You are on page 1of 24

BERAT BADAN LAHIR RENDAH I. KONSEP MEDIS A.

DEFINISI Bayi berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi baru lahir yang berat badan lahirnya pada saat kelahiran kurang dari 2500 gr . Bayi baru lahir resiko tinggi adalah neonatus tanpa memperhatikan usia gestasi atau berat badan lahir yang mempunyai kemungkinan morbiditas atau mortalitas yang lebih besar dari rata-rata karena kondisi atau situasi yang tumpang tindih pada keadaan normal suatu kejadian yang dikaitkan dengan kelahiran dan penyesuaian pada keberadaan ekstrauterin. B. KLASIFIKASI BBLR 1. Klasifikasi Menurut Ukuran  BBLR adalah bayi yang dengan dengan berat badan kurang dari 2500 g tampa memperhatikan usia gestasi  Berat badan lahir sangat rendah sekali atau bayi berat badan lahir ekstrem rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1000 g  Berat badan lahir sangat rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 1500 g  Berat badan lahir sangat rendah sedang adalah bayi yang lahir dengan berat badan antara 1500-2500 g  Berat badan sesuai dengan usia gestasi adalah bayi yang lahir dengan berat badan diantara persentil ke-10 dan ke-90 pada kurva pertumbuhan intrauterin  Bayi kecil untuk kelahiran atau kecil untuk usia gestasi adalah bayi yang lahir dengan berat badan berada dibawah persentil ke-10 pada kurva pertumbuhan intra uterin  Retardasi pertumbuhan intrauterin (intrauterine growth retardation [IUGR]) ditemukan pada bayi yang pertumbuhan intrauterinnya mengalami retardasi (terkadang digunakan sebagai istilah yang lebih deskriptif untuk bayi kecil untuk usia gestasi)

 Bayi besar untuk usia gestasi adalah bayi yang berat badan lahirnya berada diatas persentil ke-90 pada kurva pertumbuhan intrauterin. 2. Klasifikasi Menurut Usia Gestasi  Bayi prematur (praterm) adalah bayi yang lahir sebelum gestasi minggu ke-37, tanpa memperhatikan berat badan  Bayi full-term adalah bayi yang lahir antara awal minggu ke-38 sampai akhir gestasi minggu ke-42, tampa memperhatikan berat badan lahir  Bayi postmatur (postterm) adalah bayi yang lahir setelah minggu ke-42 dari usia gestasi tampa memperhatikan berat badan lahir. 3. Klasifikasi Menurut Mortalitas  Lahir hidup adalah kelahiran dimana neonatus memanifestasikan adanya denyut jantung, pernapasan, atau menunjukan gerakan volunter tanpa memperhatikan usia geatasi  Kematian janin adalah kematian janin setelah gestasi 20 minggu dan sebelum persalinan dengan tidak adanya tanda-tanda kehidupan setelah lahir  Kematian neonatus adalah kematian yang terjadi dalam 27 hari pertama kehidupan, kematian neonatus dini terjadi pada minggu pertama kehidupan, kematian neonatus akhir terjadi pada 7 sampai 27 hari  Mortalitas perinatal adalah menggambarkan jumlah total janin dan neonatus awal yang meninggal per 100 kelahiran hidup  Kematian postnatal adalah kematian yang terjadi pada hari ke-28 sampai 1 tahun C. PENYEBAB Masa gestasi < dari 37 minggu dan berat badanya sesuai dengan berat badan masa gestasi itu atau biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk masa kehamilan.

Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan. diabetes mellitus. perdarahan antepartum. gerakan janin lebih lambat walaupun kehamilannya sudah agak lanjut. Penyakit lainnya ialah nefritis akut. hal ini disebabkan oleh keadaan gizi yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang. Faktor ibu a. Sering dijumpai kehamilan dengan oligohidramnion atau bisa pula gravidarum dan pada hamil lanjut dengan hidramnion. Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya e. kehamilan ganda umumnya akan mengakibatkan bayi lahir rendah. 1. Pergerakan janin yang pertama (Queckening) terjadi lebih lambat. Keadaan sosial ekonomi Keadan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. c. d. b. Usia Angka kejadian premature tinggi ialah pada usia ibu dibawah 20 tahun dan pada multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat. c. Penyakit Penyakit yang berhubungan langsung dengan kehamilan misalnya toksemia gravidarum. . trauma fisis dan psikologi. dan lahir mati. 2.Kejadian tertinggi terdapat pada golongan social-ekonomi rendah. Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus. D. Kejadian terendah ialah pada usia ibu antara 26-35 tahun.Penyebab: 1. infeksi akut atau tindakan operatif dapat merupakan faktor etiologi premature. Sebelum bayi lahir a. Faktor Janin Hidramnion. partus prematurus dengan toksemia gravidarum atau perdarahan ante partum. hiperemesis DIAGNOSIS DAN GEJALA KLINIK. b.

Bayi dengan retardasi pertumbuhan intra uterin b. Bayi prematur kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya karena itu gangguan pernafasan. Pusat mengatur panas badan masih belum sempurna . gerakan bayi terbatas. mudah diangkat. dan kulit tipis. Tanda-tanda bayi ini adalah tengkorak kepala keras. Verniks kaseosa ada. Lemak kulit dan lemak coklat kurang. trauma kelahiran. jaringan lemak bawah kulit sedikit. Secara klasik tampak seperti bayi yang kelaparan. merah dan transparant. namun tetap lebih peka terhadap infeksi dan hipotermi dibandingkan bayi matur dengan berat badan normal. Bayi Small For Date sama dengan bayi retardasi pertumbuhan intra uterin. hipotermi dan sebagainya. Setelah bayi lahir a. Suhu tubuh a. infeksi. e. b. sehingga cepat kehilangan panas badan. muka seperti boneka (Doll – Like) abdomen buncit.2. Luas badan bayi relatif besar sehingga penguapannya bertambah . karena itu akan lebih muda hidup di luar rahim. tonus otot hipotoni. kulit tipis. Pada bayi kecil untuk masa kehamilan ( Small For Date ) alat-alat dalam tubuh berkembang dibandingkan dengan bayi prematur berat badan sama. Bayi prematur yang lahir sebelum kelahiran 37 minggu. lembek dan berwarna kehijauan c. Kemampuan metabolisme panas masih rendah . kering berlipat-lipat. tali pusat tebal dan segar menangis lemah. tali pusat tipis. e. d. d. c. f. Abdomen cekung atau rata jaringan lemak bawah kulit sedikit. sehingga bayi dengan berat lahir rendah perlu diperhatikan agar tidak terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar . Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam BBLR adalah : 1. tulang tengkorak lunak mudah bergerak. verniks kaseosa sedikit atau tidak ada. Otot bayi masih lemah.

d. Sering mengalami gangguan pernapasan . Perdarahan dalam otak. Mudah terjadi regurgitasi isi lambung dan dapat menimbulkan aspirasi pneumonia.2. Otot pernapasan dan tulang iga lemah d. 4. dan mudah pecah. . Alat pencernaan makanan a. c. Surfaktan paru-paru masih kurang. Fungsi pengatur pernapasan belum sempurna b. sehingga memudahkan terjadinya perdarahan dalam otak. E. Pembuluh darah bayi BBLR masih rapuh. a. Dapat disertai penyakit : penyakit hialin membran. Aktivitas otot pencernaan makanan masih belum sempurna. mudah infeksi paru-paru dan gagal pernapasan 3. sehingga pengosongan lambung berkurang c. Kemampuan mengatur pembuangan sisa metabolisme dan air masih belum sempurna sehingga mudah terjadi udem 6. Pemberian O2 belum mampu diatur sehingga mempermudah terjadi perdarahan dan nekrosis. b. Perdarahan dalam otak memperburuk keadaan dan menyebabkan kematian bayi. Belum berfungsi sempurna sehingga penyerapan makanan dengan banyak lemah/kurang baik b. 5. Ginjal masih belum matang. Pernapasan a. sehingga mudah terjadi hiperbillirubinemia (kuning) sampai menjadi ikterus. Melakukan pengawasan kehamilan dengan teratur. PENCEGAHAN Persalinan preterm dapat dicegah dengan upaya : 1. Hepar yang belum matang ( immatur ) Mudah menimbulkan gangguan pemecahan billirubin. sehingga perkembangannya tidak sempurna c.

F. Bila inkubator tidak ada. agar ia dapat mempertahankan suhu tubuh sekitar 37 °C . Untuk mencegah hipotermi. perlu diusahakan lingkungan yang cukup hangat untuk bayi dan dalam keadaan istirahat komsumsi oksigen paling sedikit. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan gangguan kehamilan dan persalinan. Pengaturan suhu tubuh bayi BBLR Bayi BBLR mudah dan cepat sekali menderita Hypotermia bila berada di lingkungan yang dingin. PERAWATAN BBLR Dengan memperhatikan gambaran klinik diatas dan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada bayi BBLR. kurangnya jaringan lemak dibawah kulit dan kekurangan lemak coklat ( brown fat). menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit ibu dapat diketahui dan di awasi/diobati 4. pemanasan dapat dilakukan dengan membungkus bayi dan meletakkan botol-botol hangat di sekitarnya atau dengan memasang lampu petromaks di . pemberian makanan bayi. Suhu inkubator dapat di turunkan 1 °C per minggu untuk bayi dengan berat badan 2000 gr dan secara berangsur angsur ia dapat diletakkan di dalam tempat tidur bayi dengan suhu lingkungan 27°C-29 °C. memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera melakukan konsultasi. Memberikan nasehat tentang : gizi saat kehamilan. Kelembaban inkubator berkisar antara 50-60 persen . maka perawatan dan pengawasan bayi BBLR ditujukan pada pengaturan panas badan . Meningkatkan keadaan sosial – ekonomi keluarga dan kesehatan lingkungan . sehingga suhu tubuh bayi tetap normal. dan menghindari infeksi. Kelembaban yang lebih tinggi di perlukan pada bayi dengan sindroma gangguan pernapasan. 3. maka suhunya untuk bayi dengan berat badan kurang dari 2000 gr adalah 35 °C dan untuk bayi dengan BB 2000 gr sampai 2500 gr adalah 34 °C . Bila bayi dirawat dalam inkubator. Kehilangan panas disebabkan oleh permukaan tubuh bayi yang relatif lebih luas bila dibandingkan dengan berat badan.2.

pernapasan. Hal ini penting untuk memudahkan pengawasan mengenai keadaan umum. Infeksi adalah masuknya bibit penyakit atau kuman kedalam tubuh. efek sitotoksik limfosit juga masih rendah dan fungsi imun belum berpengalaman. Cara lain untuk mempertahankan suhu tubuh bayi sekitar 36°C-37°C adalah dengan memakai alat perspexheat shield yang diselimuti pada bayi di dalam inkubator. jumlah . perawatan luka tali pusat. Fungsi perawatan disini adalah memberi perlindungan terhadap bayi BBLR dari infeksi. Alat ini berguna untuk mengurangi kehilangan panas karena radiasi. Akhir-akhir ini telah mulai digunakan inkubator yang dilengkapi dengan alat temperatur sensor (thermistor probe). Tetapi diagnosis dini dapat ditegakkan jika cukup waspada terhadap perubahan (kelainan) tingkah laku bayi sering merupakan tanda infeksi umum. Infeksi terutama disebabkan oleh infeksi nosokomial. diare. Bayi BBLR sangat mudah mendapat infeksi. perubahan tingkah laku. tindakan aseptik dan antiseptik alat – alat yang digunakan. aktifitas bakterisidal neotrofil. Kerentanan terhadap infeksi disebabkan oleh kadar imunoglobulin serum pada bayi BBLR masih rendah. frekwensi pernafasan meningkat.dekat tempat tidur bayi atau dengan menggunakan metode kangguru. gelisah. Infeksi lokal bayi cepat menjalar menjadi infeksi umum. Suhu inkubator di kontrol oleh alat servomechanism. Bayi dalam inkubator hanya dipakaikan popok. letargi. bayi BBLR tidak boleh kontak dengan penderita infeksi dalam bentuk apapun. Perubahan tersebut antara lain : malas menetek. suhu tubuh meningkat. kulit. khususnya mikroba. hidung. muntah. Alat ini sangat bermanfaat untuk bayi dengan berat lahir yang sangat rendah. berat badan mendadak turun. Digunakan masker dan baju khusus dalam penanganan bayi. Dengan cara ini suhu kulit bayi dapat dipertahankan pada derajat yang telah ditetapkan sebelumnya. Pencegahan infeksi. Alat ini ditempelkan di kulit bayi. kejang dan sebagainya sehingga penyakit yang diderita dapat dikenal sedini mungkin dan tindakan serta pengobatan dapat dilaksanakan secepat – cepatnya. perawatan mata. Oleh karena itu. warna kulit. isolasi pasien.

ASI juga dapat dikeluarkan dan diberikan pada bayi jika bayi tidak cukup mengisap. kurang giat mengisap dan sianosis ketika minum melalui botol atau menetek pada ibunya. tempat tidur atau kasur inkubator harus diangkat dan bayi dibalik pada sisi kanannya. Pengaturan intake Pengaturan intake adalah menetukan pilihan susu. makanan diberikan melalui NGT. mencegah timbulnya asfiksia dan pemberian antibiotik yang tepat. Terhambatnya jalan nafas akan menimbulkan asfiksia. trachea. rasio perawat pasien yang ideal. Jika ASI tidak ada atau tidak mencukupi khususnya pada bayi BBLR dapat digunakan susu formula yang komposisinya mirip ASI atau susu formula khusus bayi BBLR. sehingga tidak dapat memperoleh oksigen yang cukup yang sebelumnya di peroleh dari plasenta. hipoksia dan akhirnya kematian. Pemberian makanan interval tiap jam dilakukan pada bayi dengan berat badan lebih rendah. cara pemberian dan jadwal pemberian yang sesuai dengan kebutuhan bayi BBLR ASI (Air Susu Ibu) merupakan pilihan pertama jika bayi mampu mengisap. Pernapasan Jalan napas merupakan jalan udara melalui hidung. faring. mengatur kunjungan. Dalam kondisi seperti ini diperlukan pembersihan jalan nafas segera . bronchiolus respiratorius. Sedangkan pada bayi lebih besar dapat diberi makan dalam posisi dipangku.pasien dibatasi. Jadwal pemberian makanan disesuaikan dengan kebutuhan dan berat badan bayi BBLR. Selain itu bayi BBLR tidak dapat beradaptasi dengan asfiksia yang terjadi selama proses kelahiran sehingga dapat lahir dengan asfiksia perinatal. Bayi BBLR juga berisiko mengalami serangan apneu dan defisiensi surfaktan. menghindari perawatan yang terlalu lama. Pada bayi BBLR yang lebih kecil. bronchiolus. Pada bayi dalam inkubator dengan kontak yang minimal. Cara pemberian makanan bayi BBLR harus diikuti tindakan pencegahan khusus untuk mencegah terjadinya regurgitasi dan masuknya udara dalam usus. dan duktus alveolaris ke alveoli.

pijatan jantung dan pemberian natrium bikarbonat dan pemberian oksigen dan selama pemberian intake dicegah terjadinya aspirasi. Fibroplasia retrolental Penyakit ini terutama ditemukan pada bayi premature dan disebabkan oleh gangguan oksigen yang berlebihan. misalnya belum cukup surfaktan terbentuk pada penyakit membrane hialin. dilakukan ventilasi. penyakit ini dapat dicegah dengan perawatan yang baik. Bila tindakan ini gagal . 3. Perdarahan intrventrikuler Perdarahan spontan diventrikel otak lateral biasanya disebabkan oleh karena anoksia otak. akan terjadi vasokontriksi pembuluh darah retina. Kelainan ini biasanya terjadi pada bayi dengan berat badan kurang dari 2 kg dan telah mndapat . 2. G. merangsang pernapasan dengan menepuk atau menjentik tumit. Penyakit Bayi Prematur Semua penyakit pada neonatus dapat mengenai bayi premature. pembuluh darah ini akan mengalami vasodilatasi yang selanjutnya akan disusul dengan proliferasi pembuluh darah baru secara tidak teratur. dibaringkan pada posisi miring. hal ini isebabkan oleh faktor pertumbuhan. 4. kemudian setelah bayi bernapas dengan udara biasa lagi. dengan menggunakan oksigen dalam konsentrasi tinggi.setelah lahir (aspirasi lendir). karena refleks menelan dan batuk belum sempurna. intubasi endotrakheal. Dengan tindakan ini dapat mencegah sekaligus mengatasi asfiksia sehingga memperkecil kematian bayi BBLR. berikut ini diuraikan beberapa penyakit yang ada hubungannya dengan prematuritas: 1. Pneumonia aspirasi Sering ditemukan pada premature. Sindrome gangguan Pernapasan idiopatik Disebut juga membrane hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membrane hialin yang melapisis alveolus paru. biasanya terjadi bersamaan dengan pembentukan membrane hialin pada paru. tetapi ada beberapa panyakit tertentu yang terutama terdapat pada bayi premature.

Ikterus yang menetap setelah 2 minggu pertama 4.5 mg. Hal ini disebabkan faktor kematangan hepar sehingga konjugasi billirubin indirek menjadi billirubin direk belum sempurna.oksigen dengan konsentrasi tiggi (> dari 40 %). Mempercepat proses konjugasi. Melakukan dekomposisi billirubin dengan fototerapi/terapi sinar . obat ini bekerja sebagai enzyme inducer sehingga konjugasi dapat dipercepat 2. Ikterus yang kemungkinan besar menjadi patologis adalah : 1. Kadar billirubin direk melebihi 1 mg% Mengatasi Hiperbillirubinemia : 1. kadarnya tidak melewati kadar yang membahayakan atau mempunyai potensial menjadi kernick icterus. kemudian diikuti oleh pertumbuhan kapiler baru ini tumbuh kearah korpus vitreus dan lensa. Hiperbillirubinemia Bayi premature lebih sering mengalami hiperbilirubinemia dibanding dengan bayi cukup bulan. Ikterusdengan kadar billirubin melebihi 12. Ikterus yang terjadi pada 24 jam pertama 2. 5. Pada dasarnya ikterus yang ditemukan pada bayi lahir dapat merupaka gejala fisiologis (terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi pada neonatus kurang bulan). Stadium akut penyakit ini dapat terlihat pada umur 3-6 minggu dalam bentuk dilatasi arteri dan vena retina. ikterus fisiologis ialah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang tidak mempunyai dasar patologi. pada neonatus cukup bulan dan 10 mg pada neonatus kurang bulanIkterus dengan penimngkatan billirubin lebih dari 5 g%/hari 3. misalnya dengan pemberian fenobarbital. infeksi atau keadaan patologis lain yang telah diketahui 5. Selanjutnya akan terjadi edema ada retina dapat terlepas dari dasarnya dan ini merupakan keadaan yang ireversibel. Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.

Perubahan kimia tersebut terjadi karena adanya oksidasi dari billirubin indirek sehingga pada terapi sinar perubahan yang terjadi pada ikterus tersebut adalah akibat fotooksidasi. .Cara kerja terapi sinar : Terapi sinar dengan mempergunakan kekuatan 400-500 manometer secara invitro dapat menimbulkan dekomposisi billirubin dari suatu senyawaan tetrapirol yang sulit larut dalam air menjadi senyawa dipirol yang mudah larut dalam air. para ahli lain menyatakan bahwa terapi sinar menyebabkan terjadinya isomerasi billirubin indirek yang mudah larut dalam plasma dan lebih mudah diekskresi oleh hati.

Riwayat kehamilan Mulai HPHT umur kehamilan < 37 minggu • • • • • • Ibu menderita: hipertensi( toksemia gravidarum ). 3. Pergerakan kurang dan masih lemah (tonus otot kurang) Bayi laki-laki  Desensus testikulorum Bayi perempuan  klitoris dan labia minora belum tertutup labia mayora. kelainan jantung. lemak subkutan kurang Oksifikasi tengkorak sedikit. demikian pula putting susu belum terbentuk dengan baik Posisi masih posisi fetal (dekubitus lateral) Lipatanbawah kaki lebih sedikit. Penentuan usia kehamilan Usia kehamilan < 37 minggu . Pemeriksaan fisik Antropometri: Berat badan < 2500 gr.II. dengan pemeriksaan • • • • • • • • • • • Kepala relative lebih besar dari pada badan Kulit tipis transparan. penyakit menular Riwayat obstetric kurang baik Kehamilan multigravida dengan jarak kelahiran < 2 tahun Umur ibu < 20 tahun dan < 35 tahun Nutrisi ibu kurang Pemeriksaan/pengawasan antenatal tidak teratur 2. lingkar kepala < 33 cm. ubun-ubun dan sututra lebar Tulang rawan dan daun telinga belum matur sehingga kurang elastis Gusi: makroglosia Jaringan mamae belum sempurna. . DM. PENGKAJIAN 1. panjang badan < 45 cm. lingkar dada < 30 cm. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN A. lanugo dan verniks caseosa banyak.

kurus. komponen kedua fleksi anterior dan menangis yang dapat didengar yang tampak pada usia gestasi minggu ke-32. Makanan / cairan a. lemah dengan perut agak gendur b. Mengorok. Refleks roting terjadi dengan baik pada gestasi 32 minggu. c. retraksi suprasternal atausubsternal atau berbagai derajat sianosis mungkin ada e. Sistem pernafasan : a.s utura mungkin mudah digerakkan. mungkin merapat (tergantung usia gestasi) d. Edema kelopak mata umum terjadi. Tubuh panjang. pernafasan diagfragmatik intermiten atau periodik ( 40-60x/m) b. koordinasi refleks untuk mengisap. Ukuran kepala besar dengan hubungannya dengan tubuh.Refleks batuk lemah d. Pemeriksaan Dubowitz menandakan usia gestasi antara 24-37 minggu. pernafasan cuping hidung. Dapat mendemonstrasikan kedutan atau mata berputar 5.Adanya bunyi “ampeles” pada auskultasi. f. menandakan Respirasi Distress Syndrome ( RDS ) 6. Neurosensori Pemeriksaan Refleks a. Sering terjadi apnoe c. fontanel mungkin besar atau terbuka lebar. menelan dan berfnafas biasanya terbentuk pada gestasi minggu ke 32 g. Refleks moro: komponen pertama dari refleks morro ekstensi lateral dari ekstremitas atas dengan membuka tangan tampak pada gestasi minggu ke28.Refleks menelan masih lemah (kurang ) . Sirkulasi a.Pembuluh darah kulit banyak terlihat 7.Seringkali terdapat edema pada anggota gerak yang dapat berubah sesuai perubahan posisi menjadi lebih nyata sesuadah 24-48 jam b.Frekuensi pernafasan bervariasi/belum teratur terutama pada hari-hari pertama. Kulit tampak mengkilat dan licin c.4. e.

Refleks mengisap masih lemah c. Untuk menentukan berapa kebutuhan nutrisi bayi perhari atau kebutuhan minum (cc/Kg BB) sehingga dapat diberikan nutrisi sesuai dengan kebutuhannya dengan tidak terlepas dari intervensi yang lain yang dapat meningkatkan kenaikan berat badan bayi. kenaikan/penurunan BB selalu dicatat.Kesulitan menyusui 8. RENCANA KEPERAWATAN. Setelah pulang nanti orang tua tidak kaku dan sudah terbiasa memberikan ASI / PASI pada bayi. 3. Ajarkan pada orang tua tentang tehniktehnik pemberian ASI/ PASI yang efektif. Berikan Intervensi spesifik untuk meningkatkan pemberian makanan peroral yang efektif : Pemberian dengan sendok secara bertahap Kontrol stimulasi setiap pemberian 3. 2. Tujuan: Mencerna masukan nutrisi adekuat untuk penambahan berat badan. Rasional 1. dan pemberian secara bertahap mengurangi risiko aspirasi. Intervensi Kaji pola minum bayi dan kebutuhankebutuhan nutrisi Kaji volume.Urine Pada bayi 24 jam I < 15-20 cc. Pemberian minum/ makan lewat sendok agar anak tidak bingung dengan putting susu ibu.b. Eliminasi a. kaji respon bayi. 1. ASI yang kandungannya lebih baik dari makan . dan mengerti kapan bayi sudah mulai haus: misal pada saat menangis. Mekonium ( + ) B. Kaji masukan kalori/nutrisi yang lalu. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (resiko tinggi) b/d ketidakmampuan mencerna nutrisi karena imaturitas dan atau penyakit. durasi dan upaya selama pemberian minum. 2. 26 hari < 200 cc ( fungsi pemekatan urine lemah) b. Kriteria hasil :  Berat badan meningkat 750-1000 gr/bulan  Berat badan naik 30 gr/hari 1.

Mengetahui fungsi vital organ-organ tubuh terutama termostat regulator suhu tubuh. dengan mengenali suhu tubuh (panas atau dingin) maka akan dapat dihindari terjadinya komplikasi . Timbang BB bayi sebelum dan sesudah makan Bersihkan mulut bayi setelah pemberian nutrisi 6. 6. Rasional 1. Jika suhu dibawah normal :  Selimuti dengan 2 selimut. 5.5 – 37. Mengadaptasikan bayi dengan putting susu supaya tidak bigung. Monitor suhu bayi a. Mengetahui kenaikan BB bayi dan keefektifan pemberian nutrisi baik ASI maupun PASI dan mengetahui jumlah pemasukan. 7. 2. Fluktuasi suhu tubuh pada bayi sering terjadi. Mencegah terjadinya infeksi dan perkembanganbiakan kuman akibat susu basi.makanan Anjurkan pada ibu untuk sering-sering meneteki anaknya. Berikan pemberian makan /nutrisi dengan proses adaptasi secara bergantian ASI/PASI (sesuai keb.  Pasang tutup kepala. Termoregulasi tidak efektif b/d kontrol suhu yang imatur dan penurunan lemak tubuh subkutan Tujuan : Mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal Kriteria :  Bebas dari tanda – tanda stres dingin atau hipotermia  Suhu tubuh : 36. Perhari X BB : Pemberian susuai umur masa kehamilan. 4. 5. Untuk megetahui seberapa banyak asupan nutrisi yang masuk 7. Tidur yang banyak akan membuat energi yang masuk dirubah menjadi lemak sehingga dapat dipakai sebagai cadangan makanan. 2. 2. 4.50C Intervensi 1. Tingkatkan tidur dan kurangi pemakaian energi yang berlebih pengganti ASI. Monitor tanda-tanda vital bayi setiap 4 jam. dan melatih reflek mengisap yang baik.

dll). Dengan intervensi tersebut maka dapat direncanakan dengan baik hal-hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi sumber-sumber kehilangan panas pada bayi. Jika suhu di atas normal :  Lepaskan selimut. Tujuan : Bebas dari tanda-tanda infeksi Kriteria : Menujukkan pemulihan tepat waktu pada puntung tali pusat dan sisi sirkumsisi bebas dari drainase atau eritema Intervensi 1. kipas angin) yang langsung mengenai bayi. Konveksi  Hindari aliran udara (pendingin udara. Kaji factor-faktor yang dapat membawa infeksi. Keringkan setiap bagian untuk mengurangi evaporasi kurangi dan hindarkan sumber-sumber kehilangan panas pada bayi seperti a. Inkubator dapat dimanajemenkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi bayi.  Kurangi benda-benda diruangan yang menyerap panas (logam). Kehilangan panas pada bayi terjadi sangat cepat. peningkatan suhu 10 C suhu tubuh akan kehilangan 12 cc/jam. . Pertahankan suhu incubator. 3. 4. Konduksi  Hangatkan seluruh barangbarang dan bahan-bahan untuk perawatan (baju. 3. sipakan lingkungan yang hangat. b. hypothermia atau hyperthermia 3. c. Evaporasi.  Lepaskan tutup kepala. jendela. d.seperti : Rasional 1. 4. Resiko tinggi infeksi b/d pertahan imunologis yang kurang.b. Radiasi  Pertahankan suhu ruangan. sprei. Untuk menentukan intervensi yang akan diberikan pada bayi.  Saat mandi.

4. 3. 7. Mengurangi risiko penularan penyakit pada bayi lain. 6. Posisi saat memberi minum 2. Pisah bayi-bayi yang mengalami penyakit infeksi. Batasi pengunjung bila memungkinkan. Batasi alat – alat infasif (IV. 2. 5. Mencegah masuknya organismeorganisme penyebab infeksi (cross infeksi). Rawat bekas tali pusat dengan menggunakan bethadine dan dibungkus dengan kasa steril. 3. 6. 5. Resiko tinggi kekurangan atau kelebihan volume cairan b/d karakteristik fisiologis imatur dari bayi dan atau imaturitas atau penyakit Tujuan : Berkemih 2-6 kali dengan haluaran 15-60 ml/kg/hari dari hari ke-2 kehidupan . Pertahankan tindakan tekhnik antiseptik dalam setiap tindakan (seperti: sterilisasi alat dan desinfeksi) 4. daya tahan tubuh meningkat dan infeksi tidak terjadi. NGT. Kurangi kerentanan individu terhadap infeksi seperti: pertahankan masukan nutrisi ASI dan PASI 7. specimen Lab dll) untuk yang benarbenar perlu saja. jamur dan untuk mencegah infeksi akibat kontaminasi nasokomial. Lindungi bayi yang mengalami defisit imun dari infeksi: Instruksikan pengunjung untuk cuci tangan sebelum mendekati bayi. 4. Meminimalkan dan membunuh bakteri. Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh bayi dan melakukan tindakan. Mengurangi kontak dengan agen penyebab infeksi dan sumber infeksi.Tindakan non steril. Pengunjung yang banyak Lingkungan kotor dll. Nutrisi yang baik. Mencegah masuknya kuman dan berkembangnya bakteri oleh karena media yang lembab.

Kriteria : 1. tergantung. . 3. 5. Kaji tingkat kesadaran. pengikat selimut atau matras kedor. Tidak ada edema 2. Risiko asfiksia / aspirasi. bunyi jantung ekstra. penurunan resiko kelebihan cairan. Ketidaktepatan penyimpanan dan penggunaan kantong plastik. 4. Tujuan: Bebas dari cedrea asfiksia / aspirasi Kriteria: Melakukan adaptasi lingkungan atau kewaspadaan untuk mencegah cedera kecelakaan. Perlu untuk menentukan fungsi ginjal. Kaji kulit. 4. atau terjadinya hipoksia. Kelebiha n cairan dapat menimbulkan edema paru dan GJK dibuktikan oleh terjadinya bunyi napas tambahan. Membant u menghindari periode tanpa cairan. Rasional 1. 2. area tergantung untuk edema. kebutuhan penggantian cairan dan 2. Kaji faktor-faktor lingkungan yang membuat bayi beresiko asfiksia Rasional 1. 3. Evaluasi derajat edema. Edema terjadi terutama pada jaringan yang 5. wajah. asidosis. Tanda vital dalam batas normal 3. Dapat menujukkan perpindahan cairan. Rencanakan penggantian cairan pada pasien. Auskultasi paru dan bunyi jantung. 5. ketidak seimbangan elektrolit. Intervensi 1. BB sesuai dengan perkembangan Intervensi 1. Kaji intake dan output. akumulasi toksin.

BB. Diskusikan bahaya berkenaan dengan aspirasi serta penggunaan dan penyimpanan bedak bayi yang tepat 2. Persalinan yang lama meningkatkan resiko hipoksia. Intervensi 1. Bahaya aspirasi pada bulan pertama paling sering karena wadah bedak bayi yang karena bentuknya dianggap seperti botol. 3. 6. dan kemungkinan asfiksia fatal. 3.kemungkinan untuk tenggelam. aspirasi. tipe kelahiran apgar skor. dan depresi pernapasan dapat terjadi setelah pemberian atau penggunaan obat oleh ibu. posisi yang tepat. sehingga membuat risiko inhalasi. Neonatus lahir sebelum minggu ke 30 atau BB kurang dari 1500 gr beresiko tinggi terhadap terjadinya RDS. dan jenis kelamin. Perhatikan usia gestasi. seperti lama persalinan. dan obatobatan ibu yang digunakan. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi. Rasional 1. kebutuhan tindakan. Berikan bimbingan antisipasi perlunya menepuk bayi supaya sendawa sebelum menempatkan ditempat tidur. Gangguan perfusi jaringan Tujuan : Mepertahankan kadar PO2 dan PCO2 dalam batas normal Kriteria :   Membran mukosa merah muda Frekwensi jantung normal. selama kehamilan atau kelahiran. resusitatif saat kelahiran. . dan gelang-gelang disekitar dot/pengalas dada (khususnya bila alat ini digunakan pada waktu tidur sejenak atau malam hari) membuat bayi beresiko asfiksia 2. 2. Regurgitasi berkenaan dengan peristaltik balik dan spinter kardia rileks atau imatur meningkatkan resiko aspirasi. 2.

7. Batasi waktu obstruksi jalan napas dengan kateter 5 – 10 detik. 7. Berikan oksigen sesuai dengan kebutruhan. ronkhi. Hipoksemia. Catat kadar setiap jam ubah sisi alat setiap 3 – 4 jam. Pantau pemeriksaan lab dengan tepat: grafik seri GDA. dan asidosis menurunkan produksi surfaktan. Pola napas tidak efektif Tujuan : Mempertahankan pola pernapasan periodik (periode apneu berakhir 510 detik diukuti dengan periodik pendek ventilasi cepat). Takhipnea menandakan distres pernapasan khususnya pernapsan lebih besar dari 60 kali / menit setelah 5 jam pertama kehidupan. 6. khususnya pada bayi yang menerima ventilasi terkontrol. kemudian mencapai plateau) 5. 8. pernapasan cuping hidung. Sianosis adalah tanda lanjut dari PAO2 rendah dan tidak tampak sampai ada sedikit lebih dari 3 g /dl. 3. 6. 7. Mungkin perlu untuk mempertahankan hati sesuai kebutuhan. Kriteria:   Membran mukosa merah muda Frekwensi jantung normal. Observasi pemantau oksigen transkutan atau oksimeter nadi sebelum selama pengisapan. retraksi. Hisap hidung dan orofaring dengan hati. perhatikan tanda – tanda distres pernapasan (mis: Tachipnea.3. untuk mengisap. Gunakan pemantauan oksigen transkutan atau oksimeter nadi. Kaji status pernapasan. Observasi terhadap tanda dan lokasi sianosis. menelan dan bernapas sampai gestasi minggu ke 32 sampai ke 34. atau krekels 4. 8. 4. . Memberikan pemantauan non invasif konstan terhadap kadar oksigen.5. hiperkapnia. Bayi biasanya tidak mengembangkan refleks terkoordinasi. Perbaikan kadar oksigen dan karbon dioksida dapat meningkatkan fungsi pernapasan. kepatenan jalan napas. (catatan: insufisiensi pulmonal biasanya memburuk selama 24 – 48 jam pertama.

Menghilangkan mukus yang menyumbat jalan napas. asidosis metabolik atau hiperkapnia. 2. perhatikan adanya apneu dan perubahan frekwensi jantung tonus otot dan warna kulit berkenaan dengan prosedur atau perawatan. Tempatkan bayi pada matras yang bergelombang. 6. Posisi ini dapat memudahkan pernapasan dan menurunkan episode apneu khususnya pada adanya hipoksia. Magnesium sulfat dan narkotik menekan pusat pernapasan dan aktivitas SSP. yang terutama sering terjadi sebelum gestasi minggu ke 30. glukosa serum. 3. asidosis metabolik. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang dengan gulungan popok dibawah bahu untuk menghasilkan sedikit hiperekstensi 5. Lakukan pemantauan jantung dan pernapasan yang kontinu. Beri oksigen sesuai indikasi. Perhatikan adanya sianosis. bradikardia atau hipotonia. Kaji frekwensi pernapasan dan pola pernapasan. 8. 7. 8. Hipoksia. Membantu dalam membedakan periode perputaran pernapasan normal dari serangan apneu sejati. 5. 6. 4. 3. Tinjau ulang riwayat ibu terhadap obatobatan yang dapat memperberat depresi pernapasan pada bayi. Gerakan memberikan rangsangan. 7. kultur. hipoglikemia.Intervensi 1. Rasional 1. 4. Berikan rangsang taktil yang segera (mis : gosokkan punggung bayi) bila terjadi apnea. Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA. yang dapat menurunkan kejadian apneik. hiperkapnia. dan kadar obat) sesuai indikasi. . 2. elektrorit. dan sepsis dapat meperberat serangan apneik. Perbaikan kadar oksigen dan karbon dioksida dapat meningkatkan fungsi pernapasan. hipokalsemia. Isap jalan napas sesuai kebutuhan. Merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh dan kembalinya pernapasan spontan.

Kaji tingkat kecemasan orang tua. . Agar billirubin mudah larut dalam Rasional 1. Kecemasan orang tua Tujuan: Kecemasan berkurang / teratasi Kriteria:  Ibu mengerti tentang kondisi bayinya  Ibu mengetahui cara perawatan bayi dalam incubator. 12. Mengetahui tingkatan ikterus pada kremer I – V. Rasional 1.8. PK : Peningkatan bilirubin Tujuan : Bilirubin dalam batas normal Kriteria:  Tanda kremer tidak ada Intervensi 1. 1-2 hari: 8 mg/dl. 3. Menentukan sejauh mana tingkatan dari pada klien. 3-5 hari: 12 mg/dl patologis bila:Terjadi peningkatan 5-7 mg atau lebih pada 24 jam pertama dilahirkan. 2. 9. Beri support mental dari petugas 3. dan mengetahui patologis dari munculnya tanda billirubin. 2. Meningkatkan kepercayaan ibu akan kondisi bayinya. apakah sudah memasuki tahap yang lebih tinggi atau tidak. Kaji tingkatan dari pada ikterus Total billirubun Normal darah perifer: 0-1 hari6 mg/dl. Beritahu hasil pemeriksaan yang didapatkan. Meyakinkan klien tentang kondisikondisi yang bermasalah dalam kesehatan. Konsentrasi billirubin bayi aterm 10 mg % dan. Pertahankan Asupan nutrisi/ASI atau 2. 2. Meningkatkan harga diri klien sehingga tidak mudah putus asa 4. Jelaskan tentang : Kondisi bayinya sekarang Perawatan bayi di incubator 2.  Ekspresi tampak tidak cemas Intervensi 1.5 % pada premature.

Telentang + luminal Istirahat /minum Miring kiri Istirahat/ minum Miring kanan Istirahat minum Telentang Istirahat /minum Miring kiri + Luminal Istirahat minum Tengkurap Istirahat minum Miring kanan Istirahat minum Terlentang Istirahat/ minum plasma dan mudah diekstrak ke seluruh empedu.PASI yang adekuat. Lakukan prosedur fototerapi sesui instruksi dokter dalam 24 jam meliputi. Fototerapi menyebabkan terjadinya isomerisasi billirubin sehingga billirubin mudah dihantarkan ke empedu dan dikeluarkan dalam saluran pencernaan. 3. 3. DAFTAR PUSTAKA .

EGC. Yayasan Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo. Ilmu Kebidanan. Jakarta. 2000. 1998. Jakarta Wiknjosastro. Jakarta Carpenito Lynda J. Manuaba. Mochtar. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. R. Jakarta. Sinopsis Obstetri. EGC. Perawatan Maternitas dan Ginekologi II. 2001.Bobak. 1997. 1999. Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana . Edisi 2. Jilid 1. Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran : Bandung Carpenito Lynda J. Buku Saku Keperawatan. . Rencana Perawatan Maternal / Bayi. Ilmu Kebidanan. Edisi 6. Jakarta. Edisi 2. Penerbit buku kedokteran. EGC. et al. H. 1998. EGC Jakarta Doengoes. et al. EGC.