Struktur Morfologis Bahasa Gaul “Paragram”

KELAS HI - I Rosy Meridian 1110412062 Devie Amalia Adam A 1110412087 1110412054

Untuk Mata Kuliah : Bahasa Indonesia

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN JAKARTA

” (Djoko Saryono. bahkan mensyaratkan adanya tutur dalam kehidupan manusia. makhluk bermain. “Manusia merupakan homo fabulans. homo ludens. dan homo symbolicum (makhluk bercerita. Kemampuan ini terkait dengan peran manusia sebagai makhluk sosial yaitu manusia melakukan interaksi untuk memenuhi segala keperluan hidupnya. . dalam berkomunikasi ini pula manusia menggunakan bahasa yang telah di sepakati.ABSTRAK Tujuan kami membuat makalah ini ialah untuk menambah pengetahuan dalam membuat makalah yang baik dan bena tanpa adanya plagiat. Dan. Untuk berinteraksi inilah manusia melakukan komunikasi. 2006:13) Salah satu potensi alamiah yang diberikan Tuhan kepada manusia ialah kemampuan manusia dalam berkomunikasi. dan makhluk pencipta lambang) yang mengisyaratkan. Dan dapat membedakan stuktur bahasa gaul yang digunakan pada masyaakat dikala ini.

Ragam bahasa gaul banyak dituturkan oleh remaja (anak muda) atau orang-orang yang terlibat dalam komunitas tertentu. sebuah kata tidak dapat dinyatakan salah atau benar. Arbitrerisasi sebagai salah satu sifat bahasa memiliki dampak dalam kebahasaan di Indonesia. Karena. sedangkan dalam bahasa Jawa artinya pisang. salah satu sifat bahasa yang lain ialah arbitrer atau manasuka. Saat ini muncul beragam fenomena bahasa gaul. Latar Belakang Manusia hidup tidak statis tapi dinamis. dapat dilihat banyak fenomena yang terjadi dalam hal kebahasaan di Indonesia. Seperti kata “duit” menjadi “tiud”. kepraktisan (tidak kaku) di dalam bertutur. atau agar bahasa tersebut hanya dapat dipahami oleh orang atau komunitas tertentu. “mobil” menjadi “libom”. mempunyai mempunyai beberapa fungsi yaitu: untuk mencapai keunikan atau kekhasan dalam bertutur. Secara sepihak. Dengan keadaan manasuka itulah bahasa Indonesia semakin beragam sesuai dengan ragam masyarakat bahasa yang menuturkannya. ada juga ragam bahasa gaul lainnya yang lebih rumit lagi. “haus” menjadi “suah”. Begitupun dalam hal berbahasa. dsb. kejadian itu memang bisa dimaklumi. Di antaranya ialah kata gaul yang dibentuk dengan memelesetkan kata dan memiliki intonasi atau langgam yang khas seperti cape de(c)h menjadi cuape de(c)h. Bahasa gaul memiliki beberapa ragam. Misalnya. kata “gedang” dalam bahasa Sunda artinya pepaya. Berbicara tentang masalah kedinamisan bahasa.Struktur Morfologis Bahasa Gaul “Paragram” A. “makan” menjadi “nakam”. Pada dasarnya. Karena. Ragam bahasa gaul. parafasia ialah cacat produksi bahasa yang . capcay de(c)h. Ada juga kata gaul yang dibentuk dengan cara pembalikan kata di dalam tuturan. dsb. setiap tempat atau wilayah mempunyai sistem bahasa masing-masing yang terkadang berbeda. Di dalam linguistik terkenal dengan istilah parafasia yang menurut Harimurti dalam kamus linguistik. Dan.

ternyata kalau dikaji lebih mendalam. Bahasa gaul memang unik dan menggelitik masyarakat bahasa khususnya anak muda untuk menuturkannya. mene ke tehe yang dibentuk dari kata awal mana ku tahu. Namun. capcay de(c)h. Bagaimanapun „anehnya‟ bahasa jenis itu yang terkadang jauh dari konteks aslinya apalagi sering berbenturan dengan aturan EYD. Di dalam makalah ini. Maka. Contohnya yaitu: Cape de(c)h yang dikembangkan menjadi berbagai bentuk seperti Cabe de(c)h. Apalagi kalau ini sudah berkaitan dengan kreativitas. ragam „bahasa aneh‟ itu juga mempunyai pola.. kita melihat bahwa ragam jenis ini menghasilkan kata-kata unik dan kadang kita bertanya-tanya tentang arti dari kata baru itu yang tidak ada di dalam kamus. . dsb. lagi-lagi berbicara tentang arbitrerisasi bahasa. bahasa jenis itu masih mempunyai banyak penutur yang meminati. penulis akan mencoba menganalisis tentang salah satu ragam bahasa gaul yaitu bahasa gaul yang dibentuk melalui pemelesetan kata. sutris yang dibentuk dari kata awal stres. Tapi. Dengan prinsip “semakin unik semakin menarik”. Secara sekilas. bahasa gaul dapat menjadi virus yang sangat cepat menyebar dan negatifnya ialah kalau bahasa jenis itu sampai mengacaubalaukan standar bahasa Indonesia yang sesuai EYD. dsb.terlihat dari pengacauan bentuk kata atau dari penukarannya dengan kata lain sehingga maknanya tidak dapat dipahami. cuape de(c)h. muncul orang-orang yang kreatif dengan cara menyusun kamus bahasa gaul.

Rumusan masalah Di dalam makalah ini. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa resmi kenegaraan. penulis merumuskan beberapa rumusan masalah yaitu: 1. bahkan mensyaratkan adanya tutur dalam kehidupan manusia. duniaesai.B. Kemampuan ini terkait dengan peran manusia sebagai makhluk sosial yaitu manusia melakukan interaksi untuk memenuhi segala keperluan hidupnya. Dan. dalam berkomunikasi ini pula manusia menggunakan bahasa yang telah di sepakati. bahasa persatuan. Apakah bahasa gaul atau kata yang dimodifikasi mempunyai pola yang ritmis? C. bahasa Indonesia pun menjadi simbol nasionalisme yang akan semakin memperkokoh bangsa. sekaligus menjadi identitas bangsa Indonesia (Nugroho Trisnu Brata. Dan. 2006:13) Salah satu potensi alamiah yang diberikan Tuhan kepada manusia ialah kemampuan manusia dalam berkomunikasi. makhluk bermain.” (Djoko Saryono.com). homo ludens. Apakah ragam bahasa gaul mempunyai pola sama seperti bahasa standar EYD yang mempunyai pola? 3. dan homo symbolicum (makhluk bercerita. Pada tahun 1928 bangsa Indonesia telah berikrar melalui pemudapemudinya bahwa bahasa Indonesia menjadi wujud pemersatu bangsa. Untuk berinteraksi inilah manusia melakukan komunikasi. dan makhluk pencipta lambang) yang mengisyaratkan. . Kerangka Teori “Manusia merupakan homo fabulans. Apakah arti dari kata-kata gaul atau kata yang dimodifikasi terdapat di dalam kamus? 2.

Nugroho (dalam duniaesai. (Harimurti Kridalaksana.Bahasa Indonesia sebagai identitas nasional sifatnya dinamis yaitu akan mengalami perubahan-perubahan entah itu perluasan atau penyempitan. subsistem gramatikal. berubah atau bahkan musnah. 1996:5). Dalam ragam ini dikenal beberapa istilah. Paragram adalah permainan kata-kata dengan mengubah hurup. Kridalaksana menyatakan bahwa bahasa sebagai fenomena yang memadukan bagian dunia makna dan bunyi mempunyai tiga subsistem. dalam Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Berikut ini ialah pengertiannya yang diambil dari glosari “Fonetik dan Fonologi” karya Yusuf suhendra dan Kamus Linguistik Karya Harimurti Kridalaksana. prosthesis): Penambahan vocal atau konsonan pada awal kata untuk memudahkan pelafalan. 1996:2). umpamanya di dalam humor. Bahasa gaul termasuk ragam nonstandar. Selain itu ada pula yang disebut paragram.(Harimurti Kridalaksana. Di antaranya ialah Parafasia (paraphasia) adalah cacat produksi bahasa yang terlihat dari pengacauan bentuk kata atau dari penukarannya dengan kata lain sehingga maknanya tidak dapat dipahami. Tentang fenomena dinamisasi bahasa dan keragamannya. yaitu subsistem fonologis. Selain itu. Tentang identitas ini. 1. . Berawal dari merosotnya atau musnahnya kebanggaan akan identitas. Protesis (prothesis. atau bahkan timbul istilah-istilah baru. 2001:154) Di dalam fonologi ada beberapa istilah tentang penyisipan dan penghilangan bunyi atau huruf ke dalam kata yang dikenal sebagai “PEPASA”. selalu berproses lewat wacana untuk berkomunikasi sehingga identitas selalu dinamis. Kridalaksana menyatakan “Dalam keadaannya sekarang ini bahasa Indonesia menumbuhkan varian-varian menurut pemakai yang disebut dialek dan varian menurut pemakaian yang disebut ragam bahasa” (Harimurti Kridalaksana. dan subsistem leksikal.com) juga menulis bahwa Identitas ini tidak stabil.

Epentesis (Epenthesis): Penyisipan bunyiatau huruf ke dalam kata. Proses kreatif dalam penciptaan bahasa atau kata baru Key Word “Semakin unik. mis. Paragog (Paragogue): Penambahanbunyi pada akhir kata untuk keindahan bunyi atau kemudahan lafal. penulis akan mencoba menggambarkan dulu proses kreatifitas dalam penciptaan sebuah kata unik. terutamakata pinjaman untuk menyesuaikan dengan pola fonologis bahasa peminjam. mis. 3. Sinkope (syncope): Hilangnya bunyi atau hurufdari tengah-tengah kata. 4. mis. Analisis Permasalahan Berikut ialah analisis tentang salah satu ragam bahasa gaul yaitu bahasa gaul yang penciptaanya menggunakan proses kreatif memelesetkan kata atau mempermainkan kata dengan mengubah huruf (paragram). 6.2. Penambahan bunyi [u] pada lampu. Sebelum masuk ke analisis contoh kata yang mengalami modifikasi kreatif.” Manusia selalu mencaricari sesuatu yang unik Paradigma Proses kreatif/modifikasi kata awal Tindakan/proses Hasil modifikasi/kata baru Hasil . semakin menarik. Selamat pagi! Menjadi pagi! 5. Penyisipan/ e/ dalam kelas. Apokope: Pemenggalan satu bunyi atau lebih di akhir kata. Latin domina menjadi Spanyol donna. Aferesis (aphaeresih): Penanggalan bunyi atau kata dari awal sebuah ujaran. mis. D.

Contohnya ialah kata gaul “Cape de(c)h” yang mengalami berbagai modifikasi. Cape de(c)h Cuape de(c)h Cabe de(c)h Capcay de(c)h Cakue de(c)h Cepe de(c)h Tape de(c)h (?) Ket: (?) = memungkinkan masih adanya variasi baru Jadi.Implementasi dalam salah satu ragam bahasa gaul yaitu pemelesetan kata. proses kreatif itu bukan berbentuk lurus—input-process-output— melainkan berbentuk siklus yaitu input-process-output-input-process-output atau dengan kata lain yaitu saat terbentuknya hasil dari modifikasi kata. masih . Contoh: Cape de(c)h Diasosiasikan dengan keadaan atau fenomena lingkungan Misal: Ada yang berjualan cakue Proses kreatif/modifikasi kata awal Cakue de(c)h Uniknya bahasa gaul ialah bahasa jenis ini selalu diperbaharui dengan terus mencari-cari kata yang baru atau mengalami modifikasi yang beraneka ragam. Modifikasi bahasa gaul bisa disebabkan oleh adanya asosiasi yaitu menautkan antara satu hal dengan hal lainnya.

yaitu subsistem fonologis. 1996:5). kata-kata baru mempunyai pola pengucapan yang sama dengan kata awal. Dalam linguistik ada istilah yang disebut paragram yaitu permainan katakata dengan mengubah hurup. Jadi tak cocok kalau seandainya kata “Cakue de(c)h menggunakan pola pengucapan “mene ke tehe”. Pengucapan „cakue de(c)h‟ tepatnya ya menggunakan pola pengucapan „cape de(c)h. Apakah bahasa gaul ragam “pemelesetan kata” mempunyai pola yang menyusunnya? “Bahasa sebagai fenomena yang memadukan bagian dunia makna dan bagian dunia bunyi mempunyai tiga subsistem. umpamanya di dalam humor. . Penulis akan mencoba menganalisis melalui beberapa contoh kata.memungkinkan kata itu dimodifikasi lagi atau diperbaharui lagi begitu seterusnya dan bergerak sesuai dengan dinamisasi bahasa. Cape de(c)h Cuape de(c)h Cabe de(c)h Capcay de(c)h Cakue de(c)h Cepe de(c)h Tape de(c)h (?) Ket: (?) = memungkinkan masih adanya variasi baru Cape de(c)h adalah kata nonstandar atau kata gaul yang mengalami berbagai modifikasi. dan subsistem leksikal” (Harimurti Kridalaksana. subsistem gramatikal. Dilihat dari kata-kata di atas.

Di dalam Fonologi. Penulis kembali tegaskan bahwa meskipun kata-kata hasil modifikasi dari cape de(c)h tak beraturan atau memiliki pola yang tidak harmonis.? Kata di atas terlihat sangat tidak beraturan.penghilangan pe dan penambahan kue. Capcay de(c)h ----. atau cakue.perubahan a menjadi e Tape de(c)h ------------. penambahan bunyi [u] disebut epentesis (epenthesis) yaitu penyisipan bunyi atau huruf ke dalam kata. Jadi. Cape berbeda dengan cabe.penghilangan e dan penambahan cay. Cape de(c)h Cape de(c)h Cakue de(c)h ----. orang tak . capcay. Bagaimanapun perubahan kata-kata tersebut. Kata cape menjadi cakue atau capcay. Namun.perubahan p menjadi b Cepe de(c)h ------------. tape. selama kata-kata hasil modifikasi itu enak dituturkan dan masih ada usaha untuk menautkan. sesungguhnya masyarakat tahu bahwa arti kata-kata yang dihasilkan pun berbeda. Modifikasi kata-kata itu banyak terjadi disebabkan oleh asosiasi. Apakah penambahan bunyi [u] ini tetap dan menjadi pola pada kata lainnya? Dapat kita lihat dari hasil modifikasi bahwasannya hasil modifikasi berbeda-beda. Meskipun. maka kata itu pun akan digunakan oleh masyarakat bahasa yang menuturkaannya. Mungkin modifikasi itu lebih tepat apabila disebut penghilangan beberapa bunyi dan penambahan beberapa bunyi baru. Namun. hasil modifikasi dari „cape de(c)h‟ hanya tepat apabila menggunakan pola pengucapan „cape de(c)h dan bukan pola pengucapan „meneketehe‟. Cape de(c)h Cape de(c)h Cape de(c)h Cabe de(c)h ------------. baik itu penambahan atau pengurangan.perubahan c menjadi t Contoh-contoh di atas seperti menunjukkan bahwa pola kata itu cukup ritmis yaitu mengubah satu bunyi dengan bunyi yang lainnya.Dalam modifikasi Cape de(c)h menjadi Cuape de(c)h ada penambahan bunyi baru yaitu [u]. katakata tersebut mempunyai kesamaan pola dalam pengucapan. Pengubahannya sangatlah jauh sekali. Namun. bagaimana dengan kata di bawah ini? Cape de(c)h Cape de(c)h Cakue de(c)h --------.? Capcay de(c)h -------.

belum ada penutur yang menggunakan modifikasi macam itu. Namun. Mungkin kata-kata yang dicontohkan tadi bisa dimasukkan ke dalam jenis paragram atau permainan kata.Mini ki tihi Mana ku tahu -------------. Mana ku tahu mene ke tehe (meneketehe) (?) Mene ke teng-teng (meneketengteng) (?) Ket: (?) = memungkinkan masih adanya variasi baru Mana ku tahu dimodifikasi menjadi mene ke tehe memperlihatkan pola yang ritmis yaitu perubahan yang terjadi pada vokal di kata awal. u.Munu ku tuhu Mana ku tahu -------------.Mana ka taha Mana ku tahu -------------. . Yang orang pikirkan ialah enak tidaknya atau cocok tidaknya intonasi khas kata-kata tersebut saat dituturkan. berbeda dengan kata-kata sebelumnya. Mana ku tahu -------------. Sebagai pembanding. Selain pola yang ritmis seperti itu. o).Mono ko toho Mungkinkah? Mungkin saja. Namun.menghiraukan itu. kalau mencoba mengamati lebih jauh.mene ke teng-teng (meneketengteng). adakah modifikasi lain yang terbentuk dan nampak tak beraturan? Mana ku tahu ---------.‟ Mana ku tahu ---------. i.Mene ke tehe Vokal yang terdapat dalam „mana ku tahu‟ diseragamkan menjadi bunyi vokal „e‟. penulis pun akan menganalisis pelesetan kata lainnya yang mengalami modifikasi. Dari kata awal mana ku tahu kemudian menjadi mene ke teng-teng tidak ritmis. Pola yang ritmis dan memungkinkan adanya kreatifitas lain yaitu penggantian bunyi vokal dalam „mana ku tahu‟ dengan bunyi vokal lainnya (a.

Okeh. Oke ----. Seperti dua kata sebelumnya. Yang pertama ialah berubahnya mana ku tahu menjadi mene ke tehe kemudian diubah lagi menjadi mene ke teng-teng. penambahan [h] di akhir kata (paragog) dan penghilangan bunyi [k] dari tengah kata (sinkop) pada suku kata ke dua. Dan. Penyisipan bunyi vokal [a] di tengah kata (epentesis). ini merupakan „rasa‟ sang penutur. mungkinkah akan ada lagi kreasi lainnya yang meskipun tak memiliki pola yang harmonis? Mungkin saja. selama ide-ide kreatif terus bermunculan. OK (Oke) Okeh Oceh Okay Otreh Ocey (?) Ket: (?) = memungkinkan masih adanya variasi baru Oke ------. Selama ada penutur yang menciptakan kreasi baru. Mana ku tahu Mene ke tehe Mene ke teng-teng Terlepas dari harmonis tidaknya pola yang terbentuk di dalam ragam bahasa gaul. katakata hasil modifikasi „oke‟ mempunyai intonasi khas saat dituturkan. Dan.Oceh. Penambahan bunyi konsonan [h] di akhir kata pada suku kata ke dua (paragog) Oke -----. OK (Oke) juga mengalami modifikasi Meskipun tidak mempunyai pola yang teratur dan terlihat tidak harmonis.„mene ke teng-teng‟ mengalami dua kali modifikasi.Okay. . lagilagi ini merupakan persoalan „rasa‟ di dalam tuturan. Penyisipan konsonan [c] (epentesis). Jadi.

.. perubahan terjadi dengan penambahan hurup vokal u dan penggantian vokal .. dan penghilangan vokal e (sinkop) pada suku kata ke dua. Karena.2.. [r] di tengah kata (epentesis). Oke -----. dan penambahan [h] pada akhir kata (paragog) pada suku kata ke dua Oke ------. Penyisipan bunyi konsonan [c] di tengah kata (epentesis) dan [y] di akhir kata (paragog) pada suku kata ke dua. kata-kata tersebut baru dan termasuk ragam bahasa nonstandar.Ocey.sutris Kata stres terdiri dari satu suku kata (syllable) yaitu stres sedangkan sutris terdiri dari dua suku kata yaitu su-tris. Stres ------. Bagaimana dengan arti setelah mengalami modifikasi? Mengenai arti dari kata-kata yang telah mengalami modifikasi. Echols dan Hassan Shadily. 2005: 561). penyisipan bunyi konsonan [t]. katakata itu tidak dapat ditemukan di dalam kamus. Di dalam kamus. Kata terakhir yang mengalami modifikasi ialah „stres‟. Stres Sutris (?) Ket: (?) = memungkinkan masih adanya variasi baru Stres merupakan kata yang diadaptasi dari bahasa ingris yaitu „stress‟.Otreh.Penambahan konsonan [y] di akhir kata (paragog).” (John M. stress adalah “ 1. tekanan. Kalau dilihat dari jumlah hurup dalam satu kata. ketegangan.

manusia adalah subyek yang melakukan proses penciptaan bahasa. capcay de(c)h yang disamakan dengan cape de(c)h. masih memungkinkan munculnya variasi-variasi baru. Pola yang dihasilkan dari modifikasi kata gaul tidak begitu ritmis dan tidak harmonis. Namun. jadilah stres menjadi sutris. kita pun tahu bahwa pemuda-pemuda Indonesia zaman dahulu telah berikrar melalui sumpah pemuda. Dan. penciptaan kata itu pun tidak melihat aturan dan lebih mengandalkan „rasa‟ atau kenyamanan saat dituturkan. Proses pembentukan kata-kata unik atau bahasa gaul akan terus berlangsung dan prosesnya seperti siklus yaitu input-process-output-inputprocess-output dan seterusnya. . Bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa yang disepakati sebagai bahasa pemersatu bangsa. oceh disamakan dengan oke. Karena. Jadi. Meskipun „kata-kata‟ yang mengalami modifikasi itu tidak ada di dalam kamus. Maka. Jadi. Seperti kata sutris yang diartikan sama dengan stres. E. penutur sangat senang menggunakannya sehingga itu menjadi sebuah pembiasaan dan menganggap kata awal dan kata hasil modifikasi sama saja artinya.e menjadi i. Dinamisasi dan arbitrerisasi bahasa memungkinkan munculnya keragaman bahasa atau modifikasi bahasa. dsb. Dan. manusia sebagai pencipta lambang akan terus berproses mencari sesuatu yang baru. Hal itu karena. Kreativitas dalam penciptaan penciptaan bahasa baru masih memungkinkan untuk terus terjadi. ini juga berkaitan dengan „sense of unique’ yang ingin ditampilkan sang pencipta bahasa. Simpulan Manusia adalah makhluk bercerita dan makhluk pencipta lambang.

Dan.meskipun bahasa semakin beraneka ragam kita harus tetap menjunjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. . harus cerdas dalam menggunakan ragam bahasa.

dan Hassan Shadily. Harimurti. Kamus Inggris Indonesia.DAFTAR PUSTAKA Alwi. Yusuf. Pembentukan Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka Apit (2006). John M.html. 2006. Fonetik dan Fonologi. Bahasa dan dinamika dalam Masyarakat. Saryono. Harimurti. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: PT Gramedia Kridalaksana. Kridalaksana. Malang: Pustaka Kayutangan. 2001. Ketidaksadaran-akan-Sebuah-Kemurnian-bahasa-Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia.com [1 Juni 2008] Barata.wordpress. Djoko. Tersaji dalam http://www. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1998. 2005. [1 Juni 2008] Echols. Tersaji dalam http://apit. Hasan. Kamus Linguistik. Pergumulan Estetika Sastra di Indonesia. 1996.duniaesai. 2005. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama .____ . Nugroho Trisnu.com/antro/antro2. suhendra. dkk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful