You are on page 1of 23

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Infeksi saluran kemih atau yang biasa disebut dengan ISK merupakan suatu keadaan dimana adanya suatu proses peradangan yang akut ataupun kronis dari ginjal ataupun saluran kemih yang mengenai pelvis ginjal, jaringan interstisial dan tubulus ginjal (pielonefritis), atau kandung kemih (Cystitis), dan urethra (uretritis) (Arief Mansjoer, 2000). Infeksi pada saluran kemih ini dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu Infeksi saluran kemih bagian atas yakni Pyelonefritis dan Infeksi saluran kemih bagian bawah yaitu Cystitis dan Uretritis. Pielonefritis merupakan infeksi yang terjadi dengan 12 13 kasus per 10.000 populasi wanita dan 3 4 kasus per 10.000 pria. Wanita muda sangat sering terkena dampaknya, refleksi sederhana aktivitas seksual pada kelompok umur ini. Infant dan elder juga memiliki risiko tinggi, tergambar pada anatomi yang abnormal dan status hormonal. Pada beberapa kasus pielonefritis mungkin tidak didapatkan bakteri urinaria yang bermakna meskipun benar-benar terjadi infeksi kandung kemih. Bila dilihat dari insiden yang terjadi sangat membahayakan manusia, untuk itu kami ingin mencoba untuk mengulas lebih lanjut mengenai pielonefritis ini untuk menambah pengetahuan kami sebagai calon perawat. 1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apakah definisi pielonefritis? 2. Bagaimana insidensi pielonefritis? 3. Bagaimana etiologi penyakit pielonefritis? 4. Apa saja klasifikasi dari pielonefritis? 5. Bagaimana manifestasi klinis dari pielonefritis? 6. Bagaimana patofisiologi pielonefritis? 7. Apakah faktor risiko terjadinya pielonefritis?

8. Apa saja pemeriksaan penunjang dari pielonefritis? 9. Bagaimana penatalaksanaan terhadap penderita pielonefritis? 10. Apa saja komplikasi yang dapat terjadi pada penderita pielonefritis? 11. Apakah tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari pielonefritis? 1.3 TUJUAN 1. Untuk mengetahui definisi pielonefritis. 2. Untuk mengetahui insidensi pielonefritis. 3. Untuk mengetahui etiologi penyakit pielonefritis. 4. Untuk mengetahui klasifikasi dari pielonefritis. 5. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari pielonefritis. 6. Untuk mengetahui patofisiologi dari pielonefritis. 7. Untuk mengetahui faktor risiko terjadinya pielonefritis. 8. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang dari pielonefritis 9. Untuk mengetahui penatalaksanaan terhadap penderita pielonefritis. 10. Untuk mengetahui komplikasi yang dapat terjadi pada penderita pielonefritis. 11. Untuk mengetahui tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari pielonefritis. 1.4 MANFAAT 1. Bagi Masyarakat Memberikan penjelasan ilmiah kepada masyarakat mengenai penyakit pieloinefritis. 2. Bagi Pengetahuan Memberikan sumbangan ilmu pengetahuan mengenai pielonefritis. 3. Bagi Penyusun Menambah wawasan dan motifasi serta melatih penyusun untuk berfikir kritis dalam memberikan penjelasan-penjelasan secara ilmiah dan benar mengenai pielonefritis.

BAB II PEMBAHASAN 2.1. DEFINISI Pielonefritis ( infeksi traktus urinarius atas ) merupakan infeksi bakteri pada salah satu ginjal. Infeksi ini dapat terjadi pada piala ginjal, tubulus, jaringan intertitial dari salah satu atau kedua ginjal dan palvis renalis. Penyakit ini berhubungan dengan infeksi traktus urinari bagian bawah yang banyak terjadi pada perempuan. Bakteri menginfeksi ginjal melaui aliran darah dan dari traktus urinari bawah. Penyakit ini juga dapat menyebabkan wanita hamil melahirkan lebih cepat (lahir prematur). 2.2. INSIDEN Infeksi akut pada pasien yang tidak dikateter sangat sering terjadi, terutama pada kaum perempuan, dan menyebabkan lebih dari 6 juta kunjungan pasien per tahun di Amerika Serikat. Infeksi ini terjadi pada 1 3 % anak perempuan usia sekolah dan insidennya meningkat jelas berkaitan dengan awalan aktifitas seksual pada masa remaja. Sebagian besar infeksi akut simtomatik terjadi pada perempuan muda. Beberapa penyelidikan menunjukkan bahwa tanpa memperdulikan umur, setiap tahun mengalami disuria yang mungkin disebabkan infeksi urinary track. Wanita lebih sering mengalami pielonefritis daripada laki-laki. Semakin tua umur wanita lebih banyak resiko terkena pielonefritis dari pada wanita muda terutama pada usia 40 tahun ke atas. Infeksi saluran kemih akut jarang didapatkan pada laki-laki di bawah 50 tahun. Kejadian bakteria simtomatik setara dengan infeksi simtomatik dan jarang ditemui pada laki-laki dibawah 50 tahun tapi sering pada perempuan umur antara 20 50 tahun. Bakteriuria asimtomatik sangat umum pada laki-laki dan perempuan usia lanjut, mencapai angka 40 50 % pasien pada beberapa penelitian. Basiluri asimtomatik mempunyai peranan penting dalam genesis pielonefritis selama kehamilan. Basiluri asimtomatik ini dapat menyebabkan basiluri sitomatik ( pielonefritis ) kira-kira 35 40 % dari seluruh kasus.

Pada kehamilan, infeksi saluran kemih didapatkan 2 8 % pada perempuan hamil. Secara simtomatik, saluran kemih bagian atas lebih sering didapati selama kehamilan. Sebanyak 20 30 % perempuan hamil dengan bakteriuria tanpa gejala akhirnya berkembang menjadi pielonefritis. Hal tersebut juga didapati sebagai pemicu peningkatan prevalensi prematuritas dan kematian bayi baru lahir. Pielonefritis kronis dan hasil percobaan pada hewan dan pengamatan pada manusia dengan menggunakan mekanisme refluks infeksi didapatkan bahwa 85 100 % anak-anak dan 50 % pada orang dewasa dengan jaringan parut ginjal menderita VUR (Vesico Urether Refluks), serta 50 % anak-anak dan 5 23 % orang dewasa dengan ISK berulang juga menderita VUR. 2.3. ETIOLOGI Bakteri Escherechia Coli Escherechia Coli ( bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar ) sebagian besar dapat menyebabkan infeksi ginjal maupun saluran kemih terutama pada wanita karena letak uretra berdekatan dengan anus. Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus faecalis Dapat menyebabkan infeksi. Bakteri-bakteri tersebut hidup dalam usus besar dan dalam keadaan normal ditemukan di feses. Sehingga diduga sumber infeksi umumnya berasal dari anus, sebab tempat kedua lobang pelepasan tersebut berdekatan. Proteus, Klebsiella, Serratia Agen penyebab utama pada pemasangan kateter yang tidak steril Klebsiella, enterobakter, clostridium, candida Non enterik, Aerobik, Gram negatif, dan bakteri yang menekan sistem imun Obstruksi 1. 2. Prostat hypertropi ( urine sisa ) Tumor massa

3.

Batu ginjal Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih ( misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat ) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadi infeksi ginjal. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang mengandung bakteri dan naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya kandung kemih. Tumor infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah.

Penggunaan kateter untuk pengosongan bladder Penggunaan cystoscope untuk mengkaji bladder dan uretra Pembadahan traktus urinari Pembesaram prostat dan batu ginjal yang menghambat aliran urin dari bladder Abnormalitas traktus urinari yang dapat menghambat laju urine.

2.4 KLASIFIKASI PIELONEFRITIS

Pielonefritis dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu a. Pielonefritis Akut Pielonefritis akut disebabkan oleh infeksi bakteri yang terjadi secara mendadak. Umumnya bakteri yang menginfeksi ginjal berasal dari luar tubuh yang masuk melalui saluran kemih bagian bawah (uretra), merambat ke kandung kemih, lalu ke ureter (saluran kemih bagian atas yang menghubungkan kandung kemih dan ginjal) dan sampailah ke ginjal, yang kemudian menyebar dan dapat membentuk koloni infeksi dalam waktu 24-48 jam. Mekanisme ini disebut sebagai ascenden refluks. Infeksi bakteri pada ginjal juga dapat disebarkan melalui alat-alat seperti kateter dan bedah urologis. Bakteri lebih mudah menyerang ginjal bila terdapat hambatan atau obstruksi saluran kemih yang mempersulit pengeluaran urin, seperti adanya batu atau tumor. Walaupun pielonefritis akut secara temporer dapat mempengaruhi fungsi renal tapi jarang sekali menjadi suatu kegagalan ginjal. Di klinik, Pielonefritis Akut (PNA) mempunyai 2 bentuk yaitu: 1. Bentuk uncomplicated Pada PNA bentuk uncomplicated ini tidak terbukti mempunyai penyakit atau kelainan saluran kemih yang dapat merupakan faktor predisposisi untuk timbulnya infeksi. 2. Bentuk complicated Pada PNA bentuk complicated ini telah terbukti mempunyai faktor predisposisi seperti: Lesi-lesi obstruksi atau non obstruksi yang menimbulkan stasis urin Kelainan struktur saluran kemih baik kongenital atau didapat Menyertai perjalanan penyakti ginjal kronik termasuk

preeklampsi/eklampsi dan penyakit sistemik seperti diabetes mellitus. Secara makroskopik, ginjal pasien pielonefritis akut biasanya membesar disertai infiltrasi interstitial sel-sel inflamasi. Dapat dijumpai adanya abses kecil dalam jumlah banyak di permukaan ginjal tersebut, yaitu pada kapsul

ginjal dan pada taut kortikomedularis. Pada potongan melintang, abses tampak goresan-goresan abu-abu kekuningan di bagian piramid dan korteks.

b. Pielonefritis Kronis (Nefropati Refliks) Pielonefritis kronis adalah cidera ginjal progresif yang menunjukan pembentukan jaringan paru parenkim pada pemeriksaan IVP yang disebabkan oleh infeksi berulang atau infeksi yang menetap pada ginjal. Akhir akhir ini bukti bukti menujukan bahwa pielonefritis kronik terjadi pada pasien ISK yang juga memiliki kelainan anatomi utama pada saluran kemih, seperti refluk vesikoureter, obstruksi, batu, atau neurogenik vesica urinaria (Kuni, 1997; Rose, Renke 1994). Pielonefritis kronis akibat VUR adalah penyebab utama gagal ginjal tahap akhir pada anak anak, dan secara teoritis dapat dicegah dengan mengendalikan ISK dan memperbaiki kelainan structural dari saluran kemih yang menyebabkan obstruksi. Pielonefritis kronis juga berasal dari infeksi bakteri, namun juga faktor-faktor lain seperi refluks urine dan obstruksi saluran kemih turut berperan. Pielonefritis kronis merusak jaringan ginjal untuk selamanya (irreversible) akibat inflamasi yang berulang kali dan timbulnya jaringan parut. Proses perkembangan kegagalan ginjal kronis dari infeksi ginjal yang berulang-ulang berlangsung beberapa tahun atau setelah infeksi yang gawat. Diduga bahwa pielonefritis menjadi diagnose yang sungguhsungguh dari sutu pertiga orang yang menderita kegagalan ginjal kronis. 2.5 Manifestasi Klinis dari Pielonefritis

2.5.1 Manifestasi Klinis Pielonefritis Akut 1. Polakisuri, disuri, dan hematuri 2. Febris 3. Rasa dingin, sering buang air kecil, sensasi terbakar saat buang air kecil dan ayang-ayangan 4. Nyeri pinggul, 5. Nyeri tekan pada sudut kostovertebral (CVA), 6. Leukositosis, dan adanya bakteri dan sel darah putih dalam urin. 7. Nyeri pinggang di daerah ginjal, 8. air kemih seperti berawan dan berbau amis, 9. sakit kepala, 10. mual dan mutah, 11. terasa lemah dan lelah, 12. nafsu makan kurang, 13. bakteriuria. 14. Pembesaran ginjal 15. Abses pada kapsul ginjal dan pada taut kortikomedularis 16. atrofi dan kerusakan tubulus 2.5.2 Manifestasi Klinis Pielonefritis Kronis Pielonefritis kronis terjadi secara bertahap, biasanya tanpa gejala dan penyakit ini dapat mengarah pada kerusakan ginjal dan uremia. Umumnya lebih sering dijumpai pada wanita dibandingkan pada pria, dan sering juga terjadi pada penderita diabetes. Gambaran klinis pielonefritis kronik sangat tidak jelas hamprr tidak menunjukkan gejala tetapi ada bebeapa tanda yang memungkinkan terjadi pad penderita pielonefritis kronis: 1. Demam, 2. Keletihan, 3. Sakit kepala,

4. Nafsu makan rendah, 5. Sakit pinggang, dan 6. Sakit perut yang tidak begitu nyata. 7. Disuria, sering kencing atau kadang-kadang nyeri pada selakangan yang tidak jelas 8. Bakteriuria intermiten Penyakit ini diketahui jika dilakukan pemeriksaan darah, urin atau ginjalnya dirontgen. Baru pada masa akhirnya ginjal menjadi rusak dan menyusut hingga dapat terjadi gagal ginjal. Diagnosis biasanya ditegakkan apabila pasien memperlihatkan gejala insufisiensi ginjal kronik atau hipertensi, atau temuan proteinuria saat pemeriksaan rutin. Pada beberapa kasus memang dapat ditemukan riwayat ISK sejak masa kanak-kanak.. Kebanyakan pasien tidak memiliki gejala sampai penyakit mencapai tahap lanjut. Pielonefritis kronik terutama merupakan penyakit interstisial medulla sehingga kemampuan ginjal untuk memekatkan urin sudah mengalami kemunduran pada awal perjalanan penyakit sebelum terjadi kemunduran GFR yang bermakna. Akibatnya, poliuria, nokturia, dan urin berberat jenis rendah merupakan gejala dini yang menonjol. Banyak pasien yang cenderung kehilangan garam melalui urin. Sekitar separuh kasus memperlihatkan gejala hipertensi. Pielonefritis lanjut sering memperlihatkan gejala azotemia, meskipun perkembangan sampai menjadi gagal ginjal biasanya bersifat progresif lambat. 2.6 PATOFISIOLOGI Mekanisme terjadinya pielonefritis disebabkan oleh 4 faktor utama yaitu: 1. Ascending Refluk Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus dan jaringan intersisial dari salah satu atau kedua ginjal. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asenden.

Infeksi traktus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada feses, misalnya bakteri E. coli, yang naik dari perineum ke uretra dan ke kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Agar infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat, dan mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan ketika berkemih. Infeksi saluran kemih bisa tejadi baik infeksi saluran kemih bagian atas dan bawah. Bakteri yang terdapat disekitar lubang uretra dan anus, dapat mengkontaminasi urin, berbiak dan menginfeksi uretra dan kandung kemih dan kemudian naik ke atas menuju ginjal, sehingga menyebabkan infeksi pada ginjal. Infalmasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan) dan imunosupresi meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal. 2. Vesiko Ureter Refluk (VUR) Refluks vesikouretra dapat terjadi pada anak-anak dengan kelainan-kelainan anatomis saluran kemih maupun pada anak-anak yang memiliki anatomi saluran kemih normal tetapi terkena infeksi. Pada anak-anak dengan anatomi saluran kemih normal, refluk akan hilang dengan bertambahnya umur, tetapi juga bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut akibat infeksi. Pada orang dewasa, VUR dan nefropati refluks dapat berkaiatan dengan gangguan obstruksi dan neurologik yang menyebabkan sumbatan pada drainase urin (seperti batu ginjal atau vesika urinaria neurogenik akibat diabetes). Sebagian besar orang dewasa yang memiliki jaringan parut pada ginjal akibat pielonefritis kronik yang mendapat lesi-lesi ini pada awal masa kanak-kanak mereka. Pielonefritis terjadi secara bertahap, bisa disebabkan karena adanya riwayat infeksi sebelumnya, saat masih kanak-kanak atau berdasarkan rujukan radiologi. Biasanya tanpa gejala dan penyakit ini dapat mengarah pada kerusakan ginjal. Keparahan VUR merupakan satu-satunya faktor penentu terpenting dari kerusakan ginjal.

3. Obstruksi Sering kali orang menahan-nahan untuk berkemih, padahal berkemih berarti juga aktivitas alami yang dikerjakan oleh sistem tubuh yang membantu pembuangan toksin yang mungkin mengkontaminasi urin. Dalam hal ini, ginjal berfungsi sebagai filter untuk membersihkan darah/cairan lainnya dari bahan-bahan kimia agar tidak berdar keseluruh tubuh. Ginjal menyaring dan mengeluarkannya bersama-sama air seni, namun jika tertahan maka akan tertinggal dan mengendap menjadi kristal/sedimen. Apabila endapan ini tidak dikeluarkan, kan menetap di ginjal atau berpindah ke kandung kemih menjadi batu saluran kemih. Adanya obstruksi berupa batu saluran kemih ataupun tumor pada saluran kemih dapat mengakibatkan urin yang berasal dari ginjal terhambat dan tidak mampu keluar sehingga urin kembali lagi ke ginjal. Banyak bukti yang mendukung bahwa keterlibatan ginjal pada nefropati refluks terjadi pada masa kanak-kanan sebelum usia 5-6 tahun, karena pembentukan jaringan parut yang baru jarang terjadi setelah usia ini. Hal ini karena refluks internal terhenti ketika anak menjadi lebih besar (kemungkinan besar karena perkembangan ginjal), meskipun VUR masih berlanjut. 4. Bakteremia Bakteremia terjadi melalui dua mekanisme yang akibat refluk hingga mencapai ginjal dan akibat infeksi berulang yang telah mencapai pembuluh darah sistemik. Bakteri yang telah mencapai ginjal, pada akhirnya akan menempel pada dinding ginjal, kemudian menginfeksi dinding ginjal, mengakibatkan lesi dan jika kondisi ini terus berlanjut maka akan terjadi infeksi sitemik yang mampu menembus pembuluh darah yang terdapat pada ginjal. Darah dari ginjal yang terinfeksi bakteri akan masuk sirkulasi dan akan masuk ke ginjal kembali. Meskipun ginjal menerima curah jantung sekitar 20% - 25%, tetapi bakteri jarang mancapai ginjal melalui aliran darah, sehingga kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen. Infeksi dapat terjadi di satu atau di kedua ginjal.

BAGAN PATOFISIOLOGI PIELONEFRITIS

DM

Bakteri

Kehamilan

Glukosuria

ISK bawah Ascenden refluks Ginjal

Bakteri dalam urin

Kekuatan kateter Peristaltic ureter Inkompetensi sementara katup VU.

Hipertrofi prostat

Pielonefritis akut Pielonefritis kronis Ginjal

Menekan VU

Uretra tertekan

Tekanan VU

Retensi urin pd VU

Refluks vesikouretral Refluks berulang

Obstruksi (tumor atau batu ginjal)

Lesi ginjal

Bakteri dalam urin menempel

Masuk ke pembuluh darah

Bakterimia

2.7 FAKTOR RESIKO DARI PIELONEFRITIS

Keadaan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya pielonefritis adalah: Kehamilan Pada dewasa ini pielonefritis selama kehamilan (obstetric) jarang menyebabkan penyulit fatal seperti kematian metrnal tetapi pada saat kehamilan ada penekanan bladder oleh uterus dan penyempitan duktus sehingga jika terdapat bakteri pada uretra akan mempermudah bakteri naik. Penyulit-penyulit gawat yang pernah dilaporkan seperti syok septic, retardasi pertumbuhan janin, kelainan konginetal, prematuritas, dan kematian janin semata-mata akibat keterlambatan mendapat pengobatan yang adekuat. Penelitian prospektif juga menyangkal hubungan antara pielonefritis dengan hipertensi maternal. Pielonefritis Akut selama kehamilan (obstetric) tidak menyebabkan penurunan faal ginjal GFR (Glomerulo-Filtration-Rate), tetapi dapat memperburuk Prognosa pre-eklampsi/ eklampsi. Kencing Manis (Diabetes) Iritasi vulva pada wanita denga glukosuria berat tidak terkontrol mungkin menambah angka positif palsu biakan buangan dan dapat merupakan predisposisi infeksi kandung kemih. Jika neorupatik diabetik sudah mempengaruhi fungsi normal kandung kemih sehingga sering terjadi infeksi yang menetap. Infeksi saluran kemih pada penderita diabetis dapat menimbulkan kesulitan pada pengaturan metabolisme karbohidrat dan mempermudah asidosis diabetik. Selain itu infeksi juga dapat dihubungkan pada penderita diabetes yang mungkin terkena papilitis nekrotis yang sedikit terdapat mekanisme pertahanan beberapa hospes seperti migrasi leukosit, fagositosis dan aktivitas komplemen yang mungkin terganggu serta bakteribakteri yang mudah merusak dinding sel dalam lingkungan hipertonis medula ginjal. Menurut bukti eksperimen infeksi saluran kemih ditimbulkan oleh inkulasi bakteri ke dalam urine karena di dalam urine fagositosis kurang efektif dalam pemberantasan bakteri. Bakteri tertentu seperti pseudomonas, enterococcus, staphilococcus, dan jamur (candida) di identifikasi adanya infeksi dalam ginjal normal yang diinjeksikan melalui IV.

Kerusakan ginjal pleh virus atau bakteri dapat mengakibatkan kepekaan ginjal terhadap infeksi oleh coliform yang disuntikkan secara IV. Kestatisan aliran urin adalah faktor utama timbulnya infeksi karena urine sangat mendukung pertumbuhan bakteri, kesempatan berkembang biak yang lama sewaktu melewati saluran kemih yang secara lambat memberikan inokulum yang lebih berat dimana ginjal dan jaringan-jaringan urine tidak terlindungi. Serta adanya kenaikan tekanan hidrostatis juga merupakan faktor tambahan sehubungan antara obstruksi dan infeksi urin. Keadaan-keadaaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Ketika keadaan imunitas dari seseorang turun, lebih besar kemungkinan orang tersebut terkena infeksi dan tubuh kurang mampu melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuh. Usia Pada lansia kemungkinan terkena faktor resiko pielonefritis lebih besar karena adanya penahanan dan penimbunan garam urin yang terdapat bakteri. Hal ini mengakibatkan bakteri berkembang biak dan menginfeksi saluran kemih. Dimungkinkan pada lansia sudah resisten terhadap antibiotik tertentu sehingga sulit untuk membasmi bakeri dalam saluran kemihnya. Kateterisasi Bakteri urine dijumpai paling sedikit 10-15% pasien rawat inap dengan kateter yang terus terpasang. Bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi melalui kateter adalah E. Coli, proteus, pseudomonas, klebsiela, dan serratia. Beberapa hal yang dapat meningkatkan terjadinya infeksi melalui kateter adalah lamanya pemasangan kateter, perawatan kateter yang salah, pemutusan hubungan kateter dan pipa drainase. Infeksi terjadi ketika bakteri masuk melalui jalan urin dalam lumen kateter (jalur intraluminal) atau menjalar ke atas mengikuti selubung lendir di luar kateter (jalur peri uretra). Kuman di rumah sakit bisa didapat dari tangan petugas rumah sakit, melalui larutan

pencuci yang sudah tercemar, dan melalui alat atau desinfektan yang sudah tercemar. Jenis kelamin Pada wanita resiko terjadinya pielonefritis lebihbanyak karena struktur anatomi sistem urine yang berbeda. Pada wanita orifisium uretra eksterna lebih dekat dengan anus sehingga kemungkinan besar bakteri E. Coli dari anus masuk ke dalamnya. Sedangkan pada pria letaknya lebih berjauhan sehingga resiko masuknya bakteri dari anus ke dalam orifisium uretra eksterna lebih kecil. Selain itu juga laki-laki mempunyai kelebihan yaitu pada pria dengan prostatitis menimbulkan bakteriuria berlapiskan antibodi. 2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk memperkuat diagnose pielonefritis adalah : Kultur organisme Diagnosis pasti ditegakkan dengan kultur organisme melalui urin, terutama sampel dari urin porsi tengah. Sampel ini dikirimkan segera ke laboratorium atau dala waktu 24 jam dalam lemari es dengan suhu 40C. bila sulit, ambil urin pertama kali yang dikelurkan pada pagi hari karena penyimpanan semalam dalm kandung kemih dapat meningkatkan jumlah bakteri. Pemeriksaan air kemih dengan mikroskop Pemeriksaan secara mikroskopik dikatakan positif bila terdapat piuria (>2000 leukosit/mL) pada pasien dengan gejala infeksi saluran kemih mungkin ditemukan kuman yang bisa berasal dari kontaminasi vagina. Dicurigai terjadi infeksi bila terdapat >105 koloni/mL pada kultur dari urin porsi tengah seorang paien. Tanpa gejala, atau dikatakan sebagi bakteriuria bermakna. Namun sering pula dijumpai pasien ISK dengan <105 koloni/mL, atau terdapat pertumbuhan satu golongan kuman, khususnya Eschericia Coli, sementara tidak ditemukan kontaminasi dari vagina. Penemuan kuman pada kateter atau pungsi suprapubik juga merupakan diagnostik. Bila terdapat

piuria namun kultur tidak tumbuh, kemungkinan jumlah kuman yang terdapat hanya sedikit, kuman tuberkolisis, kontaminasi dari antiseptic atau antibiotik yang digunakan pasien atau pada alat, kuman tersebut memerlukan media yang khusus (misalnya ureaplasma urealytikum), terdapat batu atau benda asing denag infeksi minimal, atau penyakit tubulointerstisial aktif (misalnya nefropati analgesik). Selain itu, secara mikroskopik tampak leukosit polimorfonuklear (PMN) dan dalam interstisium di sekitar tubulus. Segmensegmen tubulus hancur dan leukosit dikeluarkan ke dalam kemih dalam bentuk silinder. Pemeriksaan IVP Pemeriksaan IVP, merupakan pemeriksaan rutin untuk mengevaluasi pasien yang menderita ISK komplikasi. IVP ini dapat mengungkap adanya pielonefritis akut dan kronik serta adanya sumbatan atau obstruksi di saluran kemih. ISK dapat menimbulkan beberapa komplikasi lanjutan antara lain gagal ginjal akut, urosepsis, nekrosis papila ginjal, terbentuknya batu saluran kemih, pembentukan abses dan granuloma (area peradangan lokal yang disebabkan infeksi).Pada pemeriksaan ini memperlihatkan pembengkakan tabuh (clubbing) pada kaliks, korteks minipis dan ginjal kecil, bentuknya tidak teratur dan biasanya tidak simetris. Perubahan patologi pada pielonefritis kronik menunjukkan permukaan ginjal tampak bergranula kasar dengan lekuan-lekukan berbentuk huruf U, jaringan parut subkapsular, dan pelvis yang fibrosis dan berdilatasi serta kaliks terlihat pada penampang melintang. Pemeriksaan mikroskopik potongan jaringan Dengan pemeriksaan ini, dapat diketahui perubahan-perubahan parenkim yang khas, yaitu banyak sel radang kronik terdiri dari sel-sel plasma dan limfosit, tersebar di seluruh interstisium. Ketiga glomerulus tetap utuh dan dikelilingi oleh banyak tubulus kecil dan telah mengalami atrofi atau dilatasi. Tampak fibrisis interstisial dekat glomerulus. Tampak pada daerah-daerah luas yang mengalami tiroidisasi (tampak seperti jaringan kelenjar

tiroid),terdiri dari tubulus-tubulus yang mengalami dilatasi dibatasi oleh selsel epitel gepeng dan terisi silinder seperti kaca. Pembiakan bakteri Pembiakan bakteri pada urine ini untuk menentukan adanya bakteri. E.coli merupakan organism penyebab infeksi paling sering ditemukan pada pielonefritis akut tanpa komplikasi. Dari seluruh pasien infeksi ini, 90% diantaranya member respon terhadap terapi antibiotika, tetapi sisanya 10% dapat mengalami infeksi akut berulang atau bakteriurea asimptomatik yang menetap. Bila pielonefritis akut mengalami komplikasi obstruksi, maka bakteriuria rekuren atau menetap ditemukan pada 50% sampai 80% pasien dalam waktu 2 tahun. Tes stick Pemeriksaan ini untuk mengetahui adanya proteinuria, hematuria, glukosuria, dan pH. USG dan foto rontgen USG dan rontgen bisa membantu menemukan adanya batu ginjal, kelainan struktural atau penyebab penyumbatan air kemih lainnya, infeksi atau iritasi pada periuretra atau vagina. Pemeriksaan melalui foto dilakukan untuk mengetahui adanya distribusi gas yang abnormal pada pielonefritis akut (infeksi akut pada sistem saluran kemih bagian atas/ ginjal), dan untuk mengetahui kekaburan atau hilangnya garis psoas dan kelainan dari bayangan bentuk ginjal merupaka petunjuk adanya abses perirenal atau abses ginjal Pemeriksaan Darah Pemeriksaan darah lengkap dilakukan bila diperlukan untuk mengungkapkan adanya proses peradangan (inflamasi) atau infeksi. Test faal ginjal, faal hepar, faal hemostasis, elektrolit darah, analisa gas darah serta kultur kuman sangat diperlukan untuk mengetahui infeksi berat dan penanganan ISK secara komplit dan intensif.

2.9 PENATALAKSANAAN (PENGOBATAN) Farmakologis Terapi antibiotic untuk membunuh bakteri gram positif maupun gram negatif. Untuk mencegah kekambuhan, pemberian antibiotic bisa diteruskan selama 2 minggu. 4-6 minggu setelah pemberian antibiotik, dilakukan pemeriksaan air kemih ulang untuk memastikan bahea infeksi telah berhasil diatasi. Tipe dari antibiotic tersebut adalah fluoroquinolones (ciprofloxacin), beta-lactam anti biotic (amoxicillin dan cephalosporin), trimethoprim atau cotrimoxazole atau nitrofurantoin. Aminoglucosides sangat tidak dianjurkan karena toksisitasnya yang cukup tinggi tetapi dapat digunakan hanya dalam jangka waktu yang pendek. Jika terjadi demam tinggi, panas dingin atau mual muntah maka penggunaan antibiotik tidak dapat diberikan secara peroral tetapi dengan melalui intravena. Pasien dengan kondisi yang sedikit kronis akan efektif apabila ditangani dengan agen oral dan terapiparenteral diberikan selama 24-48 jam sampaipasien afebril. Demam tinggi dan panas dingin merupakan tanda ginjal mulai mengalami infeksi yang menjalar ke aliran darah dan bagian organ lain dalam tubuh. Bula gejala tidak berkurang, dilakukan USG ginjal untuk mengetahui terdapat obstruksi. Wanita dengan bakteri uria asimtomatik atau gejala infeksi saluran kemih bawah cukup diobati dengan dosis tunggal selama 5 ahri. Kemudian dilakukan pemeriksaan urin porsi tengah seminggu kemudian. Jika masih positif, harus dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pada anak anak dan pria, kemungkinan terdapat kelainan saluran kemih lebih besar, sehingga sebaiknya dilakukan terapi antibiotic selama 5 hari., bukan dosis tunggal dan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Non Farmakologis Pasien dianjurkan untuk banyak minum agar dieresis meningkat, diberikan obat yang menyebabkansuasana urine alkali jika terdapat disuria berat, dan diberikan antibiotic yang sesuai. Biasanya ditujukan untuk bakteri gram

negative dan obat tersebut harus tinggi konserntrasinya dalam urin.anjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilasmikroorganisme yang mungkin naik ke uretra, untuk wanita harus membilasdari depan ke belakang untuk menghindari kontaminasi lubang urethra oleh bakteri feses. 2.10 KOMPLIKASI Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir (mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamatori kronik dan jaringan parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi disertai oraganisme pengurai urea,yang mengakibatkan terbentuknya batu). Keparahan atau infeksi yang kambuh mungkin menyebabkan kerusakan ginjal permanen dan awal dari penyakit ginjal kronis. Pada kasus yang luar biasa ini, infeksi ginjalmungkin menyebar ke bloodstream. Infeksi bloodstream adalah kondisi yang serius yang disebut sepsis. Gagal ginjal akut,adalah kondisi yang menyebabkan ginjal berhenti bekerja. 2.11 PENCEGAHAN Untuk menghindari besarnya resiko terhadap terjadinya pielonefritis,ada beberapa hal yang bisa kita lakukan antara lain : 1. Mengkonsumsi banyak air putih. Sebaiknya kita minum air putih minimal 2 liter perhari. Konsumsi air putih yang adekuat dapat mengurangi kepekatan darah sehingga dapat mengurangi kerja ginjal dalam memfiltrasi darah. 2. Personal hygiene yang baik. Kita harus menjaga kebersihan alat kelamin terutama pada wanita. Misalnya melakukan vulva hygiene dari anterior ke posterior agar mikroorganisme seperi bakteri E. coli yang berhasil dari anus tidak masuk ke urethra. Selain itu kita harus menjaga agar daerah perineum tidak lembab, karena tempat yang lembab dapat mempermudah perkembangbiakan bakteri.

3. Gizi yang baik. Asupan gizi yang baik dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga dapat melawan bakteri yang masuk ke dalam tubuh.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Pielonefritis (infeksi traktus urinarius atas) merupakan infeksi bakteri pada salah satu atau kedua ginjal. Pielonefritis dikategorikan menjadi dua yaitu pielonefritis akut dan pielonefritis kronik. Pielonefritis akut merupakan infeksi atau peradangan pada jaringan ginjal yang terjadi secara mendadak antara 24-48 jam. Pielonefritis kronis terjadi secara bertahap, biasanya tanpa gejala dan penyakit ini dapat mengarah pada kerusakan ginjal. Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pielonefritis adalah bakteri (Escherchia coli, Pseudomonas aerugenosa, Staphylococcus aurcus dan Streptococcus faecalis), jamur, virus, obstruksi (infeksi batu ginjal, tumor, dan hipertropi prostat). Keadaan yang dapat meningkatkan resiko terjadinya pielonefritis adalah kehamilan, diabetes, keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi, usia, kateterisasi, jenis kelamin. Penyebab utama dari pielonefritis adalah ascending refluks, vesicouretral refluks, obstruksi, dan bakterimia. Penatalaksanaan dapat di lakukan dengan cara pemeriksaan penunjang melalui pielography intravena dan

pengobatan dengan antibiotik. Pencegahan yang bisa kita lakukan adalah menjaga kebersihan diri dari alat genetalia untuk menghindari terjadinya infeksi, minum banyak air putih sekitar 2 liter per hari, dan gizi yang baik . Komplikasi yang mungkin terjadi adalah gagal ginjal dan sepsis. 3.2 SARAN Penyakit pielonefritis merupakan salah satu penyakit yang berbahaya karena dapat menimbulkan kagagalan kerja suatu organ, yaitu ginjal. Bahkan infeksi pada ginjal ini bisa menyebabkan kematian. Untuk itu sebagai tenaga kesehatan kita dituntut untu dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya personal hygiene terutama kebersihan urogenetalia. Selain itu kita harus dapat melakukan kateterisasi pada pasien dengan indikasi tertentu, sesuai dengan standar steril untuk mengurangu resiko terjadinya infeksi saluran kemih pasien.