. analgesik 3x1 hari. klien tidak mengalami gangguan nafsu makan. sampai diUGD pasien mengalami nyeri dengan skala hebat. infus RL 12 tpm. paru. E.TM III+ keluhan : 1-2x mual+muntah dalam 1 hari : Fe&suplemen :: 2x(sebelum menikah dan saat hamil) :perawatan/cara menjaga kehamilan serta gizi pada bayi dan ibu hamil Obat-obatan yang pernah didapat Gerakan pertama kali dirasakan Imunisasi TT Penyuluhan yang pernah didapat d. dengan cukup lauk pauk dan sayuran. Klien mengalami nyeri hebat dan kejang. Riwayat Kesehatan 1) Riwayat kesehatan sekarang Keluarga Klien mengatakan nyeri pada perut bagian atas epigasrtrium mulai tanggal 10 Oktober 2010 jam 10:10. dan mempunyai riwayat hipertensi. nyeri terasa lebih bekurang apabila dibuat istirahat. 2) Riwayat Kesehatan Klien menyatakan tidak menderita penyakit jantung. Mg SO4 ( untuk mencegah dan mengatasi kejang ).10.hari 1. e. Pola Nutrisi  Sebelum sakit Klien makan 3 kali sehari. kemudian klien diantar suaminya untuk memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit Umum Blambangan pada tanggal 10 Oktober 2010 pukul 10.  Saat sakit . kemudian ibu diberi terapi kompres air dingin. Riwayat kehamilan persalinan dan nifas yang lalu Pasien mengatakan ini kehamilan pertama Riwayat KB Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan KB apapun D.

4. ganti baju 2 kali dalam sehari. Pola Aktivitas  Sebelum sakit Sebagai ibu rumah tangga. gosok gigi 2 kali dalam sehari. dengan cukup lauk pauk dan sayuran. dengan bercampur darah dan khas bau urine dan darah segar. klien menjalankan aktivitas seperti biasanya. berbau khas feses. 2.  Saat sakit Klien mengatakan hanya diseka 2 kali dalam sehari. konsistensi lunak berwarna kunung. konsistensi lunak berwarna kunung. ganti baju 2 kali dalam sehari.Klien makan 1-2 kali sehari dengn nafsu makan menurun.2 kali dalam sehari. • BAB  Sebelum sakit Klien mengatakan BAB 1kali dalam sehari. keramas jika rambutnya kotor. klien tidak berpantang makan. klien tidak mengalami gangguan nafsu makan. 3. Pola kebersihan diri  Sebelum sakit Klien mengatakan mandi 3 kali dalam sehari. • BAK  Sebelum sakit Klien mengatakan BAK 3. berbau khas feses. potong kuku jika kukunya panjang. Klien mengatakan BAK 1. gosok gigi 2 kali dalam sehari. Saat ini klien merasa nyeri pada perut bagian bawah walaupun tidak terlalu Pola eliminasi .  Saat sakit.4 kali dalam sehari.  Saat sakit Klien mengatakan BAB 2 hari 1 kali. dengan warna kuning dan khas bau urine.

penglihatan baik.  Saat sakit Klien mengatakan sulit tidur karena cemas dengan keadaanya saat sekarang. penyebaran rata dan warna hitam. 2.  Saat sakit Klien hanya berbaring di tempat tidur (bedrest total). 5. tidak ada lesi. kotor. Pola istirahat dan tidur  Sebelum sakit Klien mengatakan tidur 7. bulu mata tidak rontok. 3.mengganggu kegiatan sehari-hari. ±2. warna skera putih. tidak ada tonjolan dan tidak ada nyeri tekan dan rambut tidak rontok.8 jam pada pukul 21:00 dan bangun pada pukul 05:00. Pemeriksaan cepalo caudal 1. kepala dan Rambut Bentuk kepala oval.3jam/ hari F. bentuk rambut bergelombang. Telinga .tiba. Nyeri yang timbul terasa lebih berat saat merubah posisi tubuh dengan cepat dan tiba.tidak ada nyeri tekan. Mata Bentuk simetris. Pemeriksaaan Fisik K/u Kesadaraan Umum Tekanan Darah S Nadi RR Konjungtiva Sclera Warna kulit : : : : : : : : : Lemah Composmentis 210/150 mmHg 40˚c 140 X/menit 14X/ menit normal Putih agak pucat G.

tidak ada stomatitis. Hidung Bentuk hidung simetris. tidak adanya perdarahan. kuku dan kekuatan otot Ekstermitas atas masih bisa di gerakkan dengan baik. Palpasi Leopold I : tinggi Fundus Uteri : 3 Cm diatas simpisis pubis Periksa Dalam (Vaginal Toucher) : Vaginal Toucher Portio : : : : : : tidak ditemukan fluks Lunak. tidak ada lesi. 4. tidak adanya cuping hidung. Auskultasi: Doppler tidak dilakukan 9. Striae pada perut sedikit b.Inspekulo TFU l. Leher dan tenggorokan Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar tyroid ataupun vena jugularis. 7. warna sama dengan kulit sekitar. tidak ada suara tambahan.Bentuk telinga simetris. tidak ada peradangan. Inspeksi : Pembesaran relatif abdomen.Cavum Uteri . vocalfremitus ka/ki sama. arel mamae menghitam. Pembukaan 1 Cm .kuningan. pendengaran baik. . dan tidak ada nyeri tekan. Linea alba tidak ada. Mulut dan Gigi Mukosa bibir lembab. 5. tidak terdapat suara tambahan Abdomen a. • Ekstermitas. nyeri goyang (-). c.k 8 – 10 Cm Nyeri tekan (-) Massa (-) tidak menonjol Fleks (+) Auskultasi : 8. tidak ada benda asing. tidak ada nyeri tekan. bentuk dada simetris. warna gigi kekuning. tidak ada nyeri tekan. ukuran sedang.Adnexia Parametrium ka/ki . Inspeksi Palpasi : : Dada dan Torak mamae membesar dan puting susu menonjol. 6.Cavum Douglas .

• • • Ektermitas bawah bengkak Kuku pendek dan bersih Kekuatan otot: 3 3 3 3 H. Pemeriksaan Penunjang Hemoglobin Albuminnuria Protein urine : : : 10 mg% ++ +++ .

k/u: lemah . DS: Keluarga mengatakan klien kejang DO : k/u: lemah TTV: T : 190/120 mmHg N : 140X/mnt RR : 30X/mnt S : 38˚c .Wajah pucat TTV: T : 190/120 mmHg N : 140 X/mnt RR : 30 X/mnt S : 38˚c .Kesadaran : apatis . DS: Keluarga mengatakan klien masih belum sadar DO: .Skala nyeri 8 Etiologi Spasme PD di otak aliran darah me odema selebri tekanan intra kranial kejang spasme PD di paru aliran pembuluh darah dekom cordis odema paru O2 sesak hipoksia G3 hipoxia b/d penurunan O2 ke otak spasme PD di hati fungsi jaringan di hati odema hati perdarahan subkapular nyeri epigastri uterus (nyeri uluh hati) Nyeri uluh hati b/d penurunan jaringan hati .TTV: T : 190/120 mmHg N : 100X/mnt RR : 30X/mnt S : 38˚c . 10 mg% . DS: Klien mengatakan nyeri uluh hati DO : .pemeriksaan dada/thoraks .Hb.Nyeri tekan pada uluh hati .auskultasi 3.Kejang (+) .cyanosis .ANALISA DATA Masalah Keperawatan Kejang b/d peningkatan tekanan darah Data 1.perkusi .Inpartu G1P 00 2.k/u:lemah .Kesadaran : apatis .

Diagnosa Keperawatan : 1. G3 hipoxia b/d penurunan O2 ke otak 3. Kejang b/d peningkatan tekanan darah 2. G3 rasa nyaman nyeri (uluh hati) b/d penurunan perfusi jaringan hati .

TTV dalam batas normal b. Membina hubungan saling percaya antara pasien dan perawat R: Mempermudah tindakan keperawatan b. Jelaskan keadaan klien pada keluarga R: Keluarga tahu mengenai keadaan klien . Gangguan kejang b/d perubahan perfusi jaringan • Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak kejang lagi • Kriteria hasil : a.RENCANA KEPERAWATAN 2. Keluarga klien mengatakan klien sdah tidak kejang lagi • Intervensi : a.9 Intervensi keperawatan 1.

Atur posisi klien R : Mempermudah proses pernafasan dan aliran oksigen ke otak b. Keluarga mengatakan klien sudah mulai sadar b. Observasi TTV R: Memantau keadaan kondisi klien 2. G3 rasa nyaman nyeri (uluh hati) b/d penurunan perfusi jaringan hati • Tujuan : Setelah tindakan keperawatan dilakukan nyeri dapat berkurang • Kriteria hasil : a. Hipoksia b/d penurunan oksigen ke otak atau odem paru • Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan kebutuhan oksigen klien dapat dipenuhi • Kriteria hasil : a. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian MGSO4 (obat anti kejang) R: Kejang dapat berkurang atau berhenti d. TTV dalam batas normal • Intervensi : a. TTV dalam batas normal • Intervensi : a. Klien mengatakan nyeri sudah berkurang b. Pemberian oksigen R : Memenuhi kebutuhan oksigen 3.c. Terangka nyeri yang diderita klien dengan penyebabnya .

R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan guidance mengatasi nyeri b. Observasi TTV R : Memantau keadaan atau kondisi kalien c. Melakukan pendidikan distraksi dan relaksasi kepada klien. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgetik R : Dengan pemberian analgetika oral atau sistemik nyeri akan semakin cepat teratasi d. Kaji tingkat nyeri klien R : mempermudah dalam mengetahui skala nyeri yang dirasakan klien . R : klien dapat sedikit melupakan akan nyeri yang diderita e.

Melekukan pendidikan distraksi dan relaksasi kepada klien. reg : 10101011 Tgl Jam No. BHSP 5 2. 2.IMPLEMENTASI Nama : Ny. Lakukan kolaborasi pemberian analgetik . Observasi TTV 3. Terangka nyeri yang diderita klien dengan penyebabnya 2. TTD 10/10 10:4 1 1. Mengukur TTV 3. Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian MGOS4 (obat anti kejang) 10/10 11:0 0 2 1. 4. dx Tindakan kep. Memposisikan klien semi fowler/ fowler Memberikan oksigen Observasi TTV Pemberian suction 10/10 11:20 3 1. Y No. 3. 4.

12 mg% A: Masalah teratasi P: Lanjutkan intervensi Ds: Keluarga mengatakan klien sudah mulai sadar Do: k/u: lemah .k/u: lemah .TTV: T : 190/120 mmHg N : 100X/mnt RR : 30X/mnt S : 38˚c .Hb.Hb.perkusi .EVALUASI Nama : Ny.Kesadaran : apatis .Skala nyeri 8 A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi 2 3 A: Masalah teratasi sebagian P: Lanjutkan intervensi Ds: Klien mengatakan sudah tidak nyeri DO : .k/u: baik .pemeriksaan dada/thoraks .Kejang (+) .cyanosis .TTV: T : 150/110 mmHg N : 98X/mnt RR : 16X/mnt S : 37˚c A: Masalah teratasi P: Hentikan intervensi . 10 mg% .Y No.Wajah pucat TTV: T : 190/120 mmHg N : 140 X/mnt RR : 30 X/mnt S : 38˚c .k/u:lemah . reg No 1 : 10101011 Tgl 30/10/10 Ds: Keluarga mengatakan klien sudah tidak kejang Do: k/u: cukup TTV: T : 150/110 mmHg N : 98X/mnt RR : 16X/mnt S : 37˚c .Kesadaran : apatis Inpartu G1P 00 A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi Ds: Keluarga mengatakan klien masih belum sadar DO: .Nyeri tekan pada uluh hati .Wajah agak pucat TTV: T : 150/110 mmHg N : 98X/mnt RR : 16X/mnt S : 37˚c Tgl 10/10/10 Ds: Keluarga mengatakan klien kejang DO : k/u: lemah TTV: T : 190/120 mmHg N : 140X/mnt RR : 30X/mnt S : 38˚c .auskultasi A: Masalah belum teratasi P: Lanjutkan intervensi Ds: Klien mengatakan nyeri bagian kepala DO : .