TUGAS SISTEM INFORMASI OBAT (SIO) CARA MENINGKATAKAN KETAATAN PADA PASIEN TBC

OLEH : KELOMPOK 2 A A FEBY DANUSWARI PUTU LITA ASTRIANI NI PUTU YULIA PURNAMI GUSTI AYU EKA PERTIWI PUTU IKA INDAH INDRASWARI 1008505054 1008505056 1008505059 1008505060 1008505061

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2012

2009). Bakteri ini mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan. diduga telah menimbulkan kekebalan ganda kuman tuberkulosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR) (Cearina. batuk darah. cakupan penderita tuberkulosis dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course Chemotherapy) atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek setiap hari baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%. yang disebut sarang primer atau afek primer (PDPI. Cara penularan : Pada waktu batuk dan bersin penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan dahak). Bakteri ini berukuran lebar 0. Gejala lain diantaranya dahak bercampur darah. Kuman TBC cepat mati dengan sinar matahari langsung. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dortmant. tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Cearnai.1 LATAR BELAKANG Tuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis (word). Tahun 1995-1998.6 mm dan panjang 1 – 4 mm. Droplet yang mengandung kuman dapat . berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan dan demam meriang dari sebulan (Widagdo.BAB I PENDAHULUAN 1. tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam di tempat yang gelap dan lembab. Gejala umum TBC adalah batuk terus menerus dan berdahak (mukoid atau sputum mukopurulen) lebih dari 3 minggu. Sebelum strategi DOTS (1964-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang hanya dapat dicapai hanya 40-60%.Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit melengkung.2002).3 – 0. napsu makan menurun. Pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap dimasa lalu. Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumonik. Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). berat badan turun. sesak napas dan rasa nyeri dada. badan lemah. 2003). tidak berspora dan tidak berkapsul. tertidur lama selama beberapa tahun (word). 2009). rasa kurang enak badan (malaise). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru.

Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup dalam saluran pernafasan. Klasifikasi penyakit TBC . 1. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe disekitar hilus paru. maka penderita tersebut dianggap tidak menular. 1997). atau penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya (Anonim. dan terus berjalan sehingga sampai alveolus dan menetap di sana. Tuberkulosis paru Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru tidak termasuk pleura (Selaput Paru). 1997). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak. melalui sistem peredaran darah. sistem saluran limfe. Data penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Infeksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC.bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Droplet yang dihirup sangat kecil ukurannya sehingga dapat melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru. Kemungkinan seseorang terinfeksi TBC ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut (Anonim. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak. saluran nafas. dan ini disebut sebagai kompleks primer. yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberculin dari negatif menjadi positif (Cearina. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman). makin menular penderita tersebut. Setelah kuman TBC masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Tuberkulosis Paru BTA Positif (1). . Sekurang-kurang 2 dari 3 Spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. TBC paru dibagi dalam : a). 2009).

dan Streptomisin. fluorkinon. Rifampisin. TBC tulang belakang. yaitu bentuk berat dan ringan. alat kelamin. sikloserin.(2). b). dan kelenjar adrenal (2). ginjal saluran kencing.aminosalisilat ( PAS ). rifabutin. usus. yaitu : 1). Klasifikasi Pengobatan TBC Tuberkulosis dapat diatasi melalui obat Anti Tuberkulosi (OAT) yang terdiri dari berbagai jenis obat yang diberikan dalam bentuk kombinasi. TBC Ekstra Paru Ringan Misalnya TBC kelenjar limfe. selaput jantung (pericardium) kelenjar limfe. Obat primer : Isoniasid. Obat –obat TBC umumnya di bagi dalam obat–obat primer dan obat–obat sekunder. TBC Ekstra Paru Berat Misal : meningitis. dan asam p. TBC saluran kencing dan alat kelamin. kulit. Obat sekunder : klofamizin. tulang persendian. Obat – obat ini paling efektif dan paling rendah toksisitasnya. TBC usus. misalnya pleura selaput otak. 1 Spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto rontgen dada menunjukkan gambar tuberkulosis aktif. tetapi menimbulkan resistensi dengan cepat bila di gunakan sebagai obat tunggal. Pirasinamid. dalam jumlah dan dosis tepat selama 612 bulan (di Indonesia 6-8 bulan ) (Widagdo. (1). sendi. 2). TBC paru BTA positif di bagi berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya. Etambutol.2003). 2. Tuberkulosis Ekstra Paru Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru. dan lain-lain TBC ekstra paru dibagi berdasarkan pada tingkat keparahan pasien. Tuberkulosis Paru BTA Negatif pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto rontgen dada menunjukkan gambar tuberkulosis aktif. millier. Bentuk berat bila gambar foto rontgen dada memperlihatkan gambar kerusakan paru yang luas dan/atau keadaan umum penderita. Obat – obat ini memiliki kegiatan yang lebih lemah dan biasanya hanya digunakan .

Pemerintah sejak tahun 1995 melalui Program Pemberantasan Tuberkulosis (P2TB) melaksanakan strategi DOTS( Directly Observed Shortcouterse) yang telah direkomendasikan oleh WHO karena memberikan angka kesembuhan yang tinggi dan merupakan strategi kesehatan yang paling cost-effective menurut Bank Dunia.bila terdapat resistensi atau toleransi terhadap obat – obat primer. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO) telah mencanangkan tuberkulosis sebagai « Global Emergency ». Data WHO (World Health Organization) tahun 2006 menyatakan bahwa Indonesia sebagai penyumbang TBC terbesar nomor tiga didunia setelah India dan Cina dengan jumlah kasus baru sekitar 539. Hal ini disebabkan karena pada Negara nerkembang memiliki penduduk yang padat dan prevalensi yang tinggi sehingga lebih dari 65% dari kasus TBC terjadi di Asia (word). penemuan penderita. Namun dalam kenyataannya prevalensi maupun insiden serta resiko penularan penyakit masih belum banyak berubah. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan bahwa terdapat 8. Kondisi tersebut diatas merupakan hal yang perlu mendapat perhatian dari seluruh tenag kesehatan termasuk tenaga kefarmasian. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan menurut regional WHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu 33 % dari seluruh kasus TB di dunia. pengaruh sosial budaya. pengobatan dan pengendalian kasus tidak berjalan seperti yang diharapkan akibat dari adanya hambatan . kemiskinan. Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia ini.000 orang pertahun. petugas maupun pihak masyarakat (Widagdo. (PDPI. TBC paling banyak terjadi di Negara berkembang diantaranya 75 % penderita berada pada usia produktif yaitu 20-49 tahun. pemberian dan pemakaian obat) hambatan nonmedik (pendidikan rendah. pnyebab penyakit.000 kasus dan jumlah kematian sekitar 101. 2002).8 juta kasus baru tuberkulosis pada tahun 2002. Hambatan dapat digolongkan dalam hambatan medic (penyakit.9 juta adalah kasus BTA (Basil Tahan Asam) positif.000 penduduk. baik dari segi pelayanan. 2003). Penyebab lain dari kegagalan dalam pengobatan dan pemberantasan TBC adalah akibat . keterlambatan mendeteksi penyakit serta kendala dari pihak petugas berupa dedikasi dan pengawasan berobat ). namun bila dilihat dari jumlah pendduduk terdapat 182 kasus per 100.2002). Hal ini disebabkan karena pengelolaan kasus. juga terhadap infeksi intracellulose pada pasien HIV ( Tjay dan Raharja. dimana 3.

Kepatuhan dapat didifinisikan secara sederhana sebagai perluasan perilaku individu yang berhubungan dengan minum obat. Ketidakpatuhan minum obat pada pasien TBC dapat diakibatkan oleh keadaan berikut yaitu jenis sediaan obat TBC beragam . pengobatannya cukup lama yaitu 6 bulan dengan biaya yang cukup mahal. TBC merupakan perilaku peran sakit (The sick role behavior). Kepatuhan dalam menjalankan aturan pengobatan (medical regimens) bagi penderita TBC. Berdasarkan berberapa literature. 2009). rata-rata sepertiga sampai dengan setengah dari penderita pada populasi yang diteliti tidak patuh terhadap pelayanan yang diberikan (Widagdo. sehingga penyakit tuberkulosis mudah menular. sehingga banyak penderita yang tidak menyelesaikan pengobatannya secara tuntas. Paru sangat penting dapat mencapai kesembuhan yang optimal sehingga penularan kepada masyarakat dapat dihindari. Kedua. 2008). jumlah obatnya terlau banyak. . pasien tidak mendapatkan informasi yang cukup mengenai cara menggunakan obat dan timbulnya efek samping (Depkes RI. BAB II PEMBAHASAN Penyebab utama prevalensi tuberkulosis di Indonesia ada tiga. Pertama. penduduk Indonesia cukup besar jumlahnya dan kepadatan penduduk yang cukup tinggi pada beberapa daerah.ketidakpatuhan penderita dalam pengobatan tuberculosis. Kepatuhan dalam pengobatan penderita. jadi dibutuhkan pengawasan minum obat. Ketiga. 2003). selanjutnya akan mempengaruhi kesehatan masyarakat. Tingkat kedisiplinan penderita tuberkulosis untuk minum obat anti tuberkulosis yang masih rendah. penyakit ini umumnya menyerang orang-orang dengan status gizi buruk dan kurang. frekuensi pemberian obat perhari terlalu sering. serta kondisi fisik yang lemah (Cearina. yaitu dilakukan penderita agar sembuh dari penyakit. Penderita yang tidak patuh (Non Compliance) dengan pengobatan TBC dapat menularkan pada orang lain. pemberuan obat dalam jangka panjang.

Derajat kepuasan dan kualitas serta tipe hubungan dan pelayanan kesehatan 11. Derajat perubahan gaya hidup yang dibutuhkan 3. Kesulitan dalam memahami dan melakukan tingkah laku spesifik 6. Tata cara tahapan pengobatan didasarkan aturan (regimen) pengobatan yang ditetapkan dalam buku petunjuk pengobatan kedalam katagori kepatuhan dan ketidak patuhan. Sedangkan kepatuhan dalam pengobatan TBC adalah keteraturan penderita TBC dalam mengikuti tata cara tahapan proses pengobatan. Derajat kesukaan penderita dalam menerima dan melaksanakan instruksi 7. Kompleksitas. Biaya secara keseluruhan terapi yang diberikan (Widagdo. Beratnya masalah kesehatan yang dirasakan 4. Berikut ini ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan penderita dalam instruksi pengobatan yang diberikan yaitu : 1. Kepatuhan juga sebagai keaktifan penderita. Budaya spesifik yang diwariskan dimna membuat sulit dalam kepatuhan 10. Keyakinan terhadap terapi atau instruksi yang diberikan 8. 2003) . Motivasi penderita 2.mengikuti diet dan merubah gaya hidup yang sesuai dengan petunjuk medis. efek samping dan lamanya terapi 9. Nilai yang diletakkan dalam mengurangi ancaman sakit 5. kesungguhan dan proses bertanggung jawab terhadap perawatan diri yang mana penderita bekerja untuk mempertahankan kesehatannya melalui kerjasama yang dekat dengan staf pelayanan kesehatan.

2003). 2009). Gejala penyakit yang dialami Dari gejala penyakitnya TBC seperti batuk-batuk . d. 2007). Memberikan konseling pada pasien tentang terapi obat TBC Memberikan konseling terhadap pasien oleh seorang farmasis mengenai informasi obat (indikasi. Ketrampilan komunikasi oleh seorang petugas kesehatan berperan dalam penyampaian informasi yang tepat dan berpengaruh terhadap ketaatan pasien dalam pengobatan (Husnawati et al. pentingnya penggunaan obat atau terapi obat tersebut.sesak napas dan nyeri dada yang dapat menggangu aktivitas sehari-hari.diduga dapat menimbulkan kekebalan ganda kuman tuberkulosis terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) atau Multi Drug Resistance (MDR) . Sehingga dengan mengetahui informasi mengenai penyakit dengna lebih mendalam serta efek bahaya yang dapat ditimbulkan(Cearina. dan efek yang dapat ditimbulkan dari cara penggunaan obat TBC yang tidak tepat (seperti berhenti menggunakan obat) dimana pengobatan yang tidak teratur dan kombinasi obat yang tidak lengkap dimasa lalu. Motivasi dari keluarga Dukungan dan motivasi dari keluarga dapat mempengaruhi kepatuhan pasien dalam pengobatan terapi TBC. b. dosis.Beberapa cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepatuhan pasien TBC diantaranya : a. karena berpengaruh pada psikologis pasien . c. dan durasi pemberian obat. cara penggunaan (aturan pakai obat). Pengetahuan tentang penyakit Pemberian informasi yang tepat mengenai bahayanya penyakit TBC . dapat membuat pasien patuh dalam melakukan terapi pengobatan karena merasa dengan penggunaan obat dapat meringankan gejalanya tersebut (Wagdido. efek samping).

maka dari itu pengawasan konsumsi obat oleh keluarga maupun tenaga kesehatan (apoteker) penting adanya sehingga dapat meningkatkan ketaatan pasien dalam melakukan terapi pengobatan (Widagdo. Pengetahuan tentang penyakit 4. e. Gejala penyakit yang dialami 3. 2003). Motivasi dari keluarga 5. Orang yang tepat sebagai pengawas minum obat haruslah orang yang hidup berdekatan dengan penderita. Pengawasan penggunaan obat oleh petugas kesehatan atau keluarga Penggunaan obat pada terapi TBC jumlahnya lebih dari satu obat dan diminum dalam jangka waktu yang lama. Sehingga dapat disimpulkan keluarga sangat berperan dalam memberikan pengawasan dan dukungan terhadap pasien (word) BAB III KESIMPULAN Untuk meningkatkan kepatuhan terhadap pasien TBC dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pasien kadang lupa dan malas dalam meminum obatnya. dan orang yang cocok dengan peran ini adalah keluarga. dan dapat berkomunikasi dengan penderita . diantaranya : 1 Memberikan konseling pada pasien tentang terapi obat TBC 2. dihormati oleh penderita. Pengawasan penggunaan obat oleh petugas kesehatan atau keluarga .yang membuat pasien bersemangat untuk sembuh dan mau melakukan ketaatan terapi pengobatan (Widagdo. 2003).

PDPI. Analisi Drug Releated Problem Kategori Obat Salah dan Kepatuhan Pada Pasien Tuberkulosis Dewasa di Puskesmas Nusukan dan Puskesmas Banyuanyar Kota Surakarta Periode Januari-Juni Tahun 2008. Materi Pelatihan Peningkatan Pengetahuan dan Ketrampilan Memilih Obat Bagi Tenaga Kesehatan. Widagdo. 2009. Pengaruh Konseling Tentang Terapi Obat TBC Terhadap Kepatuhan Penderita TBC Paru Pada Terapi Obat Periode Februari-Mei 2007 di kelurahan Pancoran Mas-Depok. Listy. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pasien TBC dalam Mengkonsumsi Obat di Puskesmas Kelapa Dua Tangerang. Husnawati et al. 2008. Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kepatuhan Konteks Pasar Minggu Penderita Mengenai Pengobatan Tuberkulosis Dalam Keperawatan Komunitas Di Wilayah Puskesmas Kecamatan Jakarta Selatan Tahun 2002. 2007. Friska L. 2011. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia.Cearina N. Surakarta : Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Di Indonesia.Wahyu. . Jakarta :Program Pasca Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Sarjana Ilmu Keperawatan Indonesia. Lippo Village : Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Pelita Harapan. Depkes RI. 2003. 2002. Majalah Ilmu Kefarmasian Vol IV No 2 : 49-58. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Simarmata.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful