You are on page 1of 3

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Arah kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan adalah meningkatkan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, dengan memberikan prioritas pada upaya peningkatan kesehatan, pencegahan, penyembuhan, pemulihan dan rehabilitasi sejak pembuahan dalam kandungan sampai usia lanjut. Amanat tersebut dituangkan dalam undangundang nomor 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) Tahun 2000 - 2004 yang merupakan penjabarannya (Suyudi, 2002). Salah satu tujuan khusus dari program kesehatan yang tercantum dalam PROPENAS adalah mencegah terjadinya dan tersebarnya penyakit menular sehingga tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan. Untuk mewujudkan upaya-upaya tersebut adalah dengan mengembangkan usaha-usaha penurunan Angka Kematian Bayi (AKB), dan Angka Kematian Balita (AKABA) karena AKB dan AKABA merupakan indikator yang menunjukkan derajat kesehatan suatu bangsa (Soemanto dkk., 1994). Menurut United Nations dalam Siswanto, dkk (1995) AKB dan AKABA untuk negara berkembang hampir 10 kali lipat dari negara-negara maju. AKB di Indonesia selama tiga dasawarsa terakhir menunjukkan kecenderungan yang menurun. Tahun 1995 sekitar 55 per 1000 kelahiran hidup dan pada tahun 1999 mencapai 46 per 1000 kelahiran hidup. Meskipun AKB mengalami penurunan, dibandingkan dengan negara ASEAN Indonesia masih menduduki peringkat keempat tertinggi di antara 10 negara ASEAN, dan masih tinggi dari Vietnam (37 per 1000 kelahiran hidup). AKB tertinggi adalah Kamboja (104 per 1000 kelahiran hidup) menyusul Laos (98), Myanmar (80), sedangkan AKB terendah adalah Singapura (3,3), menyusul Brunei Darussalam (5,6) dan Thailand (6,5) (Depkes RI, 2001). Hasil SKRT 1992 serta hasil SKRT 1995 di 27 propinsi di Indonesia tentang pola penyakit penyebab kematian bayi, penyakit ISPA menduduki nomor pertama (Depkes RI, 2001). Estimasi Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia yang dihitung dari data Biro Pusat Statistik (BPS), mengalami penurunan yang cukup berarti, yaitu dari 111 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 81 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1993. AKABA pada tahun 1995 adalah 75 per 1000 kelahiran hidup dan 59 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 1997. AKABA tertinggi adalah Propinsi Nusa Tenggara Barat (162 per 1000 kelahiran hidup) sedangkan AKABA terendah adalah DKI Jakarta (47 per 1.000 kelahiran hidup). Hasil SKRT 1995 menunjukkan 6 (enam) penyakit penyebab kematian balita yaitu sistem pernafasan (30,8%), gangguan perinatal (21,6%), diare (15,3%), infeksi dan parasit lain (6,3%) dan saraf (5,5%) serta tetanus (3,6%) (Depkes RI, 2001). Dirjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM & PL) Umar Fahmi Achmadi memperkirakan kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama Infeksi Sistem Pernafasan Akut (ISPA) di Indonesia pada akhir 2000 sebanyak lima kasus di antara 1.000 bayi/balita. Berarti, akibat pneumonia, sebanyak 150.000 bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12.500 korban per bulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak per jam atau seorang bayi/balita tiap lima menit (DepKes RI, 2005). Dari laporan tersebut menunjukkan ISPA merupakan penyebab dominan dan merupakan beban umum secara global yang menyebabkan AKB dan AKABA (Lanata dkk., 2004). Hasil survei di Puskesmas Gondangrejo Karanganyar yang terdiri dari 13 desa (Plesungan, Wonorejo, Jeruksawit, Jatikuwung, Selokaton, Rejosari, Bulurejo, Tuban, Krendowahono, Dayu, Wonosari,

September sebanyak 269 kasus.Karangturi dan Kragan) menunjukkan peringkat pertama dari 10 penyakit yang ada di wilayah tersebut pada tahun 2004 adalah (1) penyakit saluran pernafasan bagian atas (7705 kasus). Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. Selain itu tingkat pendidikan ibu. (4) penyakit kulit (1753 kasus). (2) penyakit sistem otot dan jaringan pengikat (2777 kasus ). status gizi balita dan lingkungan tempat tinggal (rumah) diperkirakan juga berpengaruh terhadap terjadinya ISPA pada balita. 2005a). Mei sebanyak 298 kasus. Juli sebanyak 281 kasus. Melihat tingginya angka kejadian ISPA pada balita menunjukkan bahwa ISPA merupakan kelompok penyakit yang kompleks. Untuk kasus ISPA pada balita di wilayah Puskesmas Gondangrejo juga menunjukkan fluktuasi selama tahun 2004. Mengetahui pengaruh lingkungan rumah dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton . di mana hampir setiap bulan terjadi lebih dari 20 kasus (Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. B. (3) penyakit sistem pencernaan (1865 kasus). Dari beberapa kasus tersebut yang terjadi di Kelurahan Selokaton menduduki peringkat yang tinggi. Mengetahui pengaruh status gizi balita dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar d. 2. oktober sebanyak 281 kasus. 2004). Perumusan Masalah Mengacu pada latar belakang masalah di atas maka masalah yang akan dikaji dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut: ”Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar” C. Mengetahui pengaruh sosial ekonomi keluarga (penghasilan keluarga) dengan terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar c. dkk. penyakit diare (667 kasus). Pebruari sebanyak 300 kasus. dan penyakit Telinga dan mastoid (203 kasus) (Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. (5) penyakit gigi (1220 kasus). Maret sebanyak 302 kasus. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di atas maka tujuan penelitian ini adalah : 1. Agustus sebanyak 285 kasus. penyakit TB paru (335 kasus). yaitu pada bulan Januari sebanyak 298 kasus. Juni sebanyak 272 kasus. Nopember 283 kasus dan Desember sebanyak 298 kasus. penyakit tekanan darah tinggi (924 kasus). 2005b). April sebanyak 308 kasus. Mengingat kompleknya penyebab terjadinya ISPA pada balita maka peneliti tertarik untuk mengkaji faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton Wilayah Kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. (9) penyakit konjungtivis (331 kasus). Salah satu penularan ISPA adalah melalui udara yang tercemar dan masuk melalui saluran pernafasan. Mengetahui besar pengaruh tingkat pendidikan ibu terhadap terjadinya ISPA pada balita di Kelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar b. Tujuan Khusus a. Secara demografis wilayah Puskesmas Gondangrejo Karanganyar berdekatan dengan kawasan industri sehingga pencemaran udara diperkirakan menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit ISPA (Achmadi.

sesuai dengan keadaan masyarakat setempat. Bagi masyarakat. . hasil penelitian ini diharapkan menjadi penyediaan data dasar. Mengetahui pengaruh yang paling dominan terjadinya ISPA pada balita diKelurahan Selokaton wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. Bagi Puskesmas Gondangrejo Karanganyar.wilayah kerja Puskesmas Gondangrejo Karanganyar. hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam cara pengambilan/teknik/metode/ peningkatan/mengevaluasi program yang tepat sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan dengan memasyarakatkan upaya pencegahan faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita. 3. 2. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis sebagai berikut: 1. khususnya tentang faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita. hasil penelitian ini dapat sebagai bahan masukan untuk menanggulangi terjadinya ISPA pada balita. Bagi pihak lain. yang dapat digunakan untuk penelitian lebih lanjut. e.