You are on page 1of 22

A. FRAKTUR A.1.

DEFINISI FRAKTUR DAN MEKANISME TRAUMA Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh ruda paksa. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung, misalnya benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna, dan dapat berupa trauma tidak langsung, misalnya jatuh bertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang klavikula atau radius distal patah 2. Akibat trauma pada tulang tergantung pada jenis trauma, kekuatan dan arahnya. Trauma tajam yang langsung atau trauma tumpul yang kuat dapat menyebabkan tulang patah dengan luka terbuka sampai ke tulang yang disebut patah tulang terbuka. Patah tulang di dekat sendi atau mengenai sendi dapat menyebabkan patah tulang disertai luksasi sendi yang disebut fraktur dislokasi. 2 A.2. GEJALA DAN TANDA Manifestasi klinis fraktur adalah didapatkan adanya riwayat trauma, hilangnya fungsi, tanda-tanda inflamasi yang berupa nyeri akut dan berat, pembengkakan lokal, merah/perubahan warna, dan panas pada daerah tulang yang patah. Selain itu ditandai juga dengan deformitas, dapat berupa angulasi, rotasi, atau pemendekan, serta krepitasi. Apabila fraktur terjadi pada ekstremitas atau persendian, maka akan ditemui keterbatasan LGS (lingkup gerak sendi). Pseudoartrosis dan gerakan abnormal. 3, 4 Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis adalah pemeriksaan X-foto, yang harus dilakukan dengan 2 proyeksi yaitu anterior-posterior dan lateral. Dengan pemeriksaan X-foto ini dapat dilihat ada tidaknya patah tulang, luas, dan keadaan fragmen tulang. Pemeriksaan ini juga berguna untuk mengikuti proses penyembuhan tulang. 3, 5 Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik dan pemeriksaan sinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut. Bila berdasarkan pengamatan klinis diduga ada fraktur, maka perlakukanlah sebagai fraktur sampai terbukti lain. 4 A.3. PEMBAGIAN FRAKTUR Fraktur berdasarkan derajat atau luas garis fraktur terbagi atas 3 : complete, dimana tulang patah terbagi menjadi dua bagian (fragmen) atau lebih, serta incomplete (parsial). Fraktur parsial terbagi lagi menjadi: 1. Fissure/Crack/Hairline – tulang terputus seluruhnya tetapi masih tetap di tempat, biasa terjadi pada tulang pipih 2. Greenstick Fracture – biasa terjadi pada anak-anak dan pada os radius, ulna, clavicula, dan costae 3. Buckle Fracture – fraktur di mana korteksnya melipat ke dalam Berdasarkan garis patah/konfigurasi tulang dibagi menjadi 3 : 1. Transversal – garis patah tulang melintang sumbu tulang (80-100o dari sumbu tulang)

2. Oblik – garis patah tulang melintang sumbu tulang (<80o atau >100o dari sumbu tulang) 3. Longitudinal – garis patah mengikuti sumbu tulang 4. Spiral – garis patah tulang berada di dua bidang atau lebih 5. Comminuted – terdapat 2 atau lebih garis fraktur Berdasarkan hubungan antar fragmen fraktur: a. Undisplace – fragmen tulang fraktur masih terdapat pada tempat anatomisnya b. Displace – fragmen tulang fraktur tidak pada tempat anatomisnya, terbagi atas: - Shifted Sideways – menggeser ke samping tapi dekat - Angulated – membentuk sudut tertentu - Rotated – memutar - Distracted – saling menjauh karena ada interposisi - Overriding – garis fraktur tumpang tindih - Impacted – satu fragmen masuk ke fragmen yang lain Gambar 1. Tipe Fraktur menurut garis frakturnya

Secara umum, berdasarkan ada tidaknya hubungan antara tulang yang

maka bila dicurigai adanya fraktur. 2. komplikasi infeksi semakin besar. yang memungkinkan kuman dari luar dapat masuk ke dalam luka sampai ke tulang yang patah sehingga cenderung untuk mengalami kontaminasi dan infeksi. Penatalaksanaan secara Umum Fraktur biasanya menyertai trauma. 7 1. Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian. lengan dapat dibebatkan ke dada. Jangan sekali-kali melakukan reduksi fraktur. Untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway). Pada fraktur terbuka. 6. Gerakan fragmen patahan tulang dapat menyebabkan nyeri. PENATALAKSANAAN FRAKTUR 4. 2. Pasanglah . penting untuk meng-imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan. Sedangkan apabila kulit di atasnya tertembus dan terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan dunia luar maka disebut fraktur terbuka. bahkan bila ada fragmen tulang yang keluar melalui luka. yang kemudian dibebat dengan kencang. Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain memudahkan proses pembuatan foto. pasien berada dalam keadaan bingung. Penatalaksanaan Kedaruratan Segera setelah cedera. Waktu tejadinya kecelakaan penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS. Pada cedera ektremitas atas. Disebut fraktur tertutup apabila kulit di atas tulang yang fraktur masih utuh. proses pernafasan (breathing) dan sirkulasi (circulation). Bila lebih dari 6 jam. fraktur juga dapat dibagi menjadi 2. singkat dan lengkap. Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang.fraktur dengan dunia luar. ekstremitas harus disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan rotasi maupun angulasi. Kemudian lakukan foto radiologis. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan kecukupan perfusi jaringan perifer. dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi ekstremitas yang cedera. Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur. yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih lanjut. Daerah yang cedera diimobilisasi dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai. tidak menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang patah. Imobilisasi tulang panjang ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai bersama. mengingat golden period 1-6 jam. Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi. atau lengan bawah yang cedera digantung pada sling. baru lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik secara terperinci. luka ditutup dengan pembalut bersih (steril) untuk mencegah kontaminasi jaringan yang lebih dalam. 6 B. apakah terjadi syok atau tidak. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara cepat.

analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi anestesia. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang terjadi. • Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur pada posisi anatomik normalnya. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada sisi cedera. Pada bagian gawat darurat. Traksi. Reduksi tertutup. . Reduksi. paku atau batangan logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi. dan reduksi terbuka. • Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup. 3. Alat imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar. Pakaian dilepaskan dengan lembut. b. kawat. reduksi fraktur menjadi semakin sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. pasien harus dimintakan persetujuan tindakan. Imobilisasi • Setelah fraktur direduksi. namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. 2.bidai sesuai yang diterangkan di atas. Metode reduksi : 1. Sebelum reduksi dan imobilisasi. yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang dapat diterima. Pada kebanyakan kasus. atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka. pertama pada bagian tubuh sehat dan kemudian dari sisi cedera. 6: a. dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi.6 • Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal. 3. pasien dievaluasi dengan lengkap. sekrup. Prinsip Penanganan Fraktur Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin. pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya saling berhubungan) dengan “Manipulasi dan Traksi manual”. Dengan pendekatan bedah. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan sementara gips. fragmen tulang direduksi.4 Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat fraktur. imobilisasi. dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan rehabilitasi 4. fragmen tulang harus diimobilisasi. palt. bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. • Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya sampai terjadi penyembuhan. traksi. Reduksi terbuka. Biasanya dokter melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.

Tabel 1. brace. sekrup. Rehabilitasi • Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada bagian yang sakit. lempeng. dll). kawat.• Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-alat “eksternal” (bebat. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Fraktur c. • Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan mempertahankan . balutan) dan alat-alat “internal” (nail. case. batang. fiksator eksterna. pen dalam plester. traksi.

kerusakan otot. dan melakukan aktifitas kembali secara bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Komplikasi sistemik – emboli lemak. kerusakan saraf. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur C. dan kerusakan organ dalam. KOMPLIKASI FRAKTUR 1.reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk meminimalkan bengkak. 6. emboli paru. 2. latihan isometrik dan pengaturan otot. Tabel 2. pembuluh darah (hematom. . delerium tremens. spasme arteri. dan kontusio). Komplikasi lokal – sekuele dari komplikasi segera. berupa nekrosis kulit. gangren. trombosis vena. tetanus. Komplikasi lokal – dapat berupa kerusakan kulit. Komplikasi sistemik – syok hemoragik b. partisipasi dalam aktifitas hidup sehari-hari. Pengembalian bertahap pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik. dan pada tulang (infeksi/osteomielitis). pneumonia. 2. mengontrol ansietas dan nyeri. Komplikasi awal 1. Komplikasi segera 1. komplikasi pada persendian (artritis). 7 a. memantau status neurovaskuler.

Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum & otot) . sekitar lokasi fraktur .Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang . Mal union adalah keadaan dimana tulang menyambung dalam posisi tidak anatomis. Komplikasi saraf – Tardy nerve palsy D.6 Non union adalah keadaan dimana suatu proses penyembuhan patah tulang berhenti sama sekali dan penyembuhan patah tulang tidak akan terjadi tanpa koreksi pembedahan. 2. pada dewasa masih ada tanda penebalan tulang. Stadium Proliferasi Sel / Inflamasi : . Delayed union adalah proses penyembuhan patah tulang yang melebihi waktu yang diharapkan. hal ini berarti bahwa proses terjadi lebih lama dari batas waktu yaitu umumnya 3-5 bulan. atau sembuh dengan rotasi.Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi 4.Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan 5.Secara bertahap menjadi tulang mature .Sel-sel ini menjadi precursor osteoblast .Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi eks fraktur . PROSES PENYEMBUHAN FRAKTUR Secara ringkas tahap penyembuhan fraktur dibagi menjadi 5 tahap sebagai berikut 4.Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang .c. Komplikasi lanjut 1. 3.Kallus memberikan rigiditas pada fraktur .Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi 3.Terjadi sekitar 1-2 x 24 jam 2. 6: 1.Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu . . bisa sembuh dengan pemendekan. Komplikasi pada otot – miositis pasca trauma. Stadium Konsolidasi : .Hematom terbentuk dari darah yang mengalir yang berasal dari pembuluh darah yang robek .Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklast .Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Stadium Pembentukan Kallus : . Komplikasi pada persendian – dapat terjadi kontraktur dan kekakuan sendi persisten. ruptur tendo lanjut 4. Fraktur teraba telah menyatu . penyakit sendi degeneratif pasca trauma. delayed union dan non union). sembuh dengan angulasi.Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus) . Komplikasi tulang – yakni penyembuhan tulang abnormal (malunion. Stadium Remodeling : .Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum.Pada anak-anak remodeling dapat sempurna. Stadium Pembentukan Hematom : .

lokasi dan jenis fraktur. terdapat pelepasan periosteum. sebagaimana yang terlihat pada Tabel 1. yaitu tipe IIIA. • III C terdapat trauma pada arteri yang membutuhkan repair agar kehidupan bagian distal dapat dipertahankan tanpa memandang derajat kerusakan jaringan lunak. 8 • IIIA terjadi apabila fragmen fraktur masih dibungkus oleh jaringan lunak. 8 E. pengobatan. walaupun adanya kerusakan jaringan lunak yang luas dan berat. KLASIFIKASI Fraktur terbuka dibagi menjadi 3 derajat yang ditentukan oleh berat ringannya luka dan berat ringannya fraktur 2. Biasanya disertai kontaminasi masif dan merupakan trauma high energy tanpa memandang luas luka. banyaknya gerakan pada fragmen fraktur.Proses penyembuhan tulang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. adanya infeksi atau penyakit lain yang menyertai (seperti diabetes mellitus). IIIB dan IIIC (Tabel 2).1. Tabel 4. 6. fraktur kominutif. gap antara ujung fragmen dan pendarahan pada lokasi fraktur. • IIIB fragmen fraktur tidak dibungkus oleh jaringan lunak sehingga tulang terlihat jelas atau bone expose. FRAKTUR TERBUKA E. Tabel 3. 1976) oleh Gustillo. (1984) membagi tipe III dari klasifikasi Gustillo dan Anderson (1976) menjadi tiga subtipe. mencakup: usia. derajat trauma. kerusakan jaringan sekitar fraktur. Derajat Patah Tulang Terbuka Menurut Gustillo dan Anderson (1976) Kemudian Gustillo et al. Klasifikasi lanjut fraktur terbuka tipe III (Gustillo dan Anderson. Mendoza dan Williams (1984) .

lemak. Pengobatan fraktur itu sendiri. Semua penderita dengan fraktur terbuka perlu diberikan pencegahan tetanus. Pemberian antibiotik bertujuan untuk mencegah infeksi. 1. 7.1. 6. Pemberian antibakteri. 1. Sedangkan tahap-tahap pengobatan fraktur terbuka adalah sebagai berikut 6: 1. PENATALAKSANAAN KHUSUS PADA FRAKTUR TERBUKA Fraktur terbuka merupakan suaru keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi risiko infeksi. 5.2. Stabilisasi fraktur. Ulangi debridemen 24-72 jam berikutnya. 1. Penutupan kulit. Pencegahan tetanus. pada saat. fasia. Biarkan luka terbuka antara 5-7 hari. Eksisi jaringan yang mati dan tersangka mati (debridemen). 2. Selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. Dilakukan dengan cara irigasi dengan cairan NaCl fisiologis secara mekanis untuk mengeluarkan benda asing yang melekat. dapat diberikan 250 unit tetanus imunoglobulin. Pembersihan luka. ANATOMI FEMUR 10 . Obati fraktur terbuka sebagai suatu kegawatan. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat. F. 1. otot. Semua jaringan yang kehilangan vaskularisasinya merupakan daerah tempat pembenihan bakteri sehingga diperlukan eksisi secara operasi pada kulit. di kamar operasi dan setelah operasi. Antibiotik diberikan dalam dosis yang besar sebelum. 2. FRAKTUR FEMUR F. Segera dilakukan debridemen dan dan irigasi yang baik. Beberapa prinsip dasar pengelolaan fraktur terbuka adalah 6: 1. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena. 4. dan sesudah tindakan operasi. Tapi bagi yang belum. jaringan subkutaneus. Adakan evaluasi awal dan diagnosis akan adanya kelainan yang dapat menyebabkan kematian.E. Pada penderita yang telah mendapat imunisasi aktif cukup dengan pemberian toksoid. dan fragmen-fragmen yang lepas. 3. 8.

Tepian linea aspera melebar ke atas dan ke . Trochanter major dan minor merupakan tonjolan besar pada batas leher dan batang. Ia licin dan bulat pada permukaan anteriornya. dan padanya terdapat tuberculum quadratum. Yang menghubungkan dua trochanter ini adalah linea intertrochanterica di depan dan crista intertrochanterica yang mencolok di bagian belakang. lateral dan membentuk sudut lebih kurang 125 derajat (pada wanita sedikit lebih kecil) dengan sumbu panjang batang femur. belakang. Bagian collum. yang menghubungkan kepala pada batang femur. linea aspera. Bagian batang femur umumnya menampakkan kecembungan ke depan. Anatomi Femur Femur pada ujung bagian atasnya memiliki caput. namun pada bagian posteriornya terdapat rabung. trochanter major dan trochanter minor.Gambar 2. Sebagian suplai darah untuk caput femoris dihantarkan sepanjang ligamen ini dan memasuki tulang pada fovea. Bagian caput merupakan lebih kurang dua pertiga bola dan berartikulasi dengan acetabulum dari os coxae membentuk articulatio coxae. berjalan ke bawah. yaitu tempat perlekatan ligamentum dari caput. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea capitis. Besarnya sudut ini perlu diingat karena dapat dirubah oleh penyakit. collum.

tertutup . · Derajat III : Lukanya lebih luas dari derajat II. Di atas condylus terdapat epicondylus lateralis dan medialis.2. yaitu : tipe 1 : garis fraktur satu level dengan trochanter minor tipe 2 : garis patah berada 1 -2 inch di bawah dari batas atas trochanter minor tipe 3 : garis patah berada 2 -3 inch di distal dari batas atas trochanterminor c. FRAKTUR SUBTROCHANTER FEMUR Ialah fraktur dimana garis patahnya berada 5 cm distal dari trochanter minor. Tuberculum adductorium berhubungan langsung dengan epicondylus medialis. dibagi dalam beberapa klasifikasi tetapi yang lebih sederhana dan mudah dipahami adalah klasifikasi Fielding & Magliato. KLASIFIKASI FRAKTUR FEMUR Klasifikasi fraktur femur dapat dibagi dalam 5 : a. ketentuan fraktur femur terbuka bila terdapat hubungan antara tulang patah dengan dunia luar dibagi dalam tiga derajat. mengakibatkan penderita jatuh dalam shock. salah satu klasifikasi fraktur batang femur dibagi berdasarkan adanya luka yang berhubungan dengan daerah yang patah. yang di bagian posterior dipisahkan oleh incisura intercondylaris. di bawah trochanter major terdapat tuberositas glutealis. yang ke bawah berhubungan dengan linea aspera.bawah. Bagian batang melebar ke arah ujung distal dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan posteriornya. dibagi dalam : • Fraktur intrakapsuler (Fraktur collum femur) • Fraktur extrakapsuler (Fraktur intertrochanter femur) b. FRAKTUR BATANG FEMUR (dewasa) Fraktur batang femur biasanya terjadi karena trauma langsung akibat kecelakaan lalu lintas dikota kota besar atau jatuh dari ketinggian. Pada permukaan posterior batang femur.Tepian medial berlanjut ke bawah sebagai crista supracondylaris medialis menuju tuberculum adductorum pada condylus medialis. F. yaitu . Ujung bawah femur memiliki condylus medialis dan lateralis. biasanya diakibatkan tusukan fragmen tulang dari dalam menembus keluar. lebih kotor. disebut fascia poplitea. · Derajat I : Bila terdapat hubungan dengan dunia luar timbul luka kecil.Tepian lateral menyatu ke bawah dengan crista supracondylaris lateralis. patah pada daerah ini dapat menimbulkan perdarahan yang cukup banyak. jaringan lunak banyak . Kedua condylus ikut membentuk articulatio genu.terbuka. Permukaan anterior condylus dihubungkan oleh permukaan sendi untuk patella. FRAKTUR COLLUM FEMUR: Fraktur collum femur dapat disebabkan oleh trauma langsung yaitu misalnya penderita jatuh dengan posisi miring dimana daerah trochanter mayor langsung terbentur dengan benda keras (jalanan) ataupun disebabkan oleh trauma tidak langsung yaitu karena gerakan exorotasi yang mendadak dari tungkai bawah. Dibagi menjadi : . · Derajat II : Lukanya lebih besar (>1cm) luka ini disebabkan karena benturan dari luar.

Shelton (1967) : • Tipe I . FRAKTUR SUPRACONDYLER FEMUR Fraktur supracondyler fragment bagian distal selalu terjadi dislokasi ke posterior. Fraktur suprakondiler femur sering bersama-sama dengan fraktur interkondiler yang memberikan masalah pengelolaan yang lebih kompleks. hal ini biasanya disebabkan karena adanya tarikan dari otot – otot gastrocnemius. • Tipe IIB . . fraktur suprakondiler dan kondiler bentuk T. F. Grantham. biasanya fraktur supracondyler ini disebabkan oleh trauma langsung karena kecepatan tinggi sehingga terjadi gaya axial dan stress valgus atau varus dan disertai gaya rotasi. FRAKTUR SUPRAKONDILER FEMUR DAN FRAKTUR INTERKONDILER 6 Daerah suprakondiler adalah daerah antara batas proksimal kondilus femur dan batas metafisis dengan diafisis femur. sama seperti IIA tetapi bagian metafisis lebih kecil. FRAKTUR CONDYLER FEMUR Mekanisme traumanya biasa kombinasi dari gaya hiperabduksi dan adduksi disertai dengan tekanan pada sumbu femur keatas. FRAKTUR BATANG FEMUR (anak – anak) e. • Tipe IIA . f. fraktur suprakondiler dan kondiler dengan sebagian metafisis (bentuk Y). FRAKTUR INTERCONDYLAIR Biasanya fraktur intercondular diikuti oleh fraktur supracondular. saraf. pembuluh darah) d. Klasifikasi menurut Neer.3. sehingga umumnya terjadi bentuk T fraktur atau Y fraktur.yang ikut rusak (otot. g.

◦ Spika panggul. .1. ◦ Traksi berimbang dengan mempergunakan bidai Thomas dan penahan lutut Pearson. F. Pengobatan 1.3.• Tipe III . Pada pemeriksaan mungkin ditemukan adanya krepitasi.2. Gambaran Klinis Berdasarkan anamnesis ditemukan riwayat trauma yang disertai pembengkakan dan deformitas pada daerah suprakondiler. Terapi konservatif. ◦ Cast-bracing. Terapi operatif. Karena fraktur ini bersifat intra-artikuler. maka sebaiknya dilakukan terapi operatif dengan fiksasi interna yang rigid untuk memperoleh posisi anatomis sendi dan segera dilakukan mobilisasi.3. fraktur suprakondiler komunitif dengan fraktur kondiler yang tidak total. 2. F. Dapat ditemukan adanya hemartrosis yang lebih hebat karena adanya fraktur intra-artikuler.

. Tiga tulang prominences ada 2-3cm sebelah distal tibia plateau.A. yang nonarticular dan yang berfungsi sebagai lampiran tibialis dari ligamentum cruciatum. Kedua plateau dipisahkan satu sama lain oleh area interkondilaris. Tuberkulum tibia terletak dianterior.medial plateau lebih besar dan concave pada sagital dan coronal axes. · Tibia plateau terdiri dari permukaan articular medial dan lateral.yaitu sekitar 85%. · Tibia plateau normal adalah menyerong 10 derajat posteroinferior.oleh karena itu fraktur sebelah lateral lebih sering. · Fraktur media plateau berhubungan dengan cedera yan lebih berat dan lebih sering mencederai jaringan lunak. ANATOMI · Tibia adalah tulang yang menahan beban utama dari kaki. · Permukaan articular medial dan itu mendukung condilus medial lebih kuat dari pada sebelah lateral. atas yang merupakan kartilaginosa menisci.lateral plateau meluas lebih tinggi dan convex pada bidang sagital dan koronal. di mana disisipan ligamen patella.

kaki dan ujung kaki harus .kondilus tibia remuk atau terbelah oleh kondilus femur yang berlawanan.yang tetap utuh. Gambaran klinik Lutut membengkak dan mungkin mengalami deformitas. Biasanya ini akibat jatuh dari ketinggian dimana lutut dipaksa masuk dalam valgus atau varus.B. Keadaan ini kadang kadang akibat pejalan kaki tertabrak mobil (fraktur bemper). Pasien biasanya berumur antara 50 dan 60 tahun dan sedikit mengalami osteoporosis. FRAKTUR TIBIA PLATEAU 1. 2. Mekanisme kerja Fraktur tibia plateau disebabkan oleh kekuatan varus atau valgus bersama sama dengan pembebanan aksial (kekuatan valgus saja mungkin hanya merobekan ligament). Pemeriksaan secara hati-hati (atau pemeriksaan dibawah anestesi) dapat menunjukan ketidakstabilan medial atau lateral.memar biasanya luas dan jaringan terasa seperti adonan karena hemartrosis.tetapi fraktur dapat terjadi pada orang dewasa pada setiap umur.

fragment yang tertekan dapat melesak ke dalam tulang subkondral.fraktur ini mungkin sebenarnya tidak bergeser.fragmen yang lepas atau meniscus lateral dapat terjebak dalam celah. · Tipe 4 (fraktur pada kondilus media) Terkadang akibat cedera berat.yang terdiri dari 6 tipe. Kalau retakannya lebar.bila kondilus lateralis remuk. dan oblik biasanya dapat memperlihatkan fraktur.tetapi apabial epikondilus medial remuk.yaitu: · Tipe 1 (fraktur biasa pada kondilus tibia lateralis) Pada pasien yang lebih muda.atau jelas sekali tertekan dan miring.dengan perobekan ligament kolateral lateral. · Tipe 6 (kombinasi fraktur kondilus dan subkondilus) Biasanya akibat daya aksial yang hebat . · Tipe 5 (fraktur pada kedua kondilus) Dengan batang tibia yang melesak diantara keduanya.tetapi tingkat kominusi atau depresi dataran tidak terlihat jelas tanpa tomografi.tetapi segment tulang sebelah luar memberikan selembar permukaan sendi yang utuh.diperiksa dengan cermat untuk mencari ada tidaknya tandatanda cedera pembuluh darah atau neurologi. · Tipe 2 (peremukan kominutif pada kondilus lateralis dengan depresi pada fragmen) Biasanya terjadi pada orang tua dengan osteoporosis. ligament lateral sering robek.mungkin terdapat retakan vertical dengan pemisahan fragment tunggal. · Tipe 3 (peremukan kominutif dengan fragment luar utuh) Mirip dengan tipe 2. PEMERIKSAAN SINAR X Sinar X anteroposterior. Dalam perencanaan terapi.foto tekanan(dibawah anestesi) kadang kadang bermanfaat untuk menilai tingkat ketidakstabilan sendi. lateral.ligamen medial sering utuh.perlu diketahui terlebih tipe frakurnya.

ini yang terbaik dilakukan dengan operasi terbuka.kalau depresi ringan (kurang dari 5mm) dan lutut stabil.disisi lain.pembebanan bebas ditunda hingga fraktur telah sembuh (6-8 minggu).tetapi sering tersisa sedikit angulasi. Hemartrosis diaspirasi dan pembalut kompresi dipasang. Tipe 1-fraktur yang bergeser.tindakan pembedahan untuk pemulihan permukaan yang hancur dapat menghasilkan penampilan sinarX yang baik dan kekauan lutut.3. Fraktur yang tak bergeser atau yang sedikit bergeser. tungkai diistirahatkan pada mesin CPM (Continuous Passive Motion) dan gerakan lutut dimulai.gips penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan menahan beban sebagian dengan kruk penopang.atau kalau pasien telah tua dan . Terapi Terapi dengan traksi dapat dilakukan dengan sederhana saja dan sering menghasilkan fungsi lutut yang baik.segera setelah nyeri dan pembengkakan akut telah mereda(biasanya dalam seminggu).mirip dengan fraktur kompresi pada vertebra. Tipe 2-frakut kominutif Pada dasarnya ini adalah fraktur kompresi. Fragment kondilus yang besar harus benar-benar direduksi dan difiksasi pada posisinya.

lutut kemudian difleksikan dan diekstensikan beberapa kali untuk “membentuk” tibia bagian atas pada kondilus femur yang berlawanan.traksi rangka dipasang lewat pen berulir melalui tibia. pasca operasi. Pilihan lainnya. seminggu setelah terapi ini.dan reduksi terbuka dengan peninggian plateau dan fiksasi internal sering menjadi pilihan. lutut dapat diterapi sejak permulaan dengan mesin CPM. reduksi terbuka dan fiksasi dapat dicoba. pen traksi dilepas. fraktur diterapi dengan traksi atau CPM.fraktur diterapi secara tertutup dengan tujuan memperoleh kembali mobilitas dan fungsi dan bukannya restitusi anatomis.lemah atau mengalami osteoporosis. tetapi. latihan aktif harus dilakukan tiap hari.fragment lateral dengan kartilago artikular yang utuh merupakan permukaan berpotensi mendapat pembebanan. jika berhasil.latihan dimulai secepat mungkin dan 2 minggu kemudian pasien dibiarkan bangun dengan gips-penyangga yang dipertahankan hingga fraktur telah menyatu.penggunaan mesin dihentikan dan latihan aktif dimulai. Tipe 4-dapat diterapi dengan gips-penyangga.g ips-penyangga berengsel dipasang dan pasien diperbolehkan bangun dengan kruk penopang. untuk semakin meningkatkan rentang gerakan. kalau fragment . segera setelah fraktur”lengket”(biasanya setelah 3-4minggu) .terapi ini dianggap terlalu konservatif.kaki diletakan dibantal dengan 5kg traksi. maka reduksi yang sempurna lebih penting. Kondilus dicoba untuk dibentuk.pembebanan penuh ditunda selama 6 minggu lagi. kalau reduksi tertutup gagal. cara ini kadang kadang dilakukan secara tertutup dengan traksi yang kuat dan kompresi lateral. Tipe 3-kominusi dengan fragment lateral yang utuh Prinsipnya hampir sama dengan terapi tipe 2.7cm dibawah fraktur. setelah aspirasi dan pembalutan kompresi. Pada pasien muda dengan fraktur tipe 2.

ini harus diperbaiki sekligus. kalau ligament lateral juga terobek.resiko ini dicegah dengan (1) menghindari imobilisasi gips terlalu lama (2) mendorong dilakukannya gerakan secepat mungkin. Belakangan Kekakuan Sendi Pada fraktur kominutif berat.untungnya deformitas yang moderate dapat member fungsi yang baik.meskipun pembebanan berlebihan pada satu kompartement secara terus menerus dapat menyebabkan predisposisi untuk osteoarthritis dikemudian hari. .baik karena reduksi fraktur yang tak sempurna ataupun karena pergeseran ulang selama terapi. fraktur yang lebih komplek dengan kominusi yang berat lebih baik ditangani secara tertutup. Komplikasi Dini Sindroma kompartemen pada fraktur bikondilus tertutup terdapat banyak perdarahan dan resiko munculnya sindroma kompartemen.dan setelah operasi kompleks. Tipe 5 dan 6. fraktur bikondilus sering direduksi dengan traksi dan pasien kemudian diterapi seperti pada cedera tipe 2. 4. fiksasi interna dapat dibenarkan. reduksi terbuka dan fiksasi diindikasikan. meskipun traksi dan latihan mungkin harus dilanjutkan selama 4-6 minggu hingga fraktur cukup “lengket” untuk memungkinkan penggunaan gipspenyangga. Deformitas Deformitas varus atau valgus yang tersisa amat sering ditemukan.nyata sekali bergeser atau miring.terdapat banyak risiko timbulnya kekakuan lutut.cedera berat yang menambah risiko sindroma kompartement.kalau terdapat beberapa fragment yang dengan jelas bergeser.kaki dan ujung kaki harus diperiksa secara terpisah unuk mencari tanda-tanda iskemia.