You are on page 1of 18

LONGCASE LONGCASE SUBDIVISI BEDAH UROLOGI PERIODE 23 – 29 MARET 2013

I.       

IDENTITAS PASIEN Nama Umur : Tn. PT : 78 thn

Jenis Kelamin : Laki-laki RM MRS Status Ruangan : 603539 : 15 April 2013 : ASKES : Lontara 2 Bedah Urologi Kamar 1Bed 3

II.

ANAMNESIS : Tidak bisa buang air kecil :

Keluhan Utama Anamnesis Terpimpin

Dialami sejak + 5 bulan yang lalu sebelum masuk RS Wahidin Sudirohusodo. Penderita harus menunggu lama dan mengedan bila ingin berkemih. Pasien merasa tidak puas setelah berkemih. Pancaran kencing dirasakan melemah dan menetes pada akhir kencing dimana tetesan kencing jatuh diantara kaki pasien. Pasien tidak bisa menahan rasa ingin berkemih. Pasien sering terbangun dari tidurnya di malam hari dikarenakan rasa ingin buang air kecil dengan frekuensi 78 kali. Pasien mengeluh kadang nyeri saat kencing. Pasien juga mengeluh nyeri dada yang dialami sejak + 5 bulan yang lalu. Disertai nyeri ulu hati juga. Pasien juga mengeluh bengkak pada kantong zakar dan kedua belah kaki setelah di rawat di RSWS. Riwayat kencing bercampur darah saat berkemih tidak ada.
1

Riwayat demam tidak ada.Riwayat kencing bercabang tidak ada. Riwayat trauma tidak ada. Riwayat Hipertensi tidak ada. pangkal paha ada dan pangkal lengan atas tidak ada. Riwayat kelemahan pergerakan pada tungkai bawah ada. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama tidak ada. Setelah 2 minggu di rumah. Riwayat penurunan berat badan disangkal. diberikan obat injeksi dan dirujuk ke RSWS. Riwayat Diabetes Mellitus tidak ada. diinfus. Riwayat buang air besar bercampur darah tidak ada. Riwayat kencing berpasir tidak ada. Riwayat pengobatan ada. Awalnya dirasakan kelemahan pada tungkai kiri sejak 5 bulan yang lalu. keluhan pasien kambuh lagi. Riwayat nyeri pinggang hebat yang muncul tiba-tiba dan bersifat hilang timbul ada. Riwayat sakit pada tulang belakang. Riwayat kencing bercampur nanah tidak ada. tulang panggul. Pasien dirawat di RS Palu selama 5 hari. Riwayat terpapar radiasi tidak ada. Riwayat perdarahan lainnya yang sulit berhenti tidak ada. Riwayat merokok tidak ada. pasien dipulangkan. Dirawat di RS Masamba selama 4 hari dengan keluhan yang sama. Kemudian kelemahan dirasakan pada tungkai kanan sejak 2 hari yang lalu. Setelah keluhan pasien berkurang. 2 . Riwayat batuk lama tidak ada. diinfus dan diberikan obat injeksi.

: Konjungtiva kedua mata anemis. tidak ada deformitas : Warna kemerahan. . TB : 158 cm IMT : 20. lurus.83 kg/m2 3 . tidak ada pembesaran kelenjar getah bening Leher Inspeksi : Warna kulit sama dengan sekitar. tidak didapatkan epistaksis.kuat angkat P : 20 x/menit S : 36.Palpasi : Tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening dan nyeri tekan tidak ada. PEMERIKSAAN FISIK STATUS GENERALIS : Sakit sedang/ gizi kurang/ sadar BB : 52 kg STATUS VITALIS : T : 120/80 mmHg N : 70 x/menit.70C STATUS REGIONALIS : Kepala Rambut Mata : Sebagian besar putih.III. sukar dicabut. tidak tampak benjolan atau massa tumor. tidak tampak sianosis : Tidak ada benjolan. sklera kedua mata tidak ikterik Hidung Bibir Submandibula : Tidak ada rhinorea. reguler.

: Bunyi pernapasan vesikuler. gerakan dada simetris kiri dan kanan. nyeri ketok tidak ada Ekstremitas Ekstremitas superior dextra et sinistra Inspeksi Palpasi ROM : Warna kulit sama dengan sekitarnya. ikut gerak napas. Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni. murmur tidak ada Abdomen Inspeksi : Datar. vokal fremitus simetris kiri dan kanan. reguler. kesan normal : Tidak teraba massa tumor. batas atas jantung pada ICS II kiri. edema tidak ada : Nyeri tekan tidak ada. Perkusi Auskultasi : Sonor kiri sama dengan kanan. hepar dan lien tidak teraba Perkusi : Timpani. tidak teraba massa tumor. krepitasi tidak ada : Dalam batas normal 4 . kesan normal. batas kanan jantung pada linea parasternalis dekstra. wheezing tidak ada Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : Ictus cordis tidak tampak : Ictus cordis tidak teraba : Pekak. nyeri tekan ada pada regio hipokondrium kanan dan kiri. batas kiri jantung pada linea midclavicularis sinistra. tidak tampak adanya benjolan. batas paru hepar ICS VI kanan depan. ronki tidak ada. Auskultasi Palpasi : Peristaltik ada. warna kulit sama dengan sekitar. tipe pernapasan thoracoabdominal Palpasi : Nyeri tekan tidak ada. nyeri tekan ada pada regio suprapubik.Thoraks Inspeksi : Bentuk dada simetris kiri dan kanan.

buli-buli kesan kosong  Regio Genitalia Eksterna 5 . sensibilitas dalam batas normal. tidak tampak gibbus. tidak tampak bulging. tidak teraba massa tumor. . : Nyeri ketok sudut costovertebralis dextra ada Regio Costovertebralis Sinistra Inspeksi : Tampak allignment tulang vertebra baik. tidak teraba massa tumor.  Palpasi Perkusi : Nyeri tekan ada. dan Capillary Refill Time kurang dari 2 detik Status Urologi  Regio Costovertebralis Dekstra Inspeksi : Tampak allignment tulang vertebra baik. edema tidak ada : Nyeri tekan tidak ada. krepitasi tidak ada : Dalam batas normal : Arteri dorsalis pedis kanan dan kiri teraba. tidak tampak gibbus. edema tidak ada. teraba ballotement ginjal : Nyeri ketok sudut costovertebralis sinistra ada  Regio Suprapubik . sensibilitas dalam batas normal. tidak tampak hematom.- NVD : Arteri radialis kanan dan kiri teraba. dan Capillary Refill Time kurang dari 2 detik Ekstremitas inferior dextra et sinistra Inspeksi Palpasi ROM NVD : Warna kulit sama dengan sekitarnya.Palpasi : Nyeri tekan tidak ada. edema tidak ada. warna kulit sama dengan sekitarnya. hematom tidak ada. warna kulit sama dengan sekitarnya. teraba ballotement ginjal. tidak tampak hematom. tidak teraba massa tumor. Palpasi Perkusi : Nyeri tekan ada.Inspeksi : Tampak datar.warna kulit sama dengan sekitarnya.

mukosa recti licin.Teraba penonjolan prostat ke arah rectum. konsistensi padat kenyal.Cardiomegaly disertai dilatatio et atherosclerosis aortae 6 .Scrotum Inspeksi : Tampak warna kulit lebih gelap dari sekitarnya.. edema ada. hematom tidak ada.Penis Inspeksi : Tampak belum disirkum. edema tidak ada. tidak tampak hematom. Orificium Urethra Externum terletak pada ujung glans penis. tidak teraba massa tumor Rectal Toucher : . . kesan normal . asimetris. pole atas tidak bisa dicapai dengan bimanual. Palpasi : Nyeri tekan tidak ada. massa tumor tidak teraba. edema tidak ada.Sphincter ani mencekik. ampulla recti terisi feces . permukaan berbenjol-benjol.Handscoen : darah tidak ada. konsistensi padat keras. ukuran > 5 cm.Perineum Inspeksi : Tampak warna lebih gelap dari kulit sekitarnya. tidak tampak hematom Palpasi : Teraba dua buah testis ukuran sama besar. terfiksir. nyeri tekan ada. . warna kulit lebih gelap dari sekitarnya. kesan lobus kanan lebih besar dibanding kiri. feses ada Pemeriksaan Penunjang : Foto Thorax 10/4/2013 Kesan: -Pleuropneumonia dextra . lendir tidak ada. nyeri tekan tidak ada. Palpasi : Nyeri tekan tidak ada.

• Ginjal kanan: Ukuran mengecil. pembesaran prostat Laboratorium 10/4/2013 Pemeriksaan Hasil 7 Nilai Normal . Tidak tampak dilatasi PCS maupun echo batu/mass/cyst • Ginjal kiri: Ukuran dan echo parenkim dalam batas normal. dengan echo parenkim yang meningkat. tidak tampak echo batu/mass didalamnya. Tidak tampak dilatasi vascular dan bile duct intra/ekstrahepatik. Tidak tampak dilatasi PCS maupun echo batu/mass/cyst • • VU: Dinding dan mukosa tidak menebal. Tidak tampak echo mass/cyst/lesi patologik lainnya.6ml. Tidak tampak echo mass/cyst/lesi patologik lainnya. Tampak kalsifikasi didalamnya. • Lien: tidak membesar dengan echo parenkim normal.USG Abdomen 10/4/2013 • Hepar: ukuran dan echo parenkim normal. Pankreas: Ukuran dan echo parenkim normal. Kesan: PNC kanan. Tidak tampak echo batu/ mass Tampak pembesaran prostat dengan volume 47. Tidak tampak echo mass/cyst • • GB: dinding tidak menebal.

16.94 7.6 – 8.7 126 4.0-50.6 43 14 6.0 136-145 mmol/L 3.6 24.50 .4 “ 26.5 – 5.8 – 14.4 – 37.50x 106 /uL 4.0 .5-5.1 100 57 1.450x 103 / uL 4-10 ‘ 1-7 ‘ 10.00 .6 2.7 gr/dl 3.0 X 103 /uL 12.11.0 % 150 .57 7.0 311 8 3 14.6 “ 140 mg/dl 10-50 mg/dl < 1.5.3 mg/dl <38 U/L <45 U/L 6.0 g/dl 40.0 22.RBC WBC HGB HCT PLT CT BT PT APTT GDS Ureum Creatinin SGOT SGPT Protein total Albumin Natrium Kalium Klorida 2.4 103 4.1 mmol/L 97-111 mmol/L 8 .4 kontrol 11.9 kontrol 24.

5 – 8.Urin Rutin 10/4/2013 Pemeriksaan Warna pH BJ Protein Glukose Bilirubine Urobilinogen Keton Nitrit Blood Lekosit Vit C Hasil Kuning muda 5 1.0 1.035 Negatif Negatif Negatif Normal Negatif Negatif Negatif Negatif Negatif 9 .005 Negatif Normal Negatif Normal Negatif Negatif 50 Negatif Negatif Nilai Normal Kuning muda 4.005 – 1.

8 – 14.0 X 103 /uL 12.5.2 23.11.50x 106 /uL 4.0 .16.4 – 37.0-50.Sedimen lekosit Sedimen eritrosit Sedimen torak Sedimen kristal Sedimen epitel sel Sedimen lain-lain 2 2 - <5 <5 Laboratorium 11/4/2013 Pemeriksaan RBC WBC HGB HCT PLT CT BT PT APTT Hasil 2.4 Nilai Normal 4.4 “ 26.0 325 8 3 14.0 g/dl 40.50 .6 kontrol 23.450x 103 / uL 4-10 ‘ 1-7 ‘ 10.5 24.71 7.6 “ 10 .0 % 150 .3 kontrol 10.00 .04 7.

0 1.020 Negatif Normal Negatif Normal Negatif Nilai Normal Kuning muda 4.5 – 8.GDS Ureum Creatinin SGOT SGPT PSA 105 56 1.4.6 140 mg/dl 10-50 mg/dl < 1.005 – 1.3 mg/dl <38 U/L <45 U/L 0 .8 48 15 105.00 Urin rutin 11/4/2013 Pemeriksaan Warna pH BJ Protein Glukose Bilirubine Urobilinogen Keton Hasil Kuning muda 5 1.035 Negatif Negatif Negatif Normal Negatif 11 .

Hal ini belum pernah dialami sebelumnya. Riwayat dilakukan pemasangan kateter sebelumnya di RS SIWA namun tidak berhasil. weak stream urin dimana tetesan kencing jatuh di antara kaki pasien. Selain itu ada residual urin. 12 . nokturi miksi dengan frekuensi 4-5 kali dan kadang ada dysuri. masuk rumah sakit dengan keluhan utama retensi urin sejak + 6 jam yang lalu sebelum masuk RS Wahidin Sudirohusodo kemudian dipasang kateter di UGD RS Wahidin. urgensi. RESUME : Laki-laki. Riwayat hematuri diperhatikan sejak 4 hari yang lalu sebelum masuk RS Wahidin. Satu bulan terakhir pasien mengeluh sulit berkemih. 70 tahun.Nitrit Blood Lekosit Vit C Sedimen lekosit Sedimen eritrosit Sedimen torak Sedimen kristal Sedimen epitel sel Sedimen lain-lain Negatif Negatif Negatif Negatif 1 - Negatif Negatif Negatif Negatif <5 <5 IV. Bila ingin berkemih ada hesitansi disertai straining. kemudian pasien dirujuk ke RS Wahidin Sudirohusodo.

Riwayat operasi TUR Prostat tahun 2004 di RS Grestelina dengan hasil histopatologi tidak diketahui. nyeri tekan ada (pada pasien ini ada riwayat telah dilakukan operasi TUR-Prostat tapi hasil pemeriksaan histopatologi pada jaringan prostat tidak diketahui oleh pasien) dan juga prostatitis bisa dipikirkan karena adanya nyeri yang menyertai. nyeri tekan ada. asimetris. permukaan berbenjol-benjol. Nilai normal PSA rata-rata < 4 ng/ml. permukaan berbenjol-benjol. didapatkan gejala-gejala obstruksi dan iritasi pada traktus urinarius bagian bawah. Pemeriksaan PSA tidak spesifik terhadap karsinoma prostat tetapi spesifik terhadap organ prostat. terfiksir. terfiksir. konsistensi padat keras. biopsi prostat. instrumentasi melalui urethtra. kesan lobus kanan lebih besar dibanding kiri. Kemudian pada rectal toucher teraba penonjolan prostat ke arah rectum > 5 cm. pole atas tidak bisa dicapai dengan bimanual.Riwayat merokok 3 batang perhari selama 3 tahun saat remaja. pole atas tidak bisa dicapai dengan bimanual. Untuk memastikan apakah hipertrofi prostat ini bersifat ganas. konsistensi padat keras. pasca biopsi prostat. TRUS. ukuran > 4 cm. BNO/IVP dan CT Scan. diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang antara lain PSA. Riwayat menderita TB paru tahun 1994 dan dinyatakan sembuh setelah minum obat selama 6 bulan. Sebelum dilakukan operasi ada riwayat tidak bisa kencing dan setelah dilakukan operasi tidak pernah kontrol kembali ke Rumah Sakit. asimetris. 13 . USG Abdomen. Riwayat keluarga dengan penyakit yang sama ada ( kakak dan dioperasi open prostatektomi di RS Islam Faisal ). Pada pemeriksaan fisik hanya ditemukan kelainan pada rectal toucher dimana didapatkan adanya teraba penonjolan prostat ke arah rectum. Apabila nilai PSA antara 4-10 ng/ml bisa dikarenakan tindakan seperti rectal toucher. V. kesan lobus kanan lebih besar dibanding kiri. . DISKUSI Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisis yang kami lakukan pada pasien ini. Hal ini mengarahkan kita pada kecurigaan terhadap adanya keganasan pada prostat (karsinoma prostat).

Trans-Rectal Ultrasonography (TRUS) lebih fokus untuk menilai kondisi pembesaran prostat. juga harus dicari apakah ada penyebab lain yang ada pada sepanjang traktus urinarius seperti batu. Sedangkan peningkatan > 20 ng/ml dapat dicurigai keganasan prostat. Pada BNO juga bisa terlihat tanda kecurigaan adanya keganasan prostat seperti adanya tanda osteoblastik pada tulang-tulang vertebra atau tulang-tulang pelvis.retensi urin atau prostatitis. Adanya hematuri pada pasien ini. walaupun kemungkinan besar pada pasien ini tidak ditemukan. Pemeriksaan IVP pada pasien ini bisa juga dilakukan dimana bila terdapat pembesaran prostat dapat terlihat bayangan filling defect berupa indentasi caudal pada buli-buli akibat penonjolan prostat membentuk lekukan pada kontras yang ada di buli-buli. mengetahui adanya gambaran hipoechoic sebagai tanda keganasan pada prostat serta bisa jadi penuntun untuk dilakukan biopsi jarum prostat trans-rectal. juga menilai kondisi organ traktus urogenital seperti apakah ada dilatasi pada sistem pelviocalises dimana pembesaran prostat yang mengarah ke muara ureter bisa menyebabkan obstruksi ureter sehingga manifestasinya adalah dilatasi uereter hingga sistem pelviocalises ginjal. namun pada pasien ini kemungkinan besar tidak terjadi karena tidak ada keluhan sampai ke nyeri pinggang akibat hidronefrosis ginjal. Selain itu juga bila ada obstruksi pada ureter akibat penekanan pembesaran prostat ke muara uereter akan tampak bayangan kontras yang berdilatasi hingga ke sistem pelviocalises ginjal. USG Abdomen berfungsi untuk mencari apakah ada lesi hipoechoic pada prostat yang bisa mengarah pada tanda keganasan pada prostat. tapi pada pasien ini tidak ada keluhan yang menunjang kearah metastasis sehingga bone survey tidak perlu dilakukan. Selain itu juga bisa menilai volume prostat. CT Scan bisa menjadi pilihan untuk menilai seberapa besar perluasan tumor dan organ sekitar yang terlibat sehingga penentuan grading keganasan pada prostat bisa jadi acuan 14 . dimana pada kasus keganasan gambaran ini bentuk tepinya bisa irreguler.

atau sampai masuk di urethra. merupakan pemeriksaan untuk diagnosis pasti karsinoma prostat. Pemeriksaan echocardiogram untuk melihat fungsi jantung sedangkan elektrokardiogram untuk menilai konduksi jantung. Namun hal ini dapat disingkirkan dari anamnesis karena tidak didapatkan riwayat buang air kecil yang berhenti secara tiba-tiba yang disertai nyeri kolik dan mengalir kembali pada perubahan posisi. SGOT dan SGPT untuk fungsi hepar.pelaksanaan. Pada biopsi akan ditemukan sel-sel adenokarsinoma.  Batu buli-buli dan batu urethra dapat menyebabkan retensi urin bila menutup di muara ostium uretra interna. Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai toleransi pasien terhadap rencana tindakan pembedahan. ureum dan kreatinin untuk melihat fungsi ginjal. dengan melakukan pemeriksaan histopatologi dan mengetahui tingkat kedalaman infiltrasi tumor. Pada anamnesis juga tidak ada riwayat kencing berpasir. dan hematuri yang terjadi pada tumor buli-buli adalah total hematuri. Untuk menegakkan diagnosis pasti keganasan dengan pemeriksaan histopatologi dimana dilakukan setelah pengambilan jaringan prostat. Foto thoraks untuk melihat apakah ada penyakit TB Paru atau untuk melihat apakah ada kontraindikasi lain dan terhadap tindakan pembedahan yang akan dilakukan. Pada pasien ini biasanya dilakukan setelah tindakan TUR-P. Pemeriksaan tersebut antara lain pemeriksaan darah rutin untuk melihat profil hematologi. Gejala-gejala LUTS pada pasien ini bisa juga terjadi pada penyakit-penyakit seperti :  Tumor buli-buli : hal ini dapat menyebabkan gejala retensi urin dan hematuria bila tumor berada pada bladder neck yang mengakibatkan obstruksi. Pada pasien ini. 15 . Hal ini disebabkan karena hipervaskularisasi pada jaringan prostat dan oleh karena pasien mengedan saat berkemih sehingga timbul hematuri. Pada pasien ini didapatkan hematuri yang baru dialami 4 hari yang lalu sebelum masuk RS Wahidin. Sebelum dilakukan tindakan pada pasien ini maka diperlukan beberapa pemeriksaan anjuran untuk menilai toleransi pasien terhadap penanganan selanjutnya terutama tindakan pembedahan. Namun penyakit ini tidak akan menyebabkan retensi yang bisa berulang. kecurigaan kita besar akan suatu keganasan sehingga CT Scan bisa menjadi pilihan pemeriksaan penunjang diagnostik.

Selain reseksi pembesaran prostat yang menimbulkan keluhan obstruksi dan iritasi pada pasien ini. Pemeriksaan untuk toleransi operasi : a. Faal Pembekuan (CT. Pemeriksaan untuk menegakkan diagnosa: a. Platelet) b. APTT) d. PSA b. CT Scan 2. Darah rutin (Hemoglobin.Penanganan pada pasien ini berupa terapi pembedahan yaitu Trans Urethtra Resection of Prostat (TUR-P). Albumin. USG Abdomen d. Kreatinin. EKG g. SGPT. Ureum. TRUS + Biopsi Jarum c. Kimia Darah (SGOT. Echocardiography 16 . Tes Faal Paru f. White blood cell. VI. PEMERIKSAAN ANJURAN 1. BT. maka diagnosis yang paling mendekati pada pasien ini adalah Hipertrofi prostat grade IV suspek Malignancy. juga untuk pemeriksaan diagnostik pasti dengan pemeriksaan histopatologi jaringan prostat yang dioperasi. PT. BNO IVP e. Protein Total) c. DIAGNOSIS KERJA Berdasarkan hasil diskusi diatas. VII. Jika hasil histopatologinya ganas (adenokarsinoma) maka penatalaksanaan berikutnya berupa terapi deprivasi androgen berupa kastrasi dengan obatobatan atau pembedahan (orchidektomi bilateral). Elektrolit e.

Maka tindakan yang paling tepat dilakukan pada pasien ini adalah Trans Urethtra Resection of Prostat (TUR-P) untuk mengurangi keluhan pasien dengan mengangkat jaringan yang menghambat aliran urine dan sebagai prosedur biopsi. Hormonal terapi bisa berupa orchidektomi subkapsuler bilateral untuk menghentikan stimulasi hormonal terhadap tumor atau Menggunakan Agonis LHRH(Gossereline (zoladex)) dan anti androgen per oral (lutamide (Casodex)) untuk menghambat dan menghentikan produksi testosterone. Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien ini. dimana jaringan yang telah diangkat tersebut untuk selanjutnya dilakukan pemeriksaan histopatologis untuk penentuan diagnosis pasti dan derajat dari keganasan. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan karsinoma prostat tergantung pada stadiumnya. namun pada dasarnya tergantung dari tingkat pengluasan dan derajat keganasan. Namun pada beberapa pasien dengan high grade lesion dan konfigurasi sel yang ganas. apabila histopatologi telah menetapkan bahwa jaringan itu adalah sebuah keganasan. prognosis kanker prostat jauh lebih baik dan lebih dari 70% pasien kanker prostat yang meninggal disebabkan karena alasan lain. 17 . Penanganan pasien bisa dilanjutkan dengan Hormonal terapi yang bertujuan menurunkan kadar testosteron atau untuk menghentikan kerja testosterone. Walaupun demikian. Pada beberapa pasien.VIII. bila dibandingkan dengan keganasan yang lain. yang menentukan apakah pengobatan bersifat kuratif atau paliatif. dan besarnya harapan hidup. Atau bisa juga dengan melakukan kombinasi dari keduanya yang biasa di kenal sebagai TAB (Total Androgen Block) IX. Modalitas terapi merupakan pertimbangan untuk menentukan beberapa langkah dan tahapan. Untuk selanjutnya. grading. Pada pasien ini pronosisnya baik bila belum terdapat metastasis. PROGNOSIS Prognosis karsinoma prostat bervariasi. prognosisnya cenderung buruk. tergantung tingkat keganasan dari kanker tersebut. atau tidak berkembang sama sekali. kanker prostat bisa menjadi inaktif dalam beberapa tahun.

18 .