Akhir-akhir ini banyak kalangan masyarakat yang menyoroti profesi dokter, baik sorotan yang disampaiakn secara

langsung ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai induk organisasi profesi dokter, ke rumah sakit dimana dokter tersebut bekerja, maupun yang disiarkan melalui media cetak dan media elektronik. Seharusnya IDI menganggap sorotan-sorotan tersebut sebagai suatu kritik yang konstruktif terhadap profesi kedokteran, dan diharapkan agar para dokter dapat meningkatkan pelayanan profesi kedokterannya sesuai dengan harapan masyarakat. Kritik yang muncul tersebut hanya merupakan puncak gunung es artinya masih banyak kritik yang tidak muncul ke permukaan karena keengganan pasien atau keluarganya untuk menyatakannya, atau karena pasien atau keluarganya menganggap apa yang dialaminya tersebut merupakan sesuatu yang wajar dan memang begitulah perawatan dokter di Indonesia. Sebenarnya sorotan masyarakat terhadap profesi dokter merupakan satu pertanda bahwa pada saat ini sebagaian masyarakat belum puas terhadap pelayanan dan pengabdian para dokter kepada masyarakat umumnya atau pada pasien khususnya, sebagai pengguna jasa para dokter. Pada dasarnya ketidakpuasan para pasien atau keluarga pasien terhadap pelayanan dokter disebabkan karena harapannya tidak dapat dipenuhi oleh para dokter, atau dengan kata lain terdapat kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang didapatkan oleh pasien atau keluarganya. Istilah malpraktek yang dipahami masyarakat dan media massa berbeda dengan malpraktek yang biasa digunakan di bidang kedokteran. Malpraktek adalah suatu istilah yang mempunyai konotasi buruk, praktek buruk dari seseorang yang memegang suatu jabatan profesi dalam arti umum, dan tidak hanya kedokteran saja. Bila malpraktek ditujukan kepada profesi dokter maka disebut malpraktek medik. Namun ternyata dimana-mana juga diluar negeri istilah malpraktek selalu diasosiasikan kepada profesi dokter. Dalam sistem perundang-undangan di Indonesia saat inipun belum ada pengaturan tentang malpraktek medik. Sehingga bila ada suatu tuntutan, tuduhan atau gugatan malpraktek kedokteran, penyelesaian dapat melalui berbagai peraturan perundangan yang ada, dapat melalui jalur pidana, perdata, perlindungan konsumen, Majelis disiplin, atau peraturanperaturan lainnya. Masyarakat dan media menganggap bahwa setiap hasil perawatan dokter yang tidak sesuai dengan harapan, misalnya tidak sembuh, kecacatan atau kematian adalah malpraktek. Sebagian pihak kepolisian atau kejaksaan biasanya berpendapat bahwa kematian atau kecacatan pada perawatan dokter pasti bukan suatu kesengajaan, jadi tidak merupakan malpraktek. Akan tetapi pihak kepolisian atau kejaksaan kadang-kadang menganggap bahwa kematian atau kecacatan pada perawatan oleh dokter mungkin akibat suatu kelalaian atau

kealpaan (negligence) dan dapat diproses dengan menggunakan KUHP pasal 359, pasal 360, dan pasal 361, yaitu kealpaan yang menyebabkan kematian atau kecacatan. Beberapa pengacara menganggap bahwa semua perawatan dokter yang menimbulkan kerugian terhadap pasien, baik kematian, kecacatan atau komplikasi, dianggap sebagai suatu malpraktek dan dapat digugat dengan menggunakan KUH Perdata pasala 1365, pasal 1366 atau pasal 1367. Lembaga perlindungan konsumen, beranggapan bahwa dokter adalah pelaku usaha, sehingga dapat dikenai Undang-undang RI No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan konsumen. Kematian, kecacatan atau ketidak sembuhan pada perawatan pasien oleh dokter atau rumah sakit, merupakan ingkar janji atau tidak memenuhi apa yang diharapkan oleh pasien dan keluarganya. Ketidakpastian seperti uraian diatas bisa menyebabkan para dokter selalu bekerja dengan penuh kekhawatiran dan was-was, jangan-jangan upaya dokter untuk mengobati pasien malahan berakibat tuduhan atau gugatan malpraktek. Dokter beranggapan bahwa belum tentu suatu hasil perawatan yang tidak sesuai dengan harapan pasien, misalnya kematian, kecacatan atau komplikasi akibat perawatan, merupakan malpraktek. Sebab hasil akhir suatu perawatan kedokteran sangat bervariasi dan dapat merupakan perjalanan atau komplikasi penyakit (clinical course of the desease), resiko akibat pengobatan yang tak dapat diramalkan (medical risk), resiko akibat tindakan operatif (surgical risk), efek samping pengobatan (side effect/adverse reaction), keterbatasan fasilitas (limitation of resources), kemalangan medik (medical accident), diagnosis yang kurang tepat (error of judgement), kelalaian medik (medical negligence), malpraktek medik (medical malpractice). Di dalam beberapa kepustakaan, dikenal berbagai batasan malpraktek, seperti dalam Coughlin’s dictionary of Law menyatakan : “Professional misconduct on the part of a professional person, such as a physician, engineer, lawyer, accountant, dentist, veterinarian. Malpractice may be the result of ignorance, neglect, or lack of skill or fidelity in the performance of professional duties, internatinal wrongdoing, or illegal or unethical practice” Malpraktek adalah “sikap tindak profesional yang salah dari seorang profesi, seperti dokter, insinyur, ahli hukum, akuntan, dokter gigi, dokter hewan. Malpraktek bisa diakibatkan karena sikap tindak yang bersifat tidak peduli, kelalaian, atau kekurangan keterampilan atau kurang kehati-hatian di dalam melaksanakan kewajiban profesinya, tindakan salah yang disengaja atau praktek yang bersifat tidak etis”. Harus dibedakan antara malpraktek medik dengan suatu hasil yang tidak diharapkan yang timbul pada perawatan dan pengobatan medik yang bukan merupakan kesalahan dokter.

Tetapi sebenarnya malpraktek tidak sama dengan kelalaian. atau kelalaian dalam memberikan perawatan pada pasien yang secara langsung mengakibatkan kerugian atau perlukaan pada pasien. Kerugian diserita pasien (damage) 4. Malpraktek medik dan kelalaian medik seringkali digunakan secara bergantian seolah-olah keduanya mempunyai arti yang sama didalam menyelesaikan masalah sengketa medik. yaitu : Malpraktek kedokteran meliputi dokter yang tidak melaksanakan standar perawatan terhadap pasien. istilah malpraktek pun mencakup tindakan-tindakan yang dilakukan dengan sengaja (intentional. dolus) dan melanggar Undang-undang.Malpraktek dokter adalah karena tidak melaksanakan standar perawatan terhadap pasien. bertindak secara hati-hati dan teliti. Hubungan sebab akibat langsung Bahwa kerugian yang dialami pasien merupakan akibat langsung dari penyimpangan yang dilakukan dokter. Suatu kerugian atau perlukaan yang terjadi dalam perjalanan perawatan medik yang tidak dapat diramalkan. 3. Dengan demikian kelalaian dalam memberikan perawatan yang secara langsung menyebabkan kerugian atau perlukaan pada pasien dapat digolongkan pada malpraktek kedokteran. tidak sesua standar profesinya. atau kurangnya keterampilan. sehingga Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai anggota World Medical Association (WMA). Jika dilihat dari definisi dalam uraian diatas bahwa malpraktek mempunyai arti yang lebih luas daripada “negligence”. . Pembuktian penyimpangan dilakukan oleh saksi ahli. Penyimpangan kewajiban (dereliction of the duty) Tindakannya menyimpang dari apa yang seharusnya : dilakukan tanpa indikasi yang benar. Adanya kewajiban profesi (duty) yaitu mempergunakan segala kemampuannya untuk menyembuhkan atau mengurangi penderitaan pasien. Pengertian malpraktek medik seringkali dikaitkan dengan kelalaian medik (medical negligence). dan bukan akibat kurang keterampilan atau pengetahuan dokter yang merawat merupakan suatu hasil tak diharapkan. tentunya juga akan mengikuti batasan malpraktek yang dianut oleh WMA. Kelalaian medik harus mengandung syarat antara lain : 1. atau kurangnya keterampilan atau kelalaian dalam memberikan perawatan pada pasien yang secara langsung mengakibatkan kerugian atau perlukaan pada pasien. bertindak sesuai dengan standar profesi. untuk itu dokter seharusnya tidak dapat dipersalahkan. maka dokter dapat dipersalahkan. meminta persetujuan setelah penjelasan (informed consent) 2. Karena selain mencakup arti kelalaian.

misalnya dengan sengaja melakukan abortus tanpa indikasi medik. dalam arti sikap dan perilaku yang akuntabel kepada masyarakat. Hal ini dapat terjadi juga karena kesalahan pasien yang tidak secara jujur mengungkapkan apa yang dirasakan atau dinyatakan kepada dokter pada waktu anamnesa (pemeriksaan fisik). Atau dapat pula terjadi karena reaksi hipersensitivitas yang tidak dapat diperhitungkan terlebih dahulu. diberi kewenangan oleh institusi yang berwenang di bidang itu dan bekerja sesuai dengan standar dan profesionalisme yang ditetapkan oleh organisasi profesinya. adanya kesalahan dan kategori dari akibat yang terjadi maka aspek pidana mensyaratkan adanya kelalaian berat dan terjadinya akibat yang serius atau fatal. melakukan euthanasia. Harus diakui bahwa kasus malpraktek murni yang berintikan kesengajaan (criminal malpractice) memang tidak banyak. baik masyarakat profesi maupun masyarakat luas (termasuk . antara masyarakat profesi dengan masyarakat umum terjadi suatu kontrak (mengacu kepada doktrin social-contract). dan sebagainya. dapat pula karena pasien tidak mentaati nasihat dokter. Sikap profesionalisme adalah sikap yang bertanggungjawab. tak peduli terhadap kepentingan orang lain. Adanya penyimpangan dari standar profesi medis. Sedangkan aspek perdata adalah adanya kelalaian ringan untuk mengganti kerugian terhadap akibat yang ditimbulkan. melainkan hanya boleh dilakukan oleh kelompok profesional kedokteran tertentu yang memiliki kompetensi yang memenuhi standar tertentu. terlambat diobati secara dinii. kurang hatihati. Secara teoritis-konseptual. namun akibat yang timbul memang bukan disengaja dan bukan menjadi tujuannya. ceroboh. kurang teliti. sembrono. Sedangkan malpraktek karena kelalaian misalnya menelantarkan pengobatan pasien karena lupa atau tidak hati-hati sehingga pasien penyakitnya menjadi bertambah berat dan kemudian meninggal.Sedangkan arti negligence lebih berintikan ketidaksengajaan (alpa). acuh tak acuh. Keadaan lain yang mempengaruhi terjadinya akibat negatif ini adalah keadaan penyakit yang sudah lanjut. Dalam realitas kehidupan sehari-hari sebenarnya akibat yang tidak diinginkan dari suatu hubungan dokter-pasien bisa pula terjadi bukan karena kesalahan dokter sepihak. yang memberi masyarakat profesi hak untuk melakukan self-regulating (otonomi profesi) dengan kewajiban memberikan jaminan bahwa profesional yang berpraktek hanyalah profesional yang kompeten dan yang melaksanakan praktek profesinya sesuai dengan standar. PENDAHULUAN Praktik kedokteran bukanlah suatu pekerjaan yang dapat dilakukan oleh siapa saja. misalnya suntikan obat yang biasanya tidak menimbulkan reaksi alergi tiba-tiba pada pasien tertentu bereaksi alergi. memberi surat keterangan medik yang isinya tidak benar.

menjaga rahasia kedokteran. Dalam bagian ini diatur tentang perijinan praktik kedokteran. seperti kompetensi dan kewenangan yang selalu "sesuai dengan tempat dan waktu". mereka yang bukan dokter tetapi bersikap atau bertindak seolah-olah dokter. Uraian dari ciri-ciri tersebutlah yang kiranya harus dapat dihayati dan diamalkan agar profesionalisme tersebut dapat terwujud. dan proses registrasi tenaga dokter. rekomendasi pencabutan STR dan/atau SIP. Dalam aturan tentang pelaksanaan praktik diatur agar dokter memberitahu apabila berhalangan atau memperoleh pengganti yang juga memiliki SIP. Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang persyaratan dokter untuk dapat berpraktik kedokteran. memenuhi ketentuan tentang pembuatan rekam medis. dan keharusan memasang papan praktik atau mencantumkan namanya di daftar dokter bila di rumah sakit. Beberapa ciri profesionalisme tersebut merupakan ciri profesi itu sendiri. Pada bagian berikutnya. yang dimulai dengan keharusan memiliki sertifikat kompetensi kedokteran yang diperoleh dari Kolegium selain ijasah dokter yang telah dimilikinya. Selain mengatur persyaratan praktik kedokteran di atas. sikap yang etis sesuai dengan etika profesinya. dan kewajiban mengikuti pendidikan dan pelatihan tertentu.klien). yang antara lain mengatur syarat memperoleh SIP (memiliki STR. tidak memasang papan praktik atau tidak memenuhi kewajiban dokter. Salah satu hak dokter yang penting adalah memperoleh perlindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional. risiko. Pada bagian awal. manfaat. Undang-Undang mendirikan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia yang bertugas menerima pengaduan. keharusan memenuhi standar pelayanan. Standar Pendidikan Profesi Kedokteran serta Pendidikan dan Pelatihannya. dan khusus untuk profesi kesehatan ditambah dengan sikap altruis (rela berkorban). dokter yang berpraktik tanpa membuat rekam medis. Pada bagian ini Undang-Undang juga mengatur tentang hak dan kewajiban dokter dan pasien. mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat. memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin dokter. Undang-Undang No 29/2004 juga mengatur tentang organisasi Konsil Kedokteran. komplikasi dan prognosisnya dan serta hak untuk menyetujui atau menolak tindakan medis. tempat praktik dan rekomendasi organisasi profesi). tindakan medis. Pada bagian berikutnya Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang disiplin profesi.[2] Undang-Undang No 29/2004 baru akan berlaku setelah satu tahun sejak diundangkan. Dokter tersebut juga harus telah mengucapkan sumpah dokter. serta mengendalikan mutu dan biaya. Pada akhirnya Undang-Undang No 29/2004 mengancam pidana bagi mereka yang berpraktik tanpa STR dan atau SIP. bahkan penyesuaian STR dan SIP diberi waktu hingga dua tahun sejak Konsil Kedokteran terbentuk. memenuhi aturan tentang persetujuan tindakan medis. batas maksimal 3 tempat praktik. dokter dan dokter gigi. . Pidana lebih berat diancamkan kepada mereka yang mempekerjakan dokter yang tidak memiliki STR dan/atau SIP. bekerja sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh profesinya. Undang-Undang No 29/2004 mengatur tentang penyelenggaraan praktik kedokteran. keharusan memperoleh Surat Tanda Registrasi dari Konsil Kedokteran Indonesia dan kemudian memperoleh Surat ijin Praktik dari Dinas Kesehatan Kota / Kabupaten. [1] Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran diundangkan untuk mengatur praktik kedokteran dengan tujuan agar dapat memberikan perlindungan kepada pasien. sehat fisik dan mental serta menyatakan akan mematuhi dan melaksanakan ketentuan etika profesi. Sanksi yang diberikan oleh MKDKI adalah berupa peringatan tertulis. sedangkan hak pasien yang terpenting adalah hak memperoleh penjelasan tentang penyakit.

seperti peraturan tentang penempatan dokter dalam rangka pemerataan pelayanan kedokteran. Selain itu masih diperlukan pembuatan berbagai standar seperti standar profesi yang di dalamnya meliputi standar kompetensi. Peraturan Menteri Kesehatan yang harus dibuat atau direvisi bila sudah ada adalah peraturan tentang Surat Ijin Praktik. Tugas. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya cukup kecil. penataan layanan kesehatan non medis (salon. ruang bedah dan ruang rawat intensif. Kewenangan dokter / dokter gigi. Rekam Medis. Risiko yang dapat diterima adalah risiko-risiko sebagai berikut: 1. for which the physician should not bear any liability". kadang dengan cara yang tak terduga atau tak terlihat. Standar Pelayanan. 2. sehingga harus dilakukan tindakan pencegahan ataupun tindakan mereduksi risiko. dan Rahasia Kedokteran. Pemilihan tokoh masyarakat sebagai anggota. oleh karena itu praktik kedokteran haruslah dilakukan dengan tingkat kehati-hatian yang tinggi. Tata cara Registrasi. melainkan hanya menjanjikan upayanya (inspanningsverbintennis). Sistem yang kompleks umumnya ditandai dengan spesialisasi dan interdependensi. sehingga ketidakpastian merupakan salah satu ciri khasnya. pengobatan tradisionil. Tata Kerja KKI. pengobatan alternatif). Persetujuan Tindakan Medik. . Tata cara pemilihan Pimpinan MKDKI dan Tata Laksana kerja MKDKI. serta standar pendidikan. standar perilaku dan standar pelayanan medis. perdarahan dan infeksi pada pembedahan. satu komponen dapat berinteraksi dengan banyak komponen lain. pelayanan medis oleh tenaga kesehatan non medis. dan lain-lain. pendidikan dokter spesialis. Fungsi. Namun demikian sebagian besar diantaranya tetap dapat dilakukan oleh karena risiko tersebut dapat diterima (acceptable) sesuai dengan "state-of-theart" ilmu dan teknologi kedokteran. diperhitungkan atau dapat dikendalikan. Kedua jenis risiko di atas apabila terjadi bukan menjadi tanggung-jawab dokter sepanjang telah diinformasikan kepada pasien dan telah disetujui (volenti non fit injuria). Wewenang KK / KKG. terutama dalam keadaan gawat darurat. perumahsakitan dan sarana kesehatan lainnya. Dalam suatu sistem yang kompleks. World Medical Association berpendapat: "An injury occurring in the course of medical treatment which could not be foreseen and was not the result of the lack of skill or knowledge on the part of the treating physician is untoward result. dapat diantisipasi. meskipun perkembangannya telah sangat cepat sehingga sukar diikuti oleh standar prosedur yang baku dan kaku. Pada situasi seperti inilah manfaat pelaksanaan informed consent. Semakin kompleks dan ketat suatu sistem akan semakin mudah terjadi kecelakaan (prone to accident). Layanan kedokteran dikenal sebagai suatu sistem yang kompleks dengan sifat hubungan antar komponen yang ketat (complex and tightly coupled)[1]. misalnya efek samping obat. emboli air ketuban). dll. LAYANAN KEDOKTERAN Ilmu kedokteran adalah ilmu empiris. Setiap tindakan medis mengandung risiko buruk. Kedokteran tidak menjanjikan hasil layanannya. unpredictable) yang terjadi saat dilakukan tindakan medis yang sesuai standar tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada dokter atau pemberi layanan medis (misalnya reaksi hipersensitivitas. Peraturan Konsil yang harus dibuat adalah ketentuan tentang Fungsi & Tugas KKI. Risiko yang derajat probabilitas dan keparahannya besar pada keadaan tertentu. yaitu apabila tindakan medis yang berrisiko tersebut harus dilakukan karena merupakan satu-satunya cara yang harus ditempuh (the only way). khususnya di ruang gawat darurat. Suatu risiko / peristiwa buruk yang tidak dapat diduga atau diperhitungkan sebelumnya (unforeseeable. Bahkan beberapa peraturan pendukung juga diperlukan untuk melengkapinya. Iptekdok masih menyisakan kemungkinan adanya bias dan ketidaktahuan. Pelaksanaan Praktik.UU Praktik Kedokteran belum akan bisa diterapkan secara sempurna apabila peraturan pelaksanaannya belum dibuat.

Hasil dari suatu risiko yang tak dapat dihindari. mistakes). seperti desain buruk. 4. Hasil dari suatu kesengajaan. Error sendiri diartikan sebagai kegagalan melaksanakan suatu rencana tindakan (error of execution. lapses dan slips) atau penggunaan rencana tindakan yang salah dalam mencapai tujuan tertentu (error of planning. Hasil dari suatu kelalaian medik. dan struktur organisasi yang buruk (lihat bagan 2). yaitu risiko yang tak dapat diketahui sebelumnya (unforeseeable). 2. tidak berhubungan dengan tindakan medis yang dilakukan dokter. Di dalam kedokteran. perlu dipahami perbedaan antara active errors dan latent errors. . Sebagian dari adverse event ternyata disebabkan oleh error sehingga dianggap sebagai preventable adverse events. Suatu hasil yang tidak diharapkan di bidang medik sebenarnya dapat disebabkan oleh beberapa kemungkinan. Guna menilai bagaimana kontribusi manusia dalam suatu error dan dampaknya. pemeliharaan yang buruk. yaitu (lihat bagan 1): 1. sedangkan latent errors cenderung berada di luar kendali operator garis depan. Hasil dari suatu perjalanan penyakitnya sendiri. kesalahan keputusan manajemen.Setiap cedera yang lebih disebabkan karena manajemen kedokteran daripada akibat penyakitnya disebut sebagai adverse events. atau risiko yang meskipun telah diketahui sebelumnya (foreseeable) tetapi dianggap acceptable. sebagaimana telah diuraikan di atas. instalasi yang tidak tepat. 3. semua error dianggap serius karena dapat membahayakan pasien. Active errors terjadi pada tingkat operator garis depan dan dampaknya segera dirasakan.

Sebagai contoh adalah sistem pendidikan dokter spesialis yang mahal. Pendapat yang mengatakan bahwa kecelakaan dapat dicegah dengan desain organisasi dan manajemen yang baik akhir-akhir ini sangat dipercaya kebenarannya. Keselamatan pasien diartikan sebagai penghindaran.Latent error merupakan ancaman besar bagi keselamatan (safety) dalam suatu sistem yang kompleks. akhir-akhir ini diterapkan oleh Institute of Medicine di Amerika (dan institusi serupa di negara-negara lain). MALPRAKTIK KEDOKTERAN . tidak adanya sistem yang menjaga akuntabilitas profesi (lihat pula bagan di bawah) adalah latent errors yang tidak terasa sebagai error. pembolehan dokter bekerja pada "banyak" rumah sakit. oleh karena sering tidak terdeteksi dan dapat mengakibatkan berbagai jenis active errors. maka terjadilah accident. sehingga sistem tersebut semakin mungkin mengalami kegagalan di kemudian hari. melainkan muncul dari interaksi komponen-komponen dalam sistem. Dalam hal ini perlu kita pahami bahwa penyebab suatu accident bukanlah single factor melainkan multiple factors. retraining dan lain-lain yang bertujuan untuk mencegah berulangnya active errors. namun sebenarnya merupakan akar dari kesalahan manajemen yang telah banyak menimbulkan unsafe conditions dalam praktek kedokteran di lapangan. namun sebenarnya tidak cukup efektif. Keselamatan tidak terdapat pada diri individu. unit). Meskipun hukuman seringkali bermanfaat pada kasus tertentu (pada mistakes yang timbul karena kesengajaan). yang pada mulanya diberlakukan di dalam dunia penerbangan. Konsep safety (dalam hal ini patient safety). peralatan ataupun bagian (departemen. Bila satu saat unsafe conditions ini bertemu dengan suatu unsafe act (active error). atau bahkan mungkin akan terakumulasi. Umumnya kita merespons suatu error dengan berfokus pada active error-nya dengan memberikan hukuman kepada individu pelakunya. Memfokuskan perhatian kepada active errors akan membiarkan latent errors tetap ada di dalam sistem. pencegahan dan perbaikan terjadinya adverse events atau freedom from accidental injury.

. Pengertian malpraktik medis menurut World Medical Association (1992) adalah: " medical malpractice involves the physician's failure to conform to the standard of care for treatment of the patient's condition. akuntan. di dalam definisi di atas dapat ditarik pemahaman bahwa malpraktik dapat terjadi karena tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu. or lack of skill. Tuntutan hukum tersebut dapat berupa tuntutan pidana maupun perdata. which is the direct cause of an injury to the patient. namun pada kelalaian harus memenuhi ke-empat unsur kelalaian dalam hukum . loss or damage to the recipient of those services or to those entitled to rely upon them". sekaligus merupakan bentuk malpraktik medis yang paling sering terjadi. Malfeasance berarti melakukan tindakan yang melanggar hukum atau tidak tepat/layak (unlawful atau improper). euthanasia. slips and lapses) yang telah diuraikan sebelumnya. ketentuan disiplin profesi. penyerangan seksual. or negligence in providing care to the patient. dan lainlain. aborsi ilegal. namun yang penting lebih ke arah deliberate violation (berkaitan dengan motivasi) ketimbang hanya berupa error (berkaitan dengan informasi). misfeasance dan nonfeasance. melainkan juga berlaku bagi profesi hukum (misalnya mafia peradilan). berpraktek tanpa SIP. Dalam bahasa sehari-hari. "penahanan" pasien. Perlu diingat bahwa pada umumnya kelalaian yang dilakukan orang-per-orang bukanlah merupakan perbuatan yang dapat dihukum. ataupun suatu kekurang-mahiran / ketidak-kompetenan yang tidak beralasan. Kesengajaan tersebut tidak harus berupa sengaja mengakibatkan hasil buruk bagi pasien. misalnya melakukan tindakan medis tanpa indikasi yang memadai (pilihan tindakan medis tersebut sudah improper). Black's Law Dictionary mendefinisikan malpraktik sebagai "professional misconduct or unreasonable lack of skill" atau "failure of one rendering professional services to exercise that degree of skill and learning commonly applied under all the circumstances in the community by the average prudent reputable member of the profession with the result of injury. melakukan sesuatu (komisi) yang seharusnya tidak dilakukan atau tidak melakukan sesuatu (omisi) yang seharusnya dilakukan oleh orang lain yang memiliki kualifikasi yang sama pada suatu keadaan dan situasi yang sama. keterangan palsu. Pengertian malpraktik di atas bukanlah monopoli bagi profesi medis. perbankan (misalnya kasus BLBI). Kelalaian medik adalah salah satu bentuk dari malpraktik medis. Kelalaian dapat terjadi dalam 3 bentuk.khususnya adanya kerugian. Professional misconduct yang merupakan kesengajaan dapat dilakukan dalam bentuk pelanggaran ketentuan etik." Dari segi hukum.Tuntutan hukum yang diajukan oleh pasien atau keluarganya kepada pihak rumah sakit dan atau dokternya dari waktu ke waktu semakin meningkat kekerapannya. seperti melakukan kesengajaan yang merugikan pasien. Bentuk-bentuk kelalaian di atas sejalan dengan bentuk-bentuk error (mistakes. Nonfeasance adalah tidak melakukan tindakan medis yang merupakan kewajiban baginya. menggunakan iptekdok yang belum teruji / diterima. berpraktek di luar kompetensinya. hukum administratif. dengan hampir selalu mendasarkan kepada teori hukum kelalaian. dan telah mengakibatkan kerugian atau cedera bagi orang lain. kematian atau kerugian bagi pasiennya. fraud. Demikian pula adanya latent error yang tidak secara langsung menimbulkan dampak buruk (lihat pula bagan 1). Pada dasarnya kelalaian terjadi apabila seseorang dengan tidak sengaja. tindakan kelalaian (negligence). yaitu malfeasance. perilaku yang dituntut adalah malpraktik medis. serta hukum pidana dan perdata. Misfeasance berarti melakukan pilihan tindakan medis yang tepat tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat (improper performance). pelanggaran wajib simpan rahasia kedokteran. sedangkan error tidak selalu mengakibatkan kerugian. dll. kecuali apabila dilakukan oleh orang yang seharusnya (berdasarkan sifat profesinya) bertindak hati-hati. yaitu misalnya melakukan tindakan medis dengan menyalahi prosedur. misrepresentasi atau fraud. yang merupakan sebutan "genus" dari kelompok perilaku profesional medis yang "menyimpang" dan mengakibatkan cedera.

IMPLIKASI HUKUM Istilah malpraktik memang bukan istilah hukum yang tertera di dalam peraturan perundangundangan di Indonesia. yaitu misalnya melakukan tindakan medis tanpa memperoleh persetujuan. Perbuatan melanggar hukum. Suatu perbuatan atau sikap tenaga medis dianggap lalai apabila memenuhi empat unsur di bawah ini. Wanprestasi. penyerangan seksual (pasal 284-294 KUHP). dan lain-lain. Jenis pidana yang paling sering dituntutkan kepada dokter adalah pidana kelalaian yang mengakibatkan luka (pasal 360 KUHP). Kata malpraktik lebih diartikan sebagai suatu "genus" tindak pidana yang "spesies" nya teruraikan di dalam berbagai pasal ketentuan pidana. 3. . Sedangkan pidana lain yang bukan kelalaian yang mungkin dituntutkan adalah pembuatan keterangan palsu (pasal 267-268 KUHP). euthanasia (pasal 344 KUHP). dan lain-lain. umumnya sukar dibuktikan karena tidak tertulis. yang dikualifikasikan dengan pemberatan ancaman pidananya bila dilakukan dalam rangka melakukan pekerjaannya (pasal 361 KUHP). penyerangan privacy seseorang. penipuan dan misrepresentasi (pasal 382 bis). Gugatan perdata dalam bentuk ganti rugi dapat diajukan dengan mendasarkan kepada salah satu dari 3 teori di bawah ini. Duty atau kewajiban tenaga medis untuk melakukan sesuatu tindakan atau untuk tidak melakukan sesuatu tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada situasi dan kondisi yang tertentu. seandainya ada. pencemaran lingkungan hidup (pasal 42 dan 43 UU Pengelolaan Lingkungan Hidup). atau luka berat atau mati (pasal 359 KUHP). yaitu : 1. membuka rahasia kedokteran tentang orang tertentu. pidana perpajakan (pasal 209 atau 372 KUHP). Gugatan ini sukar dilakukan karena umumnya dokter tidak menjanjikan hasil dan perjanjian tersebut. namun berbagai tindakan yang termasuk ke dalam kelompok tindak malpraktik telah diatur dalam hukum pidana. yaitu pelanggaran atas janji atau jaminan. yaitu : 1. aborsi ilegal (pasal 349 KUHP jo pasal 347 dan 348 KUHP). Kelalaian sebagaimana pengertian di atas dan akan diuraikan kemudian 2.

sedangkan dalam memutus besarnya ganti rugi hakim akan mempertimbangkan kedudukan sosial-ekonomi kedua pihak (pasal 1370-1371 KUH Perdata). Permufakatan tersebut dapat dicapai dengan pembicaraan kedua belah pihak secara langsung (konsiliasi atau negosiasi). Dalam makalah ini tidak akan diuraikan pelaksanaan pada kasus per-kasus. oleh karena teori kelalaian adalah dasar penuntutan yang tersering digunakan. Direct causal relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata. sedangkan arbitrator dapat . 4. dapat diselesaikan melalui dua cara. Selanjutnya. yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan / kedokteran yang diberikan oleh pemberi layanan. Dalam hal ini harus terdapat hubungan sebab-akibat antara penyimpangan kewajiban dengan kerugian yang setidaknya merupakan "proximate cause". dalam hal ini sengketa antara pihak dokter dan rumah sakit berhadapan dengan pasien dan keluarga atau kuasanya. yaitu cara litigasi (melalui proses peradilan) dan cara non litigasi (di luar proses peradilan). ataupun suatu kepatutan tertentu. namun lebih ke arah hasil pembelajaran (lesson learned) dari pengalaman penanganan berbagai kasus dugaan malpraktik. Dalam proses pengadilan umumnya ingin dicapai suatu putusan tentang kebenaran suatu gugatan berdasarkan bukti-bukti yang sah (right-based) dan kemudian putusan tentang jumlah uang ganti rugi yang "layak" dibayar oleh tergugat kepada penggugat. PENANGANAN MALPRAKTEK Pada dasarnya penanganan kasus malpraktik dilakukan dengan mendasarkan kepada konsep malpraktik medis dan adverse events yang diuraikan di atas. dan arbitrasi. dapat dengan menggunakan kuasa hukum (pengacara) ataupun tidak. mediasi. Dalam menentukan putusan benar-salahnya suatu perbuatan hakim akan membandingkan perbuatan yang dilakukan dengan suatu norma tertentu. baik pada tuntutan pidana maupun pada gugatan perdata. Damage atau kerugian. Apabila dipilih proses di luar pengadilan (alternative dispute resolution).2. Fasilitator dan mediator tidak membuat putusan. maka kedua pihak berupaya untuk mencari kesepakatan tentang penyelesaian sengketa (mufakat). 3. ataupun melalui fasilitasi. maka upaya meminimalisasi tuntutan di rumah sakit harus ditujukan kepada upaya menurunkan kemungkinan terjadinya kelalaian medis. baik dari sisi profesi maupun dari sisi hukum. standar. atau bahkan mengurangi kemungkinan terjadinya preventable adverse events yang disebabkan oleh medical errors. atau cara-cara kombinasi. Dereliction of the duty atau penyimpangan kewajiban tersebut. Apabila dipilih penyelesaian melalui proses pengadilan. Suatu tuntutan hukum perdata. maka penggugat akan mengajukan gugatannya ke pengadilan negeri di wilayah kejadian.

dll). Dengan perspektif safety berarti meyakini bahwa faktor-faktor yang berkontribusi dalam keberlangsungan layanan medis. Selain itu. audit klinis terstruktur. Hal ini bisa dicapai apabila ia memiliki . maupun sumber daya manusia (liveware atau brainware) sudah berorientasi kepada keselamatan. Dalam proses tersebut dapat dilakukan pemberian sanksi (profesi atau administratif) untuk tujuan penjeraan. konferensi kematian. Makersi. maka pasien cukup melaporkannya kepada penyidik dengan menunjukkan bukti-bukti permulaan atau alasan-alasannya. seperti pemeriksaan para saksi dan tersangka. Langkah-Langah Penanganan Kasus Berbicara mengenai langkah-langkah tindakan kita dalam menghadapi kemungkinan adanya tuntutan hukum. dan menandatanganinya (semacam pernyataan affidavit). MDTK. MKEK. bahkan akhir-akhir ini hakim memfasilitasi dilakukannya mediasi oleh mediator tertentu. dan dapat dilakukan di tingkat institusi kesehatan setempat (misalnya berupa Rapat Komite Medis. guna mencegah terulangnya peristiwa serupa di kemudian hari. Bila putusan MKEK menyatakan pihak medis telah melaksanakan profesi sesuai dengan standar dan tidak melakukan pelanggaran etik. dapat pula tanpa pemberian sanksi . seharusnya dimulai dari langkah pencegahan. Hakim pengadilan perdata umumnya menawarkan perdamaian sebelum dimulainya persidangan. pemeriksaan dokumen (rekam medis di satu sisi dan bylaws. presentasi kasus. Dalam proses mufakat ini diupayakan mencari cara penyelesaian yang cenderung berdasarkan pemahaman kepentingan kedua pihak (interest-based. Dalam hal telah terjadi peristiwa yang potensial menjadi kasus tuntutan hukum. baik oleh pelaku yang sama ataupun oleh pelaku lain. Visum et repertum mungkin saja dibutuhkan penyidik. Dalam upaya ini dimasukkan perspektif safety di setiap langkah prosedur atau tindakan medis dengan juga melibatkan proses manajemen risiko. proses lanjutan dalam incident report system.membuat putusan yang harus dipatuhi kedua pihak. baik perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). standar dan petunjuk di sisi lainnya). Penyelesaian secara profesi umumnya lebih bersifat audit klinis. Berkas hasil pemeriksaan penyidik disampaikan kepada jaksa penuntut umum untuk dapat disusun tuntutannya.tetapi memberlakukan koreksi atas faktor-faktor yang berkontribusi sebagai penyebab terjadinya "kasus" tersebut. ia harus membuat catatan tentang kronologi peristiwa dan menjelaskan alasan masing-masing tindakannya. Selanjutnya penyidiklah yang akan melakukan penyidikan dengan melakukan tindakan-tindakan kepolisian. dll). serta pemeriksaan saksi ahli. Untuk dapat melakukan hal itu. atau di tingkat yang lebih tinggi (misalnya dalam sidang Dewan Etik Perhimpunan Spesialis. maka putusan tersebut dapat digunakan oleh pihak medis sebagai bahan pembelaan. win-win solution). dan bukan right-based. Dalam hal tuntutan hukum tersebut diajukan melalui proses hukum pidana. juga harus diselesaikan dari sisi profesi dengan tujuan untuk dijadikan pelajaran guna mencegah terjadinya pengulangan di masa mendatang. Dalam hal penyidik tidak menemukan bukti yang cukup maka akan dipikirkan untuk diterbitkannya SP3 atau penghentian penyidikan. kasus medikolegal dan kasus potensial menjadi kasus medikolegal. maka profesional wajib menganalisis peristiwa tersebut untuk menemukan apakah "kesalahan" yang telah terjadi dan kemudian melakukan koreksi.

Di samping itu profesional terkait kasus tersebut harus melihat kembali dokumen kompetensi (keahlian) dan kewenangan medis (perijinan). Keluhan atau komplain pasien dan/atau keluarganya harus direspons dengan segera dan adekuat. Apabila di kemudian hari datang somasi. alternatif tindakan. Proses di pengadilan . dll) yang berkaitan dengan kasus. maka mereka harus membahasnya bersama untuk dapat saling melengkapi "jalannya ceritera" . maka penjelasan tentang sebab kematian yang cukup rinci diperlukan. Kadang-kadang terdapat kasus "abu-abu" atau "kasus ringan" yang penyelesaian cara non litigasi mungkin akan lebih "menguntungkan" dari segi finansial daripada memilih cara penyelesaian litigasi. Sebaliknya. situasi-kondisi yang merupakan "tekanan". Dalam audit klinis tersebut dilakukan pembahasan tentang keadaan pasien. prosedur tindakan dibandingkan dengan standar.tanpa melakukan manipulasi fakta. Cara tersebut dirasakan cukup efektif untuk mencegah kasus ke pengadilan yang membawa berbagai dampak. Apabila tingkat potensial menjadi kasus medikolegalnya cukup tinggi.dokumen (rekam medis) yang cukup lengkap. atau bahkan menghadapi somasi dan gugatan di kemudian hari. dan kesimpulan apakah prosedur medis dan alasannya telah dilakukan sesuai dengan standar profesi atau SOP yang cocok dengan situasi-kondisi kasus. Tenaga medis dan staf lain yang terlibat pada kasus tersebut haruslah berada dalam satu pihak yang solid dengan rumah sakit agar tidak mudah digoyang oleh pihak penuntut. termasuk informed consent dan catatan yang terkait. penyebab peristiwa yang menuju ke peristiwa medikolegal. Keseluruhan yang dilakukan di atas adalah juga merupakan langkah-langkah persiapan menghadapi komplain pasien. Suatu pertemuan dan penjelasan yang adekuat seringkali dapat meredakan permasalahan. kasus yang secara nyata tidak memiliki titik lemah di pihak medis dapat dipertimbangkan untuk diselesaikan melalui sidang pengadilan. Pertimbangan apakah kasus akan diselesaikan di pengadilan ataukah dengan cara perdamaian perlu dibahas pada waktu tersebut. maka harus berupaya untuk mengundang pakar dari organisasi profesi atau perhimpunan spesialis terkait. dan peluang kesembuhannya di masa mendatang. pengakuan kompetensi. tindakan yang masih diperlukan. Alangkah lebih baik apabila penjelasan dilakukan oleh tim dokter terkait didampingi oleh salah seorang direktur dan wakil dari Komite Medis. diagnosis akhir. Apabila pasien meninggal dunia. Apabila lebih dari satu orang yang terlibat dalam kasus tersebut. maka tim dokter segera berkonsultasi dengan atasan dan penasehat hukum terkait. diagnosis kerja dan diagnosis banding. indikasi medis dan kontra-indikasi. Keberhasilan penjelasan ini sangat bergantung kepada kualitas penjelasan yang telah diberikan sewaktu memperoleh informed consent. Institusi kesehatan yang relatif kecil dan memiliki staf medis yang terbatas mungkin sukar membahas kasus yang "spesialistik" dengan baik. penyebabnya atau kemungkinan penyebabnya. Tidak sedikit yang berlanjut ke pembicaraan tentang "kompensasi" finansial di luar pengadilan. Kepada pasien dan/atau keluarganya harus diberikan penjelasan yang memuaskan tentang terjadinya peristiwa tersebut. pengalaman. penanganan peristiwa tersebut saat itu. informed consent. serta kompetensi / kewenangan medis khusus (dokumen pelatihan/workshop. komunikasi. maka kasus tersebut dilaporkan ke atasan (ketua KSMF atau Komite Medik) untuk dibahas bersama. Kasus yang secara nyata merupakan kesalahan pihak medis dan dinilai "undefensable" sebaiknya diselesaikan dengan cara non litigasi. tindakan yang telah dilakukan untuk mencegah atau mengatasinya.

http://www. 1997 . a conspiracy of silence. sebagian kecil kasus mungkin masih akan maju ke pengadilan. Tidak jarang. Corrigan JM. Kepustakaan Lanjutan AHRQ's Patient Safety Initiatives. Problem Doctors. Amsterdam:Jos Press. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya disepakati untuk mengajukan satu atau dua orang saksi ahli di bidang yang dibutuhkan. atau berarti seluruh upaya mengelola risiko dengan berorientasikan kepada keselamatan pasien.dianggap dapat merusak citra pofesional. Kesimpulan Layanan kedokteran adalah suatu sistem yang kompleks dan rentan akan terjadinya kecelakaan. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Kohn LT. London: Sweet & Maxwell. organisasi profesi (PDSp) membentuk semacam "dewan pakar" atau "dewan kehormatan pembina". penanganan awalnya boleh dianggap sama dengan di atas.menyampaikan hasil pembahasan peer-group tersebut kepada penyidik. Namun. Donaldson MS (eds). Guna menghadapi hal itu.dilihat dari sisi mereka dengan persepsi mereka sendiri. 1996. dengan memberikan pembelajaran kepada penyidik di bidang medis dan medikolegal. mengganggu bisnis. yang akan menilai kasus dari sisi profesi dan kemudian akan menjadi saksi ahli . building a safer health system. San Fransisco: Jossey-Bass. Risk Management Handbook for health care organizations. Selanjutnya proses pemeriksaan oleh penyidik diikuti dengan patuh. Upaya meminimalkan tuntutan hukum terhadap rumah sakit beserta stafnya pada dasarnya merupakan upaya mencegah terjadinya preventable adverse events yang disebabkan oleh medical errors.gov Carroll R (ed).ahrg. Tulisan. To Err is Human. sebagaimana akhir-akhir ini sering terjadi. berbiaya tinggi dan makan waktu lama. pasien dan kuasanya mengungkapkan kasusnya kepada publik melalui media massa . 2000 Lens P and vander Wal G. tayangan atau pernyataan yang sangat menyudutkan rumah sakit atau menyesatkan persepsi masyarakat sebaiknya segera direspons oleh rumah sakit dengan memberikan informasi yang adekuat tanpa harus membuka rahasia kedokteran. 2001 Jones MA. sehingga harus dilakukan dengan penuh hati-hati oleh orang-orang yang kompeten dan memiliki kewenangan khusus untuk itu. Dalam kasus pidana dugaan kelalaian yang mengakibatkan cedera atau kematian. Medical Negligence. Washington: National Academy Press. satu berasal dari organisasi profesi (MKEK) dan satu dari kalangan akademisi (dosen Fakultas Kedokteran).

BBC Health. WMA.Mann A. Pozgar GD. 27-28 October 2001. Legal Aspects of Health Care Administration. Medical Negligence Litigation. September 1992 . Vincent C. Medical Accident. 2002 Schutte JE. Ennis M and Audley RJ. Preventing Medical Malpractice Suits. 1995 Tan SY. Medical Assessment of Claims. 1989. 28 January 2002. McNair T. Redfern: International Business Communications Pty Ltd. adopted by the 4th World Medical Assembly. Singapore: Medico-legal Annual Seminar. Gaithersburg: An Aspen Publ. 1993. Statement on Medical Malpractice. Medical Negligence. Spain. Undang-Undang No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan Undang-Undang No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Seattle: Hogrefe & Huber Publ. Oxford: Oxford University Press. 8th ed. Marbella. The Medical Malpractice Epidemic in Singapore: Thoughts From Across the Sea .

com/new/www/delivery/avw.com/new/www/delivery/ck.php?n=a22ad6b1&amp.cb=INSERT _RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads6.cb=INSERT _RANDOM_NUMBER_HERE&amp.n=ac22031e' border='0' alt='' /></a> Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez New Jelajahi Kompasiana.php?n=ac22031e&amp.cb=INSER T_RANDOM_NUMBER_HERE&amp.com Bersama Teman-Teman Facebook Anda Home Kesehatan Kejiwaan Artikel Kejiwaan Delicia .com/new/www/delivery/ck.kompasads.com/new/www/delivery/avw.<a href='http://ads6.php?zoneid=1319&amp.php?zoneid=471&amp.com Cetak ePaper Kompas TV Bola Entertainment Tekno Otomotif Female Health Properti Urbanesia Images More <a href='http://ads6.n=a22ad6b1' border='0' alt='' /></a> Kompasiana Kompas.cb=INSERT _RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads6.kompasads.kompasads.kompasads.

Bukan hal baru lagi kata malpraktek itu dalam kehidupan sehari-hari.. Kata yang begitu tajam dan sensitif itu amat mudah terlontarkan begitu saja ketika tidak mendapat kepuasan yang diharapkan dari satu tindakan yang dokter dilakukan. batuk dan pilek. Sang ibu mengatakan bahwa anaknya ini juga sering begadang. Salah satunya adalah tudingan malpraktek. Namun ibunya marah dan memaksanya naik ke atas brankar dan kemudian di periksa dokter. White Lily 0inShare Contoh Kasus Yang Kerap Dituding Malpraktek REP | 10 November 2011 | 10:46 Dibaca: 3443 Komentar: 7 4 bermanfaat Setiap dokter mungkin pernah mengalami pengalaman tertentu yang tidak menyenangkan dari pasien ataupun keluarga pasien. Demam. dibawa dan dipaksa oleh ibunya berobat ke tempat dokter… Wanita ini (sang anak) menolak dan mengatakan kondisinya tak perlu diperiksa dan akan membaik sendiri. dan sesederhana pikiran demikian… Contoh kasus sederhana dugaan malpraktek tapi ternyata bukanlah malpraktek. Penampilan anaknya itu berdandan seperti anak-anak punk yang sering ada di simpang lampu merah.dan sama sekali tidak koperatif. Setelah hukum memproses ternyata dokter yang bersangkutan tidaklah bersalah. kedua telinganya tertanam puluhan anting-anting. lidah. telat-telat makan. bak silet dilemparkan ” jangan-jangan ada permainan dalam kasus itu antara dokter dengan aparat? “. Namun anaknya itu nampak amat tidak senang dan gelisah ketika diperiksa. .TERVERIFIKASI Jadikan Teman | Kirim Pesan GP. Tidaklah segampang itu. Kasus 1 Pernah satu kali seorang wanita berusia 29 tahun. itulah yang dikeluhkan oleh ibu pasien itu berkenaan dengan sakit yang dialami anaknya. dan telah saya rangkum selama menggeluti bidang ini. dan vonis tak bersalah untuk dokter yang memang terbukti tak bersalah belum tentu diterima lapang dada oleh pasien dan keluarganya. Setelah dinyatakan bahwa dokter tidak melakukan tindakan malpraktek sebagaimana yang dituduhkan. . Dari beberapa tudingan mungkin ada yang benar namun banyak juga yang tidak benar dan memang tidak terbukti malpraktek. bertato dan rambut pirang trend anak punk. dihidung. ada baiknya kita membacanya sebentar…semoga hal seperti ini tidak pernah terjadi pada anda: A.

Dokter dan paramedis segera mendekat mengamati telapak kaki bapak itu. ” Ibu anak ibu ini minum alkohol. lihatlah luka ini dah 3 tahun karena jatuh dari sepeda. itu memang bawaan bakat kulitnya pak”. Bapak itu nampak amat tak puas dan menganggap dokter mengelak untuk lari dari tanggung jawab. tapi jangan asal menyebarkan isu dan berharap warga meruntuhkan tempat saya ” kesal menyelimuti hati sang dokter yang sedari tadi dilotot-lototin dan dibentak-bentak oleh ibu pasiennya. dokter cewek yang tadi pagi?” bentaknya agak keras kepada paramedis membuat sang paramedis bergidik. Kasus 2 Kasus lain. dan itu sama sekali gak boleh apalagi selama sakit dan mengkonsumsi obat. ” Saya segera membawanya kemari bu. menyenter dan mengamatinya. Kalau saya terbukti memang malpraktek saya siap bu. Setelah memberinya salep dan menerangkan bahwa keloid itu tak berbahaya dan mengurangi estetika saja maka sang bapak pun pergi. Bapak itu mengamati luka di dekat siku tangan kanan paramedis dan membandingkan dengan bekas lukanya yang bertumbuh menjadi keloid itu. setiap obat memang ada efek sampingnya tapi ini nampaknya bukan efek samping dari obat yang telah saya berikan tadi pagi. apakah tadi minum obatnya setelah makan? apakah tadi sempat minum alkohol?” tanya dokter dengan mengerahkan seluruh panca inderanya dan mencium aroma alkohol amat pekat dari nafas wanita itu. . ini memang namanya keloid”. “Obat yang diberikan sudah tepat bu.Setelah diberi obat paginya. ” Mana dokter itu. ” Anak saya setelah minum obat katanya perutnya sakit. Jika terkena luka agak dalam di bagian tubuh lain pun bisa juga terbentuk jaringan parut seperti itu. keloid itu bisa timbul jika memang sudah ada bakatnya. tengoklah…nah ini…siapa yang tanggung jawab. Sebelum marah dan ngamuk besar ia ditenangkan oleh paramedis ” ini pak kebetulan saya juga ada keloid nih di tangan saya. ” Itu adalah jaringan parut pak yang tumbuhnya berlebihan namanya keloid. ” Gak tahu. badannya keringatan. Sang ibu hanya menggeleng dan anaknya itu tetap saja diam dengan muka meringis. kalau dokter malpraktek saya bisa menggerakkan warga di sini untuk meruntuhkan tempat praktek dokter”. kata seorang pria berusia 36 tahun dengan mimik muka menantang. ibu jangan bicara langsung menuding saya malpraktek kalau ibu tak tahu apakah anak ibu memang minum sesuai dengan yang dianjurkan/tidak. apakah segampang itu mengatakan malpraktek. apakah kau minum tadi?” tanya siibu sementara anaknya itu terus saja diam saja. dokter harus tanggung jawab”. jangan-jangan dokter sudah asal kasih obat”. apakah ibu ini tak mau tahu atau memang tak tahu kalau anaknya minum obat sambil meneguk minuman keras? kemungkinan juga terlibat pemakaian obat terlarang lainnya dan ia telah asal telan obat yang diberikan itu dan tidak sesuai anjuran. ” Setelah di belah luka ketusuk paku di kaki saya sebulan lalu. sorenya ia dibawa kembali oleh ibunya kembali mendatangi dokter yang sama. kan hampir sama dengan punya bapak. B. Kalimat itu menusuk sekali. takutnya ini karena dokter melakukan malpraktek. Ibu itu pulang dan mengancam akan datang kembali membawa bukti bahwa dokter telah malpraktek. sampai 3 tahun kini ia tak kunjung datang ataupun membawa bukti bahwa anaknya menjadi korban malpraktek dokter.

tidak makan apapun kecuali bubur putih. Kasus 4 Seorang nenek berusia 52 tahun. Saat ia kembali. Luka yang dirawat dengan baik. ia langsung pergi ketempat urut dan rutin mengurutkan jari kakinya di sana. Dan luka itu sekitar sebulan kemudian menutup setelah ibu itu memperbaiki gizi melalui makanan yang dimakannya. Dokter yang menjahit luka di jari kaki ibu itulah yang dicerca anak siibu. Namun begitu dokter hendak membalikkan badan. untung setelah dijelaskan dan tetangga-tetangga membenarkan kata-kata dokter. Kurang gizi protein akan membuat luka lama menutup. Luka haruslah dijaga supaya tidak mengalami infeksi bukan malah diurut2 oleh jari2 tangan yang belum tentu bersih. Dokter menyarankan agar jari kakinya dirontgen ia pun menolak dan memilih pulang. Padahal karena panas tinggi itulah anaknya menjadi kejang. Jam 02. Ia tidak mengganti perbannya juga tidak membuka benang jahitannya. Lukanya sempat bernanah lama dan hingga kini masih terasa sakit. telur ayam dan yang lainnya karena mereka berpikir akan membuat lukanya menjadi gatal. Dan siibu memang tidak pernah kontrol ulang sekalipun seperti yang disarankan. di RS seorang dokter kandungan juga hampir dijadikan bulan-bulanan oleh keluarga pasien. dan anak tak mau kalah ia juga menyalahkan ibunya.C. Kasus 5 Beberapa tahun lalu. Kira-kira 3 bulan lalu siibu mendapat 3 jahitan dijari kakinya. Kebetulan terjadi sesaat setelah dokter masukkan obat demamnya dan obat itu juga belum sempat diserap tubuh anak itu. E. Anak itu kemudian diberikan obat yang dimasukkan melalui anus (pantatnya) berharap agar suhunya segera dan cepat turun. suami istri beranak satu ini kemudian bisa mengerti bahwa kejang itu karena demam tinggi yang dialami anaknya bukan karena over dosis obat seperti yang dikatakannya D. Setelah ditanya-tanya maka siibu mengaku setelah dijahit malam itu (3 bulan lalu). Tidak diizinkan makan ikan. justru ia mempertanyakan kenapa kok jarinya yang dulu dijahit itu nampak membengkok dan tetap masih sakit. dan rajin dibersihkan dan jikalau ia mendengar seperti yang disarankan maka luka itu 5-7 hari biasanya akan menyembuh tak seperti saat ini. suhunya 41. anak itu pun kejang. kenapa siibu harus nunggu larut malam padahal anaknya sudah seharian demam.00 dinihari waktu itu suami istri itu membawa anaknya berobat ke klinik terdekat karena anaknya yang berusia 3 tahun panas tinggi. Setelah dijelaskan berulang kali maka sang ibu hanya bisa menyalahkan anaknya. Usut punya usut ternyata dikarenakan siibu kurang protein.7 derajat celsius. bukan tukang urut yang selama ini mengurut-ngurut jari kaki ibu itu. saat itu karena ia menginjak pecahan kaca. Kasus 6 . F. dituduh malpraktek karena luka bekas operasi di perut tak kunjung mengering. dibawa anaknya berobat ke praktek dokter. Malpraktek jugakah itu?. sel membutuhkan protein untuk memperbaiki diri dan mendukung proses penyembuhan. Kasus 3 Pernah lagi satu kali seorang ibu menangis histeris karena anaknya kejang-kejang. dan siibu menuding gara-gara obat yang barusan dimasukkan itulah yang menyebabkan anaknya kejang. nunggu panasnya begitu tinggi sampai terjadi kejang demam.

Diarenya yang tidak terlalu berat dan tanpa dehidrasi sebenarnya akan aman-aman saja dan tinggal menunggu setelah obat diberikan. kan di sini ditulis satu butir sekali minum?”. Ditanya apakah sang bapak telah meminum obatnya dengan benar seperti yang dianjurkan ia katakan “Ya” namun dokter yang jeli tidak akan percaya begitu saja. Maka bapak itu menjawab enteng kepada dokter ” Dokter. Harusnya dua kali minum berkurangnya adalah dua biji dan bukan 4 biji. namun kondisi anak memang telah amat parah ia tak bisa bertahan. Dosis obat rendah atau tidak tergantung dari masing-masing jenis obat. dioperasi salah gak dioperasi lebih salah. Dokter bedah mengambil tindakan operasi cito “operasi segera” karena keadaan anak mesti ditolong segera. Dokter ngasih saya dosisnya terlalu rendah. Padahal . Seperti menelan buah simalakama. Dokter meminta sisa obat bapak tua itu dan mengamatinya. ” Lalu kenapa bapak minum dua butir. H. Orangtuanya sibuk menyalahkan dokter bedah yang mengoperasi anaknya dan juga dokter umum yang pertamakali didatanginya. Dua hari kemudian keadaan anak itu memburuk bukan karena diarenya lagi namun dugaan adalah ada cedera/memar diususnya. gak pernah masalah kok. dokter tak pandai menjahit luka sehingga ia sekarang mengalami osteomielitis. Peradangan akibat infeksi di tulang. Usus yang membusuk dipotong puluhan cm. Ada obat dengan dosis 10 mg. dianggap obat dibawah 500mg adalah obat dosis rendah. Ia membawa ke dokter sebelumnya maka dokter itupun merujuk anak itu ke dokter bedah. Jangan berpikir dosis 500mg adalah dosis tinggi dan yang tertera 10 atau 100 mg adalah dosis rendah. Setelah diulang pertanyaan kenapa obat itu berkurang 4 butir maka mau gak mau bapak ini mengaku ia minum obat itu sekali minum 2 tablet bukan satu tablet sesuai yang dianjurkan. dan setelah operasi itu anaknya tak sadarkan diri. menghitung jumlah butiran obat yang tersisa dan kemudian ia dapati bahwa obat yang diberikan telah kelebihan diminum sibapak. setelah melakukan tindakan untuk menolong anak itu dan berharap anak itu bisa cepat pulih… namun ternyata Tuhan berkehendak lain. maka jangan menyalahkn dokter itu yang telah berupaya baik. Tergantung jenis obat dan golongan obatnya. Bukan pula dokter bedah yang salah karena ketika anak itu tidak dioperasi maka bisa diduga anak itu akan mati dalam hitungan hari bahkan jam. saya sudah biasa minum obat warung sekali minum dua butir. cuma 100. Namun manusia hanyalah bisa berdoa dan berusaha.Ada seorang bapak tua berobat sebelumnya mengatakan ia mengalami sakit-sakit dipersendian. Inilah yang orang awam sering salah duga. Tapi tahukah bahwa sebenarnya ketika diurut2 itulah yang membunuh anaknya. Setelah minum obatnya dua kali ia datang kembali dengan anaknya dan mengatakan muntah-muntah setelah minum obat dari dokter. G. mengikuti prosedur sebagaimana mestinya. Kasus 7 Seorang anak mengalami diare dan setelah minum obat dari dokter dua kali belum juga membaik. sudah cukup dan jika ditelan melebihi dosis itu akan berakibat fatal. orang tuanya membawanya ke tukang urut dan perut anak itu kemudian diurut-urut semakin meronta semakin keras diurut. biasanya saya minum obat itu yang 500″. Kasus 8 Ada lagi kasus dipoli bedah seorang ayah juga berulang kali menyalahkan dokter yang katanya dulu menjahit lukanya dengan alat tak bersih.

Mau dibawa kemana pun bapak ini tetap salah karena ia tidak mendengar anjuran dokter dengan benar. ia membeli sendiri obat demam jenis ibuprofen di warung dan meminumkannya sampai kemudian anaknya makin lemah. Kondisinya shock. Saat pertama kali dirawat jika ibu bisa bersabar dan tidak memaksa pulang kemungkinan anaknya tidak jatuh dalam tahap shock. hemoglobin darahnya amat rendah…saat sedang ditransfusi ia meninggal. Sibu membawa anaknya ke dokter umum dekat rumahnya. anak itu tak bisa menunggu. menuding karena suster mengatur tetesan darah itu terlalu lambat atau dokternya gak becus sehingga anaknya meninggal dan telat ditolong. Kondisi anak itu mengalami shock akibat demam berdarah yang dialaminya. Banyak lagi kasus diluar yang rumit yang mesti pelan-pelan dicerna dan belajar untuk dipahami sebelum memvonis dokter malpraktek. Dokter telah berupaya. I. Lalu apakah bisa mengatakan dokter yang dulu itu malpraktek?. tidak membalut lukanya dan ia selalu bergelut dengan tanah dan tetap menanam padi di sawahnya. Darah yang dimasukkan tidak boleh dicor (dimasukkan deras) tetap ada hitungannya satu menit hanya boleh sekian tetes. Kasus 9 Seorang ibu membawa anaknya berobat ke dokter umum. namun karena kondisi anak itu membutuhkan perawatan intensif maka anak itupun dirujuk ke rumah sakit. Selama tiga hari di rumah panas tak kunjung turun. demam berdarah jika jatuh ke dalam tahap shock apalagi sebelumnya diberikan penurun panas golongan ibuprofen yang dibelinya diwarung maka kondisinya dan prognosanya adalah buruk.. Tapi tahukah ibu ini. Lukanya juga gak pernah dikontrol ke dokter atau tenaga medis namun beberapa kali ditempeli terasi sampai akhirnya diketahui sekarang terjadi infeksi mengenai tulang di sekitar luka lamanya dahulu. Yang menanganinya di rumah sakit adalah dokter anak. Jangan lantas. tepatnya 3 hari yang lalu.namun karena ia tidak tega anaknya diinfus lama-lama maka ia pun mendesak membawa anaknya pulang ke rumah. dan juga suster jaga. obat demam dari rumah sakit habis. memberikan yang terbaik namun karena kondisinya telah amat berat.setelah ditanya-tanya ayah beranak 1 ini mengaku. dan kemudian di rujuk ke rumah sakit. menurut keterangan ibu pasien ia telah merawatkan anaknya di rumah sakit lain setelah dikatakan anaknya demam berdarah. . Ibu ini menyalahkan dokter yang merawat anaknya di rumah sakit.