PENDAHULUAN

Plasenta previa ialah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmensegmen bawah uterus sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir.1 Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 – 0,6 % dari keseluruhan persalinan. Dengan penatalaksanaan dan perawatan yang baik, mortalitas maternal adalah kurang dari 1 % dan mortalitas perinatal adalah 50 per 1000 kelahiran hidup.2 Literatur negara barat melaporkan frekuensi Placenta Previa kira-kira 0,30,6%. Di negara-negara berkembang berkisar antara 1-2,4%. Menurut jenisnya, Eastman melaporkan Placenta Previa sentralis 20%, lateralis 30%, dan letak rendah 50%.3 Penyebab plasenta bertumbuh pada segmen bawah rahim belum diketahui pasti.1,3 Hanya didapatkan frekuensi plasenta previa meningkat pada grande multipara, primigravida tua dan bekas seksio sesarea, bekas aborsi, kelainan janin dan leiomioma uteri.4,5 Hal ini diperkirakan akibat adanya vaskularisasi desidua yang terganggu atau perubahan atropik pada desidua.1,5 Perdarahan antepartum akibat plasenta previa terjadi sejak kehamilan 28 minggu saat segmen bawah rahim telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Pelebaran segmen bawah rahim dan pembukaan serviks menyebabkan sinus rahim robek karena lepasnya plasenta dari dinding rahim atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahan tak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan

1

serabut otot segmen bawah rahim untuk berkontraksi seperti pada plasenta letak normal.4 Klasifikasi plasenta previa yakni: 1. Plasenta previa totalis atau komplit : adalah plasenta yang menutupi seluruh ostium uteri internum 2. Plasenta previa parsialis adalah plasenta yang menutupi sebagian ostium uteri internum 3. Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada pada pinggir ostium uteri internum 4. Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum. Jarak yang lebih 2cm dianggap plasenta letak normal.6 Gambaran klinik pada plasenta previa berupa perdarahan dari jalan lahir dengan darah berwarna merah segar tanpa rasa nyeri, tanpa sebab lain, terutama pada multigravida pada kehamilan setelah 28 minggu. Pada pemeriksaan luar, bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul, dan ada kelainan letak janin. Selain gejala klinis dan pemeriksaan diatas, untuk diagnosis pasti adanya suatu plasenta previa dan untuk menentukan letak dari plasenta maka dilakukan pemeriksaan USG. Komplikasi plasenta previa pada ibu berupa perdarahan hingga syok akibat perdarahan, anemia, plasentitis, plasenta akreta dan endometritis pasca persalinan. Pada janin biasanya terjadi persalinan prematur dan komplikasinya seperti asfiksia berat.4,8

2

BAB II LAPORAN KASUS A. IDENTITAS Nama Umur Pendidikan Pekerjaan Alamat Suku/Bangsa Agama Nama suami Umur suami Pendidikan suami Pekerjaan suami MRS : : : : : : : : : : : : Ny. M.T 35 tahun Tamat SLTP IRT Silian 3 Jaga 1 Minahasa /Indonesia Kristen Protestan Tn. J. L 48 tahun tidak sekolah Petani 8 April 2013

B. ANAMNESIS UTAMA

Keluhan utama: Keluar darah dari jalan lahir sejak jam 19.30 (7 April 2013)

Riwayat penyakit sekarang • Keluar darah dari jalan lahir sejak jam 19.30 (7 – 4 – 2013) • Pasien pernah perdarahan dari jalan lahir saat hamil 8 bulan.

3

Perdarahan (+). sedikit. pusing (-). darah tinggi disangkal oleh penderita. • Pelepasan air dari jalan lahir (-) • Pergerakan janin (+) saat MRS • Pasien direncanakan SC saat control di RS. BAB/BAK biasa. penglihatan kabur (-). paru-paru.• Nyeri perut bawah ingin melahirkan belum dirasakan. kencing manis. ANAMNESIS KEBIDANAN Riwayat kehamilan sekarang Muntah (-). hati. nyeri (-) Keputihan (-) Penderita tidak merokok dan minum minuman beralkohol saat hamil Pemeriksaan Ante Natal 4 . bengkak (-). • BAB & BAK biasa • Alcohol dan merokok (-) Riwayat penyakit dahulu Riwayat penyakit jantung. Amurang. tidak bergumpal. C. kejang (-). ginjal. sakit kepala (-).

lahir di rumah. Anak laki – laki . BBL: 2500 gr. meninggal saat lahir. Hamil ini 5 .Pemeriksaan ante natal dilakukan 6x di PKM Silian dan 3x di dokter spesialis kebidanan dan kandungan di amurang. Anak perempuan. Riwayat haid Menarche pada umur 18 tahun. BBL: 4000 gr. lahir di RS di Amurang. lahir spontan letak belakang kepala. lahir seksio cesarea letak belakang kepala. Keluarga Berencana • Pernah ikut Kb pil 3 bulan terakhir Juli 2011 • Sekarang sudah mempunyai 2 orang anak. tahun 2000. siklus haid teratur dengan lama 3 hari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) 4 Juli 2012 Taksiran tanggal partus 11 April 2013 Riwayat keluarga Perkawinan 1 kali sah dengan suami sekarang selama 14 tahun. tahun 2006. rencana cukup mempunyai 2 orang anak saja Riwayat kehamilan terdahulu 1. setelah melahirkan keadaan umum ibu baik 2. 3. hidup.

PEMERIKSAAN KEBIDANAN Status Praesens Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu Berat badan Tinggi badan Kepala Mata Hidung Tenggorokan Leher Dada Jantung Paru Abdomen Alat Kelamin : Tampak sakit sedang : Compos Mentis : 130/80 mmHg : 120x/menit : 28x/menit : 36. Hiperemis (-) : Pembesaran KGB (-) : Simetris kiri & kanan : SI-II Normal.60C : 54 kg : 147 cm : Normocephali : Conjungtiva Anemis -/-. Wheezing -/: BU (+) N.D. bising (-) : Rhonki -/-. Sklera Ikterik -/: Serumen (-) : T1/T1. H/L : TTB : Tak ada kelainan 6 .

Anggota Gerak Refleks : Edema (-). Perabaan Fornices : Terasa bantalan lunak di keempat kuadran Pemeriksaan Laboratorium Darah • • • • • • Hb Leukosit Eritrosit Hematokrit Trombosit GDS : : : : : : 10. tampak bekuan darah dari jalan lahir. varises tidak ada : Refleks fisiologis (+). 5 % 128.900 /mm3 3.000/mm3 89 mg/dL 7 . OUE tertutup. perdarahan aktif (-). dorso superior 130 – 135 x/menit (-) Fluksus (-).9 g/dL 11. 29 x 106/mm3 29. fluor (-). dibersihkan. vulva/vagina tak Fluksus (+). refleks patologis (-) Pemeriksaan Obstetrik Tinggi fundus uteri Letak janin Bunyi jantung janin His Inspeksi Inspekulo : : : : : : 31 cm Letak lintang .

sedikit.4 cm. AC : 34. tidak nyeri. Nyeri perut bawah ingin 8 .30 (7/4/2013).1 cm Plasenta implantasi di corpus posterior meluas menutupi OUE AFL > 2 cm EFW : 3400 gr Kesan: hamil 31-32 minggu + plasenta previa EKG : dalam batas normal NST BHR : : 120 – 140 DPM : 10 – 15 dpm : (+) : (-) : > 5x/ 20mnt : reaktif Variabilitas Akselerasi Deselerasi Gerakan janin Kesan E. FM (+) FHM (+) BPD : 9. tidak bergumpal.USG : Janin intra uterin tunggal letak lintang.20 cm. Pasien pernah perdarahan dari jalan lahir saat hamil 8 bulan. RESUME MASUK G3P2A0 35 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak jam 19. FI : 7.

tahun 2000.. Pergerakan janin (+) saat MRS. Hamil ini Status praesens Keadaan umum: Kesadaran Tekanan darah Nadi Respirasi Suhu : : : : : : tampak sakit sedang Compos Mentis 130/80 mmHg 120x/menit 28x/menit 36. lahir seksio cesarea letak belakang kepala. BBL: 2500 gr. Pasien direncanakan SC saat control di RS. BBL: 4000 gr. Anak laki – laki . hidup. Pelepasan air dari jalan lahir (-).melahirkan belum dirasakan.. meninggal saat lahir. tahun 2006.60C Status obstetri TFU Letak janin : 31 cm : Letak lintang. lahir spontan letak belakang kepala. BAB & BAK biasa. lahir di RS di Amurang. Anak perempuan. dorso superior 9 . Alkohol dan merokok (-) Riwayat kehamilan 1. lahir di rumah. setelah melahirkan keadaan umum ibu baik 2. Amurang. 3.

USG.BJA His Inspekulo : 130-135 x/menit : (-) : Fluksus (+). OBSERVASI 8 April 2013 08. dibersihkan. HIS. tampak bekuan darah dari jalan lahir. NST F. Perabaan Fornices : Terasa bantalan lunak di keempat kuadran Diagnosis Kerja G3P2A0 35 tahun hamil 39 .40 minggu belum inpartu + bekas SC + Plasenta previa totalis + BOH Janin Intra Uterin Tunggal Hidup Letak lintang Sikap/ Terapi/ Rencana • Rencana SC cito • Lapor konsulen • Observasi TNRS. BJJ • Lab.00 S : Keluar darah dari jalan lahir 10 . OUE tertutup. perdarahan aktif (-).

Ibu memahami. pemeriksaan dan asuhan yang dilakukan.Lapor konsulen . OUE tertutup.menginformasikan hasil.143 x/menit Inspekulo : Tampak bekuan darah di jalan lahir. BJJ . 00 11.00 09. perdarahan aktif (-) A : G3P2A0 35 tahun hamil 39 .40 minggu belum inpartu + bekas SC + Plasenta Previa Totalis + BOH Janin Intra Uterin Tunggal Hidup Letak Lintang P : . USG. Urinalisis.00 13. Urine bakar : (+) : BJJ 135 – 140 : BJJ 138 – 142 : BJJ 140 – 145 : BJJ 142 – 147 : BJJ 134 – 145 : Pasien dibawa ke OK Cito .00 14. HIS.00 12. . EKG .60C TD: 130/80 mmHG HIS : (-) BJJ : 140 . dibersihkan .Lab.Pasang IVFD D5% 20 gtt/m 08. Operasi dimulai dilakukan SCTP 11 .00 13.Rencana SC cito .O : KU: Sedang Kesadaran : Compos Mentis N: 120x/m R: 28x/m S: 36.Obeservasi TNRS.00 : pasang IVFD D5% 20 gtt/m.00 10. NST. Kolaborasi dengan dokter.

Sementara jalan napas bayi dibersihkan dengan pengisap lendir.10 16. terdapat perlengketan fascia sisi sebelah kanan peritoneum dengan dinding Rahim anterior. dikonsulkan ke DPJP. implantasi plasenta di korpus posterior meluas menutupi OUI. Dilakukan tindakan general anestesi. Plasenta dilahirkan dengan cara tarikan ringan pada tali pusat.10 lahir bayi ♀. Sementara menunggu DP JP datang. tali pusat dijepit dua cunam kocher. Eksplorasi lanjut. plasenta yang masih menempel di dinding uterus berusaha dilepaskan. Jam 14.14. Identifikasi plasenta. insisi diperdalam lapis demi lapis sampai fascia. Dilakukan adhesiolisis. Uterus di insisi semilunar pada daerah bebas perlengketan. PBL 46 cm. AS 7-9. suspect plasenta akreta. Eksplorasi lanjut. PBL 46 cm. Kontrol perdarahan (-). Bayi dilahirkan dengan cara menarik kaki. dalam keadaan narkose dilakukan insisi linea mediana inferior. kesan plasenta tidak lengkap. Kontrol perdarahan (+) mencari sumber perdarahan. AS 7-9 : Operasi selesai G. berusaha menjahit sumber perdarahan. terdapat perlengketan dinding depan Rahim dengan vesika urinaria. peritoneum dengan dinding depan rahim.20 WITA konsul ke dokter spesialis obstetric dan ginekologi. Jam 14. Setelah fascia dibuka terdapat perlengketan antara otot. LAPORAN OPERASI Pasien dibaringkan terlentang diatas meja operasi dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik pada daerah abdomen dan sekitarnya. Perdarahan aktif (+) lebih kurang 2000 cc. Saat DPJP datang. Bayi diserahkan kepada dokter neonati untuk penanganan selanjutnya. dilakukan ligase dan koagulasi. digunting di antaranya.30 : Lahir bayi ♀. kemudian ditutup dengan doek steril kecuali lapangan operasi. BBL 2900 gr. BBL 2900 gr. 12 .

Luka operasi ditutup kassa betadin. BBL 2900 gr.0. Keadaan post-operasi KU: cukup TD: 40/30 mmHg Perdarahan ± 4500 cc Diuresis ± 500 cc Kesadaran: compos mentis N: 124x/m R: 28x/m S: 35. Peritoneum dijahit secara jelujur dengan chromic catgut 2. terdapat kista ovarium dekstra sebesar bola tenis.0. jalan lahir dibersihkan. diputuskan dilakukan oovorectomi.Uterus dijahit 2 lapis secara jelujur dengan chromic catgut no. Explorasi jalan lahir. kontraksi uterus tidak baik.0. Fascia dijahit dengan surgicril No. adheliolisis + oovorektomi + Fimbriektomi + B Lynch Lahir bayi ♀.80C Diagnosis post operasi P3A0 35 tahun post SCTP a/i plasenta previa totalis+ bekas SC + Letak lintang.0 Explorasi lanjut. ovarium kiri baik. PBL 46 cm.0. lemak dijahit simpul dengan plain catgut 2. AS 7-9 Instruksi post operasi 13 . Kedua tuba terdapat perlengketan dengan ligamentum I usus rotundum dengan dinding pelvis. diputuskan dilakukan B-Lynch modifikasi Surabaya. kulit dijahit subkutikuler dengan chromic catgut 2.2. Plica vesicauterina dijahit dengan chromic catgut 2. Dilakukan fimbriektomi bilateral. otot dijahit simpul dengan chromic catgut 2. 1. Dinding abdomen dijahit lapis demi lapis. operasi selesai.

00 18.45 – 17. diuresis/ balance cairan.• Observasi vital sign.30 17.00 – 17.00 – 18. kesadaran • IVFD RL:D5% = 2:2 = 28 gtt/m • Ceftriaxone 3x1 gr iv • Metronidazole 2x0. kontraksi uterus.15 16.45 17.15 17.15 Tekanan Darah 42 / 43 mmHg 44 / 35 mmHg 56 / 42 mmHg 48 / 35 mmHg 52 / 38 mmHg 42 / 36 mmHg 44 / 30 mmHg 60 / 43 mmHg 50 / 36 mmHg Nadi 146 166 158 156 136 132 146 148 156 14 .00 17.15 – 16. 45 16. perdarahan.30 16.15 – 17.5 gr drips • Oksitosin 3x1 amp iv • Vit.C 1x1 amp iv • Kaltrofen 1x2 supp • Cek Hb 2 jam dan 6 jam post operasi • Bila Hb < 10 gr/dL pro transfusi Follow Up Jam 16.45 – 18.00 – 16.30 – 16.30 – 17.

15 23.00 22.30 20.45 – 22.00 – 21.30 – 20.15 – 19.15 – 23.30 22.18.45 22.15 22.45 20.45 18.00 21.30 44 / 33 mmHg 60 / 43 mmHg 77 / 40 mmHg 72 / 42 mmHg 81 / 57 mmHg 63 / 39 mmHg 69 / 42 mmHg 69 / 42 mmHg 70 / 44 mmHg 78 / 55 mmHg 42 / 36 mmHg 50 / 36 mmHg 46 / 32 mmHg 50 / 36 mmHg 32 / 36 mmHg 70 / 44 mmHg 60 / 40 mmHg 60 / 40 mmHg tidak terukur tidak terukur tidak terukur Dilakukan RJP 168  WB 1 bag 163 83  WB 1bag 126 124  Metergin 125  Metergin 122  HaES 122 122  WB 1 bag 128  WB 1 bag 130  WB 1 bag 128  FFP 119  FFP 124  FFP 128 130 130  Nadi tidak terukur 137 120 96 15 .15 19.00 20.45 21.45 – 20.45 – 21.15 – 20.15 20.30 – 18.00 – 22.45 19.30 18.15 – 18.00 19.30 21.30 23.30 – 21.15 – 22.30 – 22.00 23.15 – 21.00 – 20.15 21.45 – 23.00 – 23.45 – 19.30 – 19.00 – 19.30 19.

Pasien dinyatakan meninggal dihadapan keluarga dan perawat. COD : Cardiac Arrest 16 .00.15 RJP tidak berhasil.

tidak bergumpal dan tanpa disertai adanya rasa nyeri. Anamnesis Dari anamnesis didapatkan keluhan utama yakni keluar darah di jalan lahir. Diagnosis 2. Diagnosis ini dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis keluhan utama. pemeriksaan Ante Natal. riwayat haid. penderita pertama datang ke RS dengan diagnosa G3P2A0 35 tahun hamil 39 . dan pemeriksaan penunjang berupa USG. Janin Intra Uterin Tunggal Hidup Letak lintang. 17 . Berdasarkan kasus diatas.40 minggu belum inpartu + bekas SC + Plasenta previa totalis + BOH. a. sedikit.4 Pada pasien ini sebelumnya pernah terjadi perdarahan dari jalan lahir saat hamil 8 bulan (32 minggu). dan berulang. Penanganan 3. gejala plasenta previa yang terjadi adalah adanya pengeluaran darah secara tiba-tiba melalui jalan lahir. riwayat keluarga dan keluarga berencana. riwayat kehamilan sekarang dan terdahulu. dan tidak nyeri. yakni pemeriksaan obstetric yaitu pemeriksaan inspekulo dan pemeriksaan fornices. tidak bergumpal. NST. Prognosis 1. Diagnosis Pada kasus ini. Kemudian pemeriksaan fisik. serta pemeriksaan laboratorium.DISKUSI Dalam pembahasan ini yang akan dibahas adalah mengenai aspek klinis dari plasenta previa yang meliputi : 1.

lahir seksio cesarea letak belakang kepala. mioma uteri atau polip. meninggal saat lahir. (b) terbukanya ostium atau oleh manipulasi intravaginal atau rektal.9 Pada pasien ini mempunyai Bad Obstetric History atau riwayat obstetric yang buruk. perubahan endometrium pada . factor – factor yang dapat meningkatkan kejadian plasenta previa adalah umur penderita antara lain pada umur muda <20 tahun dan pada umur >35 tahun. dan pada keadaan malnutrisi karena plasenta previa mencari tempat implantasi uang subur. 10 Pada pasien ini. 18 . Perdarahan jalan lahir berwarna merah segar terutama pada multigravida pada kehamilan 28 minggu/lebih atau pada kehamilan lanjut (trimester III). umur pasien 35 tahun. Sedikit atau banyaknya perdarahan tergantung pada besar dan banyaknya pembuluh darah yang robek dan Placenta yang lepas. akan tetapi tidak jarang dimulai sejak usia kehamilan 20 minggu karena pada saat itu segmen uterus telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. lahir di RS di Amurang. makin dini perdarahan terjadi terutama pada plasenta previa totalis. Menurut Manuaba (1998). yang didapatkan berdasarkan riwayat kehamilan terdahulu pasien. endometrium yang cacat seperti bekas operasi. tahun 2006.Meskipun dikatakan perdarahan placenta previa terjadi pada triwulan ketiga. yakni pernah melahirkan anak laki – laki . Sebab dari perdarahan ialah karena ada Placenta dan pembuluh darah yang robek karena (a) terbentuknya segmen bawah rahim. multipara dan mempunyai riwayat persalinan operasi Sectio Cesarea sebelumnya. paritas yaitu pada multipara. Makin rendah letak plasenta. bekas kuretase atau manual plasenta. BBL: 4000 gr. merupakan factor predisposisi plasenta previa sesuai dengan teori diatas.

Dari pemeriksaan obstetric didapatkan tinggi fundus uteri 31 cm. letak sungsang. pasien tidak tampak kesakitan. apabila letak kepala. Inspekulo dilakukan bila tidak ada perdarahan aktif atau sudah berhenti. 9 Pemeriksaan inspekulo bertujuan untuk menentukan asal perdarahan dan menyingkirkan kemungkinan yang bukan plasenta previa (trauma. biasanya kepala masih goyang atau terapung (floating) atau mengolak diatas pintu atas panggul. kalau telah berdarah banyak maka ibu kelihatan pucat/anemis. dorso superior.b. Dari pemeriksaan inspekulo didapatkan fluksus (+). dibersihkan. letak lintang. Pada plasenta previa. tampak bekuan darah dari jalan lahir. jadi fundus uteri masih rendah. 19 .8. darah beku. janin letak lintang . Pada palpasi. endoserviks). fluor (-). dari inspeksi dapat dilihat perdarahan yang keluar pervaginam : banyak atau sedikit. Hal ini dikarenakan karena adanya plasenta di segmen bawah rahim. dan sebagainya. Bagian terbawah janin belum turun. karsinoma porsio. Pada perabaan Fornices terasa bantalan lunak di keempat kuadran. vulva/vagina tidak ada kelainan. dapat diketahui umur janin lewat tinggi fundus uteri. sehingga terjadilah kesalahan-kesalahan letak janin : letak kepala mengapung. OUE tertutup. Dari inspeksi genitalia eksterna didapatkan fluksus (-). Karena dihalangi oleh Placenta maka bagian terbawah janin tidak terfiksir ke dalam pintu atas panggul. polip. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik umum tidak ditemukan kelainan berarti. varises vagina. Biasanya janin sering belum cukup bulan. perdarahan aktif (-).

c. GDS 89 mg/dL. Plasenta akreta dapat menimbulkan penyulit pada kala III. karena bahayanya sangat besar.900 /mm 3 . 5 %.9 g/dL. Perabaan forniks dilakukan dengan meraba bantalan antara jari dan kepala janin pada forniks (anterior dan posterior) di keempat kuadran. 29 x 106/mm3 . Pemeriksaan fornices dilakukan pada plasenta previa. karena sukar dilepaskan dan waktu melakukan tindakan pelepasan secara manual harus hati-hati.Pemeriksaan dalam pada plasenta previa sebaiknya di kamar operasi dengan persiapan operasi seksio sesarea. menimbulkan his dan kemudian terjadilah partus prematurus. Plasenta akreta di bagi ke dalam : Plasenta inktreta yaitu melekatnya jonjot sampai ke dalam lapisan miometrium dan plasenta perkreta yaitu melekatnya jonjot-jonjot menembus miometrium sehingga mencapai perimetrium. Bila teraba bantalan di keempat kuadran mengarahkan diagnosis pada plasenta previa totalis. leukosit 11. trombosit 128. Pemeriksaan laboratorium dilakukan terutama untuk menilai Hb karena pasien mengalami 20 . 9. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan yaitu pemeriksaan laboratorium. eritrosit 3. Bahaya pemeriksaan dalam yaitu dapat menyebabkan perdarahan yang hebat.000/mm3 . Pemeriksaan ini harus dilakukan secara hati-hati.8. Hasil pemeriksaan laboratorium Hb 10. hematokrit 29. karena dapat menyebabkan perforasi. dapat terjadi infeksi. 10 Plasenta akreta ditandai dengan jonjot-jonjot yang melekat ke dalam dinding rahim lebih dari batas.

hamil 31-32 minggu + plasenta previa. Prinsip dasar penanganan yaitu setiap ibu dengan perdarahan antepartum harus segera dikirim kerumah sakit yang memiliki fasilitas melakukan transfusi darah dan operasi. Penentuan lokasi Placenta secara ultrasonografi sangat tepat dan tidak menimbulkan bahaya radiasi terhadap ibu dan janin serta tidak menimbulkan rasa nyeri. Indikasi Sectio Cesarea pada kasus ini yaitu ada riwayat Sectio Cesarea sebelumnya + plasenta previa totalis dan janin letak lintang. akan tetapi dalam kenyataannya. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan EKG untuk menilai kondisi jantung pasien karena umur pasien lebih sama dengan 35 tahun.perdarahan. 10 Pada EKG didapatkan kesan dalam batas normal. Penanganan pasif Penanganan pasif ini sangat sederhana. kalau dilakukan secara konsekuen. Pemeriksaan darah lengkap untuk mendapatkan gambaran keadaan darah dan persiapan untuk memberikan transfusi bila diperlukan. 2. menuntut fasilitas sejak perdarahan pertama sampai pemeriksaan menunjukkan tidak adanya plasenta previa atau sampai bersalin..9. Sedangkan pemeriksaan NST untuk menilai kesejahteraan janin. a. Penatalaksanaan Pada pasien ini diambil sikap pengakhiran kehamilan (terminasi) dengan dilakukan operasi Sectio Cesarea. Transfusi darah dan operasi harus dapat dilakukan setiap saat 21 . Pada pemeriksaan USG didapatkan kesan janin intra uterin tunggal letak lintang.

tergantung jenis plasenta previa. pembukaan jalan lahir. periksa golongan darah. belum inpartu. 22 . observasi dengan teliti. pada plasenta previa lateralis atau marginalis dengan janin sudah meninggal. Penanganan aktif Faktor yang menetukan sikap atau tindakan persalinan mana yang akan dipilih. dan siapkan donor darah untuk transfusi darah. Anemia harus segera diatasi meningkat kemungkinan perdarahan berikutnya. fasilitas penolong dan RS. Aminiotomi. ada 2 jenis persalinan untuk plasenta previa ini yaitu: persalinan pervaginam. perdarahan banyak atau sedikit tetapi berulang-ulang. plasenta previa lateralis atau marginalis pada pembukaan lebih dari 5 cm. janin masih hidup. Pada persalinan pervaginam ini dapat dilakukan dengan langkah: 1. keadaan janin. pada primigravida dengan plasenta previa lateralis atau marginalis dengan pembukaan 4 cm atau lebih. kehamilan belum cukup 37 minggu. pada multigravida dengan plasenta previa marginalis. hidup. bila telah ada pembukaan 4 cm. maka kehamilan dapat dipertahankan dengan istirahat dan pemberian obat-obatan seperti spasmilitika. atau berat badan janin kurang dari 2500gr. gawat. dengan indikasi: plasenta previa lateralis atau marginalis (letak rendah). Setelah melihat faktor-faktor diatas. keadaan umum ibu hamil.perdarahan sedikit. dan meninggal. (Winkjonsastro. atau progesteron. Bila memungkinkan kehamilan dipertahankan hingga aterm supaya janin terhindar dari prematuritas. dan persalinan perabdominal. Apabila penilaian baik. progestin. 1999) b. paritas.apabila diperlukan.

depresi pernafasan karena obat-obatan anestesi/ analgetik yang diberikan kepada ibu. yaitu untuk mempercepat mengangkat dan menghentikan sumber perdarahan. sehingga tidak lagi plasenta yang lepas. 4. akan tetapi kedua cara ini masih mempunyai tempat tertentu seperti dalam keadaan darurat sebagai pertolongan pertama untuk mengatasi perdarahan banyak. Keuntungan dari dilakukannya amniotomi ini adalah agar bagian terbawah janin yang berfungsi sebaai tampon. Pengaruh plasenta previa terhadap janin yaitu gangguan aliran darah dalam tali pusat karena tertekan tali pusat. 3.2. 6. partus akan berlangsung lebih cepat. semua plasenta lateralis posterior. akan menekan plasenta yang berdarah. yaitu dengan menembus plasenta. perdarahan untrakranial dan kelainan bawaan. janin hidup atau meninggal. 23 . Selain persalianan secara pervaginam. dan perdarahan yang akn berkurang atau berhenti. dapat juga dengan persalinan perabdominal secara SC. Namun cara ini sudah ditinggalkan dalam dunia kebidanan modern. bagian plasenta yang berdarah dapat bebas mengikuti cincin. Tujuan dilakukan SC. Namun apabila amniotomi tidak berhasil menghentikan perdarahan. Persalinan ini dilakukan dengan indikasi: semua plasenta totalis. karena perdarahan yang sulit dikontrol dan banyak. dan agar dapat memberikan kesempatan kepada uterus berkontraksi sehingga perdarahan dapat berhenti serviks dan untuk menghindarkan perlukaan serviks dan segmen bawah rahim yang rapuh apabila dilakukan persalinan pervaginam. cenderung berulang. gerakan dan regangan segmen bawah rahim. atau apabila SC tidak mungkin dilakukan di RS yang fasilitasnya terbatas. 5. maka dilakukan Cuman Willet Gausz dan versi Braxton_Hicks.

3. Seksio sesarea juga dilakukan apabila ada perdarahan banyak yang mengkhawatirkan. Pada kondisi yang terlihat stabil dalam rawatan di luar rumah sakit hubungan suami isteri dan kerja rumah tangga dihindari kecuali jika setelah pemeriksaan ultrasonografi ulangan. 24 . 4. Pasien diminta istirahat baring dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap termasuk golongan darah dan factor Rh. 6. lebih berat daripada penampakannya secara klinis. 1. pasien tersebut mungkin telah mengalami perdarahan yang cukup berat.SpOG. Jika perdarahan terjadi dalam trimester kedua perlu diwanti-wanti karena perdarahan ulangan biasanya lebih banyak. atau MRI untuk melihat kemungkinan adanya plasenta akreta. memperlihatkan ada migrasi plasenta menjauhi ostium uteri internum. Jika ada gejala hipovolemia seperti hopotensi.Menurut Prof. Perdarahan dalam trimester kedua atau trimester ketiga harus dirawat dalam rumah sakit. Color Doppler. Pada pasien dengan riwayat seksio sesarea perlu diteliti dengan ultrasonografi. Pada kehamilan antara 24 minggu sampai 34 minggu diberikan steroid dalam perawatan antenatal untuk pematangan paru janin. Transfusi darah yang banyak perlu segera diberikan. Sarwono Prawirohardjo. inkreta. 2009.Dr. Perdarahan dalam trimester ketiga perlu pengawasan lebih ketat dengan istirahat baring yang lebih lama dalam rumah sakit dan dalam keadaan yang serius cukup alasan untuk merawatnya sampai melahirkan. 5. 7. dianjurkan minimal setelah 4 minggu. atau perkreta. DR. 2. Jakarta.

adanya riwayat obstetri buruk sebelumnya. durante operasi dan pasca bedah. Sebelum dilakukan operasi. terdapat beberapa pertimbangan berupa umur pasien yang lebih dari 30 tahun yang termasuk dalam kehamilan resiko tinggi. ditambah letak lintang pada janin. Tindakan SCTP dipilih karena kasus ini adalah plasenta previa totalis dimana janin tidak mungkin dilahirkan pervaginam. penanganan aktif diambil karena selain diagnosis plasenta previa totalis. Diinformasikan tentang resiko-resiko yang mungkin terjadi baik pada ibu maupun janin seperti perdarahan pada bekas implantasi plasenta yang tidak dapat diatasi sehingga harus dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi). juga tentang komplikasi anestesi yang mungkin terjadi.Pada kasus ini. perlu dilakukan konseling tentang keadaan yang mungkin terjadi pada persiapan operasi. Salah satu komplikasi plasenta previa 25 .

26 . Mengapa pada penderita ini tidak dilakukan sterilisasi? Penderita P3A1.4. sehingga jika terjadi sesuatu ( anak meninggal). kemungkinan untuk memiliki anak lagi masih ada. dua sebelumnya abortus dan lahir mati. dimana usia kurang dari lima tahun masih sangat rawan. 34 tahun tidak dilakukan sterilisasi dengan alasan penderita masih menginginkan anak mengingat saat ini penderita baru memiliki seorang anak berusia 4 tahun dan seorang lagi yang baru saja dilahirkan.

namun terdapat beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya suatu plasenta previa yaitu multiparitas.PENUTUP KESIMPULAN o Diagnosis plasenta previa pada kasus ini ditegakkan berdasarkan anamnesis. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang o Penyebab plasenta previa pada kasus ini belum diketahui dengan pasti. riwayat abortus. kematian ibu karena plasenta previa dapat dihindari. SARAN o Perlu adanya PAN yang berkualitas dengan pemeriksaan USG sebanyak 2 kali yaitu pada kehamilan muda dan pada trimester terakhir agar kasus-kasus plasenta previa dapat terdeteksi dini o Perlu adanya pelatihan bagi pelaksana kesehatan di perifer agar dapat meningkatkan kemampuan dalam menemukan kasus-kasus kehamilan resiko tinggi sehingga mampu melakukan perencanaan penatalaksanaan yang tepat 27 . o Keputusan untuk melakukan seksio sesaria pada kasus ini sudah tepat sesuai indikasi adanya perdarahan aktif dan letak lintang janin o Prognosis pada kasus ini sebenarnya buruk. dan kelainan letak. tapi dengan penanganan yang tepat dan cepat.

o Petugas kesehatan yang berada di rumah sakit rujukan agar dapat meningkatkan kemampuannya dalam mendiagnosis dan menangani kasuskasus sehingga prognosis dari berbagai kasus kehamilan dapat membaik o Perlu adanya peningkatan kesadaran dari berbagai lapisan masyarakat untuk dapat berperan aktif dalam mencegah terjadinya kasus-kasus kehamilan resiko tinggi sehingga angka kematian maternal dan perinatal dapat diturunkan 28 .

Jakarta. Kartini A.html 7. Jakarta: Media Aesculapius. Dalam Sinopsis Obstetri fisiologi dan patologi. 1984: 42-6 8. 1998: 269-87 9. Supraharto. eds. Edisi Kedua. Mansjoer A. 2000 5. Jakarta. Cetakan Kedelapan. Jilid 2. Diunduh dari http://mrmanjuk. Mochtar R. Wiknjosastro GH. Wiknjosastro. Affandi B. Jakrta: JNPKKRPOGI. 365 – 376 29 .com/2012/05/pendahuluan-perdarahan-obstetrikyang. Saifuddin AB. Plasenta Previa. Rustam. Obstetri Patologi. Mac Donald PC. EGC.3. Prithchard JA. Widya Medika. Ed. dkk : Ilmu Kebidanan. 4706 6. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo. 4. 17 thed.KEPUSTAKAAN 1. Edisi Kedua. 1999: 362-85. Hanifa. Jakarta. Catatan kuliah Kedaruratan Obstetri. Dalam: Ilmu Kebidanan. Schwatz RH. Wiknjosastro GH. Jawahir M. Perdarahan Antepartum (Hamil Tua). Gart NF. 2006. Wardhani WI. Obstetri Williams. 2001: 162-6 3. 2. Kapita selekta Kedokteran. 269 -278. Jakarta. Penerbit buku kedokteran EGC.blogspot. Mochtar. 1998. Buku acuan Nasional pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal. Komala S. Perdarahan Antepartum. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Waspodo D. : Sinopsis Obstetri : Obstetri Fisiologi.

2004. 28 .10. RSUD Dr. Agus. Soetomo. Abadi.32 30 . dkk : Pedoman Diagnosis dan Terapi LAB/UPF Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan 2004. Surabaya.