You are on page 1of 11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam skenario ini kami mengklarifikasi beberapa istilah sebagai berikut: a. Limfa regional ingunal dekstra : kelenjar limfe yang terdapat pada ingunial perut bawah kanalis inguinalis hingga daerah lipatan paha atas, bagian kanan b. Kelenjar limfe : organ limfoid sekunder (terdiri dari kelenjar limfatika) c. Nyeri tekan : salah satu tanda dalam pemeriksaan fisik palpasi berupa perasaan sakit/nyeri ketika diberikan tekanan pada daerah tertentu d. Radang : reaksi lokal suatu jaringan tubuh akibat luka (injury) e. Palpasi : metode pemeriksaan fisik dengan meraba memakai satu atau dua tangan. Pemeriksaan dengan palpasi bertujuan membentuk gambaran organ tubuh dan masa abnormal organ tubuh f. LED : Laju Endap Darah, yaitu jarak yg ditempuh eritrosit yang mengendap tiap satuan jam (mm/jam) g. Inspeksi : metode pemeriksaan fisik berupa proses oberservasi menggunakan mata untuk mendeteksi tanda-tanda yang berhubungan dengan status kesehatan pasien h. Metamyelosit: jenis leukosit muda dengan inti seperti kacang atau ginjal; memiliki granula netrofil, eosinofil, dan basofil; dan sitoplasma tidak mengandung sentrosfer. Metamyelosit merupakan bentuk muda dari netrofil, eosinofil, dan basofil yang berada di sumsum tulang. Metamyelosit yang didapatkan di sirkulasi darah bebas menunjukkan kondisi yang abnormal i. Demam : keadaan di mana suhu tubuh di atas batas normal (normal : 36,5-37,8) j. Basofil : merupakan jenis leukosit, berbentuk seperti neutrofil, nukleus kurang jelas karena tertutup granula. Bergranula besar dengan afinitas

bernukleus sebagian besar bilobus. granula halus. pematangan di timus). kromotin kurang kasar dan menggumpal n. Eeosinofil : merupakan jenis leukosit. nukleus berlekuk seperti tapal kuda. Leukosit dapat melakukan gerakan amuboid dan melalui proses diapedesis leukosit dapat meninggalkan kapiler dengan menerobos antara sel-sel endotel dan menembus kedalam jaringan penyambung. berinti bilobus. LEUKOSIT Leukosit adalah sel darah yang mengandung inti. Netrofil segmen : merupakan jenis leukosit. Monosit : merupakan jenis leukosit.1 Pengertian . berfungsi dalam fagositosis. kromatin kasar dan menggumpal m. limfosit B (respon kekebalan humoral. Limfosit : jenis leukosit mononuklear  limfosit T (respon kekebalan seluler. menyerap zat warna biru . Rata-rata jumlah leukosit dalam darah manusia normal adalah 50009000/mm3. sel terbesar dalam darah normal. mempunyai granula besar. disebut juga sel darah putih. mengeluarkan histamin dan heparin k. dalam jaringan berubah menjadi makrofag 1. dan berwarna ungu tua. bila jumlahnya lebih dari 10. sitoplasma pucat dengan granula halus. bila kurang dari 5000/mm3 Leukosit mempunyai peranan dalam pertahanan seluler dan humoral organisme terhadap zat-zat asingan. pematangan di sumsum tulang dan di timus o. Basofil berfungsi dalam hubungannya dengan reaksi alergi. Netrofil batang : merupakan jenis leukosit.besar terhadap zat warna basa. menyerap zat warna asam. 1.000/mm3. dan berperan dalam reaksi alergi terutama terhadap parasit l. keadaan ini disebut leukositosis. intinya bersegmen 2-5 lobus. inti seperti batang melengkuk. sitoplasma pucat.

Neutrofil batang/stab Ukuran rata-rata 12 u.1 Granula a.45 x 109/L).7 x 109/L) d. dengan rata-rata 3 lobus. Basofil Menyerupai netrofil tetapi nukleusnya tidak begitu jelas segmennya (sekedar berlekuk atau sebagian berlobus). kira-kira 2/3nya merupakan granula azurofilik (merah biru sampai ungu). Jumlah 0 – 4 % dari lekosit total (0 – 0. Eosinofil Ukuran rata-rata 13 u. c. Sitoplasma dan granula sama dengan neutrofil batang. Jumlah 40 – 60% dari lekosit total (1.2 x 109/L). nukleusnya lebih pucat dan sering kali tersembunyi oleh granula sehingga bentuknya sulit diketahui. granulanya lebih besar dan mempunyai afinitas kuat terhadap cat basa berwarna ungu tua. Neutrofil segmen / polimorfonukleus Ukuran rata-rata 12 u. nukleus berwarna kurang gelap dibanding neutrofil dan biasanya mempunyai 2 segmen yang dihubungkan. b. nukleusnya gelap berbentuk huruf E. banyaknya lobus pada neutrofil normal berkisar antara 2-5 lobus. Sitoplasma tak berwarna penuh dengan granulagranula yang sangat kecil dan berwarna coklat kemerahan sampai merah muda.1. Jumlah 0 – 2 % dari lekosit total (0 – 0. nukleus lebih tebal berbentuk huruf U dengan kromatin kasar dan rongga parakromatin yang batasnya agak jelas. Jumlah 0 – 6 % dari lekosit total (0 – 0.0 x 109/L) .2. Z atau S yang terpisah menjadi segmen-segmen/ lobus-lobus yang dihubungkan oleh filamenfilamen yang halus. Sitoplasma tak berwarna dengan granula-granula bulat atau oval yang besar dan berwarna merah cerah.2 Jenis Sel Darah Putih 1.8 – 7.

1. sitoplasma lebih banyak. Limfoosit besar Ukuran 12 – 15 u.2. Jumlah 22 – 44 % dari lekosit total (1. sering berisi granulaa kecil. sitoplasma berwarna biru pucat kecualai tepi nukleus berwarna jernih. Limfosit kecil Ukuran 6-10 u (seukuran eritrosit).1. Limfosit adalah sel mononukleus tanpa granula sitoplasma yang spesifik.8 x 109 / L) .8 x 109/L) b. Jumlah 0 – 7% dari lekosit total (0 – 0. 2. Dibedakan menjadi 2 yaitu limfosit kecil dan limfosit besar.0 – 4. nukleus berwarna tidak begitu pekat. kromatin inti tampak sebagai untaian halus dan sejajar yang dipisahkan oleh parakromatin yang jelas batasnya. berlekuk atau seperti tapal kuda.2 Agranula a. nukleus bulat kadang-kadang berlekuk. Mempunyai saatu nukleus yang sebagian berlobus. kadang-kadang nukleus tampaak bulat atau oval. kadang-kadang cacat dan berlekuk (akibat tertekan sel-sel sekitarnyaa). halus berwarna merah ungu. batas tegas dengan kromatin padat berwarna biru tua serta parakromatin strip-strip berwarna lebih muda. Monosit Adalah sel terbesar dalam darah normal. Sitoplasma banyak sekali berwarna biru abu-abu daan tampak seperti gelas yang ddigosok. ukuran 14 – 20 u (2 – 3 kali ukuraan eritrosit).

1. Seri limfosit c. Seri granulosit b.3 Rangkaian Hemopoesis Lekosit a. Monosit .

kemudian dapat masuk kembali kedalam aliran darah. Tahap akhir dari diferensiasi sel-sel B yang diaktifkan berwujud sebagai sel plasma. tonsil dan sebagainya. Sel plasma mempunyai retikulum endoplasma kasar yang luas yang penuh dengan molekul-molekul antibody. kompleks ini mempertinggi fagositosis. Akan tetapi mungkin semua sel pregenitor limfosit berasal dari sum-sum tulang. Sel T dan sel B secara marfologis hanya dapat dibedakan ketika diaktifkan oleh antigen. cairan . sel T yang diaktifkan mempunyai sedikit endoplasma yang kasar tapi penuh dengan ribosom bebas.1. limfonodus.1 Pengertian Sistem limfatik (lymphatic system) atau sistem getah bening membawa cairan dan protein yang hilang kembali ke darah . lisis sel dan sel pembunuh (killer sel atau sel K) dari organisme yang menyerang. beberapa diantara limfositnya yang secara relatif tidak mengalami diferensiasi ini bermigrasi ke timus. SISTEM LIMFATIKA 2. kembali kedalam sum-sum tulang atau ke organ limfoid perifer dan dapat hidup beberapa bulan atau tahun.4 Perkembangan Limfosit dalam proses Imun Seperti kita ketahui bahwa limfosit yang bersikulasi terutama berasal dari timus dan organ limfoid perifer. disini sel limfosit ini memperoleh sifat limfosit T.Cairan memasuki sistem ini dengan cara berdifusi ke dalam kapiler limfa kecil yang terjalin di antara kapilerkapiler sistem kardiovaskuler. lalu memperbanyak diri. Apabila sudah berada dalam sistem limfatik. Sel-sel T bertanggung jawab terhadap reaksi immune seluler dan mempunyai reseptor permukaan yang spesifik untuk mengenal antigen asing. limpa. Limfosit lain tetap diam disum-sum tulang berdiferensiasi menjadi limfosit B berdiam dan berkembang didalam kompertemenya sendiri. Sel B bertugas untuk memproduksi antibody humoral antibody response yang beredar dalam peredaran darah dan mengikat secara khusus dengan antigen asing yang menyebabkan antigen asing tersalut antibody. 2.

virus . . Nodus LimfatiKus Dikenal dua jenis yaitu : memiliki capsula. FUNGSI nodus lymphaticus : . kelenjar limfe menghasilkan zat imun (antibodi) untuk melindungi tubuhterhadap mikroorganisme. susunannya sebagai berikut : a. Capsula merupakan selubung terdiri atas jaringan ikat fibrus padat mengandung banyak berkas kolagen dan elastis. terpisah dari capsula oleh rongga bernama sinus subcapsularis.Mengangkut limfosit dari kelenjar limfe ke sirkulasi darah. Vas lymphaticum efferens : meninggalkan nodus pada bagian konkaf. Di sini ada 2 macam pembuluh limfa..Kelenjar limfe menyaring dan menghancurkan mikroorganisme untuk menghindarkan penyebaranorganisme itu ke dalam jaringan. .Mengembalikan cairan dan protein dari jaringan ke dalam sirkulasi darah. Cortex : bagian luar nodus.tempat penambahan lymphocytus melalui cortex . komposisinya kira-kira sama dengan komposisi cairan interstisial. bakteri.Membawa lemak yang sudah dibuat emulsi dari usus ke sirkulasi darah.tempat penyaringan benda asing seperti partikel. dan bagian lain tubuh. Vas lymphaticum afferens : memasuki nodus di bagian konvesk.Apabila ada infeksi. . 2.3 Organ Limfatika 1.2 Fungsi Sistem Limfatika . 2. Saluran limfe yangmelaksanakan fungsi ini ialah saluran lakteal (di mukosa usus halus) .itu disebut limfa (lymph) atau getah bening. b.tempat pemasukan lymphocytus B . Cortex tersusun oleh : Nodulus lymphaticus : bundar sebagai kumpulan padat lymphocyti.

Merupakan komponen sistem pertahanan tubuh. .. .Menghasilkan thymocytus.Pada kehidupan fetus dan selama 2 tahun pertama kehidupan postnatal. berisi banyak berkas kolagen. sebagai bagian mesothelium (berasal dari peritoneum) . sel darah yang rusak atau cacad dan . . thymus berukuran terbesar. berkas elastis di bagian dalam. Fungsi Lien : Menyaring benda asing thrombocytus. .Menghasilkan getah thymosin untuk menjaga agar fungsi alat limfatik lain berjalan lancar. Struktur : .sebagai komponen sistem pertahanan tubuh yang dilakukan secara : seluler oleh lymphocytus T humoral oleh lymphocytus B 2. Fungsi Thymus : .capsula atau tunica fibrosa berupa jaringan ikat fibrus padat. Tymus Alat yang terletak cranial terhadap strenum dalam rongga dada berbeda dengan nodus lymphaticus karena tidak memiliki pembuluh limfa yang masuk maupun ke luar. Lien Alat tersebsar di antara organ lymphatica. Sejak usia 2 tahun sampai pubertas alat makin mengecil.Sebagai tempat penimbunan erythrocytus . Sesudah pubertas alat mengalami involutio.Menghancurkan erythrocytus tua.tunica serosa membungkus lien berupa epitel pipih selapis. sedikit otot polos.Sebagai salah satu komponen penting sistem pertahanan tubuh. 3.

sel plasma dan makrofag). kenaikan permeabilitas kapiler disertai dengan kebocoran cairan dalam jumlah besar ke dalam ruang interstisial.epithelium squamosum stratificatum : melapisi permukaan alat. 3. dan infiltrasi sel mononuklear (limfosit. INFLAMASI Inflamasi adalah respon fisiologis tubuh terhadap suatu injuri dan gangguan oleh faktor eksternal. Crypta dapat bercabang sebagai : crypta tonsillaris primaria crypta tonsillaris secundaria Fungsi : alat ini merupakan komponen sistem pertahanan tubuh. Inflamasi akut adalah radang yang berlansung relatif singkat. endotelium vaskuler. lymphocytus. Inflamasi akut dapat berkembang menjadi suatu inflamasi kronis jika agen penyebab injuri masih tetap ada. dari beberapa menit sampai beberapa hari. Secara garis besar. eksudasi cairan dan protein plasma serta akumulasi neutrofil yang menonjol. peradangan ditandai dengan vasodilatasi pembuluh darah lokal yang mengakibatkan terjadinya aliran darah setempat yang berlebihan. dan ditandai dengan perubahan vaskular. sel epitel. Di beberapa tempat epitel membuat lekukan : crypta tonsillaris yang sering ditimbuni bakteri.4. Tonsillia Struktur : alat ini tersusun oleh kumpulan noduli lymphatici. capsula : jaringan ikat fibrus padat yang berperan membungkus tonsilia palatina perintang penyebaran radang tonsilia palatina . yang berfungsi menghancurkan. Inflamasi kronis adalah respon proliferatif dimana terjadi proliferasi fibroblas. pembekuan cairan dalam ruang interstisial yang disebabkan oleh fibrinogen dan protein lainnya yang bocor dari kapiler dalam . mengurangi. dan sebagainya. Inflamasi merupakan respons protektif setempat yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan jaringan. atau mengurung (sekuestrasi) baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu Inflamasi terbagi menjadi dua pola dasar.

Sel darah merah akan mengendap ke dasar tabung sementara plasma darah akan mengambang di permukaan. dalam kehamilan dan para lansia pun memiliki nilai Laju Endap Darah yang tinggi. bradikinin. . dan pembengkakan sel jaringan. Jadi orang normal pun bisa memiliki Laju Endap Darah tinggi. Tinggi ringannya nilai pada Laju Endap Darah (LED) memang sangat dipengaruhi oleh keadaan tubuh kita. dan berbagai substansi hormonal yang disebut limfokin yang dilepaskan oleh sel T yang tersensitisasi. suspensi sel-sel darah merah akan merata di seluruh plasma sebagai akibat pergerakan darah. Proses pemeriksaan sedimentasi (pengendapan) darah ini diukur dengan memasukkan darah ke dalam tabung khusus LED dalam posisi tegak lurus selama satu jam. beberapa macam produk reaksi sistem komplemen. Di dalam tubuh. prostaglandin. sel darah akan mengendap dibagian bawah tabung karena pengaruh gravitasi. Namun ternyata orang yang anemia. dan sebaliknya bila Laju Endap Darah normal pun belum tentu tidak ada masalah.jumlah berlebihan. Beberapa produk jaringan yang menimbulkan reaksi ini adalah histamin. LAJU ENNDAP DARAH (LED) Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu pemeriksaan rutin untuk darah untuk mengetahui tingkat peradangan dalam tubuh seseorang. Atau dapat dikatakan makin banyak sel darah merah yang mengendap maka makin tinggi Laju Endap Darah (LED)-nya. migrasi sejumlah besar granulosit dan monosit ke dalam jaringan. Kecepatan pengendapan sel darah merah inilah yang disebut LED. Laju endap darah ( LED ) berfungsi untuk mengukur kecepatan pengendapan darah merah di dalam plasma ( mm/jam ). produk reaksi sistem pembekuan darah. terutama saat terjadi radang. serotonin. Akan tetapi jika darah ditempatkan dalam tabung khusus yang sebelumnya diberi antikoagulan dan dibiarkan 1 jam. yang mendukung pemeriksaan fisik dan anamnesis dari sang dokter. 4. Jadi pemeriksaan Laju Endap Darah masih termasuk pemeriksaan penunjang.

Bila dilakukan secara berulang laju endap darah dapat dipakai untuk menilai perjalanan penyakit seperti tuberkulosis. sedang pada cara Westergren nilai rujukan untuk wanita 0 — 15 mm/jam dan untuk pria 0 — 10 mm/jam. Laju Endap Darah (LED) yang cepat menunjukkan suatu lesi yang aktif. Di laboratorium cara untuk memeriksa Laju Endap Darah (LED) yang sering dipakai adalah cara Wintrobe dan cara Westergren. Selain pada keadaan patologik.Proses pengendapan darah terjadi dalam 3 tahap yaitu tahap pembentukan rouleaux – sel darah merah berkumpul membentuk kolom. . kehamilan setelah bulan ketiga dan pada orang tua. dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). penyakit kolagen. demam rematik. malignansi. sedangkan Laju Endap Darah (LED) yang menurun dibandingkan sebelumnya menunjukkan suatu perbaikan. tahap pengendapan dan tahap pemadatan. kerusakan jaringan (nekrosis). artritis dan nefritis. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi/peradangan akut. Pada cara Wintrobe nilai rujukan untuk wanita 0 — 20 mm/jam dan untuk pria 0 — 10 mm/jam. Laju Endap Darah (LED) yang cepat juga dapat dijumpai pada keadaan-keadaan fisiologik seperti pada waktu haid. infeksi akut dan kronis. peningkatan Laju Endap Darah (LED) dibandingkan sebelumnya menunjukkan proses yang meluas. rheumatoid.