AKU DAN ALAT-ALAT BERTAHAN HIDUP Ishak salim Anggota Komunitas Ininnawa AKU menyelesaikan studi Ilmu

Politik di Universitas Hasanuddin pada tahun 2000. Selama lima tahun aku belajar dan bergelut di dunia kampus. Aku bersyukur, saat itu dunia kampus marak dengan diskusi kritis. Maklum, tahun-tahun adalah masa ketika rezim diktator menjelang jatuh, masa ketika aneka bacaan kritis bermunculam. Buku-buku semacam itu yang ‘menghilang’ pada masa tanpa kebebasan berpendapat dan berekspresi juga hadir di tanganku, entah dari mana asal-usulnya. Ada juga beberapa dosen yang sudi duduk di koridor kampus, berbagi pengetahuan sambil menikmati segelas kopi dan berbatang-batang kretek. Lingkungan itu membuat pemikir-pemikir kritis di antara menyempil di kepala kami, di antara pemikir-pemikir positivis yang dijejalkan dosen dari buku-buku yang mereka ajarkan di dalam kelas. Aku masih ingat, dan mungkin banyak mahasiswa di Unhas pada masa itu yang mengingat, nama aktifis seperti Andri Suhrawardi. Pertama kali aku mengenalnya di Ramsis, Asrama Mahasiswa. Ia kerap ke kamarku dan mengajak berdiskusi soal buku-buku kiri. Ia sangat aktif berdiskusi di koridor dan kantinkantin kampus. Ada banyak nama tentu saja yang berjibaku saat itu. Tetapi, cukuplah aku memilihnya. Siapapun yang turut meramaikan diskusi kemahasiswaan pada masa itu bisa menelusuri jaringan perkawanan Andri di beberapa lembaga intra dan ekstra kampus. Singkatnya, pada 1998, ribuan mahasiswa di Makassar memenuhi jalan raya. Mereka menduduki gedung-gedung pemerintahan, merayakan kebebasan berhari-hari, berminggu-minggu, hingga sang diktator menyatakan kelemahannya, memilih mundur, dan mendeklarasikan kekalahannya. Tahun 2000, aku meninggalkan dunia kampus, walaupun sesekali masih diajak berdiskusi oleh mahasiswa. Tidak lama. Aku mulai berpikir untuk menikmati dunia di luar kampus. Tapi, tak sepenuhnya keluar dari dunia kampus. Salah satu pekerjaan yang marak dan cukup mudah memerolehnya adalah menjadi tenaga pengumpul data. Aku menjadi surveyor di beberapa lembaga penelitian, baik yang diadakan oleh lembaga penelitian di dalam maupun di luar kampus, semisal organisasi pemerintah daerah dan organisasi masyarakat sipil seperti LP3ES. Pada awal milenium itu, aku juga kalap menulis opini di media-media mainstream di Makassar. Aku menganggapnya sebagai proses belajar menulis dan, tentu saja, tergiur honornya yang tak seberapa. Saat itu, keinginan untuk melepaskan diri dari tanggungan keluarga semakin kencang yang berakibat perut semakin sering diketatkan. Tapi, sebenarnya tidak tersiksa betul, aku toh hidup dengan lingkaran kawan, yang walaupun telah lepas dari tanggungan orang tua mereka, beruntung memiliki pendapatan yang cukup. Tinggal pandai-pandai menempatkan diri saja. Misalnya, kalau giliran aku yang memeroleh honor penelitian, gantian aku memenuhi kebutuhan pokok kami di rumah kontrakan seorang kawan di BTP.

Masih pada masa awal milenium, kami mulai berpikir untuk mendirikan organisasi non-pemerintah. Entah mengapa, kawan-kawanku lebih banyak yang anti bekerja sebagai orang pemerintahan atau partai politik dan memilih jalur masyarakat sipil. Lahirlah, saat itu, Lembaga Kajian Ilmu Politik (LKIP), yang sayangnya tidak bertahan lama. Tahun 2003, aku pindah ke Palu. Seorang kawan mengajakku bekerja di salah satu LSM Internasional yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Tugasku adalah mengorganisir pemerintahan desa di belasan desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Lorel Lindu, Sulawesi Tengah. Di desa-desa itulah saya mulai banyak belajar dari orang-orang bersahaja, baik dari kelompok petani, pekebun, aparat desa, dan organisasi-organisasi non-formal lainnya. Selain itu, saya juga mulai bergaul dengan LPA Awam Green, Yayasan Jambata, dan beberapa lainnya. Saya belajar banyak bagaimana membangun gerakan reformasi agraria dengan cara yang lebih terencana dan mempertimbangkan aspek jangka panjang. Tahun 2005, saya memeroleh beasiswa S2 dari Ford Foundation dan memilih studi di Belanda, di Institute Social Studies. Setahun sebelum keberangkatan, kami ‘disiksa’ dengan beban belajar bahasa Inggris selama 10 bulan. Enam bulan di Jakarta dan empat bulan di Maastricht. Selama kuliah di ISS, September 2006 hingga Nopember 2007, setiap hari seolah bertemankan setumpukan artikel yang disediakan oleh para dosen. Aktivitas membaca yang amat melelahkan! Pada mata-mata kuliah tertentu ditambah dengan diskusi kelompok yang mesti selalu dihadiri dan wajib menyampaikan pendapat. Bagi orang Indonesia seperti saya, perbedaan cara hidup, baik di dalam maupun di luar kampus, cukup mengejutkan. Walau pada akhirnya bisa beradaptasi dan melewati nyaris seluruh masa-masa sulit saat studi. Sepulang dari kuliah S2, pada akhir 2007, saya dan kawan-kawan memutuskan mengaktifkan organisasi masyarakat sipil yang pernah kami bentuk dan mulai kembali berinteraksi dengan orang-orang yang kerap menamakan diri mereka sebagai rakyat biasa, atau orang kecil. Mereka adalah pedagangpedagang kecil di Pasar Terong. Di sinilah saya belajar banyak hal soal bagaimana hidup. Salah satu pelajaran penting untuk bertahan hidup adalah m-e-n-u-l-i-s! Ya, menulis. Bukankah dengan menulis maka kita sesungguhnya akan mempertahankan diri tetap hidup? Tapi, tentu saja bukan itu yang utama. Pandai menulis bisa mendatangkan kesenangan dan salah satu jenis kesenangan yang bisa dinikmati adalah uang. Tentu saya tidak mau naif. Alat lain untuk bertahan hidup adalah m-e-m-b-a-c-a! Ya, membaca. Beruntung, saya hidup di tengah kawan-kawan yang menyukai dan senang membaca buku. Buku-buku yang selalu berserakan di lantai atau meja perpustakaan kampus. Bukan karena ada banyak buku tentu saja yang membuat aku atau kami memilih membaca. Tetapi, adanya beberapa kawan yang selalu optimis bisa menularkan kebiasaan

membacanya kepada kami. Salah satu cara yang kerap ia lakukan adalah menyampaikan kutipan-kutipan penting bacaannya dan menyampaikan buku-buku terbaru yang baru saja dicernanya. Tapi itu belum cukup. Masih ada satu alat saya mempertahankan hidup. Itulah ilmu m-e-n-e-l-i-t-i. Ilmu ini tampaknya paling utama dari sekian ilmu. Karena menelitilah sesungguhnya alat buat saya mengumpulkan pengetahuan-pengetahuan dari banyak kepala, membaca, lalu menuliskannya. Siklus menulis-membaca-meneliti kemudian menjadi duniaku. Pada awal masuk ke Pasar Terong, nyaris setiap hari aku ke sana mengorek isi kepala orang-orang. Bahkan, pada saat paling genting sekalipun di pasar. Misalnya, menjelang dan saat-saat penggusuran pun sesungguhnya saya sedang membaca dan meneliti. Membaca fenomena sosial dan meneliti gerak kehidupan mereka. Nanti setiba aku di sebuah meja entah itu di rumah, di kantor, atau di kafe aku menuliskannya. Setelah tulisan selesai, aku segera mengumumkan, menerbitkan, atau bahkan memasarkannya. Biasanya, satu dua tulisan akan menjadi inspirasi bagi yang lain. Beberapa dari inspirasi itu menjelma menjadi ajakan untuk melakukan hal-hal, yang lagi-lagi, menuntut saya mengasah alat-alat bertahan hidupku, menulis, membaca, dan meneliti. Dari sanalah kebahagiaan datang, kadang dalam bentuk kesenangan karena bertambahnya ilmu, bertambahnya teman, bertambahnya kematangan diri, dan tentu saja bertambahnya isi dompet. Nah, tulisan ini selesai dan siap disebarkan. Begitulah hidup! Makassar, 27 April 2013

,

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful