You are on page 1of 3

Percobaan III. Pengukuran Tekanan Darah Arteri Brachialis Dengan Cara Palpasi I. Cara Kerja: 1.

Ukurlah tekanan darah arteri brachialis OP pada sikap duduk dengan cara auskultasi. 2. Ukurlah tekanan darah arteri brachialis OP pada sikap yang sama dengan cara palpasi. II. Hasil Pengamatan: 1. Pada posisi duduk, tekanan darah OP yang diukur dengan cara auskultasi menunjukkan hasil sistol 100 dan diastol 70 (100/70). 2. Pada posisi duduk, tekanan darah OP yang diukur dengan cara palpasi menunjukkan hasil sistol 100 dan diastol tidak ditemukan. III. Pembahasan Tekanan darah arteri dapat diukur dengan 2 cara, yaitu cara palpasi dan cara auskultasi. Manset dipasang pada di atas fossa cubiti. Dengan cara palpasi (perabaan), orang percobaan dapat diukur tekanan darah dengan meraba arteri radialis. Pengukuran tekanan darah dengan cara palpasi tersebut hanya dapat mengetahui tekanan darah sistol. Pada saat memasangkan alat manset usahakan tidak terlalu kencang atau terlalu longgar. Apabila terlalu kencang, maka hasil pengukuran tekanan darah akan berkurang dari yang seharusnya. Sebaliknya, apabila manset terlalu longgar, maka hasil pengukuran tekanan darah akan bertambah dari yang seharusnya, sehingga menjadi tidak akurat Dengan cara auskultasi, dapat dilakukan pengukuran tekanan darah sistol dan diastol dengan menggunakan stetoskop untuk mendengar aliran darah pada arteri brakialis. Pengukuran dilakukan berdasarkan fase korotkof, dimana terdapat 5 fase yaitu: a. Fase Korotkoff I  Terdengar bunyi (sistolik) Kontraksi ventrikel mula-mula menyebabkan aliran balik darah secara tiba-tiba mengenai katup A-V (katup mitral dan katup tricuspid). Katup menutup dan mencembung ke arah atrium sampai chorda tendinea secara tiba-tiba menghentikan pencembungan ini Elastisitas korda tendinae dan katup yang tegang kemudian akan mendorong darah

c. Hal ini disebabkan pada permulaan diastol. Peristiwa ini menyebabkan darah dan dinding ventrikel serta katup yang tegang bergetar dan menimbulkan turbulensi getaran dalam darah. Frekuensi bunyi ini biasanya sangat rendah. ventrikel belum cukup terisi sehingga belum terdapat tegangan elastic yang cukup dalam ventrikel untuk menimbulkan lentingan. katup ini menonjol ke arah ventrikel dan regangan elastis katup akan melentingkan darah kembali ke arteri. Getaran kemudian merambat melalui jaringan di dekatnya ke dinding dada sehingga terdengar sebagai bunyi Korotkoff I dengan menggunakan stetoskop. 3. dan juga antara katup dan dinding ventrikel dalam waktu singkat.bergerak kembali ke ventrikel-ventrikel yang bersangkutan. Bila getaran dari pembuluh atau ventrikel mengenai dinding suara (mis:dinding dada). getaran ini menimbulkan suara yang dapat didengar. 2. Menyebabkan pantulan yang membolak-balikkan darah antara dinding arteri dan katup semilunarasi. Adapun mekanisme dari fase Korotkoff II yaitu: 1. Ketika katup semilunaris menutup. Fase Korotkoff II  Bising Ditimbulkan oleh penutupan katup semilunaris yang tiba-tiba pada akhir sistol. b. Getaran yang terjadi di dinding arteri kemudian dihantarkan terutama di sepanjang arteri. Bunyi ini baru terdengar saat sepertiga bagian tengah diastole. 4. sehingga telinga kita tidak dapat mendengarkannya namun bunyi seringkali dapat direkam pada fonokardiogram. . Fase ini terjadi karena osilasi darah yang bolak-balik antara dinding-dinding ventrikel yang dicetuskan oleh masuknya darah dari atrium. Fase Korotkoff III  Bunyi mulai teratur Bunyinya lemah dan bergemuruh dan terdengar pada awal sepertiga bagian tengah diastole.

Fase Korotkoff V  Bunyi hilang Fase ini digunakan untuk mengukur tekanan diastolic. . Fase Korotkoff IV  Bunyi melemah Bunyi ini timbul saat atrium berkontraksi yang disebabkan oleh meluncurnya darah ke dalam ventrikel sehingga menimbulkan getaran seperti yang terjadi pada fase Korotkoff III.d. e.