You are on page 1of 21

By:

Iklima Lintang Wanggari (11) Najwa Shufia Choliq (16)


8D SMPN 2 SEMARANG

1.

2.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) adalah lembaga tinggi negara dalam sistem ketatanegaraan Indonesia yang memiliki wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Lembaga yang bebas dan mandiri.

Anggota BPK dipilih oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD, dan diresmikan oleh Presiden. 4. Hasil pemeriksaan keuangan negara diserahkan kepada DPR, DPD, dan DPRD.
3.

Berdasarkan amanat UUD Tahun 1945, dikeluarkan Surat Penetapan Pemerintah No.11/OEM tanggal 28 Desember 1946 tentang pembentukan Badan Pemeriksa Keuangan, tanggal 1 Januari 1947, yang berkedudukan sementara di Kota Magelang. Pada waktu itu BPK hanya mempunyai 9 orang pegawai dan sebagai Ketua BPK pertama adalah R. Soerasno.

Dalam Penetapan Pemerintah No.6/1948 tanggal 6 November 1948 tempat kedudukan BPK dipindahkan dari Magelang ke Yogyakarta.
Dengan dibentuknya NKRI Serikat (RIS) berdasarkan Piagam Konstitusi RIS, 14 Desember 1949, dibentuk Dewan Pengawas Keuangan yang berkedudukan di Bogor, dan diketuai R. Soerasno mulai 31 Desember 1949.

Dewan Pengawas Keuangan RIS berkantor di Bogor, menempati bekas kantor Algemene Rekenkamer pada masa pemerintah Nederlandsch Indi Civil Administratie (NICA) Dengan terbentuknya NKRI, 17 Agustus 1950, maka Dewan Pengawas Keuangan RIS, Bogor, sejak tanggal 1 Oktober 1950, digabung dengan BPK berdasarkan UUDS 1950, dan berkedudukan di Bogor menempati bekas kantor Dewan Pengawas Keuangan RIS.

Dalam era Reformasi sekarang ini, BPK mendapatkan dukungan konstitusional dari MPR RI dalam Sidang Tahunan Tahun 2002, yaitu dengan dikeluarkannya TAP MPR No. VI/MPR/2002 yang menegaskan kedudukan BPK sebagai satu-satunya lembaga pemeriksa eksternal keuangan negara dan peranannya perlu lebih dimantapkan sebagai lembaga yang independen dan profesional.

VISI
Menjadi lembaga pemeriksa keuangan negara yang bebas, mandiri, dan profesional serta berperan aktif dalam mewujudkan tata kelola keuangan negara yang akuntabel dan transparan

MISI
Memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara dalam rangka mendorong terwujudnya akuntabilitas dan transparansi keuangan negara, serta berperan aktif dalam mewujudkan pemerintah yang baik, bersih, dan transparan

Satu Ketua dan satu Wakil Ketua yang merangkap anggota, serta tujuh anggota. Anggota BPK memegang jabatan selama 5 tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali untuk satu kali masa jabatan. Daftar anggota BPK (2004-2009): 1. Prof. Dr. H. Anwar Nasution, S.E, M.P.A. 2. H. Abdullah Zainie, S.H. 3. Drs. Imran, Ak. 4. I Gusti Agung Rai, Ak, M.A. 5. Hasan Bisri, S.E. 6. Drs. Baharuddin Aritonang 7. Irjen Pol. Drs. Udju Djuhaeri 8. Iqbal Ahdagita Elbadra

1.

Undang-Undang Dasar 1945


a. Pasal 23E ayat (1), (2), dan (3)

b. Pasal 23F ayat (1) dan (2)


c. Pasal 23G ayat (1) dan (2)
2.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan Sebagai Pengganti UU Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1973 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

3.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

4.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

5.

1. Ketua merangkap anggota


a. Kelembagaan BPK.
b. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara secara umum. c. Hubungan kelembagaan dalam negeri dan luar negeri.

2. Wakil Ketua merangkap

anggota
a. Pelaksanaan tugas penunjang dan

Sekretaris Jenderal. b. Penanganan kerugian negara.

3. Anggota I
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara bidang politik, hukum, pertahanan, dan keamanan.

4. Anggota II
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara bidang perekonomian dan perencanaan pembangunan nasional. b. Pemeriksaan investigatif.

5. Anggota III
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara bidang lembaga negara, kesejahteraan rakyat, kesekretariatan negara, aparatur negara, riset dan teknologi.

6. Anggota IV
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara bidang lingkungan hidup, pengelola SDA, dan infrastruktur.

7. Anggota V
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan daerah dan kekayaan daerah yang dipisahkan pada wilayah i (Sumatera dan Jawa).

8. Anggota VI
a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan daerah dan kekayaan daerah yang dipisahkan pada wilayah ii (Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua).

9. Anggota VII

a. Pemeriksaan pengelolaan dan

tanggung jawab keuangan negara bidang keuangan negara yang dipisahkan.