Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati, sehingga memungkinkan

terjadinya penjalaran infeksi ke struktur di sekitarnya. Pertahanan pertama tersebut adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran pernapasan, mampu melokalisasi infeksi yang terjadi. Bila sawar tersebut runtuh, maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. Runtuhnya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal, yaitu suatu komplikasi yang relatif tidak berbahaya. Bila ke arah kranial, akan menyebabkan abses ekstradural, tromboflebitis sinus lateralis, meningitis dan abses otak. (unhas) Bakteri dalam susunan saraf pusat akan mengaktifkan sel lain seperti mikroglia, yang dapat mensekresi IL-1 dan TNF (Tumor Necrosis Factor) alpha yang akan dipertahankan sebagai antigen dan dalam jalur imunogenik ke limfosit. Reaksi imun intra susunan saraf pusat ini memicu sebuah sirkulus sejak perangsangan netrofil untuk melepaskan protease dan mediator toksin lain seperti radikal bebas O2, yang selanjutnya akan meingkatkan jejas inflamasi pada sawar darah otak, sehingga memudahkan lebih banyak bakteri dan netrofil yang berada pada sirkulasi untuk masuk ke cairan serebrospinalis. Akhirnya respon inflamasi yang timbul pada meningitis bakterial akan mengganggu sawar darah otak (Blood Brain Barrier), menyebabkan vasogenik edema, hidrosefalus, dan infark serebral. (usu). Sedangkan mekanisme bagaimana bakteri dapat menembus sawar darah otak sampai saat ini belum jelas. Adanya komponen dinding sel bakteri yang dilepaskan ke dalam cairan serebrospinal merangsang produksi dari sitokine inflamasi seperti Interleukin 1 dan 6, prostaglandin, dan TNF. Semua faktor inilah yang barangkali menginduksi terjadinya inflamasi dan kerusakan sawar darah otak. (usu) Kompllikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering adalah meningitis. Keadaan ini dapat terjadi oleh otitis media akut maupun kronis, serta dapat terlokalisasi, atau umum (general). Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip. Pada pemeriksaan likuor serebrospinal terdapat bakteri pada bentuk umum

(general), sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri. (buku ijo). Meningitis dapat terjadi disetiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi telinga. Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran langsung, jarang melalui tromboflebitis. Pada waktu kuman menyerang biasanya streptokokkus, pneumokokkus, atau stafilokokkus atau kuman yang lebih jarang H. Influenza, koliform, atau piokokus, menginvasi ruang sub arachnoid, piaarachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang

menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal. (usu) Perkembangan komplikasi intrakranial dari meningitis otogenik dapat terjadi melalui tiga mekanisme, yaitu : 1. Penyebaran langsung infeksi melalui tulang yang berdampingan dengan selaput otak, misalnya: osteomyelitis atau cholesteatoma. 2. Penyebaran infeksi retrograde misalnya thrombophlebitis. 3. Melalui jalan masuk anatomi normal, oval window ataupun round window ke meatus akustikus internus, kokhlear dan aquaduktus vestibularis, dehisensi terhadap tulang yang tipis akibat malformasi congenital. (usus) Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan: 1. Penyebaran ke selaput otak Penyebaran ke selaput otak dapat terjadi akibat dari beberapa faktor; melalui jalan yang sudah ada, seperti garis fraktur tulang temporal, bagian tulang yang lemah atau defek karena pembedahan, dapat memudahkan masuknya infeksi. Labirin juga dapat dianggap sebagai jalan penyebaran yang sudah ada begitu telah terinfeksi, menyebabkan mudahnya infeksi ke fosa kranii media. Jalan lain penyebaran ialah melalui tromboflebitis vena emisaria menembus dinding mastoid ke dura dan sinus durameter. Tromboflebitis pada susunan kanal haversian merupakan osteitis atau osteomielitis dan merupakan faktor

utama penyebaran menembus sawar tulang daerah mastoid dan telinga tengah. 2. Penyebaran menembus selaput otak Dimulai begitu penyakit mencapai dura, menyebabkan pakimeningitis. Dura sangat resisten terhadap penyebaran infeksi, akan menebal, hiperemi, dan lebih melekat ke tulang. Jaringan granulasi terbentuk pada dura yang terbuka, dan ruang subdura yang berdekatan terobliterasi. 3. Penyebaran ke ke jaringan otak Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah diantara ventrikel dan permukaan korteks atau tengah lobus serebelum. Cara penyebaran infeksi ke jaringan otak ini dapat terjadi baik akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi ke ruang Virchow Robin yang berakhir didaerah vaskular subkortek. (unhas) Streptococcus pneumonia merupakan bakteri yang predominant sebaga penyebab meningitis otogenik. Kaftan et al mengatakan streptococcus pneumonia paling sering sebagai penyebab komplikasi intrakranial ototos media sekitar 64% dan Barry et al mengatakan sebanyak 69%. (usu) Haemophilus influenzae dan pseudomonas aeroginosa merupakan penyebab kedua sebagai penyebab meningitis otogenik. Sedangkan

mikroorganisma lainnya yang sering menyebabkan meningitis otogenik adalah: Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, Proteus vulgaris,

Salmonella, Mycobacterium, Aspergillus dan Candida sebagai penyebab yang jarang. (usu) Bodur ets al menemukan Proteus vulgaris sebagai kuman penyebab meningitis pada otitis media kronik, sednagkan Chlostridium spp ditemukan pada isolasi tersebut pada abscess serebri. Kangsanarak et al menemukan Proteus spp, Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcuc spp merupakan mikroorganisma yang paling sering diisolasi pada otitis media suppurativa yang bisa menyebabkan komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. (usu)

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful