BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Meningitis otogenik yaitu peradangan pada selaput meningen di otak yang disebabkan oleh gangguan atau kelainan yang berasal dari telinga. Meningitis dapat terjadi di setiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi telinga. Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran langsung, jarang melalui tromboflebitis. Pengenalan yang baik terhadap suatu penyakit telinga merupakan prasyarat untuk mengetahui timbulnya komplikasi. Bila dengan pengobatan medikamentosa tidak berhasil mengurangi gejala klinik dengan tidak berhentinya otore dan pada pemeriksaan otoskopi tidak menunjukkan berkurangnya reaksi inflamasi dan pengumpulan cairan maka harus diwaspadai kemungkinan terjadinya komplikasi.2 Pada stadium akut, naiknya suhu tubuh, nyeri kepala atau adanya tanda toksisitas seperti malaise, perasaan mengantuk, somnolen atau gelisah yang menetap dapat merupakan tanda bahaya. Timbulnya nyeri kepala di daerah parietal, atau oksipital dan adanya keluhan mual, muntah proyektil, serta kenaikan suhu badan yang menetap selama terapi diberikan merupakan tanda komplikasi intrakranial.1

2.2

Etiologi Bakteri yang paling sering menyebabkan otogenik meningitis antara lain, jarang streptokokkus, pneumokokkus, atau stafilokokkus dan kuman yang H. Influenza, koliform, atau piokokus. Bakteri ini menginvasi

ruang subarachnoid, pia-arachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan pada tekanan cairan spinal. 1

3

sekret yang kuning pekat sering kali disebabkan oleh Staphylococcus. 1 2.5 Manifestasi Klinis Terjadinya meningitis biasanya dibagi menjadi tiga stadium: serosa.2 2. Tanda-tanda tersebut adalah kaku kuduk. yang derajatnya bisa ringan sampai hiperekstensi leher 4 yang kaku.4 Epidemiologi Meningitis otogenik merupakan kasus yang cukup jarang terjadi.51% pada meningitis bakterial akut. Sedangkan menurut Geyik et al (2002) rasio meningitis oleh karena akut sekunder dan otitis media kronik pada kasus meningitis bakterial akut sekitar 21%. Sekret yang berwarna hijau kebiruan menandakan Pseudomonas sebagai kuman penyebab. dan sekret yang berbau busuk sering kali mengandung kuman anaerob. tanda kernig yaitu . dan bakterial. dan menginvasi ruang subaraknoid. kasus ini merupakan komplikasi ke intrakranial karena kelainan di telinga tengah sebesar 0. Environment terdiri dari tingkat higiene perorangan seperti kebersihan diri dan lingkungan rumah.Penampilan sekret yang dikeluarkan juga diperhatikan. dan tanda positif ringan suatu rangsangan meningeal. Pada waktu organisme menyerang.3 Faktor Risiko Faktor risiko terjadinya otogenik meningitis meliputi host.5% – 4% dan dapat menyebabkan kematian 5% – 15%. Secara klinik hal ini ditandai dengan gejala antara lain nyeri kepala ringan. gelisah. agent adalah virulensi bakteri dan host merupakan sistem kekebalan tubuh.3 Prevalensi meningitis otogenik dilaporkan antara 19% . seluler. pia arachnoid akan bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal.4 2. agent dan environment. demam ringan.

Runtuhnya periosteum akan menyebabkan terjadinya abses subperiosteal. Demam terus meninggi mencapai 39 0C sampai 40 0C biasanya dengan nadi yang lambat. yang dapat mensekresi IL-1 dan TNF ( Tumor Necrosis Factor) alpha yang akan dipertahankan sebagai antigen dan dalam jalur imunogenik ke limfosit.ketidakmampuan mengekstensikan tungkai dalam posisi sendi paha yang fleksi akibat rasa nyeri di punggung dan tanda brudzinski yaitu fleksi sendi lutut waktu kepala pasien dicoba difleksikan. 1 Stadium bakterial terjadi pada waktu terlihat jelas ada nanah di cairan spinal. terutama pada anak-anak. maka struktur lunak di sekitarnya akan terkena. terjadi peninggian kadar protein. Bila ke arah kranial. meningitis dan abses otak. dan mengantuk kemudian timbul fotofobia. sehingga memungkinkan terjadinya penjalaran infeksi ke struktur di sekitarnya. dengan periode delirium. Hiperiritabilitas akan berlanjut menjadi somnolen dan koma. Reaksi imun intra susunan saraf pusat ini memicu sebuah sirkulus sejak 5 . Bila sawar tersebut runtuh. tetapi juga dengan menurunnya kadar glukosa cairan spinal yang kadang-kadang sampai nol. tromboflebitis sinus lateralis.5 Bakteri dalam susunan saraf pusat akan mengaktifkan sel lain seperti mikroglia. Opistotonus sering kali terjadi pada stadium lanjut ini. yaitu suatu komplikasi yang relatif tidak berbahaya. dan menarik diri dari stimulasi sentuhan. Nyeri kepala bertambah. Pertahanan pertama tersebut adalah mukosa kavum timpani yang juga seperti mukosa saluran pernapasan. muntah-muntah dan hiperiritabilitas serebral. bingung. dan penurunan kadar klorida dan glukosa.6 Patogenesis Komplikasi otitis media terjadi apabila sawar (barrier) pertahanan telinga tengah yang normal dilewati.3 Perjalanan penyakit dapat terhenti pada stadium ini atau berkembang terus ke stadium seluler dengan efusi leukosit ke dalam cairan spinal. 1 2. akan menyebabkan abses ekstradural. mampu melokalisasi infeksi yang terjadi. Hal ini ditandai dengan bukan saja ditemukannya kuman di dalam cairan atau kultur. akibat digunakan oleh bakteri.

oval window ataupun round window ke meatus akustikus internus. 2.6 Meningitis dapat terjadi di setiap saat dalam perjalanan komplikasi infeksi telinga. dan infark serebral.perangsangan netrofil untuk melepaskan protease dan mediator toksin lain seperti radikal bebas O2. jarang melalui tromboflebitis. menyebabkan vasogenik edema. menginvasi ruang sub arachnoid.4 6 . sedangkan pada bentuk yang terlokalisasi tidak ditemukan bakteri. Pada waktu kuman menyerang biasanya streptokokkus. pneumokokkus.4 Perkembangan komplikasi intrakranial dari meningitis otogenik dapat terjadi melalui tiga mekanisme.4 Sedangkan mekanisme bagaimana bakteri dapat menembus sawar darah otak sampai saat ini belum jelas. Melalui jalan masuk anatomi normal. misalnya: osteomyelitis atau cholesteatoma. Influenza. dan TNF. Semua faktor inilah yang barangkali menginduksi terjadinya inflamasi dan kerusakan sawar darah otak. atau stafilokokkus atau kuman yang lebih jarang H.4 Kompllikasi otitis media ke susunan saraf pusat yang paling sering adalah meningitis. Akhirnya respon inflamasi yang timbul pada meningitis bakterial akan mengganggu sawar darah otak (Blood Brain Barrier). Walau secara klinik kedua bentuk ini mirip. 3. kokhlear dan aquaduktus vestibularis. Penyebaran infeksi retrograde misalnya thrombophlebitis. hidrosefalus. Pada pemeriksaan likuor serebrospinal terdapat bakteri pada bentuk umum (general). yang selanjutnya akan meningkatkan jejas inflamasi pada sawar darah otak. yaitu : 1. prostaglandin. atau piokokus. Penyebaran langsung infeksi melalui tulang yang berdampingan dengan selaput otak. Adanya komponen dinding sel bakteri yang dilepaskan ke dalam cairan serebrospinal merangsang produksi dari sitokine inflamasi seperti Interleukin 1 dan 6. pia-arachnoid bereaksi dengan mengadakan eksudasi cairan serosa yang menyebabkan peningkatan ringan tekanan cairan spinal. dehisensi terhadap tulang yang tipis akibat malformasi congenital. serta dapat terlokalisasi. sehingga memudahkan lebih banyak bakteri dan netrofil yang berada pada sirkulasi untuk masuk ke cairan serebrospinalis. Jalan penyebaran yang biasa terjadi yaitu melalui penyebaran langsung. Keadaan ini dapat terjadi oleh otitis media akut maupun kronis. koliform. atau umum (general).

dapat memudahkan masuknya infeksi. menyebabkan mudahnya infeksi ke fosa kranii media. Jalan lain penyebaran ialah melalui tromboflebitis vena emisaria menembus dinding mastoid ke dura dan sinus durameter.4 7 . melalui jalan yang sudah ada. Labirin juga dapat dianggap sebagai jalan penyebaran yang sudah ada begitu telah terinfeksi. Cara penyebaran infeksi ke jaringan otak ini dapat terjadi baik akibat tromboflebitis atau perluasan infeksi ke ruang Virchow Robin yang berakhir didaerah vaskular subkortek. Penyebaran menembus selaput otak Dimulai begitu penyakit mencapai dura. Jaringan granulasi terbentuk pada dura yang terbuka. Penyebaran ke selaput otak Penyebaran ke selaput otak dapat terjadi akibat dari beberapa faktor. Penyebaran ke jaringan otak Pembentukan abses biasanya terjadi pada daerah diantara ventrikel dan permukaan korteks atau tengah lobus serebelum. dan lebih melekat ke tulang. dan ruang subdura yang berdekatan terobliterasi. bagian tulang yang lemah atau defek karena pembedahan. menyebabkan pakimeningitis. Kaftan et al mengatakan Streptococcus pneumonia paling sering sebagai penyebab komplikasi intrakranial otitis media sekitar 64% dan Barry et al mengatakan sebanyak 69%. seperti garis fraktur tulang temporal. hiperemi.Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intrakranial harus melewati tiga macam lintasan: 1. 3. Dura sangat resisten terhadap penyebaran infeksi. 2. akan menebal.1 Streptococcus pneumonia merupakan bakteri yang predominant sebagai penyebab meningitis otogenik. Tromboflebitis pada susunan kanal haversian merupakan osteitis atau osteomyelitis dan merupakan faktor utama penyebaran menembus sawar tulang daerah mastoid dan telinga tengah.

Salmonella.4 2. D. A. ii.Haemophilus influenzae dan Pseudomonas aeroginosa merupakan penyebab kedua sebagai penyebab meningitis otogenik. B. dan kadang-kadang gambaran abscess.4 Bodur ets al menemukan Proteus vulgaris sebagai kuman penyebab meningitis pada otitis media kronik. E. Anamnesis dan pemeriksaan fisik: i. Aspergillus dan Candida sebagai penyebab yang jarang. foto mastoid dan pemeriksaan Head CT-scan. laboratorium rutin. Kangsanarak et al menemukan Proteus spp. Sedangkan mikroorganisma lainnya yang sering menyebabkan meningitis otogenik adalah: Staphylococcus aureus. viral dan jamur. Proteus vulgaris. hilangnya selulae mastoid. Foto Mastoid Dapat dilihat gambaran opacity dengan pembentukan pus. Staphylococcus epidermidis. lumbal punksi. seperti otitis media dan mastoiditis. kolesteatoma.7 Diagnosis Menegakkan diagnosis meningitis otogenik berdasarkan gejala klinis. Lumbal Punksi: Untuk membedakan meningitis bakterial. Laboratorium rutin: Adanya peningkatan dari leukosit dan LED [laju endapan darah] yang menunjukkan proses infeksi akut “shift to the left” C. Adanya tanda-tanda dan gejala meningitis. Head CT-scan 8 . Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcuc spp merupakan mikroorganisma yang paling sering diisolasi pada otitis media suppurativa yang bisa menyebabkan komplikasi intrakranial dan ekstrakranial. kaku kuduk dan kesadaran menurun. sednagkan Chlostridium spp ditemukan pada isolasi tersebut pada abscess cerebri. seperti demam. Mycobacterium. Adanya penyakit telinga tengah yang mendasarinya.

abscess serebral. staphylococci. Gejala klinis dari abscess serebral: nyeri kepala yang progresif. stadium serebritis pada permulaannya nampak sebagai suatu area hipodens di white matter dengan batas yang tidak jelas dan efek massa regional ataupun yang menyebar luas yang menggambarkan kongesti vaskuler dan edema pada pada pemberian kontrast (Contrast Enhancement Computerized Tomography/ CECT) bisa dijumpai atau hanya sedikit. Mikroorganisma penyebab bisa bakteri aerob dan anaerob. yang menggambarkan kerusakan sawar darah otak progressif.8 Diagnosis Banding 1. bradikardi. serta hemiparesis dan homonymous hemianopia. pseudomonas merupakan organisma yang terbanyak. Abscess Serebral Merupakan radang suppurativa lokal pada jaringan otak dan penyebab yang terbanyak dari abscess di lobus temporal. CECT menunjukkan area bercorak yang tidak teratur yang enhance. Streptococci. hidrosefalus.4 2. Pada T2-W1 nampak hiperintensitas dari area inflamasi sentral dan edema sekelilingnya. 4 Dalam mengevaluasi serebritis tahap dini. T1-W1 menunjukkan hipointensitas yang ringan dan efek massa. papiledema. subdural empyema.4 9 . Sering terlihat sulkus yang menghilang. MRI dapat mendeteksi perubahan infeksi pada fase permulaan dengan cepat. muntah.Adanya gambaran mastoiditis dan cerebral edema. demam. Pada pemeriksaan CT scan tanpa kontrast (Non-contrast Computerized Tomography/ NCCT). mastoiditis ataupun sinus paranasal. proteus. Abscess Serebral dapat terjadi oleh karena penyebaran bakteria piogenik secara langsung akibat infeksi dari otitis media. Pada stadium ini. pemeriksaan MRI lebih akurat dari pada Head CT-scan. E. Oleh karena sensitivitasnya terhadap perubahan kandungan air. terutama di gray matter.4 Pada pemeriksaan laboratorium dan cairan serebrospinal biasanya tidak memberikan hasil yang spesifik. Dan pada perkembangan proses inflamasi selanjutnya terjadi perlunakan otak (softening) dan petechial hemorrhage. dan lain-lain.coli.

kedinginan.9 Penatalaksanaan Penanganan penderita meningitis bakterial akut harus segera diberikan begitu diagnosa ditegakkan. Antibiotika Pemilihan obat-obatan antibiotika. 4 2. 4 10 . Lateral Sinus Thrombosis Merupakan suatu thrombophlebitis dari lateral sinus dan merupakan komplikasi intrakranial dari otitis media yang sangat berbahaya. nyeri kepala. Bakteriologikal dan respons gejala klinis kemungkinan akan menjadi lambat. muntah proyektil dan kejang. Empiema subdural Empiema subdural biasanya merupakan komplikasi dari sinusitis paranasalis sangat mirip dengan absess serebri. Gejala klinis : demam yang intermitten meningkat secara irregular. Terapi Konservatif/ Medikal 1. 4 3. Gambaran MRI dan CT scan akan membedakan kedua kondisi ini. Gejala klinis ditandai dengan dan dapat peninggian tekanan intrakranial seperti sakit kepala. Pada funduskopi terlihat adanya papil edema. harus terlebih dahulu dilakukan kultur darah dan Lumbal Punksi guna pemberian antibiotika disesuaikan dengan kuman penyebab. 4 A. bakteri penyebab serta perubahan dari sumber dasar infeksi. Penatalaksanaan meningitis bakterial akut terbagi dua yakni penatalaksanaan konservatif/ medikal dan operatif.2. dan pengobatan akan dilanjutkan paling sedikit 14 hari setelah hasil kultur CSF akan menjadi negatif. Pemilihan antimikrobial pada meningitis otogenik tergantung pada pemilihan antibiotika yang dapat menembus sawar darah otak. anemia serta adanya tanda Greisinger’s [adanya edema pada daerah post auricular yang melalui vena emissary mastoid].

peningkatan kadar glukosa CSF dan penurunan kadar protein CSF. Kortikosteroid sebaiknya hanya digunakan untuk tujuan mengurangi efek massa atau edema pada herniasi yang mengancam dan menimbulkan defisit neurologik fokal. penurunan fungsi imun seluler sehingga menjadi peka terhadap patogen lain dan mengurangi penetrasi antibiotika ke dalam CSF.2. oleh karena itu penggunaaan secara rutin tidak dianjurkan. Kortikosteroid Efek anti inflamasi dari terapi steroid dapat menurunkan edema serebri.4 Lebel et al (1988) melakukan penelitian pada 200 bayi dan anak yang menderita meningitis bacterial karena H. Terapi Operatif Penanganan fokal infeksi dengan tindakan operatif mastoidektomi. Yang mengesankan dari penelitian ini bahwa gejala sisa berupa gangguan pendengaran pada kelompok yang mendapatkan deksamethason adalah lebih rendah dibandingkan kontrol. Maka sering diperlukan mastoidektomi radikal. atau pada penderita dengan status mental sangat terganggu. edema otak atau tekanan intrakranial tinggi.15 mg/kgBB/x tiap 6 jam selama 4 hari. Hal ini mengingat efek samping penggunaan deksamethason yang cukup banyak seperti perdarahan traktus gastrointestinal. 20 menit sebelum pemberian antibiotika. 4 Tunkel dan Scheld (1995) menganjurkan pemberian deksamethason hanya pada penderita dengan resiko tinggi. mengurangi tekanan intrakranial. Tujuan 11 . Ternyata pada pemeriksaan 24 jam kemudian didapatkan penurunan tekanan CSF.4 B. akan tetapi pemberian steroid dapat menurunkan penetrasi antibiotika ke dalam abses dan dapat memperlambat pengkapsulan abses. influenzae dan mendapat terapi deksamethason 0. Pendekatan mastoidektomi harus dapat menjamin eradikasi seluruh jaringan patologik di mastoid.

4 2. Sedangkan peneliti lain Kaftan et al (2000) melaporkan angka mortalitas 10% dan Kangsanarak et al (1993) sekitar 18. epilepsi maupun meningitis yang berulang.11 Prognosis Angka morbiditas dari otitis media suppurativa dengan komplikasi ekstrakranial dan intrakranial adalah 14. perisinual dan cerebellar abcess drainage yang diikuti antibiotika broad spectrum dan obat-obatan yang mengurangi edema otak yang tentunya akan memberikan outcome yang baik pada penderita komplikasi intrakranial dari otitis media 4 2. empiema subdural. gejala sisa neurologis berupa paresis sampai deserebrasi. Selain itu juga bisa terjadi deafness.9%. ventrikulitis.4 Geyik et al (2002) pada penelitian secara univariat. abses serebri. jugular vein ligation.6%. pengobatan antibiotika yang tidak sempurna.operasi ini adalah untuk memaparkan dan mengeksplorasi seluruh jalan yang mungkin digunakan oleh invasi bakteri. dan peningkatan erythrocyte sedimentation rate (ESR) berhubungan secara singnifikan dengan tingginya resiko kematian.4 12 .4 Selain itu juga dapat dilakukan tindakan thrombectomi.10 Komplikasi Komplikasi dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna atau pengobatan yang terlambat. Komplikasi yang sering terjadi akibat meningitis otogenik adalah efusi subdural. melaporkan status koma pasien. angka mortalitas dari meningitis bakterial menurun tajam dan dilaporkan berada diantara 8%.4 Sejak era pemakaian antibiotika. Pada anak-anak dapat mengakibatkan epilepsi.3% dan 27. Gangguan gejala sisa neurologik dicatat sebanyak 14% pasien dan yang meninggal akibat komplikasi intrakranial otogenik sebanyak 14%.36%. retardasi mental dan hidrosefalus akibat sumbatan pada saluran CSF ataupun produksi CSF yang berlebihan.

13 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful