You are on page 1of 3

Manajemen Perusahaan KFC dan Pizza Hut Prediksi Bisnis Tahun Ini Lesu

Posted by Riza KhairiGlobal, HotnewsWednesday, February 6th, 2013 - 09:49 am SPC, Jakarta - Manajemen Yum! Brand Inc, pemilik jaringan waralaba KFC dan Pizza Hut menyatakan, prospek bisnisnya pada tahun ini lesu dibandingkan periode sebelumnya. Angka penjualan produk tertentu berkurang, sehingga menurunkan jumlah keuntungan. Dalam pernyataan resmi, manajemen Yum! memperkirakan, laba pada tahun ini bakal lebih rendah dibandingkan tahun 2012 yang mencapai US$ 3,25 per saham. Ini sekaligus koreksi pernyataan manajemen sebelumnya yang memperkirakan laba akan tumbuh 10% tahun ini. Penurunan laba itu merupakan imbas kasus pasokan ayam tak sehat yang terjadi di China beberapa tahun lalu. Meski kasus itu sudah selesai, pengaruh di tingkat konsumen masih berlanjut. Padahal, penjualan KFC di China berkontribusi 44% dari total pendapatan. Pada kuartal yang berakhir 29 Desember 2012, Yum! hanya mendapatkan laba bersih US$ 337 juta, menurun dari periode sama setahun sebelumnya US$ 356 juta. Pasca kasus pasokan ayam, manajemen harus menyiapkan banyak strategi untuk memulihkan nama baik perusahaan dan penjualan, jelas Jack Russo, Analis Edward Jones & Co. Namun, strategi itu juga membutuhkan banyak biaya. Walhasil, saat pendapatan tertekan, beban operasional meningkat. Itulah yang akan menekan keuntungan bersih.

Asal tahu saja, lembaga pengawas makanan dan obat di Shanghai atau Food and Drug Administration (FDA) menemukan KFC menggunakan bahan baku ayam dengan kandungan antibiotik berlebih sejak tahun 2010-2011. Ayam-ayam itu merupakan pasokan dari Liuhe Grup. KFC China memutus kontrak dengan pemasok itu pada Agustus lalu. Dari hasil ujicoba, sebanyak delapan ayam bahan baku di KFC membahayakan kesehatan. Namun, dalam keputusan FDA pada 25 Januari 2013, KFC tidak bersalah. Manajemen KFC sebenarnya juga berusaha memperbaiki citra. Mereka juga

mendongkrak penjualan dengan menambah gerai pada tahun ini sebanyak 700 gerai. Namun, jumlah penjualan akan tetap turun, karena permintaan pasar bakal turun 6% pada kuartal I tahun ini. Kecilnya penjualan juga karena bisnis KFC dan Pizza Hut di India hanya akan tumbuh 6,3% tahun ini. Padahal, bisnis tahun lalu naik 24% (SPC/25/Kompas)

KOMENTAR
Dari berita diatas saya menyimpulkan bahwa pihak KFC menggunakan strategi penetrasi pasar, dengan cara membangun 700 gerai tambahan. Hal ini juga merupakan penerapan strategi ST (Strengths-Threatment) dengan menggunakan kekuatan sebuah perusahaan untuk mengurangi atau menanggulangi dampak ancaman eksternal. Kasus yang terjadi menjatuhkan nama baik KFC, mengurangi kepercayaan dan loyalitas pelanggan yang berdampak pada berkurangnya pelanggan dan penurunan pendapatan. Namun demikian, KFC menggunakan kekuatan pangsa pasarnya dengan cara membangun 700 gerai tambahan untuk mengurangi ancaman yang ditimbulkan dari kasus yang dihadapinya. Pembangunan 700 gerai ini juga dilakukan untuk mengembalikan kepercayaan konsumen kepada KFC, yaitu dengan menggunakan strategi fokus kepada citra public dengan tujuan untuk memperbaiki citra KFC yang berkurang. Dengan dibangunnya gerai tambahan ini, berarti pihak KFC membuktikan dengan tegas ketidakbersalahannya atas penggunaan ayam dengan kandungan antibiotic, dan diharapkan Kepercayaan dan loyalitas konsumen dapat kembali membaik. Walaupun kepercayaan dan loyalitas konsumen berkurang dikarenakan kasus ini, tapi strategi yang diambil oleh pihak KFC adalah tindakan yang tepat. Karena dengan demikian KFC membuktikan bahwasanya mereka adalah perusahaan yang besar dan kuat, terbukti dengan penggunaan strategi penetrasi pasar, dan strategi ST yang memanfaatkan ancaman untuk mengambil peluang yang ada, bukannya dengan pengaplikasian strategi penciutan. Sehingga dengan hal ini diharapkan penurunan pendapatan yang terjadi, akhirnya dapat ditingkatkan lagi.