You are on page 1of 15

MAKALAH TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN

MAKSIMALISASI PEMANFAATAN ENERGI BAGI TANAMAN

Oleh : KELOMPOK 3 EKA MIFTAKHUL J. EMMA FEMI P. GUNAWAN SETYO B. NUGROHO TRI H. Agroteknologi B H0711036 H0711039 H0711047 H0711074

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

A. KONSEP DASAR ENERGI Setiap ilmu pengetahuan memiliki konsep yang unik, tak terkecuali energi dan elektrifikasi. Definisi yang tepat terhadap konsep-konsep dasar sangat penting untuk membentuk suatu fondasi bagi perkembangan ilmu dan mencegah kesalahpahaman. Dalam bab ini sistem satuan yang akan digunakan akan diulas secara singkat, dan konsep-konsep dasar energi akan dijelaskan. Mempelajari dengan baik konsep-konsep ini sangat penting bagi pemahaman yang baik terhadap topik-topik di dalam bab-bab berikutnya. Dalam mekanika energi didefinisikan sebagai kapasitas atau kemampuan untuk melakukan kerja atau usaha. Dapat pula didefinisikan sebagai kemampuan untuk menyebabkan perubahan. Meskipun berkaitan, energi dan daya merupakan konsep yang sangat berbeda. Sebuah tangki minyak mengandung sejumlah energi, dan kita dapat membakar minyak ini dalam waktu tertentu, artinya, kita mengkonversi energi minyak menjadi energi mekanik, misalnya untuk menggerakkan sebuah mobil. Daya adalah energi yang dihasilkan per satuan waktu. Prinsip yang sama berlaku pada semua sistem konversi energi lainnya, baik untuk pembangkitan energi atau penggunaan energi. Hal ini berarti bahwa kita mesti mencirikan sumberdaya energi dengan satuan energi (jumlah energi yang dikandung), sedangkan peralatan-peralatan konversi energi dicirikan dengan satuan daya (jumlah daya yang dapat dihasilkan atau dipakai). Jika kita perhatikan lebih teliti, terlihat bahwa beberapa bentuk energi sesungguhnya berkaitan dengan istilah daya (radiasi, energi kinetik, energi mekanik dan energi listrik). Energi diperlukan dalam semua siklus kehidupan. Hal ini dapat dilihat dari rantai makanan elementer yang menunjukkan betapa pentingnya energi. Radiasi surya diperlukan untuk menumbuhkan tanaman, energi manusia (dalam bentuk kerja) diperlukan untuk pemanenan, dan energi (panas) dari biomasa diperlukan untuk memasak. Pada gilirannya, bahan makanan menyediakan energi untuk manusia. Energi sangat penting di bidang pertanian dibandingkan aktivitas produktif lain. Intensifikasi untuk memperoleh hasil per hektar yang lebih

tinggi, dan semua kemajuan lain dalam proses produksi pertanian, mengindikasikan adanya penambahan operasi yang semuanya memerlukan energi. Sebagai contoh penyiapan dan pengolahan tanah, pemupukan, irigasi, transportasi, dan pengolahan hasil tanaman. Untuk mendukung semua ini, mesin dan peralatan pertanian digunakan, yang untuk memproduksinya juga memerlukan energi. Perubahan-perubahan utama dalam pertanian, seperti mekanisasi dan apa yang dinamakan dengan "revolusi hijau" (green revolution), menunjukkan perubahan-perubahan utama yang berkaitan dengan energi. Mekanisasi pertanian mengandung arti perubahan sumber-sumber energi, dan seringkali merupakan peningkatan penggunaan energi. Revolusi hijau telah memberikan kepada kita berbagai varietas yang menghasilkan produksi tinggi, tetapi juga dapat disebut varietas rendah residue (per satuan tanaman). Padahal residu merupakan sumber energi penting bagi sebagian besar masyarakat di perdesaan. Sektor-sektor lain dalam kehidupan perdesaan juga memerlukan energi. Penyiapan rumah, pemanasan ruangan, pengangkatan air, dan konstruksi jalan, sekolahan dan rumah sakit, merupakan contoh-contoh yang jelas. Lebih lagi, kehidupan sosial memerlukan energi untuk penerangan, hiburan, komunikasi, dan sebagainya. Kita mengamati bahwa pembangunan sering berarti penambahan penggunaan energi. Saat ini energi merupakan sumberdaya langka, setidaknya bagi sementara kelompok orang di beberapa tempat dan, mungkin, bagi dunia secara keseluruhan. Oleh karena itu, penggunaan energi yang rasional adalah penting baik dari sudut pandang ekonomi maupun lingkungan. Hal ini berlaku bagi bidang pertanian dan sektor ekonomi lainnya. Kunci penggunaan energi yang rasional adalah memahami peranan energi. Bagian-bagian berikut ini bertujuan untuk membantu memahami peranan energi dalam pembangunan pertanian dan perdesaan.

B. ENERGI DAN PRODUKSI PERTANIAN Pada dasarnya pertanian berurusan dengan perubahan energi matahari ke bentuk energi yang bermanfaat bagi manusia, baik dalam bentuk seratan maupun pangan. Dalam menaikkan produksi pertanian, haruslah kita memperhatikan seluruh fase fase transformasi energi, dari matahari ke meja makan. Setiap hari manusia rata-rata menggunakan 810 gr bahan tanaman yang mengandung 315 gr karbon. Belakangan ini cukup banyak usaha usaha yang dilkakukan ahli biologi yang mencoba mengkuantitatifkan produktifitas tanaman. Bidang ini yang disebut ekologi produksi. Memperhatikan penangkapan energi penyinaran pada fotosintesis, pengubahannya pada energi kimia dan alirannya lewat tanaman dan hewan. Tujuan utama ahli ahli pertanian adalah untuk menaikkan keefisienan pengubahan energi matahari ke produk yang berfaedah. Walaupun telah biasa menggunakan satuan satuan sehari hari (sepikul jagung, sekeranjang kentang), satuan satuan yang lebih baik untuk mengukur energi telah tersedia. Produktifitas tanaman dapat dengan tepat ditaksir dengan mengukur baik oksigen yang dikeluarkan maupun karbondioksida yang digunakan dalam proses fotosintesis. Juga mungkinlah untuk menduga produksi dengan menentukan jumlah klorofil yang terdapat pada jumlah vegetasi tertentu pada luasan tanah tertentu. Penggunaan energi untuk mengukur produktifitas memerlukan suatu satuan tunggal yaitu kalori. Mungkin kelak banyak hasil hasil pertanian yang dinikmati tidak akan diproduksi di tanah pertanian lagi, tetapi dibuat secara kimia dari komponen komponennya. Bila keadaan demikian dapat tercapai, produksi pertanian dapat disalurkan pada tanaman tanaman yang memberikan produktifitas maksimum dari salah satu atau lebih kebutuhan dasar dari menu manusia. Misalnya tanaman tertentu akan ditanam terutama untuk yang kandungan kalorinya tinggi. Salah satu anomali yang dihadapi masa kini adalah bahwa beberapa daerah dari dunia dikaruniai surplus pertanian, dan yang lainnya terancam

kekurangan. di daerah daerah yang sedang berkembang, produktifitas tanah dapat dinaikkan dengan banyak teknik pertanian yang sudah merupakan hal rutin di negara negara maju dewasa ini. Di daerah yang penuh tanaman, beberapa faktor seperti cahaya, kelembaban tanah, dan hara sering merupakan faktor dalam keadaan kekurangan. Ini semua merupakan faktor pembatas pertumbuhan dan yang selalu menjadi urusan setiap ahli pertanian. Teknologi yang penting untuk identifikasi dan mengatasi faktor faktor pembatas serta mencegah musuh tanaman seperti hama, penyakit, gulma, haruslah merupakan arah kemana perbaikan pertanian dinegara sedang berkembang dilaksanakan. Pemupukan merupakan satu alat yang paling ampuh untuk menaikkan produksi tanaman. 1. Penggunaan energi untuk kegiatan tanaman Energi matahari merupakan sumber utama hubungannnya dengan pertumbuhan tanaman, sembilan puluh persen bahan kering tanaman pertanian berasal dari perubahan carbon melalui proses fotosintesis yang tergantung cahaya. Belakangan ini banyak ahli biologi yang mencoba menghitung produktivitas tanaman dengan memperhatikan penangkapan energi matahari dan pengubahannya ke energi kimia melalui proses fotosintesis. Bahan dan hasil akhir proses fotosintesis ditulis sebagai berikut: (energi cahaya 673.000 kalori + klorofil) 6 CO2 + 12 H2O C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O Energi cahaya matahari yang digunakan berasal dari panjang gelombang 0,4 - 0,7 mikron. Seluruh aktivitas fisiologis tanaman membutuhkan energi. Sebagai sumber energi utama yang mendukung proses aktivitas fisiologis adalah matahari. Tanaman memiliki kemampuan menyerap energi matahari 15%-22% untuk proses kehidupannya dan memfotosintesis 2%-5% dari radiasi matahari yang masuk untuk pembentukan makanan. Energi yang diperoleh tanaman oleh makhluk herbivora lainnya mengubah materi

tanaman menjadi materi hewan dan proses ini berlanjut terus sampai kemudian dapat dikonsumsi oleh makhluk karnivora termasuk manusia. Efisiensi fotosintesis dipengaruhi oleh laju fotosintesis. Laju fotosintesis akan meningkat dengan meningkatnya cahaya sampai batasbatas tertentu, walaupun laju fotosintesis meningkat dengan meningkatnya intensitas cahaya, tetapi peningkatannya lambat sehingga efisiensi penangkapan cahaya menurun. Apabila intensitas cahaya tinggi secara relatif lebih banyak cahaya tegak yang dipantulkan oleh daundaun. Masuknya cahaya ke tajuk tanaman dipengaruhi oleh sudut datangnya sinar dan susunan daun, tajuk yang ideal untuk distribusi cahaya mempunyai susunan daun merata, pada bagian atas tajuk mempunyai daun-daun lebih tegak dan lebih kecil sedang daun-daun bawah tersusun secara horizontal. 2. Konsep aliran energi dalam pertanian Dengan menganggap tanaman sebagai alat penangkap, perubah dan penyimpan energi, maka timbul usaha menaikkan efisiensi dan produktivitas tanaman. Didaerah yang padat tanaman, beberapa faktor lingkungan segera menjadi berkurang, cahaya, kelembaban tanah dan unsur hara. Hal ini merupakan faktor pembatas dalam pertanian, pemupukan merupakan salah satu cara yang baik untuk meningkatkan produksi. Efisiensi pertanian dapat diperoleh dengan perbaikan tanaman melalui pemuliaan tanaman. Salah satu usaha untuk memperluas alat penangkap energi dengan memperpanjang musim tanam misalnya menggunakan rumah kaca untuk tanaman yang memungkinkan input teknologi dan modal besar seperti tanaman hortikultura di daerah iklim sedang. Usaha mempengaruhi laju fotosintesis dengan cara pertukaran CO2 antara dedaunan dan atmosfer di sekitarnya. Di wilayah yang sebelumnya angin kurang diperhatikan, hasil jagung dapat ditingkatkan bila barisan tanaman diarahkan tegak lurus arah angin, sehingga pucuk tanaman tertiup angin dan terjadi perputaran dan pencampuran udara.

Aliran energi dalam pertanian merupakan kunci keseimbangan energi di ekosistem secara keseluruhan. Seluruh kegiatan pertanian yang ditunjukkan untuk memperoleh produksi maksimum per unit satuan luas tertentu dari tanah pertanian, yaitu dengan : a. melakukan tata cara bertani menggunakan teknologi yang terus menerus diperbaharui untuk memperoleh keuntungan maksimum, b. menekan pertanian, c. mencegah penurunan kapasitas produksi tetapi secara langsung juga tidak mengorbankan keseimbangan. Kebutuhan makanan semua bentuk kehidupan di alam harus diusahakan berada dalam keseimbangan. Energi surya yang diserap oleh tumbuhan hijau yang berfotosintesis disalurkan ke berbagai macam makhluk hidup lain. Penyalurannya ada yang melalui jalur sederhana dan ada yang melalui jalur yang agak rumit dengan menelusuri berbagai macam kehidupan dalam biosfer. Akan tetapi, semua energi akan diradiasikan kembali ke ruang angkasa. Bila daur energi ini terganggu, suhu bumi akan meningkat dengan tajam yang mengakibatkan ekosistem akan tertganggu. Zat-zat anorganik dari dalam tanah, air dan udara akan diserap oleh tumbuhan hijau, kemudian sebagian digunakan dalam proses fotosintesis sebagai penyusun molekul oerganik sederhana maupun kompleks. Hasil fotosintesis, kemudian dikonsumsi oleh makhluk hidup. Konsep Aliran Energi dalam pertanian dapat dilakukan dengan: a. Mengukur Produktivitas b. Menaikkan Produksi Tanaman c. Penggunaan Limbah Pertanian d. Penakapan Energi e. Pangan dan Kebutuhan Manusia Gizi C. PRODIKTIVITAS Prodiktivitas adalah laju produksi biomasa,jadi berbeda dengan standing crop yang menyatakan jumlah biomasa dari ekosistem pada saat sekecil-kecilnya ketidakmantapan dalam produksi

tertentu.kajian prodiktivitas ini merupakan bagian yang penting dalam ekologi,ini meliputi efesiensi dari berbagai bentuk ekosistem dan juga mengenai perbaikan produksi dari ekosistem binaan. Prodiktivitas dapat dibagi dalam dua bentuk,pertama produktivitas primer, meliputi produksi materi organic baru pada tumbuhan atau autrotof.kedua,produktivitas sekunder, meliputi produksi materi organikbaru pada hewan atau heterotrof. Produktivitas primer merupakan laju penambahan energy yang dilakukan oleh produsen. Menurut Campbell (2002), Produktivitas primer menunjukkan Jumlah energy cahaya yang diubah menjadi energy kimia oleh autotrof suatu ekosistem selama suatu periode waktu tertentu. Total produktivitas primer dikenal sebagai produktivitas primer kotor (gross primary productivity, GPP). Tidak semua hasil produktivitas ini disimpan sebagai bahan organik pada tubuh organisme produsen atau pada tumbuhan yang sedang tumbuh, karena organisme tersebut menggunakan sebagian molekul tersebut sebagai bahan bakar organik dalam respirasinya. 1. Proses Proses Dasar Dalam Produktivitas Primer Sangat jarang kajian yang bersifat kiantitatif dari produktitifitas primer ini.produktivitas primer bersih di temtukan oleh perbedaab relatif dari fotosintesis (menghasilkan karbohidrat) memahami dengan respirasi yang (memanfaatkan karbohidrat).untuk factor-faktor

membatasi dan mengontrol produktivitas primer ini,perlu ditelaah secara rinci kedua proses dasar ini. a. Proses fotosintesis Dalam proses ini hanya sebagian kecil energi cahaya yang dimanfaatkan. Diperkirakan dari sejumlah energi cahaya yang sampai pada tumbuhan, hanya 1 5% dapat diubah menjadi energi kimia. Pemanfaatan energi cahaya untuk membentuk karbohidrat dalam fotosintesis meliputi beberapa proses kimia yang sangat kompleks termasuk dengan biokalalisatornya yang berupa enzim. Gula yang duhasilkan dalam fotosintesis mempunyai berbagai kemungkinan yaitu, dimanfaatkan kembali dalam proses respirasi

untuk menghasilkan ATP; dikonversi menjadi bentuk senyawa organik lain; dan dikombinasi dengan gugus tertentu menjadi asam amino dan selanjutnya diubah menjadi protein. b. Proses respirasi Proses ini merupakan kebalikan dari proses fotosintesis yang melibatkan berbagai reaksi dan biokatalisator yang berupa enzim. Secara sederhana reaksinya adalah sebagai berikut : C6H12O6 + 6 O2 + 6 H2O6 CO2 + 12 H2O Pada kondisi optimum kecepatan fotosintesis dapat mencapai 30 kali dari kecepatan respirasi, terutama pada tempat-tempat yang terdedah dengan cahaya matahari. Pada umumnya tumbuhan menggunakan karbohidrat untuk respirasinya berkisar antara 10 75% dari hasil fotosintesisnya, dan ini tergantung dari jenis dan usia tumbuhan. D. METODE PENGUKURAN PRODUKTIVITAS PRIMER Penting sekali untik diperlihatkan cara-cara penentuan produktivitas primer ini, mengingat proses ini mempunyai arti ekologi yang sangat nyata. Sebagian besar pengukuran dilakukan secara tidak lamgsung, didasarkan pada jumlah substansi yang dihasilkan, didasrkan pada jumlah material dasar yang dipakai, dan ada pula yang didasarkan pada jumlah hasil sampingnya. 1. Metode penuaian Cara ini di tentukan berdasarkan berat pertumbuhan dari tumbuhan. Dapat dinyatakan secara langsung berat keringnya atau kalori yang terkandung, tetapi keduanya dinyatakan dalam luas dan priode waktu tertentu. Metode ini mengukur produktivitas primer bersih. Metode penuaian ini sangat cocok dan baik pada ekosistem daratan, dan biasanya untuk vegetasi yang sederhana. Tetapi dapat pula di gunakan untuk ekosistem lainya dengan syarat tumbuhan tahunan predominan dan tidak terdapat rerumputan. Untuk ini paling baik mencuplik produktivitas pada satu seri percontohan(cuplikan)selama satu musim tumbuh. Metode ini merupakan metode paling awal dalam mengukur produktivitas primer.

Caranya adalah dengan memotong bagian tanaman yang berada diatas permukaan tanah, baik pada tumbuhan yang tumbuh di tanah maupun yang didalam air. Bagian yang di potong selanjutnya dipanaskan sampai seluruh airnya hilang atau beratnya konstan. Materi tersebut ditimbang, dan prodiktivitas primer di nyatakan dalam biomassa per unit area per unit waktu, misalnya sebagai gram berat kering/ m2 /tahun.metode ini menunjukkan perubahan berat kering selama priode waktu tertentu. Metode penuian memang tidak cocok untuk mengukur produktivitas primer fitoplankton, karena ada beberapa kesalahan misalnya perubahan biomasa yang terjadi tidak hanya diakibatkan oleh produktivitas tetapi juga berkurangnya fitoplankton oleh hewan hewan pada tropik diatasnya, atau mungkin jumlah fitoplankton berubah karena gerakan air dan pengadukan. Metode penuaian ini sangat sederhana, meskipun memiliki potensi-potensi kesalahan-kesalahan: sistim akar harus termasuk dalam perhitungan, dan adanya hewan herbivora. 2. Metode penentuan oksigen Oksigen merupakan hasil sampingan dari fotosintesis, sehingga ada hubungan erat antara produktifvitas dengan oksigan yang di hasilkan oleh tumbuhan. Tetapi harus di ingat sebagian oksigen di manfaatkan oleh tumbuhan tersebut dalam proses respirasi, dan harus di perhitungkan dalam penentuan produktivitas. Metode ini sangat cocok dalam menentukan produktivitas primer ekosistem perairan, dengan fitoplankton sebagai produsennya. Dua contoh air yang mengandung ganggang di ambil pada kedalaman yang relatif sama. Satu contoh di simpan di dalam botol bening dan satunya lagi pada botol yang di cat hitam. Kandungan oksigen dari kedua botol tadi sebelumnya ditentukan, kemudian di simpan dalam air yang sesuai dengan kedalaman dan tempat pengambilan air tadi. Kedua botol tadi di biarkan selama satu sampai 12 jam. Selama itu akan terjadi perubahan kandungan oksigen di kedua botol tadi. Pada botol yang hitam terjadi proses respirasi yang menggunakan oksigen, sedangkan pada botol yang

bening akan terjadi baik fotosintesis maupun respirasi. Diasumsikan respirasi pada kedua botol relatif sama. Dengan demikian produktivitas pada ganggang dapat di tentukan. Metode-metode ini memiliki kelemahan-kelemahan, yaitu hanya dapat di lakukan pada produsen mikro dan asumsi respirasi pada kedua botol tadi sama adalah kurang tepat. 3. Metode pengukuran karbondioksida Karbondioksida yang di pakai dalam fotosintesis oleh tumbuhan dapat di pergunakan sebagai indikasi untuk produktivitas primer. Dalam hal ini seperti juga pada metode penentuan oksigen proses respirasi harus di perhitungkan. Metode ini cocok untuk tumbuhan darat dan dapat di pakai pada suatu organ daun, seluruh bagian tumbuhan dan bahkan satu komunitas tumbuhan. Ada dua tehnik atau metode utama yaitu : a. Metode ruang tertutup Biasanya di gunakan untuk sebagian atau seluruh tumbuhan kecil (herba,perdu pendek). Dua contoh di pilih dan di usahakan satu sama lainnya relatif sama. Satu contoh di simpan dalam kontainer bening dan satunya lagi di simpan dalam kontainer gelap (tertutup lapisan hitam). Udara dibiarkan keluar- masuk pada kedua kontainer melalui pipa yang sudah di atur sedenikian rupa dan mempergunakan pengisapan udara dengan kecepatan aliran udara tertentu. Konsentrasi karbondioksida yang masuk dan keluar kontainer di pantau. Dengan cara ini karbondioksida yang di pakai dalam fotosintesis dapat dihitung, yaitu sama dengan jumlah yang di hasilkan dalam kontainerr gelap di tambah dengan jumlah yang di pakai dalam kontainer bening/terang. Dalam kontainer gelap terdapat produksi karbondioksida sebagai hasil respirasi, dan pada kontainer bening karbondioksida di pakai dalam proses fotosintesis daan juga adanya produksi akibat adanya respirasi. Metode ini juga memiliki kelemahan seperti pada metode dengan penentuan oksigen dan

meningkatnya suhu dalam kontainer (seperti rumah kaca) sehingga mempengaruhi proses fotosintesis dan respirasi. b. Metode aerodinamika Metode ini maksudnya menutupi kelemahan-kelemahan pada metode ruang tertutup. Karbondiaksida yang diukur diambil dari sensor yang di pasang pada tabung tegak dalam komunitas, dan satunya lagi di pasang lebih tinggi dari tumbuhan. Perubahan konsentrasi karbondioksida di atas dan didalam komunitas dapat di pakai sebagai indikasi dari produktivitas. Pada malam hari konsentrasi karbondioksida akan meningkat akibat terjadi respirasi, sedangkan pada siang hari konsentrasi akan menurun akibat proses fotosintesis. Perbandingan konsentrasi ini merupakan indikasi berapa banyak karbon dioksida yang di manfaatkan dalam fotosintesis. 4. Metode kesamaan Dalam ekosistem air,kesamaan akan berpengaruh terhadap kelarutan karbondioksida.perubahan kesamaan dapat dipakai sebagai indeks dari produktivitas. Metode ini mempunyai potensi kesalahan,sepeti kandungan nutrisi mempunyai pengaruh juga terhadap kesamaan air. 5. Kehilangan material dasar Produktivitas dapat ditentukan berdasarkan laju kehilangan material seperti nitrat dan posfat.metoda ini menentukan produktivitas primer bersih dari ekosistem.teknik ini sangat berguna untik ekosistem perairan yang luas,sepertidanau dan lautan,tetapi haya berlaku bagi daerahyang beriklim musim (terjadinya penumpukan selama musim dingin dan dimanfaatkan pada musim semi). 6. Metoda radioaktif Materi aktif yang dapat di identifikasi radiasinya di masukkan dalam sistem. Misalnya karbon aktif (C14) dapat di introduksi melalui suplai karbondioksida yang nantinya di asimilasikan oleh tumbuhan dan di pantau untuk mendapatkan perkiraan produktivitas. Tehnik ini sangat

mahal dan memerlukan peralatan yang canggih, tetapi memiliki kelebihan dari metode lainya, yaitu dapat di pakai dalam berbagai tipe ekosistem tanpa melakukan penghancuran terhadap ekosistem. 7. Metoda klorofil Produktivitas berhubungan erat dengan jumlah klorofil yang ada. Rasio asimilasi untuk tumbuhan atau ekosistem adalah laju dari produktivitas pergram klorofil. Konsentrasi klorofil dapat ditentukan berdasarkan cara yang sederhana, yaitu dengan cara mengekstraksi pigmen tumbuhan. Mul-mula dilakukan pencuplikan daun dengan ukuran tertentu. Untuk sampling fitoplankton dilakukan dengan pengambilan sampel air dalam volume tertentu. Organisme selain fitoplankton harus di pisahkan dari sampel. Samel selanjutnya di saring dengan menggunakan filter khusus fitoplankton pada pompa vakum dengan tekanan rendah. Filter yang mengandung klorofil dilarutkan pada aseton 85% , kemudian dibiarkan semalam, dan selanjutnya di sentrifuse. Supernatannya dibuang dan pelet yang mengandung klorofil di keringkan dan di timbang beratnya. Berat klorofil di ukur dalam mg klorofil/unit area. Pengukuran klorofil juga bisa di lakukan dengan spektrofotometer dengan panjang gelombang 665 nm. Bila rasio asimilasi, kadar klorofil, dan jumlah energi cahaya di ketahui, maka produktivitas primer kotor dapat diketahui. Metode ini dapat di terapkan pada berbagai tipe ekosistem. E. USAHA-USAHA MENINGKATKAN HASIL PERTANIAN 1. Intensifikasi Pertanian Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit. Pada awalnya intensifikasi pertanian ditempuh dengan program Panca Usaha Tani, yang kemudian dilanjutkan dengan program sapta usaha tani. Adapun sapta usaha tani dalam bidang pertanian meliputi kegiatan sebagai berikut :

a. Pengolahan tanah yang baik b. Pengairan yang teratur c. Pemilihan bibit unggul d. Pemupukan e. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman f. Pengolahan pasca panen 2. Ekstensifikasi Pertanian Ekstensifikasi adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut. Ekstensifikasi pertanian banyak dilakukan di daerah jarang penduduk seperti di luar Pulau Jawa, khususnya di beberapa daerah tujuan transmigrasi, seperti Sumatera, Kalimantan dan Irian Jaya. 3. Diversifikasi Pertanian Diversifikasi adalah usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Diversifikasi pertanian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu : a. Memperbanyak jenis kegiatan pertanian, misalnya seorang petani selain bertani juga beternak ayam dan beternak ikan. b. Memperbanyak jenis tanaman pada suatu lahan, misalnya pada suatu lahan selain ditanam jagung juga ditanam padi ladang. 4. Mekanisasi Pertanian Adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan mesin-mesin pertanian modern. Mekanisasi pertanian banyak dilakukan di luar Pulau Jawa yang memiliki lahan pertanian luas. Pada program mekanisasi pertanian, tenaga manusia dan hewan bukan menjadi tenaga utama.

5.

Rehabilitasi Pertanian Adalah usaha memperbaiki lahan pertanian yang semula tidak produktif atau sudah tidak berproduksi menjadi lahan produktif atau mengganti tanaman yang sudah tidak produktif menjadi tanaman yang lebih produktif. Sebagai tindak lanjut dari program-program tersebut, pemerintah menempuh langkah-langkah sebagai berikut: a. Memperluas,memperbaiki dan memelihara jaringan irigasi yang meluas di seluruh wilayah Indonesia b. Menyempurnakan sistem produksi pertanian pangan melalui penerapan berbagai paket program yang diawali dengan program Bimbingan Masal (Bimas) pada tahun 1970. Kemudian disusul dengan program intensifikasi Masal (Inmas), Intensifikasi Khusus (Insus) dan Supra Insus yang bertujuan meningkatkan produksi pangan secara berkesinambungan. c. Membangun pabrik pupuk serta pabrik insektisida dan pestisida yang dilaksanakan untuk menunjang proses produksi pertanian. Usaha-usaha meningkatkan hasil pertanian dapat dilakukan antara lain dengan cara : a. Membangun gudang-gudang, pabrik penggilingan padi dan menetapkan harga dasar gabah b. Memberikan berbagai subsidi dan insentif modal kepada para petani agar petani dapat meningkatkan produksi pertaniannya. c. Menyempurnakan sistem kelembagaan usaha tani melalui pembentukan kelompok tani, dan Koperasi Unit Desa (KUD) di seluruh pelosok daerah yang bertujuan untuk memberikan motivasi produksi dan mengatasi hambatan-hambatan yang dihadapi para petani.