PRESENTASI KASUS KLINIK OBSTETRI GINEKOLOGI KEHAMILAN PADA USIA LANJUT SEBAGAI FAKTOR RISIKO TINGGI DI DESA KENANTAN

I. Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Suku Alamat II. IDENTITAS PASIEN : Ny. L : 40 tahun : SD : IRT : Islam : Jawa : Kenantan RT 01/02 Nama suami : Tn. M Umur Pendidikan Pekerjaan Agama Suku Alamat : 44 tahun : SD : Petani : Islam : Jawa : Kenantan

Nama

AUTOANAMNESIS

Keluhan Utama : Kontrol kehamilan Riwayat Penyakit Sekarang: Pasien datang ke Posyandu Pembantu Kenantan ingin kontrol kehamilan. Pasien mengaku ini merupakan kehamilan ke-5. Nyeri menjalar keari-ari(-), keluar air-air (-), gerakan janin aktif, keluar darah dari kemaluan(-). HPHT : 10-9-2012  TP : 17-6-2013?

Riwayat Hamil Muda Riwayat Hamil Tua Prenatal Care Riwayat Minum Obat RPD RPK Riwayat Haid Riwayat Perkawinan Riwayat KB

: Mual (+), muntah (+) , perdarahan (-) : (-) : Teratur tiap bulan ke Pustu. : Tablet penambah darah dan vitamin (+) : Hipertensi(-), asma(-), penyakit jantung(-), DM (-). : Hipertensi (-), asma (-), penyakit jantung (-), DM (-). : Menarche usia 12 tahun, teratur, selama 4 hari. : Perkawinan pertama, menikah usia 18 tahun. : KB suntik per tiga bulan, KB pil .

Riwayat Kehamilan/ Abortus/ Persalinan : 1. Tahun 1990, ♀, 3600 gr, cukup bulan, melahirkan normal ditolong dukun. 2. Tahun 1998, ♀, 3300 gr, cukup bulan, melahirkan normal ditolong bidan.

5 Kg Frek. keras Leopold IV : Belum masuk PAP Auskultasi : DJJ 132 x/ menit. 4. Tahun 2005. STATUS OBSTETRIKUS Muka : Kloasma gravidarum (-) Mammae : Areola hiperpigmentasi (+/+). Tahun 2012. scar (-) : Leopold I Leopold II : 4 jari dibawah procesus xypoideus. : Terdapat tahanan terbesar sebelah kanan Leopold III : Teraba massa bulat melenting. melahirkan normal ditolong bidan 5. ♀. papil inverted (-/-) Abdomen : Inspeksi Palpasi : Perut membuncit. TFU Genitalia Inspeksi VT ::: 28 cm . sklera ikterik (-) : Dalam batas normal : Status obstetrikus : Status obstetrikus : edema tungkai (-). melahirkan normal ditolong bidan. Tahun 2011. teraba massa bulat tidak melenting. lunak.0 0C LILA:28 cm BB: 65. 3100 gr. kehamilan ini PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan Umum : Baik Kesadaran Vital Sign : Komposmentis : Frek. striae gravidarum (+).3. varises (-). cukup bulan. 3100 gr. cukup bulan. ♀. Nadi : 80 x/menit : 22 x /menit Suhu : 37. Nafas Gizi Kepala Thoraks Abdomen Genitalia Ekstremitas : Baik Tekanan Darah : 110/80 mmHg TB: 161 cm : Konjungtiva anemis (-). akral hangat (+).

: Dubia at Bonam 1x1 1x1 Vitamin B kompleks 1 x 1 IDENTIFIKASI MASALAH DAN PRIORITAS MASALAH 1. RENCANA: PROGNOSIS III.TERAPI / SIKAP Sulfas Ferosus Novacal Edukasi Istirahat yang cukup. Tubektomi post partum. autoimun. Kegagalan KB suntik dan KB pil IV. persalinan. Kehamilan risiko tinggi dapat berupa usia ibu hamil yang ekstrim. makan makanan bergizi dengan porsi kecil dan sering.2 Angka kejadian kehamilan risti ini makin tinggi seiring dengan gaya hidup masyarakat yang semakin modern seperti tingkat pendidikan yang tinggi dan faktor pekerjaan sehingga wanita tersebut cenderung menunda pernikahan atau kehamilan. preeklampsi dan eklampsi.3 Untuk menentukan suatu kehamilan resiko tinggi. dilakukan penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-ciri yang menyebabkan dia . diabetes. penyakit jantung. penyakit penyerta (seperti hipertensi. rokok).1. gaya hidup (konsumsi alkohol. kehamilan gemeli. dan lainnya. sesudah persalinan. obesitas. DIAGNOSIS KERJA (7 Mei 2013) G5P4A0H4 gravid 34-35 minggu V. Kehamilan ke-5 dengan Anak hidup 4 3. TINJAUAN TEORITIS Kehamilan risiko tinggi (risti) adalah suatu keadaan di mana dapat mempertinggi morbiditas dan mortalitas maternal dan fetus selama masa kehamilan. dsb). multipara. Usia Ibu 40 tahun 2.

Faktor. selama atau intrapartum. yang mempunyai kecenderungan keproses kematian.faktor yang menentukan kehamilan risiko tinggi dapat merupakan faktor yang berpengaruh sebelum kehamilan. Menurut WHO faktor risiko dapat diartikan sebagai ciri. Faktor resiko bisa memberikan suatu angka yang sesuai dengan beratnya resiko.ciri atau keadaan seorang yang mempunyai hubungan dengan adanya kenaikan risiko untuk menjadikan atau mengalami keadaan yang kurang baik.ataupun janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau kematian (keadaan atau ciri tersebut disebut faktor resiko).3 Dalam masyarakat modern kini. Beberapa faktor risiko adalah sebagai berikut:1 • • • • • • • • • • • • Hipertensi Diabetes Penykit menular seksual Pielonefritis Usia ibu Berat badan ibu Paparan teratogenik Riwayat lahir mati Riwayat preterm Riwayat neonatus dengan kelainan kongenital dan genetik Oligohidramnion Kehamilan kembar Bahaya yang dapat ditimbulkan akibat ibu hamil dengan risiko • • • • • • • Bayi lahir belum cukup bulan Bayi lahir dengan BBLR Keguguran (abortus) Partus macet Perdarahan ante partum dan post partum IUFD Keracunan dalam kehamilan .

Bila ditemukan risiko tinggi. rumah sakit pemerintah atau swasta.penyakit yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi. untuk mencegah penyakit tetanus pada bayi baru lahir. 1. rumah bersalin. Menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan komplikasi pada ibu hamil: a) Berdekatan dengan penderita penyakit menular b) Asap rokok dan jangan merokok c) Makanan dan minuman beralkohol d) Pekerjaan berat e) Penggunaan obat-obatan tanpa petunjuk dokter/bidan f) Pemijatan/urut perut selama hamil g) Berpantang makanan yang dibutuhkan pada ibu hamil 6.• Kejang Pencegahan Sebagian besar kematian ibu hamil dapat dicegah apabila mendapat penanganan yang adekuat difasilitas kesehatan. Puskesmas/Puskesmas pembantu. Pemeriksaan kehamilan dapat dilakukan di Polindes/bidan desa. Mengenal tanda-tanda kehamilan dengan risiko tinggi dan mewaspadai saja pada ibu hamil. minimal 4x kunjungan selama masa kehamilan yaitu: • • • Satu kali kunjungan pada triwulan pertama (tiga bulan pertama) Satu kali kunjungan pada triwulan kedua (antara bulan keempat sampai bulan keenam) Dua kali kunjungan pada triwulan ketiga (bulan ketujuh sampai bulan kesembilan) 2. 7. Imunisasi TT yaitu imunisasi anti tetanus 2 (dua) kali selama kehamilan dengan jarak satu bulan. penyakit apa . Segera periksa bila ditemukan tanda-tanda kehamilan dengan risiko tinggi. pemeriksaan kehamilan harus lebih sering dan intensif 4. Kehamilan dengan risiko tinggi dapat dicegah bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan antara lain: 1. Makan makanan yang bergizi Asupan gizi seimbang pada ibu hamil dapat meningkatkan kesehatan ibu dan menghindarinya dari penyakit. 3. Sering memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur.

membentuk pengambilan keputusan persalinan dan mengidentifikasi ibu hamil risiko tinggi. maka pelayanan KB mengacu kepada Pedoman Pelayanan KB dan KIA yang diarahkan pada Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap) sedangkan ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (alokon) KB ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:5 .9%.4 Pemerintah dalam hal kebijakan tentang ber-KB telah memberikan kemudahan dalam masalah biaya untuk melakukan kontasepsi melalui JAMPERSAL (Jaminan Persalinan) dan JAMKESMAS (Jaminan Kesehatan Masyarakat) maupun JAMKESDA (Jaminan Kesehatan Daerah). Antenatal care selain memberikan pelayanan juga merupakan suatu media komunikasi untuk mempromosikan perilaku hidup sehat. dan. Perawatan kehamilan secara berkala merupakan suatu upaya dari seorang ibu hamil untuk memantau kehamilannya sehingga bila ada penyimpangan dari keadaan normal dapat segera diberikan penanganan secara dini. Rendahnya cakupan kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya faktor geografi.8% terjadi pada ibu berumur lebih dari 34 tahun (terlalu tua). (b) IUD. gizi yang baik selama hamil. 3. SKRT 1995 dan Susenas 2001 yaitu masing-masing 78. imunisasi tetatus toksoid (TT). dan 76. Pelayanan KB pada masa nifas perlu mendapatkan perhatian sebagai upaya untuk pengendalian jumlah penduduk dan keterkaitannya dengan Jaminan Persalinan. pemeriksaan fundus uteri.2562/ MENKES/ PER/ XII/ 2011 tentang petunjuk teknis jaminan persalinan menjelaskan mengenai KB. Kebijakan tentang ber-KB difokuskan pada kehamilan 4 terlalu yaitu 4. Implant.3% ibu hamil mempunyai paritas lebih dari 3 (terlalu banyak). 5. budaya dan sosial ekonomi. tes PMS (penyakit menular seksual) dan temu wicara.3%.1% kehamilan terjadi pada ibu berumur kurang dari 18 tahun (terlalu muda).Program antenatal care 1) Pengertian Antenatal care (perawatan kehamilan) terdiri atas pelayanan 7T yaitu berupa penimbangan berat badan. 77.7%. (c) Suntik. yaitu Jenis Pelayanan KB pascasalin antara lain (a) Kontrasepsi mantap (Kontap).7 Salah satu upaya Safe Motherhood dan Making Pregnancy Safer adalah mengurangi kemungkinan seorang perempuan menjadi hamil.2% persalinan terjadi dalam interval waktu kurang dari 2 tahun (terlalu sering) dan 9. pemberian tablet tambah darah.3. 6 Menurut Depkes 2004 ada sedikit penurunan presentase pemeriksaan kehamilan menurut data SKRT 1992. periksaan tekanan darah tinggi. Peraturan Menteri Republik Indonesia No.

PEMBAHASAN KASUS . Persalinan dilakukan oleh bidan desa. 2) Rumah Sakit yang melayani Jaminan Persalinan membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang diperlukan untuk pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Rumah Sakit tersebut dan selanjutnya daftar kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola program keluarga berencana di Kabupaten/Kota setempat. Selanjutnya daftar kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola program keluarga berencana di Kabupaten/Kota setempat. VII. PENATALAKSANAAN Pasien pada kasus ini disarankan untuk melakukan Ante Natal Care ( ANC ) yang teratur dan persalinan pervaginam jika tidak terdapat komplikasi/ penyulit yang kontraindikasi. 3) Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan lanjutan menjadi bagian dari penerimaan menurut tarif INA CBG’s. Pelayanan KB di fasilitas kesehatan lanjutan:5 1) Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN. 4) Puskesmas setelah mendapatkan alokon dari SKPD Kabupaten/Kota yang mengelola program KB selanjutnya mendistribusikan alokon ke dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan sesuai usulannya.a. 2) Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang diperlukan untuk pelayanan KB di Puskesmas maupun dokter/bidan praktik mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan. 5) Besaran jasa pelayanan KB diklaimkan pada program Jaminan Persalinan. Mendekati taksiran persalinan. 2. b. Persalinan pervaginam dapat dilakukan dengan dua cara alternatif : 1. dan Suntik. Pelayanan KB di fasilitas kesehatan dasar: 1) Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN terdiri dari IUD. 3) Dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jaminan Persalinan membuat rencana kebutuhan alokon untuk pelayanan keluarga berencana dan kemudian diajukan permintaan ke Puskesmas yang ada diwilayahnya. VI. kemudian dalam 5 hari pertama masa nifas pasien dirujuk ke RSUD Bangkinang untuk dilakukan kontrasepsi mantap. pasien dirujuk untuk bersalin di RSUD Bangkinang dan dilakukan kontrasepsi mantap pasca persalinan. Implant.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Pada komunitas pasien dengan kehamilan risiko tinggi dianjurkan untuk dapat dilakukan kontrasepsi mantap untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Anak (AKA). yang mana pada kondisi ini. pemilihan alat kontrasepsi biasanya berdasarkan kemudahan untuk mendapatkannya dan harganya yang murah. Sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi. ini merupakan kehamilan yang ke-5 pasien. L. VIII.Pasien Ny. 3. dan usia pasien yang sudah 40 tahun yang merupakan risiko tinggi terhadap kehamilan sekarang. 2. ada beberapa upaya yang dilakukan yaitu : 1. . Sosialisasi penggunaan JAMPERSAL sesuai dengan program pemerintah. Masalah lain yang menjadi peyebabnya pemelihan alat kontrasepsi yang tepat. B. pemilihan kontrasepsi dan sosialisasi intensifikasi program penggunaan kontrasepsi mantap. 4. Alat kontrasepsi seperti itu memerlukan tingkat kepatuhan yang tinggi. usia 40 tahun datang ke Posyandu Pembantu Kenantan Tapung I pada tanggal 7 Mei 2013 dengan diagnosis G5P4A0H4 gravid 34-35 minggu. Untuk mewujudkannya. Permasalahan pertama yang menjadi topik pada pasien ini adalah grande multipara. Saran Pada penanggulangan kasus risiko tinggi pada komunitas perlu diintensifkan programprogram berikut: 1. Memotivasi pasien tentang pentingnya program kontrasepsi. Namun mengingat biaya yang mahal dan prosedur yan SDEg relatif sulit. Atas pertimbangan tersebut pada pasien ini kami anjurkan untuk dilakukan kontrasepsi mantap atau sterilisasi yang tidak membutuhkan tingkat kepatuhan yang tinggi dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu sering kali berakibat gagalnya kontrasepsi. Menggalang kerjasama lintas sektoral untuk mewujudkan penggunaan JAMPERSAL untuk kontrasepsi mantap. Melakukan sistem perujukan.

Sugito T. dengan 4. Tabcharoen C. Kerjasama lintas sektoral untuk mewujudkan penggunaan JAMPERSAL untuk kontrasepsi mantap. J Obstet Gynaecol. 2007. Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.p. 7. Dalam: Martaadisoebrata D. Pemantauan Kematian Ibu dan Kematian Bayi Baru Lahir Melalui Sistem Rujukan Terencana di Kabupaten Nganjuk. Sastrawinata RS. Pinjaroen S. Keluarga berencana dalam kesehatan reproduksi manusia. editor. Armenian Medical Network. Surjaningrat S.. DAFTAR PUSTAKA 1. Probolinggo dan Trenggalek. 2011. Sosialisasi penggunaan alat kontrasepsi melalui akses kesehatan menggunakan JAMPERSAL. 4.nichd. Saifuddin AB. 3. High-risk pregnancy [diakses 30 April 2013] diunduh dari http://www.gov/health/topics/high-risk/conditioninfo/pages/ factors. Suwanrath C.health. 6. Manuaba IBG. Profil Kesehatan Provinsi Riau 2006. 8.2003.B. National Institute ofChild Health and Human Development of America. Bunga rampai obstetri dan ginekologi sosial.am/pregnancy/high-risk-pregnancy/ 3. Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan Tahun 2012 Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Ri No 2562/Menkes /Per/Xii/2011 . Penyakit Ibu Dan Kelainan Tidak Langsung Pada Kehamilan. Anondo D. Pregnancy outcome after age 40 and risk of low birth weight. High-risk pregnancy [diakses 30 April 2013] diunduh dari http://www. 5. Jawa Timur. Krisanapan O. 9. Wijono S. Jakarta: EGC. 1994. Santoso. Pengantar Kuliah Obstetri. 200-20.aspx 2. Sosialisasi sistem perujukan. Rochjati P. Dinas kesehatan provinsi Riau.2. 2009: 29(5):378-383.nih. Pekanbaru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful