L

L
KONFIGURASI BENTUK-BENTUK MATCHING IMPEDANCE
Beberapa rangkaian kombinasi LC dapat menjadi matching network, empat diantaranya adalah, single-
tuned transformer, L-section, dan π-section, seperti ditunjukkan pada Gbr-1.
L (= X
2
)
C (= X
2
)
L
1
R
S
C
1
R
S R
R
S R
L
2
R
L
C (= X
1
)
L
L (= X
1
)
M
(a)
(b) (c)
L
R
S
R '
C
1
C
2
(d)
Gbr-1 Rangkaian matching
(a) transformer match, (b) L-match dgn L seri, (c) L-match dgn C seri, (d) -match.
Pada Gbr-1(a) sampai (d) nampak adanya R
S
dan R
L
, yang masing-masing adalah impe- dansi atau
resistansi sumber dan resistansi beban, yang tidak sama besarnya. Khusus untuk bentuk -section, resistansi
beban dinyatakan dengan R
L
’ yang berarti sama.
Di bidang microwave dan pita frekuensi VHF, stub-tuner dan quarterwave transformer mempunyai fungsi
yang sama dengan rangkaian matching tersebut diatas. Stub-tuner adalah saluran transmisi dengan jenis yang sama
dengan saluran utamanya yang ditam bahkan secara paralel dengan saluran utama pada titik dengan jarak tertentu
dari beban. Sedang quarterwave transformer adalah saluran sepanjang ¼λ yang disisipkan diantara ujung saluran
transmisi utama dengan bebannya yang tidak match. Jenis saluran trans- misinya mempunyai impedansi
karakteristik yang berbeda dengan saluran utamanya. Dinamakan transformer karena transformasi impedansinya
mirip dengan transformasi dari sekunder ke primer sebuah trafo. Kedua cara melakukan matching terakhir ini
dilukiskan pada Gbr-2.
p s
Z
S
1/4λ
Z
S
l
1
Z
O
Z'
O
Z
L
Z
O Z
L
Z
O
(a)
(b)
l
2
Gbr-2 Rangkaian matching
(a) Trafo ¼λ, (b) Short circuited stub tuner.
1. Transformer Match
Bentuk rangkaian transformer mirip dengan rangkaian penala double tuned yang telah dibahas pada
modul sebelumnya. Dalam keadaan resonansi, beban yang dirasakan oleh sumber adalah R
D
’, yang besarnya
dituliskan kembali pada rumus (4-1).
R
D
’ =

R
D
1 + k
2
Q Q
----------------------------------------- (4-1)
dimana : R
D
= resistansi dinamis rangkaian tuning
primer k= faktor kopling kumparan primer-
sekunder Q
p
= faktor kualitas kumparan primer
Q
s
= faktor kualitas kumparan sekunder
Sementara faktor kualitas rangkaian dilihat dari sisi sumber, Q
p
’, adalah,
Q
p
Q
p
’ =
2
------------------------------------- (4-2)
1 + k Q
p
Q
s
Tetapi karena pengaruh kondisi match, maka faktor kualitas total termasuk karena adanya R
S
, maka
faktor kualitas tersebut menjadi,
Q
eff
= ½ Q
p
’ ------------------------------------- (4-3)
2. L-Match
Rangkaiannya ditunjukkan pada Gbr-2(b) dan (c) yang berbeda dari posisi komponen L dan C. Kedua
posisi itu kemudian diberi tanda X
1
dan X
2
. Untuk Gbr-2(b), X
1
adalah komponen C, sementara pada Gbr-2(c),
X
1
adalah komponen L. Rangkaian ini sering digunakan untuk rangkaian matching pada output transmiter ke
feeder beserta antenanya.
L L
L
2 2
- =
R
2 2
Cabang input yang dapat berbentuk C atau L, dinamai Z
1
. Sedang cabang seri yang akhirnya dibebani
R
L
yang resistif menjadi satu impedansi pengganti dengan notasi Z
2
, besarnya sama dengan (R
L
+ jX
2
). Secara
keseluruhan bila dilihat dari sisi transmiter, maka admitansinya adalah,
Y = j
1
X
1
+
R
L
R
2
+ X
2
- j
X
2
R
2
+ X
2
-------------------- (4-4)
Pada keadaan resonansi, bagian imajiner admitansi rumus (4-4) tersebut menjadi nol,
sehingga,
1 X
2
2 2
X
1
R
L
+ X
2
atau, R
2
+ X
2
2
= - X
1
X
2
------------------------------------ (4-5)
sehingga pada keadaan resonansi, nilai admitansi kemudian menjadi,
Y
res
=
R
L
L
+ X
2
dan karena itu,
= -
R
L
- X
1
X
2
R
D
= -
X
1
X
2
R
L
----------------------------------------- (4-6)
Dengan memasukkan nilai X
1
dan X
2
sebenarnya, maka,
R
D
=
L
C.R
L
---------------------------------------------- (4-7)
Faktor kualitas efektif rangkaian adalah sama dengan nilai Q dari cabang yang mengandung beban R
L
, yaitu,
Q =
X
2
R
L
TELEKOMU 4
Tetapi karena keadaan match, maka nilai tersebut menjadi setengahnya, yaitu,
Q
eff
= ½ Q ------------------------------------------------- (4-8)
Bila kita tulis kembali rumus (4-5), yaitu dalam keadaan resonansi untuk menentukan nilai frekuensi
R

L
2
2
L
L
eff
2
2
resonansinya, sebagai berikut,
2
+ X
2
2
=
C
L
2
atau, X
2
2
= - R
L
C
Untuk X
2
= ωL, frekuensi resonansi tertentu dari hubungan,
ω
O
2
=
1
¸

1 −
LC
¸
CR
_

,

¸ _

1
=
1
1



R
L

1
------------------------------- (4-9)
LC

R

¸ D ,
Bila dalam keadaan resonansi, maka R
S
dapat disubstitusikan ke R
D
, sehingga nilai induktansi
komponen L-section tersebut tertentu dari,
L =
L
-------------------------------------- (4-10)
¸
R _
1 −
L

¸
R
S ,
1
Dengan cara yang sama, bila X
2
= -
ωC
, maka,

¸
R _
1
1



L
----------------------------------- (4-11) C
eff
= C


1
¸
R
S ,
TEL
Dalam prakteknya, kedua nilai X
1
dan X
2
adjustable. X
2
diatur untuk mendapatkan nilai faktor Q yang
diperlukan guna memberikan ratio impedansi yang tepat, dan kemudian pengaturan X
1
dilakukan untuk
mendapatkan keadaan resonansi, yaitu menghilangkan nilai-nilai reaktansi rangkaian. Pada sebuah pemancar
misalnya, yaitu pada penguat akhir yang kelas-C, pengaturan dilakukan dengan melihat meter arus outputnya
(arus kolektor transistor). X
2
diatur secara kontinyu untuk mencapai nilai arus pada mak- simumnya. Kemudian
diatur X
1
untuk mendapatkan sebaliknya, yaitu nilai minimumnya yang menunjukkan dalam keadaan resonansi.
4.3. ᴨ-Match
Rangkaiannya ditunjukkan pada Gbr-2(d). Pada sisi output nampak bahwa, kapasitor C
2
terpasang paralel
dengan R
L
’, sehingga kombinasi itu dapat menjadi satu beban baru, Z
L
, bagi bentuk L-section seperti Gbr-2(b).
Beban baru tersebut adalah,
R ' R 'Q
Z
L
=
L
- j
L L
2
S
2
2
1 + Q
L
' 1 + Q
L
= R
L
- j R
L
Q
L
dimana, Q
L
= ω
Ο
C
2
R
L
’ ------------------------------------------ (4-12a)
= faktor kualitas di cabang beban R
L
’.
R '
R
L
=
L
1 + Q
L
'
------------------------------------------ (4-12b)
X
2
= ωL - jR
L
Q
L
------------------------------------------ (4-12c)
Rangkaian ekivalen baru tersebut ditunjukkan pada Gbr-3, dimana X
2
terdiri dari dua komponen seperti
dinyatakan pada rumus (4-12c).
X
2
L
R
L
Q
L
R
S
C1 (= X
1
) R
L
Gbr-3Rangkaian ekivalen L-section utk. -section dengan beban baru ZL.
Selanjutnya didefinisikan Q
1
, yaitu faktor kualitas di sisi sumber, yang merupakan faktor kualitas
rangkaian dilihat dari sisi sumber. Nilai Q
1
didefinisikan seperti rumus (4-13) sebagai berikut,
R
Q
1
=
X
1
---------------------------------------------- (4-13)
Karena keadaan matched, maka R
S
= R
D
, dan dari rumus (4-6) dapat diturunkan menjadi,
X
2
= - Q
1
R
L
---------------------------------------------- (4-14)
Substitusi rumus (4-13) dan (4-14) pada rumus (4-5) diperoleh,
R
L
'
=
1 + Q
L
--------------------------------------------- (4-15)
R
S
1 + Q
1
Karena keadaan matched tersebut, maka resistansi dinamik efektif rangkaian menjadi setengah dari R
D
atau setengah dari R
S
. Oleh karena itu faktor kualitas efektif rangkaian juga menjadi ½ Q
1
, yaitu,
R ω C
--------------------------------------------- (4-16)
Q
eff
=
S O
1
2
Untuk menentukan frekuensi resonansi dapat dilakukan dengan pendekatan yang baik dengan
merangkaikan komponen, L, C
1
, dan C
2
’ secara seri, dimana,
Q
L
C
2
’ =
2
L
(1 + Q
2
)
---------------------------------------------- (4-1)
Pengaturan kondisi rangkaian dilakukan dengan mengatur nilai C
2
sedemikian sehingga diperoleh
impedansi yang sesuai (matched), dan diikuti dengan pengaturan C
1
sedemi- kian sehingga diperoleh keadaan
resonansi, yang pada dasarnya sama dengan seperti diuraikan diatas.
TELEKOMUNIKASI9
Daftar Kepustakaan
1. Johnson, Walter C.; Transmission Lines and Networks, McGraw-Hill
Co., Singapore, 1986.
2. Kennedy, George; Electronic Communication Systems, McGraw-Hill
Co., Singapore, 1988.
3. Roddy, Dennis & Coolen,John; Electronic Communications, Prentice-Hall of
India Ltd, New Delhi, 1981.
TELEKOMUNIKASI 10