ETIKA

Budi Suhendar

PENGERTIAN ETIKA

ILMU YANG MEMPELAJARI TENTANG MORALITAS
 

TENTANG BAIK – BURUKNYA SUATU PERBUATAN DILIHAT DARI SEGI MORAL TENTANG BENAR – SALAHNYA SUATU PERBUATAN DILIHAT DARI SEGI MORAL

ETIKA BUKAN SEKEDAR COMMON SENSE

  

MORAL REASONING MORAL JUSTIFICATION MORAL DELIBERATION MORAL DILEMMA

ETIKA TERUS BERKEMBANG MENGIKUTI SITUASI ZAMAN (Menyerupai tanaman yang terus tumbuh dan berkembang).

DASAR ETIKA (AKAR)

 

FILOSOFI BUDAYA AGAMA ILMU PENGETAHUAN

 VIRTUE (Aristoteles)   . Kekurangan: Niat baik tidak selalu diterima dengan baik.  DEONTOLOGY (Immanuel Kant)   Berlandaskan tanggung jawab dan niat baik (ACTS). Berlandaskan dorongan sifat keutamaan kemanusiaan merupakan gabungan Teleology dan Deontology (AGENT).TEORI ETIKA (BATANG)  TELEOLOGY / UTILITY (John Stuart Mill)   Berlandaskan hasil terbaik (ENDS). Kekurangan : Hasil terbaik dari suatu tindakan tidak selalu dapat ditentukan . Kekurangan: Bergantung terhadap pemahaman individunya.

UNDANG2.ETIKA PROFESI / ATURAN (DAHAN DAN RANTING)    KODEKI. SOP. .

MEMAHAMI PROFESI KEDOKTERAN .

ILMU KEDOKTERAN  EMPIRIS    PROBABILITAS PELUANG BIAS & “UNKNOWN” REASONABLE MEDICAL CERTAINTY    EVIDENCE BASED HUBUNGAN DOKTER-PASIEN BERDASAR UPAYA : KONTRAK TERAPEUTIK (INSPANNINGSVERBINTENNIS) COMPLEX AND TIGHTLY COUPLED SYSTEM   SPESIALISASI & INTERDEPENDENSI PRONE TO ACCIDENT .

Praktik Kedokteran  Menurut UU nomor 29 tahun 2004 Pasal 1 ayat 1 : “Praktik kedokteran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh dokter dan dokter gigi terhadap pasien dalam melaksanakan upaya kesehatan” .

Etika Kedokteran Kebutuhan dasar manusia : 1. Kebutuhan Fisiologis 2. Kebutuhan psikologis 3. Kebutuhan sosial 4. Kebutuhan kreatif dan spiritual   dipenuhi secara berimbang bila tidak dipertimbangkan  Konflik ! .

Pelanggaran terhadap hak asasi pasien juga merupakan pelanggaran terhadap ke 4 kebutuhan dasar tadi. .Etika Kedokteran   Selain mempertimbangkan ke 4 kebutuhan tadi juga perlu dipertimbangkan hak-hak asasi pasien.

Truth telling. Above all do no harm Equal treatment of equals. Confidentiality.PRINSIP MORAL  PRINSIP DASAR:  AUTONOMY :  Self determination. Privacy Providing benefit. Balancing the benefit and harms Primum non nocere. Unequal treatment of unequal  BENEFICENCE   NON MALEFICENCE   JUSTICE : fairness  .

Prinsip AUTONOMY MENGHORMATI HAK PASIEN UNTUK MENENTUKAN APA YANG BOLEH DILAKUKAN TERHADAP DIRINYA .

PRINSIP AUTONOMY    SELF GOVERNANCE. INDIVIDUAL CHOICES KANT : TIAP ORANG MEMILIKI KAPASITAS UNTUK MEMUTUSKAN NASIBNYA SENDIRI MILL : KONTROL SOSIAL ATAS INDIVIDU HANYA SAH APABILA TERPAKSA UNTUK MELINDUNGI HAK ORANG LAIN . LIBERTY RIGHTS.

SETELAH IA DIBERI INFORMASI DAN MEMAHAMINYA. A PATIENT WITH SUBSTANTIAL UNDERSTANDING AND IN SUBSTANTIAL ABSENCE OF CONTROL BY OTHERS. .PRINSIP AUTONOMY-2  PRINSIP AUTONOMY ADALAH DASAR DARI DOKTRIN INFORMED CONSENT   TINDAKAN MEDIS TERHADAP PASIEN HARUS MENDAPAT PERSETUJUAN (OTORISASI) DARI PASIEN TERSEBUT. INTENTIONALLY AUTHORIZES A PROFESSIONAL TO DO SOMETHING.

THRESHOLD ELEMENTS (PRECONDITIONS) COMPETENCE (TO UNDERSTAND & DECIDE) VOLUNTARINESS (IN DECIDING)  3. 2. CONSENT ELEMENTS DECISION (IN FAVOR OF A PLAN) AUTHORIZATION (OF THE CHOSEN PLAN) BEAUCHAMP & CHILDRESS.ELEMEN-ELEMEN  1. 4. 1994 . INFORMATION ELEMENTS DISCLOSURE (OF MATERIAL INFORMATION) RECOMMENDATION (OF A PLAN) UNDERSTANDING (OF 3 AND 4)  6. 7. 5.

YAITU BILA BISA MEMBUAT KEPUTUSAN YG REASONABLE BERDASARKAN ALASAN YG REASONABLE .COMPETENCE: =cakap    KAPASITAS MEMBUAT KEPUTUSAN LEBIH KE ARAH SYARAT DAPAT MEMBERIKAN CONSENT DARIPADA SEKEDAR ELEMEN KOMPETENSI ADALAH SUATU KONTINUUM   DARI KOMPETEN PENUH HINGGA TIDAK KOMPETEN SAMA SEKALI ADA SATU TITIK YG SESUAI KHUSUS UNTUK KOMPETENSI INI.

ATAU PERNAH MENIKAH   TIDAK DALAM KEADAAN TIDAK SADAR KEADAAN MENTAL CUKUP BAIK DAN TIDAK KEHILANGAN KOMPETENSI  BUKAN RETARDASI MENTAL.“KOMPETEN” DI INDONESIA  DEWASA:   USIA SUDAH 21 TAHUN KE ATAS. TIDAK BERPENYAKIT MENTAL YG MENGAKIBATKAN KEHILKANGAN KOMPETENSINYA .

 VOLUNTARINESS:    BEBAS DARI TIUPUAN DAN PAKSAAN BEBAS DARI ANCAMAN UNTUK “DIBIARKAN” PERSUASI MASIH DIBOLEHKAN  DISCLOSURE: ADEKUAT ATAU TIDAKNYA DITENTUKAN:  TRADISI PRAKTEK PROFESIONAL  KEBUTUHAN INFORMASI PADA INDIVIDU PASIEN TERSEBUT  KEBUTUHAN INFORMASI BAGI REASONABLE PERSON .

IMMATURITY NONACCEPTANCE : Menolak informasi sebagai suatu kebenaran FALSE BELIEF: Keyakinan yang salah atau irrasional BAHASA atau ISTILAH WAIVER  MASALAH:     .PRINSIP AUTONOMY  UNDERSTANDING:  DIPENGARUHI OLEH:  ILLNESS. IRRATIONALITY.

PRINSIP NON MALEFICENCE TIDAK BOLEH MELAKUKAN SIKAP / TINDAKAN YANG MEMPERBURUK KEADAAN PASIEN .

PRINSIP NON MALEFICENCE    PRIMUM NON NOCERE ABOVE ALL DO NO HARM SATU CONTINUUM DG BENEFICENCE     NOT TO INFLICT EVIL OR HARM PREVENT EVIL OR HARM REMOVE EVIL OR HARM DO OR PROMOTE GOOD .

PRINSIP NON MALEFICENCE-2  PRINSIP DOUBLE EFFECT TINDAKAN YG MERUGIKAN TIDAK SELALU DIANGGAP TINDAKAN YG BURUK     TINDAKAN TSB SECARA INTRINSIK TIDAK SALAH (SETIDAKNYA NETRAL) NIATNYA MEMPEROLEH AKIBAT BAIK (AKIBAT BURUK BOLEH FORESEEN & TOLERATED) AKIBAT BURUK BUKAN CARA UNTUK MENCAPAI AKIBAT BAIK PERIMBANGAN YG LAYAK ANTARA AKIBAT BAIK DENGAN AKIBAT BURUK .

PRINSIP BENEFICENCE SETIAP SIKAP / TINDAKAN HARUS BERORIENTASIKAN KEPADA KEBAIKAN PASIEN .

PRINSIP BENEFICENCE  TERDIRI DUA PRINSIP:  PRINSIP POSITIVE BENEFICENCE    PREVENT EVIL OR HARM REMOVE EVIL OR HARM DO OR PROMOTE GOOD  PRINSIP BALANCING OF UTILITY / PROPORTIONALITY  BALANCING OF BENEFIT AND HARM .

PRINSIP BENEFICENCE-2  PRINSIP OF UTILITY = BALANCING OF COST-RISK-BENEFIT  COST BENEFIT ANALYSIS:  DIPERHITUNGKAN DALAM HITUNGAN UANG DIPERHITUNGKAN BUKAN DALAM UANG PROBABILITAS DAN BESARNYA RISIKO  COST EFFECTIVENESS ANALYSIS:   RISK ASSESSMENT  .

PRINSIP JUSTICE KEADILAN KETERBUKAAN KEJUJURAN .

FAIRNESS  SESEORANG MENERIMA YANG SELAYAKNYA DIA TERIMA DISTRIBUSI SUMBER DAYA DALAM MASYARAKAT  DISTRIBUTIVE JUSTICE  .PRINSIP JUSTICE  TERDAPAT DUA ISTILAH:  JUSTICE .

PRINSIP JUSTICE-2 TEORI TENTANG JUSTICE  EGALITARIAN:  EQUAL ACCESS TO THE GOODS RIGHTS TO SOCIAL AND ECONOMIC LIBERTY (fair procedure and system) KOMBINASI KEDUA DI ATAS MEMAKSIMALKAN PUBLIC UTILITY  LIBERTARIAN:   UTILITARIAN:   .

KETENTUAN MORAL TURUNAN VERACITY PRIVACY CONFIDENTIALITY FIDELITY .

MORAL RULES  VERACITY: telling the truth   Bagaimana bila informasi tsb memperburuk? Bagaimana bila pasien menolak ? Derivat dari hak otonomi Tujuan: menjaga kepercayaan Apa pengertian “rahasia kedokteran” ? Promise keeping  PRIVACY & CONFIDENTIALITY     FIDELITY  .

Etika Profesi Kedokteran     Sumpah Dokter “kontrak moral” dengan Tuhan KODEKI “kontrok kewajiban moral” dengan Peer Group Bukan kewajiban hukum Hukum kedokteran yang baik haruslah hukum yang etis .

HUBUNGAN DOKTER-PASIEN   DIPENGARUHI OLEH ETIKA PROFESI DAN KEWAJIBAN PROFESI PRINSIP MORAL :    AUTONOMY. NON MALEFICENCE. BENEFICENCE. PRIVACY. CONFIDENTIALITY SALING PERCAYA . JUSTICE VERACITY. FIDELITY.

PASIEN  PATERNALISTIK      SEJAK HIPPOCRATES DIANGGAP DASARNYA : SALING PERCAYA PRINSIP MORAL UTAMA : BENEFICENCE “MENIADAKAN” HAK PASIEN (CONSENT) MULAI DIKRITIK TAHUN 1956 MULAI TAHUN 1972-1975 (social contract) PRINSIP MORAL UTAMA : AUTONOMY INSPANNINGSVERBINTENNIS  KONTRAKTUAL    . DOKTER .HUB.

“KONTRAK TERAPEUTIK”   SALAH SATU HUBUNGAN HUKUM DOKTER-PASIEN TIDAK SEIMBANG / SETARA  DOKTER TIDAK MENJANJIKAN HASIL (RESULTAATSVERBINTENNIS). TETAPI MENJANJIKAN UPAYA YANG SEBAIKBAIKNYA (INSPANNINGSVERBINTENNIS) – reasonable care  HARUS DIJAGA DENGAN ATURAN .

.EMINIMALKAN MUTU  DISEBUT : BOTTOM-LINE ETHICS . BUKAN ETIK MELUPAKAN FAKTOR SISTEM SOSIAL TERLALU LEGALISTIK : PERATURAN TERFOKUS PADA PRINSIP AUTONOMY CENDERUNG M. DOKTER-PASIEN (cont.HUB.)  KRITIK TERHADAP KONTRAKTUAL :        TAK ADA NEGOSIASI EKSPLISIT TAK ADA EKSPEKTANSI EKSPLISIT TERLALU MATERIALISTIK.

)  FIDUCIARY : VIRTUE BASED ETHICS      PRINSIP : MORAL KEUTAMAAN BUKAN SEKEDAR KEWAJIBAN DAN PERATURAN. dll HUBUNGAN : BERTUMBUH-KEMBANG. SALING PERCAYA. ITIKAD BAIK.HUB. KEMANUSIAAN.. BERTUJUAN MENSEJAHTERAKAN PASIEN KOMUNIKASI HARUS BAIK . KERAMAHAN. DOKTER-PASIEN (cont. COMPASSION. TETAPI JUGA “BAGAIMANA SIKAP SEBAIKNYA” EMPATHY. PERHATIAN.

HAK DOKTER      HAK UNTUK BEKERJA “BEBAS”. PROFESIONAL HAK MENOLAK MELAKUKAN PEKERJAAN YG DI LUAR STANDAR PROFESI ATAU MELANGGAR ETIK HAK MEMILIH PASIEN DAN MENGAKHIRI HUB DRPASIEN. KECUALI GAWAT DARURAT MEDIS HAK ATAS PRIVACY HAK ATAS IMBALAN .

DOKTER-PASIEN   KEWAJIBAN SOSIAL .KEWAJIBAN DOKTER  KEWAJIBAN PROFESI :      SUMPAH DOKTER KODEKI STANDAR PERILAKU STANDAR PROSEDUR STANDAR PELAYANAN MEDIS MEMENUHI HAK PASIEN  KEWAJIBAN AKIBAT HUB.