P. 1
PEMBUKUAN AL QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

PEMBUKUAN AL QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN

|Views: 1,192|Likes:
Menurut para ulama pengertian Jam’ul Qur’an terdiri dari dua yaitu :
Pertama :
Pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya huffazuhu (penghafal – penghafalnya, orang yang menghafalkannya di dalam hati). Dan inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada nabi – Nabi senantiasa menggerak – gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Qur’an ketika Qur’an itu turun kepadanya sebelum Jibril selesai membacakannya, karena ingin menghafalnya
Menurut para ulama pengertian Jam’ul Qur’an terdiri dari dua yaitu :
Pertama :
Pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Jumma’ul Qur’an artinya huffazuhu (penghafal – penghafalnya, orang yang menghafalkannya di dalam hati). Dan inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada nabi – Nabi senantiasa menggerak – gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Qur’an ketika Qur’an itu turun kepadanya sebelum Jibril selesai membacakannya, karena ingin menghafalnya

More info:

Published by: aji_d_saputro_695185 on May 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2014

pdf

text

original

KATA PENGANTAR Alhamdulillah dengan mengucapkan rasa syukur segala puji bagi Allah, penguasa alam dan seisinya

yang telah memberikan hidayah-Nya kepada penulis sehingga makalah dengan judul “Pembukuan Al – Qur’an Pada Masa Khulafaur Rasyidin” ini dapat terselesaikan dengan baik, dan menurunkan Nabi Muhammad SAW sebagai “Benchmark” atau manusia contohnya, dan tidak lupa shalawat dan salam semoga tercurahkan atas utusan Allah sebagai rahmat bagi alam semesta, junjungkan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabatnya dan pengikut sekiranya sampai akhir zaman. Adapun tujuan pembuatan dari makalah ini adalah dijadikan sebagai syarat untuk mengikuti ujian tengah semester pada mata kuliah Bahasa Indonesia semester II. Pada kesempatan ini penulis juga ingin menucapkan rasa terima kasih penulis kepada : 1. Kepala STAI-MU, Drs. H. Muhammad Idris D.M 2. Bapak Imam Subekti, S.Ag sebagai pembimbing utama 3. Kedua orang tua penulis yang senantiasa memberikan dorongan kepada penulis baik moril maupun materil 4. Para informan yang telah membantu penulis memberikan informasi Penulis menyadari di dalam penulisan ini terdapat kekurangan, oleh karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak, demi kesempurnaan Makalah ini di masa yang akan datang. Demikianlah sedikit yang dapat Penulis sampaikan, mudah-mudahan Makalah ini bermanfaat untuk kita semua. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. DAFTAR ISI KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 1.2 Masalah 1 1.3 Tujuan Penulisan 1 BAB II PEMBUKUAN AL QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN 2.1 Pengertian Pengumpulan Al – Qur’an (Jam’ul Qur’an) 2 2.2 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Abu Bakar 2 2.3 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Umar bin Khatab 4 2.4 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Usman 4 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan 6 3.2 Saran 6 DAFTAR PUSTAKA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam mempelajari ilmu Al – Qur’an, ada beberapa hal yang penting untuk dipelajari dan salah satunya adalah bagaimana Al – Qur’an itu dibukukan baik pada zaman rasulullah ataupun pada masa khulafaur Rasyidin. Karena dengan mengetahui bagaimana proses pengumpulan Al – Qur’an kita dapat mengerti bagaimana usaha-usaha para sahabat untuk tetap memelihara AlQuran. Secara etimologi Al – Qur’an berarti qira’at berasal dari kata dasar qara’a yang berarti mengumpulkan dan menghimpun, yaitu menghimpun huruf dan kata yang tersusun sehingga

Kemudian atas tanggungan Kamilah penjelasannya” (Al – Qiyamah [75] : 16-19). 2 2. Yang mula – mula sadar akan hal ini ialah Umar bin Khatab.1 Pengertian Pengumpulan Al – Qur’an (Jam’ul Qur’an) Menurut para ulama pengertian Jam’ul Qur’an terdiri dari dua yaitu : Pertama : Pengumpulan dalam arti hifzuhu (menghafalnya dalam hati). Umar balas menjawab : “Ini demi Allah akan membawa kebaikan”.2 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Abu Bakar Setelah Nabi wafat kaum muslimin mengangkat Abu Bakar Shiddik menggantikan beliau sebagai khalifah yang pertama pada masa permulaan. Keadaan itu ialah sebagian besar orang – orang yang hafa Al – Qur’an gugur syahidah dalam perang Yamamah. jika semua huffazhul Qur’an sudah tidak ada lagi. Dan inilah makna yang dimaksudkan dalam firman Allah kepada nabi – Nabi senantiasa menggerak – gerakkan kedua bibir dan lidahnya untuk membaca Qur’an ketika Qur’an itu turun kepadanya sebelum Jibril selesai membacakannya. lalu beliau mengingatkan khalifah akan bahaya yang mengancam keutuhan Al – Qur’an. Apabila kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu. Umar masih . 1. Umar menyarankan supaya khalifah mengambil langkah – langkah untuk mengamankan Al – Qur’an. Kekhalifahan pemerintahan Abu Bakar timbul suatu keadaan yang mendorong pengumpulan ayat – ayat Al – Qur’an dalam satu mushaf. Untuk itulah pembukuan Al – Qur’an ini dilakukan untuk tetap menyatukan umat Islam dalam satu iman saja. ataupun menertibkan ayat – ayat dan surah – surahnya dalam lembaran – lembaran yang terkumpul yang menghimpun semua surah. atau menertibkan ayat – ayat semata dan setiap surah ditulis dalam satu lembaran secara terpisah. yaitu dengan mengumpulkan ayat – ayat Al – Qur’an dalam satu mushaf. BAB II PEMBUKUAN AL – QUR’AN PADA MASA KHULAFAUR RASYIDIN 2.3 Tujuan Penulisan Penugasan ini dilakukan semata-mata demi untuk mempelajari dan menambah wawasan dalam Ulumul Qur’an dan juga merupakan salah satu tugas mata kuliah.menjadi qira’ah (bacaan) yang bermaknakan maqru’ (sesuatu yang dapat dibaca).2 Masalah Setelah wafatnya Rasulullah SAW. orang yang menghafalkannya di dalam hati). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. diriwayatkan secara mutawatir. Jumma’ul Qur’an artinya huffazuhu (penghafal – penghafalnya. sebagiannya ditulis sesudah bagian yang lain. Umar bin Khatab pergi ke khalifah Abu Bakar dan bermusyawarah dengannya dalam hal itu salah satu yang diucapkan Umar adalah : “Saya berpendapat lebih baik anda memerintahkan manusia untuk mengumpulkan Al – Qur’an”. merupakan mukjizat dan membacanya merupakan ibadah. Timbullah kekhawatiran akan hilangnya beberapa ayat dari Al – Qur’an. Menurut istilah Al – Qur’an adalah firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw melalui perantara malakat Jibril dengan bahasa Arab. 1. Abu Bakar menjawab : “Bagaimana kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw”. ada peristiwa – peristiwa yang memaksa dan membuka hati para sahabat untuk tetap menjaga keaslian dan kemurnian dari ayat – ayat Al – Qur’an seperti wafatnya huffazuhu (penghafal – penghafal ayat Al ‘ Qur’an) dalam perang Yamamah dan pertempuran di sumur Ma’unah yang terjadai pada masa Nabi serta adanya perbedaan cara membaca ayat – ayat Al – Qur’an yang akan berakibat fatal bagi umat Islam. Kedua : Pengumpulan dalam arti Kitabullah kullihi (penulisan Qur’an semuanya) baik dengan memisah – misahkan ayat – ayat dan surah – surahnya. karena ingin menghafalnya : 1 “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca Qur’an karena hendak cepat – cepat menguasainya.

Lalu Abu Bakar memanggil Zaid bin Tsabit sembari berkata padanya : “Sesungguhnya engkau adalah seorang pemuda yang berakal cerdas dan konsisten. Karena perbedaan dialek bahasa mereka. Beliau memintan kepada Hafsah binti Umar supaya mengirimkan mushaf Abu Bakar yang ada padanya. Selanjutnya masing – masing menganggap mereka bacaannya yang lebih tepat dan baik. sebagaimana sebelumnya Dia melapangkan dada Abu Bakar dan Umar. Abdullah bin Zubair. sampai akhirnya akan mendapatkan akhir surat Taubah berada pada Abu Khuzaimah Al – Ansari. 2. Abu Bakar senantiasa “membujukku” hingga Allah melapangkan dadau. kukumpulkan ia dari pelepah kurma. Mekah. Pada masa itu masihbanyak para sahabat yang hafal Al – Qur’an yang dapat mengajarkannya kepada para sahabat yang lain. seandainya engkau memaksaku untuk memindahkan satu gunung dari gunung yang lain maka itu tidak lebih berat bagiku daripada perintahmu kepadaku mengumpulkan Al – Qur’an”. Hal ini dimaksudkan agar Al – Qur’an yang telah dikumpulkan itu terpelihara dalam bentuk tulisan yang original atau bersifat standarisasi. Engkau telah menulis wahyu di zaman Rasulullah saw. khalifah meninggalkan sebuah dari tujuh mushaf itu untuk dirinya sendiri.3 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Umar bin Khatab Pada masa khalifah Umar bin Khatab kegiatan penyiaran dan dakwah Islam demikian pesat sehingga daerah khalifah Islam sampai ke Mesir dan Persia Khalifah Umar bin Khattab mengarahkan pada kegiatan dakwah tersebut. Berita perselisihan itu sampai ketelinga Usman dan beliau menganggap hal itu sebagai sumber bahaya besar yang harus segera diatasi. Setelah selesai penghimpunannya. 2. Damaskus. mushaf asli dikembalikan ke Hafsah dan tujuh mushaf yang telah disalin. maka aku memintamu untuk mengumpulkannya”. sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Jarir mengatakan berkenaan apa yang telah dilakukan Usman “Ia telah menyatukan umat Islam dalam satu mushaf dan satu shuhuf. Aku berkata : “Bagaimana engkau melakukan sesuatu yang belum pernah Rasulullah saw?” Dia menjawab : “Demi Allah.terlibat dialog dengan Abu Bakar sehingga Allah melapangkan dada Abu Bakar (menerima usulan Umar). masing – masing dikirimkan ke kota – kota Kufah. Kemudian khalifah menugaskan : Zaid bin Tsabit. kepingan – kepingan batu dan dari hafalan – hafalan para penghapal. Maka akupun mulai mencari AL – Qur’an. . BAB III PENUTUP 3. Dalam penyalinan (pembukuan) Al – QUR’an itu dimana amat teliti dan tegas. Zaid menjawab : “Demi Allah. Zaid bin Tsabit bertindak sangat teliti dan hati – hati. itu membawa kebaikan”.4 Al – Qur’an Pada Masa Khalifah Usman Pada masa khalifah Usman bin Affanm timbul hal – hal yang menyadarkan khalifah akan perlunya memperbanyak naskah shuhuf dan mengirimkannya ke kota – kota besar dalam wilayah negara Islam.1 KESIMPULAN Dari uraian yang telah penulis paparkan dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa apa yang telah dilakukan para sahabat yaitu dengan mengumpulkan AL – Qur’an adalah sesungguhnya suatu perbuatan yang sangat mulia karena dengan nama Allah mereka berusaha menjaga kelestarian dari ayat – ayat Al – Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saw secara mutawatir melalui perantara Malaikat Jibril adalah suatu kemukjizatan yang tak pernah terbandingi nilainya. Al – Qur’an merupakan pedoman dasar menuju jalan yang diridhoi oleh Allah SWT. Said bin Ash dan Abdurrahman bin Harits bin Hisyam untuk menyalin (membukukan) menjadi beberapa shuhuf. Bashrah. Madinah dan Mesir. Setelah Umar wafat shuhuf itu disimpan oleh Hafsah Bin Umar denangan pertimbanga bahwa Hafsah adalah istri Nabi Muhammad saw dan putri Umar yang pandai membaca dan menulis. Kumpulan Al – Qur’an yang disimpan oleh Abu Bakar kemudian disimpan oleh Umar hanya disalin menjadi satu shuhuf. sedangkan mushaf yang lain di sobek. kesadaran ini timbul karena para huffazal Qur’an telah bertebaran ke kota – kota besar dan diantara mereka terdapat perbedaan bacaan terhadap beberapa huruf dari Al – Qur’an.

di antara mereka itu terdapat perbedaan tentang bacaan (qiro’ah) Al Quran itu. Abdullah bin Zubair. pemerintahan Islam telah sampai hingga ke Armenia dan Azerbaijan di sebelah timur dan Tripoli di sebelah barat. Maka dengan itu. Al – Qur’an merupakan kitab dari Allah yang kaya akan ilmu dan tak akan pernah habis untuk dikaji. yaitu “Bacaanku lebih baik dari bacaanmu”. yang disimpan oleh Hafshah. dan di antara mereka itu banyak yang hafal Al-Quran. karena dengan mempelajari Al Qur’an kita akan mengetahui Maha Besarnya Allah bagi segala makhluk yang diciptakannya. maka mushaf Al-Quran yang dipinjamkan daripada Hafshah itu dipulangkan semula kepada beliau. kaum Muslimin telah tersebar ke seluruh wilayah Islam seperti ke Mesir. PEMBUKUAN ALQURAN Di masa khalifah Utsman bin Affan ra. Dalam perjalanan. akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum Muslimin.3. sepertimana perselisihan Yahudi dan Nasara”. Irak. Al-Quran yang dibukukan itu dinamakan “Al-Mush-haf” dan seterusnya oleh panitia itu dituliskan lagi 5 buah Al Mush-haf. Maka dengan itu. Basrah dan Kuffah. Kemana mereka pergi dan di mana mereka tinggal. dari mush-haf yang ditulis di zaman khalifah Utsman itulah. Al-Quran tetap menjadi imam mereka. Panitia ini diberikan tugas untuk membukukan Al-Quran. maka haruslah ditulis menurut dialek suku Quraisy. Maka khalifah Usman r. Orang yang mula-mula memperhatikan hal ini ialah seorang sahabat yang bernama Huzaifah bin Yaman. Hingga sekarang masih ada kelainan bacaan karena bacaan-bacaan yang dirawikan dengan . yang ditulis di masa khalifah Abu Bakar ra. kaum Muslimin diseluruh pelosok menyalin AlQuran itu. Di samping itu. Pada asalnya perbedaan bacaan ini ialah karena Rasulullah sendiri pun memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab Islam yang berada di masanya untuk membaca dan melafazkan AlQuran itu menurut lahjah (dialek) mereka masing-masing. Persia dan Afrika. Syria. Maka lembaran-lembaran tersebut diserahkan kepada khalifah Utsman ra oleh Hafshoh.2 SARAN Dengan adanya makalah ini penulis menyarankan agar kita (khususnya penulis sendiri) hendaknya dapat mempelajari ilmu – ilmu Al – Qur’an karena sesungguhnya Al – Qur’an merupakan mukjizat terbesar bagi umat Islam yang dapat dijadikan pedoman hidup baik di dunia dan di akhirat. Dalam menjalankan tugas ini. Setelah tugas yang diamanahkan kepada panitia itu selesai. Sa’id bin ‘Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam. dan juga pernah mendengar perkataan seorang Muslim kepada temannya. Syria. dan itulah yang dinamai dengan “Mush-haf Al-Imam”. khalifah Utsman memerintahkan semua lembaran-lembaran Al-Quran yang lain. sebab Al-Quran itu diturunkan menurut dialek mereka. Maka ketika beliau telah kembali ke Madinah. Ketika beliau turut serta dalam pertempuran menaklukkan Armenia dan Azerbaijan. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi Muhammad supaya mudah bagi mereka untuk menghafal Al-Quran itu. agar di tempat-tempat tersebut disalin pula dari masing-masing mushaf itu. seterusnya menjadi buku (dijilid). Huzaifah berkata kepada Sayidina Utsman: “Susulilah umat Islam itu sebelum mereka berselisih tentang Al Kitab. 2. yaitu menyalin dari lembaranlembaran tersebut.a meminta kepada Hafshah binti Umar akan lembaran-lembaran AlQuran yang telah dikumpulkan. qiro’at). Sedangkan satu buah lagi ditinggalkan di Madinah. Dan di antara mereka juga mempunyai naskah-naskah Al-Quran. Empat buah di antaranya dikirimkan ke Mekah. Keadaan ini membuat Huzaifah gundah. khalifah Usman menasihatkan supaya: 1. Kemudian Khalifah Utsman membentuk satu panitia yang terdiri daripada Zaid bin Tsabit sebagai ketua. Namun naskah-naskah yang mereka punyai itu tidak sama dari segi susunan surahsurahnya. Setelah itu. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al-Quran. untuk Utsman sendiri. beliau menemui khalifah Utsman bin Affan ra dan beliau menceritakan apa yang dilihatnya mengenai pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan AlQuran itu. beliau pernah mendengar pertikaian kaum Muslimin tentang bacaan beberapa ayat Al-Quran. Tetapi nampaklah tanda-tanda bahwa bila perbedaan tentang bacaan Al-Quran ini dibiarkan. yang ditulis (selain daripada Al Mush-haf) dikumpulkan dan dibakar. Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan.

Artinya. ayat-ayat Al-Qur`an dan qiroat yang terkandung dalam Mush-haf Utsmani memang ayat-ayat Al-Qur`an seperti yang dihafal oleh mayoritas shahabat yang menerimanya langsung dari Rasulullah. Perkataan "al waraq" (daun) yang digunakan dalam mengatakan kertas pada masa itu hanyalah pada daun kayu sahaja. pada setiap masa dan zaman. batu yang tipis dan licin. Maka digunakan kata itu untuk kertas oleh bangsa Arab Islam semenjak itu. Namun bacaanbacaan tersebut tidaklah berlawanan dengan apa yang ditulis dalam mushhaf-mushhaf yang ditulis dimasa khalifah Utsman. Sebelum Nabi Muhammad atau semasa zaman Nabi Muhammad kata "kaqhid" itu tidak ada digunakan di dalam bahasa Arab. Sedangkan bacaan-bacaan yang tidak bersesuaian dengan mushhaf-mushhaf Utsman tidak dibenarkan lagi. Menyatukan bacaan.” (Surah Al Hijr: 9) Pengertian Al Quran Qur'an menurut pendapat yang paling kuat adalah seperti yang dikemukakan Dr. "Sesungguhnya mengumpulkan Al Quran (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. Akhirnya sampailah kepada kita sekarang dengan tidak ada sebarang perubahan sedikit pun dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad s. Kata "al qirthas" digunakan oleh mereka hanya merujuk kepada benda-benda (bahan-bahan) yang mereka pergunakan untuk ditulis seperti kulit binatang. Kitab atau buku tentang apapun juga belum ada pada mereka. terbuktilah firman Allah. Dengan demikian." Definasi Al-Quran ialah Kalam Allah yang merupakan mukjizat yang diturunkan (diwahyukan) kepada Nabi Muhammad dan yang ditulis di mushaf dan diriwayatkan dengan mutawatir serta membacanya adalah ibadah. Kata-kata "kitab" di masa itu hanyalah bermaksud dalam bentuk seperti sepotong kulit. “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya. Kata Qur'an itu berbentuk masdar yang bermaksud isim maf'ul iaitu maqru' (dibaca).mutawatir dari Nabi Muhammad SAAW terus dipakai oleh kaum Muslimin. Mereka belum mengenal kertas seperti kertas yang ada sekarang.. tetapi bacaan itu tidak berlawanan dengan ejaan mushhaf-mushhaf Utsman. hendaklah kamu ikuti bacaannya. 2.a w." Begitu juga "kutub" (jama kitab) yang dikirimkan oleh Nabi Muhammad kepada raja-raja di masanya untuk menyeru mereka kepada Islam. kebanyakan orang bangsa Arab Islam adalah bangsa yang buta huruf. Orang Persia menamakan kertas itu sebagai "kaqhid". sesuai yang diajarkan oleh Rasulullah. Sejarah Pemeliharaan Kemurnian Al Quran 1) Memelihara Al Quran di masa Nabi Muhammad Pada permulaan Islam. Begitu juga dalam erti kata surat seperti ayat 28 surah An Naml di bawah. pembukuan Al-Quran di masa khalifah Utsman itu memberikan beberapa kebaikkan seperti : 1. Susunan surat seperti sekarang ini adalah susunan surat yang digunakan oleh Rasulullah ketika beliau mengulangi bacaan Al-Qur`an di hadapan Jibril setiap bulan Ramadhan. Setelah mereka menakluki negeri Persia iaitu sesudah wafatnya Nabi Muhammad barulah mereka mengetahui kertas. "Pergilah dengan surat saya ini. Subhi Al Salih yang bermaksud "bacaan". Kata asalnya adalah qara'a. Menyatukan tertib susunan surah-surah. Di dalam Al-Quran itu sendiri terdapatnya perkataan "Qur'an" yang membawa maksud yang sama iaitu di dalam surah Al Qiyaamah :17 dan 18. Dengan itu. maka jatuhkanlah dia kepada mereka. Karena Mush-haf Utsmani disusun berdasarkan riwayat-riwayat yang mutawatir. pelepah tamar tulang binatang dan sebagainya. Menyatukan kaum Muslimin pada satu bentuk mush-haf yang seragam ejaan tulisannya. 3. batu atau tulang dan sebagainya. Al Quran ini dihafal oleh jutaan umat Islam dan ini adalah salah satu inayah Tuhan untuk menjaga Al-Quran. Kemudian kata "al qirthas" digunakan pula oleh bangsa Arab Islam ini kepada apa yang dinamakan "kaqhid" dalam bahasa Persia itu. Dalam pada itu. mahupun dalam hadis-hadis Nabi. . (Kerana itu) jika Kami telah membacakannya. amat sedikit di antara mereka yang tahu menulis dan membaca. walaupun masih ada kelainan bacaan.

Hafalan dari mereka yang hafal Al Quran 2. dan Nabi Muhammad telah mengadakan satu kaedah yang amat praktis . peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat dan kehidupan mereka tiap hari dan lain-lain sebagainya. Zaid bin Tsabit dan Mu'awiyah. Pegangan mereka dalam memelihara dan meriwayatkan syair-syair dari pujangga-pujangga dan penyair-penyair mereka. jangan campur aduk dengan yang lain-lain yang juga didengar dari Nabi Muhammad. Ini untuk menetapkan atau memperbetulkan hafalan atau bacaan mereka. Mereka telah mendengar Al Quran itu dari mulut Nabi Muhammad berkali-kali. Selain daripada Al Quran. sebagaimana Nabi Muhammad sendiripun telah mendengar pula dari mereka. Dia telah mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Nabi Muhammad sendiri pun sering pula mengadakan ulangan bacaan itu terhadap sahabat-sahabatnya. dalam pelajaran-pelajaran dan lain-lain. Al Quran adalah dijaga dan terpelihara dengan baik. Surah yang satu dihafal oleh ribuan manusia dan banyak yang hafal seluruh Al Quran. Dalam pada itu tidak ada satu ayatpun yang tidak dituliskan.4 dan 5) Kerana itu bertambahlah keinginan untuk belajar menulis dan membaca di kalangan orang-orang muslim. Dalam pada itu oleh Jibril diadakan ulangan bacaan sekali setahun. Nabi Muhammad mengadakan peraturan iaitu Al Quran sajalah yang boleh dituliskan. masing-masing diharuskan mengajar sepuluh orang Muslim menulis dan membaca sebagai ganti tebusan. peperangan-peperangan yang terjadi di antara mereka.Walaupun kebanyakkan bangsa Arab Islam pada masa itu masi buta huruf. dalam solat." (Surah Al Alaq:3. orang-orang musyrikin yang ditawan oleh orang-orang Islam. terdapat 3 unsur yang tolong menolong memelihara Al Quran yang telah diturunkan itu: 1. Tiap-tiap diturunkan ayat-ayat itu. Dalam makna lain. adalah kepada hafalan semata-mata. yang tidak mampu menebus dirinya dengan wang. kulit binatang. Kepandaian menulis dan membaca itu amat dihargai dan digembirakan oleh Nabi Muhammad sehingga baginda bersabda. Demikianlah keadaan bangsa Arab di waktu kedatangan Islam itu. Yang telah mengajar dengan pena. pelepah tamar dan apa saja yang bisa disusun dalam sesuatu surat. demi pena dan apa yang mereka tuliskan. selalu dibaca dan diwajibkannya membacanya dalam solat. Maka sahabatsahabat itu disuruh oleh Nabi Muhammad membacakan atau memperdengarkan Al Quran itu di hadapannya." (Surah Al Qalam:1) "Bacalah. Di dalam ulangan bacaan itu. dan semakin bertambah banyaklah di antara mereka yang pandai menulis dan membaca dan semakin banyaklah orang yang menuliskan ayat-ayat yang telah diturunkan itu. Contohnya seperti ayat di bawah. Hadis-hadis atau pelajaran-pelajaran yang mereka dengar dari mulut Nabi Muhammad dilarang menuliskannya. Ayat-ayat dan surah-surahnya telah disusun menurut tertib urut yang dipertunjukkan sendiri oleh Nabi Muhammad. Al Quran itu telah sempurna diturunkan dan telah dihafal oleh ribuan manusia. Ketika Nabi Muhammad wafat. ulangan bacaan itu diadakan oleh Jibril dua kali. dalam pidatopidato baginda. "Di akhirat nanti tinta ulama-ulama itu akan ditimbang dengan darah syuhada (orang-orang yang mati syahid)" Dalam peperangan Badar. ansab (silsilah keturunan) mereka. pena dan tulisan. Di dalam Al Quran pun banyak ayat-ayat yang mengutarakan penghargaan yang tinggi terhadap huruf. Penulis-penulis beliau yang terkenal ialah Ali bin Abi Talib. dan Tuhanmu amat mulia. dan telah dituliskan semua ayat-ayatnya. Usman bin Affan. Nabi Muhammad menerangkan tertib urut ayat-ayat itu. namun mereka mempunyai ingatan yang amat kuat. Nabi menganjurkan supaya Al Quran itu dihafal. Ubay bin Ka'ab. Dengan demikian di zaman Nabi Muhammad. tetapi mempunyai pengetahuan dalam menulis dan membaca. Naskah-naskah yang ditulis untuk Nabi Muhammad 3. Maka dijalankan oleh Nabi Muhammad suatu cara yang amali (praktis) yang selaras dengan keadaan itu dalam menyiarkan Al Quran dan memeliharanya. Nabi Muhammad sendiri mempunyai beberapa orang penulis yang bertugas menuliskan Al Quran untuk baginda. "Nun. Yang terbanyak menuliskannya ialah Zaid bin Tsabit. Di tahun baginda wafat. Naskah-naskah yang ditulis oleh mereka yang pandai menulis dan membaca untuk mereka masing-masing. Maka dengan itu banyaklah orang yang hafal Al Quran. Nabi Muhammad disuruh mengulang memperdengarkan Al Quran yang telah diturunkan itu. Nabi Muhammad menyuruh menghafalnya dan menuliskannya di batu. Larangan ini bermaksud supaya Al Quran itu terpelihara.

" Abu Bakar menjawab: "Mengapa aku akan melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Rasulullah?" Umar menegaskan: "Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik. dan terdapat banyak juga yang menolak daripada membayar zakat.a memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu. nescaya aku akan memerangi mereka. maka beliau pergi kepada Abu Bakar r." Dan Umar Al Khattab r. juga ada pula orang-orang yang mengaku dirinya sebagai nabi.a memanggil Zaid bin Tsabit dan berkata kepadanya : "Umar mengajak ku mengumpulkan Al Quran. di mana kebanyakkan tentera Islam yang ikut dalam peperangan ini adalah terdiri daripada para sahabat penghafal Al Quran. maka kumpulkanlah ayat-ayat Al Quran itu. Dalam peperangan tersebut 70 orang penghafal Al Quran telah gugur syahid. Dalam buku-buku Tafsir dan Hadis. Aku bimbang akan gugrnya para sahabat yang lain dalam peperangan selanjutnya. dan diikatkannya dengan baik dan benar. Zaid mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu dari daun.a menjadi khalifah. Kemudian Abu Bakar r.a menjawab: "Demi Allah! Ini adalah perbuatan yang baik.untuk memelihara dan menyiarkan Al Quran itu.a. Oleh kerana itu. perbualan antara Abu Bakar r.a sampai beliau (Abu Bakar) meninggal . Hal-hal ini dihadapi oleh Abu Bakar r. sehingga Allah membuka hati Abu Bakar r.a kepada Zaid bin Tsabit. Kemudian Al Quran tersebut diserahkan kepada Abu BAkar r. Kemudian Abu Bakar berkata: "Engkau adalah seorang pemuda yang cerdas yang ku percayai sepenuhnya. beberapa perkara yang membawa kepada peperangan telah berlaku seperti peristiwa murtad di kalangan orang-orang yang tidak kuat imannya seperti di Nejed dan Yaman. Sekalipun beliau adalah hafal Al Quran seluruhnya. tetapi untuk kepentingan pengumpulan Al Quran yang sangat penting bagi umat Islam itu.a: "Kenapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbuat oleh Nabi?" Abu Bakar r. Sebelum itu pula iaitu di zaman Nabi Muhammad. batu tanah keras. seramai hampir jumlah yang sama juga telah gugur syahid para sahabat penghafal Al Quran dalam satu peperangan di sumur Ma'unah dekat Kota Madinah. maka hal itu tidaklah lebih berat bagiku daripada mengumpulkan Al Quran yang engkau perintahkan itu. Zaid bin Tsabit bekerja amat teliti.a merasa bimbang jika gugur syahidnya para sahabat penghafal Al Quran yang masih hidup itu dalam peperangan-peperangan yang seterusnya.a. Mushaf ini tetap berada di tangan Abu Bakar r.a segala perbincangannya dengan Umar Al Khattab r.a dan Umar r. Umar Al Khattab r.a dan Zaid bin Tsabit mengenai pengumpulan Al Quran adalah diterangkan seperti berikut: mar berkata kepada Abu Bakar: "Dalam peperangan Yamamah. yang boleh membawa kepada kesan buruk terhadap pemurnian Al Quran. sehingga menyadarkan Zaid akan kebaikan tersebut. tulang dan kulit unta atau kambing dan dari sahabat-sahabat yang hafal Al Quran. Maka ayat-ayat Al Quran itu perlu dikumpulkan. Pada awal masa pemerintahan beliau. beliau masih memandang perlunya memadankan atau menyesuaikan hafalan atau catatan sahabat-sahabat yang lain dengan disaksikan oleh dua orang saksi. umat Islam mengangkat Abu Bakar r.a Sesudah Nabi Muhammad wafat. tersusun menurut urutan ayat-ayatnya sebagaimana yangtelah ditetapkan oleh Rasulullah.a untuk memperbincangkan perkara tersebut." Dan selanjutnya dia bertanya kepada Abu Bakar r.a dengan tegas sehingga beliau berkata terhadap orang-orang yang menolak membayar zakat itu. Oleh kerana Umar bin Khattab r." alu Abu Bakar r." Zaid menjawab: "Demi Allah! Ini adalah pekerjaan yang berat bagi ku.a itu.a berulang kali memberikan alasan-alasan kebaikan mengumpulkan Al Quran ini. sesuai dengan keadaan bangsa Arab Islam ketika itu. ayat-ayat Al Quran yang diturunkan itu seluruhnya telah ditulis oleh Zaid bin Tsabit dalam lembaran-lembaran. 2) Al Quran di masa Abu Bakar r. Dan engkau adalah seorang penulis wahyu yang selalu disuruh oleh Rasulullah. Dalam usaha mengumpulkan ayat-ayat Al Quran itu. Seandainya aku diperintahkan untuk memindahkan sebuah bukit. pelepah kurma.a untuk menerima pendapat Umar Al Khattab r. Dengan demikian." Lalu dimaklumkan oleh Abu Bakar r." Di antara peperangan-peperangan yang hebat dan terkenal itu adalah peperangan Yamamah. para sahabat yang hafal Al Quran telah banyak yang gugur. "Demi Allah. Kemudian. Kalau mereka menolak untuk menyerahkan seekor anak kambing sebagai zakat (seperti apa) yang pernah mereka serahkan kepada Rasulullah.

yang ditulis di masa khalifah Abu Bakar r. Sa'id bin 'Ash dan Abdur Rahman bin Harits bin Hisyam.a dan beliau menceritakan apa yang dilihatnya mengenai pertikaian kaum muslimin tentang bacaan Al Quran itu. khalifah Usman menasihatkan supaya: 1. dan juga pernah mendengar perkataan seorang muslim kepada temannya iaitu "Bacaan ku lebih baik dari bacaan mu". iaitu menyalin dari lembaran-lembaran tersebut. Ketika beliau turut serta dalam pertempuran menakluki Armenia dan Azerbaijan. di dalam perjalanan beliau pernah mendengar pertikaian kaum muslimin tentang bacaan beberapa ayat Al Quran.a pemerintahan Islam telah sampai hingga ke Armenia dan Azerbaijan disebelah timur dan Tripoli di sebelah barat. Setelah itu khalifah Usman memerintahkan semua lembaran-lembaran Al Quran yang lain yang ditulis (selain daripada Al Mushhaf) dikumpulkan dan membakarnya. sebab Al Quran itu diturunkan menurut dialek mereka. Kemudian mushaf ini dipindahkan ke rumah Umar Al Khattab dan tetap berada di sana selama pemerintahan beliau sebagai khalifah Islam. Persia dan Afrika. Namun naskah-naskah yang mereka punyai itu tidak sama dari segi susunan surah-surahnya.a meminta kepada Hafsah binti Umar lembaran-lembaran Al Quran yang telah diikat itu. Al Quran tetap menjadi imam(petunjuk) mereka. anak perempuan Umar dan isteri Rasulullah sampai masa pengumpulan dan penyusunan Al Quran di masa Khalifah Usman bin Affan r. Setelah tugas yang diamanahkan kepada panitia itu selesai maka mushaf Al Quran yang dipinjamkan daripada Hafsah itu dipulangkan semula kepada beliau. Sesudan Umar Al Khattab r. yang disimpan oleh Hafsah untuk disalin. seterusnya menjadi buku (diikatkan). Abdullah bin Zubair. 3. Sehingga sekarang masih wujud kelainan bacaan kerana bacaan-bacaan yang dirawikan dengan mutawatir dari Nabi Muhammad terus dipakai oleh kaum muslimin. untuk Usman sendiri dan itulah yang dinamai dengan "Mushhaf Al Imam". maka haruslah ditulis menurut dialek suku Quraisy.a oleh Hafsah. Tetapi kemudianya kelihatan tanda-tanda bahawa perbezaan tentang bacaan Al Quran ini kalau dibiarkan. Maka khalifah Usman r. Kelonggaran ini diberikan oleh Nabi Muhammad supaya mudah bagi mereka untuk menghafal Al Quran itu. akan mendatangkan perselisihan dan perpecahan yang tidak diinginkan dalam kalangan kaum muslimin.a. Namun bacaan-bacaan tersebut tidaklah berlawanan dengan apa yang ditulis dalam mushhaf-mushhaf yang ditulis . kaum muslimin diseluruh pelusuk menyalin Al Quran itu. dan di antara mereka itu banyak yang hafal Al Quran.dunia. Maka dengan itu kelihatannya kaum muslim telah tersebar ke seluruh wilayah Islam seperti ke Mesir. Seterusnya Khalifah Usman membentuk satu panitia yang terdiri daripada Zaid bin Tsabit sebagai ketua. Irak. Basrah dan Kufah. beliau menemui khalifah Usman b in Affan r.a. Manakala satu buah lagi ditinggalkan di Madinah. Dalam menjalankan tugas ini. mushaf itu dipindahkan ke rumah Hafsah. Membukukan Al Quran di masa Usman bin Affan r. Kalau ada pertikaian antara mereka tentang bahasa (bacaan).a Di masa khalifah Usman bin Affan r. Maka lembaran-lembaran tersebut diserahkan kepada khalifah Usman r. Keadaan ini membimbangkan Huzaifah. Maka dengan itu daripada mushhaf yang ditulis di zaman khalifah Usman itulah. Panitia ini diberikan tugas untuk membukukan Al Quran. Dan di antara mereka juga mempunyai naskah-naskah Al Quran. Di samping itu di antara mereka itu terdapat perbezaan tentang bacaan Al Quran itu. Orang yang mula-mula memperhatikan hal ini ialah seorang sahabat yang bernama Hizaifah bin Yaman. Maka apabila beliau telah kembali ke Madinah. Syria.a meninggal dunia. Mengambil pedoman kepada bacaan mereka yang hafal Al Quran 2. Empat buah di antaranya dikirimkan ke Mekah. Ke mana mereka pergi dan di mana mereka tinggal. Syria. Huzaifah berkata kepada Usman: "Susulilah umat Islam itu sebelum mereka berselisih tentang Al Kitab. Pada asalnya perbezaan bacaan ini ialah kerana Rasulullah sendiri pun memberi kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab Islam yang berada di masanya untuk membaca dan melafazkan Al Quran itu menurut lahjah (dialek) mereka masing-masing. sepertimana perselisihan Yahudi dan Nasara". agar di tempat-tempat tersebut disalin pula dari masing-masing mushaff itu. Al Quran yang dibukukan itu dinamakan "Al Mushhaf" dan seterusnya oleh panitia itu dituliskan lagi 5 buah Al Mushhaf.

pada setiap masa dan zaman. tetapi bacaan itu tidak berlawanan dengan ejaan mushhaf-mushhaf Usman.Yayasan Penyelenggara Penterjemah/Pentafsir Al Quran Indonesia SEJARAH PEMELIHARAAN DAN PEMURNIAN AL QURAN . Menyatukan tertib susunan surah-surah. pembukuan Al Quran di masa khalifah Usman itu memberikan beberapa kebaikkan seperti :1. 2. Menyatukan kaum muslimin pada satu bentuk mushhaf yang seragam ejaan tulisannya. Menyatukan bacaan. Al Quran ini dihafal oleh jutaan umat Islam danini adalah salah satu inayat Tuhan untuk menjaga Al Quran. 3." (Surah Al Hijr: 9) Rujukan : Al Quran dan Terjemahannya . Dengan itu terbuktilah firman Allah.a w. Akhirnya sampailah kepada kita sekarang dengan tidak ada sebarang perubahan sedikit pun dari apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad s. walaupun masih wujud kelainan bacaan. Manakala bacaan-bacaan yang tidak bersesuaian dengan mushhaf-mushhaf Usman tidak dibenarkan lagi. "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya. Dalam pada itu. Dengan demikian.dimasa khalifah Usman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->