You are on page 1of 9

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Laporan dari Jurnal Kesehatan The Lancet menyebutkan bahwa 7.000 bayi meninggal dunia setiap harinya dan 98 % terjadi di negara-negara miskin. Di Indonesia angka kematian bayi rata-rata 34 bayi per 1.000 kelahiran hidup. Jumlah tersebut tidak terlalu menggesankan karena apabila dibandingkan dengan 5 tahun yang lalu perubahannya hanya sedikit. Tahun 2003 angka kematian bayi di Indonesia adalah 35 bayi per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi di bawah lima tahun (balita) sekarang ini 44 balita per 1.000 kelahiran hidup dan tidak berbeda jauh dengan data tahun 2003 yaitu 46 per 1.000 kelahiran hidup. Padahal, target tujuan pembangunan milenium (MDG’s) antara lain menurunkan angka kematian anak balita sebesar dua pertiganya dalam kurun waktu 1990-2015. Pada tahun 2015 diharapkan angka kematian bayi sebesar 23 bayi per 1.000 kelahiran hidup dan 32 anak balita per 1.000 kelahiran hidup. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia belum sesuai dengan yang diharapkan. Guna menekan angka kematian bayi dan anak balita, yang terpenting ialah upaya preventif dan promotif. Usaha promotif antara lain melalui promosi penggunaan air susu ibu, nutrisi adekuat, kebersihan diri, dan lingkungan. Upaya preventif antara lain melalui imunisasi dasar. Selain itu, perlu pula fasilitas pengobatan tingkat komunitas melalui fasilitas seperti puskesmas.

1.2 Rumusan Masalah
Dari masalah di atas, maka akan timbul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Apakah ada perbedaan tingkat kematian kelahiran bayi antara puskesmas pedesaan dengan puskesmas kota? 2. Berapa besar perbandingan antara tingkat kematian bayi antara puskesmas pedesaan dengan puskesmas kota?
1

mengembangkan daya pikir dan penalaran serta melaksanakan kegiatan penelitian yang sangat berguna sebagai bekal untuk melaksanakan tugas di kemudian hari. 1. 1.  Bagi Penulis Memperoleh pengalaman dalam melakukan studi pustaka. 2 .4 Manfaat Penelitian  Bagi Masyarakat Memperoleh informasi tentang perbandingan tingkat kematian kelahiran bayi di puskesmas pedesaan dan puskesmas kota.3 Tujuan Penelitian Tujuan dari hasil penelitian ini untuk mengetahui besarnya tingkat kematian kelahiran bayi di puskesmas pedesaan dan puskesmas kota. Tingkat kematian kelahiran bayi di puskesmas pedesaan lebih tinggi daripada di puskesmas kota.1.5 Hipotesis   Ada perbedaan antara tingkat kematian kelahiran bayi di puskesmas pedesaan dan puskesmas kota.

lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam. Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya serviks. Kehamilan melibatkan perubahan fisik maupun emosional dari ibu serta perubahan sosial di dalam keluarga. fase laten (8 jam) serviks membuka sampai 3 cm dan fase aktif (7 jam) serviks membuka dari 3 sampai 10 cm. dan janin turun ke dalam jalan lahir. tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin. Persalinan normal Persalinan dan kehamilan merupakan kejadian fisiologi yang normal. Kelahiran adalah proses di mana janin dan ketuban didorong keluar melalui jalan lahir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan. Lamanya hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari pertama haid terakhir. peranan ibu adalah untuk melahirkan bayinya. yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Kehamilan normal Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. 2. Proses ini biasanya berlangsung 2 jam pada primi dan 1 jam pada multi. Kala II dimulai dari pembukaan lengkap (10 cm) sampai bayi baru lahir. di samping itu bersama keluarga memberikan bantuan dan dukungan pada ibu bersalin. triwulan kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan. 3 .BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal normal 1. yaitu: Kala I dimulai dari saat persalinan mulai sampai pembukaan lengkap (10 cm). triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan. Peran petugas kesehatan adalah memantau persalinan untuk mendeteksi dini adanya komplikasi. Ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil unuk mendapatkan pelayanan/asuhan antenatal. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37 – 42 minggu). Ketika persalinan dimulai. Pada umumnya kehamilan berkembang dengan normal dan menghasilkan kelahiran bayi sehat cukup bulan melalui jalan lahir namun kadang-kadang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta. Persalinan dibagi dalam 4 kala. proses ini terbagi dalam 2 fase. Kala IV dimulai dari saat lahirnya plasenta sampai 2 jam pertama postpartum. kontraksi lebih kuat dan sering selama fase aktif. Kelahiran seorang bayi juga merupakan peristiwa sosial yang ibu dan keluarga menantikannya selama 9 bulan.

Berbagai bentuk upaya pencegahan dan penanggulangan dini terhadap faktor-faktor yang memperlemah kondisi seorang ibu hamil perlu diprioritaskan. Pencegahan asfiksia. Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan.  Melaksanakan skrining yang komprehensif. pemberian air susu ibu (ASI) dalam usaha menurunkan angka kematian oleh karena diare. mempertahankan suhu tubuh bayi. trutama pada bayi berat lahir rendah. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayinya. mendeteksi masalah. mengobati atau merujuk bila trjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu. periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. 5) asfiksia.3. 2) hipertensi. dua pertiga kematian bayi terjadi dalam 4 minggu setelah persalinan dan 60% kematian bayi baru lahir terjadi dalam waktu 7 hari setelah lahir. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. 3) infeksi. baik fisik maupun psikologik. dan buruknya higiene. anemia. Dengan pemamntauan melekat dan asuhan pada ibu dan bayi masa nifas dapat mencegah beberapa kematian ini. Masa neonatus merupakan masa kritis dari kehidupan bayi. pencegahan terhadap infeksi. dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. seperti gizi yang rendah. Di samping itu diperlukan pula pembinaan kesehatan pranatal yang memadai dan penanggulangan faktor-faktor yang menyebabkan kematian perinatal yang meliputi: 1) pendarahan. dan 6) hipotermia. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan fisiologi. bahkan kematian. 4) kelahairan preterm/bayi berat lahir rendah. pemantauan kenaikan berat badan dan stimulasi psikologis merupakan tugas pokok bagi pemantau kesehatan bayi dan anak 4 . yaitu:  Perubahan fisik  Involusi uterus dan pengeluaran lokhia  Laktasi/pengeluaran air susu ibu  Perubahan sistem tubuh lainnya. Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang sehat akan menyebakan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup. Nifas normal Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. melalui pelayanan kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil. 4.  Memberikan pelayanan keluarga berencana. Bayi baru lahir normal Pelayanan kesehatan neonatal harus dimulai sebelum bayi dilahirkan.  Perubahan psikis Tujuan asuhan masa nifas:  Menjaga kesehatan ibu dan bayinya. dekatnya jarak antar kehamilan.

oleh karena tindakan dan penanganan kehamilan risiko tinggi maupun tindakan dan penanganan penyulit/komplikasi persalinan yang kurang memadai akan sangat berpebgaruh pada kelangsungan hidup dan kualitas tumbuh kembang anak di masa yang akan datang apabila anak tersebut terhindar dari kematian pada masa neonatal. minimal sekali setiap 3 bulan. Indikasi rujukan harus sudah mulai dipikirkan sejak bayi masih dalam kandungan. Keputusan untuk merujuk bayi baru lahir sebaiknya dibuat oleh petugas pelayanan kesehatan atas dasar kesepakatan dengan keluarga. Kondisi/tanda-tanda berikut ini merupakan indikasi rujukan. Setiap petugas pelayanan kesehatan harus mengetahui kewenangan dan tanggung jawab tugas masing-masing sesuai dengan jenjang pelayanan kesehatan tempatnya bertugas. Tanggung jawab petugas dalam pelaksanaan rujukan:  Persiapan rujukan yang memadai.  Tersedianya dana intensif bagi petugas kesehatan yang siaga 24 jam.  Bagi keluarga tidak mampu tersedia dukungan dana untuk transpot.  Tersedianya sarana angkutan/transportasi selama 24 jam. bayi harus dirujuk.000 gram. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal abnormal 1. Faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan rujukan:  Berfungsinya mekanisme rujukan dari tingkat masyarakat dan puskesmas hingga rumah sakit tempat rujukan.  Stabilisasi keadaan vital janin/bayi baru lahir selama perjalanan ke tempat tujuan. B.  Adanya komunikasi 2 arah antara yang merujuk dan tempat rujukan. yaitu:  Bayi berat lahir rendah <2.neonatus pada minggu-minggu pertama sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan.  Pemberian indetifikasi. perawatan dan pengobatan di rumah sakit.  Penerangan kepada orang tua atau keluarga mengenai penyakit yang ditemukan atau diduga. terampil dan siaga selama 24 jam.  Tersedianya tenaga kesehatan yang mampu. data yang ada.  Tersedianya alat kesehatan dan obat-obatan sesuai kebutuhan di tempat yang merujuk dan di tempat rujukan.  Bagi petugas yang menerima rujukan berupa penanganan kasus rujukan.  Pembinaan kemampuan dan keterampilan teknis petugas puskesmas oleh dokter spesialis kebidanan dan anak dalam penanganan kasus rujukan neonatus sakit. Manajemen rujukan bayi baru lahir risiko tinggi Apabila setelah dilahirkan bayi menjadi sakit atau gawat dan membutuhkan fasilitas dan keahlian yang lebih memadai. 5 . yang sudah dilakukan yang mungkin diperlukan.  Izin rujukan atau tindakan lain yang akan dilakukan.

Sebelum bayi dirujuk. Bayi mengalami kejang-kejang. Dehidrasi 7. Penyebab depresi bayi pada saat lahir ini mencakup:  Asfiksia intrauterin  Bayi kurang bulan  Obat-obat yang diberikan atau diminum oleh ibbu. Kejang 11. diperlukan stabilisasi keadaan umum bayi dengan tujuan agar kondisi bayi tidak bertambah berat dan meninggal di jalan.        Bayi tidak mau minum ASI. Bayi mengalami gangguan saluran cerna disertai muntah-muntah. Akan tetapi beberapa bayi mengalami depresi saat dilahirkan dengan menunjukkan gejala tonus otot yang menurun dan mengalami kesulitan mempertahankan pernafasan yang wajar. Tangan dan kaki bayi teraba dingin. kesakitan. diare atau tidak buang air besar sama sekali dengan perut membuncit. dan kecacatan pada bayi baru lahir dapat ditekan serendah-rendahnya. Adakalanya stabilisasi lengkap tidak dimungkinkan akan tetapi perlu diperhatikan bahwa merujuk bayi dalam keadaan tidak stabil membahayakan dan tidak dianjurkan. Infeksi/sepsis 9. 2. Tetanus neonatorum 10. Hipo/hipertermia 5. karena itu seharusnya dilakukan usaha stabilisasi semaksimal mungkin sesuai dengan kewenangan dan kemampuan fasilitas. Bayi mengalami perdarahan atau tersangka perdarahan. Denyut jantung akan menjadi stabil pada frekuensi 120 sampai 140 per menit dan sianosis sentral menghilang dengan cepat. Bayi mengalami gejala ikterus yang meningkat. Gangguan saluran cerna/perut buncit 6 . Kondisi ini menyebabkan kurangnya pengambilan oksigen dan pengeluaran CO2. Gangguan pernafasan 4. Rujukan berhasil apabila kematian. Bayi menunjukkan tanda infeksi berat seperti meningitis atau sepsis. Asfiksia Saat dilahirkan bayi biasanya aktif dan segera sesudah tali pusat dijepit bayi menangis yang merangsang pernafasan. Bayi-bayi ini dapat mengalami apnu atau menunjukkan upaya pernafasan yang tidak cukup untuk kebutuhan ventilasi paruparu. Bayi mengalami gangguan/kesulitan bernafas. 3. Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut. Bayi menyandang kelainan bawaan.  Penyakit neuromuskular bawaan (kongenital)  Cacat bawaan  Hipoksia intrapartum. Bayi berat lahir rendah 6. Ikterus 8.

Cedera lahir 7 .12.

05 Oktober 2011 3. 2. Kerangka Konsep Penelitian Penyakit Nutrisi KEMATIAN KELAHIRAN BAYI Penolong kelahiran 5. Variabel dan Defenisi Operasional Kematian kelahiran bayi: 6. juga ada hipotesis yang akan diuji.BAB III METODE PENELITIAN 1. yaitu ingin mengetahui apakah ada perbedaan besarnya tingkat kematian kelahiran bayi. karena selalu ingin memperoleh gambaran tentang perbandingan tingkat kematian kelahiran bayi. Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat deskriptif dan analitik. Sumber dana/Bahan/materi penelitian/Teknik/metode pengumpulan data dan Instrumen Pengumpulan data diperoleh melalui mempelajari dokumen dari badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. Populasi dan Sampel Populasi Populasi sasaran penelitian adalah seluruh keluarga Sampel Besar sampel adalah banyaknya kematian bayi yang diketahui berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 4. 8 . Tempat dan Waktu Tempat : Kantor Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara Waktu: Rabu.

9 .