You are on page 1of 13

A. TOPIK Uji Metabolisme Bakteri B. HARI/ TANGGAL Rabu, 25 Oktober 2012 C. TUJUAN Praktikum ini bertujuan untuk : 1.

Untuk mengetahui kemampuan menghidrolisis amilum 2. Untuk mengetahui kemampuan menghidrolisis protein. 3. Untuk mengetahui kemampuan menghidrolisis lemak. D. DASAR TEORI Dalam kehidupan, mahluk hidup memerlukan energi yang diperoleh dari proses metabolisme. Metabolisme terjadi pada semua mahluk hidup termasuk kehidupan mikroba. Metabolisma didefinisikan sebagai semua reaksi kimia yang terjadi dalam sel hidup. Termasuk juga eksoenzim yang tetap di anggap sebagai metabolisma, sebab meskupun reaksi kimia berlangsung di luar sel tetapi enzim disekresikan dari dalam sel. Sintesis protoplasma dan penggunaan energi yang disebut sebagai Anabolisma. Oksidasi substrat diiringi dengan terbentuknya energi disebut dengan Katabolisma Kegiatan metabolisme meliputi proses perubahan yang dilakukan untuk sederetan reaksi enzim yang berurutan. Secara singkat kegiatan proses ini disebut tansformasi zat. Hasil kegiatan ini akan dihasilkan nutrien sederhana seperti glukosa, asam lemak berantai panjang atau senyawa-senyawa aromatik yang dapat digunakan sebagai bahan untuk proses neosintetik bahan sel. Reaksi kimiawi yang membebaskan energi melalui perombakan nutrient disebut reaksi disimilasi atau penguraian; jadi merupakan kegiatan katabolik sel. Sedangkan reaksi kimiawi yang menggunakan energi untuk sintesis dan fungsi-fungsi sel lainnya disebut reaksi asimilasi atau anabolik. Jadi, reaksi disimilasi menghasilkan energi, dan reaksi asimilasi menggunakan energi. Menurut Darkuni (2001) bila dalam suatu reaksi menghasilkan energi maka disebut reaksi eksergonik, dan apabila untuk dapat berlangsungnya suatu reaksi diperlukan energi, reaksi ini disebut reaksi endergonik.

Bila sel merombak ikatan-ikatan kimiawi tertentu selama metabolisme, energi yang dilepaskan menjadi tersedia untuk melangsungkan kerja biologis. Selama masa hidup sel, kerja ini bersifat ekstensif dan beragam. Mikroorganisme heterotrofik nonfotosintesik memperoleh energinya dari oksidasi (pengusiran electron atau atom hydrogen) senyawa-senyawa anorganik (Pelezer, 2006). Enzim sangat di pengaruhi oleh beberapa hal yaitu, konsentrasi enzim, konsentrasi substrat, pH, suhu,setiap enzim berfungsi optimal pada pH dan temperatur tertentu. Suhu yang sangat rendah dapat menghentikan aktivitas enzim tetapi tidak menghancurkannya. Aktivitas enzim diatur melalui 2 cara yaitu, pengendalian katalis secara langsung pengendalian genetik. Proses metabolisme akan menghasilkan hasil metabolisme yang berfungsi menghasilkan sub satuan makromolekul dari hasil metabolisme yang bergun sebagai penyediaan tahap awal bagi komponen-komponen sel menghasilkan dan menyediakan energi yang dihasilkan dari ATP lewat ADP dengan fosfat. Energi ini sangat penting untuk kegiatan proses lain yang dalam prosesnya hanya bisa berlagsung kalau tersedia energi. Bakteri memperoleh energi melalui proses Oksidasi-Reduksi. Oksidasi adalah proses pelepasan elektron sedang reduksi adalah proses penangkapan elektron. Istilah oksidasi digunakan disini untuk mencakup semua proses penghasilan energi yang terjadi dalam se (Tarigan, 1988). Karena elektron tidak dapat berada dalam bentuk bebas, maka setiap reaksi oksidasi selalu diiringi oleh reaksi reduksi. Hasil dari reaksi oksidasi dapat terbentuknya energi. Pada umumnya reaksi oksidasi secara biologi dikatalisis oleh enzim dehidrogenase. Enzim tersebut memtransfer elektron dan proton yang dibebaskan kepada aseptor elektron intermedier seperti NAD + dan NADP+ untuk dibentuk menjadi NADH dan NADPH. Fosforilasi oksidasi terjadi pada saat elektron yang mengandung energi tinggi tersebut ditranfer ke dalam serangkain transpor elektron sampai akhirnya ditangkap oleh oksigen atau oksidan anorganik lainnya sehingga oksigen akan tereduksi menjadi H2O. Respirasi didefenisikan sebagai penggunaan serangkaian transfor elektron untuk mentransfer elektron menuju aseptor elektron terakhir. Energi

diperoleh melalui fosporilasi oksidatif tetapi dalam prosesnya bisa menggunakan oksigen sebagai aseptor elektron terakhir (respirasi aerob) atau senyawa anorganik lain (respirasi anaerob). Letak perbedaan antara respirasi aerob dan anaerob adalah bahwa pada respirasi anaerob yang berperan sebagai aseptor elektron terakahir adalah senyawa anorganik, bukan oksigen (Dwidjoseputro, 1978). Komponen hidup yang esensial pada bakteri sama seperti protoplasma dari semua organisme hidup. Komponen tersebut terdiri dari karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, sulfur dan fosfor dengan beberapa elemen yang jumlahnya lebih sedikit. Rata-rata sebesar 80-85 % dari tubuh bakteri yang tumbuh mungkin terdiri dari air. Protein, karbohidrat, lipid, dan ada asam nukleat, juga semua subtansi yang penting yang disebut enzim (Burdon, 1964). Perombakan lipid atau lemak diawali dengan pecahnya trigliseride oleh penambahan air sehingga terbentuk gliserol dan asam lemak dengan bantuan enzim-enzim lipase. Ada lebih banyak hasil energi per gram lemak daripada per gram karbohidrat. Namun, relatif hanya beberapa spesies mikroba yang efektif dalam merombak lipid, baik tipe yang sederhana maupun yang rumit, antara lain karena terbatasnya daya larut lipid (Pelczar, 2005). Untuk keperluan identifikasi dan determinasi suatu biakan murni bakteri, selain dipelajari sifat-sifat morfologinya perlu pula dipelajari sifat-sifat biokimianya dan factor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhannya. Ada beberapa cara pengujian sifat biokimia, diantaranya ialah uji adanya hidrolisis amilum, uji adanya hidrolisis lemak, dan uji adanya hidrolisis protein. (Hastuti, 2012). E. ALAT DAN BAHAN Alat: 1. Jarum inokulasi lurus 2. Lampu spiritus 3. Inkubator 4. Rak tabung reaksi 5. Tabung reaksi dan Cawan petri

Bahan: 1. Biakan murni Escherichia coli 2. Biakan murni Bacillus subtilis 3. Biakan murni Staphyllococcus aureus. 4. Medium Amilum Agar 5. Medium Skim Milk Agar 6. Medium NA yang mengandung 1% minyak zaitun dan neutral red 7. Medium nutrien cair 8. Lisol 9. Sabun cuci 10. Lap 11. Larutan Iodium 12. Korek api 13. Alkohol 70% F. PROSEDUR KERJA 1. Uji Adanya Kemampuan Menghidrolisis Amilum

2. Adanya Kemampuan menghidrolisis Protein

3. Uji adanya Kemampuan Menghidrolisis Lemak

G. DATA PENGAMATAN Berdasarkan hasil penelitian uji metabolisme pada bakteri kelompok kami dapat dilihat pada tabel di bawah berikut: Spesies Bakteri Escherichia coli Bacillus subtilis Staphylococcus aureus
Keterangan: +++ ++ + = kemampuan menghidrolisis tinggi = kemampuan menghidrolisis sedang = kemampuan menghidrolisis rendah = tidak mampu menghidrolisis

Kemampuan Menghidrolisis Amilum Protein ++ ++ + +++ +++ +

Lemak ++ +++ +

H. ANALISIS DATA Ketiga spesises bakteri dalam tiga macam medium diinkubasi selama 1 x 24 jam kemudian diamati kemampuan mereka dalam menghidrolisis amilum, protein, dan lemak. Dan berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data, yaitu bakteri Escherichia coli memiliki kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak yang sedang. Sedangkan bakteri Bacillus subtilis memiliki kemampuan menghidolisis amilum yang rendah, tetapi kemampuannya dalam menghidolisis protein dan lemak tinggi. Dan yang terakhir, yaitu bakteri Staphylococcus aureus memiliki kemampuan menghidrolisis amilum yang tinggi, tetapi kemampuannya dalam menghidrolisis protein dan lemak rendah. Data diatas menunjukkan bahwa adanya perbedaan tingkat kemampuan menghidolisis amilum, protein, dan lemak antara bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus. Selain itu, dalam satu spesies juga memiliki kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak yang berbeda.

I. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, kita menggunakan tiga medium, yaitu AA(Amilum agar), NAL (Nutrient Agar Lemak), dan SMA (Skim Milk Agar). Masing masing dari medium tersebut mengandung bahan dasar bagi bakteri untuk melakukan metabolisme. Disini digunakan tiga bakteri yaitu Basillus subtilis, E coli dan S. Aureus. Karakterisasi dan klasifikasi sebagian besar mikrobia seperti bakteri berdasarkan pada reaksi enzimatik ataupun biokimia. Mikroba dapat tumbuh pada beberapa tipe media, memproduksi tipe metabolit tertentu yang dideteksi dengan interaksi mikrobia dengan reagen test yang menghasilkan warna reagen. Reaksi-reaksi dalam sel akan teridentifikasi dengan melakukan pengujian-pengujian tertentu. Sel akan memberikan respon sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya, misalnya menghasilkan enzim katalase, enzim gelatinase atau kemampuan untuk menghidrolisis lemak (Pelczar 1986). Untuk mempelajari karakteristik biokimia suatu biakan murni bakteri maka dapat digunakan suatu uji biokimia yaitu uji hidrolisis amilum, uji hidrolisis protein dan uji hidrolisis lemak. Uji Hidrolisis Amilum Dari data dihasilkan bahwa pada uji hidrolisis amilum ini semua bakteri Basillus subtilis, E coli dan S. Aureus mampu melakukan hidrolisis amilum yang ditandai dengan terbentuknya warna jernih disekitar bakteri yang diinokulasikan setelah medium diberikan larutan iodium. Warna jernih atau bening pada sekeliling bakteri setelah ditambahkan iodium disebabkan karena amilum tidak dapat bereaksi lama dengan iodium. Pada ketiga bakteri yang diamati, kesemuanya mampu menghidrolisis amilum, hal ini menunjukkan bahwa bakteri-bakteri tersebut menghasilkan enzim -amilase. Larutan iodium disini berfungsi sebagai indikator adanya amilum, bila medium yang mengandung pati atau amilum diberi iodium maka akan nampak warna biru. Namun jika pati atau amilum tersebut telah terhidrolisis maka warnanya akan jernih atau bening. Warna jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada bakteri (Hadioetomo, 1990). Pada hasil pangamatan dahasilkan bahwa bakteri Staphylococcus aureus mampu menghidrolisis amilum paling besar, berurutan kemudian bakteri

Escerichia coli dan terakhir bakteri Bacillus subtilis hal ini di dasarkan pada luas tidaknya warna jernih yang dihasilkan pada sekitar bakteri yang telah diinokulasikan pada medium. Hal ini juga dipengaruhi oleh banyak sedikitnya bahteri yang diinokulasikan pada medium, semakin banyak bekteri yang diinokulasikan dapat mengakibatkan hasil bentukan jernih ini juga semakin besar. Terlepas dari banyak maupun sedikit zat yang dihirolisis, peristiwa ini dapat menunjukkan bahwa bakteri tersebut mampu menghidrolisis makanan di luar selnya. Kemampuan bakteri untuk menghidrolisis atau mencerna makanan di lingkungan luar dikarenakan bakteri tersebut dapat mengeluarkan enzim dari dalam sel. Enzim tersebut disebut sebagai ekso-enzim (Dwidjoseputro, 1989). Amilum merupakan karbohidrat yang masuk dalam jenis polisakarida. Polisakarida merupakan makromolekul, polimer dengan beberapa monosakarida yang dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Beberapa polisakarida berfungsi sebagai materi simpanan atau cadangan yang nantinya ketika diperlukan akan dihidrolisis untuk menyediakan gula bagi sel (Campbell, 2002). Amilum tidak dapat langsung digunakan, karena memiliki ukuran molekul yang terlalu besar, sehingga bakteri harus menghidrolisis amilum terlebih dahulu menjadi molekul sederhana dan masuk ke dalam sel. Untuk menghidrolisis amilum dibutuhkan enzim amilase. Amilase, yaitu enzim yang menguraikan amilum menjadi maltosa (suatu disakarida), reaksinya adalah sebagai berikut: 2 (C6H10O5)n + n H2O
amilase

n C12H22O11 (Dwijoseputro, 1994)

Kemampuan bakteri untuk menghidrolisis amilum menjadi glukosa, maltosa, dan dekstrin karena mempunyai enzim amilase. Menurut Volk (1984), fungi atau bakteri memproduksi -amilase sehingga mampu menguraikan amilum dengan eksoenzim amilolitik tersebut amat luas antara mikroorganisme, diantaranya bakteri Bacillus macerans, Bacillus polimexa, dan Bacillus subtilis. Uji Hidrolisis Protein

Pada uji ini dihasilkan bahwa bakteri Bacillus subtilis mampu melakukan hidrolisis protein paling besar ditandai dengan tebentuknya warna jernih di sekitar bakteri yang diinokulasikan lebih besar dari pada bakteri lain, urutan yang kedua yaitu pada bakteri Escherichia coli memiliki kemampuan sedang dalam menghidrolisis protein dan terakhir adalah bakteri Staphylococcus aureus memiliki kemampuan yang rendah dalam melukakan hidrolisis protein. Hal ini sesuai dengan pendapat Hadioetomo (1990) yang menyatakan bahwa uji positif ditandai dengan tampaknya area jernih di sekitar pertumbuhan organisme yang digoreskan. Medium yang digunakan untuk mengetahui adanya hidrolisis protein adalah Skim Milk Agar (SMA) yang terbuat dari susu skim yang dicampur agar dan aquades, dimana di dalam susu skim tersebut terkandung kasein yang nantinya akan terhidrolisis menjadi peptida dan asam amino. Bakteri mampu melakukan hidrolisisi protein karena di didalam tubuh bakteri dihasilkan koenzim yang mampu menghidrolisis kasein yaitu adanya enzim protease. Pada bakteri Escerichia coli, Bacillus subtilis, dan Streptococcus aureus memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghidrolisis protein. Perbedaan kemampuan dalam memghidrolisis protein dimungkinkan disebabkan karena produksi eksoenzim yang berupa enzim protease yang berbeda. Dimungkinkan Bacillus subtilis memiliki kemampuan menghasilkan protease lebih banyak dibandingkan Escerichia coli, dan Streptococcus aureus. Adapun kemungkinan lain dari perbedaan kemampuan menghidrolisis protein adalah jumlah sel bakteri dari tiap jenis yang diinokulasikan pada medium tidak sama semakin banyak jumlah sel bakteri, maka semakin banyak sel yang melakukan metabolisme, akibatnya semakin luas daerah jernih pada medium. Uji Hidrolisis Lemak Pada uji hidrolisis lemak ini menggunakan medium lemak atau Nutrien Agar Lemak (NAL). Dari data dihasilkan bahwa bakteri Bacillus subtilis memiliki kemampuan terbesar dalam menghidrolisis lemak kemudian disusul oleh bakteri Escerichia coli dan terakhir bakteri Streptococcus aureus.

Kemampuan menghidrolisis lemak ini ditunjukkan dengan intensitas terbentuknya warna merah pada bakteri yang diinokulasikan. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu kemungkinan jumlah enzim lipase yang dihasilakn oleh bakteri Bacillus subtilis lebih besar daripada dua bakteri lainnya faktor lainnya adalah kemungkinan perbedaan kemampuan menghidrolisis lemak adalah jumlah sel bakteri dari tiap jenis yang diinokulasikan pada medium tidak sama, sehingga metabolisme yang diperlukan juga berbeda. Semakin banyak bateri yang diinokulasikan berarti semakin besar metabolisme yang terjadi di dalam medium sehingga hidrolisis lemak juga semakin besar karena untuk memenuhi kebutuhan hidup bakkteri dan sebaliknya. Kemampuan bakteri untuk menghidrolisis lemak dikarenakan pada tubuh bakteri dihasilkan enzim lipase. Enzim lipase ini termasuk golongan ester yaitu esterase. Dimana enzim ini memiliki kemampuan menghidrolisis lemak dan memecahkan menjadi 3 molekul asam lemak dan 1 molekul gliserol. Lemak merupakan campuran trigleserida yang terdiri atas 1 molekul gliserol yang berikatan dengan 3 molekul asam lemak. Lemak memiliki sifat antara lain: tidak larut dalam air, bila dipanaskan akan terjadi perubahan pada titik cair, titik asap dan titik nyala, serta plastis dan bentuknya mudah berubahubah bila mendapat tekanan, bisa mengalami ketengikan, dan reaksi dengan alkali akan membentuk sabun dan gliserol. J. KESIMPULAN Berdasarkan data pengamatan yang diperoleh dalam praktikum uji metabolisme bakteri, dan berdasarkan uraian pembahasan yang telah dijelaskan maka dapat dibuat beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Pada uji hidrolisis amilum, ketiga bakteri Escerichia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus mampu melakukan hidrolisis amilum. Kemampuan terbesar untuk menghidrolisis amilum dimiliki oleh bakteri Staphylococcus aureus yang ditunjukkan disekitar koloni Staphylococcus aureus paling luas dibandingkan dengan kedua bakteri yang lain. Warna

jernih tersebut mengindikasikan bahwa pati atau amilum sudah terhidrolisis oleh eksoenzim pada bakteri. 2. Pada uji hidrolisis protein, ketiga bakteri Escerichia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus mampu melakukan hidrolisis protein. Bacillus subtilis memiliki kemampuan paling tinggi dalam menghidrolisis protein karena daerah jernih yang ditunjukkan disekitar koloni Bacillus subtilis paling luas dibandingkan dengan kedua bakteri yang lain. 3. Pada uji hidrolisis lemak, ketiga bakteri Escerichia coli, Bacillus subtilis, Staphylococcus aureus mampu melakukan hidrolisis lemak. Bacillus subtilis memiliki kemampuan paling tinggi dalam menghidrolisis lemak karena daerah jernih yang ditunjukkan disekitar koloni Bacillus subtilis paling luas dibandingkan dengan kedua bakteri yang lain K. DISKUSI 1. Adakah perbedaan kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak antara Bakteri E.coli, Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus? Jawaban: Berdasarkan hasil pengamatan pada praktikum metabolisme bakteri, terdapat perbedaan kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak antara Bakteri E.coli, Bacillus subtilis dan Staphylococcus aureus yang dapat dibuktikkan melalui tabel di bawah ini: Kemampuan Menghidrolisis Amilum Protein Lemak Escherichia coli ++ ++ ++ Bacillus subtilis + +++ +++ Staphylococcus aureus +++ + + Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh data, yaitu bakteri Escherichia coli Spesies Bakteri memiliki kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak yang sedang. Sedangkan bakteri Bacillus subtilis memiliki kemampuan menghidolisis amilum yang rendah, tetapi kemampuannya dalam menghidolisis protein dan lemak tinggi. Dan yang terakhir, yaitu bakteri Staphylococcus aureus memiliki kemampuan menghidrolisis amilum yang tinggi, tetapi kemampuannya dalam menghidrolisis protein dan lemak rendah. Data diatas menunjukkan bahwa adanya perbedaan tingkat kemampuan menghidolisis amilum, protein, dan lemak antara

bakteri Escherichia coli, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus. Selain itu, dalam satu spesies juga memiliki kemampuan menghidrolisis amilum, protein, dan lemak yang berbeda. 2. Adakah perubahan yang terjadi pada medium setelah dilakukan pengujian adanya hidrolisis amilum, protein dan lemak? Bila ada berikan penjelasan! Jawaban: Terdapat perubahan yang terjadi pada medium setelah dilakukan pengujian adanya hidrolisis amilum, protein dan lemak. Perbedaan kemampuan menghidrolisis protein, lemak, dan amilum adalah jumlah sel bakteri dari tiap jenis yang diinokulasikan pada medium tidak sama sehingga mempengaruhi hasil hidrolisis tersebut yang ditandai dengan perbedaan jumlah koloni yang tumbuh pada medium. Perbedaan jumlah sel bakteri pada tiap jenis bakteri dapat memberikan pengaruh yang nyata. Semakin banyak jumlah sel bakteri, maka semakin banyak sel yang melakukan metabolisme, akibatnya semakin luas daerah jernih pada medium. L. DAFTAR RUJUKAN Darkuni. 2001. Mikrobiologi (bakteriologi, virologi, dan mikologi). Malang: FMIPA UM. Dwidjoseputro, D. 1978. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Djambatan. Hadioetomo,R.S.1990. Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi. Jakarta: Gramedia. Hastuti, Sri Utami.2012. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Malang: UMM Press. Pelezar, Michael J. 1986. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI-Press. Tarigan, Jeneng. 1988. Pengantar Mikrobiologi. Jakarta: Depdikbud Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tingkat Kependidikan. Volk, Wesley A., dan Wheeler, Margaret F. 1984. Mikrobiologi dasar. Jakarta: Erlangga.

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI


UJI METABOLISME BAKTERI

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikrobiologi Yang Dibimbing Oleh: Prof. Dr. Dra. Utami Sri Hastuti, M.Pd Oleh : Kelompok 1 / Offering: A

Hikmah Maulidyah Lailatul Qodriah Mitha Yudistira

100341400688 100341400698 100341400697

Rulyana Salma Rosadha 100341400687 Rizki Armando Putra 100341400695

The Learning University

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN BIOLOGI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI Oktober, 2012