GIZI BURUK TIPE MARASMUS-KWASIORKOR Presentator : dr.

Amirolevia Aviska

Hari/ Tanggal : Selasa/ 20 November 2012 Pembimbing Pendamping : dr. Dina Olivia, Sp.A : dr. Fitriana Siregar

PENDAHULUAN Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < -3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.1 Khusus untuk masalah Kurang Energi Protein (KEP) atau biasa dikenal dengan gizi kurang atau yang sering ditemukan secara mendadak adalah gizi buruk terutama pada anak balita, masih merupakan masalah yang sangat sulit sekali ditanggulangi oleh pemerintah, walaupun penyebab gizi buruk itu sendiri pada dasarnya sangat sederhana yaitu kurangnya intake (konsumsi) makanan terhadap kebutuhan makan seseorang. Berdasarkan Riset

Kesehatan Dasar tahun 2010, sebanyak 13% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6% anak sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek. Keadaan ini berpengaruh kepada masih tingginya angka kematian bayi. Menurut WHO lebih dari 50% kematian bayi dan anak terkait dengan gizi kurang dan gizi buruk, oleh karena itu masalah gizi perlu ditangani secara cepat dan tepat.2 Salah satu cara untuk menanggulangi masalah gizi kurang dan gizi buruk adalah dengan menjadikan tatalaksana gizi buruk sebagai upaya menangani setiap kasus yang ditemukan. Pada saat ini seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi tatalaksana gizi buruk menunjukkan bahwa kasus ini dapat ditangani dengan dua pendekatan. Gizi buruk dengan komplikasi (anoreksia, pneumonia berat, anemia berat, dehidrasi berat, demam tinggi dan penurunan kesadaran) harus dirawat di rumah sakit, Puskesmas perawatan, Pusat Pemulihan Gizi (PPG) atau Therapeutic Feeding Center (TFC), sedangkan gizi buruk tanpa komplikasi dapat dilakukan secara rawat jalan.2

1

TUJUAN Tujuan penulisan Laporan kasus ini adalah untuk melaporkan Gizi Buruk Tipe MarasmusKwasiorkor pada anak perempuan berusia 1 tahun 8 bulan.

PENGERTIAN GIZI BURUK Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi tingkat berat pada anak berdasarkan indeks berat badan menurut tinggi badan (BB/TB) < -3 SD dan atau ditemukan tanda-tanda klinis marasmus, kwashiorkor dan marasmus-kwashiorkor.1 Gizi buruk merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan keadaan yang diakibatkan oleh kurangnya zat gizi terutama defisiensi protein dan energi, biasa disebut dengan istilah kekurangan energi dan protein (KEP). Keadaan ini sangat umum terjadi di seluruh dunia dan mempengaruhi sekitar 800 juta orang dewasa dan anak-anak. Akan tetapi, dampak yang terburuk terjadi pada anak-anak karena dengan menderita gizi buruk mereka mengalami kegagalan pertumbuhan.3 PENILAIAN STATUS GIZI3,4 Status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan nutrisi dalam bentuk variabel tertentu, merupakan indeks yang statis dan agresif, sifatnya kurang peka untuk melihat terjadinya perubahan dalam waktu pendek, misalnya bulan. Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dilakukan melalui empat cara, yaitu secara antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu survei konsumsi makanan, statistik vital, dan ekologi. Salah satu cara melakukan penilaian status gizi pada kelompok masyarakat dan yang paling umum digunakan di tingkat puskesmas dan posyandu adalah dengan pengukuran tubuh manusia yang dikenal dengan antropometri. Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropometri disajikan dalam bentuk indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai berikut :

2

c. 2 tahun. penentuan umur anak perlu dihitung dengan cermat. atau juga indeks BB/TB (berat badan menurut tinggi badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Umur Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi. Tinggi Badan Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk menentukan status kesehatan manusia.a. 1. Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan lingkungan yang tidak baik. Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang menurun. Berat badan paling banyak digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran. Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan sensitif/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat menjadi tidak berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Oleh sebab itu. Berat Badan Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran massa jaringan. dan akibat tidak sehat yang menahun. Penggunaan indeks BB/U. yang dalam penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. termasuk cairan tubuh.5 tahun. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh. Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu. Kesalahan yang sering muncul adalah adanya kecenderungan untuk memilih angka yang mudah seperti 1 tahun. b. kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U (berat badan menurut umur) atau melakukan penilaian dengan melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran dilakukan. dan BB/TB merupakan indikator status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi tubuh. 1 bulan adalah 30 hari. artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan. Tinggi badan dinyatakan dalam bentuk indeks TB/U (tinggi badan menurut umur). hanya saja tergantung pada ketetapan umur. TB/U. kemiskinan. Dinyatakan 3 .

menurut standard WHO bila prevalensi kurus < -2SD diatas 10% menunjukkan suatu daerah tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung dengan angka kesakitan. BB/TB Standart Baku Antropometeri WHO-NCHS No 1 Indeks yang dipakai BB/U Batas Pengelompokan < -3 SD .dalam BB/TB. TB/U.3 s/d <-2 SD . Menurut Waterlow. et al.5 Sebutan Status Gizi Gizi buruk Gizi kurang Gizi baik Gizi lebih Sangat Pendek Pendek Normal Tinggi Sangat Kurus Kurus Normal Gemuk 4 . Data WHO-NCHS indeks BB/U.R. (Ali A. yaitu persentil (percentile) dan skor simpang baku (standard deviation score = z).2 s/d +2 SD > +2 SD Sumber : Depkes RI 2004. 2008) Tabel 1. sedangkan dinegara untuk anak-anak yang populasinya relatif kurang lebih baik menggunakan skor simpang baku.. dan BB/TB disajikan dalam dua versi. gizi anak-anak dinegara-negara yang populasinya relatif baik.2 s/d +2 SD > +2 SD 3 BB/TB < -3 SD . sebaiknya digunakan chart persentil.3 s/d <-2 SD .TB/U.3 s/d <-2 SD . Penilaian Status Gizi berdasarkan Indeks BB/U.2 s/d +2 SD > +2 SD 2 TB/U < -3 SD .

Pada KMS tidak ada garis pemisah KEP berat/gizi buruk dengan KEP sedang. KEP berat/gizi buruk bila hasil BB/U < 60% baku median WHO-NCHS. Untuk tingkat puskesmas. Hal ini terjadi karena penyapihan mendadak. Tanpa mengukur BB bila disertai edema yang bukan karena penyakit lain adalah KEP berat gizi buruk tipe kwashiorkor. Marasmus Kata ”marasmus” berasal dari bahsa Yunani yang artinya kurus kering. Kurus sehingga hampir tidak ada lemak dibawah kulit c. Marasmus merupakan defisiensi intake energi yang umumnya terjadi pada anak-anak sebelum 18 bulan karena terlambat di beri makanan tambahan. Otot-otot berkurang dan melemah d. sehingga dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. sehingga untuk menentukan KEP berat/gizi buruk digunakan tabel BB/U baku median WHO-NCHS.5.KRITERIA GIZI BURUK 2. b.6 Keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) ini sering disebut dengan Kurang Energi Protein (KEP). Penyakit ini sering terjadi pada sosial ekonomi yang relatif rendah. Gejala klinis berat/ gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan sebagai marasmus. KEP ringan bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak pada pita warna kuning. gejala klinis yang ditemukan hanya anak tampak kurus. 1. formula pengganti ASI yang terlalu encer dan tidak higienis atau sering terkena infeksi terutama gastroentritis. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. Perut cekung i. Cengeng dan rewel h. Kulit tidak elastis dan keriput f. c. Keterlambatan pertumbuhan yang parah b. Wajah seperti orang tua g. kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor. Iga gambang 5 . penentuan KEP dilakukan dengan menimbang BB anak dibandingkan dengan umur menggunakan KMS dan tabel BB/U baku median WHO-NCHS. KEP sedang bila hasil penimbangan berat badan pada KMS terletak di Bawah Garis Merah (BGM). Untuk KEP ringan dan sedang. Rambut jarang dan tipis e.

d. ISPA. moonface dan gangguan psikomotor b. terjadi pada anak yang terlambat pada masa penyapihan. Adapun gejala yang ditimbulkan adalah: a. Anak menjadi apatis. Sering terjadi dehidrasi. Oedema (pembengkakan). 6 . kulit bersisik d. lebih nyata diperiksa pada posisi berdiri atau duduk h. Sering disertai defisiensi vitamin A dan D. Cecile Williams tahun 1933. Hati membesar dan berlemak e. umumnya akut. b. Terlihat sangat kurus dan atau. BB/TB: < -3 SD dan atau. tuberkulosis. cacingan berat dan penyakit kronis lainnya. Kulit dan rambut mengalami depigmentas. 2. Sering disertai anemia dan xeroftamia. Hal ini menyebabkan komposisi makanan terutama makanan yang mengandung protein kurang dikonsumsi. k. anemia dan diare. sebagai berikut : 1. LILA < 11. Adanya edema dan atau. Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman dan terkelupas. dengan BB/U <60% baku median WHO-NCHS disertai edema yang tidak mencolok. Otot mengecil (hipotrofi). i. 3. Gizi buruk dapat disertai dengan ada atau tidaknya komplikasi.5 cm untuk anak 6-59 bulan. Gizi Buruk Tanpa Komplikasi a. Penyakit ini lebih banyak diderita pada anak berumur 2-3 tahun. Istilah kwarshiorkor pertama diperkenalkan oleh Dr. Sering disertai: penyakit infeksi. Marasmus-Kwarshiorkor Marasmus-kwarshiorkor merupakan gabungan dari keduanya dan tanda-tanda adalah gejala dari keduanya. f. Pandangan mata sayu g. tidak mau makan. Kwarshiorkor Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana yang artinya penyakit yang terjadi ketika bayi berikutnya lahir. suka merengek c.j. c.

berikan 50 ml larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam 50 ml air) secara oral atau melalui NGT. Dehidrasi berat e. siang dan malam selama minimal dua hari. Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal pemberian F-75. Pneumonia berat c. Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat. atau larutan glukosa/larutan gula pasir 50 ml dengan NGT. Jika fasilitas setempat tidak memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah. Anemia berat d. 1. berikan larutan glukosa 10% secara intravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB. Tatalaksana Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya memungkinkan.2. Beri antibiotik. Jika anak tidak sadar (letargis). Penurunan kesadaran PENATALAKSANAAN6. Anoreksia b. Hipoglikemia Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk rumah sakit. Lanjutkan pemberian F-75 setiap 2–3 jam. 7 .7 Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 2 fase yaitu: fase stabilisasi dan fase rehabilitasi. maka semua anak gizi buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera ditangani sesuai panduan. Gizi Buruk dengan Komplikasi Gizi buruk dengan tanda-tanda tersebut di atas disertai salah satu atau lebih dari tanda komplikasi medis berikut: a. Demam sangat tinggi f.

ukur suhu tiap setengah jam. • Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl). lakukan rehidrasi lebih dulu). Tutup dengan selimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah langsung kepada anak) atau lampu di dekatnya. mungkin hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia. atau letakkan anak langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode kanguru). Pencegahan Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam.5° C. 8 .Pemantauan Jika kadar gula darah awal rendah. Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut. ulangi pemberian larutan glukosa atau gula 10%. Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). mulai sesegera mungkin atau jika perlu.     Beri antibiotik sesuai pedoman. ulangi pengukuran kadar gula darah setelah 30 menit.5° C Tatalaksana Segera beri makan F-75 (jika perlu. Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36. 2. Jika digunakan pemanas. Hipotermia Diagnosis Suhu aksilar < 35. • Jika suhu rektal < 35.5° C atau lebih. Pemantauan Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi 36. ulangi pengukuran kadar gula darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan hipoglikemia). Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia. Pemberian makan harus teratur setiap 2-3 jam siang malam. letakkan lampu pijar 40 W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak. terutama pada malam hari. Bila menggunakan lampu listrik. lakukan rehidrasi lebih dulu.5° C atau bila kesadaran memburuk.

cairan yang lebih tepat adalah ReSoMal (lihat resep di bawah). Anak gizi buruk dengan diare cair. . Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak mau. hanya dengan menggunakan gejala klinis saja. terutama di malam hari. 3. Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam. mulai sesegera mungkin. setiap jam selama 10 jam. atau selama pemeriksaan medis). Untuk usia < 1 th: 50-100 ml setiap buang air besar.beri 5 ml/kgBB setiap 30 menit untuk 2 jam pertama. siang dan malam. anggap dehidrasi ringan. Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat pada anak dengan gizi buruk. Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat. Jika masih diare.setelah 2 jam. jaga agar anak dan tempat tidur tetap kering.Pencegahan Letakkan tempat tidur di area yang hangat. . Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah mandi. kecuali pada kasus dehidrasi berat dengan syok. berikan ReSoMal 5–10 ml/kgBB/jam berselang-seling dengan F75 dengan jumlah yang sama. di bagian bangsal yang bebas angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut. Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam sesuai. Dehidrasi Diagnosis Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk. Tatalaksana Jangan gunakan infus untuk rehidrasi. volume tinja yang keluar dan apakah anak muntah. 9 . usia ≥ 1 th: 100-200 ml setiap buang air besar. lakukan lebih lambat disbanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik. sepanjang hari. Beri ReSoMal. secara oral atau melalui NGT. bila gejala dehidrasi tidak jelas. Ganti pakaian dan seprai yang basah. Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium rendah. beri ReSoMal setiap kali diare.

Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi. Tatalaksana Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan Magnesium. maka dapat diberikan makanan yang merupakan sumber mineral tersebut. 40 mmol K. Dapat pula diberikan MgSO4 40% IM 1 x/hari dengan dosis 0. dan Cu. dan 3 mmol Mg per liter. maksimum 2 ml/hari. walaupun kadar natrium serum mungkin rendah. 2.5 mmol Na.5 g KCl. sebagai pengganti ReSoMal dapat dibuat larutan sebagai berikut: Bahan Oralit Gula Pasir Bubuk KCL Ditambah air sampai menjadi Jumlah 1 sachet (200ml) 10 gr 0.3 ml/kg BB. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh.9 g trisodium citrate dihydrate.RESEP RESOMAL ReSoMal mengandung 37. 10 . 4.5 g glukosa dalam 1L Bila larutan mineral-mix tidak tersedia. 1. Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl). 13. Bahan Oralit WHO* Gula Pasir Larutan Mineral-Mix Ditambah air sampai menjadi Jumlah 1 sachet (200ml) 10 gr 8 ml 400 ml *2. Jangan obati edema dengan diuretikum.8 gr 400 ml Oleh karena larutan pengganti tidak mengandung Mg. Zn. Elektrolit Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan magnesium yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih untuk memperbaikinya. Edema dapat diakibatkan oleh keadaan ini.6 g NaCl. yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix yang ditambahkan ke dalam F-75. F-100 atau ReSoMal.

Jika anak masih mendapat ASI. gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam.Pemantauan Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis setiap setengah jam selama 2 jam pertama. cekung mata dan fontanel berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda membaiknya hidrasi. kemudian tiap jam sampai 10 jam berikutnya. Pencegahan Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan pada anak dengan gizi baik (lihat Rencana Terapi A pada halaman 147). kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai pengganti larutan oralit standar. Kembalinya air mata. 5. mulut basah. Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair. frekuensi napas dan nadi akan berkurang dan mulai ada diuresis. sehingga sangat penting untuk memantau berat badan. padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering terjadi. anggaplah semua anak dengan gizi buruk mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani dengan antibiotik. Waspada terhadap gejala kelebihan cairan. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit). Periksalah: • frekuensi napas • frekuensi nadi • frekuensi miksi dan jumlah produksi urin • frekuensi buang air besar dan muntah Selama proses rehidrasi. seringkali tidak ada. yang sangat berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian. lanjutkan pemberian ASI. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi berat. Pemberian F-75 sesegera mungkin. 11 . Infeksi Pada gizi buruk. hentikan pemberian cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam. Oleh karena itu. tetapi anak gizi buruk seringkali tidak memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi.

Mikronutrien Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral. DITAMBAH: • Gentamisin (7. beri Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5 hari) sehingga total selama 7 hari. karena zat besi dapat memperparah infeksi. Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase rehabilitasi). Meskipun sering ditemukan anemia. Jika ada komplikasi (hipoglikemia. beri: • Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari). Tatalaksana Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu: Multivitamin Asam folat (5 mg pada hari 1. Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari). jangan beri zat besi pada fase awal. tunda pemberian gentamisin dosis ke-2 sampai ada diuresis untuk mencegah efek samping/toksik gentamisin Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam.Tatalaksana Berikan pada semua anak dengan gizi buruk: Antibiotik spektrum luas Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum pernah mendapatkannya. dan selanjutnya 1 mg/hari). jika tidak tersedia amoksisilin. atau anak terlihat letargis atau tampak sakit berat). 12 . atau jelas ada infeksi. atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Catatan: Jika anak anuria/oliguria. beri Kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12 jam selama 5 hari. tambahkan Kloramfenikol (25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari. hipotermia.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7 hari. Pilihan antibiotik spektrum luas Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata. mulai fase rehabilitasi). 6. dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8 jam selama 5 hari) ATAU. Tembaga (0. tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua. Tunda imunisasi jika anak syok.3 mg Cu/kgBB/hari).

Makanan awal Pada fase awal. • Berikan secara oral atau melalui NGT. 13 . Pemantauan Pantau dan catat setiap hari: • Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan. 7. hindari penggunaan parenteral. • Muntah • Frekuensi defekasi dan konsistensi feses. dengan dosis seperti di bawah ini : Umur < 6 bulan 6 – 12 bulan 1 – 5 tahun Dosis (IU) 50. jadwal di atas dapat dipercepat menjadi 2-3 hari.000 (1 kapsul merah) Jika ada gejala defisiensi vitamin A. beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1. dan 15. tetapi pastikan bahwa jumlah F-75 yang ditentukan harus dipenuhi.000 (1 kapsul biru) 200. lanjutkan.5 g/kgBB/hari.000 (1/2 kapsul biru) 100. • Jika anak masih mendapat ASI. • Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari). • Protein: 1-1. 2.- Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah diberikan sebelum dirujuk). atau pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir. pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh. • Energi: 100 kkal/kgBB/hari. Hari ke : 1-2 3-5 6 dst Frekuensi Setiap 2 jam Setiap 3 jam Setiap 4 jam Volume/kgBB/pemberian 11 ml 16 ml 22 ml Volume/kgBB/hari 130 ml 130 ml 130 ml Pada anak dengan nafsu makan baik dan tanpa edema. Tatalaksana Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal adalah: • Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas maupun rendah laktosa.

5 g/kgBB/hr 130 ml/kgB/hr atau 100 ml/kgBB/hr bila edema berat 14 Transisi 100-150 kkal/kgBB/hr 2-3 g/kgBB/hr 150 ml/kgBB/hr Rehabilitasi 150-220 kkal/kgBB/hr 4-6 g/kgBB/hr 150-200 ml/kgBB/hr . Tatalaksana Lakukan transisi secara bertahap dari formula awal (F-75) ke formula tumbuh-kejar (F-100) (fase transisi): Ganti F 75 dengan F 100. Setelah transisi bertahap. Biasanya hal ini terjadi ketika pemberian formula mencapai 200 ml/kgBB/hari. lanjutkan pemberian ASI tetapi pastikan anak sudah mendapat F-100 sesuai kebutuhan karena ASI tidak mengandung cukup energi untuk menunjang tumbuh-kejar. beri anak:    pemberian makan yang sering dengan jumlah tidak terbatas (sesuai kemampuan anak). Dapat pula digunakan bubur atau makanan pendamping ASI yang dimodifikasi sehingga kandungan energi dan proteinnya sebanding dengan F-100. protein: 4-6 g/kgBB/hari. 8. Makanan-terapeutik-siap-saji (ready to use therapeutic food = RUTF) yang mengandung energi sebanyak 500 kkal/sachet 92 g dapat digunakan pada fase rehabilitasi. Selanjutnya naikkan jumlah F-100 sebanyak 10 ml setiap kali pemberian sampai anak tidak mampu menghabiskan atau tersisa sedikit. energi: 150-220 kkal/kgBB/hari. Bila anak masih mendapat ASI. Tumbuh kejar Tanda yang menunjukkan bahwa anak telah mencapai fase ini adalah: • Kembalinya nafsu makan. Kebutuhan zat gizi anak gizi butuk menurut fase pemberian makanan Zat Gizi Energi Protein Cairan Stabilisasi 80-100 kkal/kgBB/hr 1-1. • Edema minimal atau hilang.• Berat badan. Beri F-100 sejumlah yang sama dengan F-75 selama 2 hari berturutan.

terapi bermain terstruktur selama 15–30 menit per hari.Pemantauan Hindari terjadinya gagal jantung. Jika nadi maupun frekuensi napas meningkat (pernapasan naik 5x/menit dan nadi naik 25x/menit). Amati gejala dini gagal jantung (nadi cepat dan napas cepat). 15 . Hitung dan catat kenaikan berat badan setiap 3 hari dalam gram/kgBB/hari. 9. dan kenaikan ini menetap selama 2 kali pemeriksaan dengan jarak 4 jam berturut-turut. baik (> 10 g/kgBB/hari). sedang (5-10 g/kgBB/hari). maka hal ini merupakan tanda bahaya (cari penyebabnya). tingkatkan perlahan-lahan sebagai berikut: o 115 ml/kgBB/hari selama 24 jam berikutnya. tingkatkan setiap kali makan dengan 10 ml sebagaimana dijelaskan sebelumnya. keterlibatan ibu sesering mungkin (misalnya menghibur. anak membutuhkan penilaian ulang lengkap. o 130 ml/kgBB/hari selama 48 jam berikutnya. aktivitas fisik segera setelah anak cukup sehat. o atasi penyebab. bermain). atau mungkin ada infeksi yang tidak terdeteksi. o selanjutnya. Jika kenaikan berat badan: kurang (< 5 g/kgBB/hari). memandikan. Stimulasi sensoris Lakukan:      ungkapan kasih sayang. periksa apakah target asupan terpenuhi. Penilaian kemajuan Kemajuan terapi dinilai dari kecepatan kenaikan berat badan setelah tahap transisi dan mendapat F-100:    Timbang dan catat berat badan setiap pagi sebelum diberi makan. Lakukan segera: • kurangi volume makanan menjadi 100 ml/kgBB/hari selama 24 jam • kemudian. lingkungan yang ceria. memberi makan.

Sudah berada di kondisi gizi kurang > . 8. Suhu tubuh berkisar antara 36. 2.10. • Mengikuti program pemberian vitamin A (Februari dan Agustus). 7. 5. Berikan contoh kepada orang tua: • Menu dan cara membuat makanan kaya energi dan padat gizi serta frekuensi pemberian makan yang sering. Sudah dapat membuat makanan yang diperlukan untuk tumbuh kejar dirumah.5 – 37. Ibu sudah mampu merawat serta memberikan makan dengan benar kepada anaknya. Kenaikan berat badan > 5 g/kgBB/ hari. 4.5 C. sesuai umurnya. duduk. lakukan hal seperti di bawah ini. Ada perbaikan kondisi mental. Persiapan pulang Kriteria pemulangan:  Balita 1. 6. merangkak. Selera makan baik.3 SD (sudah tidak ada gizi buruk). Gejala Hanya bercak bitot saja Nanah atau peradangan Tindakan Tidak memerlukan obat tetes mata Beri tetes mata kloramfenikol atau tetrasiklin (1%) Kekeruhan pada kornea Ulkus pada kornea . PENANGANAN KONDISI PENYERTA  Masalah pada mata Jika anak mempunyai gejala defisiensi vitamin A.Tetes mata kloramfenikol 0. berjalan.25%-1% atau tetes tetrasiklin (1%). 2 minggu berturut-turut. 4x sehari.  Ibu atau Pengasuh 1. makanan yang diberikan dihabiskan. 3 hari berturutan atau kenaikan 50 g/ kgBB/ minggu. 1 tetes. Tidak ada muntah atau diare. selama 7-10 hari 16 . Tidak ada edema. 2. Sudah tersenyum. 3. • Terapi bermain yang terstruktur. berdiri. Sarankan: • Melengkapi imunisasi dasar dan/atau ulangan.

 Lesi kulit pada kwashiorkor Defisiensi seng (Zn). Pada anak gizi buruk. 10 ml/kgBB secara lambat selama 3 jam. Hentikan semua pemberian cairan lewat oral/NGT selama anak ditransfusi. Furosemid.. Beri: Darah utuh (Whole Blood). Sebagai tambahan:  Kompres daerah luka dengan larutan Kalium permanganat (PK. kedua jenis obat tetes mata tersebut dapat diberikan secara bersamaan. Bila terdapat gejala gagaI jantung. sering terjadi pada anak dengan kwashiorkor dan kulitnya akan membaik secara cepat dengan pemberian suplementasi seng. selama 3-5 hari Jika perlu. perlambat transfusi. transfusi harus diberikan secara lebih lambat dan dalam volume lebih kecil dibanding anak sehat. berikan komponen sel darah merah (packed red cells) 10 ml/kgBB.01% selama 10 menit/hari. salep nistatin) pada lesi kulit yang pecahpecah. 1 mg/kg IV pada saat transfusi dimulai. Anak dengan kwashiorkor mengalami redistribusi cairan sehingga terjadi penurunan Hb yang nyata dan tidak membutuhkan transfusi. 3x sehari. Jika terjadi peningkatan (frekuensi napas meningkat 5x/menit atau nadi 25x/menit). Jangan menggunakan sediaan yang berbentuk salep • Gunakan kasa penutup mata yang dibasahi larutan garam normal • Gantilah kasa setiap hari. dan bubuhi gentian violet (atau jika tersedia. KMnO4) 0.Tetes mata atropin (1%). Catatan: Jika Hb tetap rendah setelah transfusi. jangan ulangi transfusi dalam 4 hari. tulle gras) pada daerah yang kasar. 1 tetes. .Beri vitamin A  Anemia berat Transfusi darah diperlukan jika: • Hb < 4 g/dl • Hb 4–6 g/dl dan anak mengalami gangguan pernapasan atau tanda gagal jantung. 17 .  Bubuhi salep/krim (seng dengan minyak kastor. Monitor frekuensi nadi dan pernapasan setiap 15 menit selama transfusi.

. Diare osmotik Diare osmotik perlu diduga jika diare makin memburuk pada pemberian F-75 yang hiperosmolar dan akan berhenti jika kandungan gula dan osmolaritasnya dikurangi. lakukan: .  Diare persisten Giardiasis dan kerusakan mukosa usus .foto toraks.Pada kasus seperti ini gunakan F-75 berbahan dasar serealia dengan osmolaritas yang lebih rendah. lakukan pemeriksaan mikroskopis atas spesimen feses.  Tuberkulosis Jika anak diduga kuat menderita tuberkulosis.5 mg/kg setiap 8 jam selama 7 hari).Jika ditemukan kista atau trofozoit dari Giardia lamblia.Jika mungkin. Tatalaksana intoleransi laktosa hanya diberikan jika diare terus menerus ini menghambat perbaikan secara umum. • pada fase rehabilitasi. Hindari penggunaan popok-sekali-pakai agar daerah perineum tetap kering. Pada kasus tertentu: • ganti formula dengan yoghurt atau susu formula bebas laktosa. bila mungkin. . beri Metronidazol 7.Berikan F-100 untuk tumbuh kejar secara bertahap. . Intoleransi laktosa Diare jarang disebabkan oleh intoleransi laktosa saja. . formula yang mengandung susu diberikan kembali secara bertahap. Perlu diingat bahwa F-75 sudah merupakan formula rendah laktosa.tes Mantoux (walaupun seringkali negatif palsu). 18 .

Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan. Riwayat imunisasi : tidak jelas Riwayat persalinan : ditolong bidan. konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung Mulut Leher Thoraks : dalam batas normal : kering : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. Status Lokalisata : Kepala : Rambut : berwarna pirang. Demam (+) dialami os sejak sebelum masuk rumah sakit. konsistensi air > ampas. dispnue(-). ikterik(-).90C BB : 5. darah (-). Keadaan Gizi: buruk. oedem dan hiperemis : nadi 110x/ i reg t/v cukup. Muntah (+). iga gambang (+). volume ±1/4 aqua gelas. Riw. oedem dan deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior. frekuensi ≥ 6x/hari. Riwayat penyakit terdahulu : pasien telah berobat ke bidan desa Riwayat pengobatan terdahulu : tidak jelas Status Present : Sensorium : CM Temp : 38. Keadaan Penyakit : berat. sianosis(-). Perempuan usia 1 tahun 8 bulan datang ke RSUD Gunung Tua pada tanggal 1 Oktober 2012 dengan keluhan mencret. spontan. BB lahir 3000gr. retraksi (-) FJ : 110 x / i reg desah (-) FP : 26 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel. kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri. frekuensi 2x. isi apa yang dimakan dan diminum.KASUS S. hal ini dialami sejak ± 3 minggu ini. Papul (-). lendir (+). pustule (-). cukup bulan. 19 . cekung (+). oedem(+) di kedua tungkai.9 kg Keadaan Umum : jelek. Anemis (+). peristaltik meningkat. bersifat hilang timbul.

Demam (+). oedem dan deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior. pustule (-). Papul (-). retraksi (-) FJ : 110 x / i reg desah (-) FP : 24 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel. konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : kering : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. Ampicillin 100mg/8 jam/iv Inj. iga gambang (+). Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan. Novalgin 60mg/8 jam/iv Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT Awasi tanda-tanda hipotermi PEMANTAUAN TGL 2 Oktober 2012 S O : Mencret (+). peristaltik meningkat. A : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik 20 . Muntah (-) : Sensorium Kepala : CM Temp : 38.50C : Rambut : berwarna pirang. cekung (+). oedem dan hiperemis : nadi 110x/ i reg t/v cukup. kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri.DIAGNOSA Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik TERAPI Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro Inj.

Muntah (+) : Sensorium Kepala : CM Temp : 36. A P : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik : Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro Inj. Ampicillin 100mg/8 jam/iv Inj. Ampicillin 100mg/8 jam/iv Nymico drops 2x1cc 21 . cekung (+). oedem dan deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior. oedem dan hiperemis : nadi 90x/ i reg t/v cukup. pustule (-). Novalgin 60mg/8 jam/iv Inj.P : Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro Inj. peristaltik meningkat. konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : kering : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri.50C BB: 7 kg : Rambut : berwarna pirang. Demam (-). retraksi (-) FJ : 90 x / i reg desah (-) FP : 20 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel. Papul (-). Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan. Lasix 3mg/iv Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT PEMANTAUAN TGL 3 Oktober 2012 S O : Mencret (+). iga gambang (+).

cekung (+). peristaltik meningkat. Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan.- Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT PEMANTAUAN TGL 4 Oktober 2012 S O : Mencret (+) ↓. oedem dan hiperemis : nadi 94x/ i reg t/v cukup. Ampicillin 100mg/8 jam/iv Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT 22 .60C : Rambut : berwarna pirang. oedem dan deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior. kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri. Papul (-). konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : kering : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. Muntah (-) : Sensorium Kepala : CM Temp : 36. iga gambang (+). retraksi (-) FJ : 94 x / i reg desah (-) FP : 26 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel. pustule (-) A P : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik : Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro Inj. Demam (-).

Demam (-). retraksi (-) FJ : 96 x / i reg desah (-) FP : 24 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel. cekung (+).PEMANTAUAN TGL 5 Oktober 2012 S O : Mencret (-). konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : dalam batas normal : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. Muntah (-) : Sensorium Kepala : CM Temp : 370C : Rambut : berwarna pirang. Ampicillin 100mg/8 jam/iv Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT PEMERIKSAAN LABORATORIUM TGL 5 Oktober 2012 KGD : 110 mg/dl 23 . Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan : nadi 96x/ i reg t/v cukup. kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri. Papul (-). A P : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik : Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro Inj. oedem dan deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior berkurang. pustule (-). iga gambang (+). peristaltik (+) normal.

retraksi (-) FJ : 90 x / i reg desah (-) FP : 22 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel.PEMANTAUAN TGL 6 Oktober 2012 S O : Mencret (-). kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri. Demam (-). Papul (-).70C BB: 7 kg : Rambut : berwarna pirang. A P : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik : Bed rest IVFD RL 10gtt/i mikro  aff Inj. iga gambang (+). Ampicillin 100mg/8 jam/iv  aff Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam/ NGT NGT  aff 24 . pustule (-). deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior berkurang. Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan : nadi 90x/ i reg t/v cukup. peristaltik (+) normal. konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : dalam batas normal : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. Muntah (-) : Sensorium Kepala : CM Temp : 36.

Hepar / Lien : tidak teraba : perempuan : nadi 98x/ i reg t/v cukup. konjungtiva palpebra inferior pucat (+/+) Wajah : old man face (+) Telinga / hidung : dalam batas normal Mulut Leher Thoraks : dalam batas normal : pembesaran kelenjar getah bening(-) : simetris fusiformis. peristaltik (+) normal. deskuamasi (+) kedua ekstremitas inferior berkurang. iga gambang (+).5 kg : Rambut : berwarna pirang. A P : Gizi Buruk (Tipe Marasmus-Kwasiorkor) ec Diare Kronik : Nymico drops 2x1cc Zinkid 2x5mg Salep Sagestan 3x sehari Diet Bubur SUN/Promina 35cc/2 jam Pasien pulang atas permintaan sendiri (PAPS). 25 . Papul (-). Muntah (-) : Sensorium Kepala : CM Temp : 36. pustule (-). kusam dan mudah dicabut Mata : RC (+/+) pupil isokor kanan = kiri. Demam (-). retraksi (-) FJ : 98 x / i reg desah (-) FP : 24 x / i reg ronkhi (-) Abdomen Genitalia Extremitas : soepel.PEMANTAUAN TGL 7 Oktober 2012 S O : Mencret (-).50C BB : 7.

old man face. iga gambang. 9. tulang iga terlihat jelas. Tabel 2.DISKUSI Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran antropometri. 7. Fase Stabilisasi Hari ke 1-2 1. pantat dan paha. gunakan tanda klinis berupa anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu. 5. mulut kering. 4. 8. Hipoglikemia Hipotermia Dehidrasi Elektrolit Infeksi Mikronutrien Makanan awal Tumbuh kejar Stimulasi sensoris Persiapan pulang tanpa Fe dengan Fe Hari ke 3-7 Fase Rehabilitasi Minggu ke 2-6 26 . 3. Tatalaksana anak gizi buruk (10 langkah) No. 2. dengan atau tanpa adanya edema. serta kedua tungkai edema dan mengalami lesi eksudatif (menyerupai luka bakar) dari bokong hingga kedua tungkai. Anak didiagnosa gizi buruk apabila:  BB/TB < -3 SD atau < 70% dari median (marasmus). 6. Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur. 10. Pada pasien ini dijumpai tanda-tanda dari gizi buruk tipe marasmus-kwasiorkor yaitu rambut kusam dan mudah dicabut.  Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor: BB/TB > -3 SD atau marasmus-kwasiorkor: BB/TB < -3 SD. mata cekung. Penanganan pada kasus gizi buruk meliputi 10 langkah yang terbagi dalam 2 fase yaitu fase stabilisasi dan fase rehabilitasi. lengan.

pisang. Pada pasien setelah dirawat 7 hari. sebagai berikut:  Pemberian makanan seimbang dengan bahan yang terjangkau. pada kasus ini terdapat lesi eksudatif di bagian bokong sampai kedua tungkai.  Beri suplemen mikronutrien dan elektrolit. Penilaian kenaikan berat badan berdasarkan tatalaksana gizi buruk adalah sebagai berikut :    Kurang : < 5 gr/kgBB/hari Cukup : 5-10 gr/kgBB/hari Baik : > 10 gr/kgBB/hari Pasien ini mengalami peningkatan berat badan sebesar 21. pasien pulang atas permintaannya sendiri sehingga anak masih memerlukan perawatan lanjutan melalui rawat jalan untuk menyelesaikan fase rehabilitasi serta untuk mencegah kekambuhan. 27 .  ASI diteruskan sebagai tambahan. Penting untuk melakukan edukasi terhadap orang tua dalam hal perawatan di rumah. dan diberikan salep sagestan 3xsehari. biscuit).  Bantu dan bujuk anak untuk menghabiskan makanannya. Hal ini menunjukkan peningkatan berat badan yang baik. salah satunya tatalaksananya adalah dengan pemberian zinc 2mg/kgBB/hari. Pada pasien ini diberikan zinc 2x5mg.5 gr/kgBB/hari.  Pemberian makanan minimal 5 kali sehari termasuk makanan selingan (snacks) tinggi kalori di antara waktu makan (misalnya susu.Pada pasien ini diberikan pengobatan antibiotik Ampisilin 100mg/8jam/iv. Semua anak dengan gizi buruk akan mengalami defisiensi vitamin dan mineral. roti. Pada kasus ini. menunjukkan adanya perbaikan yaitu kenaikan berat badan yang baik dan lesi kulit yang sudah berkurang. Hal ini sesuai dengan tatalaksana gizi buruk (10 langkah). Selain itu.

Pasien memerlukan kontrol ulang ke bagian rawat jalan setiap minggu untuk menyelesaikan fase rehabilitasi.RINGKASAN Telah dilaporkan sebuah kasus gizi buruk tipe marasmus-kwasiorkor pada anak perempuan dengan usia 1 tahun 8 bulan. mengkonsumsi vitamin dan teruskan ASI. 28 . makan sesering mungkin dan harus habis. melengkapi status imunisasi. Diagnosa ditegakkan dengan anamnesa dan gejala klinis.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.R. 2004. EGC. http://arali2008. Ali. Jakarta.. Dinkes Kabupaten Polewali Mandar. WHO. Pedoman Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten. Jakarta. Jakarta.doc 5. Jakarta. 4. 2011. 2002. Jakarta. A. Petunjuk Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk.DAFTAR PUSTAKA 1. 7. Depkes RI. Depkes RI. 2009. Buku Pedoman Pelayanan Anak. WHO Indonesia. 2011. Supariasa dkk. Penilaian Status Gizi. Jakarta.wordpress. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Direktorat Gizi Masyarakat. 6. 2008. Depkes RI. 2008.com/2008/08/penilaian-status-gizi-anak. Sistem Kewaspadaan Dini KLB-Gizi Buruk. Jakarta : Dirjen Binkesmas Direktorat Gizi Masyarakat. 2. Depkes RI. 29 . Analisis Situasi Gizi dan Kesehatan Masyarakat. 3.files.