SKRIPSI FAKTOR - FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA

   

Skripsi ini diajukan sebagai persyaratan untuk mendapatkan Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh RIANA PUSPA DEWI MARGHA 2009-31-103

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL JAKARTA 2011

i

 

UNIVERSITAS ESA UNGGUL FAKULTAS ILMU – ILMU KESEHATAN PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT SKRIPSI, SEPTEMBER 2011 RIANA PUSPA DEWI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RUMAH SAKIT MEDISTRA JAKARTA 6 Bab, 124 Halaman, 6 Tabel, 15 Gambar, 8 Grafik

ABSTRAK ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain kecuali vitamin, mineral dan obat pada bayi dibawah umur 6 bulan. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2010 hanya 15,3% bayi di Indonesia yang mendapat ASI eksklusif, sementara target nasional adalah 80%. Dilingkungan perawat RS Medistra sebagai tenaga kesehatan yang salah satu perannya sebagai role model bagi masyarakat, masih ada yang tidak memberikan ASI eksklusif dikarenakan harus kembali bekerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. Metode penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dan sampel adalah seluruh perawat wanita yang bekerja di RS Medistra, mempunyai suami (belum meninggal/bercerai), mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (37-41 minggu) sebanyak 70 orang. Faktor-faktor diteliti terbatas pada umur ibu, tingkat pendidikan ibu, sikap, lama waktu bekerja, sarana menyusui ditempat kerja, dukungan suami, dan dukungan atasan yang diukur melalui wawancara menggunakan kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan 25,7% perawat yang memberikan ASI eksklusif. Hasil analisis bivariat diperoleh ada hubungan yang bermakna antara pendidikan (x2=11,609; p=0,003), sikap (x2=6,895; p=0,009), sarana menyusui di tempat kerja (x2=4,815; p=0,043) dan pemberian ASI eksklusif. Sedangkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu (x2=1,716; p=0,190), lama waktu bekerja (x2=0,041; p=0,840), dukungan suami (x2=2,715; p=0,092), dukungan atasan (x2=1,310; p=0,271) dan pemberian ASI eksklusif. Upaya meningkatkan prilaku ibu untuk memberikan ASI eksklusif harus terus dilakukan.

Daftar bacaan : 43 (1982 – 2010)

iii

  .

  .

KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala Rahmat dan Anugerah-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. penulis telah banyak mendapat bantuan yang datang dari berbagai pihak. dukungan satu sama lain. 3. SKM. sebagai pembimbing yang telah banyak memberikan bantuan. Dalam penyusunan skripsi ini. Ibu Intan Silviana Mustikawati. Dadan “dudul”. kasih sayang. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul yang telah banyak memberi bantuan. Alief. viii . Bapak Idrus Jus’at. Ibu dr. tempat penulis melakukan penelitian dan para perawat yang telah bersedia menjadi responden. pengarahan dan bimbingan selama melaksanakan pendidikan. 5. Teristimewa untuk suamiku. Robert J. penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada : 1. 8. Seluruh teman-teman Ekstensi angkatan 2010 terutama untuk Endang. SKM. MBBS. selaku Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul 2. tetap semangat ya teman. Untuk itu. FRCS. Mayang Anggraeni. sebagai pembimbing yang telah menyediakan waktu untuk membimbing dan membagi pengetahuannya. sebagai penguji yang telah memberikan banyak masukan dan pengarahan untuk skripsi ini. pengarahan dan dukungan bagi penyelesaian skripsi ini. RS Medistra.D. dukungan. SpOG. terima kasih untuk saling memberikan masukan. 7. Ph. MSc. MRCOG(UK). MPH. Dr. atas doa. 4. kesabaran yang tak pernah putus untuk penulis. Ibu Iskari Ngadiarti. 6. semangat. Channe.

atas semua motivasi dan inspirasi hidup kepada penulis. 16 September 2011 Penulis viii .9. Owen & Jason. Audric. Serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. 11. yang selalu menjadi kebanggaan. semuanya sangat berarti. Semoga Tuhan selalu menjaga dan memberkati kita semua. semoga suatu hari bisa seperti babeh. My beloved boys. penghiburan dan sumber kekuatan penulis. MSc (alm). Ayah tercinta. 10. teimakasih telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Mohamad Margha. Penulis menyadari masih banyak kekurangan di dalam penyusunan skripsi ini. Jakarta. Penulis berharap skripsi ini dapat memberi manfaat kepada siapa saja yang membacanya. Drs. dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan kritik sebagai masukan bagi penulis guna perbaikan di kemudian hari.

................. DAFTAR GRAFIK ....5 Manfaat ASI ...1..................1 Kerangka Teori ............... 2........4 1......... ABSTRAK……………………………………........................................ 1 1......................1.......... vii DAFTAR ISI .................... vi KATA PENGANTAR .............3 1................................................................................ 9 Tujuan Penelitian ............................................................ DAFTAR GAMBAR ........3 Komposisi ASI .... BAB I PENDAHULUAN 1......................................................................................................................... 2.5 1...1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan Asi Eksklusif 2.............................................. 39 ix .................................................. v ii RIWAYAT HIDUP……………………………………………………..................... 2... iii PERNYATAAN PERSETUJUAN…………………………………….....................................................................................1....1....6 BAB II Identifikasi Masalah ....................4 Kandungan Gizi ASI .............................. DAFTAR LAMPIRAN .................................... i SURAT PERNYATAAN BUKAN PLAGIAT ..1......... 10 xv xvi ix xii xiv KERANGKA TEORI DAN KONSEP 2....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ..................................... iv PENGESAHAN SKRIPSI ……………………………………………...................7 Teknik Menyusui ........................................................................................ 2......................................... 37 2.............1........... 6 Pembatasan Masalah ...................................................1.... DAFTAR TABEL ...................................................................1 Latar Belakang .....................................................................................2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi .............................................. 8 Perumusan Masalah ....................... 11 11 14 24 26 31 2............ 9 Manfaat penelitian ...........2 1.................................................6 Alasan Pemberian ASI eksklusif ...........................................

............................................................. 56 A.. Hipotesis .......2 3................ Pendidikan Ibu C........3 3......... Posisi & pelekatan menyusui B.. 79 Pengujian Hipotesis .....................2 2.................... 90 90 ix .....4 Kerangka Berfikir ...... Keterpaparan terhadap Iklan Susu Formula F...5 Metode Penelitian .........................................3 2... Lama Waktu Kerja E.....................1 Deskripsi Umum .8 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif ............... 78 3... Sikap D..1..A... Umur B........................1 Tempat dan waktu penelitian ... Dukungan Suami G.... Dukungan Atasan H......4 3....................... Sarana menyusui di tempat kerja 2... 78 Teknik Pengambilan Sampel............................... 79 Instrumen Penelitian ................................................................................. Langkah-langkah menyusui yang benar C...............................1........ Kerangka Konsep .............. 71 74 76 77 BAB III METODE PENELITIAN 3....... Pengeluaran ASI / ASI perah 2................. 4.................. 86 BAB IV HASIL PENELITIAN 4................................................... Lama & frekuensi menyusui D.....1.............................. Pola menyusui bayi E.....1 Gambaran Umum Tempat Penelitian ......9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI 2.......

.2.. 4............................................................1..................4........................2 Deskripsi Data ......... BAB V PEMBAHASAN 5............................................. 122 123 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN ix ......2 Analisa Bivariat ..3 Keterbatasan Penelitian ...1 Analisa Univariat .............................2..........1 Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta ............................1 6...2 Faktor-Faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.......................2 Kesimpulan ............... 4............ 91 92 92 102 109 4......... 5............... 4...........2 Ketenagaan ....................................... Saran ...............................................2................................................. 112 110 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6...................................

................................................10 Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif responden perawat di RS Medistra .....DAFTAR TABEL Tabel 2................................1 Instrumen penelitian untuk variabel dependen ........................................... Tabel 4.....1 Ketenagaan RS Medistra .............................. Tabel 4..............................2 Distribusi frekuensi umur responden perawat di RS Medistra .............. Tabel 4........................... 102 101 100 99 98 96 97 94 93 82 82 85 85 91 92 Tabel 4........ susu formula ........ Tabel 4................................................................ Tabel 4...................4 Skoring untuk variabel sikap ................................ Tabel 4.12 Distribusi responden menurut pendidikan ibu dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...........2 Ringkasan perbedaan ASI..6 Distribusi frekuensi sikap responden perawat di RS Medistra ..................................... Tabel 4..................................................................3 Distribusi frekuensi pendidikan responden perawat di RS Medistra ...............3 Instrumen penelitian untuk variabel independen ............................................. Tabel 4..........1 Komposisi kandungan ASI .......... 103 ix .............................9 Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden perawat di RS Medistra ..7 Distribusi frekuensi dukungan suami responden perawat di RS Medistra ...... Tabel 4.................................... Tabel 4...8 Distribusi frekuensi dukungan atasan responden perawat di RS Medistra .................... 37 Tabel 3...................... Tabel 3..................................... Tabel 3.................2 Skoring untuk variabel dependen ....................... susu sapi............................................... 25 Tabel 2.....4 Distribusi frekuensi lama waktu bekerja responden perawat di RS Medistra ...................................................5 Distribusi frekuensi sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada responden perawat di RS Medistra .................................................. Tabel 3.....11 Distribusi responden menurut umur dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ........... Tabel 4...................................

................Tabel 4.............. Tabel 4........................ Tabel 4..14 Distribusi responden menurut sikap dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .......... 104 Tabel 4..... Tabel 4.....................................13 Distribusi responden menurut lama waktu bekerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ............ 108 107 106 105 ix .....................................16 Distribusi responden menurut dukungan atasan dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...15 Distribusi responden menurut dukungan suami dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra ...17 Distribusi responden menurut sarana menyusui di tempat kerja dan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra........

....................................12 Pompa tangan & pompa elektrik ......... 40 Gambar 2........................................................11 Teknik memijat payudara dan memerah ASI ...10 Definisi menyusui ...... 51 Gambar 2................ 40 Gambar 2..........................................3 Gambar 2............ 25 Gambar 2...................................................................1 Gambar 2......................... 55 Gambar 2..DAFTAR GAMBAR Gambar 2...................................................................... ASI awal dan ASI akhir ..... 48 Gambar 2..................... 54 Gambar 2................................................................ 42 Gambar 2............................................14 Mencairkan ASI perah ................................................................... 44 Gambar 2....... 20 Respon Penyusuan .......2 Gambar 2.7 Posisi menyusui..............................................8 Posisi pelekatan menyusui ......... 63 ix ............... 17 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi ..........................13 Tempat penyimpanan ASI perah .................6 Diagram Perbedaan Komposisi Kolostrum....................................9 Teknik menyusui ........................................ 22 Gambar 2....... 15 Struktur anatomi payudara ..........4 Gambar 2.......................... 16 Bentuk-bentuk puting susu ..5 Payudara tampak depan ...15 Hubungan sikap dan prilaku .....................

............. 95 Grafik 4........................................................... 94 Grafik 4...........................8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra ...5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra ... 93 Grafik 4... 101 ix ...................................................6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra ................................................................................................................................. 98 Grafik 4.................. 100 Grafik 4.................... 97 Grafik 4..........................................3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra ........................................1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra ........ 99 Grafik 4..........................2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .............................................................DAFTAR GRAFIK Grafik 4..7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra ..........4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra .

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Kuesioner Distribusi Hasil Jawaban Kuesioner Output Analisa Data Statistik Formulir Bimbingan Skripsi ix .

Setelah usia bayi 6 bulan. 2001). air teh. bayi mulai diberikan makanan pendamping ASI. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu. dan nasi tim. kecuali vitamin dan mineral dan obat (Roesli. serta tanpa tambahan makanan padat. sedangkan ASI terus diberikan sampai 2 tahun(Prasetyono. oleh karena itu memberikan ASI saja pada bayi sampai dengan umur 6 bulan. sangat dianjurkan (Arief.1 BAB I PENDAHULUAN 1. biskuit. bubur susu. laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah payudara ibu. seperti susu formula. sebagai makanan utama bayi. 2005). sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi. namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga usia 6 bulan. ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. seperti pisang. 2009). . ASI bukan minuman.1 Latar Belakang Air Susu Ibu (ASI) adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. jeruk. dan air putih. madu. Sistem pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. bubur nasi. ASI mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi.

Rendahnya pemberian ASI Eksklusif di keluarga menjadi salah satu pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita. Prevalensi gizi kurang pada balita juga mengalami penurunan dari 37.5% pada tahun 1989 menjadi 24. Target Millennium Development Goals (MDGs) ke-4 adalah menurunkan angka kematian bayi dan balita (AKB) menjadi 2/3 dalam kurun waktu 1990-2015 (AKB harus diturunkan dari 97 menjadi 32).2 World Health Organization (WHO. 2010). 2004). saat ini kasus gizi buruk (busung lapar) merebah. . Penyebab utama kematian bayi dan balita adalah diare dan pneumonia dan lebih dari 50% kematian balita didasari oleh kurang gizi. Pemberian ASI secara eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun disamping pemberian Makanan Pendamping ASI (MP ASI) secara adekuat terbukti merupakan salah satu intervensi efektif dapat menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) (Sitaresmi. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal.6% pada tahun 2000 dan meningkat kembali menjadi 31% pada tahun 2001. serta menurunnya perhatian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat (Depkes RI. karena lemahnya sistem kewaspadaan pangan dan gizi. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”.

jumlah bayi dibawah usia enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif menurun dari 7. dan tiga sampai empat kali lebih besar kemungkinan terkena ISPA dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI (Depkes RI.9% menjadi 7. bayi yang diberi susu selain ASI. Hasil RISKESDAS tahun 2010 menunjukan jumlah bayi dibawah umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif hanya 15. Menurut WHO (2000).3%.7% menjadi 27.8%. Pemberian ASI eksklusif dapat menyelamatkan lebih dari 30. Menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) dari 1997 hingga 2002. karena adanya zat antibodi juga zat gizi lain seperti asam amino. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrilon and Health Surveilance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. Semarang. Jumlah bayi di Indonesia yang mendapatkan ASI eksklusif terus menurun karena semakin banyaknya bayi di bawah 6 bulan yang diberi susu formula. Surabaya. dipeptid.dan jumlah bayi di bawah enam bulan yang diberi susu formula meningkat dari 16. 2008).000 balita di Indonesia.dkk.3 Departemen Kesehatan telah mengadopsi pemberian ASI eksklusif seperti rekomendasi dari WHO dan The United Nations Children’s Fund (UNICEF).9% (Sutama. sebagai salah satu program perbaikan gizi bayi atau anak balita. mempunyai risiko 17 kali lebih mengalami diare. .2005). heksose yang menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak. sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja (Sidi. 2003).

menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif di perkotaan antara 3-18%. Siregar (2008) melaporkan bahwa 98 dari 290 orang (33. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang termasuk memberikan ASI eksklusif adalah pengetahuan. Jatim.8%) ibu bekerja di perusahaan swasta di Jakarta yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Jabar. NTB. Banten. Faktor lain yang .2008).4 Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar. sedangkan pedesaan 6-19%. Lampung. Rendahnya cakupan ASI diperkotaan dikarenakan peratutan cuti hamil/melahirkan belum sesuai dengan masa pemberian ASI eksklusif berakhir (Kodrat.2010). sehingga semakin banyak ibu menyusui memberikan susu botol yang sebenarnya merugikan (Depkes. Pengetahuan didapat melalui proses belajar yaitu proses perubahan perilaku yang dihasilkan dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan yang didasari oleh perilaku terdahulu (sebelumnya). Kurangnya pengetahuan ibu menyusui tentang keunggulan ASI dan manfaat ASI juga menyebabkan ibu mudah terpengaruh oleh promosi susu formula yang sering dinyatakan sebagai pengganti air susu ibu. Sulsel). Ibu yang bekerja tetap dapat memberikan ASI eksklusif dengan cara memerah ASI sebelum ibu pergi. ASI perah dapat tahan disimpan selama 24 jam di dalam termos es yang diberi es batu atau dalam lemari es. Jateng. 2001). Tidak terdapat perbedaan kualitas maupun kuantitas ASI ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja (Roesli.

Di lingkungan tenaga kesehatan khususnya perawat di RS Medistra yang dinilai mempunyai pengetahuan yang cukup tentang manfaat ASI eksklusif juga sikap sebagai tenaga kesehatan yang memberikan penyuluhan tentang pemberian ASI eksklusif ternyata masih dijumpai para ibu yang tidak bisa memberikan ASI eksklusif. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lain (Sarwono. dikarenakan harus kembali bekerja sebelum masa pemberian ASI eksklusif berakhir. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang.5 menjadi bagian dari perilaku adalah sikap. 1999). RS Medistra adalah salah satu Rumah Sakit swasta terbaik di Jakarta yang berlokasi di kawasan strategis Jenderal Gatot Subroto Jakarta didirikan pada 1990 merupakan suatu organisasi yang memiliki SDM sebanyak 953 orang dengan profesi yang beragam (medis dan non medis) termasuk perawat wanita sebanyak 341 Orang. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut (Notoatmojo. Survei pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada 5 orang perawat yang mempunyai bayi umur 724 bulan. 2003). . namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. hanya 1 orang perawat (20%) yang memberikan ASI eksklusif karena harus kembali bekerja.

infeksi saluran kemih dan infeksi radang usus halus dan usus besar akibat jaringan kekurangan oksigen atau akibat terapi antibiotik (Necrotizing Enterocolitis). diantaranya penyakit diare dan infeksi saluran pernapasan akut. faktor spesifik (IgA sektori. radang selaput oak. karena dengan ASI eksklusif mampu menurunkan angka kematian bayi akibat berbagai penyakit infeksi. Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian penyakit radang telinga tengah. merangsang perkembangan barier (pembatas) antara mukosa saluran cerna dan saluran nafas. Karenanya bayi yang diberi ASI eksklusif lebih tahan penyakit daripada yang diberi susu formula. mencegah masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna.2 Identifikasi Masalah Pemberian ASI eksklusif sangat penting. mengurangi reaksi inflamasi (peradangan) dan sebagai imunomodulator (perangsang kekebalan). mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (berbahaya) saluran cerna. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. ASI memberikan perlindungan kepada bayi melalui beberapa mekanisme. .zat kekebalan). 1.6 Berdasarkan permasalahan diatas. antara lain memperbaiki pertumbuhan mikroorganisme nonpatogen (tidak berbahaya).

salah satunya yaitu pengetahuan yang merupakan domain yang pertama dan sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Menurut Notoatmojo (2007) perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Agar proses menyusui lancar. Faktor yang berasal dari dalam individu. Dan sering kali bekerja menjadi kendala untuk memberikan ASI eksklusif. yaitu ayah membantu ibu agar bisa menyusui dengan nyaman sehingga ASI yang dihasilkan maksimal. Faktor lain yang berperan penting bagi keberhasilan pemberian ASI eksklusif dapat berasal dari luar individu misalnya dukungan atasan dan dukungan suami dan sarana menyusui di tempat kerja. misalnya tempat penitipan anak atau pojok laktasi yang dapat membantu keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Dukungan emosional suami sangat berarti dalam menghadapi tekanan ibu dalam menjalani proses menyusui. diperlukan breastfeeding father. sehingga diperlukan suatu sarana yang memungkinkan ibu memerah ASI saat bekerja. . Masalah lain belum adanya peraturan pemerintah yang mengatur agar kantor atau pihak pengusaha menyediakan fasilitas bagi kelangsungan pemberian ASI eksklusif bagi pekerja wanitanya.7 Perilaku ibu yang memberikan ASI ekslusif dipengaruhi beberapa faktor. karena keterbatasan waktu untuk memberikan ASI. agar ibu menjadi tenang sehingga memperlancar produksi ASI. baik yang berasal dari dalam individu maupun yang berasal dari luar individu.

sikap. kemampuan. pendidikan. 1. identifikasi masalah dan pembatasan masalah diatas maka permasalahan yang akan di teliti dapat dirumuskan sebagai berikut: Faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta?.4 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang.5. Menganalisis hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. dukungan suami.1 Tujuan Umum Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta 1.2 Tujuan Khusus A. lamanya waktu bekerja. Mengetahui prevalensi pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.5 Tujuan Penelitian 1. biaya dan tenaga. dukungan atasan dan sarana menyusui ditempat kerja pada perawat di RS Medistra Jakarta. . maka ruang lingkup penelitian dibatasi pada faktor-faktor: umur. waktu.8 1. 1.3 Pembatasan Masalah Banyak faktor yang mempengaruhi perilaku ibu dalam pemberian ASI eksklusif tetapi karena berbagai keterbatasan yang ada khususnya dari segi pengetahuan. B.5.

E.1 Manfaat bagi peneliti Mendapatkan pengalaman dan pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.2 Manfaat Bagi Institusi Sebagai bahan masukan bagi RS Medistra agar ikut berperan aktif dalam mensukseskan program ASI eksklusif. H.6. Menganalisis hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.9 C.6 Manfaat Penelitian 1. Menganalisis hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. F. G. Menganalisis hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Menganalisis hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.6. Menganalisis hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 1. 1. 1. D.3 Manfaat bagi Universitas .

10 Sebagai bahan informasi bagi peneliti lain yang ingin melanjutkan penelitian tentang pemberian ASI eksklusif pada tenaga kesehatan. dan dapat menambah bahan referensi bagi kepustakaan Universitas Esa Unggul. .

Pada saat yang sama. ASI juga dapat melindungi bayi untuk melawan segala kemungkinan serangan penyakit.1 Pengertian Air Susu Ibu (ASI) dan ASI Eksklusif A. 1997).11 BAB II KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS 2. Keseimbangan zat-zat gizi dalam ASI memiliki kualitas terbaik dibanding yang lain. Semasa kehamilan. ASI adalah sebuah cairan ajaib yang tidak tertandingi. laktosa dan garam-garam organik yang desekresi oleh kedua belah payudara ibu. payudara akan mengalami perubahan untuk menyiapkan produksi ASI (Khasanah. ASI juga sangat kaya akan sari-sari makanan yang .1 Kerangka Teori 2. ASI merupakan makanan yang telah disiapkan untuk calon bayi saat seorang ibu mengalami kehamilan. ASI dapat memenuhi semua kebutuhan gizi bayi usia 0-6 bulan. sebagai makanan utama bagi bayi (Soetjiningsih. Zat-zat yang terkandung dalam ASI memiliki bentuk paling baik bagi tubuh bayi yang masih muda. ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara ibu melalui proses menyusui.1. Pengertian ASI ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein. 2011).

Sistim pencernaan bayi usia dini belum memiliki cukup enzim pencerna makanan. . namun ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal paling sempurna bagi bayi hingga berusia 6 bulan. ASI bukan minuman. ASI cukup mengandung seluruh zat gizi yang dibutuhkan bayi. 2009). Kandungan zat gizi ASI yang sempurna membuat bayi tidak akan kekurangan gizi tetapi. secara alamiah ASI dibekali enzim pencerna susu sehingga organ pencernaan bayi mudah mencerna dan menyerap gizi ASI. tanpa tambahan minuman atau makanan apapun. 2010). karena itu yang terbaik adalah memberikan bayi ASI saja hingga usia 6 bulan. makanan ibu harus bergizi guna mempertahankan kuantitas dan kualitas ASI. Memberikan susu formula sebelum bayi berusia 6 bulan akan meningkatkan risiko diare. Selain itu. dan sudah pasti memboroskan dana rumah tangga karena harga susu formula tidak murah (Arif.12 mempercepat pertumbuhan sel-sel otak dan perkembangan sistem saraf (Kodrat.

seperti susu formula. jeruk. serta tanpa tambahan makanan padat. . bubur nasi. bubur susu. Pengertian ASI Eksklusif ASI eksklusif adalah pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. dan nasi tim. Pada tahun 2001 World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. kecuali vitamin dan mineral dan obat. dan air putih. 2004). Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. kecuali obat dan vitamin (Departemen Kesehatan RI. ASI dapat diberikan sampai usia 2 tahun (Roesli.13 B. madu. ketentuan sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. ASI eksklusif adalah memberikan hanya ASI. air teh. seperti pisang. diberikan tanpa jadwal dan tidak diberikan makanan lain walaupun hanya air putih sampai bayi berumur enam bulan (Purwanti. tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia enam bulan. 2009). ASI eksklusif adalah pemberian ASI sedini mungkin setelah persalinan. biskuit. 2004).

yaitu bagian yang membesar 2. kemudian beberapa saluran kecil bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus). dengan berat kira-kita 200 gram. Papilla atau puting. . yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Korpus (badan). Areola.susu) adalah kelenjar yang terletak dibawah kulit. diatas otot dada dan fungsinya memproduksi susu untuk nutrisi bayi.2 Anatomi Payudara & Fisiologi Laktasi A. mencapai 600 gram dan waktu menyusui bisa mencapai 800 gram. Beberapa alveolus mengelompok membentuk lobulus. yaitu: 1. Alveolus terdiri dari beberapa sel Aciner. yang kiri umumnya lebih besar dari yang kanan. kemudian beberapa lobulus berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap payudara. yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara Dalam korpus mammae terdapat alveolus. yaitu bagian yang kehitaman di tengah 3. Pada waktu hamil payudara membesar. Anatomi Payudara Payudara ( mammae.14 2. Ada 3 bagian utama payudara. Dari alveolus ASI disalurkan ke dalam saluran kecil (Duktulus). Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara.1. sel otot polos dan pembuluh darah. jaringan lemak. sel plasma.

Di dalam dinding alveolus maupun saluran. Areola c.15 Gambar 2. Badan b. Akhirnya semua memusat kedalam puting dan bermuara keluar. Papilla) Dibawah areola saluran yang besar melebar.2 Struktur anatomi payudara .1 Payudara tampak depan (a. disebut sinus laktiferus. Gambar 2. terdapat otot polos yang apabila berkontraksi memompa ASI keluar.

16 Ada 4 macam bentuk puting. yaitu produksi dan pengeluaran ASI. Kadang dapat terjadi puting tidak lentur. terutama pada bentuk puting terbenam. Payudara mulai dibentuk sejak embrio berumur 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi. B. Bila puting dihisap.3 Bentuk-bentuk puting susu Pada papilla dan areola terdapat saraf peraba yang sangat penting untuk refleks menyusui. dengan terbentuknya . pendek/ datar. sehingga butuh penanganan khusus agar bayi bisa menyusu dengan baik Gambar 2. Namun bentuk-bentuk ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi. yang penting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi. yaitu bentuk yang normal. Fisiologi Laktasi Laktasi mempunyai dua pengertian. panjang dan terbenam. terjadilah rangsangan saraf yang diteruskan ke kelenjar hipofisis yang kemudian merangsang produksi dan pengeluaran ASI.

17

hormon estrogen dan progesteron yang berfungsi untuk maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin adalah hormon yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormon lain seperti insulin, tiroksin dan sebagainya.

Selama kehamilan, hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI biasanya belum keluar karena masih dihambat oleh dihambat oleh kadar estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga pasca persalinan, kadar estrogen dan progesteron turun drastis, sehingga pengaruh Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu:

1. Refleks prolaktin : Dalam puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris. Bila ini dirangsang, timbul impuls yang menuju hipotalamus selanjutnya ke kelenjar hipofisis bagian depan sehingga kelenjar ini mengeluarkan hormon prolaktin. Hormon inilah yang berperan dalam produksi ASI ditingkat alveoli. Dengan demikian mudah dipahami bahwa makin sering rangsangan penyusunan makin banyak pula produksi ASI.

18

2. Refleks Aliran (Let Down Reflex) Rangsangan puting susu tidak hanya diteruskan sampai ke kenjenjar hipofisis depan, tetapi juga ke kelenjar hipofisis bagian belakang, yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini berfungsi memacu kontraksi otot polos yang ada di dinding alveolus dan dinding saluran, sehingga ASI di pompa keluar. Makin sering menyusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga kemungkinan terjadinya bendungan susu makin kecil, dan menyusui akan makin lancar. Saluran ASI yang mengalami bendungan tidak hanya mengganggu penyusuan, tetapi juga berakibat mudah terkena infeksi.

Oksitosin juga memacu kontraksi otot rahim sehingga involusi rahim makin cepat dan baik. Tidak jarang perut ibu terasa mulas yang sangat pada hari-hari pertama menyusui dan ini adalah mekanisme alamiah untuk kembalinya rahim ke bentuk semula.

Gambar 2.4 Refleks aliran dan pengawasan hormonal terhadap laktasi

19

Tiga refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi, adalah: 1. Refleks menangkap (Rooting Refleks) Timbul bila bayi baru lahir tersentuh pipinya, bayi akan menoleh ke arah sentuhan. Dan bila bibirnya dirangsang dengan papilla mammea, maka bayi akan membuka mulut dan berusaha untuk menangkap puting susu. 2. Refleks menghisap Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh, biasanya oleh puting. Supaya puting mencapai bagian belakang palatum, maka sebagian besar areola harus tertangkap mulut bayi. Dengan demikian, maka sinus laktiferus yang berada di bawah areola akan tertekan antara gusi, lidah dan palatum, sehingga ASI terperas keluar. 3. Refleks menelan Bila mulut bayi terisi ASI, ia akan menelannya.

Mekanisme menyusu pada payudara berbeda dengan mekanisme minum dari botol, karena dot karetnya panjang dan tidak perlu diregangkan, maka bayi tidak perlu menghisap kuat. Bila bayi telah biasa minum dari botol/ dot akan timbul kesulitan bila bayi menyusu pada ibu, karena ia akan menghisap payudara seperti halnya ia menghisap dot. terjadilah bingung puting. Pada keadaan ini ibu dan bayi perlu bantuan untuk belajar menyusui dengan baik dan benar.

20 Gambar 2. Demikian halnya bayi yang lapar atau kembar. . Semakin sering bayi menyusu. Lidah menjulur ke muka untuk menangkap puting c. karena semakin kuat daya hisapnya.5 Respon Penyusuan a. Bibir bayi menangkap puting selebar areola b. membawa puting menyentuh langit-langit di dalam mulut d. payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. dengan daya hisapnya maka payudara akan memproduksi ASI lebih banyak. Timbul refleks menghisap pada bayi dan refleks aliran pada ibu Menyusui bayi yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan bayi karena secara alamiah bayi akan mengatur kebutuhannya sendiri. semakin banyak ASI yang diproduksi. Lidah ditarik mundur.

serta kadar karbohidrat dan lemak yang rendah. Bila kemudian bayi disapih.21 Produksi ASI selalu berkesinambungan. setelah payudara disusukan. Dengan demiian ibu dapat menyusui bayi secara eksklusif sampai 6 bulan. Siklus berulang ketika ibu hamil (alveoli matur. Alveolii mengalami apoptosis (kehancuran).dkk 2003) 2. kolostrum antara 150-300 ml/24 jam. dan tetap memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun bersama makanan lain. ibu cukup makan dan minum serta adanya keyakinan mampu memberi ASI pada anaknya. volume tersebut Volume mendekati . Produksi ASI antara 600cc-1 Liter sehari. cairan pelindung yang kaya zat anti infeksi dan berprotein tinggi yaitu 10-17 kali lebih banyak dibanding ASI matur. maka akan terasa kosong dan payudara melunak. Sekresi ASI juga akan terhenti.3 Komposisi ASI Berdasarkan stadium laktasi komposisi ASI dibagi menjadi 3 bagian yaitu: A. Pada keadaan ini ibu tidak akan kekurangan ASI. siap produksi) dan laktasi (alveoli memproduksi ASI) kemudian penyapihan (alveoli gugur) disebut siklus latasi dan selalu berulang selama wanita belum menopause (Sidi.1. karena ASI akan terus diproduksi asal bayi tetap menghisap. alveoli akan terbentuk kembali. refleks prolaktin akan terhenti. Kolostrum adalah cairan emas. kemudian bersama siklus menstruasi dimana hormon estrogen dan progesteron berperan.

2001). ASI transisi/ peralihan adalah ASI yang keluar setelah kolostrum sebelum menjadi ASI yang matang. Biasanya ASI ini akan berakhir 2 minggu setelah kolostrum. Pada ibu yang sehat dengan produksi ASI yang cukup. ASI merupakan satu-satunya makanan yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan (Roesli. . dengan komposisi yang relatif konstan. Kandungan ASI peralihan ini memang tidak selengkap kolostrum (Kodrat. kadar protein semakin rendah sedangkan karbohidrat dan lemak semakin tinggi dengan volume yang makin meningkat (Roesli. 2010). protein dan lemak yang diperlukan untuk kebutuhan hidup dan perkembangan bayi (Kodrat. ASI matur merupakan ASI yang keluar sekitar hari ke 14 sampai seterusnya. ASI matur adalah cairan yang berisi 90% air yang diperlukan untuk memelihara hidrasi bayi sedangkan 10% kandungannya adalah karbohidrat. dan kolostrum B.22 kapasitas lambung bayi yang baru berusia 1-2 hari harus diberikan pada bayi.2001). 2010). C.

Ieda Poernomo Sigit.1 Komposisi Kandungan ASI dikutip dari : Sidi.2003. dkk.23 Tabel 2. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Dra. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .

6 Perbedaan Komposisi Kolostrum. LCPUFAs ASI memang mengandung beberapa contoh zat gizi yang tinggi. Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa ASI dapat berperan sangat penting untuk pertumbuhan anak. Contoh zat gizi yang dimiliki ASI dan tidak dimiliki oleh susu lain adalah LCPUFAs (long chain polyunsaturated fatty). LCPUFAs sangat diperlukan oleh bayi dalam membantu fungsi mental. Di dalam LCPUFAs ada 3 komponen yaitu: Asam arakhidonat.4 Kandungan Gizi ASI ASI mengandung banyak zat-zat gizi dan vitamin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh bayi. penglihatan dan perkembangan psikomotor bayi. Menurut studi selama 17 tahun pada tahun 1025 anak-anak yang mengkonsumsi ASI terdapat peningkatan IQ dan keterampilannya.1. Zat-zat tersebut antara lain adalah: A. merupakan komponen dasar korteks otak dan ARA (Arachidonic Acid) yang berperan penting dalam proses tumbuh kembang otak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa peningkatan kemampuan reflek kognitif merupakan efek dari LCPUFAs pada masa awal perkembangan saraf bayi. Asam dokosaheksanoat. Bahkan dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Willats dan Forsyth pada 44 bayi yang sehat dan lahir normal dimana bayi-bayi tersebut secara acak diberikan susu formula yang didalamnya ditambahkan LCPUFAs dan sebagian lagi tidak ditambahkan. ternyata bayi-bayi yang .24 Gambar 2. ASI awal dan ASI akhir 2.

ASI mempunyai kadar protein yang paling rendah diantara air susu mamalia. C.25 diberikan susu formula dengan penambahan LCPUFAs menunjukan kemampuan berpikir cepat. Penelitian OSBORN membuktikan. Lemak Lemak pada ASI merupakan lemak penghasil energi utama. Protein di dalam ASI benar-benar diciptakan dengan tepat. B. ASI juga merupakan komponen gizi yang sangat bervariasi. ASI lebih banyak mengandung protein yang mudah dicerna dibandingkan protein yang tidak mudah dicerna sedangkan pada susu sapi kebalikannya. dengan demikian tubuh bayi akan dengan mudah menerimanya. agar dapat berkembang baik dan berfungsi optimal. bayi yang tidak mendapat ASI lebih banyak menderita penyakit jantung koroner di usia muda. Protein Protein dalam ASI terdiri dari protein yang sulit dicerna dan protein yang mudah dicerna. Seperti juga protein . Walaupun demikian. protein yang terkandung di dalam ASI merupakan zat nutrisi yang dibutuhkan oleh otot dan tulang bayi manusia. sehingga sesuai dengan tingkat metabolisme yang dijalankan oleh berbagai sistem organ di tubuh bayi. ASI lebih mudah dicerna karena sudah dalam bentuk emulsi. Dibandingkan dengan beberapa jenis mamalia lainnya. Lemak adalah zat gizi yang berperan penting dalam proses metabolisme.

. DHA. lemak yang terdapat didalam ASI juga berpengaruh untuk membentuk kulit sehat. dan didalam ASI lah jumlah tertinggi diantara susu mamalia. Karbohidrat Karbohidrat utama dalam ASI adalah laktosa. Selain itu. membentuk hormon. Fungsi lainnya meningkatkan absorbs kalcium dan merangsang pertumbuhan lactobacillus bifidus. serta vitamin D. AA. Fungsinya sebagai sumber energi. Dari hasil penelitian yang dilakukan para ahli bahwa semakin pintar jenis mamalia semakin banyak ditemukan laktosa dalam air susunya. dan lain sebagainya. Jadi semakin lama menyusui semakin tinggi pula kadar DHA di dalam otak bayi. perkembangan serta mempertahankan fungsi kerja jaringan otak. Laktosa merupakan zat gizi yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan otak. E. ASI juga mengandung kolesterol yang diperlukan untuk membangun sel-sel anak. DHA merupakan zat yang penting untuk membantu pertumbuhan. ALA. Lemak ASI terdiri dari beberapa jenis antara lain. kadar lemak dalam ASI juga lebih mudah diuraikan dan diserap oleh tubuh bayi dibandingkan lemak yang terdapat didalam air susu sapi.26 dalam ASI. Laktosa Laktosa merupakan karbohidrat utama pada ASI. D.

5-1. meski secara umum kandungan ketiga zat tersebut di dalam ASI lebih sedikit namun ASI harus diberikan secara eksklusif selama 6 bulan. Namun. Namun akibat proses modifikasi maka nilai ketiga zat dalam susu botol tersebut menjadi menyusut atau berkurang. Hal ini dikarenakan zat besi pada ASI memang lebih mudah diserap.27 F. Fosfor dan Magnesium pada susu botol memang lebih tinggi dibandingkan dengan ASI. Sodium yang ada pada susu sapi lebih rendah daripada ASI setelah mendapat proses modifikasi (proses perubahan dari susu segar ke susu kaleng atau bubuk). G. Kalsium Fosfor dan Magnesium Pada dasarnya. jika bayi lebih banyak mengkonsumsi susu sapi maka ginjal bayi akan bekerja semakin keras. . H. Oleh karenanya. I. Bahkan susu sapi mengandung empat kali lebih banyak daripada ASI. Sodium Ternyata jumlah sodium pada ASI sangatlah cocok dengan kebutuhan bayi. Mineral ASI memang mengandung mineral yang lebih sedikit daripada susu sapi. Kalsium.0mg/liter). Zat besi Meskipun ASI mengandung sedikit zat besi (0. bayi yang menyusui jarang kekurangan zat besi (anemia).

Taurin Fungsi taurin adalah berperan dalam perkembangan mata bayi.C. Sedangkan kandungan lizosim dapat memecah dinding bakteri sekaligus mengurangi insidens caries dentis dan maloklusi (kebiasaan . K.28 J. Lactobacillus Lactobacillus dalam ASI berfungsi menghambat pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri E. L. terutama terkonsentrasi di epitel pigmen retina dan lapisan fotoreseptor. M.Coli yang sering menyebabkan diare pada bayi. Selain itu. Vitamin Kadar Vitamin A. Lactoferin dan Lisozim Lactoferin dapat bermanfaat bagi kebutuhan nutrisi bayi. Lactoferin berfungsi menghambat bakteri Staphylococcus dan jamur candida. taurin banyak terdapat di retina. D. Asupan taurin yang adekuat dapat menjaga penglihatan sikecil dari gangguan retina.E dalam ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadarnya dalam susu sapi. Pada mata. juga berperan dalam perkembangan otak dan sistem saraf.B. namun dalam ASI kadar vitamin K memang terdapat dalam jumlah yang sedikit.

Perlindungan terhadap alergi. Manfaat ASI bagi bayi : 1. akan membuatnya merasa aman dan . salah satu zat yang terkandung dalam ASI adalah immunoglobulin yang mampu melindungi tubuh terhadap alergi. Sedangkan immunoglobulin pada tubuh manusia baru terbentuk setelah bayi berusia beberapa minggu. 2010). juga untuk lebih bisa mengenal ibunya dan mendapatkan rasa nyaman. 2. Air Sebagian besar ASI mengandung air.29 lidah yang mendorong ke depan akibat menyusu dengan dot atau botol).1. Mempererat hubungan dengan ibu. Oleh sebab itu apabila bayi lahir langsung diberi ASI. N. ASI mengandung berbagai zat antibodi yang mampu melindungi tubuh terhadap infeksi serta zat-zat lain yang dapat menghancurkan dinding sel bakteri. 2. 3. kemungkinan terserang alergi relatif kecil.5 Manfaat ASI Manfaat ASI adalah sebagai berikut: A. ASI bagi seorang bayi selain untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Belaian ibu pada saat menyusui anak terlindung. karenanya ibu haus banyak minum air saat sedang menyusui (Kodrat. Perlindungan terhadap infeksi dan diare.

Walaupun bayi mampu memproduksi hormon tersebut namun kemampuannya terbatas. Selain hal tersebut asam lemak yang terkandung pada ASI sangat berperan dalam proses pertumbuhan dan penyempurnaan sel-sel otak. sehingga bayi cenderung cepat haus dan orang tua cenderung memberikan kembali susu botol/sapi. Bagi ibu pekerja. beda dengan susu bubuk apabila semakin sering diberikan kepada bayi semakin cepat habis (mahal) justru sebaliknya. ASI yang masih tersimpan dalam payudara ibu. 8. 6. sekembali dari bekerja. Memperbagus gigi dan bentuk rahang. jika dibandingkan dengan mineral yang terdapat pada susu sapi. pemberian ASI dapat mengurangi kerusakan pada gigi dan bentuk rahang. ibu tidak perlu membuang ASI terlebih dahulu. aman. Mengurangi kegemukan/obesitas. Perlindungan dalam penyempurnaan otak. 7. zat mineral yang terdapat dalam ASI hanya sedikit. Semakin sering menyusukan semakin banyak produksi ASI. semakin sering .30 4. selalu bersih. Dengan ASI bayi selalu mendapat susu yang segar. segar. dan tidak pernah basi. ASI mampu memproduksi hormon tixoid yang dapat melindungi otak bayi. ASI dapat diberikan langsung kepada bayi. Akibatnya bayi akan kelebihan kalori sehingga bayi tersebut menjadi gemuk (obesitas). 5.

Manfaat ASI bagi ibu 1. apabila ibu-ibu menyusui bayinya dengan baik dan teratur maka tubuh yang bertambah besar selama kehamilan akan kembali seperti semula dengan cepat. menyiapkan air hangat dan sebagainya. Disamping itu tidak perlu mengeluarkan biaya yang cukup mahal untuk membeli susu kaleng. Memberi kepuasan batin. ibu-ibu yang berhasil menyusui anaknya akan merasa senang dan puas karena dapat memenuhi kebutuhan bayi dan melaksanakan tugas mulianya sebagai seorang ibu. Kontraksi tersebut akan mempercepat pengembalian bentuk rahim dan mengeluarkan darah serta jaringan yang tidak diperlukan dalam rahim. Menunda masa subur (efek KB). pemberian ASI dapat membantu menjarangkan kelahiran dengan cara menunda terjadinya evolusi dan haid.31 dihisap semakin banyak ASI diproduksi. B. Mengembalikan bentuk tubuh. . 3. namun itu tidak berarti bahwa dengan menyusui tidak akan terjadi kehamilan. Lebih praktis dan ekonomis. khususnya pada tahun pertama menyusui. yakni ibu tidak perlu mensterilkan botol. 4. karena tidak merepotkan. 2. pemberian ASI lebih praktis dan murah. Hari-hari pertama saat menyusui maka rahim akan berkontraksi saat bayi menghisap puting susu. bila tanda-tanda haid muncul ibu tetap dianjurkan menggunakan alat kontrasepsi.

32

5. Mencegah pembengkakan, pemberian ASI secara terus-menerus akan membantu mencegah payudara membengkak dan sakit. Untuk ibu yang sibuk selama bekerja, ASI dapat dipompa dan disimpan ditempat yang aman (pada gelas dan disimpan dilemari es atau termos), dan segera diberikan kepada bayi dengan sendok setelah ibu tiba di rumah (UNICEF, 1994).

C.

Manfaat ASI Bagi Negara 1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak Adapun faktor protektif dan nutrien yag sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta kesakitan dan kematian anak menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, misalnya diare, otitis media dan infeksi saluran pernapasan akut bagian bawah.

Kejadian diare paling tinggi terdapat pada anak dibawah 2 tahun, dengan penyebab rotavirus. Anak yang tetap diberikan ASI, mempunyai volume tinja lebih sedikit, frekuensi diare lebih sedikit, serta lebih cepat sembuh dibanding anak yang tidak mendapat ASI. Manfaat ASI, seperti asam amino, dipeptid, heksose menyebabkan penyerapan natrium dan air lebih banyak, sehingga mengurangi frekuensi diare dan volume tinja. Bayi yang diberi asi ternyata juga terlindungi dari diare karena Shigela, karena kontaminasi makanan

33

yang tercemar bakteri lebih kecil, mendapatkan antibodi terhadap Shigela dan imunisasi seluler dari ASI, memacu pertumbuhan flora usus yang berkompetisi terhadap bakteri. Adanya antibodi terhadap Helicobacter jejuni dalam ASI melindungi bayi dari diare oleh mikroorganisme tersebut. Anak yang tidak mendapat ASI mempunyai resiko 2-3 kali lebih besar menderita diare karena Helicobacter jejuni dibanding anak yang mendapat ASI.

2. Mengurangi subsidi untuk rumah sakit Subsidi untuk rumah sakit berkurang, karena rawat gaung akan memperpendek lama rawat ibu dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya yang diperlukan untuk perawatan anak sakit. Anak yang mendapat ASI lebih jarang dirawat di rumah sakit dibandingkan anak yang mendapat susu formula. 3. Mengurangi devisa untuk membeli susu formula ASI dapat dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan dapat menghemat devisa sebesar Rp.8,6 milyar yang seharusnya dipakai untuk membeli susu formula. 4. Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa Anak yang mendapat ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus bangsa akan terjamin (Sidi,dkk 2003).

34

Tabel 2.2 Ringkasan Perbedaan ASI, Susu Sapi dan Susu Formula

Dikutip dari : Kodrat, Laksono, 2010. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Yogyakarta: Media Baca.

B. ASI . dan sel darah putih. Makanan tambahan mungkin mengandung zat tambahan yang berbahaya bagi bayi. zat kekebalan. hormone. karena selain mengandung zat gizi yang sesuai. lemak. Makanan tambahan termasuk susu sapi biasanya mengandung banyak mineral yang dapat memberatkan fungsi ginjal bayi yang belum sempurna. ASI juga disertai oleh zat. Cairan hidup yang mempunyai keseimbangan biokimia yang sangat tepat.6 Alasan pemberian ASI eksklusif A. C.35 2. Makanan tambahan bagi bayi yang belum berumur 6 bulan mungkin menimbulkan alergi. ASI mengandung beberapa enzim yang memudahkan pemecahan makanan selanjutnya. faktor pertumbuhan.1. Komposisi ASI sesuai secara alamiah dengan kebutuhan untuk tumbuh kembang secara khusus bagi bayi .zat yang mengandung enzim-enzim yang berfungsi untuk mencernakan zat-zat gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. ASI sudah didisain sedemikian rupa oleh Tuhan sehingga mudah dicerna. Semua zat ini terdapat secara proposional dan seimbang satu dengan yang lainnya. misalnya zat warna dan zat pengawet. antara lain zat putih telur. Bayi dibawah usia 6 bulan belum mempunyai enzim pencernaan yang sempurna belum mampu mencerna makanan dengan baik. D. E. F. ASI mengandung lebih dari 200 unsur-unsur pokok. yang tidak mungkin ditiru oleh buatan manusia. Ginjal bayi masih muda belum mampu bekerja dengan baik. mineral. enzime. vitamin. karbohidrat.

atau kelompok ibu pendukung ASI. Sebenarnya kepekaan tersebut sangat membantu dalam proses pembentukan ikatan batin antara ibu dan anak. juga tenaga kesehatan (dokter. Suami. yang sebenarnya hanya karena tidak tahu teknik menyusui. keluarga. ASI memiliki perbandingan antara whei dan kasein yang sesuai untuk bayi.36 mengandung zat-zat gizi berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan bayi. kerabat.7 Teknik Menyusui Seorang ibu dengan bayi pertamanya mungkin akan mengalami masalah ketika menyusui.1. Cara menyusui yang tergolong biasa dilakukan adalah dengan duduk. A. berdiri atau berbaring. Ada . Selain itu mungkin masih ada masalah lain. Disisi lain ibu baru menjalani proses pemulihan dan mungkin menjadikannya mudah tersinggung. Bayi. 2. yang dapat membimbing untuk merawat bayi. termasuk menyusui. secara emosional lebih peka/ sensitif. kasih sayangnya kepada anak. Dalam hal ini ibu memerlukan pendamping. bidan dan lain-lain). Cara meletakan bayi pada payudara ketika menyusui berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui. Selain mengandung protein yang tinggi. Ibu menunjukan cintanya. walaupun sudah dapat menghisap tetapi dapat mengakibatkan puting terasa nyeri. Posisi & Pelekatan Menyusui Ada berbagai macam posisi menyusui. terutama pada minggu pertama setelah persalinan.

37 posisi khusus yang berkaitan dengan situasi tertentu seperti pasca oprasi sesar.7 Posisi menyusui . bayi ditengkurapkan diatas dada ibu. Pada ASI yang memancar (penuh). Gambar 2. dipayudara kanan dan kiri. kedua bayi disusui bersamaan. bayi diletakan disamping kepala ibu dengan kaki diatas. Menyusui bayi kembar dilakukan seperti memegang bola. tangan ibu sedikit menahan kepala bayi. dengan posisi ini maka bayi tidak akan tersedak.

38

Gambar 2.8 Posisi pelekatan menyusui

B.

Langkah - langkah Menyusui 1. Sebelum menyusui, ASI dikeluarkan sedikit kemudian dioleskan pada puting susu dan areola sekitarnya. Cara ini mempunyai manfaat sebagai desinfektan dan menjaga kelembaban puting susu. 2. Bayi diletakan menghadap perut ibu/ payudara. 3. Payudara dipegang dengan ibu jari diatas dan jari yang lain menopang di bawah. Jangan menekan puting susu atau areolanya saja. 4. Bayi diberi rangsangan untuk membuka mulut (rooting reflex) dengan cara: - Menyentuh pipi dengan puting susu atau - Menyentuh sisi mulut bayi 5. Setelah bayi membuka mulut, dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara ibu dengan puting serta areola dimasukan ke mulut bayi.

39

Gambar 2.9 Teknik menyusui

C.

Lama dan frekuensi menyusui Sebaiknya bayi disusui nir-jadwal (on demand), karena bayi akan menentukan sendiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain (kencing,

kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payudara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya bayi awalnya bayi akan menyusu dengan jadwal yang tak teratur, dan akan mempunyai pola tertentu setelah 1-2 minggu kemudian.

40

Menyusui yang dijadwal akan berakibat kurang baik, karena isapan bayi sangat berpengaruh pada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui nir- jadwal, sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah timbulnya masalah menyusui. Ibu yang bekerja diluar rumah dianjurkan agar lebih sering menyusui pada malam hari.

Untuk menjaga keseimbangan besarnya kedua payudara maka sebaiknya setiap kali menyusui harus dengan kedua payudara dan sampai payudara terasa kosong, agar produksi ASI menjadi lebih baik. setiap kali menyusui, dimulai dengan payudara yang terakhir disusukan.

D.

Pola Menyusui Bayi Menurut WHO tahun 1991, pola menyusui bayi terdiri dari: 1. Menyusui secara eksklusif adalah memberikan hanya ASI tanpa memberikan makanan dan minuman lain kepada bayi sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, kecuali obat, vitamin dan mineral.

2. Menyusui secara predominan adalah menyusui ASI tapi pernah diberi cairan/ makanan lain seperti air putih, teh, air manis, sari buah, tetesan atau sirup, sebelum ASI keluar. 3. Menyusui secara parsial adalah menyusui ASI pada bayi tetapi diberikan makanan buatan (susu formula, biskuit, bubur susu/

Memberi ASI perah kepada bayi dengan berat lahir rendah yang tidak dapat menyusu. baik diberikan secara kontinyu maupun diberikan sebagai makanan prelaktal. . Tujuan memerah . .Meninggalkan ASI untuk bayi ketika ibu bekerja. . . .41 makanan lain) sebelum bayi berumur 6 bulan. Gambar 2.Mengurangi bengkak atau sumbatan pada payudara. Pengeluaran ASI/ ASI Perah 1.Memberi ASI perah kepada bayi yang menolak menyusu.10 Definisi menyusui E.Memberi ASI sementara bagi bayi yang belajar menyusu dari puting terbenam.

Mempertahankan pasokan ASI ketika ibu atau bayinya sakit. . Persiapan Dasar Sebelum memerah ASI Sebelum memerah ASI. . jus. . . teh atau sup.42 . 2. minumlah segelas air atau cairan lainnya. misal susu. tempat yang tidak bising. Jika menggunakan breast pump (pompa payudara) sebaiknya segera dibersihkan segera setelah digunakan agar sisa susu tidak mengering sehingga sulit dibersihkan. sedangkan payudara dibersihkan dengan air. seperti: .Sebelum memulai.Pilih waktu yang tepat. .Cuci tangan dengan sabun.Pilih tempat yang tenang dan nyaman pada saat memerah susu. .Semua peralatan yang akan digunakan telah dibersihkan terlebih dahulu.Kompres payudara kira-kira 5-10 menit atau mandi air hangat sambil memijat payudara sehingga membantu air susu keluar dengan lancar. .Mencegah ASI menetes ketika ibu jauh dari bayinya. jika bisa dengan kaki diangkat . Disaran kan munuman hangat agar membantu payudara mengeluarkan ASI. ada beberapa tahap dasar yang perlu dipersiapkan. yaitu saat payudara dalam keadaan yang paling penuh terisi.Usahakan untuk santai. padaumumnya terjadi di pagi hari.

Memerah dengan tangan Cara paling praktis dalam memerah ASI adalah dengan tangan dan tidak menggunakan peralatan. tekan sampai teraba pada tempat untuk menampung ASI dibawah areola. Proses Memerah ASI a. sehingga ibu dapat melakukannya kapan dan dimana saja. sedangkan satu tangan lain digunakan untuk menampung air susu yang ibu peras (ASI). Apabila pada mulanya ASI tidak keluar. ibu dapat menekan disitu. tetapi jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu. Kalau terasa sakit. Bila ibu merasakannya. yang bentuknya seperti polong-polong atau kacang tanah. 4) Tekan ibu jari dan jari telunjuk sedikit ke arah dada. berarti tekniknya salah. kemudian.43 3. 2) Condongkan badan ke depan dan letakan ibu jari disekitar areola diatas puting dan jari telunjuk pada areola bawah puting 3) Lakukan pijatan halus dengan ibu jari dan telunjuk ke dalam menuju dinding dada. . 5) Lakukan prosedur tekan dan lepas. Berikut adalah teknik memerah ASI dengan tangan: 1) Letakan cangkir di meja atau dipegang.

7) Sebaiknya. jangan memencet puting ataupun menggerakan jari sepanjang puting payudara. (a) . dan usahakan jangan terlalu cepat dari waktu tersebut. Memerah ASI perlu waktu sekitar 20-30 menit. Lakukan proses ini beberapa kali sehingga ASI akan keluar. 8) Perahlah ASI 3-5 menit sampai ASI berkurang pada satu payudara. ASI yang diperah harus dikeluarkan sebanyak mungkin. 6) Tekan dengan cara yang sama disisi sampingnya untuk memastikan memeras ASI di semua bagian payudara.44 maka jangan berhenti. demikian seterusnya secara bergantian. lalu pindah ke payudara satu lagi. Hal ini karena menekan atau menarik puting payudara tidak dapat memeras ASI. Hal ini sama dengan yang terjadi bila bayi menghisap dari puting payudara saja.

Kekuatan sedotan biasanya bisa diatur. . Beberapa pompa lebih mudah dilepaskan dibandingkan yang lain.45 (b) Gambar 2. baik secara manual ataupun dengan tenaga listrik. Pemerahan menggunakan pompa biasanya lebih cepat dibandingkan menggunakan tangan.11 Teknik memijat payudara (a) dan memerah ASI (b) b. Perisai ini lentur dan membungkus payudara dan ketika pompa bekerja. bagian-bagian dari pompa kontak langsung dengan ASI harus dapat disterilkan. Yang harus diperhatikan. yang ditempatkan di area puting ibu. Oleh karenanya. Sedotan ini dibuat. Memerah dengan pompa payudara Pompa payudara bekerja dengan cara menyedot dan menarik keluar air susu. perangsangan peyudara dan air susu yang dikeluarkan akan lebih baik. Beberapa pompa biasanya dilengkapi dengan perisai plastik lunak yang disebut flexishield yang dipasang ke dalam selang plastik yang kaku. gerakannya meniru penghisapan bayi.

mudah dibawa dan tidak mengeluarkan suara sehingga cocok untuk memerah susu di tempat kerja. .Pompa tangan pada umumnya berukuran kecil. beberapa bagian plastik dari pompa tangan cepat rusak jika sering digunakan.46 1) Jenis-jenis pompa a) Pompa tangan . b) Pompa elektrik . kadang-kadang disambung dengan botol susu karena pompa ini tidak bisa di sterilkan secara menyeluruh. .Namun. . Beberapa wanuta dapat menyusui beyi disatu sisi dan memompa disisi yang lainnnya. .Mudah disterilkan. .Pompa elektrik digerakan oleh beterai atau listrik atau keduanya.Kebanyakan difungsikan dengan tuas tekan atau dengan menarik tabung keluar masuk. .Hindari penggunaan pompa tangan yang terdiri dari bola karet yang direkatkan pada tabung plastik yang dipasang pada payudara.Pompa yang bertuas tekan dirancang untuk penggunaan satu tangan.

. baterai akan cepat habis.5 kg (unportable). . .Pada penggunaan yang teratur. (a) (b) .Pompa elektrik yang besar biasanya bisa disewa dari rumah sakit atau lembaga menyusui setempat. Sebaiknya membeli baterai yang bisa diisi ulang beserta alat pengisinya (charger). portable (mudah dipindahkan) sampai model elektrik yang lebih besar berat sekitar 2.Jenis pompa ini bersuara (berisik). .Pompa listrik yang besar memiliki sambungan untuk memompa dua payudara sekaligus (pemompaan ganda) yang akan lebih cepat dan biasanya menambah jumlah susu yang dihasilkan. bertenaga baterai.Pompa ini bervariasi dari yang kecil.47 . ringan .

ASI bisa tahan selama 3-4 bulan. Jika ASper sudah terlanjur dihangatkan. ASper yang sudah diminum oleh bayi dari botol yang sama. Dengan syarat AC-nya stabil. sebaiknya dihabiskan sebelum 1 jam.48 Gambar 2. atau deep freezer (biasanya memiliki suhu lebih rendah dari freezer biasa -200o C). bisa disimpan dalam lemari es atau kulkas sampai dengan 24 jam. Bila disimpan dalam freezer yang terpisah dari lemari es. jangan dibagian pintu. d. b. Jika ragu maka tempatkan ASI perah (ASper) didalam termos kecil yang diisi es batu. Simpan di bagian paling belakang lemari es atau kulkas. ASI perah sebaiknya disimpan kurang dari 4 jam sebelum digunakan. tapi belum dihangatkan. sebaiknya diminum sebelum 4 jam setelah dicairkan.12 Pompa tangan (a) dan pompa elektrik (b) 4. sisanya tidak boleh diminum kembali. Jika memiliki freezer yang terpisah. ASI perah bisa disimpan selama 6-8 jam. Penyimpanan ASI perah a. ASI dalam freezer lemari es 1 pintu tahan 2 minggu. ASI dapat disimpan dalam lemari es selama 2x24 jam. . e. Namun jika di dalam suhu ruangan. ASper dapat disimpan 6-12 bulan. ASper beku yang sudah dicairkan. f. c. Jika ruangan ber AC. Jika ruangan tidak ber AC.

Dapat juga menggunakan plastik khusus ASI yang biasanya dijual di toko kesehatan. jangan ditutup dengan dot karena masih ada peluang untuk terinfeksi dengan udara. 2) Hindari pemakaian botol susu bergambar atau berwarna. sebaiknya botol yang tertutup rapat. dengan syarat suhu tempat botol stabil antara 0-15o C dan jangka waktu tidak lebih dari 24 jam. Botol yang paling baik yang terbuat dari gelas atau kaca yang bertutup cukup kedap. 4) ASper dibekukan dalam jumlah sekali minum dalam satu tempat penyimpanan sehingga tidak ada ASper yang terbuang. 5) Jangan lupa bubuhkan label yang mencantumkan tanggal dan jam ASI diperah pada setiap botol.49 Cara menyimpan ASI Perah: 1) Simpan ASI di dalam wadah yang telah disterilkan terlebih dahulu. Jika menggunakan botol plastik. bisa saja ASI digabungkan dalam botol yang sama. Selain itu. . 6) Jika dalam satu harimemompa atau memeras ASI beberapa kali. 3) Jangan mengisi wadah yang terlalu penuh agar ada ruang bagi ASI untuk memuai selama pembekuan. karena ada kemungkinan catnya meleleh jika terkena panas. pastikan plastiknya cukup kuat (tidak meleleh di dalam air panas).

letaknya biasanya di bagian belakang atau bawah.13 Tempat penyimpanan ASI perah . Gambar 2. dan jangan menambah lebih dari setengah ASper beku ke ASper yang belum dibekukan. Jika tidak terdapat emari pendingin simpan ASper dalam cooler box atau kantong yang diberi blue ice atau es batu.50 7) ASI segar yang baru dikeluarkan dapat ditambah kedalam ASper yang telah dikeluarkan atau dibekukan sebelumnya. tetapi dinginkan susu segar terlebih dahuli secara terpisah. 8) Simpanlah ASper di tempat yang terdingin dalam lemari es. terpisah dari bahan makanan lain.

kocoklah sampai merata. agar bayi terhindar dari ‘bingung puting’. Berikan dengan menggunakan cangkir atau sendok. Lanjutkan dengan menggunakan air hangat hingga suhunya seperti suhu tubuh. bukan ibu. c. b. d.14 Mencairkan ASI perah . Cairkan susu beku dengan cara menempatkan botol ASper di dalam wadah yang berisi air dingin. Usahakan diberikan oleh orang lain. Sebaiknya hindari penggunaan dot. atau gunakan alat penghangat botol.51 5. Selain itu. Jangan menggunakan microwave untuk mencairkan dan menghangatkan ASper karena terlalu panas atau panas tidak merata. penggunaan microwave bisa merusak beberapa gizi pada ASI. Penyajian ASI perah a. Jika selama penyimpanan. Gambar 2. lemak susu terpisah.

meniru teman. .52 6. orang lain bisa memberikan ASper pada bayi. mencegah payudara bengkak. f. e. d. tekanan batin).Faktor yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif Menurut Soetjiningsih (1997) faktor yang memghambat pemberian ASI adalah: .8 Faktor . 2.1. tetangga atau orang terkemuka yang memberi susu botol. Memudahkan bayi minum jika ASI terlalu deras. Menghilangkan bendungan ASI. c. g. . Manfaat ASI perah a.Faktor psikologis (takut kehilangan daya tarik sebagai wanita. Bayi tetap memperoleh ASI walaupun ibu terpisah dengan bayi (karena bekerja.Faktor sosial budaya (ibu bekerja. b. Ketika ibu membutuhkan istirahat. merasa ketinggalan jaman jika menyusui). Menjaga kelangsungan produksi ASI. bepergian atau sakit). Sangat bermanfaat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) atau bayi yang tidak dapat menyusu langsung pada ibunya karena berbagai masalah. Menunjukkan kasih sayang dan memelihara ikatan khusus (bonding) ibu terhadap bayi walaupun ibu tidak bersamanya.

tingkat sosial ekonomi. dana dan sumber-sumber yang ada di masyarakat misalnya ketersediaan sumber daya manusia. Menurut Laurence W. jarak ke pelayanan kesehatan. . kepercayaan. keyakinan. Green dalam Notoatmodjo (2007). kepercayaan/ tradisi/ nilai. peran petugas. sarana dan prasarana. 2. terutama mereka yang bekerja.Faktor fisik ibu (ibu yang sakit. panas dan sebagainya). yang mencakup: pengetahuan. keterjangkauan informasi kesehatan. Faktor pendukung/ pemungkin (enabling factors) yaitu faktor yang mendukung timbulnya perilaku seperti lingkungan fisik. pengalaman. Faktor predisposisi (predisposing factors) yaitu faktor yang menjadi dasar atau motivasi terjadinya perilaku. tradisi. . tingkat pendidikan.Meningkatnya iklan susu formula. perilaku dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu: 1. ketersediaan waktu menyusui (lamanya waktu bekerja) .Faktor kurangnya petugas kesehatan sehingga masyarakat kurang mendapat penerangan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI eksklusif. sikap.Perkembangan zaman yang menuntut segalanya serba praktis menjadikan susu formula banyak dipilih para ibu.53 . pengetahuan petugas. pekerjaan. . misalnya mastitis. umur.

seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari pada orang yang belum cukup kedewasaannya. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan semakin bertambahnya umur ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses interaksi dengan lingkungan. Faktor pendorong (reinforcing factors) yaitu faktor yang memperkuat atau mendorong seseorang untuk berperilaku yang berasal dari orang lain misalnya peraturan dan kebijakan pemerintah. Umur Umur adalah lama waktu hidup sejak dilahirkan (Depdikbud. dukungan keluarga. Dari segi kepercayaan masyarakat. 2001). dukungan atasan. Maka semakin tua umur ibu. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. sikap dan perilaku petugas kesehatan/tokoh masyarakat.54 3. 2008). Pengalaman ini akan memberikan pengetahuan. pandangan dan nilai yang akan menberi sikap positif terhadap pemberian ASI (Erlina. Ibu yang masih muda keadaan psikologinya belum stabil dengan sendirinya akan lebih banyak timbul benturan antara kasih sayang . A. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi (Daldjoni. 1982). dukungan suami. semakin cukup umur maka semakin dewasa dan matang dalam berfikir dan bertindak. Menurut Notoatmodjo (2003). Oleh karena itu.

1987). 2008). terutama pada usia 20-35 tahun. Kemampuan mental yang diperlukan untuk mempelajari dan menyesuaikan diri dari situasi-situasi baru seperti mengingat halhal yang dulu pernah dipelajari. Umur 31–35 tahun dianggap sudah mulai bahaya lagi sebab secara fisik sudah mulai menurun apalagi jika jumlah kelahiran sebelumnya cukup banyak atau lebih dari tiga (Depkes RI. Ibu yang umurnya lebih muda lebih banyak memproduksi ASI dibanding ibu yang sudah tua (Winarno. Hal inilah yang dapat berpengaruh terhadap motivasi untuk memberikan ASI eksklusif. kehamilan dan kelahiran. Usia reproduksi wanita terjadi pada 18-40 tahun.55 seorang ibu dengan egonya yang masih ingin bebas sebagai orang muda. Usia 16–20 tahun dianggap masih berbahaya secara fisik dan secara mental dianggap masih belum cukup matang dan dewasa untuk menghadapi kehamilan dan kelahiran. Umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. penalaran analogis dan berpikir kreatif mencapai puncaknya serta kecepatan respon maksimal dalam pelajaran dan menguasai atau menyesuaikan diri dari situasisituasi tertentu. . terjadi pada masa dewasa dini. Umur 20–30 tahun adalah kelompok umur yang paling baik untuk kehamilan sebab secara fisik sudah cukup kuat juga dari segi mental sudah cukup dewasa.

pengertian. . pendapat dan konsep-konsep. membuktikan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pola menyusui namun demikian penelitian Kristina (2003).05). mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. misalnya cara memberikan ASI eksklusif hingga bayi berumur 6 bulan. 2003). memberikan hasil sebaliknya bahwa tidak ada pengaruh antara umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif (p>0. Pendidikan membantu seseorang untuk menerima informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi. 1997). Sehingga pendidikan juga dapat diartikan sebagai suatu proses belajar yang memberikan latar belakang berupa mengajarkan kepada manusia untuk dapat berpikir secara obyektif dan dapat memberikan kemampuan untuk menilai apakah budaya masyarakat dapat diterima atau mengakibatkan seseorang merubah tingkah laku.56 Ibrahim (2000). B. Proses pencarian dan penerimaan informasi ini akan cepat jika ibu berpendidikan tinggi (Soetjiningsih. Pendidikan Ibu Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan.

minat. Secara luas. dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak . Contoh: Individu yang berpendidikan S1 perilakunya akan berbeda dengan yang berpendidikan SMP (Sunaryo.1996). yaitu dari tidak tahu menjadi tahu. 2005). baik secara formal maupun informal. dalam untuk Gerungan. Pendidikan ibu akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif. Sikap adalah kecenderungan mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. nilai dan perilaku suatu (Myers. pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu berupa interaksi individu dengan lingkungannya. Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI. dari tidak mengerti menjadi mengerti dan dari tidak dapat menjadi dapat. Kegiatan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar. 2004). dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku.57 Pendidikan adalah segala usaha untuk membina kepribadian dan mengembangkan kemampuan manusia baik jasmani maupun rohani yang berlangsung seumur hidup baik di dalam maupun di luar sekolah (Depdiknas. opini. Sikap Sikap adalah suatu bangun psikologis seperti kepercayaan. perlakuan. C. Namun bertolak belakang dengan penelitian Maisni (1992) yang membuktikan bahwa tidak ada hubungan antara pendidikan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja.

Mempunyai objek tertentu (orang.Mengandung penilaian (setuju atau tidak setuju) . konsep. Tetapi sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang (Wirawan. .Mengarahkan perilaku Wirawan (1999) mengungkapkan bahwa sikap mengandung 3 bagian yaitu kognitif (kesadaran). Sikap adalah bagian dari perilaku. situasi. affektif (perasaan) dan behavior (perilaku). prilaku. . Misalnya. namun pembentukan perilaku itu sendiri tidak terjadi hanya berdasarkan pengetahuan dan sikap. 2007) Ciri khas dari sikap adalah. sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja belum tentu dapat memperkirakan perilaku pemberian ASI eksklusif (Sarwono.58 menyenangi obyek tersebut. 1999). benda dan sebagainya). Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. (Notoatmojo. tapi masih banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya.1999) .

Lama waktu bekerja Seorang ibu terkadang tidak hanya menyusui dan mengurus suami dan anak-anaknya. dan 4 minggu harus diambil sebelum melahirkan.15 Hubungan sikap dan perilaku Penelitian Unika Atma Jaya (1995) memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui. Pekerjaan merupakan segala usaha yang dilakukan atau dikerjakan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Sekitar 70 % perempuan Indonesia adalah pekerja. juga harus bekerja diluar rumah. baik sektor formal maupun informal dan bekerja sering menjadi alasan seorang ibu untuk tidak menyusui jika ibu mempunyai motivasi yang kuat dan pengetahuan . Salah satu kendala pemberian ASI ekslusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. D.59 Gambar 2. sedangkan cuti melahirkan hanya 12 minggu.

maka pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan sambil bekerja (Ariani. lebih memungkinkan untuk pemberian ASI eksklusif dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Hal ini sejalan dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ibu yang bekerja > 6 jam/hari mempunyai kemungkinan memberikan ASI eksklusif 1. Produksi ASI juga dapat berkurang bila menyusui terlalu sebentar(Badriul. 2009). 2008). karena tidak selalu bersama bayinya sehingga kurangnya waktu untuk menyusui. 2009). Menyusui paling baik dilakukan sesuai permintaan bayi (on demand) termasuk pada malam hari. Produksi ASI sangat dipengaruhi oleh seringnya bayi menyusui.60 yang cukup. Menurut Marini (1998). minimal 8 kali sehari. ibu yang tidak bekerja selalu ada di rumah. Pada ibu bekerja. lamanya waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya (Roesli.182x lebih kecil dari ibu yang bekerja < 6 jam/ hari. Makin jarang bayi disusui biasanya produksi ASI akan berkurang. .

intensitas.61 E. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. mungkin akan gagal dalam menyusui bayinya. Pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan. Ibu yang gelisah. kurang percaya diri. dan lama bayi mengisap. Dukungan Suami Dukungan suami pada pemberian ASI eksklusif adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. Ayah dapat berperan aktif dengan jalan memberikan dukungan secara emosional dan bantuan- . rasa tertekan dan berbagai bentuk ketegangan emosional. Akibat stimulus isapan. Ejeksi susu dari alveoli dan duktus susu terjadi akibat refleks let-down. yaitu frekuensi. reflek tersebut adalah reflek prolaktin merupakan hormon laktogenik yang penting untuk memulai dan mempertahankan sekresi susu. Pada ibu ada 2 macam reflek yang menentukan keberhasilan dalam menyusui bayinya. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. Jumlah prolaktin yang di sekresi dan jumlah susu yang di produksi berkaitan dengan besarnya stimulus isapan. hipotalamus melepaskan oksitosin dari hipofisis posterior. Let-down reflex mudah sekali terganggu.   Karena itu peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi.

Hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 Undang-Undang ketenagakerjaan. Namun penelitian Afriana . Dukungan Atasan Dukungan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam perilaku atasan terhadap pemberian ASI eksklusif. atau memijat bayi. Ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. menggendong bayi. 2001). dengan memberikan nafkah yang cukup untuk memenuhi gizi ibu dalam menyusui juga merupakan bentuk dukungan dalam pemberian ASI eksklusif (Roesli.62 bantuan praktis lainnya. maka dengan dukungan suami yang tinggi akan meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif seperti yang dikatakan Hartatik (2010) bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. Hak ini termasuk waktu ekstra menyusui diluar jam istirahat dan fasilitas atau ruang laktasi di kantor (pasal 105).2009). kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui (Ariani. seperti mengganti popok atau menyendawakan bayi. Membesarkan dan memberi makan anak adalah tugas bersama antara ayah dan ibu. F.

63 (2004) menyatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. bila mengizinkan disediakan tempat penitipan anak. pemerintah. Penelitian Raharjo dan Purnamasari (2005). Sarana menyusui di tempat kerja Masyarakat umumnya merasa tidak nyaman untuk menyusui di depan umum dan juga agar bayi tidak terganggu saat menyusu maka perlu disediakan suatu tempat atau fasilitas menyusui di tempat umum misalnya kantor. Salah satu kendala mensukseskan program ASi eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. mengatakan ada hubungan yang signifikan antara dukungan atasan dan praktek pemberian ASI eksklusif. mall. stasiun. bandara dan sebagainya. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja . sehingga perlu disiapkan hal seperti menjadikan tempat bekerja menjadi “mother-friendly working place” dimana terdapat fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI. H. pihak keluarga. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI.

puting ibu luka. abnormalitas bayi. 6. mastitis dan abses. Selain faktor-faktor yang memengaruhi pemberian ASI eksklusif tersebut. payudara bengkak. Dan penggunaan susu formula yang makin marak disebabkan beberapa faktor seperti: 1. 8. Bayi terlanjur mendapatkan prelakteal feeding (pemberian air gula/ dekstrosa. Produksi ASI kurang. 3. 4. 2. yaitu: 1. Adanya perubahan struktur masyarakat dan keluarga . Ibu ingin menyusui kembali setelah bayi diberi formula (relaktasi). 5. Kelainan ibu: puting ibu lecet. Kelainan bayi: bayi sakit. engorgement. Ibu hamil lagi padahal masih menyusui. Ibu bekerja. menurut IDAI (2010) ada beberapa kendala yang menghambat pemberian ASI eksklusif. Penelitian afriana mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI secara eksklusif.64 dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif. susu formula pada hari-hari pertama kelahiran). Ibu kurang memahami tata laksana laktasi yang benar. 7.

pada umumnya. Salah satu tradisi yang mulai memudar adalah ibu mulai meninggalkan ASI dan lebih memilih susu formula. Kemudahan-kemudahan yang didapat sebagai hasil kemajuan teknologi Berbagai merk dagang susu formula sebagai kemajuan teknologi yang dianggap setara dengan ASI dan mudah didapatkan oleh ibu membuatnya beranggapan bahwa pemberian ASI dan susu formula untuk bayi adalah sama saja. kakek. Disamping itu pembuatan dan pemberian susu formula untuk bayi yang dapat dilakukan orang lain juga membuat ibu beralih ke susu formula. Meningkatnya promosi susu formula sebagai pengganti ASI . mertua. sehingga pengaruh orang tua (seperti nenek. 2. dan orang terpandang dilingkungan keluarga) secara berangsur berkurang. Sebab. mereka tetap tinggal didesa sehingga pengalaman mereka dalam merawat bayi tidak dapat diwariskan. 3.65 Hubungan kerabat yang luas di daerah pedesaan menjadi renggang setelah keluarga pindah ke kota. bahkan terdapat pandangan bagi kalangan tertentu bahwa susu formula sangat cocok untuk bayi dan merupakan nutrisi yang terbaik untuknya. tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol Persepsi masyarakat mengenai gaya hidup mewah membawa dampak menurunnya kesediaan ibu meyusui. Hal ini dipengaruhi oleh gaya hidup yang selalu mau meniru orang lain atau hanya untuk prestise (gengsi). Meniru teman. 4.

. kecuali atas indikasi medis. radio. iklan dan promosi susu formula berlangsung terus tidak hanya di tv. Hak tersebut mencakup: 1. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin. kesehatan terbaik serta kasih sayang untuk kebutuhan tumbuh kembang optimal. dilindungi dan dipenuhi oleh orang tua. 36 Tahun 2009: A. 3. Para ahli gizi mengatakan ASI adalah makanan terbaik bagi bayi dan bermanfaat dari berbagai aspek. melainkan juga sudah dipromosikan di tempattempat praktik swasta dan klinik-klinik kesehatan masyarakat. Nondiskriminasi. 2. 4. Pasal 128 (1) Setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6(enam) bulan. Berbagai pasal dalam Undang-Undang Kesehatan No. masyarakat dan negara. sehingga mendapatkan ASI merupakan salah satu hak azasi bayi yang harus dipenuhi.66 Distribusi. (untuk bayi dan ibu). Perkembangan dan penghargaan terhadap pendapat anak (Bab I pasal I no.9 Undang-Undang yang Melindungi Pemberian ASI Setiap bayi mempunyai hak dasar atas makanan. 23 tentang Perlindungan Anak tahun 2003).1. Kepentingan terbaik bagi anak. Hak kelangsungan hidup.12 dan Bab II pasal 2 Undang-Undang RI no. surat kabat. keluarga. 2.

pasal 192. 100. B. pasal 198. pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda dengan . pasal 197.000 (seratus juta rupiah). C. pasal 191. pasal 199 dan pasal 200 dilakukan korporasi. Pasal 200 Setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian air susu ibu eksklusif sebagaimana dimaksud dalam pasal 128 ayat (2) dipidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Pasal 129 (1) Pemerintah bertanggung jawab menetapkan kebijakan dalam rangka menjamin hak bayi untuk mendapatkan air susu ibu secara eksklusif. D. selain dapat dijatuhkan pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya. (3) Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. Pasal 201 (1) Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). pemerintah.000. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pihak keluarga.67 (2) Selama pemberian air susu ibu. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. pasal 196.

pasal 191. (2) Selain pidana denda sebagaimana pada ayat (1). ASI adalah hak setiap bayi yang dilindungi undang-undang dan harus didukung semua pihak. dan/ atau b.1997). pasal 192. Berkaitan dengan hal tersebut.68 pemberatan 3(tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam pasal 190 ayat (1). Pencabutan status badan hukum Menurut undang-undang tersebut. pasal 198. pasal 197. berikut kiranya hal yang perlu diperhaikan bahwa ibu bekerja perlu upah selama cuti agar dapat menyusui secara eksklusif (ILO. mempromosikan dan mendukung pemberian ASI. WHO dan UNICEF (2001) menganjurkan proses menyusui eksklusif selama 6 bulan sehingga wajar negara Eropa misalnya Prancis. pasal 196. Dengan ini. diharapkan setiap ibu di seluruh dunia dapat melaksanakan pemberian ASI dan setiap bayi di seluruh dunia memperoleh haknya mendapat ASI. korporasi dapat dijatuhi pidana tambahan berupa: a. . ibu diizinkan untuk cuti menyusui selama 6 bulan. pasal 199 dan pasal 200. Untuk mendukung hal tersebut. Pencabutan izin usaha. telah dikeluarkan berbagai konvensi atau kesepakatan yang bersifat regional maupun global yang bertujuan melindungi.

Pembentukan perilaku dapat dipengaruhi beberapa faktor. Hak itu termasuk waktu ekstra menyusui atau memerah diluar jam istirahat dan mendapat fasilitas atau ruang menyusui di kantor (Ariani.69 Selanjutnya setelah kembali bekerja. tingkat pendidikan. serta tanpa tambahan makanan padat. 2. berdasarkan teoriteori tentang perilaku salah satunya teori Green (2000) yang menyatakan bahwa perilaku manusia. kepercayaan. reaksi atau tanggapan dan terwujud dalam bentuk sikap. air teh. seperti susu formula. sikap. dan nasi tim. bubur susu. kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan.2010). hak menyusui dijamin dalam pasal 99 dan 101 UndangUndang Ketenagakerjaan. madu. tingkat sosial ekonomi. sistem nilai. tradisi. jeruk. pekerjaan. biskuit. bubur nasi. Faktor . ibu mendapat kesempatan menyusui dengan fasilitas menyusui atau memerah ASI di tempat kerjanya. dipengaruhi oleh faktor predisposisi (Predisposing) yang terdiri dari pengetahuan.2 Kerangka Berfikir Perilaku diartikan sebagai suatu tindakan nyata manusia yang terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan rangsangan. Perilaku ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya adalah tindakan seorang ibu melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan berupa tindakan memberi bayinya hanya ASI tanpa tambahan cairan lain. seperti pisang. dan air putih. Ternyata.

. oleh karena itu penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan kebenaran mengenai hubungan dari variabel-variabel tersebut. akan tetapi hal ini masih dibutuhkan pembuktian-pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan. jarak ke pelayanan kesehatan.70 pemungkin (enabling) yang terdiri dari ketersediaan sumber daya. pengetahuan petugas. dukungan suami. dukungan keluarga. keterjangkauan informasi kesehatan dan faktor penguat (reinforcing) yang terdiri dari. sarana dan prasarana. peran petugas. peraturan. sikap dan perilaku petugas/ pemerintah/ tokoh masyarakat. undang-undang. Dengan demikian faktor-faktor tersebut berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada bayi.

terdiri dari umur ibu. dukungan atasan. Faktor pemungkin (enabling) yang diteliti adalah lama waktu bekerja.3 Kerangka Konsep Pada penelitian ini faktor predisposisi (predisposing) yang diteliti. sarana menyusui ditempat kerja dan faktor penguat (reinforcing) yang akan diteliti adalah dukungan suami. sikap.71 2. tingkat pendidikan ibu. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pemberian ASI eksklusif. Gambaran konsep penelitian ini adalah sebagai berikut : .

5. 4. 2. 7. 3. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.72 2. Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. 6. Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: 1. Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.4 Hipotesis Berdasarkan teori-teori yang telah diuraikan diatas. Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

3. yaitu penelitian yang menggambarkan suatu keadaan dalam waktu yang bersamaan.September 2011 3.1 Jenis dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan studi deskriptif kuantitatif yaitu data yang dikumpulkan dideskripsikan secara sistematis. dianalisa untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menggunakan pendekatan observasional yaitu cross sectional.2.2.2 Jenis Data Data yang dikumpulkan adalah data primer yang diperoleh langsung dari subjek penelitian menggunakan alat ukur yaitu kuesioner yang telah disediakan pada responden. artinya hasil pengamatan dan pengukuran dalam penelitian dilakukan pada waktu yang bersamaan. .1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini akan dilakukan di Rumah Sakit Medistra Jakarta Selatan pada bulan Agustus .73 BAB III METODE PENELITIAN 3.2 Metode Penelitian 3.

3. dukungan atasan.2 Sampel Sampel diambil secara sampling jenuh (sensus) yaitu semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai). jelas dan lengkap yang akan diteliti (bahan penelitian).4 Instrumen Penelitian Penelitian ini meliputi variabel-variabel independen: umur. pendidikan. mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) sebanyak 70 orang. dukungan suami. lama waktu bekerja. 3. Populasi dalam penelitian ini adalah para perawat wanita yang bekerja di RS Medistra.3 Teknik Pengambilan Sampel 3. sikap.3. sarana menyusui ditempat kerja dan pemberian ASI eksklusif sebagai variabel dependen.1 Populasi Populasi adalah totalitas dari semua objek atau individu yang memiliki karakteristik tertentu. .74 3. 3.

dan air putih. dan air putih. serta tanpa tambahan makanan padat. jeruk. Definisi operasional Pemberian ASI eksklusif diperoleh dari jawaban yang dibuat khusus untuk mengukur pemberian ASI eksklusif atau tidak. Tidak memberi ASI eksklusif bila responden memberi tambahan cairan/ makanan lain selain ASI. seperti pisang. B. madu. dan nasi tim. seperti susu formula. air teh. Memberi ASI eksklusif bila responden hanya memberi ASI saja tanpa tambahan cairan/ makanan lain kecuali vitamin dan mineral dan obat sampai bayi berumur 6 bulan. Definisi konseptual Pemberian ASI eksklusif adalah tindakan ibu yang memberikan ASI selama 6 bulan tanpa tambahan cairan lain. madu. . dan nasi tim atau sama sekali tidak memberikan ASI pada bayi dibawah umur 6 bulan. bubur nasi. kecuali vitamin dan mineral dan obat. 2. diukur dengan skala ordinal yang dikelompokan menjadi 2 kategori yaitu: 1. kalsium dan mineral seperti susu formula. bubur susu. jeruk. vitamin. biskuit.1 Variabel Dependen A. bubur nasi. air teh. serta tanpa tambahan makanan padat. biskuit. seperti pisang. bubur susu.75 3.4.

. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner. dibersihkan dalam proses cleaning ini.Data Cleaning Setelah data masuk ke komputer. . . jika terdapat data yang salah. Alat Ukur Untuk mengukur pemberian ASI eksklusif. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan langkah-langkah sebagai berikut: . dalam proses ini data akan diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak.Data Editing Setiap lembar kuesioner diperiksa untuk memastikan bahwa setiap pertanyaan dan pernyataan yang terdapat dalam kuesioner telah terisi semua.Data Coding Pemberian kode pada setiap jawaban yang terkumpul dalam kuesioner untuk memudahkan proses pengolahan data. responden menjawab sesuai dengan keadaan.Data Processing Pemindahan atau pemasukan (entry data) dari kuesioner ke dalam komputer untuk diproses. . Entry data ke dalam komputer dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.76 C.

1 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Dependen Variabel Dimensi Pemberian Tindakan ibu yang hanya ASI eksklusif memberikan ASI sampai usia bayi 6 bulan Skala Ukur Variabel .Memberikan ASI saja pada Ordinal bayi dibawah umur 6 bulan Indikator .jika kolom II terisi ≥ 1 kolom 3.4. .2 Variabel Independen A.77 Tabel 3. Umur adalah lama hidup sejak dilahirkan.jika kolom I terisi sebagian/ tidak semua terisi/ tidak terisi sama sekali .Tanpa tambahan makanan dan minuman lain kecuali obat.2 Skoring Untuk Variabel Dependen Umur bayi / makanan bayi Bln ke-1 (0-1) Bln ke-2 (1-2) Bln ke-3 (2-3) Bln ke-4 (3-4) Bln ke-5 (4-5) Bln ke-6 (56) Hasil ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain Kolom I Kolom II HASIL ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif : Jika semua kolom I terisi tanpa ada kolom II yang terisi : . Definisi konseptual dari variabel independen adalah sebagai berikut: 1. vitamin dan mineral Tabel 3.

3. 2. 5. Sarana menyusui di tempat kerja adalah suatu wahana yang memungkinkan ibu dapat memberikan ASI kepada bayinya atau memerah ASI. 6. Umur adalah lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara. Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari. Dukungan atasan adalah dukungan sosial atasan yang terwujud dalam sikap dan perilaku atasan. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek dengan suatu cara yang menyatakan adanya tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. Pendidikan adalah suatu proses belajar yang memberikan latar belakang untuk dapat berfikir objektif. Dukungan suami adalah peran suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif.78 2. Definisi operasional variabel independen adalah sebagai berikut: 1. B. 7. 3. Pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. 4. . Lama waktu bekerja adalah lama waktu ibu bekerja di luar rumah dalam 1 hari.

. Sikap adalah skor akhir yang diperoleh dari hasil penjumlahan dari tangapan setuju atau tidak terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu yang bekerja. C. Dukungan suami adalah pernyataan responden tentang suami yang mendukung pemberian ASI eksklusif. peneliti menggunakan alat ukur kuesioner kepada responden.79 4. Sarana menyusui ditempat kerja adalah pernyataan responden mengenai tersedia atau tidaknya suatu wahana di unit kerja yang memungkinkan ibu untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI). Alat Ukur Untuk mengukur variabel-variabel independen. 6. 7. Kuesioner terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang disertai dengan pilihan jawaban. nilai skor kemudian dijumlahkan dan dicatat pada setiap responden. 5. Dukungan Atasan adalah pernyataan responden tentang pandangan / dorongan atasan terhadap pemberian ASI eksklusif dan kesempatan yang diberikan untuk menyusui/ memerah susu pada jam kerja. Responden memilih jawaban yang paling sesuai dengan keadaan. Peneliti telah menentukan skor untuk setiap jawaban.

Pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Mendukung Dukungan sosial atasan yang Mendukung terwujud dalam sikap dan prilaku atasan thd pemberian Tidak ASI eksklusif Mendukung Tersedia Tidak tersedia 5 Dukungan suami - - Ordinal 7 Dukungan Atasan - - Ordinal 8 Sarana Tersedianya suatu wahana menyusui di yang memungkinkan ibu tempat kerja untuk menyusui diwaktu kerja (memerah atau menyimpan ASI) - - Ordinal Tabel 3.4 Skoring Untuk Variabel Sikap Indikator Positif Sangat Setuju Setuju 5 4 Butiran Negatif 1 2 . < 8 jam ≥ 8 jam 1.2 5.3 Instrumen Penelitian Untuk Variabel Independen Butiran NO Variabel Definisi Operasional Lama hidup ibu sejak lahir sampai saat dilakukan wawancara.80 Tabel 3. Hasil Ukur + 1 Umur < 30 tahun > 30 tahun SPK D III Strata I 3 Lama waktu Lama waktu ibu bekerja di bekerja luar rumah dalam 1 hari.6 9 10 3 4 7 8 Ordinal Ordinal Ordinal Skala ukur Ordinal 2 Pendidikan 4 Sikap Tanggapan ibu dalam bentuk Negatif : bila pernyataan setuju/ tidak thd skor < 30 pemberian asi eksklusif oleh Positif : bila ibu bekerja skor > 30 Pernyataan responden Mendukung tentang suami yang mendukung pemberian ASI Tidak eksklusif.

sarana menyusui di tempat kerja). A. Yang . 3. pendidikan.5. dukungan atasan.1 Teknik Analisa Data Teknik analisa data pada penelitian ini menggunakan perangkat lunak statistik dengan komputer. Teknik analisa data bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel yaitu variabel dependen (pemberian ASI eksklusif) dan variabel independen (umur. Coding. yaitu memberikan kode numerik atau angka kepada masing-masing kategori.81 Tidak Tahu Tidak Setuju Sangat Tidak Setuju 3 2 1 3 4 5 3. yaitu memeriksa kebenaran data yang diperlukan.5 Pengujian Hipotesis Data yang sudah terkumpul diolah secara manual dan komputerisasi untuk mengubah data menjadi informasi. Adapun langkah-langkah dalam pengolahan data dimulai dari editing. Analisa Univariat Uji statistik univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel baik dependen maupun independen dengan tujuan untuk mempermudah dalam pengelompokan data penelitian dengan menggunakan uji statistik deskriptif analitik. dukungan suami. sikap. lama waktu bekerja. Entry data yaitu memasukkan data yang telah dikumpulkan kedalam master tabel atau data base komputer.

5.Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .82 disajikan dalam bentuk tabel distribusi P= X Y x 100 % frekuensi dan persentase dengan rumus sebagai berikut: Keterangan: P = Kategori x = Jumlah kategori sampel yang diambil y = Jumlah sampel B. HO : P1 = P2 .05 3.Tidak ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Analisa Bivariat Analisa ini digunakan untuk melihat hubungan antara 2 (dua) variabel yaitu variabel dependen dengan variabel independen. . Uji yang dipakai adalah Chi Square dengan batas kemaknaan nilai ⍺= 0. maka hipotesis dari penelitian ini adalah sebagai berikut: A.2 Hipotesis Statistik Berdasarkan pokok permasalahan dan kajian teoritis yang telah dikemukakan diatas.Tidak ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

. .Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. B. .Ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. . .Ada hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.83 .Tidak ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. Ha : P1 ≠ P2 . .Ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.Ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta. .

Ada hubungan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta.84 . .

Baktiparamita Putrasama. Jendral Gatot Subroto Kav 59 Jakarta Selatan. Rumah Sakit Medistra memiliki dua gedung yaitu Gedung A yang dibangun delapan lantai yang sebagian besar dipergunakan untuk fasilitas rawat inap dan penunjang medis.1 Gambaran Umum Tempat Penelitian (RS Medistra.85 BAB IV HASIL PENELITIAN 4. Fasilitas menyusui yang dimiliki RS Medistra terletak di kamar perawatan bayi di gedung A lantai 5. sedangkan gedung B dibangun empat lantai yang digunakan untuk pelayanan poliklinik umum dan spesialis. Rumah Sakit Medistra memiliki terletak di Jl. Jakarta) Rumah Sakit Medistra didirikan pada tahun 1990 dan mulai berjalan pada tanggal 28 November 1991 melalui ijin penyelenggaraan oleh Yayasan Surya Dian Kasih yang kemudian beralih menjadi PT. Peraturan di RS Medistra yang mendukung proses menyusui secara eksklusif adalah adalah kebijakan cuti hamil bagi karyawan yang telah berstatus karyawan tetap selama 3 bulan yang diambil 1 bulan . Dimana terdapat 1 pompa elektrik yang diperuntukan bagi karyawan dan pasien yang ingin memerah ASI.

mempunyai anak berusia 7-24 bulan dengan riwayat umur kehamilan cukup bulan (aterm/ 37-41 minggu) yang dijadikan sampel penelitian sebanyak 70 orang.1.5 jam/ hari (termasuk waktu istirahat 30 menit) dan dibagi ke dalam 3 shift (kecuali untuk poliklinik. .86 sebelum tanggal taksiran lahir dan 2 bulan setelah taksiran lahir. Unit Hemodialisa terdapat 2 shift) .1 Ketenagaan Rumah Sakit Medistra Tahun 2010 Berdasarkan data tersebut jumlah karyawan di Rumah Sakit Medistra adalah 953 karyawan dimana jumlah karyawan terbesar terdapat pada divisi medik dan keperawatan sebesar 672 karyawan. Waktu kerja untuk tenaga perawat adalah 7. Data per 14 Mei 2011 menunjukan jumlah tenaga perawat wanita adalah 341 orang dan jumlah perawat wanita yang bekerja di RS Medistra. mempunyai suami (belum meninggal/bercerai).2 Ketenagaan Tabel 4. medical check-up. 4.

yaitu analisa univariat dan analisa bivariat. Sedangkan yang berumur kurang dari 30 tahun memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.2 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra Umur < 30 tahun > 30 tahun Frekuensi 26 44 Presentase (%) 37. Distribusi frekuensi umur responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.2.1 Analisa Univariat A.2% 62. 4.2 diatas diketahui bahwa responden berumur lebih dari 30 tahun memiliki frekuensi tertenggi yaitu 44 orang (62.2 Deskripsi Data Hasil penelitian ini disajikan dalam dua bagian.8%).8% Dari tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Umur Responden Perawat di RS Medistra . Umur Tabel 4.87 4.

2 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra .1% 74.3 Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden Perawat di RS Medistra Pendidikan SPK D III Strata I Frekuensi 5 52 13 Presentase (%) 7.3 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.3% 18.3%) berpendidikan Diploma III Keperawatan memiliki jumlah frekuensi tertinggi. Pendidikan Tabel 4. Sedang yang berpendidikan SPK dan Strata I memiliki jumlah frekuensi lebih rendah.88 B. Distribusi frekuensi pendidikan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6% Dari tabel 4.

Distribusi frekuensi lama waktu kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.3 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra .4 diatas diketahui bahwa 48 responden (68.89 C.6% 31.4%).4% Dari tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Lama Waktu Bekerja Responden Perawat di RS Medistra Lama Waktu Bekerja < 8 jam ≥ 8 jam Frekuensi 48 22 Presentase (%) 68. Lama Waktu Bekerja Tabel 4. Sedang yang memiliki waktu kerja lebih dari 8 jam frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 22 responden (31.6%) memiliki waktu kerja kurang dari 8 jam.

8% 2.4% 2. didapatkan nilai median= 38 .3% 2.8% 4.4% 11.90 D.8% 8.3% 7.8% 4. nilai minimum = 26 dan nilai maximum =50.3% 1.8% 5.6% Jumlah 70 100% Skor Sikap 40 42 43 44 45 46 47 48 49 50 Frekuensi 4 3 1 6 1 1 2 5 1 8 Persen (%) 5.933. .2% 1.3% 5. Nilai batas pengelompokan dengan kategori sikap negatif jika skor < 30 dan kategori sikap positif bila skor > 30.4% Standar Deviasi : 7.8% 2.8% 4.933 Minimum : 26 Maksimum : 50 Tabel 4. Sikap Tabel 4. standar deviasi (SD) = 7.4% 8.2% 2.8% 2.6% 1.5 Distribusi Frekuensi Sikap Ibu Bekerja Terhadap Pemberian ASI Eksklusif pada responden Perawat di RS Medistra Skor Sikap 26 27 28 29 30 31 33 34 35 36 37 38 Mean : 37.93 Median : 38 Modus : 50 Frekuen si 3 5 2 3 4 2 4 2 2 3 2 6 Persen (%) 4.4% 1.5 di atas menujukkan distribusi skor penilaian sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif.8% 7.

Distribusi frekuensi sikap dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Sedang yang memiliki sikap negatif frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 27 responden (38.6% Dari tabel 4.6%).4%) memiliki sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja.6 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Perawat di RS Medistra Sikap Positif Negatif Frekuensi 43 27 Presentase (%) 61.6 diatas diketahui bahwa 43 responden (61.4 Distribusi Frekuensi Kelompok Sikap Responden Positif Negatif Per .91 Tabel 4.4% 38.

6%). Distribusi frekuensi dukungan suami responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.6 diatas diketahui bahwa 57 responden (81.4% 18.5 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra .92 E. Sedang yang tidak mendapat dukungan suami frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 13 responden (18. Dukungan Suami Tabel 4.4%) mendapat dukungan dari suami untuk memberikan ASI eksklusif sambil bekerja.7 Distribusi Frekuensi Dukungan Suami Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Suami Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 57 13 Presentase (%) 81.6% Dari tabel 4.

93 F.8 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra Dukungan Atasan Mendukung Tidak Mendukung Frekuensi 66 4 Presentase (%) 94. Distribusi frekuensi dukungan atasan responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4. Dukungan Atasan Tabel 4.3% 5.6 Distribusi Frekuensi Dukungan Atasan Responden Perawat di RS Medistra .3%) mendapat dukungan dari atasan untuk memberikan ASI eksklusif saat bekerja. Sedang yang tidak mendapat dukungan atasan frekuensinya lebih rendah yaitu sebanyak 4 responden (5.7%).7% Dari tabel 4.7 diatas diketahui bahwa 66 responden (94.

Distribusi frekuensi sarana menyusui di tempat kerja responden dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.94 G.7 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra .9% 87.9%).9 Distribusi Frekuensi Sarana Menyusui di Tempat Kerja Responden Perawat di RS Medistra Sarana Menyusui Tersedia Tidak tersedia Frekuensi 9 61 Presentase (%) 12.8 diatas diketahui bahwa 61 responden (87. Sedang responden yang menyatakan tersedia sarana menyusui di unit kerja lebih rendah yaitu sebanyak 9 responden (12.1%) menyatakan tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya. Sarana Menyusui di Tempat Kerja Tabel 4.1% Dari tabel 4.

Distribusi frekuensi pemberian ASI eksklusif dapat dilihat pada grafik dibawah ini: Grafik 4.8 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra .9 diatas diketahui bahwa 52 responden (74.7%).3% Dari tabel 4.3%) tidak memberikan ASI eksklusif dan responden yang memberikan ASI eksklusif lebih rendah yaitu sebanyak 18 responden (25.7% 74. Pemberian ASI eksklusif Tabel 4.10 Distribusi Frekuensi Pemberian ASI Eksklusif pada Responden Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif ASI Eksklusif Tidak ASI Eksklusif Frekuensi 18 52 Presentase (%) 25.95 H.

A.05 atau 5%.96 4. Hubungan Umur Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra Jakarta.5 74.190 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia kurang dari 30 tahun (34.6%) dibandingkan dengan responden berusia lebih dari 30 tahun (20.4 79. lama waktu bekerja. Hasil uji statistik dikatakan bermakna (signifikan) apabila nilai hitung lebih kecil dari alpha (p<0.05).2. dukungan atasan. dukungan suami. pendidikan.05) dan sebaliknya dikatakan tidak bermakna apabila nilai hitung lebih besar dari alpha (p>0. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik antara variabel independen dan dependen digunakan batas kemaknaan 0.2 Analisis Bivariat Uji chi square ini dilakukan untuk mengetahui hubungan umur.3 TOTAL p value( Uji X2) F 26 44 70 % 100 100 100 0. .11 Distribusi Responden menurut Umur dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Umur ASI Eksklusif F < 30 Tahun > 30 Tahun Total 9 9 18 % 34.6 20.7 Tidak ASI Eksklusif F 17 35 52 % 65. sikap.5 25.5%).

B. Hubungan Pendidikan Ibu dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. C.003 100 100 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak berusia pada ibu yang berpendidikan S1 (61.7 Tidak ASI Eksklusif F 5 42 5 52 % 100 80.5 25. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0. Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan pemberian ASI Eksklusif .2%).190) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.2 61.12 Distribusi Responden menurut Pendidikan Ibu dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Pendidikan Ibu ASI Eksklusif F SPK D III SI Total 0 10 8 18 % 0 19.003) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif diterima. D III (19.97 Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara umur dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.5%).3 TOTAL p value( Uji X2) F 5 52 13 70 % 100 100 0.5 74.8 38.

13 Distribusi Responden menurut Lama Waktu Bekerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Lama Waktu Bekerja ASI Eksklusif F < 8 Jam > 8 Jam Total 12 6 18 % 25 27.3 25.3 TOTAL p value( Uji X2) F 48 22 70 % 100 100 100 0.840 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada ibu yang bekerja lebih dari 8 jam/ hari (27.98 Tabel 4. Hubungan Sikap Pemberian ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja Terhadap Dengan Pemberian ASI Eksklusif .840) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.7 Tidak ASI Eksklusif F 36 16 52 % 75 72.7 74. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara lama waktu kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3%) dibandingkan dengan responden yang bekerja kurang dari 8 jam/ hari (25%). D.

8%).3 95.7 4.009) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif diterima .8 25.7%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sikap negatif (4.2 74.009 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif pada ibu bekerja (34. Hasil analisis menunjukan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.14 Distribusi Responden menurut Sikap dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sikap ASI Eksklusif F Positif Negatif Total 17 1 18 % 34.99 Tabel 4.7 Tidak ASI Eksklusif F 32 20 52 % 65.3 TOTAL p value( Uji X2) F 49 21 70 % 100 100 100 0.

2 92.100 E.3 TOTAL p value( Uji X2) F 57 13 70 % 100 100 100 0. . Hubungan Dukungan Suami dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.7%).8%) dibandingkan dengan responden yang tidak mendapat dukungan suami (7.8 7. Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.3 74.092) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.092 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang didukung oleh suami (29.15 Distribusi Responden menurut Dukungan Suami dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Suami ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 17 1 18 % 29.7 25.7 Tidak ASI Eksklusif F 40 12 52 % 70.

.8 50 74. Hubungan Dukungan Atasan dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4.271 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang tidak didukung oleh atasan (50%) dibandingkan dengan responden yang mendapat dukungan atasan (24.3 TOTAL p value( Uji X2) F 66 4 70 % 100 100 100 0.2%). Hasil analisis menunjukan tidak ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.101 F.7 Tidak ASI Eksklusif F 50 2 52 % 75.16 Distribusi Responden menurut Dukungan Atasan dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Dukungan Atasan ASI Eksklusif F Mendukung Tidak Mendukung Total 16 2 18 % 24.2 50 25.271) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif ditolak.

4 78.3 TOTAL p value( Uji X2) F 9 61 70 % 100 100 100 0.6%) dibandingkan dengan responden yang mempunyai sarana menyusui (21. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan pemberian ASI Eksklusif Tabel 4. Hasil analisis menunjukan ada hubungan antara dukungan sarana menyusui di unit kerja dengan pemberian ASI eksklusif (nilai p = 0.102 F. .17 Distribusi Responden menurut Sarana Menyusui di Tempat Kerja dan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di RS Medistra Pemberian ASI Eksklusif Sarana Menyusui ASI Eksklusif F Tersedia Tidak Tersedia Total 5 13 18 % 55.043) artinya hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara sarana menyusui atasan dengan pemberian ASI eksklusif diterima.7 74.7 Tidak ASI Eksklusif F 4 48 52 % 44.6 21.3%).3 25.043 Proporsi responden yang memberikan ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sarana menyusui di unit kerjanya (55.

Usaha memperkecil kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi peneliti mempersempit waktu untuk mengingat. sehingga sasaran penelitian dibatasi ibu yang memiliki anak usia 7 bulan sampai 2 tahun. faktor lupa bisa menjadi penyebab recall bias.2. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui wawancara dikumpulkan menggunakan dalam kuesioner. terdapat kemungkinan dipengaruhi oleh rasa segan dan takut dalam menjawab kuesioner.4 Keterbatasan Penelitian Responden dalam penelitian ini adalah ibu yang bekerja sebagai perawat di RS Medistra yang mempunyai bayi 7 bulan sampai 2 tahun. ini Kualitas sangat data yang dari penelitian tergantung kemampuan pewawancara serta kemampuan mengingat kembali peristiwa atau apa yang telah dilakukan selama menyusui.103 4. Peneliti juga tidak bisa mengontrol jawaban responden dan mengoreksi kesalahpahaman. . Dari sisi responden.

madu dan air putih. ASI eksklusif memiliki banyak manfaat. juga melindungi bayi dari . sangat jauh dari target nasional yaitu 80% (Depkes.10 yang menunjukan persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra sangat rendah 25. Pengklasifikasian ini ditentukan dari jawaban responden mengenai makanan/minuman yang diberikan pada bayi dibawah usia 6 bulan.1 Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Pemberian ASI diklasifikasikan menjadi 2 kategori yaitu pemberian ASI eksklusif dan Tidak ASI eksklusif.104 BAB V PEMBAHASAN 5. 2005) mengatakan: “ASI adalah suatu cara yang tidak tertandingi oleh apapun dalam menyediakan makanan ideal untuk pertumbuhan dan perkembangan seorang bayi”. Oleh karena pemberian ASI eksklusif dapat memberikan pertumbuhan bayi yang optimal.7%. 2009). World Health Organization (WHO. atau bubur susu pada usia bayi 4 bulan ataupun teh manis. yang utama bagi bayi adalah memberikan nutrisi terlengkap dan terbaik. Responden diantaranya telah memberikan makanan semi padat berupa pisang yang dihaluskan. Distribusi frekuensi dapat dilihat pada tabel 4.

tetapi masih saja dijumpai perawat yang tidak memberikan ASI eksklusif pada bayinya dengan alasan bekerja. Tenaga kesehatan khususnya perawat dinilai mempunyai pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif.105 berbagai macam penyakit dan alergi serta meringankan kerja pencernaan dan berbagai manfaat lainnya. 5. Salah satu penyebab rendahnya pemberian ASI eksklusif di Indonesia adalah dikarenakan bekerja sehingga para ibu sulit untuk bisa memberikan ASI sepanjang hari.2 Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian ASI Eksklusif pada Perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta A. selain itu faktor sosial budaya dan juga kurangnya kesadaran akan pentingnya ASI akan menyebabkan banyaknya ibu yang tidak memberikan ASI kepada bayinya. RS Medistra memiliki tenaga perawat wanita sebanyak 341 orang. Rumah Sakit Medistra sebagai salah satu penyedia fasilitas kesehatan merupakan suatu organisasi dengan profesi beragam. karena ASI terbukti dapat menurunkan atau meminimalkan angka kematian bayi. Pemberian ASI secara eksklusif sangat dianjurkan. Hubungan Umur Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta . termasuk perawat.

Usia reproduksi wanita terjadi pada usia 18-40 dan usia 20-30 tahun adalah kelompok umur paling baik untuk kehamilan. karena dengan bertambahnya umur akan mempengaruhi pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif.6%. Namun dalam penelitian pada responden perawat ini. semakin tinggi kecenderungan menyusui bayinya dibandingkan dengan ibu-ibu muda. Umur merupakan salah satu faktor yang berperan dalam pemberian ASI eksklusif. pengalaman dan pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pertambahan usia tetapi juga karena selama menjalankan pendidikan sebagai perawat. materi ASI eksklusif . karena umur ibu sewaktu hamil juga sangat penting untuk pembentukan ASI. Hal ini tidak sesuai dengan teori Daldjoni (1982) yang mengatakan semakin tua umur ibu. dimana pengalaman akan memberikan pengetahuan dan sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.106 Berdasarkan hasil penelitian diketahui umur responden kurang dari 30 tahun sebanyak 26 responden dan lebih dari 30 tahun sebanyak 44 responden.190 (> 0. hal ini disebabkan karena semakin tua seorang ibu maka semakin banyak pengalaman dalam merawat dan menyusui bayi.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan umur dengan pemberian ASI eksklusif. Pemberian ASI eksklusif yang paling banyak pada usia kurang dari 30 tahun yaitu sebanyak 34.

B. Proses penerimaan informasi ini akan lebih cepat jika seseorang berpendidikan tinggi. Pemberian ASI eksklusif paling banyak ditemukan pada ibu dengan pendidikan SI yaitu 61. D III sebanyak 52 orang dan S I sebanyak 13 orang.107 yang telah dipelajari dan masuk kedalam kurikulum tenaga kesehatan.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.003 (< 0.5%. pengetahuan tentang ASI eksklusif yang cukup akan memotivasi ibu untuk memberikan ASI secara eksklusif. Hal ini sesuai dengan teori Soetjiningsih (1997) yang mengatakan pendidikan akan membantu seseorang untuk menerima informasi termasuk informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan bayi misalnya pemberian ASI eksklusif. Hubungan Pendidikan Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui pendidikan responden adalah SPK sebanyak 5 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Kristina (2003) yang menyatakan tidak ada hubungan umur dengan pemberian ASI eksklusif. .

mengubah sikap dan persepsi serta menanamkan tingkah laku/kebiasaan baru kepada seseorang dengan pendidikan rendah serta meningkatkan pengetahuan yang cukup/kurang bagi seseorang yang masih memakai pengetahuan lama (Notoatmodjo. Koordinator Pengembangan Perawat dan . 2003). Hubungan Lama Waktu Bekerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada responden yang merupakan perawat di RS Medistra 22 responden mempunyai waktu kerja > 8 jam diantaranya yaitu Kepala Unit Perawatan. maka semakin tinggi kecenderungan ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Semakin baik pengetahuan Ibu tentang ASI eksklusif. Pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif dapat mempengaruhi ibu dalam memberikan ASI eksklusif.108 Pendidikan bertujuan untuk mengubah pengetahuan. maka semakin sedikit pula peluang ibu dalam memberikan ASI eksklusif. Ketua Tim Perawatan. pendapat dan konsep-konsep. pengertian. Begitu juga sebaliknya. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Unika Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa pendidikan ibu merupakan merupakan faktor utama yang mempunyai pengaruh kuat terhadap pemberian ASI Eksklusif. semakin rendah pengetahuan ibu tentang manfaat ASI eksklusif. C.

05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif. sehingga memudahkan ibu untuk memerah atau menyimpan ASI yang dapat ibu lakukan saat jam istirahat bekerja.lain yang merasa kesulitan untuk mendelegasikan tugasnya. Bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang menyatakan ada hubungan lama waktu kerja dengan pemberian .109 lain.3%.840 (> 0. Roesli (2009)mengatakan lama waktu bekerja dapat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif karena semakin lama waktu kerja seorang ibu maka semakin lama juga dia meninggalkan bayinya di rumah sehingga ibu tersebut tidak dapat menyusui bayinya. 48 responden mempunyai waktu kerja < 8 jam yaitu perawat pelaksana yang bekerja dalam shift yaitu 7 jam per shift. sehingga waktu kerja menjadi lebih panjang. Pemberian ASI eksklusif paling banyak pada kelompok ibu bekerja dengan waktu kerja > 8 jam/ hari yaitu 27. Pekerjaan adalah segala usaha yang dilakukan untuk mendapatkan hasil atau upah yang dapat dinilai dengan uang. Hal ini dikarenakan adanya fasilitas memerah ASI di lingkungan kerja RS Medistra tepatnya di unit perawatan bayi. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0.

Hal ini sejalan dengan penelitian Unika .110 ASI eksklusif. maka waktu untuk menyusui menjadi terbatas. Pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh dalam cerminan perilaku seseorang. Hubungan Sikap Ibu dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 49 orang mempunyai sikap yang positif terhadap pemberian ASI eksklusif dan 21 orang mempunyai sikap negatif. dengan suatu cara yang menyatakan tanda-tanda untuk menyenangi atau tidak menyenangi obyek tersebut. D.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif. Sesuai dengan Notoatmojo (2007) yang mengatakan sikap dapat menentukan perilaku jika dimunculkan dalam kesadaran seseorang. sikap ibu yang positif akan memotivasi ibu sehingga meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.005 (<0.7%). termasuk sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif akan mempengaruhi pemberian ASI eksklusif. Sikap adalah suatu kecenderungan untuk mengadakan tindakan terhadap suatu obyek. karena semakin lama ibu meninggalkan bayinya untuk bekerja. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mempunyai sikap positif (34.

karena suami akan turut menentukan kelancaran refleks pengeluaran ASI (left down reflex) yang sangat dipengaruhi oleh keadaan emosi atau perasaan ibu.8%). Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain suami. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. misalnya pada ibu yang mengalami goncangan emosi. tekanan jiwa dan gangguan pikiran. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan suami (29. E. Let-down reflex mudah sekali terganggu. Hubungan Dukungan Suami dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan penelitian diketahui 57 orang mendapat dukungan dari suami dan 13 orang tidak mendapat dukungan dari suami. Gangguan terhadap let down reflex mengakibatkan ASI tidak keluar. misalnya keluarga. teman dan lainnya yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan masih banyak faktor yang . tidak sesuai dengan teori Roesli (2001) yang menyatakan pembuahan air susu ibu sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan sehingga peran suami sangat menentukan keberhasilan menyusui.092 (>0.111 Atma Jaya (1995) yang memberikan hasil bahwa sikap ibu berpengaruh positif terhadap perilaku menyusui.05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif.

Hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Hartatik (2010) yang mengatakan bahwa ibu yang tidak mendapat dukungan suami mempunyai kemungkinan 35x lebih kecil memberikan ASI eksklusif dari pada yang mendapat dukungan suami. F. kurangnya dukungan dari mereka dapat menyebabkan gagalnya ibu menyusui. Pemberian ASI eksklusif lebih banyak pada responden yang mendapat dukungan atasan (50%).05) artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. misalnya teman-teman dan peraturan di tempat kerja dan lain-lain yang dapat memberikan motivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Tidak sesuai dengan teori yang dikatakan Ariani (2009) yaitu ibu memerlukan dukungan dari orang-orang sekitar baik rekan kerja dan atasan untuk mendukung kegiatan menyusui sambil bekerja. Hal ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak lain selain atasan. pengalaman. sikap dan lain sebagainya. Hubungan Dukungan Atasan dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 66 orang mendapat dukungan dari atasan dan 4 orang tidak mendapat dukungan dari atasan.271 (>0. Penelitian ini sejalan dengan penelitian .112 mempengaruhi perilaku seseorang misalnya pengetahuan.

Salah satu kendala mensukseskan program ASI eksklusif adalah meningkatnya tenaga kerja wanita. Dari hasil analisa data diperoleh nilai p = 0. Hubungan Sarana Menyusui di Tempat Kerja dengan Pemberian ASI Eksklusif pada perawat di Rumah Sakit Medistra Jakarta Berdasarkan hasil penelitian diketahui 61 orang tidak tersedia sarana menyusui di unit kerjanya dan 9 orang yang mempunyai sarana menyusui yaitu perawat yang bekerja dikamar perawatan bayi.05) artinya terdapat hubungan yang signifikan sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif.043(<0. pemerintah daerah dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. 36 tahun 2009 pasal 128 (ayat 2 dan 3) yaitu selama pemberian ASI. G. sehingga perlu disiapkan . pihak keluarga. seperti dikatakan dalam Undang-Undang Kesehatan No.113 Afriana (2004) yang mengatakan dukungan atasan tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap pemberian ASI eksklusif. pemerintah. karena pengetahuan yang menjadi motivasi utama bagi ibu untuk memberikan ASI eksklusif pada bayinya. Penyediaan fasilitas diadakan ditempat kerja dan tempat sarana umum akan mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

sehingga dapat memerah ASI sewaktu-waktu. . untuk semua karyawan dan pasien. tempat menyusui dan memerah ASI penuh oleh ibu yang mengantri menggunakan pompa ASI elektrik. Terutama jika karyawan tersebut berbeda lantai atau berbeda gedung dengan kamar perawatan bayi. sehingga dirasakan kurang mendukung. Di RS Medistra terdapat satu tempat memerah ASI yaitu kamar perawatan bayi. karena para ibu membawa alat memerah ASI dari rumah dan karena para ibu diberikan waktu ekstra (kebijakan perusahaan) menyusui diluar jam istirahat. saat jam istirahat.114 fasilitas untuk memerah dan menyimpan ASI di tempat kerja. sehingga pemberian ASI eksklusif dapat dilakukan ibu sambil bekerja yaitu dengan cara memerah dan menyimpan ASI. Penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian Afriana (2004) yang mengatakan tidak ada hubungan yang bermakna antara sarana menyusui di tempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif.

Tidak ada hubungan dukungan suami dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 4.1 Kesimpulan 1. Tidak ada hubungan lama waktu bekerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. masih jauh dari target nasional yaitu 80%. 7. 5.7%. Tidak ada hubungan umur ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 6. Ada hubungan sarana menyusui ditempat kerja dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra . Persentase pemberian ASI eksklusif pada perawat yang bekerja di RS Medistra adalah 25. Tidak ada hubungan dukungan atasan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 2. 3.115 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6. Ada hubungan pendidikan ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra. 8. Ada hubungan sikap ibu dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra .

6. seperti pojok laktasi yang di lengkapi pompa elektrik di setiap unit pelayanan atau di setiap lantai.2. cuti . Selain itu kebijaksanaan mengenai tambahan waktu istirahat kepada perawat yang sedang menyusui perlu diberikan agar dapat memerah ASI. misalnya kebijakan melahirkan selama masa ASI eksklusif (6 bulan).2 Saran 6.3 Bagi Universitas Diharapkan Universitas Esa Unggul dapat memberikan penyuluhan tentang manfaat asi kepada seluruh mahasiswa. Misalnya dengan dilakukan pelatihan manajemen laktasi kepada para perawat.1 Saran untuk RS Medistra Keberhasilan pemberian ASI eksklusif perlu didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana menyusui. misalnya dengan diadakan seminar tentang ASI eksklusif untuk mahasiswa atau memasang iklan pentingnya ASI di lingkungan kampus. dengan penekanan bahwa dirinya bukan saja sebagai ibu tetapi juga sebagai contoh/ model bagi masyarakat.2.116 6.2 Bagi Perawat Perlu upaya meningkatkan pengetahuan dan motivasi perawat mengenai pentingnya ASI eksklusif.2. 6. Juga dilakukannya penelitian lebih lanjut tentang faktor lain yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.

asp. Nia. Yogyakarta: Media Baca. Health Promotion Planning an Educational and Environmental Approch. edisi kedua). Second Edition. N.idai. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Bandung: Alumni. 2004. Depkes RI. Faktor yang Mempengaruhi Tenaga Kesehatan Wanita dalam Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Bahorok Kab. Ibu. Daldjoni.or. Kumpulan Hasil Presentasi Unit Utama Depdiknas pada Rapat Kerja Nasional Departemen Pendidikan Nasional.Bandung:PT Refika Aditama. Jakarta: Depdiknas Green. Susui Aku!. Depkes RI. Analisis Praktek Pemberian ASI Eksklusif pada Ibu Bekerja di Instansi Pemerintah DKI Jakarta. Tesis FKM UI. Pemberian ASI Eksklusif kepada Bayi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi di Indonesia.A. Depok Kodrat. Yogyakarta: MedPress. Dahsyatnya ASI & Laktasi. Ibrahim. Analisis Pola Menyusui Bayi di Kecamatan Peukan Bada Kabupaten Aceh Besar provinsi DI Aceh.DAFTAR PUSTAKA Arif. 2011. 2004. IDAI. Bedah Asi. ASI dan Tumbuh Kembang Bayi. Hartatik. Bandung : Khazanah Intelektual. Depdikbud. Kreuter. 2005.W. 2003. Nur. diakses 24 Juni 2011 Khasanah. Kendala Pemberian ASI eksklusif. Profil Depkes RI 2007. 2008. Kristina. Skripsi FKM UI. Mayfield Publishing Company. dr. Jakarta: Balai Pustaka. .2000.W.id/asi. Hegar dkk. 2000. Jakarta : Depkes RI. Jakarta : Depkes.1996. Jakarta: Balai Pustaka FKUI. Badriul. http://www. 1982. L. Afriana.W.2010. 2010. Ariani.. Tesis FKM UI. Penerbit. 2001. Tilaili. Rencana Strategis Departemen Kesehatan tahun 2005-2009. ASI atau Susu Formula ya?. Gerungan. Houston. M. Langkat. Tesis Program Pasca Sarjana UI. 2010. Seluk Beluk Masyarakat Kota Bandung. 2009. Jogyakarta: Flashbooks. Laksono.Psikologi Sosial. 2010. Depdiknas. Depok. 2008.

Yogyakarta: Flashbook. Mengenal ASI Eksklusif. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. http://library. Unicef.Ann Blanc. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Buku Pintar ASI Eksklusif. S. Jawa Barat. Dwi sunar. Jakarta: Perkumpulan perinatologi Indonesia .LLB (Hons). 2001. 2008. Childa. 2003.pdf. Ieda Poernomo Sigit.sph. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Praktek Pemberian ASI pada Pegawai Wanita Departemen Kesehatan. Sarlito Wirawan. S. R. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta: Pusat Penelitian Atma Jaya. A. dkk. Marini. Depok. Sarwono. 2007. Notoatmodjo. Tesis FKM UI. 2004. 1999. Pemberian ASI Eksklusif dan Faktor yang Memengaruhinya. Depok. Praktek Pemberian ASI di DKI Jakarta dan Sekitarnya. Nur.. Jakarta : Penerbit Buku kedokteran EGC. Prasetyono.unc.ac. Mengenal ASI Eksklusif Seri 1. S.2003. Siregar. David Clark. http://www. 2005.. diakses 24 Juni 2011. diakses 24 Juni 2011. PhD. Sidi.Tessa Wardlaw. Miriam H. Hubertin. Jakarta : Rineka Cipta. Labbok.Khasanah. MPH.. Unika Atma Jaya. Jakarta : Depkes RI. 2009.MPH. Jakarta : Trubus Agriwidya.M.usu. PhD. Maisni.2006. 1992. Dra. 1994. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Konsep Penerapan ASI eksklusif. Roesli. 2011. U. and Nancy Terreri. 1998. Skripsi FKM UI.. Yogyakarta : Diva Press Purwati.pdf. Psikologi Sosial: Individu & Teori Psikologi. ASI atau Susu Formula ya?.id/download/fkm/fkm-arifin. Roesli. 1995. U. Trends in Exclusive Breastfeeding: Findings From the 1990s.MD. Notoatmodjo. Jakarta : PT. Peranan Dokter Dalam Peningkatan Penggunaan Air Susu. Hubungan antara Karakteristik dan Pengetahuan Ibu tentang ASI dengan Praktek Pemberian Kolostrum. Jakarta: Balai Pustaka.eduimages/ stories/centers_institutes/CIYCFC/Documents/trends_in_exclusive_bf _2006..

2003. Skripsi Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: EGC.M. Global strategy for infant and young child feeding. World Health Organization. Geneva. Jurnal Kesmas Nasional.Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah. Psikologi untuk Perawatan. United Nations Children’s Fund. M. No. Metodologi Penelitian Kesehatan. Bandung: Alfabeta Saryono.wordpress. Faktor yang mempengaruhi lama pemberian ASI pada Ibu Bekerja sebagai Pegawai Swasta di Jakarta. Metode Penelitian Administrasi. Yogyakarta: Mitra Cendikia Wirawan.Sitaresmi.G.. 2004. Rahardjo. Jakarta: Balai Pustaka.1.1987.N. Sunaryo. 2010.. 2009.http://asiku.2008. Soetjiningsih. Isu Kebijakan Tentang Pemberian ASI secara eksklusif. 2008. Fakor-faktor yang berhubungan dengan Pemberian ASI satu jam pertama setelah melahirkan”. diakses 24 Juni 2011. Prof.. Jakarta: ECG Setyowati. Switzerland: World Health Organization . DR.Kes. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. SKp. Sutama. Winarno. Vol 1.com/2008/08/07/pemberian-asi-eksklusif-masih-rendah/. Sugiyono. 2009. Wicitra. Psikologi Sosial. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Gizi dan Makanan. Individu dan teori-teori Psikologi Sosial. Sarlito. 1997. F.2008. diakses 24 Juni 2011. 1999.

Terima Kasih Riana Puspa Dewi FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. saat ini kami mahasiswa Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Esa Unggul sedang melakukan penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”. meskipun demikian ibu tetap memiliki hak untuk menolak keikutsertaan dalam penelitian ini tanpa konsekuensi apapun. Adapun identitas pribadi maupun informasi yang ibu berikan kepada kami akan tetap menjadi rahasia dan hanya akan digunakan untuk kepentingan penelitian. penulis mohon kesediaaan anda untuk membaca terlebih dahulu petunjuk pengisian.LEMBAR KUESIONER FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA PERAWAT DI RS MEDISTRA. JAKARTA Ibu yang terhormat. Sebelum menjawab pertanyaan. JAKARTA . Ibu diharapkan untuk dapat berpartisipasi dalam pengisian kuesioner ini. Kami mengharapkan partisipasi ibu dalam penelitian ini dengan cara menjawab seluruh pertanyaan yang diajukan secara jujur karena informasi yang diperoleh dari anda sangat berguna bagi penulis.

.............. 2011 Yang membuat pernyataan... Jakarta .............. Pekerjaan : Telah mendapat informasi secara lengkap tentang penelitian ini menyetujui untuk ikut dalam penelitian “Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif pada perawat di RS Medistra”.....tahun .....telp...............FORMULIR PERSETUJUAN MENGIKUTI PENELITIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Usia Alamat : : : ... Saya juga menyadari bahwa saya dapat menarik keikutsertaan saya dari penelitian ini tanpa adanya keharusan membayar ganti rugi.................................. Saya menyadari bahwa segala informasi pada penelitian ini adalah rahasia dan hanya akan digunakan untuk tujuan penelitian..................No................................. Pendidikan :....................... ...... Saya menyadari bahwa keikutsertaan saya dalam penelitian ini dilakukan secara sukarela dan tanpa dipungut bayaran............................. ( Petunjuk Pengisian: ) Pilihlah jawaban yang sesuai dengan keadaan anda saat ini pada kolom yang telah disediakan dengan tanda ( ) ................................................... ....

.......................... .................. Identitas Responden NO........................... obat Sebutkan jenis makanan dan minuman tambahan.... pada jawaban yang paling sesuai dengan pilihan anda.... Sikap ibu bekerja terhadap pemberian ASI eksklusif pada bayinya Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia..... SKM) Usia Bayi : ... ....... ...... mineral............ jika ada? .... C......... bulan/ tahun rumah per hari: < 8 jam ≥ 8 jam Lama waktu bekerja di luar B......A............... tahun SPK Diploma III Strata I (SKp......................... Urut Nama Responden Umur Pendidikan : : : : ... Pemberian ASI eksklusif Petunjuk Pengisian: Berikan tanda ( ) pada kolom yang tersedia Umur bayi / makanan bayi Bln I Bln 2 Bln 3 Bln 4 Bln 5 Bln 6 ASI Makanan atau Minuman Tambahan lain **kecuali vitamin........................

Dukungan Suami . Ibu yang bekerja harus membiasakan bayi menyusu dari botol Jika suami tidak membantu pekerjaan rumah tangga atau mengurus bayi. ibu yang bekerja akan mengalami kesulitan untuk memberikan ASI eksklusif Saya akan merasa bahagia jika dapat bekerja dan tetap menyusui secara eksklusif SANGAT TIDAK SETUJU TIDAK SETUJU TIDAK TAHU SETUJU SANGAT SETUJU 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Petunjuk Pengisian: Lingkarilah jawaban yang menurut anda paling benar pada pilihan yang telah disediakan.NO 1 PERNYATAAN Cuti melahirkan lebih dari 3 bulan seharusnya diberikan kepada wanita yang bekerja Ibu yang bekerja harus diijinkan untuk menyusui bayinya atau memerah ASI dalam jam kerja Ibu yang bekerja tidak perlu menyusui bayinya secara eksklusif (6 bulan) Peran suami tidak terlalu penting dalam mendukung keberhasilan menyusui pada ibu bekerja Menyusui memberikan citra keibuan dan kewanitaan bagi seorang ibu Ibu yang bekerja harus menyusui sesering mungkin bila sedang berada di rumah Ibu yang bekerja tidak mungkin dapat menyusui bayinya secara eksklusif karena keterbatasan waktu menyusui dan beban pekerjaan. D.

Sarana menyusui di tempat kerja Apakah di unit kerja ibu ada pojok laktasi (tempat khusus untuk memerah ASI)? a. Ya b. Tidak mendukung (menganjurkan makanan/ minuman tambahan) F. Ya b. Tidak G. Mendukung (tetap memberikan hanya ASI) b.Apakah tanggapan suami ibu terhadap pemberian ASI eksklusif ketika ibu harus kembali bekerja? a. Tidak . Dukungan Atasan Apakah atasan ibu memberikan kesempatan pada ibu untuk menyusui pada jam kerja? a.

  .

    .

0 70 70.054 1.195 1.0 Chi-Square Tests Asymp.0%) have expected count less than 5.0 26 26.7 18 18.304 .3 52 52.0% N 70 Total Percent 100.681 .0% N 0 Missing Percent .69. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. The minimum expected count is 6.259 .716 1.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0% kelompok umur * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok umur >31 tahun Count Expected Count 20-30 tahun Count Expected Count Total Count Expected Count 35 32. 0 cells (.193 b Exact Sig.0 ASI eksklusif 9 11.7 17 19.152 a. Sig.691 70 1 .190 . (2sided) Exact Sig.0 Total 44 44. Computed only for a 2x2 table       .3 9 6. b.

0 70 70.0 ASI eksklusif 0 1.0% N 0 Missing Percent .001 11. Sig.       .7 42 38.003 .0 Total 5 5. The minimum expected count is 1.Case Processing Summary Cases Valid N pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.6 5 9.3 18 18.7 52 52.609 a df 2 2 1 sided) .003 .0% N 70 Total Percent 100.0 Chi-Square Tests Asymp.667 70 a.0 13 13. (2Value Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 11.0%) have expected count less than 5.0 52 52.29.0% pendidikan ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif pendidikan ibu SPK Count Expected Count D III Count Expected Count SI Count Expected Count Total Count Expected Count 5 3.570 10.3 10 13.4 8 3. 3 cells (50.

040 70 1 .000 . Sig.0 70 70.529 a.840 1.3 18 18.66.Case Processing Summary Cases Valid N lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. b. The minimum expected count is 5.0 Total 22 22.0%) have expected count less than 5.840 . 0 cells (.0 48 48.0 Chi-Square Tests Asymp. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases . (2sided) Exact Sig. (1sided) df a sided) 1 1 1 .0 ASI eksklusif 6 5.841 b Exact Sig.0% N 70 Total Percent 100. Computed only for a 2x2 table       .7 52 52.0% N 0 Missing Percent .041 .0% lama waktu bekerja ibu * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif lama waktu bekerja ibu lebih/= 8 jam Count Expected Count kurang dari 8 jam Count Expected Count Total Count Expected Count 16 16.000 .7 12 12.000 .3 36 35.041 1.

The minimum expected count is 6. (1sided) df a sided) 1 1 1 .230 8.005 .0% N 0 Missing Percent .006 b Exact Sig. 0 cells (. Computed only for a 2x2 table       .9 52 52.0% kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif kelompok sikap negatif Count Expected Count positif Count Expected Count Total Count Expected Count 25 20.0 70 70.0 ASI eksklusif 2 6.0% N 70 Total Percent 100.1 18 18.0%) have expected count less than 5.94.9 16 11.Case Processing Summary Cases Valid N kelompok sikap * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.712 6. (2sided) Exact Sig.0 Chi-Square Tests Asymp.005 a.013 . Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 7.0 43 43.1 27 31.005 .003 7.601 70 1 .783 .0 Total 27 27. b.

3 52 52.0 Chi-Square Tests Asymp. (2sided) Exact Sig. 1 cells (25.059 1.34. Computed only for a 2x2 table     .3 15 14.809 1.0% Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan suami Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 10 9. Sig. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .0 57 57.0 70 70. b.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan suami * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100.811 b Exact Sig. (1sided) df a sided) 1 1 1 .058 .7 42 42.000 .0% N 0 Missing Percent .0 ASI eksklusif 3 3.558 a.0% N 70 Total Percent 100.000 . The minimum expected count is 3.808 .0 Total 13 13.000 .0%) have expected count less than 5.057 70 1 .7 18 18.

0 18 18. b.0 52 52.0 16 17.0% Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Dukungan atasan Tidak mendukung Count Expected Count Mendukung Count Expected Count Total Count Expected Count 2 3.291 70 1 .310 .0 70 70.308 1.0 Chi-Square Tests Asymp.0% N 0 Missing Percent . 2 cells (50.271 a.Case Processing Summary Cases Valid N Dukungan atasan * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. Computed only for a 2x2 table     .256 b Exact Sig.579 .271 .03.0 Total 4 4.0 ASI eksklusif 2 1.283 1. (1sided) df a sided) 1 1 1 . Sig.0 50 49. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases 1. The minimum expected count is 1. (2sided) Exact Sig.152 .0 66 66.0%) have expected count less than 5.0% N 70 Total Percent 100.252 .

0% N 0 Missing Percent .0 Chi-Square Tests Asymp.799 b Exact Sig. 1 cells (25. (2Value Pearson Chi-Square Continuity Correction Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases .065 70 1 .000 .7 52 52.Case Processing Summary Cases Valid N Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif 70 Percent 100. b. (2sided) Exact Sig. Sig.0 70 70. (1sided) df a sided) 1 1 1 .066 .7 2 2.0 Total 61 61. Computed only for a 2x2 table   .068 1.31.0 ASI eksklusif 16 15.000 .795 .580 a.0 9 9.3 7 6. The minimum expected count is 2.0% N 70 Total Percent 100.3 18 18.000 .0% Sarana menyusui di tempat kerja * kelompok pemberian ASI eksklusif Crosstabulation kelompok pemberian ASI eksklusif Tidak ASI eksklusif Sarana menyusui di tempat kerja tersedia Tidak tersedia Count Expected Count Count Expected Count Total Count Expected Count 45 45.797 1.0%) have expected count less than 5.

  .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful