P. 1
Infeksi Imunologi Polio

Infeksi Imunologi Polio

|Views: 3|Likes:
Published by Edi Kurnawan Tjhai

More info:

Published by: Edi Kurnawan Tjhai on May 11, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/12/2013

pdf

text

original

BAHAN DK PEMICU 4 INFEKSI IMUNOLOGI Edi Kurnawan/I11110013 IMUNISASI POLIO Penyakit polio atau poliomielitis merupakan penyakit

yang disebabkan oleh virus polio. Penyakit ini menyerang susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Masa inkubasi virus biasanya 8-12 hari, tetapi dapat juga berkisar dari 5-35 hari. Sekitar 9095% kasus infeksi polio tidak menimbulkan gejala ataupun kelainan. Saat ini terdapat 2 jenis vaksin polio yaitu oral polio vaccine (OPV) dan inactivated polio vaccine (attenuated). Vaksin ini merupakan jenis vaksin polio yang digunakan secara rutin. Virus ini merupakan jenis vaksin polio yang digunakan secara rutin. Virus dalam vaksin akan masuk ke saluran pencernaan kemudian ke darah. Virus akan memicu pembentukan antibodi sirkulasi maupun antibodi lokal di epitel usus. Vaksin polio inaktif (IPV) berisi virus polio tipe 1,2 dan 3 yang diinaktivasi dengan formaldehid. Dalam vaksin ini juga terdapat neomisin, streptomisin dan polimiksin B. Vaksin diberikan dengan cara suntikan subkutan. Vaksin akan memberikan imunitas jangka panjang (mukosa maupun humoral) terhadap 3 tipe virus polio, namun imunitas yang ditimbulkan lebih rendah dari vaksin polio oral. Di Indonesia, vaksin polio yang digunakan adalah vaksin polio oral (OPV). Menurut rekomendasi IDAI, vaksin polio diberikan sebanyak 6 kali: saat bayi dipulangkan dari rumah sakit atau pada kunjungan pertama (polio-0), pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18 bulan, 5 tahun, dan 12 tahun. Efek samping dari vaksin atau biasa dikenal dengan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) polio antara lain pusing, diare ringan, dan nyeri otot. Efek samping yang paling ditakutkan adalah vaccine assosiated polio paralytic (VAPP). VAPP terjadi pada kira-kira 1 kasus per 1 juta dosis yang pertama penggunaan OPV dan setiap 2,5 juta dosis OPV lengkap yang diberikan. Pada pemberiaan OPV, virus akan bereplikasi pada usus manusia. Pada saat replikasi tersebu, dapat terjadi mutasi sehingga virus yang sudah dilemahkan kembali menjadi neurovirulen dan dapat menyebabkan lumpuh layu akut. Kontra indikasi pemberian vaksin polio antara lain anak dalam keadaan penyakit akut, demam (>38°C), muntah atau diare berat, sedang dalam pengobatan imunosupresi oral maupun suntikan termasuk pengobatan radiasi umum, memiliki keganasan yang berhubungan dengan retikuloendotelial dan yang mekanisme imunologisnya terganggu, infeksi HIV, dan hipersensitif terhadap antibiotik dalam vaksin. Anak yang kontak dengan saudara atau anggota keluarga dengan imunosupresi juga tidak boleh diberikan vaksinasi polio. Dapus: Permata, YL. 2009. Kelengkapan Imunisasi Dasar Anak Balita dan Faktor-faktor yang Berhubungan di Rumah Sakit Mary Cileungsi Hijau Bogor, Maret 2008. [skripsi] Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia TETANUS PADA ANAK Penegakan Diagnosis Diagnosis tetanus sepenuhnya didasarkan pada temuan klinis, karena pemeriksaan laboratorium tidak spesifik. Jadi, penegakan diagnosis sepenuhnya didasarkan pada anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jangan menyingkirkan diagnosis tetanus meskipun orang tersebut telah diimunisasi secara lengkap. Anamnesis

badan menjadi kaku serta terdapat spasme intermiten. patah tulang panjang dan kompresi tulang belakang.Trismus adalah kekakuan otot mengunyah (otot maseter) sehingga sukar untuk membuka mulut. Hasil tes positif. digerakkan secara kasar. rahang menjadi kaku sehingga bayi tidak bisa menghisap dan sulit menelan.Anamnesis yang dapat membantu diagnosis antara lain: .Uji spatula dilakukan dengan menyentuh dinding posterior faring dengan menggunakan alat dengan ujung yang lembut dan steril. jika terjadi kontraksi rahang involunter (menggigit spatula) dan hasil negatif berupa refleks muntah. uji spatula memiliki spesifitas yang tinggi (tidak ada hasil positif palsu) dan sensitivitas yang tinggi (94% pasien yang terinfeksi menunjukkan hasil yang positif). . Dalam laporan singkat The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menyatakan bahwa pada penelitian. . . oksigenasi. kapan imunisasi yang terakhir? . perawatan . luka kecelakaan/patah tulang terbuka.Selang waktu antara timbulnya gejala klinis pertama (trismus atau spasme lokal) dengan spasme yang pertama (period of onset)? Pemeriksaan Fisik Pada pemeriksaaan fisik dapat ditemukan : . mengatasi spasme. . Lambat launm asa istirahat spasme makin pendek sehingga anak jatuh dalam status konvulsivus. dapat pula menyebabkan suhu badan yang tinggi atau berkeringat banyak.Apakah pernah menderita gigi berlubang? . luka dengan nanah atau gigitan binatang? . mata agak tertutup dan sudut mulut tertarik keluar dan kebawah. Kekakuan yang sangat berat dapat menyebabkan tubuh melengkung seperti busur.Otot dinding perut kaku sehingga dinding perut seperti papan. . otot badan dan trunk muscle.Apakah sudah pernah mendapat imunisasi DT atau TT. Secara klinis untuk menilai kemajuan kesembuhan.Apakah pernah keluar nanah dari telinga? . kekakuan otot sfingter dan otot polos lain sehingga terjadi retentio alvi atau retentio urinae atau spasme laring. menjaga kelancaran jalan napas. Beberapa saat sesudahnya. terjadi sebagai akibat kekakuan otot mimik sehingga tampak dahi mengkerut. atau terkena sinar yang kuat. lebar bukaan mulut diukur setiap hari.Risus sardonikus. Pada neonatus kekakuan mulut ini menyebabkan mulut mencucu seperti mulut ikan sehingga bayi tidak dapat menetek. otot leher. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada tetanus terdiri dari tatalaksana umum yang terdiri dari kebutuhan cairan dan nutrisi.Pada tetanus yang berat akan terjadi gangguan pernapasan sebagai akibat spasme yang terus-menerus atau oleh karena kekakuan otot laring yang dapat menimbulkan anoksia dan kematian.Opistotonus adalah kekakuan otot yang menunjang tubuh seperti: otot punggung.Apakah dijumpai luka tusuk. akan timbul spasme umum yang awalnya hanya terjadi setelah dirangsang misalnya dicubit.Pada tetanus neonatorum awalnya bayi tampak sulit untuk menghisap dan cenderung terus menangis. .Bila kekakuan makin berat. pengaruh toksin pada saraf otonom menyebabkan gangguan sirkulasi (gangguan irama jantung atau kelainan pembuluh darah). Setelah itu. .

Pada tetanus anak. fenobarbital iv dan morfin dapat digunakan sebagai terapi tambahan jika pasien dirawat di ICU karena terdapat risiko depresi pernapasan. Dosis maksimal adalah 40 mg/kgBB/hari. Midazolam iv atau bolus. Anti serum atau Human Tetanus Immunoglobuline (HTIG).1-0. Bila dosis diazepam maksimal telah tercapai namun anak masih spasme atau mengalami spasme laring. Setelah spasme berhenti. Apabila dengan terapi antikonvulsan dengan dosis rumatan telah memberikan respons klinis yang diharapkan. Diazepam efektif mengatasi spasme dan hipertonisitas tanpa menekan pusat kortikal. pada kasus yang berat perlu trakeostomi. Tatalaksana Khusus 1. Selanjutnya pengurangan dosis dilakukan secara bertahap (berkisar antara 20% dari dosis setiap dua hari). Kontraindikasi HTIG adalah riwayat hipersensitivitas terhadap imunoglobulin atau komponen human immunoglobuline . dosis dipertahankan selama 3-5 hari.2 mg/kgBB iv untuk menghilangkan spasme akut. kesadaran membaik (tidak koma). pemberian anti serum dapat disertai dengan imunisasi aktif DT setelah anak pulang dari rumah sakit.1-0. Alternatif lain. untuk bayi (tetanus neonatorum) diberikan dosis awitan 0. Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi Pada hari pertama perlu pemberian cairan secara intravena sekaligus pemberian obatobatan. Spasme harus segera dihentikan dengan pemberian diazepam 5 mg per rektal untuk BB<10 kg dan 10 mg per rektal untuk anak dengan BB =10 kg. Pemberian ATS harus berhati-hati akan reaksi anafilaksis.3 mg/kgBB/kali. 5. Menjaga saluran napas tetap bebas.3 mg/kgBB/kali dengan interval 2-4 jam sesuai gejala klinis atau dosis yang direkomendasikan untuk usia <2 tahun adalah 8mg/kgBB/hari diberikan oral dalam dosis 2-3 mg setiap 3 jam. HTIG hanya dapat menghilangkan toksin tetanus yang belum berikatan dengan ujung saraf.000 IU im dan 50. Jika karies dentis atau OMSK dicurigai sebagai port d’entree. atau dosis diazepam intravena untuk anak 0. Dosis diazepam yang direkomendasikan adalah 0. Untuk bayi. dosisnya adalah 500 IU IM dosis tunggal. Memberikan tambahan O2 dengan sungkup (masker). Tatalaksana Umum 1. 4. Tanda klinis membaik bila tidak dijumpai spasme spontan. dan bila sampai hari ke-3 infus belum dapat dilepas sebaiknya dipertimbangkan pemberian nutrisi secara parenteral. Setelah spasme mereda dapat dipasang sonde lambung untuk makanan dan obat-obatan dengan perhatian khusus pada kemungkinan terjadinya aspirasi. 2.000 IU iv. 3.luka atau port’d entree lain yang diduga seperti karies dentis dan OMSK. badan masih kaku. Bila fasilitas tersedia.000-6. Setelah 5-7 hari dosis diazepam diturunkan bertahap 5-10 mg/hari dan dapat diberikan melalui pipa orogastrik. Sebagian dari dosis tersebut diberikan secara infiltrasi di tempat sekitar luka. pemberian diazepam dilanjutkan dengan dosis rumatan sesuai dengan keadaan klinis pasien. maka diperlukan konsultasi dengan dokter gigi/THT. tidak dijumpai gangguan pernapasan. sedangkan tatalaksana khusus terdiri dari pemberian antibiotik dan serum anti tetanus. Dosis ATS yang dianjurkan adalah 100. diikuti infus tetesan tetap 15-40 mg/kgBB/hari. Intraveneous Immunoglobuline (IVIG) mengandung antitoksin tetanus dan dapat digunakan jika HTIG tidak tersedia. Mengurangi spasme dan mengatasi spasme. dapat diberikan HTIG (3.000 IU) secara intramuskular (IM) dalam dosis tunggal. sebaiknya dipertimbangkan untuk dirawat di ruang perawatan intensif sehingga otot dapat dilumpuhkan dan mendapat bantuan pernapasan mekanik.000 IU dengan 50.

setiap 6 jam selama 10 hari direkomendasikan pada semua kasus tetanus. 2008. Sebagai lini kedua dapat diberikan penisilin prokain 50. pemberian penisilin G secara parenteral dengan dosis 100. Dapus: Departemen Kesehatan RI. Sampai saat ini.sebelumnya.000 U/kgBB/hari selama 7-10 hari.com/doc/91914256/PenatalaksanaanTetanus-Pada-Anak diakses tanggal 29 April 2013 . Sebuah penelitian menyatakan bahwa penisilin mungkin berperan sebagai agonis terhadap tetanospasmin dengan menghambat pelepasan asam aminobutirat gama (GABA). Penatalaksanaan Tetanus pada Anak. jika terdapat hipersensitif terhadap penisilin dapat diberikan tetrasiklin 50 mg/kgBB/hari (untuk anak berumur lebih dari 8 tahun). tetani bentuk vegetatif.000-100.scribd. Metronidazol efektif untuk mengurangi jumlah kuman C. metronidazol telah menjadi terapi pilihan yang digunakan di beberapa pelayanan kesehatan. 2. Metronidazol diberikan secara iv dengan dosis inisial 15 mg/kgBB dilanjutkan dosis 30 mg/kgBB/hari dengan interval setiap 6 jam selama 7-10 hari. Antibiotika Pada penelitian yang dilakukan di Indonesia. Penisilin membunuh bentuk vegetatif C.000 U/kgBB/hari secara iv.tetani. Unit Pengkajian Teknologi Indonesia avaible from http://id. trombositopenia berat atau keadaan koagulasi lain yang dapat merupakan kontraindikasi pemberian secara IM.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->