You are on page 1of 8

OBSERVASI VARIETAS PADI LOKAL DI LAHAN PASANG SURUT KALIMANTAN SELATAN THE DEVELOPMENTAL STRATEGIES OF THE BEEF CATTLE

AGRIBUSINESS IN HULU SUNGAI UTARA REGENCY Purna Kusumayana Program Studi Ekonomi Pertanian Jl.A.Yani Km. 36 PO. Box 1028 Banjarbaru 70714 e-mail : …….. ABSTRAK Pertumbuhan populasi sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara mencapai 1309 ekor pada tahun 2010, begitu juga dengan ketersediaan daging sapi di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 6.104.896 kg/tahun, sedangkan ketersediaan untuk konsumsi 6.330.457 kg/tahun, jadi masih kekurangan daging sebesar 255.561 kg/tahun. Kondisi ini masih sangat kecil apabila dibandingkan dengan potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan permintaan konsumen/pasar baik dalam maupun luar Kabupaten Hulu Sungai Utara, untuk itu diperlukan suatu konsep yang terukur dan terarah untuk menetapkan strategi yang tepat dalam rangka mengembangkan agribisnis peternakan khususnya sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara, sehingga penelitian ini berjudul “ Strategi Pengembangan Agribisnis Sapi Potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara “, yang bertujuan untuk menentukan strategi, program dan kegiatan pengembangan agribisnis penggemukan sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jenis data yang digunakan terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan responden dengan berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner). Sedangkan data sekunder digunakan sebagai keterangan penunjang yang dikumpulkan dari instansi terkait dan literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian. Data primer dan data sekunder diolah secara analis deskriptif. Pemilihan responder dilakukan dengan cara cluster random sampling, besarnya sampel pada masing-masing cluster digunakan metode proporsional sampling, untuk menentukan alternatif strategi digunakan analis SWOT, menentukan prioritas strategi digunakan analis QSPM dan untuk merumuskan program dan kegiatan dilakukan melalui FGD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua faktor lingkungan strategis yang berpengaruh yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal (kekuatan dan kelemahan). Faktor kekuatan meliputi 1) kebijakan pemerintah; 2) letak geografis; 3) tersedianya hijauan pakan ternak; 4) tugas dan wewenang dinas peternakan; 5) ketersediaan lahan; dan 6) sumber pendapatan peternak. Faktor kelemahan meliputi 1)

2) kondisi pertahanan keamanan (hankam). Pengembangan agribisnis sapi potong memberikan dampak positif yang lebih besar (73. 2) pada prioritas membuat sentra penggemukan dan penyediaan ternak siap jual dirumuskan program penyediaan ternak dengan sistem “GADUH” dan kawasan penggembalaan ternak dan mutu hijauan pakan ternak. dan 4) otonomi daerah. Faktor eksternal (peluang dan ancaman). 3) sarana dan prasarana masih kurang. 3) permintaan tinggi. Hal ini dapat dilakukan di Kecamatan Banjang.81%) dari dampak negatifnya (26. 4) SDM peternak rendah. Faktor Internal. dan 7) kondisi sosial budaya. peningkatan mutu pakan hijauan ternak. dan 3) pengaruh globalisasi. Kata kunci : Sapi Potong.459. Dalam pelaksanaannya juga dapat melayani permintaan perusahaan-perusahaan besar yang ada di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan serta di Provinsi Kalimantan Tengah untuk memenuhi keperluan daging sehari-hari mereka. Faktor ancaman meliputi : 1) produk dari luar daerah. Program tersebut dalam waktu lima tahun dapat dilaksanakan di Kecamatan Amuntai Utara.412. 3) Pengembangan usaha dan peningkatan populasi ternak dengan TAS 1. dan 3) pada prioritas strategi pengembangan usaha dan peningkatan populasi ternak dirumuskan program pembentukan sentra agribisnis. Faktor peluang meliputi : 1) potensi pasar. Faktor Eksternal.400. Berdasarkan diagram SWOT maka pengembangan agribisnis sapi potong berada pada kuadran 1 artinya pada situasi yang sangat menguntungkan sehingga layak untuk dikembangkan.19%). FGD . 5) usaha sambilan. Dari hasil diskusi dalam FGD diperoleh rumusan yang paling utama untuk menentukan program dan kegiatan pengembangan agribisnis sapi potong sebagai berikut : 1) pada prioritas strategi menumbuhkembangkan agribisnis peternakan dirumuskan program dengan kegiatan penyusunan model kawasan agribisnis. Berdasarkan hasil analis SWOT dipilih strategi S-O yaitu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang dengan 24 pasang strategi. 2) Membuat sentra penggemukan ternak untuk penyediaan ternak yang siap dijual dengan TAS 1. Berdasarkan hasil strategi S-O diperolah 24 alternatif strategi dan berdasarkan QSPM diperoleh 3 prioritas strategi yaitu : 1) Menumbuhkembangkan agribisnis peternakan dengan TAS 1.modal usaha terbatas. 2) ketersediaan sapi bakalan masih kurang. Agribisnis. SWOT. 6) penyakit ternak. Hal ini dapat dilakukan di Kecamatan Banjang. pengembangan sentra pakan hijauan ternak. QSPM. 2) perkembangan teknologi dan informasi. serta pembentukan dan pemberdayaan lembaga kelompok-kelompok ternak agar lebih efektif dan efisien dalam pelaksanaannya.

Primary data and secondary data processed in the descriptive analysis. and 3) the influence of globalization. and 3) high demand. Internal factors (strengths and weaknesses). Agribusiness development of beef cattle provide a greater positive impact (73.330. Types of data used consist of primary data and secondary data. so there is still shortage of meat for 225. for that we need a concept determined and directed to establish the right strategy in order to develop agribusiness in particular beef cattle breeding Hulu Sungai in the North.896 kg / year. 2) the geographic location. and 6) sources of income breeders. so the study is titled “ The Developmental Strrategies of the Beef Cattle Agribusiness in Hulu Sungai Utara Regency “. Primary data was collected through direct interviews with respondents by reffering to the list of questions (questionnaire). 5) availability of land. Based on the SWOT diagram agribusiness cattle are in quadrant 1 means the situation is very favorable so worthy to be developed. 2) the availability of calves are lacking. This condition is still very small compared to the potential of natural resources. The result showed that there are two factors that influence the strategic environment of internal factors and external factors. . External factors (opportunities abd threats). as well as the availability of beef in South Kalimantan was recorded at 6.ABSTRACT Population growth of beef cattle in Hulu Sungai Utara Regency tail reaching 1309 in 2010.457 kg / year. While secondary data is used as supporting information gathered from relevant agencies and the literature related to the research. Selects respondents by cluster random sampling.81%) of adverse (26. setting priorities and strategies used to formulate QSPM analysis programs and activities conducted through focus group discussions. Faktor strengths include 1) government policies. Factors weaknesses include 1) limited capital. 4) HR breeders low. 2) the development of technology and information. programs and activities of agribusiness developmental fattening beef cattle in Hulu Sungai Utara Regency. 6) livestock diseases. the sample size in each cluster proportional sampling method is used to determine alternative strategies used SWOT analysis. which aims to determine the strategies. while availability for consumption of 6. and 7) sociocultural conditions. 2) the condition of the defense and security (defense).561 kg / year. and 4) autonomy. Threats factors include 1) the product from outside the region.19%). 4) the duties and authority of animal husbandry departmebt. 3) facilities and infrastructure is still lacking.104. 5) sideline business. and 3) the availability of forage. Factor opportunities include 1) the potential of the market. human resources and consumer demand / market both within and outside the Hulu Sungai Utara Regency.

459.400. This can be done in the District Banjang. In practice it can also serve large companies demand the exist in the District Tabalong South Kalimantan and Central Kalimantan Province to meet the needs of their daily meat. Factor Internal. forage feed livestock development centers. From the discussion in the FGD obtained the ultimate formula to determine the programs and activities of agriusiness development of beef cattle as follows: 1) to develop strategic priorities formulated agribusiness farms modeling program with the agribusiness activities. Based on the result obtained 24 SO strategy and strategic alternatives based QSPM acquired three strategic priorities: 1) develop agribusiness farms with TAS 1. Program within five years to be implemented in the District of North Amuntai. SWOT.412 and 3) Business development and improvement of livestock with TAS 1. Keywords : Beef Cattle. FGD . improving the quality of livestock forage feed. 2) create centers for the provision of cattle feedlot cattle are ready for sale with TAS 1. External Factors. and 3) the priority of business development strategies and programs formulated livestock population increased formation of agribusiness centers. and the establishment and empowerment of groups of cattle to be more effective and efficient in its execution. This can be done in the District Banjang.Based on the result of SWOT analysis been SO strategy is to use force to take advantage of opportunities with 24 pairs of strategies. 2) the priority of making centers and the provision of fattening cattle ready for sale formulated a program to provide livestock with a “rowdy” and the creation of pasture for fodder development activities and the quality of the cattle grazing forage animal feed. Agribusiness. QSPM.

Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipergunakan untuk penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Lokasi penelitian di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang menjadi penelitian pengembangan agribisnis sapi potong. Sedangkan menurut pendapat lainnya validitas menunjukkan sejauhmana suatu alat pengukur mengukur apa yang ingin diukur (Supardi. metode yang dilakukan adalah . Metode purposive sampling diperoleh dari DPRD Komisi Bidang Pertanian sebanyak 5 orang. Menurut Singarimbun dan Effendi (1987).METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian strategi pengembangan Agribisnis penggemukan sapi potong dilakukan pada bulan Mei 2012 sampai dengan selesai dengan kegiatan berupa persiapan. Analisis Data Data primer dan data sekunder yang telah dikumpulkan diolah dengan menggunakan analisis deskriptif. bahwa penentuan jumlah sampel atau besarnya contoh yang diambil untuk mendapatkan data yang representatif minimal 10% dari jumlah populasi yang ada. Populasi dan Sampel Pengambilan sampel atau pemilihan responden dalam penelitian ini dilakukan dengan metode purposive sampling dan metode cluster random sampling. Data kuantitatif yang diperoleh diolah dengan bantuan komputer menggunakan program SPSS dan hasilnya disajikan dalam bentuk tabulasi dan secara kualitatif dan kuantitatif berdasarkan analisis dalam landasan teori. Sedangkan metode cluster random sampling atas dasar pekerjaan/profesi yang dilakukan. dan analisis data serta pembuatan laporan hasil penelitian. kepada pihak-pihak yang dianggap mengetahui informasi dengan baik tentang peternakan sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara. 2005) Pengujian validitas dilakukan dengan menggunakan program Statistical Package for Social Science (SPSS). Uji Validitas Validitas adalah ukuran yang menunjukkan sejauhmana instrument pengukur mampu mengukur apa yang ingin diukur (Santosa dan Ashari. 2005). Untuk melakukan uji validitas. pengumpulan. Untuk itu diambil sampel sebanyak 20% dari 158 populasi. pengolahan. sehingga didapat 32 sampel. Data primer dikumpulkan melalui wawancara langsungt dengan pihak responden dengan berpedoman pada daftar pertanyaan (kuisioner).

Penilaian angka pembobotan adalah sebagai berikut : 2 jika faktor vertikal lebih penting dari faktor horizontal. Menghitung nilai korelasi antara masing-masing skor butir jawaban dengan skor total dari butir jawaban. Pemberian peringkat didasarkan atas kondisi atau keadaan di Kabupaten Hulu Sungai Utara. normal (peringkat = 3. Melakukan uji coba pada beberapa responden. Jadi untuk menguji validitas suatu konsep tahap awal yang harus dilakukan adalah menjabarkan konsep dalam suatu definisi operasional. Tahap-tahap yang harus dilakukan untuk pengujian validitas adalah : 1. dan kuat (peringkat = 4) serta sangat kuat (peringkat = 5). (Santoso. 4. Memberikan skala rating 1 sampai 5 untuk setiap faktor untuk menunjukkan apakah faktor tersebut mewakili sangat lemah (peringkat = 1). 2002) : a. b. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban. Penentuan bobot faktor internal dilakukan dengan memberikan penilaian atau pembobotan angka pada masing-masing faktor. Menentukan faktor kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness) dengan responden terbatas. Uji minimal dilakukan terhadap 30 orang. lemah (peringkat = 2). 2002) Analisis Strategi Pengembangan Agribisnis penggemukan sapi potong Untuk menentukan alternatif strategi pengembangan agribisnis penggemukan sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara digunakan analisis faktor internal dan eksternal yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode analisis SWOT dan untuk menentukan prioritas strategi digunakan analisis quantitative strategic planning matrix (QSPM). 1 jika faktor vertikal sama pentingnya dengan faktor horizontal dan 0 jika faktor vertila. 2. Analisis Faktor Internal Analisis internal dilakukan untuk memperoleh faktor kekuatan yang dapat dimanfaatkan dan faktor kelemahan yang harus diatasi. kurang penting dari pada faktor horizontal. 3. Faktor tersebut dievaluasi dengan menggunakan matriks IFE (Internal Faktor Evaluation) dengan langkah sebagai berikut (David. d. Mendefinisikan secara operasional suatu konsep yang akan diukur. c. Menentukan derajat kepentingan relatif internal (bobot). Mengalihkan bobotdengan rating untuk mendapatkan skor tertimbang.dengan mengukur korelasi antara butir-btir pertanyaan dengan skor pertanyaan secara keseluruhan. .

Nilai 1 menunjukkan bahwa responden terhadap faktor eksternal sangat buruk dan nilai 4 menunjukkan respon sangat baik. Sedangkan nilai lebih besar daripada 2. Responden yang diwawancarai untuk menguji validitas untuk menguji validitas adalah sebanyak30 orang responden. sosial budaya dan teknologi. Nilai peringkat berkisar antara 1 sampai 5. Analisis eksternal ini menggunakan matriks EFE (External Factor Evaluation) dengan langkah-langkah sebagai berikut (David. 2002) : a. Analisis Faktor Eksternal Analisis eksternal digunakan untuk mengetahui faktor ang menyangkut persoalanpolitik.5 menunjukkan bahwa kondisi internal selama ini masih lemah.5 menunjukkan kondisi internal sangat kuat. Memberi peringkat (rating) 1 sampai 5 pada peluang dan ancaman untuk menunjukkan seberapa efektif strategi mampu merespon faktor-faktor eksternal yang erpengaruh tersebut. Menjumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total. dan hasil koreksiitem pertanyaan menunjukkan bahwa seluruh item pertanyaan dinyatakan valid sebab untuk taraf signifikasi 5% angka taraf kritiknya adalah 0. c. Penilaian angka pembobotan adalah sebagai berikut : 2 jika faktor vertikal lebih penting dari faktor horizontal. Penentuan bobot dilakukan dengan memberikan penilaian atau pembobotan angka pada masing-masing faktor. Nilai 1 menunjukan bahwa kondisi internal sangat buruk dan nilai 5 menunjukkan kondisi internal yang sangat baik rata-rata nilai yang dibobotkan adalah 2. Nilai 5 jika jawaban rata-rata dari responden sangat baik dan 1 jika jawaban menyatakan sangat buruk. b.361.5. . Membuat faktor utama yang berpengaruh penting pada kesuksesan dan kegagalan usaha yang mencakup peluang (opportunities) dan ancaman (Threats) dengan melibatkan beberapa responden. Nilai lebih kecil daripada 2.e. ekonomi. Nilai lebih kecil dari pada 2. sedangkan nilai lebih besar dari pada 2. 1 jika faktor vertikal sama pentingnya dengan faktor horizontal dan 0 jika faktor vertikal kurang penting daripada faktor horizontal. Rata-rata nilai yang dibobot adalah 2.5 menunjukkan respon yang cukup baik. e. Hasil analisis faktor eksternal digunakan untuk mengetahui peluang dan ancaman yang ada serta seberapa baik strategi yang dilakukan selama ini. d.5 menunjukkan respon Kabupaten Hulu Sungai Utara terhadap faktor eksternal masih lemah. Menjumlahkan semua skor untuk mendapatkan skor total. Menentukan derajat kepentingan relatif setiap faktor eksternal (bobot). Menentukan skor tertimbang dengan cara mengalikan bobot dengan rating.5. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji Validitas Berdasarkan uji validitas terhadap penggunaan kuesioner kepada responden dengan mengkorelasikan jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan.

Uji Reliabilitas Dari uji reliabilitas terhadap kuesioner diperoleh koefisien diperoleh korelasi sebesar 0. b) Modal usaha terbatas. d) SDM Peternak masih rendah. dan d) produk dari luar daerah. maka dapat dikatakan bahwa hasil pengukuran tersebut sudah reliabel. dan e) Usaha sambilan. kuesioner dan wawancara dengan para responden diperoleh hasil evaluasi faktor lingkungan strategis yang terdiri dari Internal Faktor Evaluation (IFE) dan External Faktor Evaluation (EFE). d) Ketersediaan lahan. Faktor Eksternal Beberapa faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten HSU terdiri dari peluang (opportunities) dan ancaman (threats). b) otonomi daerah. Faktor lingkungan tersebut terdiri dari 2) faktor internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan b) faktor eksternal yang meliputi peluang dan ancaman. Faktor kelemahan meliputi : a) Ketersediaan sapi bakalan. Faktor Internal Beberapa faktor internal yang berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara terdiri dari kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness). Faktor kekuatan meliputi : a) Kebijakan pemerintah. b) Letak geografis Kabupaten HSU. kuesioner dan wawancara dengan para responden di lapangan diperoleh beberapa faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pengembangan agribisnis sapi potong di Kabupaten Hulu Sungai Utara.361. Faktor ancaman yang berpengaruh : a)pengaruh globalisasi. dan f) Sumber pendapatan peternak. c) kondisi sosial budaya pertahanan dan keamanan. c) perkembangan teknologi dan informasi.765 lebih besar dari 0. c) Tugas dan Kewenangan Dinas Peternakan. Hasil Evaluasi Faktor Lingkungan Strategis Dari hasil pengamatan. b) penyakit ternak. dan d) permintaan tinggi. c) Sarana dan prasarana yang belum memadai. Faktor peluang yang berpengaruh meliputi : a) potensi pasar. . Analisis Faktor Lingkungan Strategis Dari hasil pengamatan. e) Tersedianya hijauan makanan ternak dan limbah pertanian.